Ni Komang Mariani E-ISSN: 2798-091X P-ISSN: 2685-7928 Vol. No. Desember 2023 PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING BERBASIS TRI HITA KARANA MUATAN ILMU PENGETAHUAN ALAM SOSIAL (IPAS) DI SDN 1 NONGAN Ni Komang Mariani Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Insitut Teknologi dan Pendidikan Markandeya Bali Bangli. Indonesia mangmariani22@gmail. Abstrak Penelitian ini untuk mengevaluasi dampak penerapan metode Discovery Learning pada hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) di SD Negeri 1 Nongan. Bali. Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Subjek penelitian adalah siswa kelas 5 SD Negeri 1 Nongan. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan Discovery Learning menciptakan pengalaman belajar interaktif dengan guru sebagai fasilitator membimbing siswa menyelesaikan Penerapan model ini berbasis Tri Hita Karana menciptakan hubungan harmonis antara manusia. Tuhan, sesama, dan alam. Discovery Learning meningkatkan hasil belajar secara signifikan, siswa aktif berpartisipasi dalam diskusi kelompok. Penerapan nilai-nilai Tri Hita Karana meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa, menciptakan kerjasama positif di dalam kelas. Kata kunci: Metode Pembelajaran. Discovery Learning. Tri Hita Karana Abstract This study is to evaluate the impact of the application of Discovery Learning methods on the learning outcomes of natural and Social Sciences (IPAS) in SD Negeri 1 Nongan. Bali. The research method used is Class Action Research (CAR) with qualitative descriptive approach. Subjects were students of Grade 5 SD Negeri 1 Nongan. Data collection was done through interviews, observations, and The results showed that Discovery Learning creates an interactive learning experience with teachers as facilitators guiding students to solve problems. The application of this model is based on Tri Hita because it creates a harmonious relationship between man. God, neighbor, and nature. Discovery Learning improves learning outcomes significantly, students actively participate in group The application of Tri Hita Karana values increases students ' interest and motivation to learn, creating positive cooperation in the classroom. Keywords: Learning method. Discovery Learning. Tri Hita Karana PENDAHULUAN Perubahan zaman saat ini dijadikan sebagai acuan dalam pengembangan pembelajaran menuju arah yang lebih positif. Pembelajaran merupakan suatu proses yang terjadi pada individu berkat usahanya sendiri, sehingga hasil dari interaksi tersebut dengan lingkungan menyebabkan individu tersebut memperoleh perubahan dalam pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman baru (Anjelina Putri et al. , 2. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, seringkali ditemui bahwa minat siswa terhadap materi pelajaran yang dipelajarinya sangat rendah, sehinga mengakibatkan rendahnya kompetensi pengetahuan siswa itu sendiri. Ketidakberanian siswa untuk mengeksplorasi atau bertanya tentang materi pembelajaran dapat berdampak negatif pada pemahaman mereka. Rendahnya kompetensi pengetahuan siswa tentu akan memberikan dampak yang signifikan pada hasil belajar mereka secara keseluruhan. Kompetensi di sini diartikan sebagai tindakan atau perilaku yang dapat diukur, yang Jurnal Pendidikan Dasar Rare Pustaka Ni Komang Mariani E-ISSN: 2798-091X P-ISSN: 2685-7928 Vol. No. Desember 2023 memerlukan kombinasi pengetahuan, keahlian, dan kemampuan yang diperlukan untuk melakukan suatu tugas atau aktivitas dengan baik (Dewi et al. , 2. Keberhasilan dalam mencapai tujuan pembelajaran dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk peran guru dalam proses pengajaran sehingga guru memiliki peran penting dalam mempengaruhi, membimbing, dan meningkatkan kecerdasan serta keterampilan peserta didik (Salmi, 2. Untuk meningkatkan mutu pendidikan dan pencapaian tujuan pendidikan secara optimal, pemilihan strategi pengajaran yang sesuai dengan materi pelajaran sangat penting. Guru perlu memilih model pembelajaran yang tepat sesuai dengan konsep mata pelajaran yang Salah satu cara yang efektif adalah melibatkan peserta didik