FINANCIAL MANAGEMENT STRATEGY OF CULINARY MSMES IN RESPONDING TO ECONOMIC INSTABILITY: A CASE STUDY IN AMUNTAI SELATAN SUB-DISTRICT Ary Yudianto1 Program Studi Administrasi Bisnis Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Amuntai e-mail: aryyudianto69@gmail. Submitted: 5/8/2025. Revised: 14/8/2025. Accepted: 19/8/2025. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pengelolaan keuangan yang diterapkan oleh pelaku Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) kuliner dalam merespons ketidakstabilan ekonomi di Kecamatan Amuntai Selatan. Kabupaten HSU. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, melibatkan lima informan pelaku UMKM kuliner yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis dengan teknik reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan secara induktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pengelolaan keuangan UMKM kuliner umumnya masih bersifat sederhana dan intuitif. Perencanaan keuangan jarang dilakukan secara formal, pencatatan keuangan sebagian besar dilakukan secara manual dengan kualitas yang bervariasi, dan pengendalian keuangan lebih banyak berbasis kontrol kas dan stok harian tanpa evaluasi berbasis laporan keuangan. Hambatan utama yang dihadapi pelaku UMKM meliputi rendahnya literasi keuangan, tidak adanya pemisahan keuangan usaha dan pribadi, terbatasnya akses pembiayaan formal, serta rendahnya pemanfaatan teknologi digital. Meskipun demikian, pelaku UMKM menunjukkan daya adaptasi melalui efisiensi operasional, inovasi produk sederhana, dan pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi. Temuan ini menegaskan pentingnya peningkatan literasi keuangan, adopsi teknologi pencatatan digital, serta dukungan pendampingan dari pihak terkait untuk memperkuat ketahanan UMKM kuliner dalam menghadapi dinamika ekonomi. Kata Kunci: UMKM kuliner, pengelolaan keuangan, ketidakstabilan ekonomi, strategi adaptasi, literasi ABSTRACT This study aims to analyze the financial management strategies implemented by micro, small, and medium-sized enterprises (MSME. in the culinary sector in response to economic instability in Amuntai Selatan. The research employed a qualitative approach using a case study method, involving five culinary MSME actors selected purposively. Data were collected through in-depth interviews, observation, and documentation, and analyzed using data reduction, data presentation, and inductive conclusion drawing The results indicate that the financial management strategies of culinary MSMEs are generally still simple and intuitive. Financial planning is rarely carried out formally, financial records are mostly done manually with varying quality, and financial control mainly relies on daily cash and stock monitoring without evaluation based on financial reports. The main challenges faced by MSME actors include low financial literacy, the absence of separation between business and personal finances, limited access to formal financing, and low utilization of digital technology. Nevertheless. MSME actors demonstrate adaptability through operational efficiency, simple product innovation, and the use of social media as a promotional tool. Ary Yudianto | Financial Management Strategy . | 1 These findings highlight the importance of improving financial literacy, adopting digital financial recording technology, and strengthening support from relevant stakeholders to enhance the resilience of culinary MSMEs in facing economic dynamics. Keywords: culinary MSMEs, financial management, economic instability, adaptation strategy, financial PENDAHULUAN Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) memegang