BIOLOVA Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro http://scholar. id/index. php/biolova/ DOI : History Article Received: Juli 2025 Approved: Maret 2026 eISSN 2716-473X p ISSN 2716-4748 Published: Maret 2026 Penguatan Kompetensi Literasi Numerasi Materi Sistem Saraf dengan Menggunakan LKPD Berbasis Model Pembelajaran ASICC Anggi Junita Sari1. Wiwik Widayati2. Awaludin3. Cicilia Novi Primiani4. Sulistiono1. Poppy Rahmatika Primandiri1 1 Universitas Nusantara PGRI Kediri, 2SMA Negeri 1 Prambon, 3Universitas Borneo Tarakan. Universitas PGRI Madiun 1anggijunitasari7@gmail. com, 1sulistiono. unp@gmail. poppyprimandiri@unpkediri. id, 2wiwikbiologi@gmail. com, 3awaludin@borneo. primiani@unipma. Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk menguatkan kompetensi literasi numerasi peserta didik dengan menggunakan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) berbasis model pembelajaran ASICC pada materi sistem saraf jenjang SMA. Pengembangan LKPD dilakukan dengan Design Research tipe Development Study yang meliputi tahapan preliminary dan formative evaluation mengacu pada formative evaluation Tessmer yang terdiri dari 5 tahap yaitu self evaluation, expert review, one-to-one, small group, dan field test. Penelitian dilaksanakan di SMA Negeri 1 Prambon. Kabupaten Nganjuk selama 6 bulan. Desain LKPD di vaildasi oleh validator ahli dan validator praktisi melalui Forum Group Discussion (FGD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan LKPD berbasis model pembelajaran ASICC pada materi sistem saraf valid dan layak digunakan untuk menguatkan kompetensi literasi numerasi peserta didik, karena dinyatakan sangat valid oleh vaildator ahli dan valid oleh validator praktisi, dan dinyatakan praktis oleh guru dan peserta didik, serta dapat meningkatkan kompetensi literasi numerasi peserta didik. Kata kunci: ASICC, literasi numerasi. LKPD Abstract: The purpose of this study was to strengthen students' numeracy literacy competencies by using Student Worksheets (LKPD) based on the ASICC learning model on the nervous system material at the high school level. LKPD development was carried out using Design Research, a Development Study type, which included preliminary and formative evaluation stages, referring to Tessmer's formative evaluation consisting of 5 stages, namely self-evaluation, expert review, one-to-one, small group, and field test. The study was conducted at SMA Negeri 1 Prambon. Nganjuk Regency, for 6 The LKPD design was validated by expert validators and practitioner validators through Forum Group Discussions (FGD). The results of the study indicate that the use of LKPD based on the ASICC learning model on the nervous system material is valid and suitable for use to strengthen students' numeracy literacy competencies, because it is stated as very valid by expert validators and valid by practitioner validators, and is expressed as practical by teachers and students, and can improve students' numeracy literacy competencies. Key words: ASICC. LKPD, numeracy literacy How to Cite Sari. Widayati. Awaludin. Primiani. , & Primandiri. Penguatan kompetensi literasi numerasi materi sistem saraf dengan menggunakan LKPD berbasis model pembelajaran ASICC. Biolova, 7. This is an open access article under the Creative Commons Attribution 4. 0 International License BIOLOVA VOL. 7 NO 1. 25 Maret 2026 Perspektif menghadapi revolusi 4. 