Vol. No. 2, 2025, 129-136. Homepage: https://ejurnal. id/jbd Status Stok dan Pengelolaan Berkelanjutan Ikan Selar (Selar boops Cuvier, 1833. ) di WPPRI 713 Berdasarkan Analisis Surplus Produksi Hernita1. Wayan Kantun2* Institut Teknologi dan Bisnis Maritim Balik Diwa Email correspondence*: aryakantun@gmail. ABSTRACT Fundamental problems in managing oxeye scad fisheries in WPPRI 713 include limited comprehensive stock data, resulting in suboptimal resource utilization and potential unsustainability. This study aims to estimate the sustainable potential, utilization rate, optimum effort, and allowable catch as the basis for sustainable oxeye scad fisheries management. This study uses a quantitative approach based on statistical data for ten years . 5Ae2. , analyzed using the Schaefer surplus production model. The results indicate that the sustainable potential of oxeye scad reaches 63,404,117 tons/year, the utilization rate is 18. 99%, the optimum effort is 3,730,925 units, and the allowable catch is 50,723 tons/year. These results confirm that oxeye scad stocks are in a productive condition and opportunities for utilization development are still wide open, but still require management control through regulation of fishing effort and the implementation of quotas based on the allowable catch. In conclusion, oxeye scad fisheries in WPPRI 713 can still be developed safely while adhering to established biological limits. Keywords: surplus production model. sustainable fisheries management. stock dynamics and utilization. WPPRI 713 PENDAHULUAN Ikan selar (Selar boops Cuvier, 1. merupakan salah satu sumber daya akuatik penting dalam kelompok pelagis kecil yang memiliki nilai ekonomi tinggi serta menjadi sumber protein utama bagi masyarakat pesisir Indonesia. Meskipun pemanfaatan ikan pelagis kecil secara umum terus meningkat, berbagai penelitian menunjukkan bahwa sejumlah stok menghadapi tekanan akibat intensitas penangkapan yang tinggi di beberapa wilayah perairan nasional (Nurdin et al. , 2018. Kantun et Namun demikian, pola pemanfaatan tersebut tidak bersifat seragam antarwilayah, sehingga analisis eksploitasi yang bersifat spesifik wilayah menjadi penting untuk memperoleh gambaran yang akurat mengenai status stok. Perbedaan kondisi ekologis, karakteristik armada penangkapan, serta dinamika oseanografi turut memengaruhi variasi tingkat pemanfaatan antar Wilayah Pengelolaan Perikanan. Kebaruan penelitian ini terletak pada penerapan pendekatan integratif yang secara simultan menghitung potensi lestari, tingkat pemanfaatan, upaya optimum, dan jumlah tangkapan yang diperbolehkan untuk ikan selar di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia (WPPRI) 713. Wilayah ini mencakup Teluk Bone. Laut Flores, dan Selat Makassar yang dikenal sebagai kawasan produktif dan menjadi jalur migrasi ikan pelagis kecil. Samapai saat ini, sebagian besar penelitian tentang ikan selar di Indonesia masih bersifat parsial, seperti kajian stok di Teluk Tomini (Suwarso et al. , 2. , struktur populasi di perairan Bitung (Tampanguma et , 2. , maupun penelitian terkait aspek biologi reproduksi di Laut Jawa (Sari et al. Penelitian ini memberikan kontribusi ilmiah yang lebih komprehensif melalui penyajian gambaran holistik dinamika