VOLUME 4 No. https://jurnal-adaikepri. id/index. php/JUPADAI PEMBINAAN TOLERANSI DAN KEPEDULIAN SOSIAL SISWA SMA MELALUI PENDIDIKAN SOSIAL BERBASIS EKSTRAKURIKULER M Khoiri1. Zainal Abidin2. Arda Torana3. Aqshal Arlian Raya4. Abdul Rahmad5. Rizky Bintang Setiawan6. Syahputra Perdana7. Tias Sil Romansyah8. Iskandar9 1,2,3,4,5,6,7,8,9Universitas Muhammadiyah Mahakarya Aceh 1,2,3,4,5,6,7,8,9Fakultas Ilmu Pendidikan *e-mail: mkhoiri@ummah. ABSTRACT This study aims to develop a model of social education through extracurricular activities in the senior high school (SMA) environment. The main focus is on the internalization of empathy, tolerance, and social awareness as integral aspects of character development. The research was conducted at SMAS 5 Muhammadiyah Takengon using a descriptive qualitative case study approach. Observations and interviews revealed that extracurricular activities such as Scouts. Youth Red Cross (PMR). Islamic Spiritual Club (Rohi. , and Nature Lovers significantly contributed to shaping studentsAo social attitudes. These activities provided experiential learning opportunities that had a substantial impact on studentsAo social sensitivity, interpersonal skills, and sense of responsibility toward others and the environment. However, several challenges were identified in implementation, including lack of integrated planning, low student participation, and limited Therefore, a systematic and collaborative approach is required to optimize extracurricular activities as a key vehicle for character education. Keywords: social education, extracurricular activities, student character. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model pendidikan sosial melalui kegiatan ekstrakurikuler di lingkungan Sekolah Menengah Atas (SMA). Fokus utama adalah internalisasi nilai empati, toleransi, dan kepedulian sosial sebagai bagian dari pembentukan karakter siswa. Penelitian dilakukan di SMAS 5 Muhammadiyah Takengon dengan pendekatan kualitatif deskriptif studi kasus. Hasil observasi dan wawancara menunjukkan bahwa kegiatan ekstrakurikuler seperti Pramuka. PMR. Rohis, dan Pecinta Alam secara efektif berkontribusi dalam membentuk sikap sosial siswa. Kegiatan tersebut memberi ruang pengalaman langsung yang berdampak signifikan terhadap peningkatan kepekaan sosial, keterampilan interpersonal, dan tanggung jawab siswa terhadap lingkungan dan sesama. Meski demikian, ditemukan berbagai tantangan dalam implementasi seperti minimnya perencanaan terintegrasi, rendahnya partisipasi siswa, dan keterbatasan sumber daya. Oleh karena itu, dibutuhkan pendekatan yang sistematis dan kolaboratif untuk menjadikan kegiatan ekstrakurikuler sebagai wahana utama dalam pendidikan karakter. Kata Kunci: pendidikan sosial, ekstrakurikuler, karakter siswa. PENDAHULUAN Pendidikan tidak hanya berperan dalam mengembangkan kemampuan kognitif siswa, tetapi juga memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk karakter dan kepribadian yang utuh. Tugas pendidikan juga berkontribusi dalam membentuk dan mengembangkan potensi dasar perilaku manusia yang baik, kemudian memperkuat dan meningkatkan potensi tersebut, kemudian terus menjadi baik (Gultom et al. , 2. Dalam konteks tersebut, pendidikan sosial menjadi aspek penting yang harus diperhatikan oleh lembaga pendidikan, terutama di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA). Siswa SMA berada pada fase perkembangan remaja yang sangat krusial, di mana nilai-nilai sosial seperti empati, toleransi, dan kepedulian mulai terbentuk secara lebih matang. Oleh karena itu, pendidikan sosial di jenjang ini harus dirancang tidak hanya melalui kegiatan pembelajaran di dalam kelas, tetapi juga melalui pendekatan yang lebih aplikatif dan Menghadapi tantangan zaman yang ditandai oleh globalisasi dan pesatnya perkembangan teknologi informasi, generasi muda dituntut untuk memiliki kemampuan E-ISSN 2830-5620 VOLUME 4 No. https://jurnal-adaikepri. id/index. php/JUPADAI yang lebih dari sekadar kecerdasan akademik, mereka juga perlu dibekali dengan kesadaran sosial yang kuat (Khoiri et al. , 2. Kegiatan ekstrakurikuler merupakan salah satu sarana strategis yang dapat dimanfaatkan untuk menanamkan nilai-nilai sosial secara lebih konkret dan kontekstual. Kegiatan ekstrakurikuler memungkinkan siswa mengembangkan minat, kemampuan, keterampilan, dan interaksi sosialnya di luar kelas (Windy Antika et al. , 2. Melalui keterlibatan aktif dalam berbagai jenis kegiatan di luar jam pelajaran, siswa memiliki ruang untuk berinteraksi secara langsung dengan teman sebaya, masyarakat, dan lingkungan sekitarnya. Kegiatan seperti organisasi siswa, klub sosial, kegiatan keagamaan, pengabdian masyarakat, hingga kegiatan peduli lingkungan