Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia (JPPI) p-ISSN: 2797-2879, e-ISSN: 2797-2860 Volume 5, nomor 4, 2025, hal. Doi: https://doi. org/10. 53299/jppi. Penerapan Bimbingan Kelompok Teknik Problem Based Learning terhadap Perencanaan Karier Siswa SMA Dewi Sekar Wangi Ningrum*. Denok Setiawati Universitas Negeri Surabaya. Surabaya. Indonesia *Coresponding Author: dewi22001@mhs. Dikirim: 04-12-2025. Direvisi: 09-12-2025. Diterima: 11-12-2025 Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas layanan bimbingan kelompok yang memanfaatkan teknik Problem Based Learning (PBL) dalam meningkatkan kemampuan perencanaan karier pada siswa kelas X di SMA Wachid Hasyim 5 Surabaya. Penelitian ini didasari oleh kenyataan bahwa sebagian siswa masih menghadapi kebingungan dalam menentukan pilihan karier, memiliki tingkat kepercayaan diri yang rendah, serta belum mampu menyusun tujuan pendidikan dan langkah pengembangan karier secara jelas dan Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan One Group PreTest Post-Test dan melibatkan sepuluh siswa yang dipilih berdasarkan kategori yang diperoleh dari kuesioner perencanaan karier. Instrumen penelitian yang dipakai adalah kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, sehingga dapat dianggap layak untuk digunakan dalam Data dianalisis menggunakan Paired Sample t-Test untuk mengevaluasi perbedaan hasil sebelum dan sesudah perlakuan. Hasilnya menunjukkan peningkatan skor rata-rata, dari 90,7 pada Pre-Test menjadi 105,5 pada Post-Test, dengan kenaikan sebesar 14,8 Nilai signifikansi sebesar 0,010 mengindikasikan bahwa perbedaan tersebut bermakna secara statistik. Seluruh peserta mengalami peningkatan, dengan variasi perubahan yang menunjukkan perkembangan dalam aspek kepercayaan diri, kemampuan menetapkan tujuan, serta kesiapan menghadapi peluang karier. Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa teknik Problem Based Learning terbukti efektif dalam layanan bimbingan kelompok untuk membantu siswa merancang perencanaan karier secara lebih terarah, sistematis, dan realistis. Kata Kunci: bimbingan kelompok. Problem Based Learning. perencanaan karier Abstract: This study aimed to examine the effectiveness of group guidance services using the Problem Based Learning (PBL) technique in enhancing career planning skills among tenthgrade students at SMA Wachid Hasyim 5 Surabaya. The study was motivated by the fact that some students still experience confusion in making career choices, possess low selfconfidence, and are unable to formulate educational goals and career development steps clearly and systematically. This research employed a quantitative approach with a One Group Pre-Test Post-Test design, involving ten students selected based on categories obtained from a career planning questionnaire. The research instrument used was a questionnaire that had undergone validity and reliability testing, making it suitable for measurement purposes. Data were analyzed using a Paired Sample t-Test to evaluate differences in results before and after the intervention. The findings indicated an increase in the average score from 90. 7 in the PreTest to 105. 5 in the Post-Test, with a gain of 14. 8 points. A significance value of 0. indicated that the difference was statistically meaningful. All participants showed improvement, with variations reflecting development in self-confidence, goal-setting abilities, and readiness to face career opportunities. Based on these results, it can be concluded that the Problem Based Learning technique is effective in group guidance services for helping students develop career plans in a more focused, systematic, and realistic manner. Keywords: group guidance. Problem Based Learning. career planning @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Ningrum & Setiawati. Penerapan Bimbingan Kelompok Teknik