Volume 8. Nomor 1. Juni 2024 ISSN2580-3344 PENINGKATAN HASIL BELAJAR SANITASI. HYGIENE DAN KESELAMATAN KERJA SISWA MENGGUNAKAN MODEL QUANTUM LEARNING Oleh : Nyoman Rachma Ayu Santyka Sasmitha1. I wayan suryanto2. Ni Made Erpia Ordani Astuti3 Program Studi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Fakultas Ekonomika dan Humaniora Universitas Dhyana Pura Bali. Bali. Indonesia aiiuyuuka@yahoo. Abstrak Penelitian tindakan kelas, khususnya mengkaitkan Hasil Belajar Sanitasi. Hygiene dan Keselamatan Kerja Siswa dengan menggunakan Model Quantum Learning di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) termasuk Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar sanitasi, hygiene dan keselamatan kerja siswa kelas X Jurusan Jasa Boga di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Bali Dewata Denpasar dengan penerapan model pembelajaran kuantum (Quantum learnin. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas, dengan jumlah sampel sebanyak 41 siswa. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes essay untuk mengukur hasil belajar siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa kelas X jurusan jasa boga Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Bali Dewata tahun ajaran 2015/2016 setelah diterapkannya model pembelajaran quantum learning pada mata pelajaran sanitasi, hygiene dan keselamatan Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar siswa pada siklus I menunjukkan rata-rata skor 70,95% berada pada kategori Aucukup baikAy, selanjutnya setelah melalui siklus II, rata-rata hasil belajar siswa menjadi 84,29% dan berada pada kategori AubaikAy. Hal ini menunjukkan telah terjadi peningkatan hasil belajar siswa dari siklus I ke siklus II sebesar 13,34%. Serta terjadi peningkatan ketuntasan klasikal dari yang sebelumnya 31,71% pada siklus I menjadi 100% pada siklus II. Hasil ini menunjukkan bahwa penerapan model quantum learning dalam penelitian ini berhasil meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil penelitian ini diharapkan mampu dijadikan salah satu alternatif model pembelajaran yang dapat digunakan pada pembelajaran jasa boga untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Kata Kunci : Hasil-Belajar. Sanitasi-Hygiene-Keselamatan-Kerja. Quantum-Learning. Abstract Classroom action research, particularly on Learning Outcomes of Sanitation. Hygiene and Students Safety using Quantum Learning Model in Vocational High School considered rare. This study aims to determine the learning outcome of sanitation, hygiene and students safety of class ten (X) of Food Services Programs. Vocational High School Dewata. Denpasar. Bali, with the application of quantum learning model (Quantum learnin. This research is a classroom action research, with a total sample of 41 students, the instrument used in this study is an essay test to measure student learning outcomes of sanitation, hygiene and students safety. The results of this study showed improved results of student after the implementation of quantum learning model on the subjects of sanitation, hygiene and safety. It can be seen from the results in the first cycle, the average score is 70. 95% in the category of "good enough", then after the cycle II, the average student learning outcomes become 84. 29% in the category "good". This result showing an increasing in a student learning outcomes from the first cycle to the second cycle with the increasing of 13. This result to showing an increasing the classical completeness 71% in the first cycle to 100% in the second cycle. These results suggest that application of the model quantum learning in this study improve the student learning outcomes. The results of this study are expected to be used as an alternative learning models that can be used in Food Service Learning Program to improve student learning outcomes. Keywords : Learning outcomes of sanitation, hygiene and safety. Action research model of quantum learning Volume 8. Nomor 1. Juni 2024 ISSN2580-3344 PENDAHULUAN Keprofesionalan guru menurut UndangUndang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 pasal 20 tentang guru dan dosen adalah merencanakan