stok ikan selar yang mengintegrasikan indikator E ISSN: 3032-3177 130 Jurnal Riset Diwa Bahari Vol. No. 2, 2025, 129-136 Homepage: https://ejurnal. id/jbd penting pengelolaan stok dalam konteks wilayah yang luas. Pentingnya penelitian ini semakin menonjol mengingat WPPRI 713 merupakan salah satu koridor migrasi utama ikan pelagis kecil dan menjadi pusat aktivitas perikanan skala kecil. Penyediaan informasi ilmiah yang akurat mengenai status stok ikan selar sangat diperlukan untuk mendukung kebijakan pengelolaan yang efektif, khususnya dalam menentukan batas upaya penangkapan, peluang pengembangan usaha perikanan, serta penerapan prinsip keberlanjutan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengambil kebijakan dalam merumuskan strategi pengelolaan yang adaptif dan II. dan jumlah tangkapan diperbolehkan. Hasil pengolahan data kemudian digunakan untuk membuat interpretasi dan rekomendasi yang mendukung tujuan penelitian. Fishing Power Index Standarisasi Fishing Power Index (FPI) untuk menyeragamkan kemampuan alat tangkap sumberdaya ikan. Setiap fishing effort masingAemasing jenis alat tangkap yang sudah distandarisasi kemudian memasukkan nilai FPI. Rumus digunakan untuk menstandarisasi Fishing Power Index dari upaya penangkapan adalah sebagai berikut: METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober sampai November 2025. Lokasi pengumpulan data produksi dan upaya penangkapan ikan Selar dilakukan di Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan. Prosedur mengumpulkan data produksi dan upaya ikan selar dalam 10 tahun terakhir mulai tahun 2015-2024. Mencatat jumlah produksi tiap jenis alat tangkap dalam setiap tahunnya selama 10 tahun. Fishing power index digunakan untuk menyeragamkan kemampuan alat tangkap dalam memanfaatkan sumber daya ikan. setiap jenis alat tangkap memiliki efektivitas yang berbeda, total upaya penangkapan dihitung sebagai penjumlahan seluruh effort yang telah distandarisasi melalui nilai fishing power index, sehingga perbedaan kemampuan alat tangkap dapat diperhitungkan secara proporsional tanpa mengubah Standarisasi penangkapan dilakukan dengan mengonversi seluruh effort menjadi ekuivalen terhadap satu alat tangkap acuan . ear referens. Prinsipnya adalah menyetarakan berbagai alat tangkap berdasarkan nilai CPUE relatif atau faktor daya tangkap . elative fishing powe. Hasil tangkapan dan effort dari berbagai alat dapat diubah ke dalam satuan upaya standar, sehingga data dapat dibandingkan secara proporsional dan analisis potensi lestari, tingkat pemanfaatan, serta pengelolaan stok dapat dilakukan secara lebih objektif dan ilmiah. Pengolahan data dilakukan dengan memasukkan hasil pencatatan ke dalam perangkat lunak untuk pengolahan lebih lanjut. Data dianalisis untuk menentukan fishing power index, standarisasi effort, potensi lestari, upaya optimum, tingkat pemnfaatan !"#$% yaycEya = !"