peranan penting dalam perekonomian nasional Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM . UMKM berkontribusi lebih dari 60% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan menyerap sekitar 97% tenaga kerja nasional. Di daerah, terutama pada sektor kuliner. UMKM menjadi motor penggerak ekonomi karena tingginya permintaan masyarakat terhadap produk makanan dan Sektor ini juga dikenal fleksibel dan mampu menciptakan nilai tambah dari kearifan lokal. Namun demikian. UMKM kuliner sangat rentan terhadap dinamika ketidakstabilan ekonomi yang disebabkan oleh fluktuasi harga bahan baku, inflasi, kenaikan suku bunga, perubahan kebijakan fiskal, hingga dampak krisis global seperti pandemi dan konflik geopolitik. Ketidakstabilan tersebut menjadi tantangan besar yang menuntut UMKM untuk memiliki strategi pengelolaan keuangan yang adaptif dan tangguh agar usaha tetap bertahan. Kecamatan Amuntai Selatan, sebagai salah satu wilayah di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU). Provinsi Kalimantan Selatan, memiliki geliat pertumbuhan UMKM kuliner yang cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Usaha kuliner yang dijalankan masyarakat setempat mencerminkan kekayaan budaya lokal, mulai dari warung makan tradisional, usaha kue basah dan kering, katering rumahan, hingga bisnis kuliner berbasis daring yang menjual makanan beku dan siap Namun demikian, perkembangan UMKM kuliner di wilayah ini juga menghadapi tantangan serius akibat fluktuasi ekonomi, seperti kenaikan harga bahan baku, inflasi, dan keterbatasan akses terhadap permodalan. Beberapa studi terdahulu, seperti yang dilakukan oleh (Fitriyana. Prasojo and Manajemen, no dat. , menegaskan pentingnya strategi pengelolaan keuangan yang adaptif dalam menghadapi ketidakstabilan ekonomi, terutama pada masa pasca pandemi. Strategi tersebut meliputi efisiensi biaya, pengendalian modal kerja, dan pemanfaatan teknologi digital dalam pencatatan keuangan. (Pudjowati et al. , 2. menambahkan bahwa dukungan dari pemerintah daerah, khususnya dalam bentuk pelatihan dan pendampingan, menjadi faktor penting dalam meningkatkan kapasitas keuangan pelaku UMKM. Pengelolaan keuangan yang baik menjadi aspek vital bagi keberlanjutan usaha UMKM. Manajemen keuangan tidak hanya sebatas pencatatan dan pelaporan, tetapi mencakup perencanaan arus kas, pengendalian biaya, manajemen modal kerja, serta kemampuan mengambil keputusan strategis berbasis data keuangan (Kasmir, 2. Namun, dalam praktiknya, banyak UMKM kuliner masih mengelola keuangan secara sederhana dan informal. Studi (Wibowo et al. , 2. menemukan bahwa mayoritas UMKM di perkotaan kecil tidak memiliki sistem pencatatan keuangan yang memadai, sehingga menyulitkan dalam melakukan evaluasi usaha dan mengakses pembiayaan Hal ini diperkuat oleh temuan (Winarni, 2. yang menunjukkan bahwa UMKM kuliner sering mengandalkan intuisi daripada data dalam pengambilan keputusan keuangan. Sementara itu, penelitian Fitriyana dan (Fitriyana and Prasojo, 2. menegaskan pentingnya pencatatan dan analisis keuangan sebagai dasar penyusunan strategi menghadapi tekanan ekonomi. Ketidakstabilan ekonomi memengaruhi UMKM dalam berbagai aspek, mulai dari penurunan daya beli konsumen, kenaikan biaya produksi akibat naiknya harga bahan baku, hingga terbatasnya Ary Yudianto | Financial Management Strategy . | 2 akses modal karena persyaratan administratif yang tidak mampu dipenuhi (Tambunan, 2. Strategi adaptasi yang dilakukan pelaku usaha biasanya berupa efisiensi operasional, inovasi produk, diversifikasi pasar, hingga pemanfaatan teknologi digital untuk