pembelajaran, proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran. Kinerja guru yang baik tentunya tergambar pada penampilan mereka baik dari penampilan kemampuan akademik maupun kemampuan profesi menjadi guru, artinya mampu mengelola pengajaran di dalam kelas dan mendidik siswa di luar kelas dengan sebaik-baiknya. Pengelolaan pengajaran di dalam kelas dapat dilihat dari cara guru mengemas menyenangkan sesuai dengan karakteristik Pembelajaran yang dikemas secara memberikan peluang besar bagi optimalnya aktivitas siswa. Optimalnya aktivitas siswa dapat ditandai dengan terselesainya tugas-tugas yang diberikan guru. Berkaitan dengan upaya mengoptimalkan aktivitas siswa. PP Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan menyatakan bahwa pengembangan mutu pembelajaran di sekolah mencakup perlunya model kegiatan pembelajaran yang mengacu pada keterlibatan peserta didik secara aktif, demokratis, mendidik, memotivasi, mendorong kreativitas, dan dialogis. Selain itu, kegiatan pembelajaran juga perlu didasari oleh kenyataan bahwa belajar lebih dari sekadar Siswa harus mampu memecahkan masalah dan menemukan . sesuatu untuk dirinya sendiri (Chatib, 2. Siswa akan mampu memecahkan masalahnya dan menemukan sesuatu untuk dirinya sendiri dengan bantuan dan bimbingan guru. Menurut Suparlan . 6 dalam Chatib, 2. , peran guru dalam pembelajaran berbasis konstruktivisme mencakup berbagai aspek, yaitu sebagai pendidik, pengajar, fasilitator, pembimbing, pelayan, perancang, pengelola, inovator dan penilai. Berkaitan dengan hal tersebut. Tasker . dalam Chatib . , mengemukakan tiga penekanan dalam teori belajar konstruktivisme sebagai berikut. Pertama, mengkonstruksi pengetahuan secara bermakna. Kedua, pentingnya membuat kaitan antara gagasan dalam pengkonstruksian secara Ketiga, mengaitkan antara gagasan dengan informasi baru yang diterima. Berdasarkan mengoptimalkan aktivitas siswa dan potensi siswa tersebut, maka dalam pembelajaran pentingnya keterlibatan siswa secara aktif dalam proses pengaitan sejumlah gagasan dan pengkonstruksian ilmu pengetahuan melalui Tujuan dalam kegiatan pembelajaran, agar siswa mencapai pola pikir dan kebebasan berpikir seperti berargumentasi, menemukan, dan memprediksi pemahaman, baik yang berkaitan dengan konsep materi yang diberikan oleh guru maupun dari sumber yang lain supaya dapat mengoptimalkan hasil belajar Realita pembelajaran sanitasi, hygiene dan keselamatan kerja siswa kelas X Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Bali Dewata Denpasar berdasarkan pada hasil observasi menunjukkan hasil belajar siswa belum minimum (KKM). Hal ini dapat dilihat dari 41 jumlah siswa yang ada di kelas tersebut baru 28 orang yang mendapatkan nilai di atas KKM (KKM =. , sisanya masih mendapatkan nilai dibawah nilai KKM. kalo dipersentasekan sebanyak 31,71% masih mendapatkan nilai dibawah KKM. Hal ini disebabkan dalam proses pembelajaran guru masih mendominasi proses pembelajaran. Pembelajaran yang didominasi oleh guru . eacher centere. akan berpengaruh terhadap daya serap siswa terhadap bahan pengajaran yang diajarkan belum mencapai prestasi tinggi, baik secara individual maupun Pelaksanaan pembelajaran di kelas X Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Bali Dewata Denpasar pada mata pelajaran sanitasi, hygiene dan keselamatan kerja dilaksanakan lebih terpusat pada guru. Siswa tidak diberikan kebebasan untuk mengekspresikan pendapat yang berbeda sehingga dapat mematikan kreatifitas siswa. Dalam proses pembelajaran siswa cepat merasa bosan dan belum menunjukkan perilaku yang digariskan dalam tujuan pembelajaran baik secara individu maupun kelompok. Indikasi tersebut mengisyaratkan bahwa pembelajaran tersebut kurang tepat diterapkan dalam suatu pembelajaran, termasuk pada mata pelajaran sanitasi, hygiene dan keselamatan Upaya pembelajaran tersebut, maka dibutuhkan model Volume 8. Nomor 1. Juni 2024 ISSN2580-3344 pembelajaran yang menciptakan suasana yang menyenangkan dan keterbukaan dari guru. Hal ini bertujuan untuk memberikan kesempatan mengekspresikan gagasan dan pikirannya agar menjadi manusia yang berkualitas sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Salah satu sumbangan terbesar