secara aktif dalam proses pembelajaran, yang dapat membantu mereka dalam pemahaman konsep-konsep yang Ini juga membutuhkan upaya untuk mendorong minat dan motivasi belajar peserta didik, karena tanpa minat, motivasi untuk belajar bisa hilang (Yestiani & Zahwa, 2. Jadi dapat disimpulkan, guru memiliki peran penting dalam memberikan motivasi kepada peserta didik sehingga mereka dapat melewati kesulitan belajar dan mencapai hasil belajar yang lebih Salah satu cara yang dapat diambil adalah dengan merancang pembelajaran yang mengadopsi model pembelajaran yang lebih berpusat pada siswa, dengan tujuan untuk merangsang dan meningkatkan aktivitas serta partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran. Model pembelajaran pada dasarnya mencerminkan bentuk pembelajaran dari awal hingga akhir, yang secara khusus disajikan oleh guru (Mulyono & Wekke, 2. Salah satu bentuk metode pembelajaran yang dapat diterapkan dalam memberikan inovasi terhadap proses pendidikan adalah discovery learning. Model pembelajaran discovery learning menjadi salah satu bentuk metode belajar yang mendorong peserta didik untuk lebih aktif dalam proses pembelajaran, karena melibatkan sejumlah proses mental yang dilakukan dengan merangsang keterlibatan aktif siswa, serta memacu kemampuan kreatif dan kritis dalam berpikir (Hanafi. Belajar dengan pendekatan penemuan adalah suatu proses di mana siswa dihadapkan pada suatu masalah atau situasi yang tampaknya tidak familiar, sehingga siswa diharapkan dapat mencari solusi atau jalan pemecahan. Dalam menerapkan model pembelajaran penemuan . iscovery learnin. , peran guru menjadi sangat penting sebagai fasilitator bagi siswa dan memiliki kemampuan untuk membimbing siswa dalam menemukan pengetahuan atau mengatasi masalah yang diberikan. Proses ini melibatkan tahapan-tahapan, seperti menjelaskan tujuan atau mempersiapkan siswa, memberikan orientasi pada masalah, merumuskan hipotesis, melakukan kegiatan penemuan, mempresentasikan hasil penemuan, dan mengevaluasi keseluruhan proses penemuan tersebut (Wedekaningsih et al. , 2. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran discovery learning dapat berkontribusi pada peningkatan kompetensi pengetahuan siswa (Putri et al. , 2. Peserta didik diajak dan diberi kesempatan untuk mengeksplorasi pengetahuan secara mandiri, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan siswa lebih aktif dalam proses belajar. Selain itu, discovery learning juga mempertimbangkan bahwa belajar sejatinya adalah tentang belajar berkomunikasi, baik dalam bentuk lisan maupun tertulis (Prasetyo & Abduh, 2. Banyaknya aktivitas yang terlibat dalam implementasi materi pembelajaran IPA yang melibatkan lingkungan dan interaksi dengan teman sebaya sangat sesuai dengan konsep Tri Hita Karana. Tri Hita Karana berasal dari bahasa Sansekerta yang terdiri 3 kata yaitu Tri. Hita dan Karana. Tri berarti tiga, hita berarti kegembiraan, sejahtera sedangkan karana berarti penyebab sehingga tri hita karana berarti tiga buah unsur yang merupakan penyebab dari kebahagiaan (Sari & Wulandari, 2. Dalam konsep Tri Hita Karana mengajarkan untuk memiliki hubungan yang harmonis dengan Tuhan, sesama manusia, dan dengan alam lingkungannya (Parmajaya, 2. Dengan demikian, integrasi antara discovery learning berbasis Tri Hita Karana dalam konteks muatan IPAS menciptakan pendekatan pembelajaran Jurnal Pendidikan Dasar Rare Pustaka Ni Komang Mariani E-ISSN: 2798-091X P-ISSN: 2685-7928 Vol. No. Desember 2023 yang tidak hanya memperkuat pengetahuan ilmiah, tetapi juga mendukung pengembangan karakter, nilai moral, dan hubungan yang harmonis dengan alam sekitar. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan siswa dan guru kelas V SD Negeri 1 Nongan menunjukan bahwa paradigma berpikir siswa terhadap pembelajaran IPAS dianggap sulit, membosankan, dan bersifat hafalan. Kemudian pada hasil observasi dengan mengamati langsung pembelajaran di kelas, diperoleh data yaitu: . Kurangnya kepedulian siswa terhadap Hal ini terlihat dari kondisi lingkungan kelas yang kurang sehat, . dalam proses pembelajaran guru kurang mengaitkan fenomena-fenomena atau pengalaman siswa dengan materi pembelajaran, sehingga siswa sulit menerima materi dan pembelajaran menjadi kurang bermakna, dan . Guru belum menerapkan model pembelajaran inovatif, terutama yang berpusat pada siswa atau memberikan kesempatan siswa untuk membangun pengetahuan Akibatnya, semangat siswa dalam mengikuti pembelajaran menurun, dan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPAS, terlihat dari hasil ulangan akhir sekolah, menurun. Untuk mengatasi tantangan tersebut, solusi yang diusulkan adalah menerapkan model pembelajaran yang tepat. Pemilihan model pembelajaran yang sesuai dapat memberikan dampak positif, terutama jika model tersebut melibatkan siswa secara aktif. Salah satu model yang relevan untuk diterapkan adalah model pembelajaran discovery learning berbasis Tri Hita Karana. Melalui penerapan discovery learning, guru dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih interaktif dan mendalam kepada siswa. Dengan metode ini, siswa diajak untuk aktif dalam mengeksplorasi konsep-konsep IPAS dan memahaminya dengan lebih mendalam melalui pengamatan langsung dan eksperimen. Hal ini tidak hanya membantu siswa dalam memahami materi pelajaran, tetapi juga mendorong kreativitas, pemecahan masalah, dan pemikiran kritis. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal ke dalam proses pembelajaran, diharapkan tercipta pengalaman belajar yang lebih signifikan dan relevan bagi para siswa. Penelitian ini tidak hanya terbatas pada peningkatan pemahaman siswa terhadap materi IPAS, melainkan juga melibatkan perkembangan aspek kreativitas, kemampuan pemecahan masalah, dan kemampuan berpikir kritis para siswa. Oleh karena itu, implementasi model pembelajaran discovery learning berbasis Tri Hita Karana di SDN 1 Nongan diharapkan dapat memberikan dampak positif yang signifikan terhadap peningkatan mutu proses pembelajaran dan pengalaman belajar siswa. METODE Jenis penelitian yang dilaksanakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), sejalan dengan definisi Arikunto . yang menyatakan bahwa PTK adalah penelitian tindakan yang bertujuan untuk memperbaiki kualitas praktik pembelajaran di kelas. Perspektif ini juga ditegaskan oleh Wardhani . , yang menyebutkan bahwa PTK merupakan penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk meningkatkan kinerja sebagai guru dan hasil belajar peserta didik. Konsep PTK ini mencerminkan upaya guru untuk terus-menerus memperbaiki metode pengajaran dan interaksi di kelas guna mencapai peningkatan yang signifikan dalam hasil belajar siswa. Pendekatan yang diterapkan dalam penelitian ini ialah pendekatan kualitatif, yang fokus pada perbaikan dan peningkatan proses pembelajaran di suatu kelas. Pemilihan pendekatan kualitatif dilakukan karena prosedur penelitian ini menghasilkan data deskriptif dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan, serta perilaku yang diamati dari partisipan atau sumber informasi yang relevan (Rukin, 2. Dalam konteks ini, penggunaan pendekatan kualitatif mendukung pemahaman mendalam tentang proses pembelajaran. Subjek penelitian terdiri dari guru dan siswa yang terlibat dalam pembelajaran IPAS di kelas V SDN 1 Nongan. Instrumen penelitian mencakup wawancara dengan seorang guru dan siswa yang berjumlah. 9 orang, terdiri dari 6 orang siswa laki-laki dan 3 orang siswa Jurnal Pendidikan Dasar Rare Pustaka Ni Komang Mariani E-ISSN: 2798-091X P-ISSN: 2685-7928 Vol. No. Desember 2023 perempuan untuk memahami pandangan dan pengalaman mereka. Sesuai dengan jenisnya, data tersebut adalah data yang kualitatif yaitu data yang tidak bisa diukur atau dinilai dengan angka secara langsung. Pengumpulan data berupa dokumen terkait pembelajaran, seperti Modul Ajar dan catatan kelas, serta observasi langsung proses pembelajaran di kelas. Penelitian Tindakan Kelas memiliki 4 tahapan, tahap-tahap tersebut biasa disebut dengan siklus, dimana setiap siklusnya meliputi perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, evaluasi, dan refleksi. Kegiatan penelitian dilaksanakan berdasarkan perencanaan tindakan yang telah ditetapkan, yaitu melaksanakan pembelajaran sesuai rencana pembelajaran yang telah dibuat. Fokus tindakan adalah penerapan metode discovery learning berbasis Tri Hita Karana muatan IPAS. Pada tahap pelaksanaan tindakan ini, proses pembelajaran dilaksanakan dengan menjalankan skenario pembelajaran yang telah dirancang dan terdapat dalam Modul Ajar. Data penelitian ini berupa hasil pengamatan dari setiap tindakan penggunaan metode discovery learning berbasis Tri Hita Karana muatan IPAS pada siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri 1 Nongan. Data tersebut berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan dan hasil pembelajaran. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, pencatatan lapangan, wawancara dan hasil tes. Data yang diperoleh dalam penelitian dianalisis dengan menggunakan analisis kualitatif, yakni analisis data dimulai dengan menelaah pengumpulan data sampai seluruh data terkumpul Analisis data dalam penelitian ini terjadi sepanjang proses pengumpulan data dan setelahnya, dengan menggunakan metode analisis kualitatif sebagaimana dijelaskan oleh Miles & Huberman . Proses analisis ini terdiri dari tiga tahap utama. Tahap pertama adalah mereduksi data, yang melibatkan seleksi, fokus, dan penyederhanaan data yang telah dikumpulkan dari awal proses pengumpulan hingga tahap penyusunan laporan penelitian. Tahap kedua adalah penyajian data, di mana data yang telah direduksi diorganisir naratif untuk menghasilkan informasi yang dapat mendukung proses penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Tahap ketiga adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi, di mana hasil penafsiran dan evaluasi digunakan untuk menyimpulkan temuan dari penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Metode pembelajaran discovery learning ini memberikan pengalaman belajar dengan penemuan melibatkan siswa dalam menghadapi masalah atau situasi yang menantang untuk mencari solusi. Dalam model discovery learning, guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing siswa melalui langkah-langkah, seperti menetapkan tujuan, orientasi siswa pada masalah, merumuskan hipotesis, melakukan eksplorasi, mempresentasikan hasil temuan, dan mengevaluasi pembelajaran. Model discovery learning ini melibatkan enam tahapan, dimulai dari menjelaskan tujuan hingga melakukan evaluasi kegiatan penemuan. Tahap pertama guru mempersiapkan siswa dengan menyampaikan tujuan pembelajaran, memotivasi mereka, dan menekankan konsep hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan (Parahyanga. melalui kegiatan berdoa. Tahap kedua melibatkan siswa dalam merumuskan hipotesis terkait dengan masalah yang disajikan oleh guru. Pada tahap ketiga, konsep hubungan harmonis antara manusia dengan sesamanya (Pawonga. diimplementasikan melalui pembagian siswa ke dalam kelompok heterogen . eman sebay. Selanjutnya, tahap keempat memfokuskan pada kegiatan penemuan, baik secara individu maupun kelompok, untuk memperoleh informasi yang diperlukan. Kegiatan ini fokus pada konsep penciptaan hubungan yang selaras antara individu (Pawonga. serta hubungan yang seimbang antara manusia dengan lingkungannya (Palemaha. Konsep tersebut diaplikasikan dalam interaksi aktif, baik itu antara siswa dalam satu kelompok maupun Jurnal Pendidikan Dasar Rare Pustaka Ni Komang Mariani E-ISSN: 2798-091X P-ISSN: 2685-7928 Vol. No. Desember 2023 antara siswa dan guru, dengan tujuan memperoleh informasi (Pawonga. serta melibatkan lingkungan sekitar sebagai sumber pembelajaran (Palemaha. Tahap kelima melibatkan siswa dalam menyajikan hasil kegiatan penemuan mereka, menekankan konsep hubungan harmonis antara manusia dengan sesamanya (Pawonga. Tahap terakhir adalah evaluasi, di mana guru mengevaluasi langkah-langkah kegiatan yang telah dilakukan oleh siswa. Model discovery learning ini berhasil menciptakan suasana pembelajaran yang aktif, melatih siswa untuk mengungkapkan pendapat, menemukan permasalahan, dan menyajikan hasil temuan mereka (Laksmi et al. , 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model discovery learning berbasis Tri Hita Karana dalam muatan IPA di SD Negeri 1 Nongan memberikan dampak positif pada berbagai aspek pembelajaran. Hal ini sejalan dengan penelitian Arisanti . Pertama, model ini mampu menciptakan suasana pembelajaran yang lebih aktif, di mana peserta didik terlibat secara langsung dan dilatih untuk mengungkapkan pendapat mereka sendiri. Keterlibatan aktif ini dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran. Hal ini selaras dengan penlitian Azura . dan Candra . yang menyatakan bahwa model discovery learning mampu menciptakan suasana pembelajaran menjadi lebih aktif melatih peserta didik untuk mengungkapkan pendapatnya sendiri, mampu menemukan permasalahan sekaligus dengan penyelesaiannya Kedua, melalui model discovery learning, siswa tidak hanya mampu mengidentifikasi permasalahan tetapi juga dapat menemukan solusinya secara mandiri (Bahari et al. , 2. Hal ini sejalan dengan konsep kearifan lokal di Bali yang memiliki nilai-nilai luhur yang masih relevan, diintegrasikan dalam pembelajaran untuk mengaitkan pemahaman konsep dengan kearifan lokal. Ketiga, penerapan pembelajaran berbasis nilai kearifan lokal Tri Hita Karana meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa. Siswa menjadi lebih aktif dan kreatif dalam pembelajaran, terutama dengan melibatkan konsep-konsep kearifan lokal dalam kegiatan kelas. Hal ini dapat memperkuat hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan sekitar (Abbas et al. , 2022. Artini et al. , 2. Keempat, hasil positif ini mencakup pengembangan ranah belajar kognitif, afektif, dan psikomotor siswa (Gani et al. , 2. Terlihat adanya kerjasama antar kelompok siswa dalam memecahkan masalah yang diberikan oleh guru. Model discovery learning juga terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dan hasil belajar siswa. Hal ini selaras dengan penelitian Cintia . yang menyatakan bahwa Model pembelajaran discovery learning untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dan hasil belajar siswa. Hal ini dibuktikan dengan semakin aktifnya peserta didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas dan peningkatan kerjasama antar kelompok, yang berujung pada perolehan hasil belajar yang lebih baik dibandingkan sebelumnya. Hasil belajar kelompok yang mendapatkan pembelajaran dengan model Discovery Learning menunjukkan perbedaan yang signifikan jika dibandingkan dengan kelompok yang mendapatkan pembelajaran dengan model konvensional. Kelima, peningkatan partisipasi siswa pada pembelajaran IPA menggunakan model discovery learning berbasis Tri Hita Karana menunjukkan keberhasilan program ini. Hal ini dapat diinterpretasikan sebagai penguatan integrasi nilai-nilai spiritual ke dalam kurikulum dan proses pembelajaran, serta pencapaian guru dalam menerapkan strategi yang relevan bagi (Gani et al. , 2. Terakhir, hasil positif ini berpotensi memberikan dampak jangka panjang pada karakter siswa, menciptakan lingkungan belajar yang lebih holistik, dan memperkuat hubungan positif antara sekolah, siswa, dan komunitas. Adanya peningkatan dalam sikap empati dan kepedulian siswa menunjukkan efektivitas kebijakan sekolah dalam mendukung pembelajaran yang bermakna. Temuan penelitian ini konsisten dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan peningkatan signifikan hasil belajar IPA siswa setelah menerapkan model discovery learning. Jurnal Pendidikan Dasar Rare Pustaka Ni Komang Mariani E-ISSN: 2798-091X P-ISSN: 2685-7928 Vol. No. Desember 2023 Penerapan model ini dapat merangsang siswa kelas 5 SD Negeri 1 Nongan untuk aktif, kreatif, dan meningkatkan kerjasama antar siswa. Sebagai hasilnya, siswa tidak hanya memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap materi pembelajaran IPA, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Implikasi dari penelitian ini sangat berpotensi untuk meningkatkan kompetensi pengetahuan IPA siswa kelas 5 SD Negeri 1 Nongan. Dengan demikian, penerapan model discovery learning berbasis Tri Hita Karana di SD Negeri 1 Nongan diharapkan dapat memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan kualitas pembelajaran dan pengalaman belajar siswa. Terdapat peningkatan dalam partisipasi siswa terhadap pembelajaran IPAS yang menggunakan model discovery learning berbasis Tri Hita Karana, hal tersebut dapat mengindikasikan bahwa program ini dapat memperkuat integrasi nilai-nilai spiritual ke dalam kurikulum dan proses pembelajaran juga mencerminkan pencapaian guru dalam menerapkan strategi yang relevan untuk siswa. Hasil positif ini dapat memberikan dampak jangka panjang pada karakter siswa, menciptakan lingkungan belajar yang lebih holistik, dan memperkuat hubungan positif antara sekolah, siswa, dan komunitas. Adapun peningkatan dalam sikap empati dan kepedulian siswa menunjukkan efektivitas kebijakan sekolah yang mendukung perkembangan pembelajaran yang bermakna. Secara keseluruhan, hasil observasi yang positif memberikan gambaran positif tentang kemajuan sekolah dalam mencapai tujuan pengembangan holistik siswa, dengan fokus pada model pembelajaran discovery learning sesuai dengan prinsip-prinsip Tri Hita Karana dalam pembelajaran IPAS. Secara keseluruhan, hasil observasi yang positif mencerminkan kemajuan sekolah dalam mencapai tujuan pengembangan holistik siswa. Fokus pada model pembelajaran discovery learning sesuai dengan prinsip-prinsip Tri Hita Karana dalam pembelajaran IPA dapat menjadi landasan bagi perkembangan positif dalam konteks pendidikan di SD Negeri 1 Nongan. Dengan penelitian ini penerapan model pembelajaran discovery learning berbasis Tri Hita Karana pada muatan Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) di SD Negeri 1 Nongan menghasilkan dampak positif yang signifikan. Pertama, melalui pendekatan ini, guru dapat menciptakan situasi belajar yang merangsang rasa ingin tahu siswa. Dengan merancang pertanyaan atau situasi masalah yang menarik dan relevan dengan kehidupan sehari-hari, siswa didorong untuk aktif mencari jawaban dan mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam terhadap konsep-konsep IPAS. SIMPULAN Pelaksanaan pembelajaran melalui metode discovery learning menjadikan siswa terlibat dalam pengalaman belajar dengan penemuan, di mana mereka dihadapkan pada masalah atau situasi menantang untuk mencari solusi. Guru memainkan peran sebagai fasilitator yang membimbing siswa melalui berbagai langkah, seperti menetapkan tujuan, merumuskan masalah, dan memotivasi siswa untuk menjelajahi solusi. Pentingnya model discovery learning juga terkait dengan konsep Tri Hita Karana, yang mengajarkan keseimbangan dan harmoni dalam hubungan manusia dengan dimensi spiritual (Parahyanga. , sosial (Pawonga. , dan lingkungan (Palemaha. Dalam konteks ini, pembelajaran menjadi lebih holistik, menciptakan hubungan yang harmonis dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Penerepan model pembelajaran Discovery Learning berbasis Tri Hita Karana dalam muatan IPA di SD Negeri 1 Nongan memberikan dampak positif yang signifikan. Beberapa temuan utama meliputi peningkatan partisipasi aktif siswa dalam kegiatan pembelajaran, kemampuan siswa dalam mengidentifikasi dan menyelesaikan permasalahan, penguatan keterliatan siswa dalam kegiatan kelompok, dan peningkatan hasil belajar secara keseluruhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran ini mampu menciptakan suasana pembelajaran yang lebih dinamis dan melibatkan peserta didik secara aktif. Adanya Jurnal Pendidikan Dasar Rare Pustaka Ni Komang Mariani E-ISSN: 2798-091X P-ISSN: 2685-7928 Vol. No. Desember 2023 kerjasama antar kelompok juga memberikan kontribusi positif terhadap pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran. Selain itu, penerapan nilai-nilai kearifan lokal Tri Hita Karana memberikan konteks yang relevan dan mendalam, meningkatkan minat dan motivasi belajar Peningkatan hasil belajar yang signifikan antara kelompok yang menerapkan Discovery Learning dengan kelompok yang mengikuti pembelajaran konvensional menegaskan keefektifan model pembelajaran tersebut. Dengan demikian, model Discovery Learning berbasis Tri Hita Karana dapat dijadikan alternatif yang berpotensi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran IPA di SD Negeri 1 Nongan. Implikasinya, penerapan model ini dapat memberikan kontribusi positif terhadap pengembangan pendidikan yang holistik dan UCAPAN TERIMAKASIH