Jurnal Kebidanan. Vol. XVi. No. Juni 2026 11-20 ISSN : 2085-6512 (Prin. ISSN : 2301-7023 (Onlin. Jurnal Kebidanan XVi . 11-20 Jurnal Kebidanan http : //w. INOVASI PROGRAM PEMBERDAYAAN KELUARGA MELALUI PELATIHAN KEPERAWATAN MANDIRI UNTUK PENANGANAN LUKA DIARESIS DI RUMAH Sarwoko. Titik Anggraeni. , . STIKES Estu Utomo E-mail: sarwoko@stikeseub. titikanggraeni@stikeseub. ABSTRAK Latar Belakang: Luka diaresis memerlukan penanganan tepat untuk mencegah komplikasi seperti Keterbatasan waktu rawat inap menuntut kemandirian keluarga dalam perawatan luka di Di wilayah Puskesmas Gladagsari II Boyolali, studi pendahuluan menunjukkan 34,0% keluarga memiliki pengetahuan kurang dan 40,7% tidak terampil dalam perawatan luka secara Tujuan: Mengetahui pengaruh inovasi program pemberdayaan keluarga melalui pelatihan keperawatan mandiri terhadap pengetahuan, sikap, dan keterampilan keluarga dalam penanganan luka diaresis di rumah. Metode penelitian: Penelitian kuantitatif dengan desain pra-eksperimental . ne group pretest-posttes. Sampel berjumlah 103 responden keluarga pasien di wilayah kerja Puskesmas Gladagsari II yang diambil melalui teknik simple random sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner dan lembar observasi. Analisis data menggunakan uji Paired Sample t-test. Hasil penelitian: Sebelum intervensi, sebagian besar responden memiliki pengetahuan cukup . ,8%), sikap negatif . ,3%), dan tidak terampil . ,7%). Sesudah pelatihan, mayoritas responden memiliki pengetahuan baik . ,9%), sikap positif . ,6%), dan kategori terampil . ,7%). Hasil uji statistik menunjukkan nilai p-value < 0,05 pada seluruh variabel . engetahuan, sikap, dan keterampila. , yang berarti terdapat pengaruh yang signifikan. Kesimpulan: Pelatihan keperawatan mandiri berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan keluarga dalam penanganan luka diaresis di wilayah kerja Puskesmas Gladagsari II. Saran: Program pemberdayaan keluarga perlu diterapkan secara rutin sebagai upaya meningkatkan kemandirian masyarakat dalam perawatan kesehatan di rumah. Kata Kunci: Pemberdayaan Keluarga. Pelatihan Keperawatan Mandiri. Luka Diaresis FAMILY EMPOWERMENT PROGRAM INNOVATION THROUGH INDEPENDENT NURSING TRAINING FOR HOME DIURESIS WOUND CARE ABSTRACT Background: Diuresis wounds require proper management to prevent complications such as Limited inpatient duration necessitates family independence in home wound care. In the Gladagsari II Public Health Center area. Boyolali, preliminary studies showed that 34. 0% of families had poor knowledge and 40. 7% were unskilled in aseptic wound care. Objective: To determine the effect of a family empowerment program innovation through independent nursing training on the knowledge, attitudes, and skills of families in handling diuresis wounds at home. Method: This was a quantitative study with a pre-experimental design . ne group pretest-posttes. The sample consisted of 103 respondents from patient families in the Gladagsari II Public Health Center working area, selected using simple random sampling. Research instruments included questionnaires and observation sheets. Data analysis was performed using the Paired Sample ttest. Results: Before the intervention, most respondents had moderate knowledge . 8%), negative attitudes . 3%), and were unskilled . 7%). After training, the majority of respondents had good knowledge . 9%), positive attitudes . 6%), and were categorized as skilled . 7%). Statistical tests showed a p-value < 0. 