dalam menciptakan suasana yang menyenangkan dan keterbukaan dari guru yaitu model quantum learning. Quantum learning adalah salah satu model pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai subjek pembelajaran . tudent oriente. Dalam hal ini pembelajaran lebih terpusat pada Siswa tidak hanya sebagai penerima informasi, tetapi siswa berperan aktif dalam Quantum memberikan kesadaran bagi para pembelajar khususnya siswa tentang pentingnya belajar. Tumbuhnya kesadaran siswa tersebut salah satunya dikarenakan adanya apa manfaat bagiku (AMBAK). AMBAK adalah motivasi yang didapat dari pemilihan secara mental antara manfaat dan akibat-akibat suatu keputusan (Deporter, 2. Hal ini menjelaskan bahwa dalam setiap diri siswa akan tertanam kekuatan berupa dorongan untuk melakukan sesuatu karena dalam pembelajaran menjanjikan adanya manfaat bagi dirinya atau dapat dikatakan munculnya kekuatan AMBAK. Selain itu, desain suasana pembelajaran yang demokratis, saling membelajarkan dan menyenangkan pun memberikan peluang lebih besar dalam memberdayakan potensi siswa secara optimal sehingga pembelajaran yang kurang menarik dapat diatasi. Berdasarkan paparan tersebut, peneliti terinspirasi untuk mengadakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang berjudul AuPeningkatan Hasil Belajar Sanitasi. Hygiene dan Keselamatan Kerja Siswa Menggunakan Model Quantum Learning di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Bali Dewata DenpasarAy. Tujuan penelitian ini adalah untuk menginvestigasi bagaimana peningkatan hasil belajar sanitasi, hygiene dan keselamatan kerja pembelajaran quantum learning. METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini ialah penelitian tindakan kelas yang dilakukan pada suatu kelas tertentu dengan tujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran sanitasi, hygiene, dan keselamatan kerja menggunakan model quantum learning di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Bali Dewata Denpasar. Model PTK yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah desain PTK menurut Arikunto didasarkan atas konsep pokok bahwa penelitian tindakan terdiri dari empat komponen pokok yaitu: . perencanaan atau planning, . tindakan atau acting, . pengamatan atau observasi, . refleksi atau reflecting (Trianto. Tindakan yang dilakukan adalah penerapan model quantum learning. Model PTK yang digunakan dalam penelitian ini adalah model teori model PTK yang dikemukakan oleh Kemmis dan Taggrat (Agung, 2. Berikut ini akan dijelaskan tahapan penelitian tindakan kelas dalam dua Siklus I . Perencanaan Perencanaan adalah proses menentukan program perbaikan yang berangkat dari suatu ide gagasan peneliti. Pada tahap perencanaan, peneliti melakukan observasi/ pengamatan untuk mengumpulkan informasi mengenai apa, mengapa, kapan, dimana, oleh siapa dan Selanjutnya peneliti melakukan refleksi tentang hasil observasi yang telah didapatkan sehingga memunculkan program atau perencanaan. Permasalah pelaksanaan pembelajaran yang diperoleh melalui refleksi awal di kelas yang menjadi objek penelitian, ditetapkan alternatif tindakan dalam kelas berupa penerapan model pembelajaran quantum learning, khususnya pada pembelajaran sanitasi, hygiene dan keselamatan kerja. Tindakan ini nantinya akan diharapak mampu meningkatkan hasil belajar siswa Kelas X Jurusan Jasa Boga Sekolah Menengah Kejuruan Bali Dewata. Perencanaan tindakan meliputi kegiatan sebagai Menyusun pembelajaran sesuai standar kompetensi, komptensi dasar dan indikator yang telah Menentukan metode, media yang akan digunakan dalam proses pembelajaran. Menyiapkan instrument penelitian berupa tes hasil belajar serta rubrik penilaian selama proses pembelajaran berlangsung. Pelaksanaan Tindakan Volume 8. Nomor 1. Juni 2024 ISSN2580-3344 Tahap pelaksanaan merupakan implementasi atau penerapan isi rancangan. Pada tahap pelaksanaan, peneliti melaksanakan tindakan atau perlakuan sesuai dengan perencanaan yang telah disusun oleh peneliti. Peneliti sebagai pelaksana tindakan harus mengacu pada program yang telah dipersiapkan dan . Observasi/evaluasi Observasi adalah pengamatan yang dilakukan untuk mengetahui efektifitas tindakan atau mengumpulkan