#$& a. Ket: FPI = Fishing Power Index CPUEi = CPUE ke-i CPUEs = CPUE yang menjadi standart Standar Effort Standarisasi dilakukan dengan menghitung effort ekuivalen terhadap satu alat tangkap acuan . ear Prinsipnya adalah menyetarakan berbagai alat tangkap berdasarkan CPUE relatif, sehingga seluruh hasil tangkapan dan effort dapat dikonversi ke dalam satuan upaya Dengan cara ini, data tangkapan dan proporsional, sehingga analisis potensi lestari, tingkat pemanfaatan, dan pengelolaan stok dapat dilakukan secara lebih objektif dengan formula berikut. Fs = FPI x Fi a. Ket: Fs = Upaya penangkapan hasil standarisasi Fi = Upaya penangkapan yang akan di Standarisasi Potensi Lestari Nilai potensi maksimum lestari (MSY) ikan selar diperoleh dengan menggunakan formula yang diterapkan oleh Kantun . MSY = - ("#)a. E ISSN: 3032-3177 131 Jurnal Riset Diwa Bahari Vol. No. 2, 2025, 129-136 Homepage: https://ejurnal. id/jbd Upaya optimum Pada penelitian ini upaya penangkapan (Effor. dapat berupa jumlah alat tangkap atau trip bergantung data yang tersedia pada Dinas Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan. Persamaan untuk mendapatkan nilai (CPUE) adalah sebagai berikut (Gulland, 1. CPUE = & " a. Ket: CPUE = Catch per Unit Effort yaycyycn = Hasil tangkapan per alat tangkap pada tahun ke-i . yceyc = Upaya pada tahun ke-i . Selanjutnya dilakukan pengolahan data melalui pendekatan Model Schaefer. Model ini merupakan model analisis regresi dari CPUE terhadap jumlah Hubungan antara hasil tangkapan dan upaya penangkapan diperoleh dengan menggunakan formula yang diterapkan oleh Kantun . C = af b . ' a. Nilai upaya optimum (Fop. diperoleh dengan menggunakan formula yang diterapkan oleh Kantun ya(%) = - ( )a. Tingkat Pemanfaatan Pendugaan tingkat pemanfaatan ikan Selar dilakukan dengan cara mempresentasikan jumlah hasil tangkapan pada tahun tertentu dengan nilai potensi maksimum lestari (MSY). Persamaan dari tingkat pemanfaatan adalah yang diterapkan oleh Kantun . 80% dari MSYa. HASIL DAN PEMBAHASAN Fishing Power Index Nilai rata-rata FPI alat tangkap ikan selar berkisar 1,120Ae3,417, dengan nilai terendah pada 2023 dan tertinggi pada 2019 (Gambar . Kisaran ini menunjukkan adanya variasi efisiensi antar alat tangkap selama periode pengamatan. Seluruh nilai FPI yang berada di atas satu menandakan bahwa semua alat tangkap memiliki kemampuan menangkap lebih tinggi dibandingkan alat standar. Nilai mendekati 1,120 menunjukkan efisiensi yang hanya sedikit lebih besar dari alat referensi, sedangkan nilai 3,417 menunjukkan efisiensi lebih dari tiga kali lipat. Rentang nilai yang lebar mengindikasikan bahwa catchability alat tangkap bersifat dinamis dan dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, teknik operasi, serta fluktuasi kelimpahan stok dari tahun ke tahun. Peningkatan FPI pada periode tertentu dapat mencerminkan kelimpahan ikan yang lebih tinggi atau peningkatan keterampilan dan Sebaliknya. FPI penyebaran ikan yang lebih luas, menurunnya stok, atau berkurangnya efektivitas alat Gambar 1: Nilai Fishing power index alat tangkap berdasarkan waktu ycNycE$ = ,-. x 100%. Keterangan : TPc = Tingkat pemanfaatan pada tahun ke-i (%) = Hasil tangkapan ikan pada tahun ke-i . MSY = Maximum Sustainable Yield . Jumlah Tangkapan diperbolehkan Jumlah tangkapan diperbolehkan untuk ikan Selar dapat diperoleh dengan menerapkan formula yang diterapkan oleh Kantun . Sumber: hasil penelitian Kisaran nilai FPI pada Gambar 1 menunjukkan bahwa efisiensi alat tangkap dalam perikanan selar bersifat tidak seragam dan berubah secara temporal. Variasi ini menegaskan pentingnya standarisasi upaya penangkapan