memperluas jangkauan pasar (Sukesi and Setiawan, 2. Dalam hal pengelolaan keuangan, digitalisasi melalui aplikasi pencatatan sederhana terbukti membantu pelaku UMKM meningkatkan akurasi data keuangan dan mempercepat proses evaluasi (Aprinisa et al. , 2. Secara teoritis, pengelolaan keuangan UMKM mencakup perencanaan keuangan, pencatatan transaksi, pengendalian arus kas, dan pengambilan keputusan berbasis laporan keuangan (Anthony and Govindarajan, 2. Namun, realitas di lapangan menunjukkan adanya kendala mendasar seperti rendahnya literasi keuangan, tidak adanya pemisahan keuangan pribadi dan usaha, serta minimnya pemanfaatan teknologi pencatatan keuangan (Kusnadi, 2. Kondisi ini juga terlihat pada UMKM kuliner di Kecamatan Amuntai Selatan. Kalimantan Selatan, yang meskipun berkembang pesat, masih menghadapi tantangan dalam pengelolaan keuangan secara strategis untuk menghadapi dinamika ekonomi yang tidak menentu. Penelitian ini berupaya mengisi kesenjangan tersebut dengan mengkaji strategi pengelolaan keuangan yang diterapkan oleh UMKM kuliner di Kecamatan Amuntai Selatan dalam merespons ketidakstabilan ekonomi. Dengan pendekatan studi kasus kualitatif, penelitian ini tidak hanya bertujuan mendeskripsikan kondisi faktual di lapangan, tetapi juga memberikan kontribusi teoritis dalam literatur manajemen keuangan UMKM dan masukan praktis bagi pelaku usaha serta pemangku kebijakan di tingkat lokal. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Bagaimana strategi pengelolaan keuangan yang diterapkan oleh UMKM kuliner di Kecamatan Amuntai Selatan dalam menghadapi ketidakstabilan ekonomi? Apa saja hambatan utama yang dihadapi pelaku UMKM dalam mengelola keuangan Bagaimana efektivitas strategi tersebut dalam menjaga keberlanjutan usaha? Tujuan penelitian ini adalah untuk: Menganalisis strategi pengelolaan keuangan yang diterapkan oleh pelaku UMKM kuliner dalam merespons ketidakstabilan ekonomi. Mengidentifikasi hambatan dan tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan keuangan. Menilai efektivitas strategi yang diterapkan serta memberikan rekomendasi perbaikan bagi pelaku usaha dan pemangku kepentingan. Tinjauan Pustaka Pengelolaan Keuangan pada UMKM Pengelolaan keuangan merupakan aspek penting dalam operasional UMKM karena berfungsi sebagai dasar pengambilan keputusan usaha. Menurut (Muhammad Suras. Darwis and Syahriyah Semaun, 2. , pengelolaan keuangan mencakup perencanaan arus kas, pencatatan transaksi, pengendalian biaya, dan evaluasi kinerja keuangan. Pada praktiknya, pengelolaan keuangan UMKM seringkali dilakukan secara informal dan tidak terdokumentasi dengan baik, sehingga menyulitkan pemilik usaha dalam menganalisis kondisi keuangan secara akurat. (Suyono, 2. menekankan pentingnya sistem pengendalian manajemen, terutama pada aspek pengukuran kinerja berbasis laporan keuangan. Hal ini penting untuk UMKM dalam rangka memantau stabilitas usaha, menentukan kebutuhan modal, dan mengevaluasi efektivitas strategi bisnis. Tanpa sistem pencatatan yang memadai. UMKM rentan mengalami Ary Yudianto | Financial Management Strategy . | 3 kebocoran kas, salah alokasi modal, dan kesulitan dalam mengakses pendanaan formal. Strategi Adaptasi UMKM terhadap Ketidakstabilan Ekonomi Ketidakstabilan ekonomi, seperti inflasi, fluktuasi harga bahan baku, dan perubahan kebijakan fiskal, mendorong pelaku UMKM untuk menerapkan strategi adaptif dalam mengelola usaha. Strategi adaptasi yang umum dilakukan mencakup efisiensi operasional, substitusi bahan baku, pengurangan skala produksi, hingga pemanfaatan teknologi untuk mendukung pemasaran dan distribusi. (Fitriyana. Prasojo and Manajemen, no dat. menemukan bahwa UMKM cenderung menggunakan kombinasi strategi, mulai dari menekan biaya produksi hingga memperkuat hubungan dengan pelanggan melalui platform digital. Dalam konteks pengelolaan keuangan, strategi adaptif melibatkan pengendalian kas harian, pengelolaan stok yang lebih efisien, serta penundaan pengeluaran tidak penting untuk menjaga likuiditas usaha. Sementara itu, (Haziah Husna et al. , no dat. dalam studinya menekankan bahwa strategi manajemen risiko keuangan sangat penting dalam menghadapi krisis. UMKM perlu memprioritaskan keberlanjutan usaha daripada pertumbuhan agresif, dengan memusatkan modal pada produk yang memiliki permintaan stabil dan risiko rendah. Literasi Keuangan dan Transformasi Digital UMKM Literasi keuangan didefinisikan sebagai kemampuan memahami dan mengelola aspek keuangan dasar seperti anggaran, tabungan, utang, dan investasi. Rendahnya tingkat literasi keuangan menjadi hambatan besar dalam pengelolaan usaha mikro. Kusnadi . mencatat bahwa banyak pelaku UMKM di Indonesia belum memahami pentingnya pemisahan antara keuangan usaha dan keuangan pribadi, yang pada akhirnya menyulitkan dalam pengambilan keputusan dan pengelolaan risiko. Sejalan dengan perkembangan zaman, digitalisasi sistem keuangan menawarkan peluang bagi UMKM untuk mengelola keuangan secara lebih modern dan efisien. (Ayu Hapsari et al. , 2. menunjukkan bahwa pemanfaatan aplikasi pencatatan keuangan digital seperti Buku Warung. Kash , dan Moka POS mampu meningkatkan akurasi pencatatan serta membantu pelaku usaha dalam memonitor arus kas harian. Digitalisasi ini juga dapat memperkuat kredibilitas UMKM saat mengajukan pembiayaan ke lembaga keuangan formal. Namun, implementasi digitalisasi juga menghadapi tantangan berupa keterbatasan literasi teknologi dan akses perangkat digital. Oleh karena itu, adopsi teknologi perlu dibarengi dengan pelatihan dan pendampingan agar benar-benar efektif dalam meningkatkan kapasitas keuangan pelaku UMKM. Kontribusi Penelitian terhadap Literatur Terkait Beberapa penelitian sebelumnya telah banyak membahas pengelolaan keuangan UMKM di kota-kota besar atau daerah dengan akses internet dan perbankan yang lebih baik. Penelitian ini memberikan kontribusi tambahan pada literatur dengan memfokuskan pada konteks lokal di wilayah Kecamatan Amuntai Selatan, yang mencerminkan kondisi UMKM di daerah berkembang. Penekanan pada faktor kearifan lokal, jejaring sosial, dan penggunaan teknologi sederhana menjadikan kajian ini relevan dalam memperluas perspektif tentang strategi keuangan adaptif berbasis komunitas. Dengan demikian, tinjauan pustaka ini menjadi landasan teoritis yang kuat dalam menjelaskan konteks, dinamika, serta pentingnya strategi pengelolaan keuangan UMKM kuliner dalam merespons ketidakstabilan ekonomi secara adaptif dan kontekstual. Ary Yudianto | Financial Management Strategy . | 4 Profil Wilayah Penelitian: Kecamatan Amuntai Selatan Kecamatan Amuntai Selatan merupakan salah satu dari sebelas kecamatan yang ada di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU). Provinsi Kalimantan Selatan. Wilayah ini memiliki karakteristik sebagai daerah semi-perkotaan dengan aktivitas ekonomi masyarakat yang didominasi oleh perdagangan kecil, pertanian, dan jasa, termasuk sektor kuliner yang berkembang pesat. UMKM kuliner di Amuntai Selatan tersebar di berbagai desa dan kelurahan, dengan bentuk usaha antara lain warung makan keluarga, penjual kue basah dan kering, katering rumahan, serta pelaku usaha makanan olahan yang dipasarkan secara online. Wilayah ini memiliki akses jalan yang cukup baik dan dekat dengan pusat kota Amuntai, sehingga mendukung distribusi bahan baku dan produk jadi. Sebagai pusat pertumbuhan ekonomi lokal. UMKM kuliner di wilayah ini memainkan peran penting dalam membuka lapangan kerja, khususnya bagi ibu rumah tangga dan pemuda. Namun, mereka juga menghadapi kendala seperti fluktuasi harga bahan pokok, terbatasnya pelatihan keuangan, dan akses yang minim terhadap pembiayaan dari perbankan. Dalam konteks penelitian ini. Amuntai Selatan menjadi lokasi yang strategis karena representatif dalam menunjukkan dinamika ekonomi mikro dan bagaimana pelaku UMKM berupaya menjaga keberlangsungan usahanya di tengah ketidakpastian ekonomi nasional dan global. Profil Informan Penelitian Penelitian ini melibatkan lima orang informan yang merupakan pelaku Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) kuliner di Kecamatan Amuntai Selatan. Informan dipilih menggunakan teknik purposive sampling, dengan kriteria utama: . telah menjalankan usaha minimal dua tahun, . terlibat langsung dalam pengelolaan keuangan, dan . bersedia memberikan informasi secara Kode Jenis Usaha Lama Sistem Keuangan Teknologi Informan Usaha Digunakan Informan A Warung makan 5 tahun Manual, buku catatan WhatsApp. Facebook Informan B Jualan kue dan 3 tahun Campuran manual dan ShopeeFood. IG jajanan pasar Informan C Katering rumahan 7 tahun Pencatatan manual WhatsApp Informan D Frozen food 4 tahun Aplikasi AuBuku TikTok, berbasis daring WarungAy Marketplace Informan E Usaha kopi dan 2,5 tahun Manual dengan Instagram. Canva makanan ringan spreadsheet Excel Setiap informan memiliki pendekatan berbeda dalam pengelolaan keuangan, namun terdapat kesamaan dalam strategi menghadapi ketidakstabilan ekonomi, seperti efisiensi biaya, promosi digital, dan penyesuaian harga secara fleksibel. METODE Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji strategi pengelolaan keuangan Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) kuliner dalam merespons ketidakstabilan ekonomi di Kecamatan Amuntai Selatan. Kabupaten Hulu Sungai Utara. Masalah yang diteliti dalam studi ini adalah bagaimana strategi pengelolaan keuangan yang diterapkan pelaku UMKM kuliner dalam menghadapi dinamika ekonomi yang tidak stabil, serta hambatan-hambatan yang mereka hadapi dalam proses tersebut. Penelitian ini juga berfokus untuk mengevaluasi efektivitas strategi keuangan yang digunakan dalam Ary Yudianto | Financial Management Strategy . | 5 menjaga kelangsungan usaha. Sasaran penelitian adalah pelaku UMKM kuliner di Kecamatan Amuntai Selatan yang telah menjalankan usaha minimal selama dua tahun dan terlibat langsung dalam pengelolaan keuangan Informan dipilih dengan teknik purposive sampling, yang memenuhi kriteria tersebut, sehingga mampu memberikan informasi mendalam dan relevan dengan fokus penelitian. Sasaran penelitian meliputi pemilik usaha warung makan, katering rumahan, penjual jajanan pasar, usaha frozen food daring, dan usaha kuliner berbasis media sosial. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam . n-depth intervie. , observasi langsung di lokasi usaha, dan studi dokumentasi. Wawancara dilakukan secara semiterstruktur untuk memberikan fleksibilitas kepada informan dalam menjelaskan pengalaman dan strategi pengelolaan keuangan mereka. Observasi digunakan untuk memperoleh data faktual terkait praktik usaha, sistem pencatatan, dan pengelolaan operasional. Sementara itu, studi dokumentasi dilakukan dengan mengumpulkan dokumen pendukung seperti catatan transaksi sederhana, data dari dinas terkait, dan peraturan atau kebijakan yang relevan. Teknik analisis data menggunakan pendekatan kualitatif dengan model analisis interaktif Miles dan Huberman yang mencakup tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Data yang diperoleh dari berbagai sumber dianalisis secara tematik untuk mengidentifikasi pola strategi pengelolaan keuangan, hambatan yang dihadapi, serta efektivitas respons pelaku UMKM terhadap ketidakstabilan ekonomi. Validitas data diperkuat dengan teknik triangulasi sumber, teknik, dan waktu, serta melalui member check dengan informan. PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaku UMKM kuliner di Kecamatan Amuntai Selatan telah mengembangkan berbagai strategi pengelolaan keuangan untuk merespons ketidakstabilan ekonomi yang terjadi. Strategi-strategi ini berkaitan erat dengan upaya menjaga kelangsungan usaha, mengendalikan arus kas, serta menekan biaya produksi di tengah naiknya harga bahan baku dan menurunnya daya beli konsumen. Secara umum, hasil penelitian ini menjawab pertanyaan penelitian bahwa pelaku UMKM kuliner tidak hanya bergantung pada satu strategi, melainkan menerapkan kombinasi pendekatan manajemen keuangan, inovasi produk, dan efisiensi operasional. Pertama, pelaku UMKM kuliner cenderung memprioritaskan strategi efisiensi biaya, terutama dengan mengatur ulang porsi bahan baku dan memilih pemasok lokal untuk menekan ongkos Temuan ini sesuai dengan hasil penelitian (Fitriyana and Prasojo, 2. yang menunjukkan bahwa efisiensi biaya merupakan langkah adaptasi utama UMKM dalam menghadapi krisis ekonomi. Beberapa pelaku usaha juga melakukan substitusi bahan baku dengan kualitas serupa namun harga lebih terjangkau, tanpa mengorbankan kualitas produk. Hal ini mendukung teori manajemen biaya (Sadono, 2. bahwa fleksibilitas dalam penggunaan input produksi menjadi kunci ketahanan usaha mikro di saat gejolak ekonomi. Kedua, dalam aspek pencatatan keuangan, sebagian besar UMKM kuliner mulai memanfaatkan aplikasi sederhana untuk membantu mencatat transaksi harian dan memantau arus kas. Temuan ini mengonfirmasi hasil studi (Aprinisa et al. , 2. yang menyebutkan bahwa adopsi teknologi keuangan digital, meskipun masih sederhana, mampu meningkatkan akurasi data keuangan UMKM dan mendukung pengambilan keputusan berbasis data. Namun demikian, masih terdapat sebagian pelaku usaha yang mencatat secara manual atau bahkan mengandalkan ingatan, sehingga berpotensi menimbulkan kesalahan dalam pencatatan dan kesulitan dalam evaluasi keuangan. Hal ini Ary Yudianto | Financial Management Strategy . | 6 memperkuat temuan (Wibowo et al. , 2. bahwa literasi keuangan pelaku UMKM masih menjadi tantangan utama dalam penguatan manajemen keuangan. Ketiga, dari sisi pengelolaan modal kerja, pelaku UMKM cenderung menahan ekspansi usaha dan memusatkan modal pada produk-produk yang memiliki permintaan stabil. Strategi ini merupakan bentuk manajemen risiko yang sejalan dengan teori manajemen risiko keuangan (Wahyudin, 2. yang menyebutkan bahwa dalam kondisi ketidakstabilan ekonomi. UMKM lebih mengutamakan keberlanjutan usaha dibandingkan pertumbuhan agresif. Beberapa pelaku usaha juga memilih untuk memperluas jaringan pelanggan melalui media sosial guna menstabilkan pendapatan. Hal ini sejalan dengan pendapat (Kotler and Keller, 2. mengenai pentingnya adaptasi strategi pemasaran berbasis digital dalam menghadapi tantangan ekonomi modern. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa hambatan utama pelaku UMKM kuliner adalah keterbatasan literasi keuangan dan lemahnya akses terhadap sumber pembiayaan formal. Pelaku usaha mengaku sulit memperoleh pinjaman dari lembaga keuangan karena tidak memiliki laporan keuangan yang memenuhi persyaratan administratif. Temuan ini mendukung pendapat (Tambunan, 2. bahwa akses permodalan UMKM masih menjadi isu klasik yang belum sepenuhnya Selain itu, teori (Anthony and Govindarajan, 2. tentang pentingnya sistem kontrol manajemen juga tercermin dalam kenyataan bahwa UMKM dengan sistem pencatatan lebih baik cenderung memiliki strategi adaptasi keuangan yang lebih efektif. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini mengonfirmasi teori-teori yang telah ada mengenai pengelolaan keuangan UMKM dalam menghadapi dinamika ekonomi. Namun, penelitian ini juga memberikan modifikasi bahwa dalam konteks daerah seperti Amuntai Selatan, kekuatan jejaring sosial lokal dan penggunaan teknologi sederhana menjadi faktor penentu dalam strategi adaptasi Hal ini menambah dimensi baru pada literatur pengelolaan keuangan UMKM, bahwa peran komunitas dan kearifan lokal tidak bisa diabaikan dalam membangun ketahanan usaha. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya menjawab rumusan masalah terkait strategi pengelolaan keuangan UMKM kuliner, tetapi juga memberikan kontribusi pada pengayaan teori dengan menekankan pentingnya kombinasi literasi keuangan, teknologi sederhana, dan dukungan komunitas dalam menghadapi ketidakstabilan ekonomi. Diskusi Teoritis dan Implikasi Praktis Temuan penelitian ini mengonfirmasi teori pengelolaan keuangan UMKM (Suyono, 2. bahwa sistem pencatatan, pengendalian biaya, dan manajemen kas merupakan fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan usaha. Pelaku UMKM yang memiliki sistem pencatatanAimeskipun sederhanaAicenderung lebih siap merespons perubahan ekonomi dibandingkan mereka yang tidak memiliki catatan sama sekali. Selain itu, konsep adaptasi usaha dalam situasi krisis (Haziah Husna et al. , no date. Ayu Hapsari et al. , 2. juga terbukti relevan. Pelaku UMKM kuliner di Amuntai Selatan tidak hanya bergantung pada strategi tunggal, tetapi menerapkan kombinasi efisiensi bahan baku, penyesuaian skala produksi, dan penggunaan media sosial sebagai sarana promosi. Temuan ini menegaskan bahwa strategi keuangan harus bersifat fleksibel, berbasis konteks, dan terintegrasi dengan pendekatan operasional serta pemasaran. Yang menarik, hasil penelitian ini juga mengindikasikan bahwa kekuatan jejaring sosial lokal dan kearifan komunitasAiyang sering diabaikan dalam literaturAiberperan penting dalam ketahanan Pelaku usaha saling berbagi informasi harga bahan pokok, berbagi pelanggan, hingga saling bantu promosi lewat grup WhatsApp atau Facebook lokal. Ini memperluas teori klasik pengelolaan Ary Yudianto | Financial Management Strategy . | 7 keuangan UMKM dengan memasukkan faktor sosial-komunitas sebagai bagian dari sistem adaptasi. Penelitian ini menghasilkan beberapa implikasi praktis yang dapat digunakan oleh pelaku usaha, instansi pemerintah, maupun lembaga pendamping UMKM, antara lain: Bagi Pelaku UMKM: Penting untuk mulai menggunakan aplikasi pencatatan keuangan meskipun sederhana. Menerapkan pemisahan antara keuangan pribadi dan keuangan usaha. Memanfaatkan media sosial secara konsisten sebagai sarana promosi dan membangun hubungan pelanggan. Bagi Pemerintah Daerah dan Dinas Koperasi/UMKM: Perlu menyediakan pelatihan literasi keuangan berbasis lokal, dengan pendekatan praktis dan berbasis studi kasus. Mendorong kemitraan dengan lembaga keuangan mikro untuk memudahkan akses pembiayaan formal. Mengembangkan program pendampingan digitalisasi UMKM secara berkala. Bagi Peneliti Selanjutnya: Perlu dilakukan penelitian lanjutan yang mengkaji perbandingan antara UMKM yang telah digital dan belum digital. Studi kuantitatif bisa dikembangkan untuk mengukur dampak strategi keuangan terhadap keberlanjutan usaha secara numerik. SIMPULAN Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi pengelolaan keuangan yang diterapkan oleh UMKM kuliner di Kecamatan Amuntai Selatan dalam merespons ketidakstabilan ekonomi. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa pelaku UMKM kuliner pada umumnya mengembangkan strategi pengelolaan keuangan yang menitikberatkan pada efisiensi biaya, pengendalian arus kas, serta manajemen risiko modal kerja. Upaya efisiensi dilakukan melalui pengaturan bahan baku, pemilihan pemasok lokal, dan substitusi bahan baku yang lebih terjangkau tanpa mengorbankan kualitas produk. Sementara itu, dalam aspek pencatatan keuangan, sebagian pelaku usaha telah memanfaatkan aplikasi sederhana untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis data, meskipun masih terdapat kendala pada literasi keuangan dan konsistensi pencatatan. Strategi pengelolaan modal yang dilakukan cenderung berhati-hati dengan fokus pada produkproduk unggulan yang memiliki permintaan stabil, sekaligus memanfaatkan media sosial untuk memperluas jaringan pasar dan menjaga keberlanjutan pendapatan. Hambatan utama yang dihadapi UMKM adalah rendahnya literasi keuangan, keterbatasan dalam penyusunan laporan keuangan formal, dan sulitnya akses pembiayaan formal. Esensi temuan penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan strategi pengelolaan keuangan UMKM kuliner tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis dalam mengelola keuangan, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh kemampuan adaptasi melalui pemanfaatan teknologi sederhana, kekuatan jejaring sosial lokal, serta kearifan lokal yang dimiliki pelaku usaha. Temuan ini memberikan pokok pikiran baru bahwa integrasi teknologi sederhana dan jejaring komunitas dapat menjadi elemen penting dalam membangun ketahanan usaha di daerah yang menghadapi dinamika ekonomi yang tidak menentu. Ary Yudianto | Financial Management Strategy . | 8 Saran dan Penutup Saran Berdasarkan hasil temuan dan diskusi yang telah dipaparkan, beberapa saran yang dapat disampaikan adalah: Peningkatan Literasi Keuangan: Pelaku UMKM perlu dibekali dengan pemahaman dasar manajemen keuangan, termasuk pentingnya pencatatan transaksi, perencanaan arus kas, dan pengendalian Digitalisasi Keuangan yang Bertahap dan Terarah: Pemerintah daerah dan komunitas pendamping UMKM perlu mendorong digitalisasi sistem keuangan dengan pendekatan inklusif, seperti pelatihan aplikasi kas sederhana dan penggunaan e-wallet. Penguatan Jejaring Sosial dan Komunitas Usaha: Kolaborasi antar-UMKM dapat ditingkatkan melalui forum-forum lokal berbasis komunitas, baik luring maupun daring, untuk berbagi praktik baik dan mengatasi persoalan bersama. Penutup Penelitian ini mengungkapkan bahwa strategi pengelolaan keuangan yang dilakukan oleh UMKM kuliner di Kecamatan Amuntai Selatan berfokus pada efisiensi biaya, pengendalian kas, serta adaptasi digital dalam skala sederhana. Meskipun masih banyak pelaku usaha yang mencatat secara manual dan menghadapi kendala literasi keuangan, namun adanya semangat adaptasi dan kekuatan komunitas lokal menjadi modal penting untuk bertahan dalam kondisi ekonomi yang tidak menentu. Dengan demikian, strategi pengelolaan keuangan yang baik tidak hanya bertumpu pada aspek teknis, tetapi juga harus mempertimbangkan konteks sosial dan budaya lokal. Oleh karena itu, pendekatan pembinaan UMKM di masa depan perlu mengintegrasikan aspek literasi, teknologi, dan nilai komunitas secara seimbang untuk menciptakan UMKM yang tangguh dan berdaya saing. DAFTAR PUSTAKA