05 across all variables . nowledge, attitudes, and skill. , indicating a significant influence. Conclusion: Independent nursing training significantly improves family capability in handling diuresis wounds at the Gladagsari II Public Health Center. Suggestion: Family empowerment programs should be implemented routinely to increase community independence in home healthcare. Keywords: Family Empowerment. Independent Nursing Training. Diuresis Wound Submit : 19/05/2026 Review : 12/06/2026 Accepted: 24/06/2026 Publish : 29/06/2026 Jurnal Kebidanan. Vol. XVi. No. Juni 2026 11-20 ISSN : 2085-6512 (Prin. ISSN : 2301-7023 (Onlin. PENDAHULUAN Luka diaresis merupakan luka Di Indonesia, angka kejadian luka sayatan akibat tindakan pembedahan atau pasca tindakan medis juga cukup tinggi, terutama pada pasien dengan riwayat penanganan lanjutan secara tepat agar proses penyembuhan berjalan optimal. Provinsi Jawa Tengah menempati urutan Luka ini dapat menimbulkan komplikasi cukup tinggi dalam jumlah penderita diabetes, yang secara tidak langsung . erbukanya jahita. , atau penyembuhan yang lambat apabila tidak dirawat dengan diaresis yang memerlukan penanganan Dalam Kabupaten Boyolali, penanganan luka pasca tindakan medis khususnya di wilayah kerja Puskesmas Gladagsari II, hasil studi pendahuluan pada 103 keluarga pasien menunjukkan Namun, keterbatasan waktu rawat 34,0% di rumah sakit membuat sebagian besar perawatan luka diaresis dan 40,7% tidak perawatan luka harus dilanjutkan di terampil dalam melakukan perawatan rumah, sehingga peran keluarga menjadi luka secara aseptik. Kondisi tersebut sangat penting (Sinaga et al, 2. Secara global, kasus luka akibat prosedur kemampuan keluarga dalam mendukung medis dan komplikasi penyakit kronis proses penyembuhan luka di rumah serta terus meningkat seiring bertambahnya angka penderita diabetes melitus. Lebih dari 500 juta orang di dunia hidup dengan diabetes, dan sekitar seperlima di Banyak pasien mengalami keterlambatan antaranya mengalami luka pasca tindakan membutuhkan perawatan berkelanjutan perawatan luka yang benar, seperti di rumah. Kondisi ini menimbulkan mengganti balutan, menjaga kebersihan, beban besar bagi sistem kesehatan karena banyak pasien yang belum memiliki (Riskesdas, 2. tanda-tanda Tingginya prevalensi luka pasca perawatan luka yang aman (Ayu et al. tindakan medis menunjukkan pentingnya inovasi dalam upaya peningkatan kualitas Jurnal Kebidanan. Vol. XVi. No. Juni 2026 11-20 ISSN : 2085-6512 (Prin. ISSN : 2301-7023 (Onlin. perawatan di rumah melalui pendekatan diri dan persepsi bahwa perawatan luka yang lebih partisipatif (Purwati et al. hanya boleh dilakukan oleh tenaga Pemberdayaan keluarga . amily Selain itu, data keterampilan empowermen. menjadi langkah strategis menunjukkan 40,7% responden masuk dalam mendukung keberhasilan proses menerapkan teknik perawatan luka yang Melalui pengetahuan dan keterampilan, keluarga benar dan aseptik. diharapkan mampu melakukan perawatan Berdasarkan luka secara mandiri, aman, dan sesuai penelitian ini bertujuan untuk menilai prosedur (Rapii. , & Wahdatussopia, pemberdayaan keluarga melalui pelatihan Pelatihan pemberdayaan keluarga dalam konteks melakukan penanganan luka diaresis di keperawatan komunitas. Kegiatan ini rumah di wilayah kerja Puskesmas memberikan pengetahuan praktis tentang Gladagsari teknik perawatan luka, penggunaan alat Pemecahan masalah dalam penelitian ini dan bahan yang aman, serta pencegahan dilakukan melalui pemberian edukasi infeksi di rumah (Sujati. Rustiati, kesehatan terstruktur yang mencakup . Supangat. , & Akbar, 2. materi teori dan praktik langsung guna Puskesmas Gladagsari Kabupaten Boyolali memiliki potensi besar dalam II. Kabupaten Boyolali. dalam proses penyembuhan pasien. penerapan program ini sebagai fasilitas kesehatan tingkat pertama yang membina masyarakat (Wadagni et al, 2. METODE Penelitian Hasil studi pendahuluan pada 103 penelitian kuantitatif dengan pendekatan responden di wilayah kerja Puskesmas Gladagsari