Problem Based LearningA PENDAHULUAN Perencanaan karir merupakan bagian penting dalam perkembangan individu karena membantu menentukan arah masa depan sesuai potensi, minat, dan tujuan Menurut Komara . dalam (Ayu et al. , 2. , perencanaan karier adalah proses bertahap yang membantu individu memahami diri dan mempersiapkan pilihan karir secara sadar. Sejalan dengan itu. Gysbers & Moore . dalam (Setiawati et , 2. menyatakan bahwa karir mencakup rangkaian pilihan individu dalam pendidikan, pekerjaan, keterampilan, hingga perilaku sosial yang membentuk gaya Simamora . dalam (Masturina, 2. menjelaskan bahwa perencanaan karir adalah proses mengenali tujuan karir serta menyusun langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapainya. Perencanaan karier menjadi semakin penting ketika dikaitkan dengan perkembangan remaja, karena pada masa ini individu masih berada dalam proses pencarian identitas dan pembentukan arah hidup. Masa remaja berlangsung mulai usia sekitar 11 hingga akhir usia belasan, di mana terjadi perubahan fisik, emosional, sosial, dan cara berpikir. Idealnya, pada fase ini remaja sudah mulai dapat memahami potensi yang dimilikinya dan menentukan pilihan karier yang selaras dengan minat serta Namun kenyataannya, banyak remaja masih bingung, ragu, atau mengambil keputusan hanya berdasarkan pengaruh teman tanpa pertimbangan Jika kondisi ini dibiarkan, risiko yang muncul seperti salah memilih jurusan pendidikan, berada pada pekerjaan yang tidak sesuai minat, kurang berkembang dalam karier, hingga merasa tidak bahagia dan stres di masa depan sangat mungkin terjadi (Ruhansih, 2. Menurut Irsu & Winingsih . Menurut Parsons, yang dikutip oleh Winkel dan Hastuti . , perencanaan karier merupakan suatu proses krusial yang membantu individu menyiapkan masa depan pendidikan dan pekerjaan sesuai dengan kemampuan dan potensi yang dimilikinya. Perencanaan karier mencakup peningkatan pengetahuan tentang diri, pemahaman dunia kerja, serta pengembangan keterampilan yang relevan. Parsons juga menekankan bahwa proses perencanaan karier perlu mencakup tiga komponen utama, yaitu pemahaman yang baik mengenai diri sendiri, pengetahuan yang memadai tentang dunia kerja, serta kemampuan untuk menghubungkan keduanya melalui pertimbangan yang realistis, sehingga individu dapat membuat keputusan karier secara matang dan terarah. John L. Holland menjelaskan bahwa minat kerja terbentuk melalui gabungan pengalaman hidup dan ciri-ciri kepribadian seseorang. Keduanya saling berinteraksi sehingga membentuk pola minat yang menjadi bagian dari kepribadian individu, yang selanjutnya tercermin dalam pilihan pekerjaan, bidang studi, hobi, serta berbagai aktivitas yang dijalani. Teori Holland membantu siswa merencanakan karier dengan menyesuaikan pilihan mereka dengan tipe kepribadian yang dimiliki (Uke & Izza, 2. Kondisi ini juga didukung oleh hasil wawancara dengan guru BK di SMA Wachid Hasyim 5 Surabaya, yang menyatakan bahwa masih terdapat siswa kelas X yang mengalami kebingungan dalam menentukan peminatan dan merumuskan rencana karier mereka. Beberapa siswa tampak tidak percaya diri ketika menyampaikan pendapat, mengikuti diskusi kelompok, atau menjelaskan rencana masa depan, sehingga menunjukkan bahwa mereka masih memerlukan dukungan dan pendampingan untuk mampu menetapkan pilihan karier dengan lebih jelas. @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Ningrum & Setiawati. Penerapan Bimbingan Kelompok Teknik Problem Based LearningA Untuk membantu siswa dalam proses ini, konselor sekolah memiliki peran Bimbingan dipahami sebagai suatu sistem layanan yang mencakup program sekolah untuk mendukung perkembangan pribadi, sosial, dan kemampuan psikologis peserta didik (Nursalim et al. , 2. Layanan bimbingan kelompok menyediakan wadah bagi siswa untuk berdiskusi, saling bertukar pandangan, dan mendapatkan arahan