sebelum melakukan analisis E ISSN: 3032-3177 132 Jurnal Riset Diwa Bahari Vol. No. 2, 2025, 129-136 Homepage: https://ejurnal. id/jbd stok, seperti perhitungan CPUE, potensi lestari, atau tingkat pemanfaatan. Tanpa standarisasi, indikator biologis dan manajerial berpotensi bias dan tidak mencerminkan kondisi aktual stok di WPPRI 713 (Kantun, 2. FPI merupakan indikator utama dalam bioekonomi dan penilaian stok karena menggambarkan efisiensi relatif suatu alat tangkap dibandingkan alat standar, dan nilainya dapat berubah dari tahun ke tahun seiring perkembangan teknologi, perubahan distribusi ikan, kondisi lingkungan, dan kompetensi nelayan (Maunder & Punt, 2. Kenaikan FPI umumnya terjadi ketika teknologi meningkat, desain alat tangkap dimodifikasi, kelimpahan ikan tinggi sehingga alat tampak lebih efisien. Sebaliknya, penurunan FPI dapat mencerminkan menurunnya kelimpahan ikan, penyebaran ikan yang lebih luas, kondisi oseanografi yang kurang stabil, atau berkurangnya efektivitas operasional alat tangkap (Sparre & Venema, 1. Perubahan FPI memiliki implikasi penting dalam analisis perikanan yakni fluktuasi nilai dari tahun ke tahun dapat menjadi indikator perubahan kelimpahan stok, menegaskan perlunya standarisasi CPUE untuk menghindari bias, serta membantu menilai apakah tingkat pemanfaatan masih berada dalam batas lestari atau mendekati overfishing. Oleh karena itu, mempertimbangkan dinamika FPI secara temporal sangat penting untuk memperoleh penilaian stok yang akurat dan mendukung pengelolaan sumber daya yang adaptif dan berkelanjutan (Pauly et al. , 2. Standar Effort Standar upaya penangkapan dilakukan terhadap alat tangkap yang lengkap data produksinya berdasarkan waktu, seperti diperlihatkan pada Gambar 2. Nilai standarisasi upaya penangkapan yang menunjukkan angka tertinggi pada tahun 2021 mengindikasikan bahwa pada tahun tersebut efisiensi relatif alat tangkap terhadap alat standar berada pada tingkat yang paling tinggi dibandingkan tahun-tahun Gambar 2: Hasil standarisasi alat tangkap berdasarkan waktu Sumber: hasil penelitian Tingginya nilai standarisasi pada tahun 2021 mencerminkan kombinasi faktor teknis, ekologis, dan operasional yang meningkatkan daya tangkap efektif. Hilborn & Walters . menegaskan bahwa perubahan efisiensi alat tangkap dari waktu ke waktu harus diperhitungkan melalui standarisasi upaya atau CPUE. Nilai tinggi pada 2021 mengindikasikan catchability alat tangkap lebih besar dibanding tahun lainnya. Peningkatan ini dapat dipicu oleh kemajuan teknologi, pengalaman operator, intensifikasi alat bantu, serta kondisi oseanografi yang mengonsentrasikan ikan (Maunder & Punt. Lingkungan yang mendukung kelimpahan pelagis kecil, termasuk Selar crumenophthalmus, juga dapat meningkatkan CPUE efektif (Nurdin et al. , 2. Puncak nilai standarisasi tersebut dari perspektif analisis perikanan, menunjukkan efisiensi maksimum selama periode pengamatan. CPUE terstandarisasi berfungsi sebagai indeks kelimpahan relatif yang lebih stabil karena mengontrol variasi teknis dan temporal (Miller, 2. Oleh karena itu, interpretasi tren stok ikan pada tahun tersebut harus mempertimbangkan pengaruh efisiensi alat tangkap, bukan hanya perubahan kelimpahan, sejalan dengan evaluasi CPUE multi-gear oleh Thorson et