Darmabakti: Jurnal Inovasi Pengabdian dalam Penerbangan Penerbit: Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Politeknik Penerbangan Palembang p-ISSN: 2776-2009, e-ISSN: 2775-5568 Volume 1. Nomor 2. Juni 2021 PENDAMPINGAN BUDAYA LITERASI DI ERA COVID 19 PADA ANAK-ANAK DI RUMAH SINGGAH AL-MAAoUN KOTA BENGKULU Dra. Yanti Paulina. Pd. Prodi Pend. Bhs & Sastra Ind. FKIP/ Universitas Muhammadiyah Bengkulu e-mail: yantipaulina@umb. Dra. St. Asiyah. Prodi Pend. Bhs & Sastra Ind. FKIP/ Universitas Muhammadiyah Bengkulu e-mail: st. asiyah@umb. Dra. Jelita Zakaria. Pd. Prodi Pend. Bhs & Sastra Ind. FKIP/ Universitas Muhammadiyah Bengkulu e-mail: jelitazakaria@umb. Dr. Ira Yuniati. Pd. Prodi Pend. Bhs & Sastra Ind. FKIP/ Universitas Muhammadiyah Bengkulu e-mail: irayuniati@umb. Abstrak Pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi bidang Pengabdian pada Masyarakat dapat dilaksanakan dengan menjalin kerjasama antara perguruan tinggi dengan instansi tertentu, baik negeri maupun swasta. Salah satu bentuk kegiatan yang dapat dilaksanakan adalah memberikan penyuluhan kepada anak-anak di rumah singgah Al-MaAoun Kota Bengkulu. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka menumbuhkan budaya literasi pada anak-anak Indonesia. Metode yang digunakan dalam pengabdian ini dengan metode pendekatan masyarakat, dengan cara mengajak atau memotivasi anak-anak untuk dapat meningkatkan budaya literasi khususnya budaya membaca dan menulis dalam kehidupan anak sehari-hari. Langkah-langkah kegiatan mencakup: . mempersiapkan materi penyuluhan. menyampaikan materi dengan maksud untuk memotivasi dan menumbuhkan budaya Literasi pada anak-anak di rumah singgah Al-Maun Kota Bengkulu. Dari pelaksanaan kegiatan tersebut maka dapat dihasilkan: . anak-anak mendapatkan informasi/ pengetahuan tentang pentingnya budaya literasi khususnya budaya membaca dan menulis dan . anak-anak termotivasi untuk menerapkan budaya Literasi dalam kehidupan mereka sehari-hari. Kata Kunci: Budaya literasi. Covid 19. Rumah Singgah Al-MaAoun Abstract The implementation of the Tridarma of Higher Education in the field of Community Service can be carried out by establishing cooperation between universities and certain agencies, both public and private. One form of activity that can be carried out is to provide counseling to children at the Al-Maun shelter. Bengkulu City. This activity is carried out in order to foster a culture of literacy in Indonesian children. The method used in this service is a community approach method, by inviting or motivating children to be able to improve literacy culture, especially reading and writing culture in children's daily lives. The activity steps include: . preparing extension materials. delivering materials with a view to motivating and cultivating a culture of literacy in children at the Al-Maun shelter in Bengkulu City. From the implementation of these activities, it can be concluded that: . children get information/knowledge about the importance of literacy culture, especially reading and writing culture and . children are motivated to apply Literacy culture in their daily lives. Keywords: Literacy culture. Covid 19. Al-MaAoun Shelter Yanti Paulina. St. Asiyah. Jelita Zakaria, dan Ira Yuniati Pendampingan Budaya Literasi di Era Covid 19 pada Anak-anak di Rumah Singgah Al-MaAoun Kota Bengkulu Pendahuluan Rumah adalah tempat untuk berkumpulnya anggota keluarga. Rumah singgah adalah tempat berkumpulnya anak-anak, remaja, bahkan ada juga ibu-ibu, mereka bersama-sama tanpa adanya ikatan keluarga, berkumpul dalam satu ikatan yang sama-sama mempunyai tujuan untuk kemajuan dan keberhasilan bersama. Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Bengkulu mendirikan rumah singgah yang tempatnya di belakang Kampus 3 UMB. Namun masih menumpang di rumah penduduk, rumah singgah tersebut diberi nama Rumah Singgah Al-MaAoun. Penghuni rumah singgah tersebut berjumlah 70 orang, rata-rata usia mereka antara 7-16 Mereka berasal dari orang tua yang memiliki taraf ekonomi menengah ke bawah. Di rumah singgah itulah mereka berkumpul dan diberi bermacam-macam pelatihan, keterampilan, pendidikan, dan kegiatan-kegiatan yang sifatnya untuk membangun mental dan spritual anak dalam menatap hidupnya di masa yang akan datang. Pada saat sekarang ini masih difokuskan pada hari Jumat sesudah sholat Ashar. Dosen Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UMB yang mengadakan pengabdian Masyarakat di Rumah Singgah Al-MaAoun Kota Bengkulu, yaitu : . Dra. Yanti Paulina. Pd. , . Dra. St Asiyah. , . Dra. Jelita Zakaria. Pd. , dan . Dr. Ira Yuniati. Pd. Adapun tema pengabdian, yaitu AoBahasa. Sastra, dan BudayaAo yang berjudul AoPendampingan Budaya Literasi di Era Covid 19 pada Anak-anak di Rumah Singgah Al-Maun Kota Bengkulu. Ao Budaya literasi, tentu tidak boleh kalah dari gaya hidup modern yang serba instan, bergantung pada gawai atau gadget karena masa depan bangsa Indonesia bukan terletak pada pengguna gawai, melainkan ada dan melekat pada anak-anak, generasi muda yang mau membaca dan menulis dalam arti kata anak-anak yang dekat dengan buku. Budaya literasi kini semakin tersingkir. Inilah momentum semua pihak untuk turun tangan menghidupkan kembali budaya membaca dan menulis di kalangan anak-anak kita. Jika tidak, anakanak itu akan terlindas zaman. Budaya literasi adalah sinyal. Bila kita jauh dari buku maka akan merana dan sebaliknya bila dekat dengan buku maka akan bahagia. Jangan bilang cinta anak, bila tidak ada aksi nyata karena cinta bukan hanya serpihan ludah yang terpancar dari lisan semata. Tapi cinta itu tentang kepedulian terhadap budaya literasi. Sementara