0 serta society 0 yang dapat beradaptasi pada perubahan zaman dengan dasar kemampuan literasi numerasi. Salah satu cara untuk mempersiapkan generasi muda bangsa agar mampu berpikir kritis, kreatif, komunikatif, meningkatkan kemampuan literasi numerasi dengan kompetensi yang dapat direalisasikan (Purwanto et al. , serta untuk meningkatkan kualitas hidup (Putra & Probowulan. Hasil survei PISA 2018 menunjukkan bahwa literasi numerasi Indonesia masih rendah, yaitu 389 dibandingkan dengan skor rata-rata Dari 78 negara. Indonesia berada pada posisi ke-73. yang berpartisipasi dalam survei PISA (Qadry et al. , 2. Kapabilitas dasar literasi numerasi sangat penting agar mengoptimalkan kualitas pendidikan (Fauziah, 2. Kompetensi peserta didik dapat meningkat dengan membiasakan dalam memecahkan permasalahan dari literasi numerasi. Kapabilitas individu bernalar guna menganalisa serta paham pernyataan yang terdiri dari angkaangka dan simbol-simbol di keseharian serta untuk mengutarakan pernyataan secara lisan atau tertulis disebut literasi numerasi (Abidin et al. , 2. Setiap peserta didik penting untuk memiliki keterampilan dasar literasi dan numerasi supaya mampu berkontribusi dalam pendidikan, mengaktualisasi potensi diri, serta berperan secara menyeluruh dalam kehidupan sosial. Kemahiran dalam literasi numerik merujuk pada kapasitas individu dalam mengaplikasikan pengetahuan dasar, kaidah, serta proses matematis dalam konteks kehidupan harian, termasuk keterampilan dalam persoalan yang disajikan melalui bentuk tabel ataupun diagram (Rohim. Kemampuan penalaran meliputi (Ekowati & Suwandayani, 2. Berdasarkan hasil observasi, wawancara, dan analisis LKPD di SMA Negeri 1 Prambon menunjukkan bahwa nilai Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) peserta didik pada tahun 2024 menunjukkan kemampuan literasi dan numerasi dalam kategori tinggi dengan nilai literasi 97,78% dan numerasi 93,33. Namun demikian, dalam praktik pembelajaran, pendidik belum secara konsisten melatih peserta didik untuk menyelesaikan soal-soal yang memuat unsur literasi numerik. Kondisi ini tergambar dari hasil telaah pendidik terhadap LKPD yang digunakan belum memuat soal-soal literasi numerasi dan hanya memuat pertanyaan sederhana dalam kategori C1. Kurangnya pembiasan dalam pemaparan soal-soal berbasis literasi dan numerasi oleh guru merupakan faktor utama yang menghambat kemampuan peserta didik dalam penyelesaian permasalahan tersebut (Fiangga et al. , 2. Peningkatan memerlukan pembiasaan melalui latihan soal-soal berbasis literasi numerasi, sehingga siswa dapat menyelesaikan berbagai soal literasi numerasi (Mansur, 2. Pembiasaan dalam pemberian soal-soal berbasis memudahkan peserta didik dalam memecahkan permasalahan dalam tiap soal-soal Kemampuan memecahkan masalah dengan analisis dan penalaran dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk berpikir Keterampilan literasi dan 2 | Sari. Widayati. Awaludin. , dkk. Penguatan kompetensiA. BIOLOVA VOL. 7 NO 1. 25 Maret 2026 numerasi dasar sangat penting bagi setiap siswa untuk melanjutkan pendidikan, mencapai potensi mereka, dan berpartisipasi penuh dalam Salah satu upaya untuk numerasi peserta didik yaitu dengan pengembangan LKPD literasi dan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) ialah sarana ajar pendidik guna menyelenggarakan kegiatan ajar serta membantu siswa secara mandiri, memahami, dan menyelesaikan tugas yang diberikan secara tertulis serta meningkatkan kemampuan siswa dalam berpikir kritis (Agustina et al. Anggriani et al. , 2. Pengembangan media ajar seperti LKPD berbasis model pembelajaran ASICC (Adapting. Searching. Interpreting. Creating. Communicatin. untuk menguatkan literasi dan numerasi peserta didik jenjang SMA. Penerapan model pembelajaran ASICC