informasi tentang berbagai kelemahan . tindakan yang telah dilakukan. Observasi dilakukan secara kolaboratif antara pihak I . Pada observasi/pengamatan, pencatatan secara teratur terhadap objek yang Data yang diamati adalah pencapaian hasil belajar siswa. Kegiatan evaluasi yang dilakukan pada tahap kegiatan ini adalah dengan memberikan tes hasil belajar sesuai dengan materi yang dibahas dalam pertemuan pada siklus I. Refleksi Refleksi adalah kegiatan analisis tentang hasil observasi hingga memunculkan program atau perencanaan baru. Pada tahap refleksi, peneliti menganalisa hasil pengamatan yang diperoleh untuk menentukan langkah- Kriteria Hasil Belajar Ketuntasan klasikal langkah perbaikan pada siklus berikutnya apabila ditemukan kelemahan maupun temuantemuan lain yang menyebabkan kesulitan pada siklus yang Siklus II Tahapan dalam siklus II pada prinsipnya sama dengan tahapan dalam siklus yang meliputi tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap observasi/evaluasi, dan Tindakan pada siklus II akan mengalami beberapa perubahan, didasarkan atas analisis perubahan dan analisis refleksi pada siklus I. Perubahan yang dilakukan pada siklus II ini dilakukan dengan harapan agar terjadi peningkatan hasil belajar Siklus akan dilanjutkan jika hasil belajar dan ketuntasan klasikal siswa belum sesuai dengan indikator keberhasilan penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian tindakan pada Siklus I dilakukan selama empat kali pertemuan, yaitu tiga kali pertemuan untuk pelaksanaan tindakan dan satu kali pertemuan terakhir untuk pelaksanaan pemberian tes hasil belajar. Pengukuran hasil belajar siswa pada pertemuan keempat dengan menggunakan tes essay sebanyak lima butir soal pada materi keselamatan kerja. Hasil penelitian pada siklus I dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Data Hasil Siklus I Data/Hasil Keterangan Persentase rerata nilai Setelah siswa pada nilai absolut skala 70,95% lima, hasil belajar siswa berada pada kriteria cukup Persentase ketuntasan Seteleh dikonversi dengan klasikal sebesar 29,27 % menunjukkan keberhasilan penelitian pada siklus I Pelaksanaan tindakan siklus I pada proses pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran quantum learning sudah berjalan cukup baik. Dalam pelaksanaan tindakan siklus I, masih ditemukan beberapa kelemahankelemahan sehingga belum tercapai indikator kinerja dalam penelitian ini baik hasil belajar dan kriteria ketuntasan klasikal. Hal ini perlu dicari cara penyelesaiannya sehingga dalam pelaksanaan siklus II mendapatkan hasil yang Kelemahan-kelemahan ditemukan pada pelaksanaan siklus I sebagai Pada pertemuan awal, siswa masih terlihat bingung dan belum mampu beradaptasi dengan model pembelajaran quantum learning Volume 8. Nomor 1. Juni 2024 ISSN2580-3344 yang diterapkan. Beberapa siswa masih terlihat diam dan perlu dituntun dalam pengerjaan tugas yang diberikan, serta terdapat pula beberapa siswa yang tidak serius mengikuti kegiatan pembelajaran serta sering membuat keributan pada saat diskusi kelompok berlangsung. Kebanyakan di dalam mengerjakan LKS secara individu siswa belum terbiasa menyelesaikan soal tersebut dengan waktu yang diberikan secara optimal. Waktu yang diberikan oleh guru sudah selesai siswa belum mampu mengerjakan tugas secara keseluruhan. Pemahaman siswa akan materi yang pembelajaran yang selama ini dilakukan lebih didominasi oleh guru . eacher centere. mengikuti model pembelajaran ini. Kemampuan menyimpulkan materi masih sangat kurang sehingga mengakibatkan rendahnya hasil belajar siswa pada siklus I yang hanya mencapai 70,95%. Beberapa hal yang telah dicapai atau dirasa baik selama pelaksanaan pembelajaran siklus I, diantaranya . siswa sudah mulai aktif dalam dan menjawab permasalahanpermasalahan yang diberikan meskipun jawaban yang diberikan masih banyak terdapat kekeliruan, . siswa sudah mau melakukan diskusi dalam proses kerja kelompok, . siswa cukup antusias dalam memberikan tanggapan terhadap pendapat kelompok lain dan menjawab pertanyaan anggota kelompok lain, . siswwa kelihatan senang dan gembira dalam proses pembelajaran. Hasil refleksi kelemahan-kelemahan yang ditemukan pada