itu, perkembangan teknologi komunikasi dan informasi telah membawa kemudahan bagi masyarakat Indonesia dalam aktivitas literasi. Saat ini segala informasi atau Darmabakti: Jurnal Inovasi Pengabdian dalam Penerbangan Volume 1. Nomor 2. Juni 2021 Yanti Paulina. St. Asiyah. Jelita Zakaria, dan Ira Yuniati Pendampingan Budaya Literasi di Era Covid 19 pada Anak-anak di Rumah Singgah Al-MaAoun Kota Bengkulu hiburan tidak hanya ada dalam media cetak tetapi juga media online, seperti jurnal, e-book, berita online pada situs media mainstream, atau aplikasi komik dan novel. Untuk meningkatkan budaya literasi harus ada kesadaran dari individu itu sendiri, sebab kebiasaan membaca bisa dilatih asal ada kemauan dan usaha. Misalnya dimulai dengan meluangkan waktu 10-15 menit untuk membaca setiap hari secara konsisten, kemudian durasi waktu bisa ditambah sesuai target dan kemampuan. Begitu pula dengan menulis, biasakan segera menulis ide atau gagasan begitu muncul dalam pikiran sebelum lupa. Pengabdian ini diharapkan agar anak-anak penghuni Rumah Singgah Al-MaAoun Kota Bengkulu memahami betapa penting dan bermanfaatnya bila budaya literasi itu dilakukan dalam kehidupan sehingga anak-anak termotivasi untuk dapat menerapkan budaya literasi, khususnya budaya membaca dan menulis dalam kehidupan mereka sehari-hari. Metode Metode yang digunakan dalam kegiatan pengabdian ini, yaitu menggunakan metode pendekatan masyarakat. Metode ini dilaksanakan dengan beberapa tahapan. yaitu: . tahapan persiapan: pada tahap ini yang dilakukan dengan menyiapkan materi yang akan disampaikan. tahapan pelaksanaan: pada tahap ini kegiatan yang dilaksanakan dengan memberikan penyuluhan kepada anak-anak di Rumah Singgah Al-MaAoun Kota Bengkulu. Kegiatan AoPendampingan Budaya Literasi pada Anak-anak di Rumah Singgah Al-MaAoun Kota Bengkulu bertempat di Jalan S. Parman No. 25 Kelurahan Penurunan Kecamatan Ratu Samban Kota Bengkulu. Dalam kegiatan pengabdian ini, ada beberapa materi yang disampaikan oleh Tim Pengabdian berhubungan dengan literasi, yaitu: Meningkatkan Budaya Literasi di Masa Covid 19 (Yanti Paulin. Budaya literasi, tentu tidak boleh kalah dari gaya hidup modern yang serba instan, bergantung pada gawai atau gadget. Karena masa depan bangsa Indonesia bukan terletak pada pengguna gawai. Tapi ada dan melekat pada anak-anak, generasi muda yang mau membaca dan Anak-anak yang dekat dengan buku. Budaya literasi kini semakin tersingkir. Inilah momentum semua pihak untuk turun tangan menghidupkan kembali budaya membaca dan menulis di kalangan anak-anak kita. Jika tidak, anak-anak itu akan terlindas zaman Autambah Syarifudin Yunus yang saat ini tengah menekuni disertasi S3 tentang taman bacaan. Ay Budaya literasi adalah sinyal. Bila kita jauh dari buku maka akan merana. Bila dekat dengan buku maka akan bahagia. Jangan bilang cinta anak, bila tidak ada aksi nyata. Karena cinta bukan hanya serpihan ludah yang terpancar dari lisan semata. Tapi cinta itu tentang kepedulian terhadap budaya literasi. Sementara itu, perkembangan teknologi komunikasi dan informasi telah membawa kemudahan bagi masyarakat Indonesia dalam aktivitas literasi. Saat ini segala informasi atau hiburan tidak hanya ada dalam media cetak tapi juga media online, seperti jurnal, e-book, berita online pada situs media mainstream, atau aplikasi komik dan novel. Darmabakti: Jurnal Inovasi Pengabdian dalam Penerbangan Volume 1. Nomor 2. Juni 2021 Yanti Paulina. St. Asiyah. Jelita Zakaria, dan Ira Yuniati Pendampingan Budaya Literasi di Era Covid 19 pada Anak-anak di Rumah Singgah Al-MaAoun Kota Bengkulu Kegiatan membaca memiliki banyak manfaat. Selain dapat mencegah risiko terkena penyakit Alzheimer, juga berguna meningkatkan daya imajinasi, dan memperkaya kosakata. Selain itu, kebiasaan membaca juga dapat melatih diri untuk mengemukakan gagasan lewat tulisan, serta memperluas wawasan dan membuka pikiran. Untuk meningkatkan budaya literasi harus ada kesadaran dari individu itu sendiri, sebab kebiasaan membaca bisa dilatih asal ada kemauan dan usaha. Misalnya dimulai dengan meluangkan waktu 10-15 menit untuk membaca setiap hari secara konsisten, kemudian durasi waktu bisa ditambah sesuai target dan kemampuan. Begitu pula dengan menulis, biasakan segera menulis ide tau gagasan begitu muncul dalam pikiran sebelum lupa. Selain itu, momen menunggu sesuatu atau waktu istirahat dapat dimanfaatkan untuk membaca atau menulis. Kita juga dapat mendukung orang di sekitar kita dalam budaya literasi dengan menghadiahkan buku pada momen istimewanya. Semua itu harus dilakukan dengan sebuah komitmen sampai membaca menjadi sebuah kebiasaan. Memang tidak ada yang salah dengan bermain media sosial, game online atau menonton film/video guna merelaksasi pikiran. Tapi sangat miris jika mahasiswa sebagai kaum intelektual dan sumber daya negeri ini tidak lagi akrab dengan budaya literasi dalam keseharian. Membangun Masyarakat dengan Budaya Literasi Tingkat literasi masyarakat suatu bangsa memiliki hubungan yang vertikal terhadap kualitas bangsa. Tingginya minat membaca buku seseorang berpengaruh terhadap wawasan mental, dan prilaku seseorang. Bangsa Indonesia adalah bangsa dengan tingkat literasi yang masih rendah padahal sudah 70 tahun sejak Indonesia menjadi negara merdeka. Ada banyak faktor kenapa literasi masyarakat Indonesia memilki persentase yang rendah. Permasalahan ini harus segera mendapatkan perhatian serius dari pemerintah. Bagaimana wacana mengenai Aomelek bacaanAo menjadi perhatian serius dalam semua kalangan masyarakat. Ketika keadaan melek bacaan menjadi sebuah budaya di Indonesia maka bukanlah mustahil untuk menjadi bangsa yang tidak