dapat digunakan untuk mempertahankan keterampilan meningkatkan keterampilan kolaborasi peserta didik (Santoso et al. , 2. Mengacu pada uraian yang telah dipaparkan, studi ini ditujukan guna memperkokoh kapasitas literasi numerasi pada pelajar dengan pengembangan media ajar seperti LKPD berbasis model pembelajaran ASICC. METODE Pengembangan LKPD dengan Design Research tipe Development Study mengacu pada formative evaluation Tessmer . , tersusun atas dua tahap yakni: tahap preliminary . ersiapan serta pendesaina. serta formative evaluation melingkupi self evaluation, prototyping . xpert review, one-to-one, small group, dan field tes. LKPD yang dikembangkan kemudian diujicobakan pada 36 siswa dalam satu kelas setelah divalidasi oleh validator ahli dan praktisi. Gambar 1. Alur Formative Evaluation (Tessmer, 1993. Zulkardi,2. dalam (Putra et al. , 2. Tahap Preliminary Tahap awal . melingkupi dua bagian, yakni tahap perencanaan serta perancangan. Tahap diterapkan disekolah, analisis materi dan analisis perangkat pembelajaran Analisis kurikulum yang penyesuaian materi yang digunakan. Selanjutnya, analisis materi dalam perangkat pembelajaran guru untuk mengetahui capaian pembelajaran dan capaian pembelajaran yang ditargetkan dalam penyampaian materi sistem saraf dengan bahan ajar literasi numerasi yang akan diterapkan. Tahap pendesainan dilakukan dengan mendesain produk yang akan dikembangkan yaitu LKPD berbasis model pemelajaran ASICC untuk menguatkan literasi dan numerasi peserta didik pada materi sistem saraf jenjang SMA. Tahap Preliminary merupakan tahap persiapan awal untuk digunakan pada tahap selanjutnya. Tahap Formative Evaluation Tahapan formative evaluation mencakup lima bagian, yakni self- 3 | Sari. Widayati. Awaludin. , dkk. Penguatan kompetensiA. BIOLOVA VOL. 7 NO 1. 25 Maret 2026 evaluation, expert review, one-to-one, small group, dan field test. Tahap selfevaluation ialah proses evaluasi awal rancangan LKPD. Tahapan ini dilakukan dengan mereview kembali LKPD sesuai dengan kurikulum yang capaian pembelajaran dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Hasil dari revisi dinamakan Prototype 1. Tahap melibatkan beberapa validator ahli dan validator praktisi dalam Focus Group Discussion (FGD) dan penilaian Tanggapan dan saran validator digunakan untuk revisi LKPD Tahapan one-to-one merupakan evaluasi prototype 1 pada tahap expert LKPD yang telah divalidasi oleh validator selanjutnya diujicobakan pada 3 peserta didik. Kategori 3 peserta didik ini ialah kapabilitas belajar tinggi, sedang, serta rendah. Kendala, kesulitan, dan kekurangan pada uji coba tahap one-to-one ialah acuan merevisikan LKPD. Prototype 1 yang telah direvisi menjadi prototype 2. Tahapan small group. LKPD prototype 2 diujicobakan pada 6 pelajar pada kategori sama di tahap one-toone, tetapi dalam jangkauan lebih Kendala, kesulitan, dan kekurangan pada small group dijadikan landasakan merevisikan LKPD. Hasil revisi pada tahapan small group, prototype 2 menghasilkan prototype 3. Tahap field test ialah bagian penutup dalam proses formative Uji coba ini dilaksanakan setelah LKPD direvisi berdasarkan hasil dari tahap small group. Tujuan pelaksanaan tahap ini yaitu untuk meninjau sejauh mana kapasitas literasi numerasi peserta didik pasca LKPD. Data dari validasi praktisi dan ahli FGD menggunakan instrumen berdasarkan skala likert 1-5 pilihan jawaban menurut Suasapha . Tabel 1. Tabel 1. Kriteria Skor Penilaian Validasi LKPD Skor Kriteria Sangat setuju Setuju Cukup Kurang setuju Sangat kurang Persentase validasi diperoleh dari rumus berikut ini. Persentase kevalidan = Skor yang diperoleh Skor maksmal X 100% Selanjutnya, hasil persentase validitas diinterpretasikan dalam kriteria uji validitas menurut Ani & Lazulva . Tabel 2. Tabel 2. Kriteria Uji Validitas Interval 81% - 100% 61% - 80% 41% - 60% 21% - 40% 0% - 20% Kriteria Sangat Valid Valid Cukup Valid Kurang Valid Tidak Valid Penguatan kapabilitas literasi numerasi diperoleh melalui komparasi capaian pre-test jua post-test, yang lalu ditelaah formula normalized gain (Ngai. menurut Pratiwi . Adapun formula N-gain yang digunakan tersaji: Rumus N-gain N-gain = Skor ycyycuycycycyceycycOeSkor ycyycyceycyceycyc Skor maxOeSkor ycEycyceycyceycyc Output dari penghitungan N-gain dikategorisasikan ke dalam tiga klasifikasi tingkat capaian (Tabel . Tabel 3. Kategori Nilai N-Gain Nilai N-gain N-gain > 0,7 0,3 < N-gain O 0,7 N-gain O 0,30 Kategori Tinggi Sedang Rendah 4 | Sari. Widayati. Awaludin. , dkk. Penguatan kompetensiA. BIOLOVA VOL. 7 NO 1. 25 Maret 2026 HASIL Tahap pendesainan LKPD berbasis model pembelajaran ASICC untuk menguatkan kompetensi literasi numerasi peserta didik pada materi sistem saraf jenjang SMA. Desain LKPD (Tabel . Tabel 4. Desain LKPD Desain LKPD Halaman utama sampul Sampul Depan Sampul Belakang Halaman pengantar Tahap adapting Tahap searching Tahap interpreting 5 | Sari. Widayati. Awaludin. , dkk. Penguatan kompetensiA. BIOLOVA VOL. 7 NO 1. 25 Maret 2026 Tahap creating dan communicating Refleksi pembelajaran Telaah terhadap validitas data diperoleh dengann FGD bersama pakar ahli dan praktisi terhadap LKPD yang telah dirumuskan, serta dinyatakan valid (Tabel . Tabel 5. Hasil Uji Validasi Tahap Expert Review Aspek Indikator Penilaian Tampilan Kelayakan Isi Kebahasaan Penyajian ASICC Materi Sistem Saraf Total Rata-rata Validitas (%) Kriteria Validator Ahli 1 Validator Ahli 2 Validator Praktisi masukkan peserta didik. Hasil uji coba one-to-one dilihat dari skor 3 peserta didik pada 3 kategori . inggi, sedang, dan renda. memperoleh skor 96, 60, 52 dan hasil uji coba small group dari 6 peserta didik dengan kategori yang sama pada one-to-one mendapati skor 96, 64, 80, 96, 72, 84. Hasil skor pada tahap one-to-one dan small group mengungkap bahwasanya adanya perubahan dengan skor yang lebih baik sehingga dari tiap tahapannya LKPD lebih mudah untuk dipahami dalam penggunaannya yang direvisi sesuai komentar pelajar guna revisi. LKPD pasca revisi di tahap ini selanjutnya diujicobakan pada tahap field test dalam satu kelas 36 peserta Sebagaimana pre-test juga posttest memperlihatkan adanya kenaikan. Kemudian didapatkan skor pre-test dan post-test materi sistem saraf (Gambar Rata-rata Nilai Pre-Test dan Post-Test 83,36 43,96 Rata-rata Nilai Rata-rata Nilai Pre-Test Post-Test Sangat Valid 26,22 Sangat Valid Valid Hasil analisis validitas menunjukkan bahwa validator ahli dengan skor 87% dan 93% berada pada kategori sangat valid, dan validator praktisi dengan skor 80% berada pada kategori valid. Capaian one-to-one serta small kekurangan LKPD direvisi sampai dengan lebih jelas dan mudah dalam penggunaanya sesuai dengan saran dan Gambar 2. Hasil skor pre-test dan post-test Perolehan capaian rerata pre-test 43,96 lalu post-test 83,36. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan. Hasil analisis N-Gain (Tabel . 6 | Sari. Widayati. Awaludin. , dkk. Penguatan kompetensiA. BIOLOVA VOL. 7 NO 1. 