pelaksanaan tindakan siklus I kemudian dijadikan pedoman perbaikan Kriteria Hasil Belajar Ketuntasan Klasikal tindakan pembelajaran pada siklus II sehingga diperoleh hasil yang lebih baik. Dalam upaya perbaikan kelemahan-kelemahan tersebut, dilakukan diskusi dengan guru pengajar untuk mencari solusi penyelesaiannya secara bersama. Berdasarkan hasil diskusi, disepakati solusi kelemahan-kelemahan ditemukan pada pelaksanaan tindakan siklus I dilakukan perbaikan sebagai berikut. Meningkatkan pengawasan kepada kelompok ataupun siswa yang sering membuat keributan di dalam kelas. Memberikan dorongan kepada siswa yang sudah memahami masalah yang diberikan untuk dapat memberikan bimbingan kepada teman anggota kelompoknya. Untuk siswa yang enggan bertanya, guru mendekati siswa tersebut agar mau mengungkapkan masalah yang Hal ini melatih keberanian siswa untuk bertanya, menyampaikan pendapat, ataupun memberikan tanggapan terhadap pendapat yang disampaikan oleh siswa lain. Selain itu, kepada siswa yang mau memberikan pendapat maupun mengajukan pertanyaan dalam kegiatan diskusi atau presentasi diberikan nilai atau poin. Memfasilitasi siswa yakni memberikan bimbingan kepada siswa dengan cara memberikan petunjuk, informasi, maupun pertanyaan-pertanyaan pancingan agar dapat mengarahkan pendapat siswa pada jawaban yang benar. Hasil Penelitian Sikslu II Pada siklus II proses pembelajaran berlangsung selama empat kali pertemuan yang terdiri dari tiga kali pertemuan untuk pelaksanaan tindakan dan satu kali pertemuan untuk pemberian tes hasil belajar pada materi kesehatan kerja. Hasil penelitian pada siklus II dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Data hasil Siklus II Data/Hasil Keterangan Persentase rerata nilai hasil Setelah dikonversikan pada nilai siswa 84,29% absolut skala lima, hasil belajar siswa berada pada kriteria baik Persentase ketuntasan Setelah dikonversi dengan kriteria klasikal sebesar 100 % keberhasilan penelitian ketuntasan klasikal sudah memenuhi kriteria keberhasilan penelitian Selama pelaksanaan tindakan siklus II pada proses pembelajaran ditemui beberapa temuan baik dan beberapa permasalahan secara Berikut beberapa temuan yang baik dan beberapa permasalahan selama pelaksanaan siklus II. Siswa sudah mulai terbiasa dalam mengikuti proses pembelajaran dengan Volume 8. Nomor 1. Juni 2024 ISSN2580-3344 menggunakan model quantum learning, sehingga siswa lebih mudah memahami materi. Dalam proses pembelajaran motivasi siswa mengalami peningkatan yang sangat baik, dari aktifnya siswa bertanya, menjawab, bekerjasama, serta siswa mulai aktif permasalahan yang diberikan. Pelaksanaan kerja kelompok berjalan lebih baik dengan pengawasan dari peneliti dan Selama pelaksanaan pembelajaran, walaupun telah terjadi peningkatan keatifan siswa dalam belajar siswa, namun masih ada satu atau dua siswa yang masih malu-malu dan kurang percaya diri dalam menyampaikan Upaya yang dilakukan untuk mengatasi hal ini, selain dengan pembelajaran yang baik, perlu dilakukan pendekatan secara individual dari pihak lain, baik dari teman maupun guru. Berdasarkan penjelasan di atas, pelaksanaan siklus II melalui pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran quantum sudah berjalan dengan optimal, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa dari pelaksanaan siklus I. Kemudian peningkatan-peningkatan tersebut sudah mencapai indikator kinerja yang ditentukan dalam penelitian ini. Dengan hasil belajar siswa berada pada kategori baik, dari keseluruhan siswa pada akhir siklus II. Maka pelaksanaan penelitian ini dapat dikatakan berhasil meningkatkan hasil belajar siswa, sehingga penelitian ini dapat dihentikan pada siklus II. Rekapitulasi data hasil belajar siswa kelas X Jasa Boga Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Bali Dewata pada siklus I dan siklus II dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Rekapitulasi Data Hasil Belajar dan Ketuntasan Klasikal. Siklus I dan Siklus II Data Persentase rerata hasil belajar Ketuntasan Klasikal Siklus I 70,95% 29,27% Siklus II 84,29% Berdasarkan Tabel 3, dapat digambarkan histogram seperti pada Gambar 1 berikut ini. Gambar 1 Grafik Rekapitulasi Data Motivasi. Hasil Belajar dan Ketuntasan Klasikal Siklus I dan Siklus II Siklus II. Ketuntasan Klasikal. Siklus II. Hasil Belajar. 84,29 Persentase Siklus I. Hasil Belajar. 70,95 Siklus I Siklus I. Ketuntasan Klasikal. 29,27 Siklus II Siklus I. SIMPULAN Simpulan dari penelitian ini adalah terjadi peningkatan hasil belajar siswa kelas X jurusan jasa boga Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Bali Dewata tahun ajaran 2015/2016 Siklus II. setelah diterapkannya model pembelajaran quantum learning pada mata pelajaran sanitasi, hygiene dan keselamatan kerja. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar siswa pada siklus I memperoleh rata-rata 70,95% berada pada Volume 8. Nomor 1. Juni 2024 ISSN2580-3344 kategori AucukupAy sedangkan pada siklus II ratarata hasil belajar siswa 84,29% berada pada kategori AubaikAy. Hal ini menunjukkan telah terjadi peningkatan hasil belajar siswa dari siklus I ke siklus II sebesar 13,34%. Serta terjadi peningkatan ketuntasan klasikal dari 31,71% pada siklus I menjadi 100% pada siklus II. Adapun saran yang dapat disampaikan dari hasil penelitian ini kepada: . siswa selama proses pembelajaran hendaknya siswa lebih aktif mampu dengan cepat menyesuaikan diri dalam mengikuti pembelajaran sehingga apapun model pembelajaran yang digunakan meningkatkan hasil belajar dan mencapai kriteria ketuntasan minimal yang ditentukan sekolah, . bagi guru jasa boga, saat melaksanakan proses pembelajaran di kelas, pembelajaran quantum learning sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa, . hasil penelitian ini dapat menjadi informasi berharga bagi kepala sekolah untuk mengambil suatu kebijakan yang paling tepat dalam kaitan dengan upaya meningkatkan kemampuan siswa, kualitas pembelajaran, serta kualitas guru, . kepada pembaca yang berminat untuk mengadakan penelitian lebih lanjut terhadap model pembelajaran kuantum (Quantum disarankan agar pembelajaran ini pada jenjang kelas yang Selain itu pembelajaran ini juga dapat dikolaborasikan bersama dengan model atau strategi pembelajaran yang lain. DAFTAR RUJUKAN Agung. Gede, 2014. Metodologi Penelitian Pendidikan. Aditya Media. Malang. Agung. Gede, 2015. Statistik Dasar Untuk Pendidikan. Deepublish. Yogyakarta. Anonim. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan UndangUndang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Jakarta: Trasmedia Pustaka. Ariningsih. Yuli, 2011. Peningkatan Hasil Belajar IPS Melalui Model Quantum Learning di Kelas IV SD N Mangunan 1 Kabupaten Blitar. Skripsi. Universitas Negeri Malang. Malang. Aunurrahman. Belajar Pembelajaran. Alfabeta. Jakarta. Chatib. Munif, 2011. Gurunya Manusia Menjadikan Semua Anak Istimewa Dan Semua Anak Juara. Kaifa. Bandung. DePorter. Bobbi, dkk. , 2000, Quantum Teaching: Mempraktikan Quantum Learning di RuangRuang Kelas. Edisi Ketiga. Ary Nilandari. Kaifa. Bandung. ), 2007. Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Edisi Ketiga. Alwiyah Abdurrahman. Kaifa. Bandung. ), 2015. Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman Dan Menyenangkan. Edisi Ketiga. Ary Nilandari. Kaifa. Bandung. Muhclisin. Fuat, 2012. Pengaruh Metode Pembelajaran Quantum Learning dengan Pendekatan Peta Pikiran (Mind Mappin. Prestasi Siswa pada Mata Pelajaran Teknologi Motor Diesel di SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta. Skripsi. Pendidikan Teknik Otomotif . Universitas Negeri Yogyakarta. Yogyakarta. Rejeki. Sri, 2015. Sanitasi. Hygiene dan Kesehatan Keselamatan Kerja. Rekayasa Sains. Bandung. Sanjaya. Wina, 2008. Kurikulum dan Pembelajaran. Kencana. Jakarta. Simanjuntak. Lisnawaty, 2013. Sanitasi. Hygiene dan Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Kemendikbud. Jakarta. Volume 8. Nomor 1. Juni 2024 ISSN2580-3344 Slameto, 2010. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Rineka Cipta. Jakarta. Trianto, 2011. Panduan Lengkap Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Researc. Teori dan Praktik. Prestasi Pustakaraya. Jakarta. Pengestika. Anita, 2011. Peningkatan Motivasi dan Prestasi Belajar Bumi dan Alam Semesta Pembelajaran Quantum Siswa Kelas VI SD Negeri 02 Pliken. Skripsi. Universitas Muhammadiyah. Purwokerto.