dari konselor, sehingga mereka dapat lebih mandiri dalam mengambil keputusan serta mampu mengembangkan keterampilan sosial dan kemampuan berpikir kritis (Rasimin & Yusra, 2. Bimbingan kelompok adalah layanan yang dilaksanakan melalui dinamika kelompok untuk membantu siswa dalam mengambil keputusan dan menyusun perencanaan karier yang sesuai dengan minat serta kebutuhan mereka (Adityawarman et al. , 2. Bimbingan kelompok juga menjadi wadah untuk membahas serta menemukan solusi atas permasalahan yang dialami individu dalam kelompok (Romlah, 2. Seperti yang diungkapkan oleh (Karamoy et al. , 2. , bimbingan kelompok membahas berbagai isu penting dalam perkembangan peserta didik, mulai dari persoalan pribadi, sosial, akademik, hingga perencanaan karier, sehingga layanan ini mampu membantu siswa mempersiapkan diri menjadi individu yang lebih matang dalam menentukan pilihan hidupnya. Gazda . menjelaskan bahwa bimbingan kelompok di lingkungan sekolah merupakan suatu proses pemberian informasi kepada sekelompok siswa untuk membantu mereka merencanakan dan mengambil keputusan yang tepat. Proses ini berlangsung melalui diskusi dan pertukaran gagasan, yang tidak hanya memperluas wawasan tetapi juga memperkaya pengalaman belajar para peserta (Pranoto, 2. Dalam pelaksanaan layanan bimbingan kelompok, salah satu teknik yang dinilai mampu menghasilkan dampak yang efektif adalah teknik Problem Based Learning (PBL). Menurut Wood . , dikutip dalam (Zahiroh & Setiawati, 2. PBL memberi kesempatan bagi siswa untuk mengekspresikan pemikiran, berdiskusi, mengembangkan alternatif solusi, serta memecahkan permasalahan nyata. Pendekatan ini juga dianggap lebih efektif karena materi pembelajaran dikaitkan dengan pengalaman langsung siswa sehingga membantu mereka berpikir kritis, sistematis, dan memperoleh pengetahuan baru Yolantia et al. dikutip dalam (Zahiroh & Setiawati, 2. Selain itu. PBL merupakan model pembelajaran yang mendorong kerja sama kelompok dan pembelajaran mandiri, sehingga potensi diri siswa dapat berkembang optimal tanpa mengganggu proses belajar mereka (Pramesi et al. , 2. Model ini memiliki sejumlah kelebihan, seperti meningkatkan aktivitas siswa, membuat pembelajaran lebih menarik, serta membantu siswa memahami permasalahan nyata dalam kehidupan. Namun. Problem Based Learning juga memiliki kekurangan, seperti memerlukan waktu lebih lama, membutuhkan sumber informasi memadai, dan adanya kemungkinan siswa kurang percaya diri sehingga enggan terlibat dalam proses pemecahan masalah. Oleh karena itu, pemahaman terhadap kelebihan dan kekurangannya diperlukan agar penerapannya lebih optimal dan kelemahan yang muncul dapat diminimalkan (Mubarak et al. , 2. Dengan demikian, bimbingan kelompok yang menerapkan pendekatan Problem Based Learning dapat menjadi alternatif strategis untuk membantu siswa menyusun perencanaan karier yang lebih terarah, matang, serta selaras dengan potensi yang mereka miliki. @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Ningrum & Setiawati. Penerapan Bimbingan Kelompok Teknik Problem Based LearningA METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif, yaitu suatu pendekatan yang mengolah data berbentuk angka dan menganalisisnya melalui teknik-teknik statistik untuk menghasilkan temuan yang objektif dan terukur (Sugiyono, 2. Metode ini kerap disebut sebagai metode positivistik karena didasarkan pada filosofi positivisme yang menekankan prinsip empiris, objektif, terukur, dan rasional, serta dilaksanakan secara sistematis (Sugiyono, 2. Jenis penelitian yang digunakan termasuk preexperimental, yakni desain penelitian yang belum sepenuhnya memenuhi syarat eksperimen murni karena tidak menggunakan kelompok kontrol dan pemilihan peserta tidak dilakukan secara acak (Sugiyono, 2. Dalam penelitian ini digunakan desain One Group Pre-TestAePost-Test, yaitu rancangan yang memberikan