Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar 7 . April 2026: 1-9 DOI: https://doi. org/10. 37366/jpgsd. E-ISSN: 2809-2910 RESEARCH ARTICLE Ramdhani et al. Mewujudkan Pembelajaran Bermakna di Kelas Awal: Refleksi Terhadap Rencana Pembelajaran Bahasa Indonesia Fase A Wahyu Ramdhani1. Dhina Cahya Rohim2,*. Candra Kristiyan1. Ika Ari Pratiwi1. Ani Rosidah1. Aisyah Faradhilah Yasmin1. Wagiran1 Program Studi Pendidikan Dasar. Universitas Negeri Semarang. Indonesia Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Universitas Muhammadiyah Kudus. Indonesia O Corresponding author: dhinacahya@students. To cite this article: Ramdhani. W,. Rohim. Kristiyan. Pratiwi. Rosidah. , & Yasmin. Mewujudkan Pembelajaran Bermakna di Kelas Awal: Refleksi Terhadap Rencana Pembelajaran Bahasa Indonesia Fase Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar , 7. , 1. https://doi. org/10. 37366/jpgsd. Articles Information Received : 23-12-2025 Revised : 07-04-2026 Accepted : 18-04-2026 Published : 30-04-2026 Abstrak Penelitian ini bertujuan merefleksikan kualitas Rencana Pembelajaran Bahasa Indonesia Fase A pada sekolah dasar dalam kerangka pembelajaran bermakna pada Kurikulum Merdeka. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif kualitatif reflektif dengan menganalisis satu dokumen Rencana Pembelajaran (RPM) menggunakan instrumen APKG 1. Analisis difokuskan pada empat aspek: keselarasan, kerangka pembelajaran, langkah pembelajaran, dan asesmen. Hasil menunjukkan bahwa RPM memperoleh skor keseluruhan 81% dengan kategori sangat baik. Langkah pembelajaran sudah mencerminkan prinsip pembelajaran bermakna memahami, mengaplikasi, dan merefleksi namun indikator asesmen belum operasional dan diferensiasi belum tergambar kuat. Pemanfaatan media digital dan kegiatan reflektif sudah ada tetapi belum optimal. Temuan ini menegaskan pentingnya refleksi terhadap dokumen perencanaan untuk memperkuat keselarasan pembelajaran dengan Profil Pelajar Pancasila serta mewujudkan pembelajaran yang berkesadaran, menggembirakan, dan kontekstual di kelas awal. Kata Kunci: Pembelajaran Bermakna. Refleksi Pembelajaran. Pendidikan Dasar. Fase A Abstract This study aims to reflect on the quality of the learning plan for Bahasa Indonesia in Phase A of elementary school within the framework of meaningful learning in the Merdeka Curriculum. Using a descriptive qualitative-reflective design, the research analyzed one learning plan (Rencana Pembelajaran Mengajar/RPM) assessed through the APKG 1 instrument. The analysis focused on four aspects: alignment, learning framework, learning steps, and assessment. The results showed that the RPM achieved an overall score of 81%, categorized as very good. The learning steps demonstrated strong alignment with meaningful learning principles understanding, applying, and However, assessment indicators were not yet operational, and differentiated learning was Digital media utilization and reflective activities were observed but not fully optimized. The findings highlight the importance of reflective analysis in improving learning design to ensure alignment with the Profile of Pancasila Students and the realization of joyful, conscious, and contextual learning experiences in early grades. Keywords: Meaningful Learning. Learning Reflection. Elementary Education. Phase A Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar 7 . April 2026: 1-9 | 1 Mewujudkan Pembelajaran Bermakna di Kelas AwalA E-ISSN: 2809-2910 PENDAHULUAN