al. Potensi Lestari Potensi lestari ikan selar sebesar 404,117 ton/tahun merupakan akumulasi produksi dari tiga wilayah perairan utama ykni Teluk Bone. Laut Flores, dan Selat Makassar yang berada dalam jalur pelagis kecil dengan produktivitas tinggi akibat upwelling musiman (Kantun et al. ,2. Arlindo, dan kesuburan Ketiga wilayah ini membentuk sistem stok yang saling terhubung secara ekologis, meskipun dikelola oleh unit administratif yang berbeda. Penelitian di Teluk Bone oleh Sari et al. menunjukkan meningkatnya eksploitasi pada musim timur, sementara penelitian di Laut Flores (Mahulette & Lakatiko, 2. mengindikasikan pertumbuhan cepat dan mortalitas alami tinggi yang menjaga Kajian di Selat Makassar E ISSN: 3032-3177 133 Jurnal Riset Diwa Bahari Vol. No. 2, 2025, 129-136 Homepage: https://ejurnal. id/jbd (Kurniawan, 2020. Pangalila et al. , 2. menegaskan perannya sebagai daerah migrasi dan pemijahan penting berbagai spesies selar. Ketika data dari ketiga wilayah digabungkan pada tingkat provinsi, nilai potensi lestari menjadi lebih besar dibandingkan hasil penelitian skala wilayah tunggal, karena model MSY provinsi mencerminkan integrasi tiga sistem perairan dengan produktivitas tinggi. Potensi besar ini menunjukkan kapasitas ekologis yang kuat untuk mendukung pengembangan perikanan selar berkelanjutan, sekaligus menegaskan pentingnya pendekatan pengelolaan berbasis connected stocks. Implikasinya, pengelolaan harus mengedepankan harmonisasi kebijakan lintas wilayah, pengaturan upaya berbasis musim, integrasi data CPUE antarperairan, serta penguatan pengelolaan berbasis ekosistem agar penilaian potensi dan pemanfaatan stok selar lebih akurat dan berkelanjutan. Upaya Optimum Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya optimum pemanfaatan ikan selar mencapai 3. unit, mencerminkan tingkat tekanan penangkapan ideal untuk menjaga keberlanjutan stok. Nilai ini tergolong moderat dibandingkan pola eksploitasi pelagis kecil pada berbagai perairan Indonesia dan mencerminkan kondisi stok yang masih aman, sejalan dengan tingkat pemanfaatan rendah . ,99%). Penelitian ikan pelagis kecil di Selat Makassar (Putri et al. , 2. dan Bitung (Zamroni et al. , 2. juga menunjukkan pola upaya sedang dan stabil ketika stok masih berada pada kategori moderately Hasil temuan Dewi & Husni . memperlihatkan bahwa peningkatan upaya yang tidak terkendali dapat memicu growth overfishing, sehingga estimasi upaya optimum menjadi elemen kunci menjaga keberlanjutan. Jika dibandingkan wilayah Indonesia Timur lainnya, nilai upaya optimum ini konsisten dengan pola produktivitas perairan semi tertutup dan ekosistem yang dipengaruhi upwelling. Penelitian Nelwan et al. menegaskan perlunya estimasi upaya yang mempertimbangkan variabilitas oseanografi karena fluktuasi upaya tidak selalu berkorelasi langsung dengan hasil tangkapan. Nilai 925 unit mencerminkan intensitas penangkapan yang masih terkendali secara biologis dan ekologis pada Teluk Bone. Laut Flores, dan Selat Makassar. Hubungan antara potensi lestari sebesar 404,117 ton/tahun, tingkat pemanfaatan, dan upaya optimum membentuk dasar penting dalam perumusan pengelolaan perikanan selar. Potensi lestari yang tinggi menggambarkan mengurangi keberlanjutan jangka panjang, sementara