tes awal (Pre-Tes. sebelum perlakuan diberikan dan tes akhir (Post-Tes. setelah perlakuan, sehingga memungkinkan peneliti melihat perubahan yang terjadi pada subjek setelah intervensi diberikan (Sugiyono, 2. Desain ini melibatkan satu kelompok saja tanpa adanya kelompok pembanding, sehingga perbedaan skor antara Pre-Test dan Post-Test dijadikan acuan untuk menilai efektivitas perlakuan yang diberikan. Pada penelitian ini, perlakuan tersebut berupa layanan bimbingan kelompok yang dilaksanakan dengan menggunakan teknik Problem Based Learning. Subjek penelitian ini merupakan peserta didik kelas X SMA Wachid Hasyim 5 Surabaya pada tahun ajaran 2025/2026. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling, yaitu metode pemilihan sampel berdasarkan kriteria khusus yang dinilai sesuai dan mendukung tujuan penelitian (Firmansyah & Dede, 2. Data penelitian dikumpulkan melalui angket dan observasi. Angket digunakan untuk mengukur tingkat perencanaan karier siswa sebelum dan sesudah diberikan perlakuan, sedangkan observasi dimanfaatkan untuk memperkuat temuan dengan mengamati dinamika interaksi, keterlibatan peserta, serta proses berlangsungnya layanan bimbingan kelompok. Instrumen yang digunakan berupa angket tertutup dengan skala Likert yang terdiri atas lima pilihan jawaban, yaitu sangat tidak setuju, tidak setuju, ragu-ragu, setuju, dan sangat setuju. Angket perencanaan karier ini disusun berdasarkan tiga indikator utama, yaitu keyakinan, kekuatan, dan keluasan. Dari 28 butir pernyataan yang disusun pada tahap awal, sebanyak 25 butir dinyatakan valid setelah melalui uji validitas dan reliabilitas. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan statistik parametrik Paired Sample t-Test, karena hasil uji normalitas menunjukkan bahwa data memiliki distribusi yang normal. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian mengenai efektivitas layanan bimbingan kelompok dengan teknik Problem Based Learning terhadap perencanaan karier siswa kelas X SMA Wachid Hasyim 5 Surabaya, diperoleh temuan bahwa kemampuan perencanaan karier siswa mengalami peningkatan setelah diberikan perlakuan. Penentuan subjek penelitian dimulai dengan pelaksanaan Pre-Test kepada peserta didik kelas X di SMA Wachid Hasyim 5 Surabaya. Berdasarkan hasil pengisian angket tersebut, para peserta didik kemudian diklasifikasikan ke dalam tiga kategori tinggi, sedang, dan rendah sesuai dengan skor yang mereka peroleh. Pengelompokan kategori ini merujuk pada @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Ningrum & Setiawati. Penerapan Bimbingan Kelompok Teknik Problem Based LearningA nilai rata-rata dan standar deviasi sebagaimana dijelaskan oleh (Puspita & Setiawati. Berdasarkan rumus tersebut, penilaian dibagi menjadi tiga kategori, yaitu: Tabel 1. Kategori Perencanaan Karier Berdasarkan Mean dan Standar Deviasi Kategori Tinggi Rentang Nilai Ou 104 Sedang 78 Ae 103 Rendah O 77 Kriteria Perhitungan Mean SD = 91 13 = 104 Mean Ae SD sampai Mean SD = 91 Ae 13 sampai 91 13 = 78 sampai 104 Mean Ae SD = 91 Ae 13 = 78 (Nilai di bawah 78 masuk renda. Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, ditetapkan 10 peserta sebagai subjek penelitian, terdiri atas 3 peserta dengan kategori tinggi, 4 peserta kategori sedang, dan 3 peserta kategori rendah. Kesepuluh peserta tersebut selanjutnya menerima perlakuan berupa layanan bimbingan kelompok yang dilaksanakan dengan menggunakan teknik Problem Based Learning. Adapun struktur instrumen yang digunakan dalam penelitian ini dijabarkan melalui kisi-kisi berikut: Tabel 2. Kisi-kisi Instrumen Perencanaan Karier No. Indikator Keyakinan Kekuatan Keluasan Prediktor Keyakinan terhadap kemampuan diri Keyakinan mampu memilih studi lanjut Keyakinan mampu mengatasi masalah dalam studi lanjut Mampu merumuskan tujuan perencanaan karier Mampu menghadapi rintangan karier Membuka diri