25 Maret 2026 Tabel 5. Hasil Analisis N-Gain Pre-Test dan Post-Test Interval N-Gain N-gain > 0,7 0,3 < N-gain O 0,7 N-gain O 0,30 Total Kategori N-Gain Tinggi Sedang Rendah Jumlah Hasil telaah N-Gain terhadap 36 peserta didik memperlihatkan bahwa 28 individu tergolong dalam klasifikasi tinggi, 5 individu dalam klasifikasi sedang, dan 3 individu dalam klasifikasi rendah. Uji dilaksanakan oleh pendidik dan peserta didik melalui instrumen kepraktisan menunjukkan bahwa 80% pendidik tergolong praktis, sedangkan 81% peserta didik termasuk sangat praktis juga 19% lainnya tergolong praktis. PEMBAHASAN LKPD pada materi sistem saraf yang dirancang berlandaskan model pembelajaran ASICC terbukti mampu menguatkan kapabilitas berpikir kritis dan metakognisi peserta didik dengan masalah kontekstual, mengumpulkan informasi penting, berbagi gagasan, dan membuat produk (Santoso et al. Selama proses pembelajaran memecahkan masalah kontekstual. Kondisi ini sejalan dengan makna literasi numerasi, yakni kecakapan individu dalam memanfaatkan nalar guna menelaah serta memahami ungkapan yang tersaji berwujud numerik atau lambang, yang kerap dijumpai dalam keseharian, serta mengartikulasikannya verbal maupun tertulis (Abidin et al. , 2017. Ekowati & Siwandayani, 2. Peserta didik belajar dengan menggunakan LKPD berbasis model pembelajaran ASICC menjadi lebih terstruktur yang dalam tiap tahapannya memfokuskan pembelajaran atau aktivitas peserta didik secara penuh tidak dalam pembelajaran yang memfokuskan pada satu arah. Hal ini sesuai dengan tahapan pembelajaran berbasis model ASICC yang dengan 4 tahapan yaitu adapting, searching, communicating (Sari & Santoso. Pada ASICC numerasi peserta didik dalam proses pembelajaran dengan pemahaman, masalah yang termasuk dalam keterampilan metakognitif. Pada tahap adapting, pelajar diminta mencermati stimulus berupa video pembelajaran untuk dianalisis secara kritis dan melakukan refleksi diri untuk melanjutkan kegiatan Tahap didik mengumpulkan informasi dari berbagai sumber belajar. Tahap Interpreting, peserta didik diminta untuk mengerjakan soal secara berkelompok disajikan soal-soal hots berupa artikel, berita, dan data untuk Tahap creating dan communicating peserta didik diminta mempresentasikan karya kelompok hasil diskusi. Kegiatan pembelajaran ini membuktikan LKPD berbasis model pembelajaran ASICC dapat menguatkan kompetensi literasi numerasi peserta didik dalam tiap tahapan belajar dengan kemampuan proses berpikir peserta didik. Kemajuan capaian pre-test dan post-test menunjukkan penguatan kompetensi literasi numerasi peserta didik dalam penelitian ini. Capaian skor rata-rata pre-test 43,96 dan posttest 83,36. Hal ini ditemukan 7 | Sari. Widayati. Awaludin. , dkk. Penguatan kompetensiA. BIOLOVA VOL. 7 NO 1. 25 Maret 2026 peningkatan hasil belajar dalam numerasi siswa sebelum dengan sesudah proses pembelajaran di kelas. Selain itu, dari 36 peserta didik rumus N-Gain dan ditemukan bahwa 28 peserta didik termasuk dalam kategori tinggi, lima dalam kategori sedang, dan tiga dalam kategori rendah. KESIMPULAN Temuan mengindikasikan bahwa penerapan LKPD pembelajaran ASICC pada topik sistem saraf dinilai valid serta layak dimanfaatkan guna memperkokoh kompetensi literasi numerasi peserta Hal ini dibuktikan melalui penilaian dari validator ahli yang mencapai 87% dan 93% dengan klasifikasi sangat valid. Sementara itu, hasil penilaian dari validator praktisi menunjukkan capaian 80% dan tergolong valid. Lalu capaian uji kepraktisan oleh pengajar serta peserta kepraktisan diperoleh 80% dari guru dengan kategori praktis, 81% peserta didik tergolong sangat praktis, dan 19% tergolong praktis. Data studi ini memperlihatkan bahwa skor pre-test berada pada angka 43,96%, sementara skor post-test meningkat menjadi 83,36%, yang menandakan terjadinya SARAN