tingkat pemanfaatan yang rendah pengembangan perikanan tanpa meningkatkan risiko overfishing (Kantun et al. , 2. Upaya optimum berfungsi sebagai batas teknis untuk mengatur intensitas penangkapan agar peningkatan pemanfaatan tetap aman. Keterkaitan ketiga parameter ini menegaskan bahwa perikanan selar di WPP 713 masih berada dalam kondisi yang Pengelolaan peningkatan efisiensi penangkapan secara terukur, pengendalian jenis dan jumlah alat tangkap, serta pemantauan dinamika stok berbasis musim. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip ecosystem-based fisheries management, yang relevan bagi pengelolaan pelagis kecil di wilayah Indonesia timur. Tingkat Pemanfaatan Tingkat pemanfaatan ikan selar sebesar 18,99% menunjukkan bahwa stok di wilayah penelitian masih underexploited, jauh di bawah batas biologis optimum 40Ae60% untuk pelagis kecil (Gulland, 1. Kondisi ini mencerminkan kapasitas pertumbuhan dan regeneratif yang tinggi, serta belum adanya tekanan penangkapan yang mengancam keberlanjutan stok, sehingga membuka peluang pengembangan perikanan dengan risiko rendah. Sebagai perbandingan. Atule mate di Selat Makassar dimanfaatkan 42Ae48% (Kurniawan, 2020. Pangalila et al. , 2. Selaroides leptolepis di Laut Flores 35Ae40% (Mahulette & Lakatiko, 2. , dan pelagis kecil di Laut Jawa 60Ae70% (Wiyono, 2. , menunjukkan bahwa tingkat pemanfaatan selar di WPPRI 713 jauh di bawah rata-rata Potensi lestari yang tinggi . 404,117 ton/tahu. belum dimaksimalkan, sehingga peningkatan produksi masih precautionary principle mengingat stok pelagis kecil sensitif terhadap fluktuasi iklim, arus, dan dinamika lingkungan. 134 Jurnal Riset Diwa Bahari Vol. No. 2, 2025, 129-136 Homepage: https://ejurnal. id/jbd Kondisi ini dari perspektif manajerial, membuka peluang strategis: pertama, penambahan upaya penangkapan secara bertahap melalui diversifikasi armada dan teknologi selektif. pengembangan hilirisasi dan rantai dingin untuk meminimalkan kehilangan hasil. ketiga, penggunaan tingkat pemanfaatan rendah sebagai baseline kebijakan jangka panjang berbasis ekosistem, mengintegrasikan Teluk Bone. Laut Flores, dan Selat Makassar sebagai unit stok yang saling terhubung. Tabel 2: Data Pembanding Tingkat Pemanfaatan Ikan Selar di Indonesia !"#$%$&' (F*F#" "$*' !"#$%$&' (F*F#" "$*'"*"' ,F#$ ' @$1$JJ$K' !"#A%&'(()*T' h$E 'i#RKFJ' h$E 'm$F$' LF#E1'LRO"*"' @$#E1E' L"*M1$ ' (FO$*P$$ $*' 4$ FMRK"' U9W. =*>FKP"J&F>' ?F*F#" "$*'"*"' ,-#"&. A,"& ABCA9<' @R>FK$ C a( "OEO' 4EK*"$F$*'dBeBefg'?$*M$#"#$' F '$#T'dBeBUf' !"#A%(/0"*& #"),(#")/*& MkCAe<' @R>FK$ ' @$&E#F F'l'h$1$ "1R'dBeBef' eCne<' iE##%' Fo(#R" F>' R' RpFKP"J&F>' !"%R*R'dBeU9f' TM. @R>FK$ ' ,EF$KJRW',T'dBeUnf' MBCMr<' @R>FK$ ' S"K"&F*$'dBeUnf' ,(FJ"FJ'JF#$K' 1"#A2/*&P"4/#& ,"%. A*-P&*"#A%& !"#A%& 4%-. "5()S,SA#. -*& !"