DARMA CENDEKIA e-ISSN 2963-167X Vol. No. Desember 2025, hlm. http://w. com/index. php/darmacendekia/index DOI: https://doi. org/10. 60012/dc. JURNALISME NARATIF SEBAGAI PENGUATAN LITERASI DIGITAL BERBASIS SASTRA DI YAYASAN ELNAMA INDONESIA CIPUTAT Tio Zulfan Amri1. Muhammad Fahmi Rizkian2. Jayakandi3 Universitas Indraprasta PGRI 1,2,3 amri@gmail. com 1, fahmiunindra22@gmail. com 2, jayakandi87. jk@gmail. Kata Kunci: Jurnalisme. Sastra. Literasi. Digital. Naratif. Abstrak: Perkembangan teknologi digital menuntut generasi muda memiliki kemampuan literasi yang tidak hanya bersifat fungsional, tetapi juga kritis dan kreatif. Namun, pemahaman mahasiswa terhadap literasi digital yang kritis dan kreatif masih tergolong rendah. Hal ini disebabkan oleh minimnya pelatihan menulis yang berbasis pada realitas sosial dan pengalaman langsung, khususnya melalui metode jurnalisme naratif. Selain itu, pendekatan sastra dan jurnalisme belum terintegrasi secara optimal dalam program literasi, serta terbatasnya media ekspresi yang mampu memfasilitasi mahasiswa untuk menyuarakan realitas lokal secara naratif dan reflektif sebagai bagian dari peran mereka sebagai agen perubahan. Program pengabdian masyarakat ini hadir sebagai upaya menjembatani kemampuan anggota komunitas dengan realitas sosial di Melalui pelatihan menulis jurnalisme naratif, peserta tidak hanya dilatih keterampilan teknis menulis, tetapi juga diajak untuk mengamati fenomena sosial secara kritis, mengekspresikan pengalaman secara reflektif, dan membangun kesadaran sebagai bagian dari komunitas literasi digital yang kontekstual dan berdaya. Pendekatan jurnalisme sastra dipilih karena mampu memadukan fakta jurnalistik dengan gaya penulisan sastra. Kegiatan ini dilaksanakan melalui lokakarya di Yayasan Elnama Indonesia. Tangerang Selatan, dengan harapan dapat meningkatkan kesadaran literasi, kemampuan menulis, dan sensitivitas sosial mahasiswa. Keyword: Journalism. Literature. Literacy. Digital. Narrative. Abstract: The development of digital technology requires young people to possess literacy skills that are not only functional but also critical and creative. However, studentsAo understanding of critical and creative digital literacy remains relatively low. This condition is caused by the lack of writing training based on social realities and direct experiences, particularly through narrative journalism methods. In addition, literary and journalistic approaches have not been optimally integrated into literacy programs, and there is a limited availability of expressive media that enable students to voice local realities in a narrative and reflective manner as part of their role as agents of change. This community service program is designed to bridge the gap between the capacities of community members and the social realities around them. Through narrative journalism writing training, participants are not only equipped with technical writing skills but are also encouraged to critically observe social phenomena. Darma Cendekia is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Darma Cendekia Vol. 4 No. 2 Desember 2025 hlm. Tio Zulfan Amri. Muhammad Fahmi Rizkian. Jayakandi Jurnalisme Naratif sebagai Penguatan Literasi Digital Berbasis Sastra express experiences reflectively, and develop awareness as part of a contextual and empowered digital literacy community. The literary journalism approach is chosen because it effectively combines journalistic facts with a literary style of writing. This activity is implemented through a workshop at Yayasan Elnama Indonesia. South Tangerang, with the expectation of enhancing studentsAo literacy awareness, writing abilities, and social Diserahkan: Direvisi: Diterima: PENDAHULUAN Di tengah berkembangnya era digital, tantangan literasi semakin kompleks. Masyarakat, khususnya generasi muda, tidak hanya dituntut untuk