Pendidikan dasar merupakan fase krusial dalam membangun dasar kemampuan literasi, karakter, dan kesadaran belajar anak. Di Indonesia, penerapan Kurikulum Merdeka membawa paradigma baru: pembelajaran tidak lagi berfokus pada transfer pengetahuan, melainkan pada penciptaan pengalaman belajar yang bermakna, reflektif, dan berpihak pada murid (Kemdikbudristek, 2. Prinsip pembelajaran bermakna ini menekankan bahwa pengetahuan akan melekat apabila peserta didik mampu mengaitkan materi dengan pengalaman nyata, menemukan relevansinya, dan merefleksikan proses belajarnya (Purnawanto, 2. Dalam konteks Fase A . elas IAeII SD), pembelajaran Bahasa Indonesia memiliki peran strategis untuk menumbuhkan kemampuan berbahasa sekaligus membentuk karakter sosial dan emosional siswa (Wulandari & Hamzah, 2. Pembelajaran bahasa pada fase ini seharusnya bersifat eksploratif, menyenangkan, dan memfasilitasi perkembangan kognitif awal anak melalui kegiatan yang kontekstual, seperti bercerita, bermain peran, dan membaca bersama (Rohmah & Setyawan, 2. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran Bahasa Indonesia di lapangan masih didominasi pendekatan konvensional berpusat pada guru, berorientasi pada hafalan, dan minim kegiatan reflektif (Sefani. Ginanjar, & Azhar, 2025. Qondias & Irmawati, 2. Ketimpangan ini menandakan adanya Auimplementation gapAy antara idealisme Kurikulum Merdeka dan praktik pembelajaran di sekolah dasar. Sebagian guru masih kesulitan menurunkan Capaian Pembelajaran (CP) ke dalam indikator operasional, langkah pembelajaran, dan asesmen autentik (Anzilni. Latifah, & MaAorifat, 2. Akibatnya, asesmen yang dilakukan sering kali tidak benar-benar mengukur kompetensi komunikatif, kolaboratif, dan reflektif sebagaimana diamanatkan dalam Profil Pelajar Pancasila. Penelitian Gusnaida & Dafit . menemukan bahwa 70% guru SD belum memahami penerapan asesmen formatif dan diferensiasi yang dapat menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan unik murid. Selain itu, aspek pemanfaatan teknologi digital yang menjadi kekuatan Kurikulum Merdeka masih belum optimal. Banyak guru hanya menggunakan media digital sebatas pemutaran video tanpa eksplorasi evaluatif atau reflektif (Yuliana. Subiyantoro, & Ana, 2. Padahal, media digital memiliki potensi besar untuk membangun pengalaman belajar yang interaktif dan kontekstual, terutama di kelas awal yang masih berada dalam tahap berpikir konkret. Dalam praktik nyata, anak-anak kelas I dan II cenderung belajar secara intuitif dan emosional. Ketika pembelajaran tidak memberi ruang bermain, berinteraksi, dan bereksperimen, mereka kehilangan rasa ingin tahu dan makna dari proses belajar itu sendiri (Latief & Fathoni, 2024. Ramadhani, 2. Fakta lapangan menunjukkan bahwa banyak siswa kelas awal belum mampu mengekspresikan ide atau perasaan melalui bahasa secara utuh karena proses pembelajarannya terlalu prosedural dan kurang reflektif (Rahmadayanti & Hartoyo, 2. Dengan demikian, perlu dilakukan refleksi mendalam terhadap Rencana Pembelajaran (RPM) yang Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar 7 . April 2026: 1-9 | 2 Mewujudkan Pembelajaran Bermakna di Kelas AwalA E-ISSN: 2809-2910 telah disusun oleh guru. Dokumen perencanaan menjadi kunci karena dari sanalah dapat dilihat sejauh mana pembelajaran bermakna benar-benar dipetakan sejak tahap perencanaan. Analisis ini menjadi penting bukan hanya untuk mengidentifikasi kelemahan struktural, tetapi juga untuk menggali potensi perbaikan