#A%(/0"*& #"),(#")/*& SFPFKF*J"' Sumber: hasil penelitian Tingkat pemanfaatan ikan selar sebesar 18,99% di WPP RI 713 (Teluk Bone. Laut Flores. Selat Makassa. menunjukkan kondisi underexploited. Hal ini dipengaruhi beberapa faktor utama. Pertama, armada didominasi kapal kecil dengan alat tangkap tradisional . ancing ulur, gillnet kecil, purse seine mini, bagan tanca. yang jangkauannya terbatas, sehingga upaya lebih terfokus di perairan pesisir, bukan habitat dominan selar (KKP, 2. Kedua, selar bukan target utama, melainkan bycatch dalam operasi pelagis kecil, dengan kontribusi kurang dari 5Ae10% dari total tangkapan (Nelwan et al. , 2022. Putri et al. , 2. Ketiga, data dan pemantauan stok selar terbatas dibanding layang dan kembung, sehingga perhatian kebijakan rendah. Keempat, karakteristik biologis selarAipertumbuhan sedang, fekunditas tinggiAimembuat stok relatif stabil meski upaya rendah, sebagaimana ditemukan di Teluk Tomini (Pasisingi et al. , 2. Kondisi underfishing ini mencerminkan keterbatasan armada, preferensi komoditas nelayan, rendahnya intensitas pemantauan, serta produktivitas biologis selar. Secara keseluruhan, situasi ini membuka peluang besar untuk pengembangan perikanan selar berkelanjutan di WPP RI 713. E ISSN: 3032-3177 Jumlah Tangkapan Diperbolehkan Penetapan jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB) sebesar 50. 723 ton/tahun untuk ikan selar di WPP RI 713 memiliki makna strategis dalam pengelolaan perikanan Angka ini merepresentasikan batas tangkap tahunan yang aman berdasarkan potensi lestari (MSY), menjaga stok tetap pemanfaatan ekonomi bagi nelayan dan JTB berfungsi sebagai instrumen penangkapan tidak melebihi kapasitas regeneratif stok. Jika tangkapan melebihi batas ini, risiko overfishing meningkat. jika jauh di bawah, terdapat peluang mengorbankan keberlanjutan. Untuk mendukung implementasi JTB, kebijakan harus mencakup alokasi kuota, pengaturan musim, dan regulasi alat tangkap sesuai batas biologis. Pengawasan dan pemantauan melalui sistem Monitoring. Control, and Surveillance (MCS), logbook, dan Vessel Monitoring System (VMS) menjadi penting untuk memastikan kepatuhan dan menyediakan data ilmiah valid bagi evaluasi Evaluasi fishing effort secara berkala memungkinkan pengelolaan adaptif. upaya di bawah kapasitas optimum dapat ditingkatkan, dikendalikan melalui pembatasan kapal, hari operasi, atau alat tangkap. Selain itu, perlindungan habitat dan pengaturan periode reproduksi melalui seasonal closure membantu menjaga rekrutmen generasi baru. Pendekatan berbasis ekosistem menjadi penting karena selar merupakan bagian dari komunitas pelagis kecil yang saling berinteraksi. Investasi dalam penelitian dan pemantauan stok, survei biomassa, serta pemodelan bioekonomi akan memastikan JTB tetap relevan dan akurat seiring perubahan kondisi ekologi dan tekanan Penetapan JTB 50. 723 ton/tahun memberikan dasar ilmiah bagi pengelolaan perikanan selar yang lestari, menjamin stabilitas stok, dan mendukung pemanfaatan ekonomi secara optimal bagi generasi sekarang dan mendatang. 135 Jurnal Riset Diwa Bahari Vol. No. 2, 2025, 129-136 Homepage: https://ejurnal. id/jbd IV. KESIMPULAN Potensi lestari ikan selar menunjukkan stok yang produktif dengan kapasitas pemulihan tinggi, berkelanjutan jika dikelola hati-hati. Tingkat pemanfaatan yang rendah menandakan tekanan penangkapan masih aman, membuka peluang peningkatan pemanfaatan tanpa mengancam stok. Upaya optimum menunjukkan tingkat penangkapan ideal untuk menyeimbangkan produksi dan Sementara itu, jumlah tangkapan yang diperbolehkan berfungsi sebagai batas aman, sehingga kuota dan pengawasan dapat menjaga keberlanjutan stok dan mendukung pengembangan perikanan selar jangka panjang. REFERENSI