bisa membaca dan menulis, tetapi juga untuk memahami informasi secara kritis dan menyampaikannya secara kreatif. Sayangnya, banyak mahasiswa dan generasi muda masih terjebak dalam pola konsumsi informasi pasif dan cenderung instan, tanpa keterampilan untuk mengolah, menyaring, dan menarasikan informasi dengan baik. Perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat telah membawa masyarakat ke era digital yang sarat akan informasi dan komunikasi instan. Dalam konteks ini, kemampuan literasi digital menjadi suatu kebutuhan mendasar yang harus dimiliki setiap Literasi digital tidak sekadar kemampuan menggunakan perangkat teknologi, tetapi juga mencakup kemampuan berpikir kritis, menyaring informasi yang benar, serta mengekspresikan gagasan secara bertanggung jawab (Jenkins, 2004 dalam Srikandi, dkk. Bahkan di masa sekarang ini, literasi media merupakan prasyarat penting untuk membangun partisipasi masyarakat sebagai warga negara. Maka untuk membangun struktur demokrasi yang sehat yang memungkinkan setiap masyarakat mendapatkan informasi melalui media secara benar memerlukan kemampuan literasi. Pesatnya perkembangan teknologi media dan fakta bahwa media memiliki tempat dalam hampir setiap aspek kehidupan manusia membuat kompetensi literasi media sangatlah dibutuhkan (Asari, dkk. , 2. Padahal, pendekatan literasi yang menggabungkan kecakapan teknis dan kedalaman makna akan jauh lebih efektif dalam membangun kesadaran literasi yang utuh (Susanto. Salah satu pendekatan literasi yang sangat relevan untuk era digital adalah jurnalisme naratif atau jurnalisme sastra, yang menggabungkan fakta jurnalistik dengan kepekaan sastra. Jurnalisme naratif adalah suatu pendekatan dalam penulisan jurnalistik yang menggabungkan teknik dan gaya penceritaan sastra dengan fakta-fakta jurnalistik. Pendekatan ini bertujuan menyampaikan informasi secara faktual namun dengan cara yang lebih menarik, emosional, dan mendalam, sehingga pembaca tidak hanya mendapatkan data, tetapi juga mengalami dan memahami konteks sosial secara lebih Kovach & Rosenstiel . , jurnalisme naratif memungkinkan wartawan untuk menggunakan struktur penceritaan yang kuat seperti dalam sastra untuk menghidupkan fakta dan memberikan kedalaman pada laporan berita. Teknik ini meliputi penggunaan tokoh, latar, alur cerita, dan sudut pandang yang memperkaya pemahaman pembaca terhadap suatu peristiwa. Darma Cendekia is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Darma Cendekia Vol. 4 No. 2 Desember 2025 hlm. Tio Zulfan Amri. Muhammad Fahmi Rizkian. Jayakandi Jurnalisme Naratif sebagai Penguatan Literasi Digital Berbasis Sastra Sementara itu. Djuanda . , jurnalisme naratif tidak hanya menyampaikan berita, tetapi juga mengangkat sisi kemanusiaan dan nilai-nilai emosional melalui narasi yang puitis dan reflektif, sehingga menjadi alat yang efektif untuk membangun empati dan kesadaran sosial. Jurnalisme naratif adalah teknik penulisan jurnalistik yang menggabungkan keakuratan fakta dengan gaya bercerita ala sastra, sehingga menghasilkan karya yang informatif sekaligus menarik dan mampu menghadirkan kedalaman makna. Pendekatan ini bertujuan menyampaikan berita bukan hanya secara informatif, tetapi juga secara naratif yang memikat emosi pembaca dan memberikan konteks sosial yang lebih kaya. Dengan demikian, jurnalisme naratif tidak hanya fokus pada apa yang terjadi, tetapi juga bagaimana cerita itu disampaikan dengan cara yang menggugah. Teknik ini memungkinkan penulis menyampaikan realitas sosial dengan kedalaman emosi dan refleksi yang kuat, sehingga literasi digital tidak hanya menjadi proses konsumsi dan distribusi informasi, tetapi juga praktik kreatif dan reflektif yang memperkaya wacana sosial. Media digital menjadikan jurnalisme mengalami transformasi baik pada tataran konten, cara kerja wartawan, struktur ruang redaksi dan industri berita (Pavlik, 2001 dalam Marhamah & Fauzi, 2. Teater eL NaAoma dibentuk pada tanggal 20 Juni 2000 di Ciputat Tangerang Selatan oleh Achmad AuEchoAy Chotib dan Laila eL Na'ma. Merupakan sebuah teater independen, yang dibangun di atas wilayah kreatifitas yang bebas dan terbuka sebagai wadah untuk menyapa orang lain dan juga silaturahmi bagi siapa saja dan kapan saja. Dengan sebuah visi memiliki karya dan kontribusi di bidang seni budaya terutama teater dengan prinsip kesadaran untuk mengenal diri dan mengenal Tuhan. Berbagai proses kreatif ditempuh secara intens untuk mengembangkan potensi SDM sehingga mampu mengenal diri, mengenal Tuhan dan berkiprah dalam mengembangkan seni budaya khususnya teater di Indonesia ini. Pada tahun 2018 Teater eL Na'ma berkembang menjadi Yayasan El Na'ma Indonesia yang di dalamnya menaungi Teater eL Na'ma dan Labo eL Aktor. Dengan anggota yang terdiri dari pelajar, mahasiswa dan umum. Sampai saat ini jumlah anggota aktif kurang lebih 30 orang Intensitas adalah sebuah kata dan keyakinan yang kami pegang dalam berkreativitas dan dalam kurun waktu 25 tahun ini teater el Na'ma sudah memproduksi kurang lebih 40 karya pertunjukan teater, 7 karya musikalisasi puisi, 2 film independen, dan menerbitkan 1 buku bekerja sama dengan Hambali Swadaya Putra dengan judul 5 Naskah Lakon AuGue Ama TuhanAy Karya Achmad AuEchoAy Chotib. Di Yayasan Elnama Indonesia. Tangerang Selatan yang menaungi mahasiswa dan masyarakat dari berbagai latar belakang, terdapat potensi besar untuk penguatan kapasitas literasi berbasis komunitas, terutama melalui pendekatan naratif dan sastra. Namun, belum banyak inisiatif yang secara khusus mengintegrasikan literasi digital dengan teknik jurnalisme sastra, padahal pendekatan ini sangat relevan dan mampu mengasah keterampilan berpikir kritis serta empati sosial. Yayasan Elnama Indonesia, yang berlokasi di Tangerang Selatan, merupakan lembaga yang aktif mendorong pengembangan literasi pemuda dengan latar sosial budaya yang beragam. Melalui pelatihan jurnalisme naratif, diharapkan mahasiswa tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga produsen narasi yang kritis, peka sosial, dan humanis (Djuanda, 2. Darma Cendekia is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Darma Cendekia Vol. 4 No. 2 Desember 2025 hlm. Tio Zulfan Amri. Muhammad Fahmi Rizkian. Jayakandi Jurnalisme Naratif sebagai Penguatan Literasi Digital Berbasis Sastra METODE Metode yang digunakan dalam pengabdian masyarakat ini adalah metode observasi lapangan, metode ini digunakan untuk mengasah kepekaan peserta terhadap realitas Riset kontekstual bertujuan memperkaya latar cerita dengan fakta Sejarah, sosial, budaya, dan kebijakan politik. Sehingga, peserta mampu menulis karya sastra secara faktual dan orisinal. Terkait metode penulisan menggunakan penulisan naratif menggunakan prinsip jurnalisme untuk melatih peserta mengolah fakta menjadi cerita yang mengalir dan utuh. Dengan penggunaan metode ini diharapkan pengabdian masyarakat ini dapat berjalan dengan efektif dan efisien. Pengabdian masyarakat ini akan diselenggarakan pada anggota Yayasan El Nama Indonesia Ciputat Tangerang Selatan. Cara pemilihan mitra berdasarkan hasil observasi pada Anggota Yayasan El Nama Indonesia. Ciputat. Tangerang Selatan yang mempunyai kompetensi dan kreatifitas tetapi belum mempunyai ruang serta wadah dalam mengapresiasikan kegiatan sastra, khususnya dalam melestarikan karya sastra yang berhubungan dengan kearifan lokal dan keragaman budaya sehingga sangat tepat untuk dilaksanakan Pengabdian kepada Masyarakat. Berikut ini adalah alur metode pelaksanaan kegiatan: Observasi Perencanaan Pelaksanaan Program Evaluasi Diagram 1 Tahapan Kegiatan HASIL Peserta dalam pengabdian kepada masyarakat dengan mitra yaitu Yayasan Elnama Indonesia. Ciputat. Tangerang Selatan yakni 25 orang. Hasil pertemuan dengan pihak