hanya berhasil berkembang tetapi juga sebagai bangsa yang Minat membaca berbanding lurus dengan tingkat kemajuan pendidikan suatu Kegiatan membaca merupakan hal yang sangat penting bagi kemajuan suatu bangsa. Parameter kualitas suatu bangsa dapat dilihat dari kondisi pendidikannya. Pendidikan selalu berkaitan dengan kegiatan belajar (Harjasujana, 1. Belajar selalu identik dengan kegiatan membaca karena dengan membaca akan bertambahnya pengetahuan, sikap dan keterampilan Pendidikan tanpa membaca bagaikan raga tanpa ruh. Fenomena pengangguran intelektual tidak akan terjadi apabila masyarakat memiliki semangat membaca yang membara. Pada tahun 2011,UNESCOmerilis hasil survei budaya membaca terhadap penduduk di negara-negaraASEAN. Faktanya sungguh membuat kita miris. Budaya membaca Indonesia berada pada peringkatpaling rendahdengan nilai 0,001. Artinya, dari sekitar seribu penduduk Indonesia, hanya satu yang masih memiliki budaya membaca Indonesia masih terdapat fenomena pengganguran intelektual karena minat membaca masyarakatnya masih dikatakan rendah. Berdasarkan survei yang dilakukan olehInternational Education Achievement(IEA) pada awal tahun 2000 menunjukkan bahwa kualitas membaca anak-anak Indonesia menduduki urutan ke 29 dari 31 negara yang diteliti di Asia. Afrika. Eropa dan Amerika. Dengan demikian tidaklah mengherankan bila Indeks kualitas sumber daya manusia (Human Development Index/HDI) di Indonesia juga rendah. Hal ini sesuai dengansurvei yang dilakukan oleh UNDP pada tahun 2005 bahwa HDI Indonesia menempati peringkat 117 dari 175 negara (Library Perbana. Indonesia sebagai negara berkembang, belum memiliki budaya membaca seperti halnya Jepang. Menurut laporan dari Badan Pusat Statistik berkenaan dengan perilaku sosial budaya di dalam masyarakat diketahui persentase penduduk berumur 10 tahun ke atas yang membaca surat kabar atau majalah sebesar 18. 94% pada tahun 2009 atau turun dari angka sebelumnya sebesar 23. pada tahun2006. Tentu saja ini merupakan berita yang menyedihkan bagi Negara berkembang yang ingin maju. Indonesia temasuk salah satu Negara yang paling sedikit peminat Darmabakti: Jurnal Inovasi Pengabdian dalam Penerbangan Volume 1. Nomor 2. Juni 2021 Yanti Paulina. St. Asiyah. Jelita Zakaria, dan Ira Yuniati Pendampingan Budaya Literasi di Era Covid 19 pada Anak-anak di Rumah Singgah Al-MaAoun Kota Bengkulu Rendahnya minat baca masyarakat kita sangat mempengaruhi kualitas bangsa Indonesia, sebab dengan rendahnya minat baca, tidak bisa mengetahui dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi di dunia, di mana pada ahirnya akan berdampak pada ketertinggalan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, untuk dapat mengejar kemajuan yang telahdicapai oleh negara-negara tetangga, perlu kita kaji apa yang menjadikan mereka lebih maju. Ternyata meraka lebih unggul di sumber daya manusianya. Budaya membaca mereka telah mendarah daging dan sudah menjadi kebutuhan mutlak dalam kehidupan sehari harinya. Untuk mengikuti jejak mereka dalam menumbuhkan minat baca sejak dini perlu ditiru dan diterapkan pada masyarakat, terutama pada tunas-tunas bangsa yang kelak akan mewarisi negeri Kualitas suatu bangsa ditentukan oleh kecerdasan dan pengetahuannya,sedangkan kecerdasan dan pengetahuan dihasilkan oleh seberapa ilmu pengetahuan yang di dapat, sedangkan ilmu pengetahuan didapat dari informasi yang diperoleh dari lisan maupun tulisan. Semakin banyak penduduk suatu wilayah yang haus akan ilmu pengetahuansemakin tinggi Kualitas suatu bangsa biasanya berjalan seiring dengan budaya literasi, faktor kualitas dipengaruhi oleh membaca yang dihasilkan dari temuan-temuan para kaum cerdik pandai yang terekam dalam tulisan yang menjadikan warisan literasi informasi yang sangat berguna bagi proses kehidupan sosial yang dinamis. Para penggiat pendidikan sepakat bahwa pintu gerbang penguasaan ilmu pengetahuan adalah dengan banyak membaca. Sebab dengan membaca dapat membuka jendela dunia. Ketika jendela dunia sudah terbuka, masyarakat Indonesia akan dapat melihat keluar, sisi-sisi apa yang ada dibalik jendela tersebut. Sehingga cara berpikir masyarakat kita akan maju dan keluar dari zona kemiskinan menuju kehidupan yang sejahtera. Bila sebelumnya membaca identik dengan buku atau media cetak saja, maka di zaman sekarang yang sudah serba digital, membaca tidak lagi terpaku pada membaca kertas karna segala informasi terkini teleh tersedia di dunia maya/ internet dan media elektronik lainnya. Dengan semakin mudahnya media untuk mendapatkan informasi bacaan maka sudah seharusnya kita tingkatkan minat membaca. berguna bagi proses kehidupan sosial yang dinamis. Para penggiat pendidikan sepakat bahwa pintu gerbang penguasaan ilmu pengetahuan adalah dengan banyak membaca. Sebab dengan membaca dapat membuka jendela dunia. Ketika jendela dunia sudah terbuka, masyarakat Indonesia akan dapat melihat keluar, sisi-sisi apa yang ada dibalik jendela tersebut. Sehingga cara berpikir masyarakat kita akan maju dan keluar dari zona kemiskinan menuju kehidupan yang sejahtera. Bila sebelumnya membaca identik dengan buku atau media cetak saja, maka di zaman sekarang yang sudah serba digital, membaca tidak lagi terpaku pada membaca kertas karna segala informasi terkini teleh tersedia di dunia maya/ internet dan media elektronik lainnya. Dengan semakin mudahnya media untuk mendapatkan informasi bacaan maka sudah seharusnya kita tingkatkan minat baca kita. Penguasaan literasi dalam segala aspek kehidupan memang menjadi tulang punggung kemajuan peradaban suatu bangsa. Tidak mungkin menjadi bangsa yang besar, apabila hanya mengandalkan budaya oral yang mewarnai pembelajaran di lembaga sekolah maupun perguruan tinggi. Namun disinyalir bahwa tingkat literasi khususnya di kalangan sekolah semakin tidak diminati, hal ini jangan sampai menunjukkan ketidakmampuan dalam mengelola sistem pendidikan yang mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena itulah sudah saatnya, budaya literasi harus lebih ditanamkan sejak usia dini agar anak bisa mengenal bahan bacaan dan menguasai dunia tulis menulis. Para aktivis media sosial, seperti Twitter atau Facebook, juga perlu dirangkul untuk lebih sering mengunggah rangsangan membaca buku. Kita ingatkan bahwa bangsa Indonesia lahir berkat perjuangan para pemimpin setelah melihat realitas kehidupan masyarakat terjajah serta terinspirasi dari gagasan kemerdekaan bangsa yang dibaca dari buku-buku. Dalam hal ini, buku dianggap sebagai "jimat" yang membuat Mohammad Hatta kuat menjalani tekanan pemerintah kolonial Hinda Belanda saat itu. Bung Hatta pernah berkata, "Aku rela dipenjara asalkan bersama buku karena dengan buku, aku bebas. " Saat diasingkan di Boven Digoel, pedalaman Papua, tahun 1934. Bung Hatta bahkan menulis buku Alam Pikiran Darmabakti: Jurnal Inovasi Pengabdian dalam Penerbangan Volume 1. Nomor 2. Juni 2021 Yanti Paulina. St. Asiyah. Jelita Zakaria, dan Ira Yuniati Pendampingan Budaya Literasi di Era Covid 19 pada Anak-anak di Rumah Singgah Al-MaAoun Kota Bengkulu Yunani. Saat menikah, buku itu pula yang menjadi mas kawin Hatta untuk istrinya. Rachmi Rahim. Selain itu, menciptakan generasi muda yang berbudaya literasi adalah kunci penting pembentukan bangsa Indonesia yang berkualitas. Oleh karena itu, satu hal yang tidak kalah penting adalah revitalisasi metode pembelajaran Bahasa Indonesia yang diarahkan pada upaya membangun budaya literasi terutama pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas peserta didik yang merupakan generasi muda menggunakan bahan ajar dalam berkehidupan. Mereka harus belajar berbahasa atau bersastra untuk dunia nyata, bukan dunia sekolah. Pembelajaran berbasis budaya literasi dalam dunia pendidikan memiliki keunggulan karena model literasi bukan hanya dimaksudkan agar mereka memiliki kapasitas mengerti makna konseptual dari wacana melainkan kemampuan berpartisipasi aktif secara penuh dalam menerapkan pemahamansosial dan intelektual (White, 1985: . Pembelajaran berbasis budaya literasi akan mengondisikan peserta didik yang merupakan generasi muda untuk menjadi seorang literat. Peningkatan kemampuan literasi dalam belajar sejalan dengan tujuan pendidikan, yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Depdiknas, 2. Pemerolehan tujuan ini dapat dilakukan siswa jika mereka telah menjadi sosok literat. Para siswa memiliki bekal literasi dalam dirinya sehingga mampu melengkapi diri dengan kemampuan yang diharapkan. Proses pengembangan kemampuan berbahasa dan bersastra dilaksanakan dengan cara mengembangkan kemampuan kognitif, analisis, sintesis, evaluasi, dan kreasi melaluisuatu kajian langsung terhadap kondisi sosial dengan menggunakan kemampuan berpikir cermat dan kritis. Proses pemahaman generasi muda terhadap fenomena sosial dengan pengenalan secara langsung akan lebih memudahkan bagi mereka dalam mengembangkan kompetensinya. Generasi muda harus terbiasa dengan membaca berbagai informasi dan mengakses informasi dari media elektronis maupun media tertulis. Buku adalah jendela dunia dan membaca adalah kuncinya. Dengan membaca buku, ilmu pengetahuan akan didapatkan. Kegiatan membaca akan menambah wawasan sekaligus mempengaruhi mental dan perilaku seseorang, dan bahkan memiliki pengaruh besar bagi Pada gilirannya, kegemaran membaca ini akan membentuk budaya literasi yang berperan penting dalam menciptakan bangsa yang berkualitas. Rumusan ini mudah diucapkan, tetapi perlu kerja keras untuk diwujudkan, apalagi bila kita bicara tentang Indonesia. Penyebabnya, meski sudah 70 tahun merdeka, angka melek huruf kita masih rendah. UNDP merilis, angka melek huruf orang dewasa Indonesia hanya 65,5 persen. Sebagai perbandingan, angka melek huruf di negeri jiran kita. Malaysia, mencapai 86,4 persen. Hal ini terkait dengan pendidikan kita yang masih belum maju. Sebagai gambaran, berdasarkan data UNESCO. Indonesia berada di urutan ke-69 dari total 127 negara dalam indeks pembangunan pendidikan UNESCO dan mengingatkan pemerintah dan elit politik agar segera mengambil kebijakan yang efektif. Jika tidak. Indonesia akan terus terpuruk. Budaya literasi adalah masalah serius. Akhirnya, mari kita membangun kesadaran bersama, budaya literasi Indonesia sudah berada dalam kondisi kritis. Kalau para pemimpin kita kelihatan begitu tenang, bahkan tidak peduli, tampaknya sudah saatnya kelompok-kelompok masyarakat sipil memperjuangkan budaya literasi dan mengingatkan pemerintah dan elit politik agar segera mengambil kebijakan yang efektif. Jika tidak. Indonesia akan terus terpuruk dan menjadi negara paria. Budaya literasi adalah masalah serius. Durasi waktu membaca orang Indonesia per hari rata-rata hanya 30-59 menit, kurang dari Sedangkan, jumlah buku yang ditamatkan per tahun rata-rata hanya 5-9 buku. Itu hasil penelitian Perpustakaan Nasional tahun 2017. Kondisi itu, tentu jauh di bawah standar Unesco yang meminta agar waktu membaca tiap orang 4-6 jam per hari. Itulah salah satu bukti budaya literasi di Indonesia masih sangat rendah. Angka membaca Indonesia sangat jauh tertinggal. Sementara masyarakat di negara maju rata-rata menghabiskan Darmabakti: Jurnal Inovasi Pengabdian dalam Penerbangan Volume 1. Nomor 2. Juni 2021 Yanti Paulina. St. Asiyah. Jelita Zakaria, dan Ira Yuniati Pendampingan Budaya Literasi di Era Covid 19 pada Anak-anak di Rumah Singgah Al-MaAoun Kota Bengkulu waktu membaca 6-8 jam per hari. Anehnya, orang Indonesia mampu menghabiskan waktu 5,5 jam sehari untuk bermain gawai atau gadget. Teknologi boleh makin maju. Tapi itu semua tidak menjamin budaya literasi di Indonesia makin baik. Orang makin kaya belum tentu makin peduli pada budaya literasi. Bahkan tidak sediki hari ini oprang pintar yang meninggalkan kegiatan literasi. Katanya era digital, era revolusi industri 4. Tapi faktanya, justru banyak orang makin malas membaca, makin malas Maka wajar, budaya literasi makin dikebiri. Bahkan hari ini, budaya literasi dianggap cukup diseminarkan tanpa perlu aksi nyata. Budaya literasi itu budaya membaca dan menulis. Masyarakat yang lebih gemar membaca dan menulis daripada berceloteh di media sosial atau menonton TV. Agak sulit menjadikan budaya literasi sebagai gaya hidup. Karena banyak orang hari ini, lebih senang budaya milenial, budaya serba instan, dan budaya gaya hidup. Maka di tengah memprihatinkannya budaya literasi di Indonesia, taman bacaan masyarakat atau perpustakaan mau tak mau harus mengambil peran yang lebih besar. Taman bacaan harus mampu menjadi ujung tombak untuk mengkampanyekan budaya literasi di anakanak dan masyarakat. Bahwa membaca sesuatu yang penting. Untuk menggali informasi dan pengetahuan, bahkan menjadi tempat pemberdayaan masyarakat berbasis literasi. Apalagi di tengah gempuran era digital yang kian tak terbendung. Budaya literasi di Indonesia makin ke sini makin memprihatinkan. Untuk itu, taman bacaan masyarakat harus bisa jadi ujung tombak untuk menghidupkan tradisi baca dan tulis. Jangan biarkan dunia gawai atau dunia maya memgendalikan hidup anak-anak kita" ujar Syarifudin Yunus, pegiat literasi sekaligus Pendiri TBM Lentera Pustaka di Kaki Gunung Salak Bogor. Berangkat dari realitas budaya literasi yang memprihatinkan itulah. Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka yang berlokasi di Desa Sukaluyu Kaki Gunung Salak Bogor sangat peduli untuk membangun budaya literasi di masyarakat, di lingkungan, di keluarga bahkan di sekolah. Budaya literasi yang dibuat menarik dan menyenangkan. Agara anak-anak mau lebih dekat dengan buku bacaan. Karena inti budaya literasi, membaca harus jadi perilaku anak-anak dalam keseharian. Membaca harus jadi kebiasaan, bahkan gaya hidup. Setelah itu, kemudian membiasakan menulis. Melalui konsep "TBM-Edutainment". TBM Lentera Pustaka saat ini telah menjadi tempat membaca bagi 60-an anak pembaca aktif. Dengan jam baca 3 kali seminggu, rata-rata setiap anak membaca 5-10 buku. Dengan koleksi lebih dari 3. 000 buku. TBM Lentera Pustaka ingin mengubah "mind set" agar anak-anak agar mau membaca dan selalu dekat dengan buku. Memang tidak mudah membangun budaya literasi masyarakat. Namun dengan pengalaman yang telah dimplementasikan. TBM Lentera Pustaka memberikan resep membangun budaya literasi yang bertumpu pada 7 . tahapan sebagai berikut: Pahami pentingnya membaca . arena dapat menambah kosakata, wawasan, kesabaran, karakte. sebagai landasan untuk menulis. Optimalkan taman bacaan atau perpustakaan di manapun. agar tercipta kesempatan untuk Budayakan membaca sebagai gaya hidup sehari-hari sebagai penyeimbang gawai. Hadiahkan buku kepada anak perlu dibiasakan. Komunitas baca masyarakat perlu ditebarkan di masyarakat. Omong sedikit tapi harus banyak membaca. Jadikan membaca sebagai kebiasaan, tanpa perlu banyak omong. Menulislah setiap hari. Tanpa menulis, maka sulit tercipta budaya literasi. Budaya Literasi Masyarakat Indonesia Rendah. Inilah 6 Dampak Mengenaskan (St. Asiya. Di kawasan ASEAN saja, posisi budaya literasi Indonesia berada di bawah Singapura. Malaysia, dan Thailand. Sebagai negara dengan penduduk terbanyak ke-dunia, masayarakat Indonesia dianggap tidak gemar membaca, menulis, berhitung ataupun berkreasi yang menjadi ciri kuatnya tingkat budaya literasi suatu bangsa. Darmabakti: Jurnal Inovasi Pengabdian dalam Penerbangan Volume 1. Nomor 2. Juni 2021 Yanti Paulina. St. Asiyah. Jelita Zakaria, dan Ira Yuniati Pendampingan Budaya Literasi di Era Covid 19 pada Anak-anak di Rumah Singgah Al-MaAoun Kota Bengkulu Terkadang suka bingung. Persoalan budaya literasi di Indonesia itu harusnya dimulai dari mana sih? Taman bacaan atau perpustakaan yang harus diperbanyak. Atau akses buku bacaan yang harus diperluas. Sementara gerakan literasi nasioanl (GLN) sudah dicanangkan. Bahkan seminar dan diskusi akan pentingnya budaya literasi digelar di mana-mana. Jadi, bagaimana harusnya bangsa Indonesia memulia budaya literasi pada masyarakatanya? Jika mau jujur. Rendahanya budaya literasi masyarakat itu memprihatinkan karena tidak akan ada negara yang kompetitif di dunia ini bila tidak didukung budaya literasi yang berkualitas. Maka mau tidak mau, tradisi baca dan budaya literasi masyarakat sangat penting untuk dibangkitkan oleh siapapun dan hingga kapanpun. Setidaknya, ada 6 . dampak fundamental dari rendahnya budaya literasi masyarakat, yaitu: Tingginya angka putus sekolah karena tanpa budaya literasi yang kita maka kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan menjadi lemah, terlalu mudah untuk berhenti sekolah akibat ketidak-mampuan ekonomi. Merebaknya kebodohan yang tidak berujung. Karena rendahnya budaya literasi menjadi sebab ketidak-tahuan di berbagai bidang imu pengetahuan. Sehingga sulit menjadikan masyarakat untuk sadar dan paham tentang peradaban. Meluasnya kemiskinan karena budaya literasi rendah menjadi sebab rendahnya kompetensi dan lemahnya akses ekonomi. Kemiskinan akan terus-menerus merongrong dan kian sulit Meningginya angka kriminalitas. Tindakan kriminal atau kejahatan menjadi konsekuensi logis dari pendidikan yang rendah dan kemiskinan yang tidak berujung sehingga norma dan nilai kehidupan pun diabaikan. Rendahnya produktivitas kerja karena tanpa dukungan budaya literasi yang memadai maka ilmu pengetahuan gagal diubah menjadi kreativitas yang produktif. Sehingga gagal mengoptimalkan potensi diri yang dimilik. Rentannya sikap bijak dalam menyikapi informasi. Akibatnya hoaks dan ujaran kebencian mendominasi kehidupan dan media sosial. Hanya budaya literasi yang rendah pada akhirnya membuat sulit menyeleksi informasi benar atau tidak benar. Itulah dampak paling signifikan dari rendahnya budaya literasi masyarakat suatu bangsa. Tentu, masih ada lagi dampak lainnya akibat budaya literasi yang rendah. Maka sekali lagi, sudah saatny pemerintah dan masyarakat menyadari akan pentingnya Aumenghidupkan gairahAy budaya literasi di masyarakat. AuBangsa Indonesia sulit berkompetisi di Asia bahkan dunia. Bila tradisi baca dan budaya literasi masyarakat masih rendah. Maka gerakan literasi di manapun harus memahami 6 dampak fundamental dari rendahnya budaya literasi masyarakat. Budaya literasi tidak cukup hanya diseminarkan. Tapi terjun langusng ke lapangan dan realisasikan dalam perbuatan nyataAy ujar Syarifudin Yunus, pegiat literasi TBM Lentera Pustaka. Maka sebagai solusi, budaya literasi harus didekatkan kepada masyarakat yang menjadi Masyarakat yang daerahnya prasejahtera atau tingkat pendidikan rata-ratanya rendah. Budaya literasi harus mampu menerobos seluruh lapisan masyarakat. Dan harus ada program konkret untuk menggerakkan perilaku membaca dan budaya literasi di masyarakat. Patut diketahui, budaya literasi bukanlah sebatas kegiatan membaca atau melek huruf. Tapi lebih dari itu, budaya literasi pun mencakup kesadaran akan pemahaman terhadap realitas kehidupan. Untuk lebih berorientasi pada solusi bukan hanya sensasi. Karena masyarakat yang literat adalah masyarakat yang mampu memecahkan masalah, menumbuhkan daya kreatif. Sehingga mampu mengangkat daya saing sebagai individual maupun organisasi. Maka, budaya literasi harusnya dijadikan gaya hidup orang Indonesia. Bukan gaya hidup konsumtif atau hedonisme. Setelah berpegang pada prinsip-prinsip tersebut, selanjutnya adalah penerapan budaya literasi di Banyak terdapat bentuk-bentuk penerapan budaya literasi di beberapa sekolah di Indonesia, seperti berikut ini: Membudayakan literasi dengan program 6M Untuk meningkatkan budaya literasi di sekolah, khususnya di kelas pada kalangan siswa, diperlukan suatu tindakan yang salah satunya melalui program 6M. Program 6M sendiri terdiri atas tindakan mengamati . , mencipta . , mengomunikasikan . , mengekspresikan . , membukukan . , memamerkan Darmabakti: Jurnal Inovasi Pengabdian dalam Penerbangan Volume 1. Nomor 2. Juni 2021 Yanti Paulina. St. Asiyah. Jelita Zakaria, dan Ira Yuniati Pendampingan Budaya Literasi di Era Covid 19 pada Anak-anak di Rumah Singgah Al-MaAoun Kota Bengkulu . Pada program ini siswa dibiasakan untuk mengaktifkan siswa dalam mengembangkan keterampilan yang dimilikinya agar siswa lebih peka, peduli, kritis, kreatif, dan jujur. Program ini telah diterapkan di beberapa sekolah dasar di Indonesia. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Aulia Akbar, budaya literasi yang diterapkan melalui program 6M di sekolah, khususnya sekolah dasar, siswa dapat lebih membiasakan diri dalam mencari informasi-informasi yang berkaitan dengan kegiatan pembelajaran di kelas. Semakin besar siswa sadar akan pentingnya budaya literasi, maka semakin besar peluang siswa untuk mampu bersaing di era modern. Membudayakan literasi dengan model BATU-BASAH Kegiatan batu-basah . aca tulis-baca sampaikan hasilny. dilatarbelakangi oleh rendahnya minat baca siswa di sekolah. Disamping itu, siswa juga mengalami kesulitan untuk menyampaikan hasil bacaannya dalam bentuk lisan dan tulisan, sekolah juga kesulitan dalam mengelola kegiatan literasi di sekolah karena belum semua warga sekolah berpartisipasi dalam pembudayaan literasi. Dalam model batu-basah yang merupakan akronim dari proses reseptif menjadi produktif yaitu baca tuliskan, baca sampaikan hasilnya. Model ini dilaksanakan dalam bentuk pelatihan dan pengelolaan kegiatan membaca kepada pengelola perpustakaan dan semua guru di lokasi mitra sebagai bagian penting dalam mengembangkan budaya literasi. Selain itu beberapa siswa juga turut dilatih tentang tips membaca efektif. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Mandra Saragih dan Habib Syukri Nasution yang dilakukan di SMP Negeri 13 dan 14 Binjai, terjadi peningkatan minat baca siswa dan menurunnya tingkat kesulitan siswa dalam menyampaikan hasil bacaan. Ditambah lagi pihak sekolah sudah mulai tersistem dalam mengelola kegiatan literasi di sekolah sehingga semua warga sekolah berpartisipasi dalam kegiatan ini, dan sudah memiliki format untuk menyampaikan hasil bacaan baik dalam bentuk lisan dan tulisan. Membudayakan literasi dengan pendekatan proses Salah satu cara untuk mengembangkan budaya literasi dengan pembelajaran membaca dengan menggunakan pendekatan proses. Kegiatan membaca dapat diajarkan kepada anak dengan pendekatan proses yang meliputi beberapa tahapan membaca, yaitu tahapan persiapan membaca, kegiatan membaca, tahap merespon, tahap mengeksplor bacaan dan tahapan memperdalam interpretasi. Dengan pembelajaran membaca dengan pendekatan proses, kemampuan membaca siswa sekolah dasar akan meningkat dan budaya literasi terbangun baik pada anak sejak usia dini. Pendekatan proses ini juga telah diterapkan di beberapa sekolah di Indonesia. Motivasi Belajar dan Literasi (Jelita Zakari. Motivasi Motivasi adalah keinginan yang terdapat dalam diri seseorang yang merangsangnya untuk melakukan tindakan yang lebih baik dari sebelumnya. Motivasi itu dapat tumbuh dari diri sendiri ataupun dari dorongan orang lain yang membuatnya merubah tindakannya ke arah yang lebih baik. Motivasi belajar adalah segala sesuatu yang ditujukan untuk mendorong seseorang yang melakukan kegiatan belajar agar menjadi lebih giat belajar untuk meraih prestasi yang lebih baik lagi. Motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak dalam diri peserta didik yang dapat menimbulkan dan memberikan arah terhadap kegiatan belajar secara aktif, efektif, inovatif dan menyenangkan. Literasi Membaca Membaca merupakan sesuatu kegiatan totalitas dan kompleks, dengan membaca orang mendapatkan pengetahuan yang lebih banyak dan digunakan sebagai modal dalam menulis. Kegiatan membaca adalah suatu kegiatan yang membosankan, dan tidak semua orang Membaca membutuhkan konsentrasi penuh dan mempunyai tujuan. Apabila si pembaca tidak ada motivasi dalam dirinya, maka yang ada dalam bacaan dan intinya tidak Darmabakti: Jurnal Inovasi Pengabdian dalam Penerbangan Volume 1. Nomor 2. Juni 2021 Yanti Paulina. St. Asiyah. Jelita Zakaria, dan Ira Yuniati Pendampingan Budaya Literasi di Era Covid 19 pada Anak-anak di Rumah Singgah Al-MaAoun Kota Bengkulu akan dapat dimiliki. Untuk memotivasi penghuni rumah singgah Al Maun Kota Bengkulu diberikan beberapa cara: Diberi penjelasan bahwa membaca adalah jendela pengetahuan yang harus dimiliki oleh setiap manusia. Apa pun yang ditemukan harus dibaca dengan sungguh-sungguh agar mendapatkan makna di dalamnya. Berusaha membaca cepat, singkat, padat, dan dapat menyimpulkan. Motivasi Belajar dan Literasi (Ira Yuniat. Menulis Menulis adalah kegiatan yang kompleks, karena menulis melibatkan berbagai unsur yang ada di dalamnya antara lain: Memiliki pengetahuan yang berkaitan dengan hal-hal yang ditulis. Harus konsentrasi sepenuhnya, apabila tidak maka tulisan tidak akan terwujud dengan Memahami tata cara, aturan-aturan menulis. Mempunyai tujuan. Mempunyai kemauan yang kuat. Tidak semua orang mempunyai keterampilan menulis dengan baik, karean menulis membutuhkan ketekunan dan keberanian dalam menuangkan ide dan gagasannya. Bagi penghuni rumah singgah Al Maun Kota Bengkulu, ada beberapa motivasi yang disampaikan: Diberi motivasi agar mereka terangsang untuk menulis. Dianjurkan untuk latihan secara terus menerus agar sempurna hasil tulisannya. Tanamkan rasa percaya diri agar apa yang ditulis lebih mantap. Tanamkan keberanian untuk mencoba menulis. Beri reward atau hadiah. Berbicara Berbicara adalah menyampaikan maksud kepada orang lain dan lingkungan. Berbicara yang santun dan baik serta jujur merupakan modal utama dalam suatu pergaulan. Ketika sedang berbicara, penilaian langsung akan diberikan oleh lawan bicaranya. Penilaian tersebut relatif, tergantung pada lawan yang diajak berbicara. Penilaian bagus apabila lawan yang diajak bicara merasa nyaman dalam pembicaraan. Berbicara ada 3 macam bentuknya, yaitu: Berbicara secara non formal: digunakan pada saat berbicara dengan sesama. Berbicara secara semi formal: digunakan dalam bentuk pengajian, arisan, reuni dan lainlain. Berbicara secara formal: digunakan dalam bentuk rapat resmi, kantor, sekolah dan lainlain. Ada beberapa motivasi yang diberikan untuk penghuni Rumah Singgah Al-Maun Kota Bengkulu: Dianjurkan supaya aktif mengikuti lomba berpidato. Beri pengakuan terhadap apa yang disampaikan dalam berpidato. Beri kritikan yang membangun. Sering berlatih supaya lebih mantap dalam berpidato . Menyimak Keterampilan menyimak tidak kalah pentung dengan aspek keterampilan yang lain yaitu menulis, membaca dan berbicara. Tidak semua orang mempunyai keterampilan menyimak yang tinggi, sebab menyimak membutuhkan konsentrasi penuh. Apabila si penyimak tidak total dalam menyimak maka tidak akan dapat mengambil makna yang ada dalam simakanya. Keterampilan menyimak ada 2 macam, yaitu: Menyimak secara manual seperti menyimak di dalam buku, majalah, koran dan lain-lain. Menyimak dengan cara elektro seperti TV, radio. HP, dan lain-lain. Darmabakti: Jurnal Inovasi Pengabdian dalam Penerbangan Volume 1. Nomor 2. Juni 2021 Yanti Paulina. St. Asiyah. Jelita Zakaria, dan Ira Yuniati Pendampingan Budaya Literasi di Era Covid 19 pada Anak-anak di Rumah Singgah Al-MaAoun Kota Bengkulu Kedua cara diatas harus dikuasai sebab sangat dibutuhkan. Bahkan ada ucapan: orang yang cuek dan tidak menyimak apa saja yang ada di sekitarnya dikatakan Auorang masa bodohAy dan Autidak peduliAy. Motivasi dalam menyimak ada beberapa cara yang diberikan kepada penghuni Rumah Singgah Al Maun Kota Bengkulu: Beri tugas untuk membaca: majalah, buku, koran, dan kemudian ditanya apa isinya. Melihat tayangan berita di TV kemudian ditanya apa isinya. Beri tugas untuk mendengar berita siaran radio kemudian ditanya apa hasilnya. Hasil dan Pembahasan Hasil Kegiatan Budaya literasi kini semakin tersingkir. Inilah momentum semua pihak untuk turun tangan menghidupkan kembali budaya membaca dan menulis di kalangan anak-anak kita. Jika tidak, anakanak itu akan terlindas zaman. Sementara itu, perkembangan teknologi komunikasi dan informasi telah membawa kemudahan bagi masyarakat Indonesia dalam aktivitas literasi. Saat ini segala informasi atau hiburan tidak hanya ada dalam media cetak tapi juga media online, seperti jurnal, ebook, berita online pada situs media mainstream, atau aplikasi komik dan novel. Untuk meningkatkan budaya literasi harus ada kesadaran dari individu itu sendiri, sebab kebiasaan membaca bisa dilatih asal ada kemauan dan usaha. Misalnya, dimulai dengan meluangkan waktu 10-15 menit untuk membaca setiap hari secara konsisten, kemudian durasi waktu bisa ditambah sesuai target dan kemampuan. Begitu pula dengan menulis, biasakan segera menulis ide tau gagasan begitu muncul dalam pikiran sebelum lupa. Tingkat literasi masyarakat suatu bangsa memiliki hubungan yang vertikal terhadap kualitas Tingginya minat membaca buku seseorang berpengaruh terhadap wawasan, mental, dan prilaku seseorang. Bangsa Indonesia adalah bangsa dengan tingkat literasi yang masih rendah padahal sudah 70 tahun sejak Indonesia menjadi negara merdeka. Ada banyak faktor kenapa literasi masyarakat Indonesia memilki persentase yang rendah. Permasalahan ini harus segera mendapatkan perhatian serius dari pemerintah. Bagaimana wacana mengenai Aomelek bacaanAo menjadi perhatian serius dalam semua kalangan masyarakat. Ketika keadaan melek bacaan menjadi sebuah budaya di Indonesia maka bukanlah mustahil untuk menjadi bangsa yang tidak hanya berhasil berkembang tetapi juga sebagai bangsa yang maju. Salah satu kegiatan yang dapat dilaksanakan untuk menumbuhkan budaya literasi pada anakanak, yaitu dengan memberikan informasi dan pengetahuan kepada anak-anak melalui penyampaian materi tentang pentingnya menumbuhkan budaya literasi dalam kehidupan anak-anak sehari-hari. Darmabakti: Jurnal Inovasi Pengabdian dalam Penerbangan Volume 1. Nomor 2. Juni 2021 Yanti Paulina. St. Asiyah. Jelita Zakaria, dan Ira Yuniati Pendampingan Budaya Literasi di Era Covid 19 pada Anak-anak di Rumah Singgah Al-MaAoun Kota Bengkulu Berikut gambar-gambar lokasi/tempat pelaksanaan pengabdian masyarakat, dan gambar kegiatan yang telah dilakukan ketika penyampaian materi tentang AuPendampingan Budaya Literasi pada anak-anak di Era Pandemi Covid 19 di Rumah Singgah Al-MaAoun Kota Bengkulu. Ay Gambar tempat lokasi pengabdian Darmabakti: Jurnal Inovasi Pengabdian dalam Penerbangan Volume 1. Nomor 2. Juni 2021 Yanti Paulina. St. Asiyah. Jelita Zakaria, dan Ira Yuniati Pendampingan Budaya Literasi di Era Covid 19 pada Anak-anak di Rumah Singgah Al-MaAoun Kota Bengkulu Pembahasan Pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat dengan memberikan penyuluhan tentang pendampingan budaya literasi di era covid 19 pada anak-anak di rumah singgah Al-maun kota Tujuannya untuk membantu pemerintah dalam upaya menumbuhkan budaaya Literasi pada anak-anak Indonesia. Bila kita lihat dan dengar bahwa rendahnya budaya literasi pada anak saat ini sudah Di kawasan ASEAN saja,posisi budaya literasi Indonesia berada di bawah Singapura. Malaysia,dan Thailand. Masyarakat Indonesia dianggap tidak gemar membaca, menulis yang menjadi ciri kuatnya tingkat budaya literasi suatu bangsa,karena tidak akan ada negara yang kompetitif di dunia ini bila tidak didukung budaya literasi yang berkualitas. Maka mau tidak mau, tradisi baca dan menulis atau budaya literasi anak-anak sangat penting untuk dibangkitkan kembali. Teknologi boleh makin maju. Tapi itu semua tidak menjamin budaya literasi di Indonesia makin baik. Orang makin kaya belum tentu makin peduli pada budaya literasi. Bahkan tidak sedikit orang pintar meninggalkan budaya literasi. Katanya era digital era revolusi industri 4. Tetapi faktanya justru banyak orang makin malas membaca dan menulis. Salah satu usaha yang bisa dilakukaan untuk meningkatkan budaya literasi pada anak atau masyarakat dengan memberikan, pengetahuan dan informasi kepada anak atau masyarakat. Pemberian informasi dan pengetahuan pada anak atau masyarakat dengan cara memberikan penyuluhan berupa materi tentang pentingnya budaya litrasi terutama budaya membaca dan menulis dalam kehidupan. Semakin besar anak sadar akan pentingnya budaya literasi, maka semakin besar peluang untuk mampu bersaing di era modern. Darmabakti: Jurnal Inovasi Pengabdian dalam Penerbangan Volume 1. Nomor 2. Juni 2021 Yanti Paulina. St. Asiyah. Jelita Zakaria, dan Ira Yuniati Pendampingan Budaya Literasi di Era Covid 19 pada Anak-anak di Rumah Singgah Al-MaAoun Kota Bengkulu Dengan diadakannya penyuluhan kepada anak-anak di Rumah Singgah Al-MaAoun, maka diharapkan anak-anak Indonesia mulai menyadari betapa penting dan bermanfaatnya bila budaya membaca dan menulis atau budaya literasi diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak Indonesia adalah generasi penerus bangsa. Bila anak-anak Indonesia cerdas, maka negara Indonesia akan semakin maju. Anak-anak yang ada di Rumah Singgah Al-MaAoun Kota Bengkulu menyambut baik kegiatan pengabdian masyarakat yang telah dilaksanakan. Anak-anak juga berharap ada kegiatan lain lagi yang dilakukan di rumah singgah Al-maunkota Bengkulu untuk dimasa yang akan datang. Kesimpulan Pelaksanaan kegiatan pengabdian Masyarakat pada anak-anak di Rumah Singgah Al-MaAoun telah berjalan dengan baik. Dari pelaksanaan kegiatan dengan memberikan penyuluhan tentang motivasi belajar dan pendampingan budaya literasi di Era Covid 19 pada anak-anak di Rumah Singgah Al-MaAoun Kota Bengkulu, diharapkan: . anak-anak mendapatkan informasi dan pengetahuan tentang motivasi belajar, dan pentingnya budaya literasi. anak-anak termotivasi untuk menerapkan budaya literasi . hususnya budaya membaca dan menuli. dalam kehidupan sehari-hari. Penghargaan/ Ucapan terima kasih Terima kasih kepada Universitas Muhammadiyah Bengkulu FKIP terkhusus Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang telah mendukung terlaksananya kegiatan pengabdian Terima kasih juga kepada anak-anak dan pengelola di Rumah Singgah Al-MaAoun Kota Bengkulu yang telah berkenan sebagai mitra kegiatan pengabdian dengan judul AoPendampingan Budaya Literasi di Era Covid 19 pada Anak-anak di Rumah Singgah Al-Maun Kota Bengkulu. Daftar Pustaka