menuju pembelajaran yang benar-benar kontekstual, berkesadaran, dan menghidupkan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila. Penelitian ini berfokus pada refleksi dan analisis Rencana Pembelajaran Bahasa Indonesia Fase A dengan menelaah keselarasan antara tujuan pembelajaran, langkah kegiatan, dan asesmen dalam konteks pembelajaran bermakna. Hasil refleksi diharapkan memberikan gambaran nyata tentang praktik kurikulum di sekolah dasar serta menawarkan rekomendasi berbasis bukti untuk memperkuat kualitas perencanaan pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas awal. TINJAUAN PUSTAKA Pembelajaran Bermakna Pembelajaran bermakna menekankan keterkaitan antara pengalaman belajar dengan pengetahuan yang sudah dimiliki siswa sehingga pemahaman menjadi lebih mendalam dan kontekstual. Studi terbaru menunjukkan bahwa penerapan meaningful learning dapat meningkatkan keterlibatan, pemahaman konseptual, dan kemampuan berpikir kritis siswa sekolah dasar (Mustagfiroh et al. , 2. Pendekatan ini sejalan dengan paradigma Deep Learning yang menggabungkan unsur memahami, merefleksi, dan menerapkan, sehingga siswa tidak hanya menghafal tetapi membangun makna melalui aktivitas aktif dan kontekstual (Ambarita et , 2. Dalam implementasi Kurikulum Merdeka, pembelajaran bermakna dipandang relevan karena mendorong pengalaman belajar yang fleksibel, kolaboratif, dan berorientasi pada kebutuhan siswa. Penelitian menunjukkan bahwa guru perlu menyediakan asesmen autentik, media yang variatif, serta kegiatan refleksi agar pembelajaran bermakna dapat berlangsung secara optimal (Feriyanto & Anjariyah, 2. Tantangan utama terletak pada kesiapan guru dan konsistensi penerapan strategi pembelajaran aktif, namun dengan dukungan pedagogis yang tepat, meaningful learning terbukti efektif di sekolah dasar. Rencana Pembelajaran Rencana pembelajaran merupakan dokumen penting yang memandu guru dalam merancang tujuan, kegiatan, dan asesmen pembelajaran secara sistematis. Dalam konteks pendidikan dasar, rencana pembelajaran berfungsi sebagai instrumen untuk memastikan proses belajar berlangsung terarah, sesuai capaian pembelajaran, dan responsif terhadap kebutuhan siswa. Penelitian terbaru menegaskan bahwa kualitas rencana pembelajaran berpengaruh langsung terhadap efektivitas proses belajar di kelas, terutama dalam memastikan keselarasan antara tujuan, langkah pembelajaran, dan asesmen (Putri & Rahmawati. Pada Kurikulum Merdeka, rencana pembelajaran lebih fleksibel dan mendorong guru untuk Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar 7 . April 2026: 1-9 | 3 Mewujudkan Pembelajaran Bermakna di Kelas AwalA E-ISSN: 2809-2910 menyesuaikan strategi dengan karakteristik peserta didik. Guru dituntut merancang kegiatan bermakna, menerapkan diferensiasi, serta menggunakan asesmen formatif sebagai umpan balik berkelanjutan (Suryana et al. , 2. Studi lain menunjukkan bahwa rencana pembelajaran yang baik juga mencerminkan integrasi Profil Pelajar Pancasila, terutama dalam aspek kolaborasi, komunikasi, dan kreativitas (Hidayat & Nurafifah. Dengan demikian, rencana pembelajaran tidak hanya memuat langkah operasional, tetapi menjadi kerangka pedagogis yang mengarahkan praktik mengajar yang reflektif dan berorientasi pada kebutuhan METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif reflektif dengan tujuan mengevaluasi dan merefleksikan kualitas perencanaan pembelajaran Bahasa Indonesia Fase A berdasarkan prinsip pembelajaran bermakna dalam Kurikulum Merdeka. Pendekatan ini dipilih karena mampu menggali secara mendalam keselarasan antara tujuan, langkah pembelajaran, dan asesmen, serta mengidentifikasi celah . antara konsep ideal dan praktik perencanaan yang dilakukan guru. Model penelitian mengacu pada kerangka evaluasi dokumen pembelajaran sebagaimana dikembangkan oleh Fraenkel & Wallen . dan disesuaikan dengan konteks pembelajaran dasar di Indonesia (Miles. Huberman, & Saldaya, 2. Subjek penelitian ini adalah dokumen Rencana Pembelajaran (RPM) Bahasa Indonesia Fase A yang disusun oleh guru kelas awal Sekolah Dasar, yakni Susi Sulastri. Pd. Sumber data dalam penelitian ini terdiri atas dokumen Rencana Pembelajaran Bahasa Indonesia Fase A untuk kelas I semester 1 yang memuat tujuan, langkah, asesmen, serta media pembelajaran. Selain itu, penelitian ini juga memanfaatkan hasil analisis dan umpan balik dari kelompok penilai melalui instrumen APKG 1 terhadap RPM tersebut. Untuk memperkuat interpretasi data, penelitian ini didukung oleh berbagai literatur terkait pembelajaran bermakna, asesmen autentik, dan implementasi Kurikulum Merdeka di sekolah dasar yang terbit pada rentang tahun 2022 hingga 2025. Prosedur penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahapan. Pertama, pada tahap pengumpulan data, dokumen RPM diperoleh dari hasil kerja guru yang kemudian diunggah sebagai bahan analisis, sementara data sekunder dikumpulkan melalui jurnal dan publikasi terkait pembelajaran bermakna serta asesmen Kedua, analisis data dilakukan dengan menggunakan model interaktif Miles. Huberman, dan Saldaya . , yang mencakup pengumpulan data dokumen, reduksi data melalui penyaringan dan pengelompokan aspek-aspek RPM seperti keselarasan, kerangka, langkah, dan asesmen, penyajian data dalam bentuk tabel maupun uraian deskriptif, serta penarikan kesimpulan secara reflektif. Ketiga, validasi dan triangulasi dilakukan untuk menjaga keabsahan data dengan membandingkan hasil analisis RPM, literatur terkait teori pembelajaran bermakna, serta observasi reflektif dari kelompok penilai. Indikator analisis dalam penelitian ini berfokus pada empat dimensi utama yang diadaptasi dari Instrumen APKG 1 (Direktorat GTK, 2. Pertama, analisis menelaah keselarasan antara tujuan pembelajaran, langkah-langkah kegiatan, dan asesmen dengan dimensi Profil Pelajar Pancasila. Kedua, penelitian mengkaji kerangka pembelajaran yang mencakup praktik pedagogis, pengelolaan lingkungan Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar 7 . April 2026: 1-9 | 4 Mewujudkan Pembelajaran Bermakna di Kelas AwalA E-ISSN: 2809-2910 belajar, serta kemitraan yang terbangun selama proses pembelajaran. Ketiga, langkah pembelajaran dianalisis untuk melihat sejauh mana kegiatan mampu memfasilitasi tahapan memahami, mengaplikasi, dan Keempat, kualitas asesmen dievaluasi untuk menilai efektivitasnya dalam mengukur ketercapaian tujuan serta kemampuannya memberikan umpan balik formatif kepada peserta didik. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini menghasilkan analisis menyeluruh terhadap Rencana Pembelajaran (RPM) Bahasa Indonesia Fase Ayang disusun oleh guru kelas awal Sekolah Dasar berdasarkan prinsip pembelajaran Analisis dilakukan menggunakan instrumen APKG 1 yang menilai empat dimensi utama: keselarasan, kerangka pembelajaran, langkah pembelajaran, dan asesmen. Hasil penilaian disajikan pada Tabel 1. Table 1. Hasil Penilaian Rencana Pembelajaran Bahasa Indonesia Fase A Aspek Penilaian Skor Diperoleh Skor