sebelum pelatihan, tingkat pengetahuan keluarga melalui pelatihan keperawatan keluarga tentang perawatan luka diaresis mandiri terhadap kemampuan keluarga mayoritas berada pada kategori cukup dalam penanganan luka diaresis di . ,8%) dan kurang . ,0%). Dari aspek Penelitian dilaksanakan pada bulan September 2025 sampai dengan 55,3% Juni 2026 yang berlokasi di wilayah kerja mencerminkan kurangnya rasa percaya Puskesmas Gladagsari II. Kabupaten Jurnal Kebidanan. Vol. XVi. No. Juni 2026 11-20 ISSN : 2085-6512 (Prin. ISSN : 2301-7023 (Onlin. Boyolali. Populasi dalam penelitian ini langsung . eturn demonstratio. oleh adalah keluarga pasien yang memiliki peserta dengan pendampingan fasilitator. Materi pelatihan mencakup pengenalan mendapatkan perawatan di wilayah kerja luka diaresis, pencegahan infeksi, teknik Puskesmas mengganti balutan, menjaga kebersihan Gladagsari Kabupaten Boyolali. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 103 Kriteria tanda-tanda Instrumen penelitian menggunakan penelitian ini meliputi anggota keluarga Kuesioner digunakan untuk yang menjadi pendamping utama pasien mengukur tingkat pengetahuan dan sikap dengan luka diaresis, berusia Ou18 tahun, responden, sedangkan lembar observasi mampu membaca dan menulis, bersedia digunakan untuk menilai keterampilan perawatan luka. Instrumen pengetahuan menandatangani informed consent, serta terdiri atas 10 soal pilihan ganda, mengikuti seluruh rangkaian kegiatan instrumen sikap menggunakan skala penelitian dari pre-test hingga post-test. Likert. Adapun keluarga yang tidak hadir secara penuh Kategori pengukuran pengetahuan dibagi menjadi kurang (<. , cukup . Ae. , dan baik penelitian berlangsung. Ae. Sebelum digunakan, instrumen Intervensi yang diberikan berupa penelitian telah melalui uji validitas isi inovasi program pemberdayaan keluarga . ontent validit. oleh ahli keperawatan melalui pelatihan keperawatan mandiri dalam penanganan luka diaresis di Cronbach's Pelatihan dilaksanakan selama satu hari dengan durasi sekitar 120 menit pertanyaan dinyatakan valid dan reliabel sehingga layak digunakan sebagai alat memiliki kompetensi dalam perawatan Alpha. Hasil ukur dalam penelitian. Metode yang digunakan meliputi Data yang digunakan berupa data ceramah untuk menyampaikan konsep primer yang diperoleh langsung dari dasar luka dan prinsip perawatan luka, responden melalui pengisian kuesioner demonstrasi mengenai teknik perawatan luka yang benar dan aseptik, serta praktik keterampilan pada saat pre-test dan post- Jurnal Kebidanan. Vol. XVi. No. Juni 2026 11-20 ISSN : 2085-6512 (Prin. ISSN : 2301-7023 (Onlin. Teknik pengumpulan data dilakukan Berdasarkan Tabel 1, sebagian melalui pemberian informed consent, besar responden berada pada rentang usia 41-50 tahun . ,1%), berjenis intervensi pelatihan, dan diakhiri dengan kelamin perempuan . ,1%), memiliki hubungan sebagai anak pasien . ,7%). Analisis data dilakukan secara dan berpendidikan terakhir SMA/SMK . ,9%). pre-test, post-test distribusi karakteristik responden serta Distribusi frekuensi pengetahuan, keterampilan keluarga. Analisis bivariat sebelum . re-tes. pemberian pelatihan menggunakan uji Paired Sample t-test keperawatan mandiri adalah sebagai untuk mengetahui perbedaan rerata nilai pengetahuan, sikap, dan keterampilan Tabel Distribusi Frekuensi Pengetahuan. Sikap, dan Keterampilan Keluarga Sebelum Pelatihan Keperawatan Mandiri sebelum dan sesudah intervensi pelatihan keperawatan mandiri. HASIL DAN PEMBAHASAN Distribusi Distribusi karakteristik Variabel Kategori Pengeta Baik Cukup responden disajikan dalam tabel berikut: Sikap Tabel 1. Karakteristik Responden di Wilayah Kerja Puskesmas Gladagsari II Kabupaten Boyolali Keteram Karakteri Umur Jenis Kelamin Hubung Pasien