terhadap berbagai peluang karier atau studi lanjut Mampu merancang berbagai peluang karier atau studi Jumlah Favo Item Unfavo 9,10 13,14 15,16 17,18 19,20 Jumlah 22,23 24,25 Dari uji validitas terhadap 28 pernyataan, ditemukan bahwa 25 butir dinyatakan valid, sedangkan 3 butir lainnya . omor 21, 23, dan . tidak memenuhi kriteria sehingga dihapus dan tidak disertakan dalam analisis selanjutnya. Selanjutnya. Uji reliabilitas dilakukan terhadap 25 butir pernyataan yang sudah dinyatakan valid dan menghasilkan nilai CronbachAos Alpha sebesar 0,887, yang menunjukkan bahwa instrumen tersebut memiliki tingkat konsistensi yang sangat tinggi. Dengan demikian, instrumen perencanaan karier terbukti konsisten dan layak digunakan. Instrumen ini dikembangkan berdasarkan tiga indikator, yaitu keyakinan, kekuatan, dan keluasan, dan dari 28 butir awal tersisa 25 butir yang valid serta reliabel untuk digunakan dalam @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Ningrum & Setiawati. Penerapan Bimbingan Kelompok Teknik Problem Based LearningA Tabel 3. Perbandingan Pre-Test dan Post-Test Subjek Penelitian Nama Inisial ANP ANM AAR KPA CNA DPA MIR Rata-Rata Hasil Pre Test Kategori Sedang Tinggi Rendah Rendah Sedang Rendah Tinggi Tinggi Sedang Sedang Sedang Hasil PostTest Kategori Selisih Skor Sedang Tinggi Rendah Tinggi Sedang Sedang Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi 15,7 Berdasarkan tabel tersebut, rata-rata skor Pre-Test sebesar 90,7 meningkat menjadi 105,5 pada Post-Test, menunjukkan kenaikan sebesar 14,8 poin. Untuk memastikan adanya perbedaan antara kondisi sebelum dan sesudah perlakuan, dilakukan uji normalitas yang menghasilkan nilai Sig = 0,125 (> 0,. , sehingga data dinyatakan berdistribusi normal. Oleh karena itu, analisis dilanjutkan dengan menggunakan uji Paired Sample t-Test. Hasil uji Paired Sample t-Test disajikan pada tabel berikut: Tabel 4. Hasil Uji Paired Sample t-Test Paired Samples Statistics Pair 1 Pre-Test Mean 90,70 Std. Deviation 23,395 Std. Error Mean 7,398 Post-Test 105,50 15,292 4,836 Sig. -3,251 0,010 Paired Samples Test Pair 1 Pre-TestPost-Test -14,800 14,398 4,553 Lower -25,099 Upper -4,501 Dengan nilai Sig. -taile. sebesar 0,010 (< 0,. , dapat dinyatakan bahwa perbedaan antara skor Pre-Test dan Post-Test signifikan. Artinya, hipotesis alternatif (H. dinyatakan diterima dan hipotesis nol (HCA) ditolak. Temuan ini mengindikasikan bahwa layanan bimbingan kelompok dengan teknik Problem Based Learning berpengaruh signifikan dalam meningkatkan kemampuan perencanaan karier siswa. Analisis statistik juga menunjukkan bahwa peningkatan skor dari Pre-Test ke PostTest bersifat signifikan, dengan rata-rata meningkat dari 90,7 menjadi 105,5 setelah perlakuan diberikan. Nilai signifikansi 0,010 pada uji Paired Sample t-Test menunjukkan bahwa perubahan tersebut tidak terjadi secara kebetulan, melainkan merupakan hasil nyata dari penerapan layanan dengan teknik Problem Based Learning. Seluruh peserta mengalami peningkatan skor, meskipun dengan besaran yang berbeda. Siswa kategori rendah menunjukkan kenaikan paling besar (IA 45 @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Ningrum & Setiawati. Penerapan Bimbingan Kelompok Teknik Problem Based LearningA poin. CNA 28 poi. , sedangkan siswa kategori tinggi mengalami peningkatan yang lebih kecil namun tetap menunjukkan penguatan (MIR 3 poin. DPA 2 poi. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa layanan bimbingan kelompok dengan teknik Problem Based Learning efektif diterapkan pada siswa dengan berbagai kategori kemampuan awal, baik kategori tinggi, sedang, maupun rendah. Secara keseluruhan, peningkatan skor yang terjadi secara konsisten pada seluruh peserta, disertai dengan hasil uji Paired Sample t-Test yang signifikan, menunjukkan bahwa penerapan Problem Based Learning memberikan dampak positif terhadap kemampuan perencanaan karier siswa. Penelitian ini membuktikan bahwa Problem Based Learning dapat memberikan pengalaman belajar yang aktif bagi siswa melalui aktivitas pemecahan masalah yang berkaitan langsung dengan proses perencanaan karier mereka. Melalui proses diskusi kelompok, berbagi pendapat, dan analisis kasus nyata, siswa dapat meningkatkan pemahaman mengenai potensi diri, peluang karier, serta strategi dalam menentukan tujuan pendidikan dan karier masa depan. Sesuai dengan pendapat (Rasimin & Yusra, 2. bahwa Problem Based Learning mendorong siswa berpikir kritis, bekerja sama, mengambil keputusan, dan belajar lebih mandiri dalam situasi nyata. Menurut Sofyan . dalam (Salsabila & Muqowim, 2. Teori konstruktivis Lev Vygotsky menekankan bahwa pembelajaran terjadi melalui interaksi sosial. Sejalan dengan hal ini. Problem Based Learning mendorong siswa untuk mengembangkan pemahaman mereka sendiri melalui pemecahan masalah nyata yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Selain itu, dinamika kelompok yang muncul selama pelaksanaan layanan turut membantu meningkatkan kepercayaan diri siswa, kemampuan menyampaikan pendapat, serta keterampilan berargumentasi dan bekerja sama dalam menyelesaikan Pendapat Prayitno . alam Folastri Sisca, 2. sejalan dengan hal ini, yang menyatakan bahwa layanan bimbingan kelompok mampu membantu siswa mengasah kemampuan komunikasi interpersonal, keterampilan pemecahan masalah, serta kecakapan dalam pengambilan keputusan. Penelitian lain yang dilaksanakan di SMA Negeri 1 Kedungwuni juga menunjukkan bahwa layanan bimbingan kelompok dengan pendekatan Problem Based Learning memiliki pengaruh signifikan terhadap perencanaan karier peserta didik. Hasil uji statistik memperlihatkan nilai signifikansi 0,000 < 0,05, yang menandakan adanya perbedaan yang nyata antara skor Pre-Test dan Post-Test. Temuan tersebut menegaskan bahwa Problem Based Learning merupakan pendekatan yang efektif dalam layanan bimbingan kelompok untuk meningkatkan kemampuan perencanaan karier siswa (Nugrahawanti et al. , 2. Berdasarkan hasil Pre-Test dan Post-Test, seluruh peserta menunjukkan peningkatan skor dengan tingkat perubahan yang bervariasi. Perbedaan ini mengindikasikan adanya pengaruh positif dari layanan bimbingan kelompok berbasis Problem Based Learning terhadap kemampuan perencanaan karier masing-masing siswa. Berikut disajikan uraian perkembangan setiap subjek. Subjek ANP mengalami peningkatan skor dari 93 . ategori sedan. menjadi 96 . ategori sedan. dengan selisih 3 poin. Meskipun peningkatannya tidak terlalu besar, hasil ini menunjukkan adanya perkembangan dalam aspek keyakinan dan pemahaman terhadap karir. Subjek diketahui cukup pasif saat diskusi, sehingga terjadi peningkatan lebih pada penguatan pemahaman daripada perubahan kategori. Subjek ANM sejak awal berada pada kategori tinggi, dengan skor Pre-Test sebesar 117 yang @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Ningrum & Setiawati. Penerapan Bimbingan Kelompok Teknik Problem Based LearningA kemudian meningkat menjadi 123 . ategori tingg. setelah diberikan intervensi. Peningkatan 6 poin menunjukkan bahwa layanan tetap memberikan manfaat bagi siswa yang telah memiliki kesiapan karir yang baik, terutama dalam memperjelas langkah dan strategi peminatan serta pendidikan lanjutan. Subjek AAR mengalami peningkatan dari 59 . ategori renda. menjadi 75 . ategori renda. dengan selisih 16 Walaupun tetap berada pada kategori rendah, skor tersebut menunjukkan bahwa subjek mulai memahami konsep perencanaan karir, namun masih membutuhkan pendampingan lanjutan karena tingkat keraguan dan kurangnya informasi karir masih terlihat pada tahap Post-Test. Subjek IA menunjukkan peningkatan terbesar di antara semua peserta penelitian, dari 55 . ategori renda. menjadi 100 . ategori tingg. dengan peningkatan 45 poin. Perubahan kategori