memberikan pengalaman nyata yang dapat memperkuat kesadaran sosial siswa. Dalam kegiatan tersebut, mereka belajar untuk bekerja sama, menghargai perbedaan, serta mengambil peran aktif dalam menyelesaikan persoalan sosial yang mereka hadapi. Pentingnya pendidikan sosial dalam pembentukan karakter telah menjadi sorotan dalam berbagai kebijakan pendidikan di Indonesia. Fungsi pendidikan dalam perubahan sosial dalam rangka meningkatkan kemampuan peserta didik yang analisis kritis berperan untuk menanamkan keyakinankeyakinan dan nilai-nilai baru tentang cara berpikir manusia (Indy, 2. Kurikulum Merdeka, misalnya, secara eksplisit mendorong pembelajaran yang berpihak pada penguatan profil pelajar Pancasila, yang salah satu dimensi utamanya adalah gotong royong dan berkebhinekaan global. Hal ini menunjukkan bahwa lembaga pendidikan tidak cukup hanya mentransfer ilmu, tetapi juga harus menjadi ruang untuk membentuk warga negara yang berempati, toleran, dan peduli terhadap kondisi sosial di sekitarnya. Dalam hal ini, ekstrakurikuler menjadi jembatan yang menghubungkan teori dengan praktik kehidupan sosial. Pendidikan sosial melalui kegiatan ekstrakurikuler masih sering dipandang sebagai pelengkap atau kegiatan tambahan belaka. Tidak jarang, pelaksanaan ekstrakurikuler kurang terencana dengan baik, tidak terintegrasi dengan visi pendidikan karakter sekolah, dan minim evaluasi dampaknya terhadap perkembangan sosial siswa. Akibatnya, potensi besar ekstrakurikuler sebagai media pendidikan sosial belum termanfaatkan secara optimal. Padahal, jika dikelola secara sistematis dan berbasis nilai, kegiatan ini dapat menjadi sarana yang efektif untuk menumbuhkan empati, toleransi, dan kepedulian sosial di kalangan pelajar. Empati sebagai kemampuan memahami dan merasakan perasaan orang lain sangat penting dalam kehidupan sosial. Siswa yang memiliki empati akan lebih mudah menjalin relasi yang sehat dan harmonis dengan orang lain (Mastina & Imtihana, 2. Sementara itu, toleransi merupakan kemampuan menerima dan menghargai perbedaan, baik dalam aspek budaya, agama, maupun pendapat. Nilai ini menjadi sangat penting di tengah keberagaman masyarakat Indonesia yang multikultural. Kepedulian sosial, sebagai bentuk tindakan nyata terhadap kebutuhan dan permasalahan sosial di sekitarnya, merupakan indikator keberhasilan pendidikan sosial yang tidak hanya bersifat kognitif tetapi juga afektif dan psikomotorik. Dalam konteks sekolah, ketiga nilai tersebut tidak akan tumbuh secara otomatis hanya melalui ceramah atau materi Diperlukan pengalaman belajar yang nyata, menyentuh kehidupan siswa, serta memberi mereka ruang untuk merefleksikan dan merespons secara aktif. Oleh karena itu, kegiatan ekstrakurikuler menjadi wahana yang relevan untuk melatih kemampuan sosial siswa secara langsung. Saat siswa dilibatkan dalam kegiatan kemanusiaan, kerja tim, atau proyek sosial, mereka tidak hanya memahami konsep empati atau toleransi, tetapi juga mengalami dan mempraktikkannya secara langsung. E-ISSN 2830-5620 VOLUME 4 No. https://jurnal-adaikepri. id/index. php/JUPADAI Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model pendidikan sosial melalui kegiatan ekstrakurikuler yang terstruktur, terukur, dan berorientasi pada penguatan nilai-nilai sosial. Melalui kolaborasi antara Dosen, guru, dan siswa SMA, program ini akan merancang dan mengimplementasikan kegiatan ekstrakurikuler yang mampu merangsang refleksi sosial, memperkuat interaksi antarpersonal, serta meningkatkan rasa tanggung jawab sosial siswa. Dengan demikian, diharapkan siswa tidak hanya menjadi pribadi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga peka terhadap dinamika sosial yang terjadi di sekitarnya. Dengan latar belakang tersebut, penting untuk dilakukan suatu upaya sistematis dalam menggali dan mengembangkan potensi kegiatan ekstrakurikuler sebagai media pendidikan sosial. Melalui penelitian dan implementasi berbasis PKM ini, diharapkan lahir sebuah model pendekatan pembelajaran sosial di lingkungan SMA yang tidak hanya relevan dengan kebutuhan zaman, tetapi juga mampu menjawab tantangan pendidikan karakter di era globalisasi. Pendidikan sosial yang hidup dan menyatu dalam keseharian siswa akan menjadi pondasi kuat dalam membentuk generasi muda yang berdaya, berakhlak, dan bertanggung jawab terhadap masa depan bangsanya. METODE Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan dan menganalisis proses pendidikan sosial melalui kegiatan ekstrakurikuler di lingkungan Sekolah Menengah Atas (SMA), serta menilai pengaruhnya terhadap sikap toleransi dan kepedulian sosial siswa. Penelitian ini dilaksanakan di SMAS 5 Muhammadiyah, yang berada di wilayah Takengon. Aceh Tengah. Sekolah ini dipilih secara purposive karena memiliki program ekstrakurikuler aktif dan beragam. Subjek penelitian adalah siswa-siswi kelas X dan XI yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler seperti Pramuka. PMR. Rohis. Pecinta Alam. Objek penelitian adalah bentuk kegiatan ekstrakurikuler yang mengandung nilai-nilai sosial, serta proses internalisasi nilai empati, toleransi, dan kepedulian sosial dalam kegiatan tersebut. HASIL DAN PEMBAHASAN Eksistensi Ekstrakurikuler sebagai Wahana Pendidikan Sosial Berdasarkan hasil observasi di SMAS 5 Muhammadiyah Takengon, kegiatan ekstrakurikuler di sekolah ini tergolong aktif dan bervariasi. Ekstrakurikuler yang berperan signifikan dalam pendidikan sosial antara lain Pramuka. PMR (Palang Merah Remaj. Rohis (Rohani Isla. , dan Pecinta Alam. Kegiatan-kegiatan ini bukan hanya berfungsi sebagai ajang pengembangan minat dan bakat, melainkan juga sebagai sarana efektif dalam pembentukan karakter sosial siswa. Ekstrakurikuler Pramuka dan Pecinta Alam, misalnya, secara rutin mengadakan kegiatan camping, bakti sosial, dan aksi peduli Dalam kegiatan ini, siswa dilatih untuk bekerja sama dalam kelompok, memecahkan masalah secara kolektif, serta berbagi peran dalam tanggung jawab sosial. Proses ini menginternalisasi nilai gotong royong, kepedulian, dan tanggung jawab terhadap sesama dan lingkungan. Ekstrakurikuler Pramuka, misalnya, sangat menonjol dalam menanamkan nilainilai kerja sama, disiplin, dan tanggung jawab sosial. Kegiatan seperti latihan rutin, perkemahan, simulasi bencana, dan kegiatan pengabdian masyarakat merupakan bagian dari program yang dijalankan. Dalam setiap latihan, siswa diajak untuk menyusun strategi E-ISSN 2830-5620 VOLUME 4 No. https://jurnal-adaikepri. id/index. php/JUPADAI kelompok, menyelesaikan tantangan secara bersama-sama, serta mengambil peran kepemimpinan secara bergantian. Hal ini secara tidak langsung melatih kemampuan mereka dalam berempati terhadap anggota tim, menghargai perbedaan pendapat, dan menumbuhkan solidaritas. Peran aktif siswa dalam menyelesaikan tugas kelompok juga menjadi indikator bahwa mereka telah menginternalisasi nilai-nilai sosial melalui praktik Sementara itu, ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) menjadi medium yang sangat efektif dalam memperkenalkan siswa kepada isu-isu kemanusiaan dan kesehatan Kegiatan PMR yang rutin dilaksanakan meliputi pelatihan pertolongan pertama, edukasi kesehatan, donor darah, dan kampanye kebersihan lingkungan. Dalam pelaksanaannya, siswa tidak hanya dituntut memahami teori, tetapi juga terlibat langsung dalam tindakan nyata, seperti menangani simulasi korban luka, menyosialisasikan cuci tangan pakai sabun, hingga terjun langsung membantu pelaksanaan donor darah. Interaksi ini mendorong siswa untuk lebih peduli terhadap sesama, memiliki rasa tanggung jawab sosial, serta tumbuh rasa kepedulian terhadap penderitaan orang lain. Ekstrakurikuler Rohis (Rohani Isla. memainkan peran penting dalam membentuk nilai-nilai moral dan etika sosial siswa. Meskipun fokus utamanya adalah pendidikan keagamaan, namun kegiatan Rohis di SMAS 5 Muhammadiyah juga mengedepankan nilai inklusivitas dan keterbukaan. Kegiatan yang dilakukan meliputi kajian rutin, bakti sosial, pengajian lintas kelas, dan kampanye akhlak mulia di lingkungan Rohis juga menjadi wadah yang efektif dalam melatih siswa berkomunikasi santun, menjaga hubungan sosial yang harmonis, serta mempromosikan toleransi dalam bingkai nilai-nilai spiritual. Bahkan dalam beberapa kegiatan lintas organisasi, anggota Rohis menunjukkan sikap terbuka dan kolaboratif, seperti dalam kegiatan memperingati Hari Besar Islam yang melibatkan siswa dari berbagai latar belakang minat dan Sementara itu. Pecinta Alam menjadi ekstrakurikuler yang unik karena menggabungkan aspek petualangan, ketangguhan fisik, dan kecintaan terhadap Aktivitas seperti hiking, penanaman pohon, pembersihan sungai, dan kampanye pelestarian alam memberi pengalaman otentik bagi siswa untuk berinteraksi dengan alam sekaligus membangun kesadaran ekosentris. Nilai kepedulian terhadap lingkungan ini merupakan bagian dari pendidikan sosial yang luas, karena menumbuhkan rasa tanggung jawab bukan hanya terhadap sesama manusia, tetapi juga terhadap makhluk hidup dan ekosistem secara keseluruhan. Hasil observasi adalah bagaimana aktivitas-aktivitas tersebut saling berkelindan dalam membentuk identitas sosial siswa secara bertahap. Kegiatan yang awalnya hanya dianggap sebagai "kegiatan tambahan", justru menjadi ladang belajar yang sangat kuat bagi siswa dalam mengasah kemampuan sosial, seperti kemampuan bekerjasama, menyelesaikan konflik, menghargai perbedaan, hingga merasakan penderitaan dan kebutuhan orang lain. Para siswa yang aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler menunjukkan tingkat partisipasi yang tinggi dalam kegiatan sosial sekolah dan memiliki hubungan interpersonal yang lebih baik dibandingkan siswa yang pasif. Data yang diperoleh dari dokumentasi sekolah menunjukkan bahwa jumlah siswa yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler sosial meningkat setiap tahunnya. Tahun ajaran 2024/2025, sebanyak 75% siswa kelas X dan XI aktif dalam minimal satu kegiatan ekstrakurikuler, dan 42% dari mereka mengikuti dua atau lebih kegiatan. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran siswa terhadap pentingnya kegiatan sosial semakin E-ISSN 2830-5620 VOLUME 4 No. https://jurnal-adaikepri. id/index. php/JUPADAI meningkat, terutama jika kegiatan tersebut dikemas dengan menarik dan memberi ruang ekspresi bagi siswa. Kegiatan ekstrakurikuler juga menjadi tempat pembelajaran lintas kelas dan lintas usia. Siswa kelas X belajar dari kakak kelas XI atau XII dalam proses mentoring informal. Di sinilah nilai-nilai sosial seperti saling menghargai, berbagi pengalaman, dan belajar mendengar berkembang secara alami tanpa tekanan formal. Ekstrakurikuler memungkinkan proses sosial berjalan dalam suasana yang menyenangkan, jauh dari tekanan akademik, dan bersifat partisipatif sehingga nilai-nilai sosial lebih mudah tertanam. Eksistensi ekstrakurikuler di SMAS 5 Muhammadiyah Takengon tidak hanya bersifat administratif atau simbolis, tetapi telah menjadi wahana strategis dalam mendidik dan membentuk karakter sosial siswa secara sistematis dan berkelanjutan. Keberhasilan ini tentu tidak lepas dari dukungan pihak sekolah yang menyediakan ruang, waktu, serta pendampingan pembina yang terlatih dan peduli terhadap perkembangan sosial siswa. Internalisasi Nilai Empati Hasil wawancara mendalam dengan siswa peserta PMR dan kegiatan sosial sekolah, diperoleh gambaran bahwa mereka merasa lebih peka terhadap kondisi sosial setelah mengikuti berbagai kegiatan yang melibatkan interaksi langsung dengan Misalnya, kegiatan donor darah, penggalangan dana untuk korban bencana, dan kunjungan ke panti asuhan. Dalam kegiatan tersebut, siswa mengaku belajar memahami kesulitan orang lain dan terdorong untuk membantu tanpa mengharapkan Empati berkembang tidak hanya melalui instruksi verbal, tetapi melalui pengalaman langsung dalam melihat penderitaan atau kebutuhan orang lain, dan meresponsnya melalui tindakan nyata. Ini menunjukkan bahwa nilai empati lebih mudah ditanamkan melalui pengalaman sosial ketimbang hanya melalui pembelajaran klasikal. Nilai empati merupakan elemen penting dalam pendidikan sosial, terutama di jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA), saat peserta didik berada dalam masa perkembangan emosional dan sosial yang dinamis. Di SMAS 5 Muhammadiyah Takengon, internalisasi empati tidak hanya diajarkan secara teoritis dalam mata pelajaran seperti Pendidikan Pancasila atau Agama, tetapi ditumbuhkan secara nyata melalui keterlibatan siswa dalam beragam kegiatan ekstrakurikuler yang menyentuh aspek-aspek kemanusiaan dan sosial. Melalui kegiatan ekstrakurikuler seperti Palang Merah Remaja (PMR), siswa memperoleh ruang untuk merasakan langsung kondisi yang membutuhkan kepedulian dan perhatian. Dalam kegiatan pelatihan pertolongan pertama, misalnya, siswa tidak sekadar mempelajari teknik dasar medis, tetapi juga diajak memahami pentingnya kepekaan terhadap penderitaan orang lain. Saat mengikuti simulasi penanganan korban kecelakaan, siswa harus mampu mengenali emosi pasien, memberikan respons empatik, dan tetap tenang serta peduli saat menjalankan tugasnya. Pendekatan ini sangat efektif dalam menanamkan kesadaran bahwa membantu sesama bukan hanya tugas formal, tetapi wujud rasa kemanusiaan yang harus lahir dari hati. Selain PMR, kegiatan bakti sosial yang dilaksanakan oleh gabungan ekstrakurikuler seperti Pramuka. Rohis, dan OSIS juga menjadi media internalisasi empati yang sangat Dalam program seperti AuBerbagi TakjilAy saat bulan Ramadan, atau kunjungan ke panti asuhan dan rumah lansia, siswa secara langsung berinteraksi dengan individu yang berada dalam kondisi sosial yang kurang beruntung. Dalam wawancara dengan beberapa siswa yang mengikuti kegiatan tersebut, mereka menyatakan bahwa pengalaman tersebut mengubah cara pandang mereka terhadap kehidupan. Seorang E-ISSN 2830-5620 VOLUME 4 No. https://jurnal-adaikepri. id/index. php/JUPADAI siswa menyampaikan bahwa setelah melihat bagaimana anak-anak panti hidup dalam keterbatasan, ia menjadi lebih bersyukur dan terdorong untuk lebih sering membantu orang lain. Lebih dari sekadar kegiatan sosial, pengalaman seperti ini mendorong siswa keluar dari zona nyaman mereka. Ketika mereka melihat dan merasakan langsung penderitaan atau keterbatasan orang lain, terjadi proses refleksi batin yang mendalam. Proses ini adalah inti dari internalisasi nilai empatiAiyaitu perubahan dari kesadaran kognitif menjadi kepekaan afektif yang mengarah pada tindakan nyata. Nilai empati tidak lagi menjadi konsep abstrak yang diajarkan di kelas, tetapi menjadi sikap hidup yang dibentuk melalui pengalaman dan keterlibatan langsung. Faktor pendukung lainnya yang memperkuat internalisasi empati adalah adanya bimbingan dari pembina ekstrakurikuler dan guru BK yang aktif membimbing siswa dalam merefleksikan setiap pengalaman sosial yang mereka alami. Dalam sesi refleksi pasca kegiatan, siswa diajak berdiskusi tentang perasaan mereka, hal-hal yang mereka pelajari, serta bagaimana mereka akan menerapkan pelajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Refleksi ini penting untuk memperdalam pengalaman emosional dan mengubahnya menjadi motivasi internal yang kuat untuk berbuat baik dan peduli pada Hasil observasi juga menunjukkan bahwa siswa yang aktif mengikuti kegiatan sosial cenderung menunjukkan perubahan perilaku yang signifikan dalam interaksi keseharian di sekolah. Mereka lebih peduli terhadap teman yang mengalami kesulitan, lebih sabar dalam bekerja kelompok, dan lebih sering terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat sukarela. Hal ini diamini oleh beberapa guru, yang mengamati bahwa siswa dengan pengalaman sosial tinggi biasanya juga memiliki kemampuan menyelesaikan konflik sosial secara dewasa dan tidak mudah menghakimi orang lain. Secara tidak langsung, nilai empati yang ditanamkan melalui kegiatan ekstrakurikuler juga berkontribusi terhadap iklim sosial yang positif di sekolah. Sekolah menjadi lebih inklusif, terbuka, dan hangat karena siswa mulai memandang teman-temannya sebagai bagian dari satu komunitas yang harus saling mendukung. Budaya saling menolong, tidak mengejek, serta menghargai perbedaan perlahan tumbuh dan menjadi bagian dari budaya Namun, perlu diakui bahwa tidak semua siswa memiliki kemampuan empatik yang Oleh karena itu, peran sekolah sangat penting dalam memastikan bahwa kegiatankegiatan ekstrakurikuler bersifat inklusif, memberikan ruang yang setara bagi semua siswa, dan menghindari pengelompokan eksklusif yang justru dapat menghambat pembentukan nilai sosial. Salah satu strategi yang berhasil diterapkan di SMAS 5 Muhammadiyah adalah melibatkan siswa dari berbagai latar belakang kelas dan prestasi dalam kegiatan sosial lintas organisasi, sehingga proses pembelajaran sosial dapat terjadi secara menyeluruh dan tidak hanya terbatas pada kelompok siswa tertentu saja. Sebagai kesimpulan dari sub-pembahasan ini, internalisasi nilai empati di SMAS 5 Muhammadiyah Takengon tidak hanya berlangsung secara natural, tetapi juga terstruktur melalui desain kegiatan ekstrakurikuler yang berorientasi pada nilai-nilai sosial dan kemanusiaan. Dengan penguatan pengalaman langsung, refleksi terarah, dan pembinaan yang konsisten, empati tumbuh bukan hanya sebagai konsep, tetapi sebagai perilaku dan budaya yang melekat dalam kehidupan siswa. E-ISSN 2830-5620 VOLUME 4 No. https://jurnal-adaikepri. id/index. php/JUPADAI Gambar 1. Dokumentasi Kegiatan Penguatan Sikap Toleransi Sikap toleransi ditemukan berkembang melalui kegiatan seperti Rohis, di mana meskipun berbasis keagamaan, siswa diajak untuk berdialog dan menghormati keberagaman yang ada. Dalam wawancara, beberapa guru menyampaikan bahwa siswa yang aktif di Rohis menunjukkan sikap lebih terbuka dalam berdiskusi dengan teman dari latar belakang pemahaman berbeda. Mereka terbiasa menyampaikan pendapat tanpa memaksakan kehendak, serta mendengarkan dengan empati. Selain itu, kegiatan kolaboratif antar-ekstrakurikuler yang dilakukan sekolah saat menyelenggarakan acara besar seperti peringatan Hari Kemerdekaan dan Maulid Nabi juga menjadi ruang pembelajaran toleransi, karena siswa dari berbagai latar belakang organisasi harus bekerja sama tanpa mempersoalkan perbedaan prinsip. Sikap toleransi merupakan salah satu pilar utama dalam kehidupan bermasyarakat, terlebih di negara multikultural seperti Indonesia. Toleransi bukan hanya berkaitan dengan kemampuan menerima perbedaan agama, suku, dan budaya, tetapi juga mencakup penghargaan terhadap perbedaan pandangan, gaya hidup, dan latar belakang Dalam konteks pendidikan, penguatan sikap toleransi menjadi tanggung jawab penting lembaga sekolah, terutama di jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) di mana siswa mulai mengalami pematangan identitas pribadi dan sosial. Kegiatan ekstrakurikuler menjadi media strategis dalam internalisasi nilai toleransi karena menawarkan ruang interaksi yang luas, bebas dari batasan kurikulum formal, dan berorientasi pada kerja sama antarpersonal. Melalui kegiatan seperti Pramuka. Rohani Islam (Rohi. Palang Merah Remaja (PMR), dan kelompok pecinta alam, siswa tidak hanya dituntut untuk bekerja dalam tim, tetapi juga belajar menerima dan memahami keberagaman karakter, kebiasaan, dan pandangan dari teman-temannya. kegiatan ekstrakurikuler yang diarahkan pada penguatan toleransi dapat dilakukan melalui pendekatan inklusif dan kolaboratif. Misalnya, dalam kegiatan Pramuka, siswa dari latar belakang budaya dan agama yang berbeda dipadukan dalam satu regu dan ditugaskan menyelesaikan tantangan kelompok. Tantangan-tantangan ini tidak hanya melatih kerja sama, tetapi juga menumbuhkan rasa saling menghargai di tengah Demikian pula dalam kegiatan Rohis, yang umumnya bersifat keagamaan, dapat dikembangkan dengan pendekatan dialog antariman, seperti mengundang narasumber dari agama lain untuk memberikan perspektif tentang nilai-nilai universal seperti kasih sayang, keadilan, dan perdamaian. Di sinilah peran pembina ekstrakurikuler menjadi penting dalam mendesain kegiatan yang bukan hanya teknis, tetapi juga sarat E-ISSN 2830-5620 VOLUME 4 No. https://jurnal-adaikepri. id/index. php/JUPADAI nilai, dengan membuka ruang diskusi terbuka dan refleksi kelompok tentang pentingnya menghormati keberagaman. Data dari hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi sosial lintas kelompok dalam setting kegiatan non-formal lebih efektif dalam menumbuhkan sikap toleransi dibanding pembelajaran teoritis di kelas. Hal ini karena pengalaman langsung bersinggungan dengan perbedaan akan menciptakan empati dan kesadaran sosial yang lebih dalam. Pada kasus di SMAS 5 Muhammadiyah Takengon, misalnya, ditemukan bahwa siswa yang aktif dalam kegiatan PMR dan pecinta alam menunjukkan tingkat toleransi yang lebih tinggi dibanding siswa yang tidak mengikuti kegiatan Mereka lebih terbuka dalam menerima perbedaan pendapat, lebih menghargai teman dari latar belakang berbeda, dan mampu menyelesaikan konflik sosial secara dialogis. Hasil ini menegaskan bahwa pendidikan karakter tidak hanya perlu dirancang di atas kertas, tetapi harus diwujudkan melalui kegiatan yang menyentuh pengalaman konkret siswa. Membangun toleransi bukanlah pekerjaan instan. Ia memerlukan pendekatan sistematis yang berkelanjutan dan adaptif terhadap konteks sosial siswa. Oleh karena itu, sekolah perlu membangun sistem pembinaan ekstrakurikuler yang sadar nilaiAiyakni yang menjadikan toleransi sebagai orientasi pembelajaran, bukan hanya aktivitas teknis Evaluasi berkala terhadap interaksi antarsiswa, pelatihan pembina dalam pengelolaan keberagaman, dan pelibatan pihak eksternal seperti tokoh masyarakat atau lembaga HAM dapat memperkaya proses ini. Dengan demikian, penguatan toleransi tidak hanya berdampak pada iklim sosial sekolah, tetapi juga menjadi fondasi pembentukan warga negara yang siap hidup dalam masyarakat majemuk. Dalam jangka panjang, siswa yang terlatih dalam budaya toleran akan menjadi agen perdamaian di tengah masyarakat, mampu menjadi jembatan di antara perbedaan, dan menjadi representasi nyata dari semangat Bhinneka Tunggal Ika. Perubahan Sikap Sosial Siswa Perubahan sikap sosial siswa merupakan indikator penting dari keberhasilan pendidikan karakter yang dijalankan melalui pendekatan pengalaman nyata. Dalam konteks pendidikan menengah, terutama di tingkat SMA, siswa berada pada fase perkembangan di mana mereka mulai mengevaluasi norma sosial, memperluas jejaring pertemanan, serta mencari jati diri melalui interaksi dengan lingkungan sekitarnya. Kegiatan ekstrakurikuler memiliki potensi besar dalam memfasilitasi perubahan tersebut karena menyediakan ruang belajar yang lebih fleksibel, tidak kaku seperti ruang kelas, dan memungkinkan siswa untuk mengeksplorasi berbagai peran sosial secara langsung. Melalui keterlibatan aktif dalam kegiatan seperti Pramuka. PMR, organisasi siswa. Rohis, dan pecinta alam, siswa mengalami dinamika kerja sama, komunikasi, dan pengambilan keputusan secara kolektif. Mereka belajar bahwa setiap tindakan dan ucapan memiliki konsekuensi sosial, serta mulai memahami pentingnya tanggung jawab pribadi dalam mendukung tujuan bersama. Dari proses inilah terjadi transformasi sikap sosial yang sebelumnya cenderung individualistis menjadi lebih terbuka, partisipatif, dan berorientasi pada kepentingan kolektif. Transformasi tersebut dapat diamati melalui beberapa indikator nyata dalam keseharian siswa. Siswa yang semula pasif atau cenderung menghindari interaksi sosial, menjadi lebih percaya diri dalam menyampaikan pendapat, lebih aktif berkontribusi dalam kegiatan kelompok, dan menunjukkan sikap peduli terhadap teman yang E-ISSN 2830-5620 VOLUME 4 No. https://jurnal-adaikepri. id/index. php/JUPADAI menghadapi kesulitan. Dalam konteks SMAS 5 Muhammadiyah Takengon, hasil pengamatan menunjukkan adanya peningkatan partisipasi sosial siswa yang signifikan setelah mereka mengikuti kegiatan ekstrakurikuler secara rutin. Misalnya, dalam kegiatan bakti sosial dan program peduli lingkungan, siswa tidak hanya menjalankan tugas secara formal, tetapi mulai terlibat secara emosional dan menunjukkan inisiatif Perubahan ini tidak muncul secara spontan, melainkan melalui proses pembiasaan, keteladanan, dan interaksi yang intensif dalam komunitas kecil di luar kelas. Melalui dinamika tersebut, siswa mulai memahami pentingnya nilai gotong royong, empati, dan kepedulian terhadap sesama, yang merupakan bagian dari proses internalisasi nilai-nilai sosial. Selain itu, perubahan sikap sosial juga tercermin dari bagaimana siswa menghadapi perbedaan dan menyelesaikan konflik. Dalam kegiatan organisasi atau kelompok ekstrakurikuler, perbedaan pendapat merupakan hal yang lazim. Namun, siswa yang telah terbiasa berdiskusi dan bekerja dalam tim menunjukkan kecenderungan menyelesaikan konflik secara dialogis, menghargai pendapat orang lain, dan mencari solusi yang inklusif. Hal ini menunjukkan bahwa mereka mulai mengembangkan kemampuan berpikir sosial dan empati, yang menjadi pondasi penting dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis. Dampak ini tidak hanya terlihat dalam lingkungan sekolah, tetapi juga terbawa dalam kehidupan siswa di luar sekolah, seperti di lingkungan keluarga dan masyarakat. Mereka menjadi lebih aktif dalam kegiatan kemasyarakatan, lebih toleran dalam menyikapi perbedaan pandangan, dan mampu menjadi contoh bagi teman sebayanya dalam menunjukkan perilaku sosial yang Perubahan sikap sosial siswa melalui kegiatan ekstrakurikuler ini menjadi bukti bahwa pendidikan yang menyentuh dimensi afektif dan psikomotorik lebih efektif dalam membentuk kepribadian yang utuh. Oleh karena itu, penting bagi sekolah untuk merancang program ekstrakurikuler yang tidak hanya menekankan aspek kegiatan, tetapi juga menyisipkan muatan nilai sosial secara sadar dan sistematis. Pembina kegiatan memiliki peran strategis dalam memfasilitasi refleksi sosial, memberikan umpan balik yang membangun, serta mendorong siswa untuk mengembangkan sensitivitas sosial yang tinggi. Dengan strategi yang tepat, kegiatan ekstrakurikuler dapat menjadi motor penggerak perubahan sosial siswa, menjadikan mereka generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga matang secara sosial, siap berkontribusi dalam kehidupan bermasyarakat secara aktif dan bertanggung jawab. Tantangan Implementasi Meskipun kegiatan ekstrakurikuler memiliki potensi besar sebagai media pendidikan sosial, implementasinya di lingkungan sekolah tidak lepas dari berbagai tantangan yang bersifat struktural maupun kultural. Salah satu tantangan utama adalah minimnya perencanaan yang terintegrasi antara kegiatan ekstrakurikuler dengan visi pendidikan karakter sekolah. Banyak sekolah masih memperlakukan ekstrakurikuler sebagai pelengkap atau aktivitas opsional yang berdiri terpisah dari proses pembelajaran Akibatnya, program ekstrakurikuler seringkali berjalan tanpa arah nilai yang jelas, sekadar menjadi rutinitas teknis yang tidak menyentuh aspek pembentukan kepribadian Ketidakterpaduan ini diperparah oleh kurangnya pelatihan bagi pembina ekstrakurikuler dalam menginternalisasikan nilai-nilai sosial secara eksplisit dalam aktivitas yang mereka fasilitasi. Pembina lebih sering fokus pada pencapaian target kegiatan fisik seperti lomba atau pementasan, tanpa mengaitkannya dengan nilai-nilai seperti empati, toleransi, dan tanggung jawab sosial. Hal ini menyebabkan tujuan E-ISSN 2830-5620 VOLUME 4 No. https://jurnal-adaikepri. id/index. php/JUPADAI pendidikan sosial tidak tercapai secara optimal, karena siswa hanya memperoleh pengalaman permukaan tanpa proses refleksi mendalam terhadap makna sosial dari keterlibatan mereka. Selain itu, tantangan lain yang signifikan adalah rendahnya partisipasi siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler, terutama yang bersifat sosial dan pengabdian. Fenomena ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain tingginya tekanan akademik, kurangnya minat terhadap kegiatan sosial, dan citra ekstrakurikuler yang dianggap tidak bergengsi dibanding kegiatan akademis atau kompetitif. Dalam beberapa kasus, siswa hanya mengikuti kegiatan ekstrakurikuler tertentu karena kewajiban administratif, bukan karena kesadaran atau motivasi internal. Akibatnya, keikutsertaan mereka cenderung pasif dan tidak memberikan dampak berarti terhadap perubahan sikap sosial. Di sisi lain, keterbatasan fasilitas dan anggaran juga menjadi kendala serius dalam pengembangan kegiatan ekstrakurikuler yang bermutu. Sekolah-sekolah di daerah, seperti SMAS 5 Muhammadiyah Takengon, sering mengalami kesulitan dalam mengakses sumber daya yang memadai untuk menyelenggarakan program-program sosial yang kreatif dan berdampak luas. Kegiatan sosial yang idealnya dilakukan secara kolaboratif dan lintas sektor, seperti kerja sama dengan LSM atau komunitas lokal, menjadi sulit terwujud karena terbatasnya jaringan dan dukungan eksternal. Kendala birokratis dan administratif juga tidak bisa diabaikan. Implementasi program ekstrakurikuler seringkali dibebani oleh proses perizinan yang panjang, pelaporan yang rumit, serta regulasi yang kaku. Hal ini membuat guru dan pembina kehilangan fleksibilitas dalam merancang kegiatan yang responsif terhadap isu sosial Selain itu, belum adanya sistem evaluasi yang komprehensif untuk mengukur keberhasilan pendidikan sosial melalui ekstrakurikuler juga menjadi hambatan. Tanpa indikator yang jelas, sekolah sulit menilai apakah kegiatan yang dilakukan benar-benar memberikan kontribusi terhadap pembentukan karakter siswa. Akibatnya, keberhasilan sering diukur hanya dari kuantitas kegiatan atau prestasi formal, bukan dari perubahan perilaku atau sikap sosial siswa yang lebih esensial. Menghadapi berbagai tantangan tersebut, diperlukan upaya perbaikan yang menyeluruh dan berkelanjutan, baik dalam aspek kebijakan, sumber daya manusia, maupun sistem pembinaan. Sekolah perlu membangun sinergi yang lebih erat antara kurikulum akademik dan ekstrakurikuler dengan menyusun rencana strategis yang memuat indikator nilai sosial yang terukur. Pelatihan bagi pembina ekstrakurikuler dalam pendekatan pembelajaran berbasis nilai dan refleksi sosial juga menjadi kebutuhan Lebih jauh, sekolah perlu menjalin kemitraan dengan lembaga luar seperti komunitas sosial, lembaga kebudayaan, dan organisasi pemuda untuk memperkaya wawasan dan pengalaman siswa. Dengan strategi yang komprehensif, tantangan implementasi pendidikan sosial melalui kegiatan ekstrakurikuler dapat diatasi, sehingga ekstrakurikuler tidak lagi menjadi aktivitas pinggiran, melainkan wahana utama dalam membentuk karakter generasi muda yang beradab dan bertanggung jawab. E-ISSN 2830-5620 VOLUME 4 No. https://jurnal-adaikepri. id/index. php/JUPADAI Gambar 2. Dokumentasi Kegiatan KESIMPULAN Pendidikan sosial merupakan aspek fundamental dalam proses pembentukan karakter siswa yang tidak dapat dipisahkan dari tujuan pendidikan nasional. Dalam konteks Sekolah Menengah Atas (SMA), pendidikan sosial menjadi semakin relevan karena siswa berada dalam tahap perkembangan yang menentukan dalam membentuk nilai-nilai seperti empati, toleransi, dan kepedulian sosial. Kegiatan ekstrakurikuler terbukti memiliki peran strategis dalam mendukung proses ini, karena mampu memberikan pengalaman nyata yang menyentuh aspek afektif dan psikomotorik siswa. Melalui keterlibatan aktif dalam kegiatan seperti Pramuka. PMR. Rohis, dan kelompok pecinta alam, siswa tidak hanya belajar bekerja sama dan berorganisasi, tetapi juga membentuk sikap sosial yang positif seperti menghargai perbedaan, merespons isu sosial dengan kepekaan, serta bertanggung jawab terhadap lingkungan sekitar. Hasil observasi dan studi kasus di SMAS 5 Muhammadiyah Takengon menunjukkan bahwa keterlibatan dalam kegiatan ekstrakurikuler berdampak nyata pada perubahan sikap sosial siswa, mulai dari peningkatan rasa percaya diri, kemampuan berkomunikasi, hingga penguatan sikap toleran dan kepedulian terhadap sesama. Namun, implementasi pendidikan sosial melalui ekstrakurikuler masih menghadapi berbagai tantangan, seperti kurangnya perencanaan terstruktur, rendahnya partisipasi siswa, keterbatasan sumber daya, dan belum adanya sistem evaluasi yang komprehensif. Oleh karena itu, perlu ada upaya sistematis dari pihak sekolah dan pemangku kepentingan lainnya untuk menjadikan kegiatan ekstrakurikuler sebagai bagian integral dari strategi pendidikan Dengan desain program yang terukur, pelatihan pembina yang berbasis nilai, serta dukungan kebijakan yang memadai, kegiatan ekstrakurikuler dapat berfungsi secara optimal sebagai wahana pembelajaran sosial yang berdampak jangka panjang. Secara keseluruhan, penguatan pendidikan sosial melalui kegiatan ekstrakurikuler tidak hanya berkontribusi dalam membentuk pribadi siswa yang cerdas secara intelektual, tetapi juga manusiawi secara sosial. Di tengah tantangan globalisasi dan kompleksitas sosial saat ini, sekolah perlu menempatkan pendidikan sosial sebagai prioritas utama dalam mencetak generasi muda yang berakhlak, toleran, dan siap menjadi agen perubahan di masyarakat. E-ISSN 2830-5620 VOLUME 4 No. https://jurnal-adaikepri. id/index. php/JUPADAI DAFTAR PUSTAKA