Maksimum Persentase Kategori Baik Sangat Baik Sangat Baik Baik Sangat Baik Keselarasan Kerangka Pembelajaran Langkah Pembelajaran Asesmen Total Sumber: Data primer hasil analisis RPM . Hasil menunjukkan bahwa Rencana Pembelajaran Bahasa Indonesia Fase A memiliki kualitas AuSangat BaikAy dengan total capaian 81%. Nilai tertinggi terdapat pada aspek Langkah Pembelajaran . %), menunjukkan bahwa guru telah berhasil menyusun aktivitas belajar yang sesuai dengan karakteristik peserta didik fase awal dan menggambarkan tahapan memahamiAemengaplikasiAemerefleksi. Namun, masih ditemukan kelemahan pada aspek asesmen . %) dan keselarasan . %), khususnya dalam perumusan indikator capaian yang belum operasional serta belum sepenuhnya terhubung dengan asesmen formatif. Beberapa elemen diferensiasi dan kemitraan pembelajaran juga belum tergambar secara konkret dalam dokumen RPM. Secara umum, pembelajaran yang dirancang sudah mencerminkan nilai-nilai pembelajaran mendalam melalui kegiatan diskusi, bermain peran, penggunaan media digital (Wordwall. YouTub. , dan refleksi sederhana di akhir pembelajaran. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa guru telah memahami konsep dasar pembelajaran bermakna sebagaimana diamanatkan oleh Kurikulum Merdeka. Hal ini terlihat dari adanya upaya merancang aktivitas belajar yang kontekstual, menyenangkan, dan berorientasi pada pengalaman nyata murid. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian Purnawanto . dan Wulandari & Hamzah . yang menyatakan bahwa pembelajaran bermakna pada fase awal harus menekankan keterlibatan aktif siswa dalam proses membangun makna melalui pengalaman belajar yang dekat dengan kehidupan mereka. Kekuatan RPM terletak pada konsistensi penyusunan langkah pembelajaran yang mengintegrasikan Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar 7 . April 2026: 1-9 | 5 Mewujudkan Pembelajaran Bermakna di Kelas AwalA E-ISSN: 2809-2910 tiga tahapan inti pembelajaran mendalam memahami, mengaplikasi, dan merefleksi. Aktivitas seperti menonton video, berdiskusi, dan bermain peran telah mendukung keterlibatan emosional dan kognitif Hasil ini mengonfirmasi temuan Rohmah & Setyawan . bahwa pendekatan kontekstual dan reflektif meningkatkan antusiasme belajar dan kemampuan komunikasi anak di kelas awal. Namun demikian, penelitian ini juga menemukan adanya Augap implementasiAy antara rancangan perencanaan dan prinsip ideal Kurikulum Merdeka. Meskipun kegiatan pembelajaran sudah selaras dengan capaian pembelajaran, indikator operasional dan asesmen autentik belum sepenuhnya menggambarkan ketercapaian dimensi Profil Pelajar Pancasila. Fenomena ini senada dengan temuan Anzilni. Latifah, & MaAorifat . serta Sefani. Ginanjar, & Azhar . yang mengungkapkan bahwa banyak guru masih kesulitan menurunkan capaian pembelajaran menjadi indikator terukur, terutama pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Kelemahan lain terdapat pada penerapan diferensiasi pembelajaran, yang menjadi salah satu ciri utama Kurikulum Merdeka. Hasil penelitian Gusnaida & Dafit . menunjukkan bahwa sebagian besar guru belum memiliki panduan yang jelas dalam menerapkan diferensiasi konten, proses, dan Dalam dokumen RPM yang dianalisis, diferensiasi hanya tampak dalam variasi media belajar, tetapi belum sampai pada perbedaan dukungan dan pengayaan sesuai kebutuhan siswa. Aspek kemitraan pembelajaran juga belum tergarap maksimal. Walaupun guru mencantumkan keterlibatan orang tua, bentuk kegiatan kolaboratifnya