Jurnal Pendidikan Multidisipliner Volume 7 Nomor 7, Juli 2024 ISSN: 27342488 IMPLEMENTASI TOTAL QUALITY MANAGEMENT (TQM) PADA SDIT AL KARIMA KUBU RAYA T.A. 2023/2024 Herfan Nurjaya1, Supriadi2, Wahab Wahab3 Email: jayaherfan@gmail.com1, supriadi74138@gmail.com2, abdulwahabassambasi@gmail.com3 IAIN Pontianak ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui( 1) Bagaimana perencanaan dan pelaksanaan kurikulum di SDIT Alkarima Kubu Raya;( 2). Bagaimana memperbaiki mutu pendidikan di SDIT Alkarima Kubu Raya, baik melalui sistem pendataan maupun sistem belajar mengajar;( 3) bagaimana pemberdayaan practitioner SDIT Al karima Kubu Raya dalam mengimplementasikan Total Quality Management. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan dasar pendekatan fenomenologis dan interaksi simbolik. Model Miles dan Huberman menggunakan analisis data yang terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai implementasi Total Quality Management di SDIT Alkarima Kubu Raya, maka dapat disimpulkan sebagai berikut( 1) Perencanaan dan pelaksanaan kurikulum SDIT Al karima Kubu Raya merupakan hasil perpaduan antara kurikulum Nasional dengan kurikulum standar mutu JSIT Indonesia.( 2) Perbaikan sistem dilakukan secara bertahap, baik dalam sistem pendataan maupun sistem belajar mengajar. Dalam sistem pendataan aplikasi yang digunakan adalah dapodik, sedangkan dalam sistem belajar mengajar menggunakan media serta teknik yang bervariasi.( 3) Dalam pemberdayaan practitioner, evaluasi dan supervisi senantiasa dilaksanakan oleh Kepala Sekolah minimum dua kali dalam setahun. Kata Kunci: TQM, perencanaan, pelaksanaan dan Pemberdayaan. 220 PENDAHULUAN Pendidikan merupakan pembahasan yang diutamakan dalam sebuah negara. Berdasarkan UUNo. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Kita bisa melihat di negara- negara maju, faktor utamanya adalah pendidikan. Seperti yang dijelaskan oleh Nanang Fatah, sistem pendidikan merupakan bagian yang kental dalam kehidupan sosio- kultural dan masyarakat sebagai suatu pleksus( Umar Tirtarahardja, 2010 226). dengan demikian, untuk memperbaiki kualitas pendidikan, dituntut penyelenggaraan yang baik. Karena ketatnya persaingan pasar kerja, maka kebutuhan akan lulusan SMA cukup mendesak. Salah satu dampak globalisasi di bidang pendidikan adalah reformasi yang memperbolehkan lembaga pendidikan (termasuk universitas asing) membuka sekolah di Indonesia. Oleh karena itu, persaingan di pasar tenaga kerja akan semakin ketat. Ketika perubahan yang cepat dan permasalahan yang serius dan sulit diperkirakan terjadi, maka tidak ada jalan lain bagi pemerintah untuk merencanakan pembangunan di bidang pendidikan dan agar lembaga pendidikan berusaha semaksimal mungkin untuk menghindari persaingan dengan produk akademik lain, termasuk lulusan dan lain-lain. dicapai melalui peningkatan mutu pendidikan. Di bidang pendidikan, Administrasi Negara (TAN) dan Administrasi Negara (TLP) harus mampu berkoordinasi dan menyelesaikan permasalahan tersebut. Banyak gagasan yang dikembangkan oleh negara-negara maju untuk meningkatkan kualitas di bidang ekonomi, politik, demokrasi, perlindungan hak asasi manusia, pengelolaan lingkungan hidup dan konsep good governance. Salah satunya mungkin berhubungan dengan hubungan antara peningkatan kualitas dan praktik manajemen yang baik. Dalam hal ini manajemen mutu dapat ditetapkan sebagai suatu metode atau teknik manajemen untuk mencapai tujuan peningkatan mutu, disertai dengan penerapan manajemen yang baik. Menurut hasil Indeks Pembangunan Manusia (HDI) yang dilakukan oleh United Nations Development Programme atau UNDP (Hadis et al., 2010: 2), Indonesia dikatakan berada pada peringkat 113 dari 177 negara di dunia. Rendahnya angkatan kerja berketerampilan di Indonesia disebabkan oleh rendahnya pendidikan di berbagai sektor dan lembaga pendidikan, menurut hasil survei yang dilakukan UNDP. Oleh karena itu, mengembangkan pendidikan negara sesuai dengan tanggung jawab sistem pendidikan nasional merupakan salah satu kebijakan yang sangat penting. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 yang bertujuan untuk meningkatkan mutu dan nilai pendidikan. Sekolah yang baik pasti mempunyai banyak penggemar dan mempunyai karakter yang unik bagi masyarakat dan para orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya. Sekolah terbaik senantiasa meningkatkan perkembangannya dan menerapkan standar tertentu untuk meningkatkan kualitas lembaganya. Tidak hanya itu, sekolah yang baik dibuktikan dengan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian yang baik. Namun yang jelas masih banyak sekolah yang mengabaikan perencanaan; Faktanya, masih banyak pekerjaan. , menerbitkan karya yang tidak sesuai dengan keahliannya dan permintaan kecil yang tidak sesuai dengan kebutuhan bisnis. Masih banyak guru yang melakukan lebih dari satu pekerjaan; misalnya guru matematika, guru IPS, dan lain-lain. Jika hal ini masih terjadi di dunia industri, bagaimana proses pendidikan akan berkembang meski perlu pengembangan lebih lanjut di berbagai bidang. Kualitas pendidikan; Hal ini ditentukan oleh manajemen yang baik serta banyak permasalahan yang saling terkait mulai dari konsep, proses dan output. Ada bukti bahwa manajemen yang fokus pada peningkatan mutu pendidikan adalah hal atau jenjang yang perlu dipahami oleh lembaga pendidikan yang akan melaksanakannya, apa ciri-ciri sekolah yang 221 baik, dan manajemen yang fokus pada peningkatan mutu pendidikan. (Aminatul Zahroh, 2014:97). SDIT Al Karima Kubu Raya merupakan sekolah swasta dengan kualifikasi unggul. Hal ini juga tercermin dari animo masyarakat terhadap Kabupaten Kubu Raya. Namun untuk meningkatkan kualitas SDIT Al Karima, masih banyak hal yang perlu ditingkatkan untuk mencapai sekolah menengah atas. SDIT Al Karima memiliki infrastruktur yang memadai. Namun rendahnya jumlah guru yang tidak memperhatikan datang ke sekolah tepat waktu menyebabkan sebagian siswa ketinggalan dalam daftar tersebut. Para peneliti percaya bahwa sekolah yang baik lebih dari sekedar infrastruktur. Tapi juga karakter. Hal ini menarik peneliti untuk melakukan penelitian karena penerapan manajemen yang baik, kerjasama tim yang baik, partisipasi pegawai yang baik dan peningkatan kapasitas sehingga tercipta kesatuan tujuan dalam mencapai visi sekolah. Ada juga kebutuhan untuk perbaikan terus-menerus dan masih banyak lagi faktor yang perlu dipertimbangkan untuk manajemen yang efektif di sekolah. KAJIAN TEORI Konsep Dasar Manajemen Mutu Terpadu (TQM) Manajemen berasal dari kata ‘management’ yang berarti ‘manajemen’. Perencanaan dilakukan melalui kegiatan-kegiatan dan disusun berdasarkan serangkaian kegiatan manajemen. Oleh karena itu, kepemimpinan adalah proses mencapai tujuan yang diinginkan. (Engel S.P. Hasibuan, 2004: 1). Adapun kepemimpinan yang baik, kepemimpinan dilakukan oleh orang yang benarbenar ahli dalam pekerjaannya, seperti Nabi Muhammad SAW. Hadits Nabi Muhammad SAW: Artinya: Dari Abu Hurairah.ra berkata: Rasulullah SAW bersabda: apabila suatu perkara diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah saat kehancurannya. (HR. Bukhari) Adapun, kata “Mutu” berasal dari bahasa Inggris yang berarti “quality” yang berarti kualitas. Keindahan masih mengandung kontradiksi karena di satu sisi dapat diartikan sebagai konsep yang mutlak, dan di sisi lain dapat diartikan sebagai konsep yang relatif. Secara umum kualitas dipahami sebagai dasar pencarian keindahan, kualitas dan orisinalitas. Sedangkan rata-rata mengarah pada dua hal, yaitu proses identifikasi dan pencarian pelanggan yang membutuhkan. (Edward Sallis, 2006:73). Secara umum, mutu didefinisikan sebagai proses terstruktur untuk meningkatkan keluaran produk. (Jeromes A. Arcaro, 2005: 75). Mutu juga merupakan gambaran menyeluruh mengenai karakteristik produk atau jasa yang menunjukkan kemampuannya dalam memenuhi kebutuhan yang diharapkan atau diinginkan. Pengertian mutu dalam bidang pendidikan juga mencakup konsep, proses, dan hasil pendidikan. (Mulyasa, 2013: 157). Melihat kedua definisi di atas, Total Quality Management (TQM) dapat dibagi menjadi dua bagian. Kategori pertama didefinisikan sebagai cara berbisnis yang bertujuan untuk meningkatkan persaingan melalui peningkatan produk, layanan, manusia, proses, dan lingkungan. Poin kedua melihat bagaimana hal ini dapat dicapai dan berkaitan dengan sepuluh karakteristik TQM, yang terdiri dari: a) fokus pada pelanggan, b) visi positif, c) menggunakan metode ilmiah, d) memiliki komitmen jangka panjang, e ) kerjasama tim, f) perbaikan terus-menerus, g) pendidikan dan pelatihan, h) pelaksanaan kebebasan terkendali, i) kesatuan tujuan, j) partisipasi dan pemberdayaan pegawai. (Eti Rochaety, 2010:97). Menurut Veithzal Rivai, Manajemen Mutu Terpadu (TQM) adalah program dalam manajemen bisnis yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas dan kualitas produksi, meningkatkan potensi produk yang diproduksi. Metode ini dapat diterapkan dengan menyatukan ide-ide, metode analisis dan evaluasi dalam aktivitas kerja karyawan di semua 222 tingkatan di perusahaan dan memecahkan masalah (inefisiensi, produktivitas rendah dan rendahnya kualitas kerja/produk) untuk memastikan berkembangnya kebiasaan yang dilakukan dan digunakan dalam kegiatan bisnis dan budaya (Veithzal Rivai, 2012: 480). Manajemen mutu terpadu, sebagaimana dijelaskan di atas, menjadi sangat penting jika benar-benar diterapkan. Penerapan standar mutu akan memberikan pedoman penyelesaian permasalahan secara wajar, tegas, menyelesaikan masalah, dan bertanggung jawab. Perbedaan Total Quality Management dengan metode lainnya berkaitan pada dua aspek, yaitu cara pelaksanaan proyek. Dari sini dapat dipahami bahwa TQM adalah suatu cara berbisnis yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan organisasi melalui perbaikan produk, layanan, manusia, proses dan lingkungan. Berdasarkan penjelasan di atas, Manajemen Mutu (TQM) juga didefinisikan oleh firman Allah, dimana perbaikan terusmenerus dianggap sebagai proses perbaikan diri, berdasarkan pengakuan bahwa orang memiliki kemampuan untuk mengubah situasi menjadi lebih baik. ۟ ‫ٱَّللَ َل يُغ َِي ُر َما ِبقَ ْو ٍم َحت َّ ٰى يُغ َِي ُر‬ َّ ‫ِإ َّن‬ 11 ... ‫وا َما ِبأَنفُ ِس ِه ْم‬ Artinya: “…Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (QS. ArRa’du: 11) TQM, suatu metode untuk meningkatkan daya saing organisasi, memiliki beberapa ciri penting: 1) Berfokus pada pelanggan (internal dan eksternal), 2) Memiliki lebih dari satu pendapat kualitatif, 3) Menggunakan metode ilmiah dalam pengambilan keputusan dan 'masalah', 4 ) Jangka panjang mempunyai komitmen jangka panjang, 5) Membutuhkan kerjasama tim, 6) Perbaikan proses yang berkesinambungan, 7) Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan, 8) Memberikan kebebasan yang terkendali, 9) Memiliki kesatuan tujuan, 10) Partisipasi dan pemberdayaan pegawai; . (Fandi Tjiptono dan Anastasia Diana, 2003: 15). Hal-hal di atas merupakan kriteria terpenting dalam peningkatan mutu lembaga pendidikan saat ini. Mendukung hal di atas, Hensler dan Brunell (Husaini Usman, 2011: 572573) mengatakan bahwa ada empat prinsip penting dalam manajemen pendidikan: a). Kebijakan Pelanggan, b). Menghormati semua orang, c). Kepemimpinan berdasarkan kebenaran dan d). Perbaikan terus-menerus. Sedangkan menurut Aan Komaria (2010: 298-302), prinsip pendidikan bermutu adalah: a). Penerapan khusus prinsip pertama, orientasi pelanggan, b). Khusus penggunaan prinsip kepemimpinan kedua, c) Khusus penggunaan prinsip ketiga, prinsip peran manusia, d). Penerapan ciri keempat metode, e). Efektif menggunakan prinsip kelima dengan menggunakan sistem manajemen, f). Penerapan khusus prinsip perbaikan berkelanjutan yang keenam, g). Penerapan khusus dari prinsip tujuh metode pengambilan keputusan, h). Penerapan khusus prinsip kedelapan hubungan pemasok yang baik. Bill Creech, mantan jenderal bintang empat, berhasil menerapkan prinsip TQM pada Angkatan Udara AS selama Perang Teluk. Menurutnya, produk atau jasa menjadi dasar tujuan dan kegiatan organisasi. Kualitas suatu produk atau jasa tidak akan ada tanpa kualitas dalam prosesnya. Kualitas dalam operasional bisnis tidak mungkin terjadi tanpa perencanaan yang baik. Organisasi akan menentukan umur dan kesehatan seluruh sistem manajemen, termasuk lima pilar TQM. Organisasi yang baik tidak akan ada artinya tanpa kepemimpinan yang memadai. Komitmen bottom-up yang kuat merupakan pilar yang menopang pilar-pilar lainnya. Setiap kolom terhubung ke empat kolom lainnya, dan jika satu kolom lemah, maka semuanya lemah. Lima pilar Total Quality Management didefinisikan sebagai berikut. Implementasi TQM dalam Pendidikan Peningkatan mutu pendidikan merupakan suatu proses yang berkaitan dengan peningkatan mutu tenaga kerja. Secara umum, ada dua penyebab utama mengapa peningkatan mutu pendidikan di Indonesia tidak berjalan dengan baik: 223 1. Upaya pembangunan pendidikan selama ini menjadi lebih terintegrasi, terutama didasarkan pada asumsi bahwa apabila seluruh masukan dari dunia pendidikan terpenuhi, seperti penyediaan buku (bahan ajar) dan bahan pembelajaran lainnya, penyediaan bahan ajar, pelatihan guru , dll. dan 'materi pendidikan lainnya', staf, maka lembaga pendidikan (sekolah) secara otomatis akan mampu mencapai hasil yang lebih baik dari yang diharapkan. Jelas bahwa strategi peningkatan pendapatan yang diterapkan oleh proses produksi pendidikan pada tahun 1 hanya berhasil di lembaga ekonomi dan industri, bukan di lembaga pendidikan (sekolah). 2. Saat ini, pengelolaan pendidikan di tingkat daerah menjadi lebih terkendali secara makro dan birokratis. Akibatnya, banyak hal yang direncanakan di tingkat makro (menengah) tidak terwujud atau tidak berjalan sebagaimana mestinya di tingkat mikro (sekolah). Berdasarkan faktor-faktor tersebut, maka perlu adanya manajemen yang baik untuk menghadapi faktor-faktor tersebut. Deming (Theresia Kristianty, 2005) mengajukan empat belas gagasan yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas dan efisiensi organisasi: 1). Menetapkan tujuan yang jelas untuk meningkatkan produk dan layanan, 2). Mengadopsi filosofi baru, 3). Berhenti mengandalkan kendali umum, 4). Ada banyak cara dimana 'ujian yang benar dan tepat' untuk pengambilan keputusan dapat diambil untuk mengevaluasi masalah dalam mengidentifikasi pemimpin pendidikan dan masalah rekrutmen, 5). Menciptakan 'perasaan' bagi tim, 6). Menjawab pertanyaan lisan dan tertulis yang disiapkan demikian, 7) Syarat-syarat calon pengurus untuk menyatakan harta kekayaannya, 8). Anda harus memahami sistem manajemen dengan baik, 9). Bawalah pertanyaan Anda sendiri, 10). Tim yang dipilih meninjau dan memantau keakuratan semua informasi lisan dan tertulis yang diberikan. Untuk menjamin penerapan manajemen mutu yang efektif, diperlukan langkah-langkah sebagai berikut: 1). Mengadopsi filosofi kualitas, dalam hal ini manajemen dan karyawan harus memahami dan memahami sepenuhnya mengapa organisasi akan mencapai kualitas total, yaitu menjamin kelangsungan hidup organisasi dalam lingkungan kompetitif, 2). Manajemen harus memimpin dan menunjukkan kepemimpinan yang efektif, 3). Jika perlu, sesuaikan dengan sistem yang ada dengan mengubahnya untuk memenuhi tujuan kualitas penuhnya, 4). Mendidik, melatih dan memberdayakan seluruh karyawan. (Soewarso Hardjosoedarmo, 2004: 39-45) . Dengan melaksanakan empat langkah berturut-turut tersebut maka akan tercipta lingkungan yang mendukung tercapainya kualitas total, misalnya perilaku anggota organisasi akan berubah, akan terbentuk sikap utuh di kalangan pegawai dan terciptanya budaya unggul. METODEi PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dimana data yang dikumpulkan berupa kata-kata dan gambar, bukan angka-angka (Sudarwin Denim, 2002:51). Hal ini didasarkan pada pendekatan fenomenologis dan empiris. Hal ini didasarkan pada teori dan asumsi bahwa pengalaman manusia dicapai melalui tindakan. Di sini peneliti mencoba memahami makna berbagai hal dalam situasi tertentu melalui sudut pandang peneliti. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Perencanaan Kurikulum di SDIT Al Karima Perencanaan kurikulum adalah upaya kolaboratif yang harus dipahami guru untuk mengajar secara efektif. SDIT Al Karima sangat baik dalam hal kerjasama tim, sesama guru dan orang tua siswa. Budaya kolaborasi sudah ada sejak zaman dahulu. Dalam setiap aspek, baik dalam kegiatan pembelajaran maupun konektivitas infrastruktur dll. dalam kegiatan. Faktor penting dalam menjamin mutu sekolah adalah komunikasi yang baik. Langkah pertama dalam penjaminan mutu adalah kepala sekolah mengembangkan 224 rencana sekolah. Menurut kepala sekolah, tahapan pengembangan kurikulum sebelum pelaksanaan proses pembelajaran adalah sebagai berikut: (a) Berkomunikasi dengan seluruh guru untuk menetapkan metode pengajaran selama pembelajaran sesuai pedoman JSIT, sejalan dengan Kurikulum Nasional. Langkah pertama yang dilakukan adalah membuat Modul Ajar berdasarkan kurikulum JSIT dan memberikan pelatihan agar selaras dengan arah dan misi kurikulum JSIT dan kurikulum Dinas Pendidikan Nasional, (c) Tujuan telah ditetapkan. Hal ini didasarkan pada standar program KD dan KI dari Dinas dan muatan yang ada pada standar kurikulum SDIT oleh JSIT Indonesia. JSIT Indonesia mengembangkan standar akademik nasional yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa di sekolah Islam Terpadu. Kurikulum nasional SDIT Al Karima adalah Kurikulum Merdeka. 2. Pelaksanaan Kurikulum SDIT Al Karima Sekolah yang baik adalah sekolah yang memiliki perencanaan, pelaksanaan, pembinaan dan evaluasi yang terarah dan terukur. Pelaksanaan kurikulum SDIT Al Karima Kubu Raya dilaksanakan pada saat libur akhir tahun menjelang tahun ajaran baru sebelum siswa masuk sekolah. Sebelum dilaksanakan, maka di adakan workshop atau lokakarya setiap tahun sekali guna mengevaluasi dan memperbaiki apa yang kurang dan harus diperbaiki dalam meningkatkan mutu lembaga SDIT Al Karima Kubu Raya. Adapunn hal-hal yang dibahas seperti: a). Pelatihan dan pembinaan pendidikan dari para pakar pendidikan bagi seluruh guru SDIT Al karima Kubu Raya, b). Dalam pembinaan pendidikan tersebut diadakan penjelasan tentang menyiapkan awal tahun ajaran baru 2023/2024, c).Menyelesaikan dokumen kurikulum Merdeka, seperti: administrasi pembelajaran, program satu tahun yang akan datang, dan kegiatan-kegiatan sekolah, dan termasuk kalender akademik sekolah, d). Sebagai langkah untuk melakukan refleksi dan evaluasi kegiatan belajar dan mengajar (KBM) untuk semester sebelumnya. Sehingga kekurangan yang terjadi pada semester sebelumnya dapat diperbaiki dan disempurnakan untuk semester yang akan berjalan. Setelah diselenggarakannya workshop, maka dilanjutkan dengan forum evaluasi untuk setiap program kerja yang disampaikan oleh masing-masing koordinator guru paralel (dari kelas 1 sampai kelas 6) dengan tujuan evaluasi sekaligus menggali ide-ide strategi kurikulum dari para guru dengan berdasar pengalaman satu tahun yang lalu sehingga guru paralel yang baru sudah mempunyai informasi-informasi yang lengkap serta juga akan memudahkan dalam merumuskan program-program paralel pada tahun ajaran 2023/2024. Selanjutnya, guru setiap mata pelajaran berkumpul dan diberi pengarahan dari koordinator guru mapel mengenai muatan apa saja yang harus dimasukkan dalam perangkat pembelajaran yang akan disusun, seperti: a) Kriteria ketuntasan minimal (KKM), b) Progarm tahunan (Prota), c) Program semester (Prosem), d) Silabus, dan e) Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Penyusunan perangkat pembelajaran juga harus disesuaikan dengan buku panduan (bahan ajar) yang digunakan dan juga panduan bahan ajar JSIT. Setelah itu, masing-masing guru membuat perangkat pembelajaran yang kemudian diserahkan kepada wakil kepala sekolah bidang kurikulum. Berdasarkan data penelitian di atas, maka dapat peneliti simpulkan bahwa perencanaan dan pelaksanaan kurikulum SDIT Al Karima Kubu Raya merupakan hasil perpaduan antara kurikulum Nasional dengan kurikulum standar mutu JSIT Indonesia. 3. Perbaikan Sistem Pendataan SDIT Al Karima dalam implementasi TQM SDIT Al Karima secara terus menerus dan bertahap melakukan perbaikan baik sistem informasi, sistem pembelajaran dan infrastruktur untuk mengembangkan sistem yang berorientasi pada kualitas. Sistem yang digunakan dalam aplikasi perangkat lunak ini adalah Dapodik. Dapodik (Data Pokok Pendidikan) merupakan sistem pendataan nasional dan sumber utama data pendidikan nasional yang merupakan bagian dari program perencanaan pendidikan nasional untuk mengidentifikasi manusia Indonesia yang cerdas dan berdaya 225 saing. Ketika kita tidak merencanakan pelatihan dengan benar, maka semua program yang dibuat dalam program ini akan jauh dari tujuan yang diharapkan. Informasi yang cepat, lengkap, valid, dapat diverifikasi, dan selalu diperbarui diperlukan untuk menyesuaikan program perencanaan dan pelatihan pendidikan. Dengan tersedianya informasi yang cepat, menyeluruh, valid, bertanggung jawab, dan terkini, maka proses perencanaan, pelaksanaan, pelaporan, dan evaluasi kinerja sistem pendidikan nasional dapat dilaksanakan secara terukur, berorientasi sasaran, dan efisien. Dalam konteks ini, Kementerian Pendidikan Nasional telah membentuk sistem pendataan nasional yang disebut Dapodik. Sumber data utama adalah Nomor Pokok Sekolah Nasional (NPSN) Dapodik. Sistem pendataan nasional menggunakan ID yang unik, tunggal dan valid untuk seluruh sekolah di Indonesia, mulai dari sekolah dasar dan menengah hingga perguruan tinggi negeri dan swasta. Dengan pendataan sekolah secara online, pengembangan dan pemantauan program pemerintah dalam peningkatan dan peningkatan mutu sekolah dapat tercapai, seperti program rehabilitasi sekolah, pembangunan ruas baru (USB) dan ruang kelas baru (RKB). dilaksanakan secara efektif dan efisien, tepat sasaran dan berkelanjutan. Nomor Induk Siswa Nasional (NISN) merupakan sistem pendataan siswa nasional yang memberikan nomor induk yang unik, tunggal dan valid bagi seluruh siswa sekolah dasar dan menengah di Indonesia dan juga dapat digunakan untuk jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Dengan program NISN, siswa tidak perlu mengganti nomor registrasi setiap kali berpindah jenjang atau jenis pendidikan. 1 (satu) digunakan sampai peserta didik menyelesaikan pendidikannya. NISN ini memudahkan untuk melacak sejarah perkembangan pendidikan siswa di seluruh tanah air, termasuk perubahan data terkini seperti kegiatan perpindahan, angka partisipasi siswa, dan informasi putus sekolah. NISN memungkinkan pengukuran program pendidikan nasional, pelaksanaan kegiatan bantuan sekolah (BOS), penyelenggaraan ujian nasional atau kegiatan nasional lainnya yang berkaitan dengan data siswa, dan verifikasi keakuratan data. Sementara untuk guru, diterapkan Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK), yaitu suatu sistem pendataan nasional guru dan tenaga kependidikan yang memberikan nomor identifikasi yang unik, tunggal dan valid bagi seluruh guru dan tenaga kependidikan di tempat kerja. tingkat dasar dan menengah. Dengan NUPTK, guru dan tenaga kependidikan dapat dengan mudah mengakses hak-haknya dalam program pemerintah seperti sertifikasi profesi guru, kompensasi profesi, dan keikutsertaan pada program lain yang berkaitan dengan guru dan tenaga kependidikan. Ketiga sistem pengelolaan data dasar ini merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dari data dasar penunjang data pendidikan nasional yang valid, akurat, auditable, dan terkini untuk digunakan dalam penyelenggaraan program pendidikan nasional lainnya. 4. Perbaikan Sistem Belajar Mengajar SDIT Al Karima Sistem pembelajaran yang tadinya hanya terfokus pada buku, sistem pencatatan dan penulisan, kini mengalami perubahan ke arah penerapan metode atau strategi baru dalam proses pembelajaran. Seperti Pembelajaran menggunakan infocus dan menambahkan guru pendamping sehingga ada dua guru. Untuk menciptakan suasana belajar yang efektif dalam proses belajar mengajar, guru diharapkan tidak menggunakan metode pengajaran yang menoton, tetapi setiap guru mempunyai kemampuan untuk dapat mencairkan suasana. Komunikasi dalam proses belajar mengajar merupakan komunikasi dua arah. Setiap guru membuka dan menutup pembelajaran serta berdoa sebelum dan sesudah pembelajaran. Perhatian dan motivasi selalu diberikan setiap guru memasuki kelas. SDIT Al Karima memberikan reward berupa bintang prestasi, buku catatan, pulpen atau makanan ringan untuk memotivasi siswa dalam belajar. SDIT Al Karima juga menyelenggarakan film pendidikan dua kali setahun untuk mendorong siswa secara bertahap 226 mengubah budayanya menuju budaya Islami. Selain itu, metode seperti eksplorasi, diskusi dan wawancara dilakukan untuk mengedukasi aktivitas mereka. Bentuknya dapat diungkapkan dengan memuji siswa yang dapat menjawab pertanyaan dengan benar, dan menggunakan ungkapan “memberi tepuk tangan, memberi poin, memberi bintang, bahkan terkadang memberi makanan” kepada siswa sebagai pembenaran. 5. Pemberdayaan Guru SDIT Al karima dalam implementasi TQM Evaluasi dan monitoring dilakukan secara berkala oleh kepala sekolah dalam mengembangkan kapasitas guru. Selain mengajar, guru kelas juga berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang tua mengenai perkembangan anak. SDIT Al Karima juga memiliki grup WhatsApp yang terdiri dari para guru dan orang tua siswa untuk menginformasikan segala perkembangan baik dari pusat maupun dinas agar informasi dapat tersebar dengan cepat. Implementasi TQM, telah di ukur lewat akreditasi yang telah dilakukan pada taggal 25 juli 2023. Mekanismenya yaitu SDIT Al Karima mengupload semua berkas Standar Nasional Pendidikan lewat website Sispena (sistem informasi penilaian akreditasi) sekolah berbasis web. Setelah pengupload-an selesai, maka lembaga akan didatangi oleh tim Assesor akreditasi. Setelah semua proses dilalui, dengan menunggu hasil yang akan diperoleh, maka Alhamdulillah SDIT AlKarima memperoleh akreditasi “A”. KESIMPULAN Dari hasil penelitian, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Perencanaan dan pelaksanaan kurikulum SDIT Al Karima Kubu Raya adalah hasil perpaduan antara kurikulum nasional dengan kurikulum standar mutu JSIT Indonesia. Kurikulum ini dirancang untuk menggabungkan pengetahuan umum dan pengetahuan keagamaan dalam satu paket kurikulum yang terpadu, dengan fokus pada materi esensial, pengembangan karakter, dan fleksibilitas dalam pembelajaran. Fasilitas sekolah yang lengkap dan sumber daya yang tersedia membantu dalam pelaksanaan kurikulum ini dengan baik. 2. Perbaikan sistem pendataan dan belajar mengajar dilakukan secara bertahap dengan menggunakan berbagai metode dan teknologi. Dapodik digunakan untuk menyajikan data tunggal yang representatif, sementara dalam sistem belajar mengajar, berbagai metode dan media digunakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. 3. Evaluasi dan supervisi merupakan komponen penting dalam pemberdayaan guru. Kepala Sekolah biasanya melakukan evaluasi dan supervisi terhadap guru minimal dua kali dalam setahun. Evaluasi ini bertujuan untuk meningkatkan kinerja dan profesionalisme guru, serta membantu mereka dalam mengatasi berbagai masalah pembelajaran. Supervisi juga dilakukan untuk memberikan pedoman dan motivasi kepada guru dalam meningkatkan kompetensi mereka. Dengan dilaksanakannya evaluasi dan supervisi secara berkala oleh Kepala Sekolah, diharapkan dapat tercapai tujuan meningkatkan kinerja dan profesionalisme guru, serta meningkatkan kualitas pendidikan siswa. DAFTAR PUSTAKA Abuddin Nata (2003); Manajemen Pendidikan Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Kencana. Abu-Duhou, Ibtasam., School Based Mangement, Manajemen Berbasis Sekolah, Jakarta: Logos, 2002. Adnan Sandy Setiawan (200); “Manajemen Perguruan Tinggi Di Tengah Perekonomian Pasar dan Pendidikan Yang Demokratis “, “INDONews (s)”indonews@indo-news.com. 24 Maret 2006. Ali, Mohammad, (1981), Penelitian Kependidikan Prosedur dan Strategi, (Bandung: Angkasa) 227 Arikunto, Suharsimi, (1996), Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik: cet ke Asep Kurniawan (2010); Manajemen Pendidikan Islam, Cirebon: CV. Hikmah. Asikin, Iin. “Implementasi Total Quality Management (Tqm) Di Pendidikan Tinggi.” Hikmah: Jurnal Pendidikan Islam 6, No. 2 (3 Januari 2018): 318– 34. Denim, Sudarwin, (2002), Menjadi Peneliti Kualitatif, Rancangan Metodologi, Presentasi dan Publikasi Hasil Penelitian Untuk Mahasiswa & Penelitian Pemula Bidang Ilmu Sosial, Pendidikan dan Humaniora Cet.1, (Bandung: Pustaka Setia). Fandy Tjiptono dan Anastasia Diana (1998); Total Quality Management (TQM), Andi Offset : Yogyakarta. Fatah, Nanang., Landasan Manajemen Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001. Fauzi, Ahmad. Membangun Epistemologi Pendidikan Islam Melalui Kepemimpinan Spiritual : Suatu Telaah Diskursif. 2015. http://www.seputarpengetahuan.com/2015/02/15-pengertianpendidikan menurut-para-ahli.html (diunduh pada tanggal 20 Juni 2018 pukul 13.00). Hadari Nawawi (2005); Manajemen Strategik, Gadjah Mada Pers : Yogyakarta. Hardjosoedarmo, Soewarso, (2004), Total Quality Management, (Yogyakarta: Andi Offset) Hardjosoedarmo, Soewarso., Total Quality Manajemen, Yogyakarta: Penerbit Andi, 2004. Hasibuan, Malayu S.P. (2004), Manajemen Sumber Daya Manusia, (Bandung: Remaja Rosdakarya) Jasuri. “Total Quality Management (Tqm) Pada Lembaga Pendidikan Islam.” Madaniyah 4, No. 1 (19 November 2016). Https://Journal.Stitpemalang.Ac.Id /Index.Php/Madaniyah/Article/Vi ew/60. Komariah, Aan dkk. (2010), Manajemen Pendidikan, (Bandung:Alfabeta). Kristianty, Theresia, (2005). Peningkatan Mutu Pendidikan Terpadu. Jurnal Pendidikan Penabur,http://www.bpkpenabur.or.id/files/Hal.106112%20Peningkatan%20Mutu%20Pendidik an%20Terpadu%20dengan%20 Konsep%20Deming.pdf. diakses tanggal 22 Desember 2016 Maryamah, “Total Quality Management (Tqm) Dalam Konteks Pendidikan,” 97. Maryamah, “Total Quality Management (Tqm) Dalam Konteks Pendidikan,” 98. Mulyasa, (2013), Manajemen dan Kepemimpinan Kepala Sekolahi, (Jakarta: Bumi Aksara) Mulyasa, E.,Menjadi Kepala Sekolah Profesional, Cet. 9, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007. Mundiri, Akmal. Organizational Culture Base On Total Quality Management In Islamic Educational Institution, 2017. Mursalim, “Paradigma Baru Peningkatan Mutu Satuan Pendidikan Dalam Perspektif Total Quality Management,” 138. Mutohar, Prim Masrokan, (2013), Manajemen Mutu Sekolah, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media). Nasution, M.N. Manajemen Mutu Terpadu, Bogor: Ghalia IKAPI, 2005. Prawirosentono, Suyadi., Filosofi Baru tentang Manajemen Mutu Terpadu Abad 21, Jakarta: Bumi Aksara, 2007. Qomar, Mujamil., Kesadaran Pendidikan; Sebuah Penentu Keberhasilan Pendidikan, Yogyakarta: Arruzz Media, 2012. Rivai, Veithrizal., Education Management; Analisis Teori dan Praktik, Jakarta: Raja Grafindo Persada: 2009. Rivai, Veithzal, (2012), Education Management:Analisis Teori dan Praktik, (Jakarta: Raja Grafindo Persada). Rochaety, Eti, dkk, (2010), Sistem Informasi Manajemen Pendidikan Cet.4, (Jakarta: Bumi Aksara). Salim, Syahrum, (2011), Metodologi Penelitian Kualitatif: Konsep dan Aplikasi dalam Ilmu Sosial, Keagamaan dan Pendidikan, (Bandung: Citapustaka Media). Sallis, Edward, (2006), Total Quality Management In Education, terjemahan Ahmad Ali Riyadi dan Fahrurrozi, (Yogyakarta: IRCISOD). Sallis, Edward., Total Quality Management in Education, Manajemen Mutu Pendidikan Jogjakarta: IRCiSoD, 2006. Sugiyono, (2010), Statistik untuk Penelitian, (Bandung: Alfabeta). Tirtarahardja, Umar, & S.L. La Sulo. Pengantar Pendidikan. (2010), (Jakarta: Rineka Cipta). Syahid, “Penerapan Total Quality Management Pada Program Studi Mpi Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan Uin Alauddin,” 196. Thomas B. Santoso (2001), “ Manajemen Sekolah di Masa Kini (1)”, Pendidikan. Tim Gama Jakarta, Kamus Saku Ilmiah Populer, Jakarta: Gama Press, 2010. Tjiptono, F. dan Anastasia Diana, Total Quality Management, Yogyakarta: Andi Offset, 2003. 228 Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Usman, Husaini, (2011), Manajeman, (Jakarta: Bumi Aksara) Zahroh, Aminatul, (2014), Total Quality Management: Teori & Praktik Manajemen Untuk Mendongkrak Mutu Pendidikan, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media). 229