Yayasan, yaitu ketua, sekretaris, bendahara, dan anggota ditemukan adanya Permasalahan yang didapat berupa metode penulisan dan literasi digital. Anggota Yayasan melalui jurnalisme naratif, peserta berhasil menuliskan kisah personal, sosial, dan budaya lokal Ciputat dalam format digital, seperti artikel, esai naratif, hingga website. Penerapan ini menunjukkan bahwa sastra dapat berfungsi sebagai media penyimpan pengalaman kolektif (Damono, 2. Aktivitas naratif dalam jurnalisme mendorong peserta untuk lebih reflektif, analitis, dan kritis terhadap isu-isu sosial di Menurut Cresswell . , narasi mampu membangun Aukesadaran sosial dan kepekaan terhadap konteksAy yang memperkuat daya kritis masyarakat literat. Yayasan El Nama Indonesia berhasil menciptakan ruang literasi yang kolaboratif antara guru, siswa, dan pegiat literasi. Hal ini mencerminkan konsep community of practice (Wenger, 2. , di mana praktik literasi berkembang melalui interaksi dan pengalaman bersama. Para anggota mampu memanfaatkan media digital tidak sekedar ruang konsumsi, melainkan juga produksi konten sastra berbasis sastra. Secara keseluruhan, penerapan jurnalisme naratif di Yayasan El Nama Indonesia berhasil menunjukkan bahwa literasi digital berbasis sastra bukan hanya meningkatkan keterampilan teknis peserta, tetapi juga memperkuat dimensi sosial, budaya, dan kritis Dengan demikian, literasi tidak hanya berfungsi sebagai sarana akademik, tetapi juga sebagai media pemberdayaan masyarakat di era digital. Darma Cendekia is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Darma Cendekia Vol. 4 No. 2 Desember 2025 hlm. Tio Zulfan Amri. Muhammad Fahmi Rizkian. Jayakandi Jurnalisme Naratif sebagai Penguatan Literasi Digital Berbasis Sastra Abdimas ini memperkuat minat baca dan apresiasi terhadap karya sastra, terutama karena sastra dijadikan medium utama dalam pembelajaran literasi digital. Peserta terdorong untuk menulis ulang pengalaman sosial mereka dalam bentuk naratif sastra yang dipublikasikan di platform digital yayasan. Hal ini sejalan dengan temuan Abidin . bahwa pendekatan berbasis sastra dapat menguatkan kompetensi literasi kritis dan kreativitas dalam era digital. Kegiatan ini memberikan dampak sosial berupa meningkatnya partisipasi mahasiswa dan masyarakat sekitar dalam kegiatan literasi, serta memperkuat nilai-nilai kebersamaan dan pemberdayaan. Literasi digital yang dipadukan dengan jurnalisme naratif menciptakan ruang dialog yang sehat, sekaligus memperkuat identitas kultural anggota yayasan sebagai komunitas yang literat dan terbuka terhadap inovasi digital. Gambar 1 Pelatihan Jurnalisme Naratif Gambar 1 Pelatihan Jurnalisme Naratif PEMBAHASAN Pelaksanaan pengabdian masyarakat di Yayasan EL Nama Indonesia. Ciputat. Tangerang Selatan, berfokus pada penguatan literasi digital berbasis sastra dengan menerapkan pendekatan jurnalisme naratif. Program ini muncul sebagai jawaban atas tantangan Darma Cendekia is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Darma Cendekia Vol. 4 No. 2 Desember 2025 hlm. Tio Zulfan Amri. Muhammad Fahmi Rizkian. Jayakandi Jurnalisme Naratif sebagai Penguatan Literasi Digital Berbasis Sastra masyarakat menghadapi arus informasi digital yang semakin kompleks, sekaligus sebagai upaya meningkatkan kemampuan literasi kritis dan kreatif melalui media sastra. Penguatan Literasi Digital sebagai Kompetensi Abad 21 Literasi digital saat ini dipandang sebagai kompetensi dasar yang harus dimiliki Literasi tidak lagi terbatas pada kemampuan membaca dan menulis teks cetak, tetapi juga mencakup kemampuan mengakses, memahami, mengevaluasi, dan memproduksi informasi di ruang digital. Menurut UNESCO . , literasi digital merupakan keterampilan esensial yang berhubungan erat dengan partisipasi aktif dalam kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi. Dalam konteks pengabdian ini, literasi digital difokuskan pada pemanfaatan sastra sebagai medium utama, sehingga memberikan pengalaman literasi yang lebih humanis dan mendalam. Jurnalisme Naratif sebagai Metode Penerapan jurnalisme naratif dipilih karena memiliki potensi dalam membangun empati dan kedekatan emosional antara penulis dan pembaca. Jurnalisme naratif menggabungkan keakuratan data jurnalistik dengan gaya penceritaan sastra, sehingga pesan yang disampaikan lebih menarik, persuasif, dan mudah diingat. Rosenblatt . menegaskan bahwa narasi dalam jurnalistik tidak hanya menyajikan fakta, tetapi juga membangun pengalaman emosional yang memperkuat daya serap informasi. Dalam kegiatan ini, peserta dilatih menulis kisah-kisah pengalaman sosial dan aktivitas dalam bentuk naratif. Hasil karya kemudian dipublikasikan pada platform digital yayasan, sehingga menjadi sarana pembelajaran sekaligus dokumentasi yang berdaya guna. Sastra sebagai Medium Literasi Digital Sastra diposisikan sebagai media utama dalam program ini karena memiliki kekuatan dalam membentuk kepekaan sosial, imajinasi, dan kreativitas. Abidin . menyebutkan bahwa sastra berperan penting dalam membangun literasi kritis di era digital, karena karya sastra mampu merefleksikan realitas sekaligus membuka ruang Dengan pendekatan ini, peserta tidak hanya belajar menulis, tetapi juga menginternalisasi nilai-nilai kemanusiaan yang terkandung dalam sastra. Pemberdayaan Masyarakat melalui Media Digital Publikasi karya peserta di media digital yayasan tidak hanya meningkatkan kepercayaan diri, tetapi juga memperkuat posisi yayasan sebagai pusat literasi berbasis masyarakat. Aktivitas ini membuka ruang partisipasi aktif, khususnya bagi anak-anak dan remaja di Ciputat, untuk menyalurkan gagasan, pengalaman, dan aspirasi melalui bentuk naratif. Sejalan dengan pendapat Pangrazio . , literasi digital yang bersifat partisipatif mampu memperkuat identitas dan peran masyarakat dalam ruang publik digital. Dampak dan Tantangan Dampak dari kegiatan ini terlihat pada peningkatan kemampuan menulis, kreativitas peserta, serta keterampilan memanfaatkan teknologi digital. Namun, masih terdapat tantangan berupa keterbatasan sarana teknologi bagi sebagian peserta, serta perlunya pendampingan lanjutan agar literasi digital benar-benar menjadi kebiasaan. Oleh karena itu, keberlanjutan program dengan dukungan relawan, lembaga pendidikan, dan mitra strategis sangat dibutuhkan. Darma Cendekia is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Darma Cendekia Vol. 4 No. 2 Desember 2025 hlm. Tio Zulfan Amri. Muhammad Fahmi Rizkian. Jayakandi Jurnalisme Naratif sebagai Penguatan Literasi Digital Berbasis Sastra SIMPULAN Pengabdian kepada Masyarakat membangun literasi digital berbasis sastra melalui penerapan jurnalisme naratif di Yayasan El Nama Indonesia. Ciputat. Tangerang Selatan, berhasil memberikan dampak positif bagi pengembangan kemampuan literasi peserta. Pertama, literasi digital peserta tidak hanya berkembang pada aspek teknis penggunaan media, tetapi juga meluas pada kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan reflektif dalam mengelola informasi. Kedua, penerapan jurnalisme naratif mendorong penguatan ekspresi kreatif dan identitas lokal, di mana peserta mampu menarasikan pengalaman sosial dan budaya Ciputat dalam ruang digital. Ketiga, terbentuknya komunitas literasi digital menunjukkan bahwa literasi dapat tumbuh melalui kolaborasi, partisipasi, dan praktik kolektif yang berkelanjutan. Dengan demikian, literasi digital berbasis sastra tidak hanya dipandang sebagai keterampilan akademik, tetapi juga sebagai instrumen pemberdayaan sosial, budaya, dan spiritual masyarakat di era digital. Program ini memperlihatkan bahwa penggabungan sastra dengan media digital mampu menghadirkan ruang ekspresi yang lebih inklusif, partisipatif, serta relevan dengan kebutuhan generasi muda. UCAPAN TERIMA KASIH