dari rendah ke tinggi menunjukkan keberhasilan layanan yang signifikan dalam membangun keyakinan diri, kemampuan mengambil keputusan, serta kejelasan arah karir subjek. Subjek KPA mengalami peningkatan dari 94 . ategori sedan. menjadi 96 . ategori sedan. dengan selisih 3 poin. Peningkatan ini menunjukkan perubahan stabil namun belum cukup kuat untuk mengubah kategori. Subjek cenderung konsisten dalam menentukan tujuan karier tetapi perlu mendalami eksplorasi peluang karier. Subjek CNA meningkat dari 69 . ategori renda. menjadi 97 . ategori sedan. , dengan peningkatan 28 poin yang cukup besar. Perubahan kategori dari rendah ke sedang menunjukkan bahwa subjek mulai mampu berpikir lebih realistis dan terbuka terhadap berbagai alternatif pilihan karir mengikuti diskusi kelompok dan kasus. Subjek DPA sejak awal berada pada kategori tinggi, dengan skor Pre-Test 115, meningkat menjadi 117 dengan selisih 2 poin. Meski peningkatannya kecil, hal ini menunjukkan bahwa subjek telah memiliki arah karier yang jelas sebelum intervensi dan layanan berfungsi sebagai penguatan terhadap rencana yang sudah dimiliki. Subjek MIR berada pada kategori tinggi baik sebelum maupun sesudah perlakuan, dari 120 menjadi 123, dengan peningkatan 3 poin. Subjek menunjukkan kemampuan stabil dalam merencanakan pengangkutan dan layanan membantu memperkuat langkah-langkah konkret yang perlu dicapai. Subjek SA menunjukkan perubahan yang cukup signifikan, di mana skornya meningkat dari 95 . ategori sedan. menjadi 115 . ategori tingg. , dengan kenaikan sebesar 20 poin. Perubahan ini menunjukkan bahwa teknik Problem Based Learning berhasil meningkatkan keyakinan diri dan kemampuan subjek dalam menyusun rencana karier melalui aktivitas diskusi dan penyelesaian masalah. Subjek NH meningkat dari 90 . ategori sedan. menjadi 113 . ategori tingg. dengan peningkatan 23 poin. Subjek menunjukkan perubahan kategori dan peningkatan yang kuat, mengindikasikan bahwa layanan memberikan pengaruh terhadap kemampuan eksplorasi karier, pengambilan keputusan, dan penyusunan langkah karier jangka panjang. Hasil data menunjukkan bahwa 4 subjek mengalami perubahan kategori (AAR hampir berubah. CNA. SA. NH, dan IA berubah signifika. 6 subjek tetap dalam kategori awal namun tetap mengalami peningkatan skor. Seluruh subjek mengalami peningkatan skor, meski dengan intensitas berbeda. Subjek dengan kategori awal rendah menunjukkan peningkatan paling signifikan dibanding subjek dengan kategori sedang atau tinggi. Secara keseluruhan, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa layanan bimbingan kelompok yang menerapkan teknik Problem Based Learning efektif dalam meningkatkan kemampuan perencanaan karier siswa. Peningkatan tersebut mencakup tiga aspek utama, yaitu: @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Ningrum & Setiawati. Penerapan Bimbingan Kelompok Teknik Problem Based LearningA Keyakinan diri dalam memilih karier dan pendidikan lanjutan Kemampuan merumuskan tujuan dan strategi perencanaan karier Keterbukaan terhadap peluang karier dan fleksibilitas pemilihan jalur pendidikan Hasil penelitian ini sejalan dengan sejumlah penelitian sebelumnya yang juga menggunakan layanan bimbingan kelompok. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa bimbingan kelompok dengan pendekatan Project Based Learning efektif dalam meningkatkan kemampuan perencanaan karier peserta didik, yang dibuktikan melalui nilai signifikansi 0,028 < 0,05 sebagai indikator adanya pengaruh yang bermakna. Namun, hasil penelitian tersebut juga mengungkapkan bahwa kemampuan perencanaan karier siswa masih berada pada kategori sedang akibat terbatasnya pemahaman tentang potensi diri, informasi dunia kerja, dan minimnya tindak lanjut layanan karier. Temuan ini menguatkan pentingnya penggunaan pendekatan aktif seperti Problem Based Learning dalam layanan bimbingan kelompok untuk membantu siswa merencanakan karier secara lebih terarah (Rahma & Ilhamuddin, 2. Penelitian lain oleh (Pramesi et al. , 2. turut mengonfirmasi bahwa Problem Based Learning mampu membawa perubahan bermakna pada perilaku siswa dengan nilai signifikansi 0,006, sehingga teknik ini dipandang mampu mendukung proses pengambilan keputusan. Temuan ini juga didukung oleh penelitian (Putri, 2. , yang meneliti efektivitas bimbingan kelompok dengan teknik Problem Solving terhadap efikasi diri karier siswa kelas XII SMAN 1 Krian. Dengan menggunakan desain pre-eksperimental One Group Pre-Test Post-Test dan dianalisis melalui uji Wilcoxon, penelitian tersebut menemukan peningkatan rata-rata sebesar 20,25 poin dengan nilai signifikansi 0,012. Hasil tersebut menunjukkan bahwa layanan bimbingan kelompok berbasis pemecahan masalah dapat meningkatkan keyakinan siswa dalam merencanakan karier mereka. Efektivitas layanan kelompok juga terlihat pada penelitian (Jannah & Setiawati, 2. yang menerapkan teknik fishbowl dan berhasil meningkatkan optimisme karier peserta didik dengan nilai signifikansi 0,018. Selain itu, penelitian oleh (Irsu & Winingsih, 2. menunjukkan bahwa penggunaan teknik mind mapping dalam layanan bimbingan kelompok efektif meningkatkan kemampuan perencanaan karier siswa, dibuktikan dengan nilai signifikansi 0,012. Secara keseluruhan, temuan dari berbagai penelitian tersebut menegaskan bahwa layanan bimbingan kelompok, baik dengan teknik Problem Based Learning, fishbowl, maupun mind mapping, secara berkelanjutan memberikan pengaruh positif terhadap perkembangan karier peserta Temuan tersebut mendukung hasil penelitian saat ini, yang menunjukkan bahwa Problem Based Learning efektif dalam membantu siswa memahami diri, mengeksplorasi berbagai pilihan karier, dan menyusun rencana secara lebih sistematis. Selain itu, teknik ini memberikan gambaran perkembangan setiap subjek secara lebih rinci, sehingga perubahan yang terjadi dapat terpantau dengan lebih jelas. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa layanan bimbingan kelompok menggunakan teknik Problem Based Learning terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan perencanaan karier siswa kelas X di SMA Wachid Hasyim 5 Surabaya. Efektivitas tersebut terlihat dari kenaikan skor rata-rata yang awalnya sebesar 90,7 pada Pre-Test meningkat menjadi 105,5 pada Post-Test. Selain itu, nilai signifikansi 0,010 (< 0,. turut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Ningrum & Setiawati. Penerapan Bimbingan Kelompok Teknik Problem Based LearningA bermakna antara kondisi sebelum dan sesudah intervensi diberikan. Seluruh peserta mengalami peningkatan skor dalam aspek keyakinan diri, perumusan tujuan karier, serta keterbukaan terhadap berbagai pilihan dan peluang karier, yang menunjukkan bahwa Problem Based Learning (PBL) dalam layanan bimbingan kelompok tidak hanya membantu siswa memahami diri, menganalisis alternatif pilihan pendidikan dan karier, serta membuat keputusan secara lebih rasional dan terarah, tetapi juga mendorong keterlibatan aktif mereka dalam pemecahan masalah nyata dan interaksi kelompok yang meningkatkan kepercayaan diri, kemampuan menyampaikan pendapat, serta bekerja sama, sehingga keterbaruan penelitian ini terletak pada penerapan PBL yang sekaligus mengembangkan kemampuan berpikir dan keterampilan sosial siswa, menjadikannya strategi yang efektif dan inovatif dalam pelaksanaan bimbingan karier di sekolah, khususnya bagi siswa kelas X di SMA Wachid Hasyim 5 Surabaya. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih disampaikan kepada SMA Wachid Hasyim 5 Surabaya atas izin dan dukungan yang diberikan selama pelaksanaan penelitian. Apresiasi juga ditujukan kepada dosen pembimbing, dosen penguji, serta semua pihak yang telah membantu kelancaran penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA