Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Makardi P-ISSN 2809-4174 | E-ISSN 2808-084X Vol. 5 No. 2 Ae Desember 2025 DOI: 10. 52352/makardhi. Publisher: P3M Politeknik Pariwisata Bali Available online: https://ejournal. id/index. php/makardhi Penguatan Kapasitas Keuangan UMKM Wisata: Pendampingan untuk Usaha Silver. Cycling dan Tubing di Desa Celuk Ni Made Sri Rukmiyati 1*. I Wayan Tuwi 2. Ni Ketut Mareni 3. I Dewa Ayu Rai Sumariati 4. Anak Agung Istri M. Septiviari 5. I Gusti Ngurah Agung Wiryanata 6. Ni Luh Riska Yusmarisa 7*. Luh Nyoman Tri Lilasari 8. Christina Susanti 9. Anak Agung Gede Oka Geria 10 1,2,3,4,5,6,7,8,9,10 Prodi Manajemen Akuntansi Hospitality. Poltekpar Bali Jalan Dharmawangsa-Kampial Nusa Dua. Bali. Indonesia e-mail: srirukmiyati@ppb. Received: Juli, 2025 Accepted: Oktober, 2025 Published: Desember, 2025 Abstract Tourism villages offer a strategic approach to local economic development and cultural Celuk Village in Gianyar. Bali, is known for its silver craftsmanship and educational tourism activities. However, the sustainability of its tourism enterprises relies heavily on sound financial management. This community engagement initiative aimed to strengthen financial literacy and practices among local business actorsAiSilver Class workshops, tubing operators, restaurants, and village-owned enterprises (BUMDe. Aithrough training, mentoring, and participatory evaluation. The results indicate improved participant understanding of financial recording, budgeting, and cash flow management. Questionnaire evaluations revealed high satisfaction levels . verage score of 4. 21 out of . , with activity relevance and facilitator quality receiving the highest marks. This initiative demonstrates that strengthening financial governance is a strategic pathway toward empowering and sustaining tourism villages. Keywords: financial governance, financial literacy, sustainability, tourism village Abstrak Desa wisata merupakan pendekatan strategis dalam pembangunan ekonomi berbasis potensi lokal dan pelestarian budaya. Desa Celuk di Kabupaten Gianyar. Bali, dikenal sebagai pusat kerajinan perak sekaligus destinasi wisata edukatif. Namun, keberlanjutan usaha wisata di desa ini sangat bergantung pada tata kelola keuangan yang baik. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan literasi dan praktik pengelolaan keuangan bagi pelaku usaha Silver Class, tubing, restoran, dan BUMDes melalui pendekatan pelatihan, pendampingan, dan evaluasi partisipatif. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman peserta terhadap pencatatan keuangan, penyusunan laporan sederhana, dan perencanaan anggaran. Evaluasi kuesioner menunjukkan tingkat kepuasan tinggi . ata-rata skor 4,21 dari skala . , dengan aspek relevansi kegiatan dan kualitas fasilitator mendapat skor tertinggi. Kegiatan ini membuktikan bahwa penguatan tata kelola keuangan merupakan langkah strategis dalam mendukung desa wisata yang mandiri, berdaya saing, dan berkelanjutan. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Makardi Vol. No. Penguatan Kapasitas Keuangan UMKM Wisata: Pendampingan untuk Usaha Silver. Cycling dan Tubing di Desa Celuk Sri Rukmiyati . Tuwi . Mareni. Rai Sumariati . Septiviari . Wiryanata. Riska Yusmarisa. Tri Lilasari. Christina Susanti . Oka Geria Kata kunci: desa wisata, literasi keuangan, keberlanjutan, tata kelola keuangan PENDAHULUAN Desa wisata merupakan konsep pariwisata yang mengoptimalkan potensi lokal untuk menarik wisatawan, dengan harapan dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan melestarikan budaya setempat (Yanti & Chasanah, 2. Salah satu contoh desa wisata yang berhasil mengembangkan potensinya adalah Desa Celuk, yang terletak di Kecamatan Sukawati. Kabupaten Gianyar. Bali. Desa ini telah lama dikenal sebagai pusat kerajinan perak, dengan sejarah panjang dalam industri perak dan emas. Masyarakatnya memiliki keahlian tinggi dalam mengolah logam mulia menjadi berbagai produk berkualitas dengan nilai seni yang khas. Desa Celuk sebagai desa wisata unggulan di Bali, tidak hanya menawarkan perhiasan perak berkualitas tinggi, tetapi juga menghadirkan pengalaman wisata edukatif melalui program Silver Class. Program ini memberikan kesempatan bagi wisatawan domestik maupun mancanegara untuk belajar langsung tentang proses pembuatan perhiasan perak, mulai dari tahap desain hingga penyelesaian akhir. Dengan adanya inovasi ini. Desa Celuk tidak hanya mempertahankan warisan budayanya tetapi juga memperkuat daya tarik wisata yang berkontribusi pada peningkatan ekonomi masyarakat setempat. Pengembangan pariwisata di Desa Celuk telah memberikan dampak signifikan terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat. Sudiarta et al. menemukan bahwa sektor pariwisata berkontribusi positif terhadap peningkatan pendapatan dan kesempatan kerja bagi penduduk lokal. Hal ini menunjukkan bahwa pariwisata berbasis budaya dan keterampilan memiliki peran penting dalam meningkatkan kesejahteraan Dengan semakin berkembangnya sektor pariwisata, masyarakat Desa Celuk memiliki peluang lebih besar untuk mengembangkan usaha mereka, baik di bidang kerajinan perak maupun sektor pendukung lainnya. Selain terkenal dengan industri peraknya. Desa Celuk juga memiliki daya tarik wisata lain yang sedang berkembang. Salah satu destinasi yang mulai populer adalah wisata rekreasi tubing yang melintasi sungai Tukad Nangka. Jalur tubing ini berujung di Warung Makan Asasuka, yang menawarkan pengalaman kuliner khas Bali bagi wisatawan. Kombinasi antara wisata budaya, kerajinan, dan kuliner semakin memperkuat posisi Desa Celuk sebagai destinasi wisata yang menarik dan beragam. Sebagai bagian dari upaya pengelolaan dan pengembangan pariwisata yang berkelanjutan. Desa Celuk memiliki visi AuTerwujudnya Desa Celuk Yang Bersahaja (Bersih. Elok. Ramah. Sejahtera. Aman. Harmonis. Adil. Jaya. Berbuday. Berlandaskan Tri Hita Karana Menuju Desa WisataAy. Visi ini mencerminkan komitmen masyarakat dalam menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan spiritualitas dalam pengelolaan desa wisata. Untuk mendukung pengelolaan pariwisata yang lebih optimal. Desa Celuk telah membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwi. berdasarkan Surat Keputusan Perbekel Desa Celuk Nomor 42d Tahun 2024. Pokdarwis memiliki peran penting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai Sapta Pesona, yang meliputi unsur aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, dan kenangan dalam pariwisata. Tata kelola keuangan yang baik sangat penting bagi pelaku usaha wisata agar dapat menghadapi berbagai tantangan yang ada. Fluktuasi pendapatan musiman, kesulitan akses pembiayaan, pengelolaan biaya operasional, ketidakpastian ekonomi, dan kepatuhan terhadap regulasi merupakan faktor-faktor yang perlu dikelola dengan baik. Tata kelola keuangan yang baik sangat penting untuk memastikan keberlanjutan bisnis serta meningkatkan daya saing usaha wisata (Herawati & Listyawati, 2. Tata kelola keuangan yang baik sangat penting bagi pelaku usaha wisata untuk mengelola sumber daya dan hubungan antar pemangku kepentingan secara efektif (Palalangan et al. , 2. Namun, banyak pelaku usaha wisata masih kurang memahami pentingnya pengelolaan keuangan yang baik dan tidak melakukan pencatatan transaksi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Makardi Vol. No. Penguatan Kapasitas Keuangan UMKM Wisata: Pendampingan untuk Usaha Silver. Cycling dan Tubing di Desa Celuk Sri Rukmiyati . Tuwi . Mareni. Rai Sumariati . Septiviari . Wiryanata. Riska Yusmarisa. Tri Lilasari. Christina Susanti . Oka Geria secara memadai (Syah et al. , 2. Pelatihan dan pendampingan dapat meningkatkan pemahaman pelaku usaha tentang tata kelola dan manajemen keuangan, termasuk penyusunan laporan keuangan sesuai standar akuntansi (Rianto et al. , 2020. Sugiarti. Peningkatan pengetahuan ini memungkinkan pelaku usaha untuk mendesain sistem organisasi yang efektif, melakukan analisis SWOT, dan membuat laporan keuangan yang dapat digunakan untuk pengajuan pinjaman ke lembaga keuangan (Rianto et al. , 2020. Sugiarti, 2. Penerapan tata kelola keuangan yang baik penting untuk menciptakan sektor UKM yang profesional dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Untuk mewujudkan Desa Celuk sebagai Desa Wisata sesuai dengan visinya, diperlukan pengelolaan usaha wisata yang profesional dan berkelanjutan. Salah satu aspek penting dalam mendukung hal tersebut adalah penguatan tata kelola keuangan bagi para pelaku usaha wisata. Pelatihan tata kelola keuangan menjadi langkah strategis dalam membekali pelaku usaha dengan keterampilan pencatatan keuangan yang akurat, perencanaan anggaran yang efektif, serta strategi pengelolaan modal yang optimal (Brigham & Ehrhardt, 2. Dengan pemahaman keuangan yang lebih baik, pelaku usaha dapat mengurangi risiko kebangkrutan, meningkatkan efisiensi operasional, serta memastikan kelangsungan dan pertumbuhan bisnis mereka (Gibson, 2020. Utomo et al. Pengelolaan keuangan merupakan aspek krusial bagi UMKM, namun sering kali menjadi tantangan utama (Lumbangaol, 2022. Setiawan et al. , 2024. Wardi & Putri, 2. Banyak UMKM hanya melakukan pencatatan sederhana atau bahkan tidak melakukan pencatatan sama sekali, yang dapat mengakibatkan gambaran keuangan yang tidak akurat (Lumbangaol, 2. Penerapan akuntansi dan manajemen keuangan yang baik dapat membantu UMKM dalam memantau kinerja, membuat keputusan bisnis, dan mengembangkan usaha (Lumbangaol, 2022. Poddala & Alimuddin, 2. Pengelolaan keuangan yang efisien juga dapat meningkatkan peluang berkembangnya UMKM (Safitri. Oleh karena itu, edukasi dan pendampingan pengelolaan keuangan bagi UMKM sangat diperlukan untuk meningkatkan daya saing dan keberlanjutan usaha (Setiawan et , 2024. Poddala & Alimuddin, 2. Pengelolaan keuangan yang transparan dan akuntabel juga berkontribusi pada pembangunan ekonomi desa. Dengan usaha wisata yang dikelola secara sehat, kesejahteraan masyarakat dapat meningkat, menciptakan lapangan kerja, serta mendukung pengembangan infrastruktur desa (Schaltegger & Burritt, 2. Prinsip Tri Hita Karana, yang menekankan keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam, dapat diwujudkan dalam tata kelola usaha wisata yang bertanggung jawab (Sukmawati, 2. Oleh karena itu, pelatihan tata kelola keuangan tidak hanya menjadi kebutuhan individual pelaku usaha, tetapi juga bagian dari upaya kolektif untuk menjadikan Desa Celuk sebagai desa wisata yang maju, sejahtera, dan berkelanjutan. METODE PELAKSANAAN KEGIATAN Berdasarkan analisis situasi pada latar belakang, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini akan difokuskan pada tiga kegiatan utama, yaitu: Tata Kelola Keuangan untuk Silver Class Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan dalam mengelola keuangan bagi usaha yang masuk dalam kategori silver class. Fokusnya adalah pada pencatatan transaksi keuangan, penyusunan laporan keuangan sederhana, serta pengelolaan arus kas yang efisien agar usaha dapat bertahan dan berkembang secara Tata Kelola Keuangan untuk Tubing Pengelolaan keuangan bagi usaha tubing . isata sunga. menjadi aspek penting dalam menjaga keberlanjutan usaha ini. Pelatihan akan mencakup pencatatan pendapatan dan Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Makardi Vol. No. Penguatan Kapasitas Keuangan UMKM Wisata: Pendampingan untuk Usaha Silver. Cycling dan Tubing di Desa Celuk Sri Rukmiyati . Tuwi . Mareni. Rai Sumariati . Septiviari . Wiryanata. Riska Yusmarisa. Tri Lilasari. Christina Susanti . Oka Geria pengeluaran harian, perencanaan anggaran operasional, serta strategi alokasi dana untuk perawatan fasilitas dan pengembangan layanan agar tetap kompetitif. Tata Kelola Keuangan untuk Cycling Pengelolaan keuangan pada usaha wisata cycling tour . isata sepeda keliling des. memiliki karakteristik tersendiri, terutama terkait pengelolaan aset fisik . eperti seped. , biaya perawatan rutin, serta pengaturan paket layanan bagi wisatawan. Dalam pelatihan ini, peserta dibekali dengan keterampilan dasar akuntansi yang relevan, seperti pencatatan transaksi harian, penghitungan biaya per unit layanan, dan penyusunan laporan laba rugi sederhana. Fokus utama pelatihan adalah pada perencanaan anggaran operasional yang efisien, termasuk estimasi biaya perawatan, penggantian suku cadang, dan kebutuhan operasional lapangan seperti minuman dan alat keselamatan. Selain itu, peserta diajarkan strategi penetapan harga layanan berdasarkan analisis biaya dan nilai tambah layanan . isalnya, paket sepeda, guide lokal, kuliner loka. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini akan dilaksanakan melalui pendekatan partisipatif dan aplikatif, dengan melibatkan pelaku usaha wisata secara langsung dalam setiap tahapan. Metode pelaksanaan mencakup sosialisasi, pelatihan, pendampingan, serta evaluasi dan monitoring untuk memastikan dampak yang optimal bagi keberlanjutan usaha wisata di Desa Celuk. Sosialisasi dan Identifikasi Kebutuhan Sebelum pelaksanaan kegiatan utama, dilakukan sosialisasi kepada pelaku usaha wisata di Desa Celuk untuk: Mengenalkan tujuan dan manfaat penguatan tata kelola keuangan dalam usaha . Mengidentifikasi tantangan spesifik dalam pengelolaan keuangan pada setiap jenis usaha (Silver Class. Tubing. Restoran, dan BUMDe. Mengumpulkan data awal terkait pemahaman dan praktik keuangan yang sudah Pelatihan Pelatihan akan diberikan secara bertahap dengan pendekatan berbasis praktik dan studi kasus. Setiap pelaku usaha akan diberikan modul dan alat bantu keuangan sederhana sesuai dengan jenis usaha mereka. Tata Kelola Keuangan untuk Silver Class a Pengenalan dasar akuntansi dan pencatatan transaksi keuangan harian. a Cara membuat laporan laba rugi sederhana. a Strategi pengelolaan arus kas untuk keberlanjutan usaha. Tata Kelola Keuangan untuk Tubing a Penyusunan pencatatan pendapatan dan pengeluaran harian. a Pengelolaan anggaran operasional dan alokasi dana untuk perawatan fasilitas. a Strategi investasi dan pengembangan layanan berbasis keuangan . Tata Kelola Keuangan untuk Cycling a Manajemen food cost dan teknik pengendalian biaya bahan baku. a Strategi penentuan harga jual makanan dan minuman. a Pembuatan laporan keuangan restoran berbasis standar industri. Pendampingan dan Implementasi Setelah pelatihan, akan dilakukan pendampingan langsung kepada peserta untuk mengaplikasikan materi yang telah dipelajari. Kegiatan ini mencakup: a Simulasi pencatatan keuangan dengan menggunakan buku kas atau aplikasi digital sederhana. a Evaluasi laporan keuangan usaha yang telah dibuat oleh peserta. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Makardi Vol. No. Penguatan Kapasitas Keuangan UMKM Wisata: Pendampingan untuk Usaha Silver. Cycling dan Tubing di Desa Celuk Sri Rukmiyati . Tuwi . Mareni. Rai Sumariati . Septiviari . Wiryanata. Riska Yusmarisa. Tri Lilasari. Christina Susanti . Oka Geria Diskusi dan konsultasi individu terkait kendala yang dihadapi dalam implementasi sistem keuangan baru. Evaluasi dan Monitoring Instrumen evaluasi yang digunakan dalam kegiatan ini terdiri atas pre-test, posttest, dan kuesioner persepsi peserta. Pre-test dan post-test digunakan untuk mengukur peningkatan pemahaman peserta sebelum dan sesudah pelatihan. Selain itu, peserta juga diminta mengisi kuesioner yang memuat sepuluh pernyataan terkait relevansi kegiatan, kualitas penyampaian materi, pemahaman terhadap topik, serta aspek teknis Kuesioner disusun menggunakan skala Likert 1Ae5, di mana skor 1 menunjukkan Ausangat tidak setujuAy dan skor 5 menunjukkan Ausangat setuju. Ay Struktur kuesioner terdiri dari tiga kelompok penilaian: . relevansi dan kebermanfaatan materi, . kualitas fasilitator dan proses pelatihan, serta . aspek teknis dan minat keberlanjutan Perhitungan nilai dilakukan dengan menghitung rata-rata skor setiap pernyataan, yaitu total skor yang diberikan seluruh responden dibagi dengan jumlah responden. Selanjutnya, rata-rata keseluruhan dihitung dengan menjumlahkan rata-rata masingmasing pernyataan dan membaginya dengan total jumlah pernyataan. Prosedur ini menghasilkan gambaran umum mengenai persepsi peserta terhadap efektivitas pelatihan, serta membantu mengidentifikasi aspek yang telah berjalan baik maupun yang memerlukan penguatan dalam kegiatan lanjutan. Selain pre-test, post-test, dan kuesioner, dilakukan pula peninjauan terhadap laporan keuangan sederhana yang telah disusun oleh peserta setelah mengikuti Peninjauan ini bertujuan untuk mengevaluasi sejauh mana peserta mampu menerapkan teknik pencatatan keuangan, pengelolaan arus kas, serta penyusunan laporan laba rugi sesuai dengan materi yang diberikan. Selanjutnya, dilakukan diskusi tindak lanjut . ollow-up discussio. bersama peserta untuk mengidentifikasi bagian yang masih memerlukan perbaikan, baik dari sisi pemahaman materi maupun praktik penerapan pengelolaan keuangan di masingmasing usaha. Diskusi ini juga digunakan untuk merumuskan rencana keberlanjutan program, termasuk pendampingan lanjutan, kebutuhan pelatihan tambahan, serta strategi pengembangan sistem pencatatan keuangan yang lebih efektif dan Dengan demikian, tahap evaluasi dan monitoring tidak hanya berfungsi sebagai bentuk penilaian, tetapi juga sebagai dasar untuk memperkuat dampak jangka panjang program terhadap pengelolaan usaha wisata di Desa Celuk. a HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan ini dilaksanakan selama dua hari, pada tanggal 20 dan 21 Juni 2025, bertempat di Desa Wisata Celuk. Kabupaten Gianyar. Bali. Adapun rundown kegiatan selengkapnya disajikan pada tabel 1. Hasil dari kegiatan ini sangat positif, baik bagi peserta dari kalangan pelaku usaha maupun bagi mahasiswa yang terlibat. Pertama, dari sisi peningkatan literasi keuangan, peserta memperoleh pemahaman tentang pentingnya pengelolaan keuangan dalam usaha kecil, termasuk bagaimana cara mencatat pemasukan dan pengeluaran secara terstruktur. Materi disampaikan secara interaktif dan aplikatif oleh fasilitator yang berpengalaman, disertai dengan studi kasus sederhana yang relevan dengan usaha peserta. Kedua, peserta juga dilatih untuk menyusun laporan keuangan sederhana, seperti laporan arus kas dan laporan laba rugi. Pelatihan ini memberikan bekal praktis bagi pelaku UMKM agar lebih siap dalam mengelola bisnis mereka secara berkelanjutan. Ketiga, melalui kegiatan observasi lapangan, peserta dan mahasiswa memperoleh wawasan mengenai operasional tiga jenis usaha utama yang ada di Desa Celuk, yaitu: tubing di sungai, kelas pembuatan perhiasan perak . ilver clas. , dan wisata sepeda keliling desa. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Makardi Vol. No. Penguatan Kapasitas Keuangan UMKM Wisata: Pendampingan untuk Usaha Silver. Cycling dan Tubing di Desa Celuk Sri Rukmiyati . Tuwi . Mareni. Rai Sumariati . Septiviari . Wiryanata. Riska Yusmarisa. Tri Lilasari. Christina Susanti . Oka Geria Informasi ini menjadi bahan kajian bagi mahasiswa dalam merancang konsep pengelolaan keuangan yang realistis dan berbasis pada kondisi nyata di lapangan. Terakhir, kegiatan presentasi oleh mahasiswa menghasilkan berbagai konsep pengembangan pengelolaan keuangan untuk usaha lokal yang diangkat dari hasil observasi dan diskusi langsung dengan pelaku usaha. Hal ini menunjukkan pemahaman dan keterlibatan aktif mahasiswa dalam menerjemahkan teori ke dalam praktik nyata. Tabel 2. Persepsi Peserta terhadap Penyelenggaran PKM Sumber: Data diolah . No. Pernyataan Rata-Rata Skor Kegiatan ini relevan dengan kebutuhan saya/usaha saya Materi yang disampaikan mudah dipahami Pemateri/fasilitator menguasai topik dengan baik Waktu pelaksanaan kegiatan sudah sesuai dan cukup Saya merasa lebih paham tentang tata kelola keuangan setelah kegiatan ini Fasilitas dan tempat kegiatan memadai Saya tertarik mengikuti kegiatan serupa di masa mendatang Untuk memberikan gambaran awal terhadap efektivitas pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat, dilakukan pengumpulan data melalui instrumen kuesioner yang disusun berdasarkan sepuluh pernyataan kunci. Setiap pernyataan dinilai menggunakan skala Likert 1 hingga 5, dengan responden sebanyak enam orang yang merupakan peserta kegiatan pelatihan literasi keuangan dan observasi usaha di Desa Wisata Celuk. Rekapitulasi hasil penilaian ini memberikan dasar analisis terhadap persepsi peserta, sekaligus menjadi tolok ukur kualitas pelaksanaan kegiatan dalam berbagai aspek, mulai dari penyampaian materi hingga manfaat yang dirasakan secara langsung. Berdasarkan rekapitulasi skor kuesioner terhadap tujuh pernyataan, diperoleh gambaran bahwa pelaksanaan kegiatan dinilai sangat baik oleh para peserta. Pernyataan mengenai relevansi kegiatan dengan kebutuhan peserta atau usaha mereka mendapatkan skor tertinggi, yaitu 5. 00, yang menegaskan bahwa materi yang diberikan sangat sesuai dan memberikan manfaat langsung. Fasilitator atau pemateri dinilai menguasai topik dengan sangat baik . , mencerminkan profesionalisme dalam penyampaian materi. Selain itu, aspek teknis seperti waktu pelaksanaan . dan fasilitas kegiatan . juga mendapatkan penilaian tinggi, menunjukkan bahwa kegiatan berlangsung dengan tertib dan didukung oleh sarana yang memadai. Berdasarkan Tabel 2, dilihat dari sisi pemahaman, peserta merasa cukup paham terhadap materi tata kelola keuangan yang disampaikan, sebagaimana terlihat dari skor Materi yang disampaikan pun dinilai mudah dipahami . , menandakan bahwa penyampaian sudah cukup efektif meskipun masih terdapat ruang perbaikan. Terakhir, minat peserta untuk mengikuti kegiatan serupa di masa mendatang berada di angka 4. menandakan bahwa kegiatan ini meninggalkan kesan positif dan layak untuk direplikasi di Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Makardi Vol. No. Penguatan Kapasitas Keuangan UMKM Wisata: Pendampingan untuk Usaha Silver. Cycling dan Tubing di Desa Celuk Sri Rukmiyati . Tuwi . Mareni. Rai Sumariati . Septiviari . Wiryanata. Riska Yusmarisa. Tri Lilasari. Christina Susanti . Oka Geria kesempatan berikutnya. Sebagai rekomendasi, perlu dilakukan evaluasi lebih lanjut terhadap aspek-aspek yang mendapat skor terendah untuk mengidentifikasi permasalahan yang lebih spesifik. Di sisi lain, aspek yang mendapat penilaian tinggi patut dipertahankan dan dijadikan contoh untuk pengembangan kegiatan serupa ke depan. Kegiatan ini juga dinilai efektif dalam menggabungkan pendekatan edukatif dan partisipatif yang berdampak langsung pada penguatan kapasitas masyarakat desa wisata. Berdasarkan hasil evaluasi, terdapat beberapa rekomendasi penting untuk keberlanjutan kegiatan ini: Disarankan untuk menyelenggarakan sesi lanjutan berupa pendampingan intensif selama 3 hingga 6 bulan ke depan agar pelaku usaha dapat menerapkan praktik keuangan yang telah diajarkan secara konsisten. Mendorong adanya pelatihan tambahan terkait penggunaan aplikasi pencatatan keuangan digital, seperti BukuKas atau Akuntansi UKM, yang dapat membantu pelaku usaha mencatat transaksi secara lebih efisien. Diperlukan modul pelatihan lanjutan yang mencakup perencanaan usaha, strategi pengelolaan risiko, serta manajemen keuangan berkelanjutan untuk mendukung pertumbuhan usaha desa wisata. Perlu dijalin kerja sama lebih erat dengan pemerintah desa agar tata kelola keuangan dijadikan sebagai salah satu indikator pembinaan dan pengembangan UMKM desa wisata secara menyeluruh. Hasil dari kegiatan ini dapat didiseminasikan dalam bentuk artikel ilmiah, laporan pengabdian masyarakat, atau seminar lokal, sehingga dapat memberikan manfaat lebih luas sekaligus memperkuat jejaring antar institusi. KESIMPULAN Kegiatan pengabdian masyarakat berupa pelatihan literasi keuangan dan observasi usaha di Desa Wisata Celuk selama dua hari berjalan baik dan mencapai tujuannya, memberikan pemahaman aplikatif kepada pelaku usaha sekaligus pengalaman praktis bagi mahasiswa, dengan tingkat kepuasan peserta mencapai rata-rata 4,21. Untuk menjaga keberlanjutan dampaknya, diperlukan pendampingan lanjutan, pelatihan penggunaan aplikasi pencatatan digital, serta pengembangan modul terkait perencanaan usaha dan manajemen risiko, didukung kemitraan strategis dengan pemerintah desa. publikasi ilmiah atas hasil kegiatan dapat memperluas kontribusi dan jejaring PERNYATAAN PENGHARGAAN Penulis mengucapkan terima kasih kepada Kepala Desa Celuk atas dukungan dan fasilitasi yang telah diberikan selama kegiatan pengabdian kepada masyarakat berlangsung. Ucapan penghargaan juga disampaikan kepada pengurus BUMDes Celuk yang telah berperan aktif serta memberikan kontribusi penting dalam pelaksanaan kegiatan ini. Kerja sama dan keterlibatan semua pihak sangat membantu dalam mencapai tujuan kegiatan pengabdian DAFTAR PUSTAKA