Kategori >50 Laki-laki Perempuan Istri/Suami Anak Orang tua Saudara Pendidik SD SMP Terakhi SMA/SM Perguruan Tinggi Sumber: Data Primer, 2026 Kurang Positif Negatif Terampil Cukup Terampil Tidak Terampil Frekue nsi . Persenta se (%) Frekue nsi . Persent ase (%) keperawatan mandiri adalah sebagai Sumber: Data Primer, 2026 Berdasarkan Tabel 2, sebelum responden memiliki pengetahuan cukup . ,8%), memiliki sikap negatif . ,3%), dan berada pada kategori tidak terampil . ,7%) dalam perawatan luka diaresis. Distribusi frekuensi pengetahuan, sesudah . ost-tes. pemberian pelatihan Jurnal Kebidanan. Vol. XVi. No. Juni 2026 11-20 ISSN : 2085-6512 (Prin. ISSN : 2301-7023 (Onlin. Tabel Distribusi Frekuensi Pengetahuan. Sikap, dan Keterampilan Keluarga Sesudah Pelatihan Keperawatan Mandiri Variabel Pengetahu Sikap Keterampi Katego Baik Cukup Kurang Positif Negatif Terampi Cukup Frekue nsi . Persenta se (%) Terampil Tidak Terampi Berdasarkan Tabel 3, setelah responden memiliki pengetahuan baik . ,9%), memiliki sikap positif . ,6%), dan telah menjadi terampil . ,7%) dalam melakukan perawatan luka diaresis secara mandiri. Untuk pelatihan keperawatan mandiri terhadap pengetahuan, sikap, dan keterampilan keluarga dilakukan uji Paired Sample ttest dengan hasil sebagai berikut: Sumber: Data Primer, 2026 Tabel 4. Pengaruh Pelatihan Keperawatan Mandiri Terhadap Pengetahuan. Sikap, dan Keterampilan Keluarga Variabel Mean Pretest Mean Posttest Selisih Mean t hitung p-value Pengetahuan 5,84 8,62 2,78 -18,432 0,001 Sikap 31,45 38,92 7,47 -16,105 0,002 Keterampilan 24,17 39,86 15,69 -21,678 0,001 Sumber: Data Primer, 2026 Berdasarkan Tabel 4, nilai p- Perawatan Luka Diaresis Sebelum value pada semua variabel . Pemberian sikap, dan keterampila. lebih kecil dari Mandiri 0,05. Hal Pelatihan Keperawatan Berdasarkan hasil penelitian yang terdapat perbedaan rerata yang bermakna dilakukan di wilayah kerja Puskesmas antara nilai pre-test dan post-test. Dengan Gladagsari II tahun 2026, diketahui bahwa sebelum intervensi, mayoritas keluarga memiliki tingkat pengetahuan berpengaruh secara signifikan terhadap pada kategori cukup . ,8%) dan kurang peningkatan pengetahuan, sikap, dan . ,0%). Dari aspek sikap, sebanyak keterampilan keluarga dalam penanganan 55,3% responden menunjukkan sikap luka diaresis di rumah. negatif terhadap perawatan luka secara PEMBAHASAN Sementara keterampilan, sebagian besar responden Pengetahuan. Sikap, . ,7%) berada pada kategori tidak Keterampilan Keluarga Tentang terampil dan 37,9% pada kategori cukup Jurnal Kebidanan. Vol. XVi. No. Juni 2026 11-20 ISSN : 2085-6512 (Prin. ISSN : 2301-7023 (Onlin. Hal ini menunjukkan bahwa keluarga mengalami peningkatan yang memahami prinsip aseptik, langkah- Pada variabel pengetahuan, langkah perawatan luka yang benar, serta sebanyak 68,9% responden mencapai memiliki keraguan dan rasa kurang kategori baik. Pada variabel sikap, terjadi percaya diri untuk melakukan perawatan 81,6% di rumah. Demikian Rendahnya keluarga di Puskesmas Gladagsari II . ,7%) telah masuk dalam kategori informasi mengenai cara mengganti terampil melakukan praktik perawatan balutan, menjaga kebersihan luka, dan luka sesuai prosedur. mengenali tanda-tanda infeksi. Kondisi Peningkatan ini sejalan dengan penelitian Sinaga et al, bahwa pelatihan keperawatan mandiri . yang disertai dengan praktik langsung keterbatasan waktu rawat di rumah sakit pemahaman dan kemandirian keluarga. pembekalan edukasi yang cukup bagi Hal ini sejalan dengan Sujati et al. keluarga sebagai pendamping utama di . yang menyatakan bahwa edukasi yang mencakup teknik perawatan luka Kurangnya berpotensi menyebabkan keterlambatan penyembuhan dan meningkatkan risiko memperkuat hubungan antara tenaga komplikasi seperti infeksi atau dehisensi Oleh karena itu, inovasi program meningkatkan efektivitas pemulihan di Keluarga yang berdaya kini pelatihan keperawatan mandiri menjadi langkah strategis untuk meningkatkan mengambil keputusan dan melakukan kemandirian dan kompetensi keluarga. tindakan dasar seperti membersihkan Pengetahuan. Sikap, luka dengan cairan NaCl fisiologis dan Keterampilan Keluarga Tentang menggunakan balutan steril secara benar. Perawatan Luka Diaresis Sesudah Keberhasilan ini juga didukung Pemberian Pelatihan Keperawatan Mandiri mayoritas berada pada usia produktif Hasil SMA/SMK. Jurnal Kebidanan. Vol. XVi. No. Juni 2026 11-20 ISSN : 2085-6512 (Prin. ISSN : 2301-7023 (Onlin. Kondisi responden lebih mudah menyerap materi proses yang menumbuhkan tanggung pelatihan dan memiliki motivasi tinggi jawab keluarga sebagai subjek utama untuk terlibat aktif dalam merawat dalam upaya promotif dan preventif. Peningkatan Sebagaimana dijelaskan oleh Wadagni et keterampilan yang diperoleh tidak hanya al, . , pelatihan yang terarah dan berkesinambungan bagi keluarga dapat pemulihan yang lebih cepat, tetapi juga menekan angka infeksi dan mempercepat kesehatan berupa pengurangan beban tindakan medis. fasilitas pelayanan kesehatan primer dan Pengaruh Pelatihan Keperawatan Mandiri Terhadap Pengetahuan, efisiensi biaya perawatan. Secara Sikap, dan Keterampilan Keluarga di pelatihan ini berhasil mengubah persepsi Puskesmas Gladagsari II Kabupaten keluarga yang awalnya ragu menjadi Boyolali lebih siap secara psikologis dan teknis. Hasil Keberhasilan program ini di wilayah menggunakan uji Paired Sample t-test menunjukkan nilai signifikansi . -valu. untuk pengetahuan sebesar 0,001, sikap sebesar 0,002, dan keterampilan sebesar <0,0001. Nilai yang lebih kecil dari 0,05 Dengan adanya dukungan dari ini menandakan adanya perbedaan rerata perawat komunitas sebagai educator dan yang bermakna antara skor sebelum dan sesudah intervensi. Dengan demikian, berfungsi sebagai sistem pendukung yang efektif dalam mencegah komplikasi keperawatan mandiri berpengaruh secara luka dan meningkatkan kualitas hidup pasien di rumah. Puskesmas pengetahuan, sikap, dan keterampilan keluarga dalam penanganan luka diaresis PENUTUP di rumah. Kesimpulan Temuan ini memperkuat konsep Berdasarkan hasil penelitian yang . amily dilakukan di wilayah kerja Puskesmas empowermen. dalam bidang kesehatan. Gladagsari II, dapat disimpulkan bahwa Menurut kemampuan keluarga dalam penanganan Ayu Gladagsari . Jurnal Kebidanan. Vol. XVi. No. Juni 2026 11-20 ISSN : 2085-6512 (Prin. ISSN : 2301-7023 (Onlin. luka diaresis sebelum diberikan pelatihan kesehatan apabila ditemukan tanda-tanda keperawatan mandiri sebagian besar berada pada kategori pengetahuan cukup Bagi pihak Puskesmas dan tenaga . ,8%), sikap negatif . ,3%), dan tidak kesehatan, hasil penelitian ini dapat . ,7%). Setelah kesehatan secara rutin melalui model pelatihan keperawatan mandiri, terjadi pemberdayaan keluarga. Disarankan agar peningkatan yang signifikan di mana simulasi atau praktik langsung serta pengetahuan baik . ,9%), sikap positif menggunakan media pendukung yang . ,6%), dan tingkat keterampilan yang meningkat menjadi terampil . ,7%). keterampilan keluarga dalam perawatan Hasil uji statistik menunjukkan pvalue < 0,05 yang berarti Ha diterima. Bagi pelatihan keperawatan mandiri terbukti quasi-experiment pengetahuan, sikap, dan keterampilan melibatkan kelompok kontrol atau studi Inovasi program ini efektif longitudinal untuk mengamati efektivitas digunakan sebagai sarana edukasi untuk intervensi terhadap durasi penyembuhan luka secara klinis dalam jangka waktu dalam melakukan perawatan luka pasca yang lebih lama. tindakan medis secara aseptik dan aman DAFTAR PUSTAKA di rumah. Saran