belum terurai konkret. Padahal, kemitraan antara guru dan orang tua terbukti berperan besar dalam mewujudkan pembelajaran bermakna di kelas awal (Yuliana. Subiyantoro, & Ana, 2. Selain itu, pemanfaatan media digital dalam RPM sudah cukup baik, tetapi masih bersifat instrumental digunakan untuk menampilkan video pembelajaran, tanpa diikuti dengan kegiatan reflektif atau penilaian berbasis digital. Menurut Latief & Fathoni . , media digital dalam pembelajaran fase awal seharusnya diarahkan untuk membangun keterampilan berpikir kritis dan kolaboratif, bukan sekadar sebagai hiburan atau ilustrasi. Dengan demikian, hasil refleksi ini menunjukkan bahwa secara konseptual guru telah menuju arah pembelajaran bermakna, namun secara teknis dan evaluatif masih diperlukan penguatan di aspek asesmen formatif, indikator capaian operasional, serta strategi diferensiasi yang lebih eksplisit. Hasil analisis ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengembangan model pelatihan guru dalam menyusun Rencana Pembelajaran yang reflektif, kolaboratif, dan berbasis Profil Pelajar Pancasila, sehingga pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas awal benar-benar menjadi wahana bagi anak untuk memahami dunia, mengekspresikan diri, dan menemukan makna belajar KESIMPULAN Berdasarkan analisis terhadap Rencana Pembelajaran (RPM) Bahasa Indonesia Fase A, diperoleh bahwa kualitas umum perencanaan pembelajaran tergolong sangat baik dengan skor 81%, menunjukkan pemahaman guru terhadap prinsip pembelajaran bermakna Kurikulum Merdeka. Langkah pembelajaran menjadi komponen terkuat . %) karena mampu memfasilitasi tahapan memahami, mengaplikasi, dan Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar 7 . April 2026: 1-9 | 6 Mewujudkan Pembelajaran Bermakna di Kelas AwalA E-ISSN: 2809-2910 merefleksi melalui aktivitas yang meningkatkan keterlibatan siswa. Namun, keselarasan tujuan dan asesmen masih perlu diperkuat, terutama dalam merumuskan indikator capaian yang operasional serta asesmen formatif yang benar-benar mencerminkan tujuan pembelajaran dan Profil Pelajar Pancasila. Aspek diferensiasi dan kemitraan dengan orang tua juga belum tergarap optimal, sementara penggunaan media digital sudah baik tetapi belum diarahkan untuk mendorong refleksi dan keterampilan berpikir kritis siswa. Oleh karena itu, diperlukan penguatan indikator capaian, pengembangan asesmen autentik, integrasi strategi diferensiasi dan kemitraan, serta pemanfaatan media digital yang lebih bermakna. Temuan ini menegaskan pentingnya refleksi kritis terhadap perencanaan pembelajaran sebagai dasar peningkatan praktik mengajar di sekolah dasar. UCAPAN TERIMAKASIH Peneliti mengucapkan terimakasih kepada beberapa pihak yang telah membantu pelaksanaan penelitian ini diantaranya yaitu Prof. Dr. Fathur Rokhman. Hum. Dr. Wagiran. Hum. , dan Prof. Dr. Hartono. Pd. selaku dosen pengampu mata kuliah Pengembangan Pembelajaran Bahasa dan Seni di Program Doktor Pendidikan Dasar. Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Semarang (UNNES) atas bimbingan, arahan, dan kesempatan untuk melakukan refleksi akademik terhadap Rencana Pembelajaran Bahasa Indonesia Fase A. Selain itu peneliti juga menyampaikan terima kasih juga disampaikan kepada guru kelas awal SD. Ibu Susi Sulastri. Pd. , atas keterbukaannya dalam berbagi dokumen Rencana Pembelajaran yang menjadi sumber utama penelitian ini serta semua pihak yang terlibat dalam penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA