PELATIHAN BANTUAN HIDUP DASAR (BHD) UNTUK REMAJA DI GEREJA KATOLIK SEMPAN TIMIKA SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN KESADARAN DAN KETERAMPILAN PENANGANAN KESIAPSIAGAAN DALAM MENGHADAPI KEADAAN DARURAT Johan Berwulo1*. Jeni Oktavia Karundeng2. Rosmitha Tanan3. Lenny Nurhandayani4. Renny Endang Kafiar 5. Harumytha Tukayu6. Ferdi Bunga Pakaran7. Fatima Yanti Onawame8. Yeli Mardona9. Diliani10 Poltekkes Kemenkes Jayapura,Kampus D3 Keperawatan Timika. Indonesia *Corresponding Autor Email : berwulojohan@gmail. ABSTRAK Pada remaja. BHD sangat penting untuk meningkatkan kesadaran dan keterampilan mereka dalam menghadapi situasi darurat. Remaja perlu dibekali dengan kemampuan untuk menghadapi situasi darurat seperti kecelakaan, serangan jantung, atau cedera berat. Pelatihan BHD tidak hanya mengajarkan teknik pertolongan, tetapi juga menanamkan kesadaran akan pentingnya bertindak cepat dan tepat dalam situasi kritis. Dengan bekal pengetahuan dan keterampilan yang tepat, remaja dapat memberikan pertolongan pertama yang efektif sebelum bantuan profesional tiba. Tujuan Pengabdian Masyarakat untuk meningkatkan Pengetahuan dan Ketrampilan Remaja dalam Penanganan kesiapsiagaan dalam menghadapi keadaan darurat. Metode pelaksanaan dengan edukasi. Demonstrasi. Praktik langsung. Role Play. Evaluasi. Kegiatan ini di ikuti oleh 30 remaja dengan rentang usia 13-17 tahun dan dilaksanakan di Gereja Katolika Santu Stefanus Sempan Timika dengan hasil kegiatan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan remaja dalam pelaksanaan BHD Kata Kunci: BHD. Remaja. Peningkatan Kesadaran ABSTRACT In adolescents. BHD is very important to increase their awareness and skills in dealing with emergency Adolescents need to be equipped with the ability to deal with emergency situations such as accidents, heart attacks, or serious injuries. BHD training not only teaches first aid techniques, but also instills awareness of the importance of acting quickly and appropriately in critical situations. With the right knowledge and skills, adolescents can provide effective first aid before professional help arrives. The purpose of Community Service is to improve the Knowledge and Skills of Adolescents in Handling preparedness in dealing with emergencies. The implementation method is with education. Demonstration. Direct practice. Role Play. Evaluation. This activity was attended by 30 adolescents aged 13-17 years and was carried out at the Santu Stefanus Sempan Catholic Church in Timika with the results of the activity being able to increase the knowledge and skills of adolescents in implementing BHD Keywords: BHD. Adolescents. Increased Awareness JURNAL ABDIMAS PANRITA Vol 6. No. 2 September, 2025 PENDAHULUAN Kondisi kegawatdaruratan dapat terjadi secara tiba-tiba dan tidak terduga, baik di lingkungan sekitar maupun pada siapa saja. Ketika kecelakaan atau bencana terjadi, masyarakat awam yang pertama kali menemukan korban memiliki peran penting dalam memberikan pertolongan awal yang dapat menentukan keselamatan jiwa korban. Namun, tanpa pengetahuan yang memadai tentang cara memberikan pertolongan yang tepat, terutama dalam situasi henti jantung atau henti nafas, kondisi korban dapat memburuk dengan cepat bahkan berujung pada kematian dalam hitungan menit (Farida et al. , 2. Survei Kesehatan Indonesia (SKI), menunjukkan prevalensi penyakit jantung di Indonesia Sebesar 0,85% yakni 877. Survei ini menunjukkan bahwa dari setiap 100 orang di Indonesia, 0,85 orang diantaranta mendertia penyakit jantung (SKI. Gangguan/ kerusakan fungsi jantung dalam menyumplai darah yang mengangkut nutrisi dan oksigen, dapat menyebabkan terjadinya hipoksia pada jaringan, khususnya otak. Jika selama 4 menit, otak tidak mendapatkan suplai darah yang cukup maka akan mulai terjadi kerusakan otak, dan jika selama 10 menit tidak mendapatkan suplai darah yang cukup makan akan terjadi kematian jaringan pada otak (Rika Widianita, 2. Pertolongan pertama yang dapat dilakukan pada keadaan henti jantung atau henti nafas adalah dengan Bantuan Hidup Dasar (BHD). Bantuan hidup dasar meliputi beberapa keterampilan yaitu mengenali kejadian henti jantung mendadak, meminta bantuan dengan segera, melakukan resusitasi jantung paru, dan bahkan dibeberapa negara sudah mengenalkan penggunaan AED (Automatic External Defibrilato. (Suleman, 2. BHD pada masyarakat awam meliputi danger, respon, shout for help, circulation dan recorvery position (AHA, 2. Bantuan Hidup Dasar bisa diajarkan kepada siapa saja sesuai kapasitasnya dengan bekal pengetahuan medis dasar untuk menyelamatkan hidup seseorang dengan kondisi henti jantung dan henti Di sinilah pentingnya pengetahuan dan keterampilan dalam memberikan pertolongan pertama. Dengan memahami cara memberikan bantuan yang tepat, kita dapat menjadi lebih siap untuk menghadapi situasi darurat dan berpotensi menyelamatkan nyawa seseorang. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mempelajari dan mempraktikkan keterampilan pertolongan pertama, sehingga kita dapat bertindak dengan percaya diri dan efektif ketika dibutuhkan. JURNAL ABDIMAS PANRITA Vol 6. No. 2 September, 2025 Pada remaja. BHD sangat penting untuk meningkatkan kesadaran dan keterampilan mereka dalam menghadapi situasi darurat. Remaja perlu dibekali dengan kemampuan untuk menghadapi situasi darurat seperti kecelakaan, serangan jantung, atau cedera berat. Pelatihan BHD tidak hanya mengajarkan teknik pertolongan, tetapi juga menanamkan kesadaran akan pentingnya bertindak cepat dan tepat dalam situasi kritis. Dengan bekal pengetahuan dan keterampilan yang tepat, remaja dapat memberikan pertolongan pertama yang efektif sebelum bantuan profesional tiba. Dengan demikian, pelatihan BHD untuk remaja bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan keterampilan mereka dalam menghadapi situasi darurat, serta mempersiapkan mereka sebagai penolong yang efektif dalam komunitasnya. METODE PELAKSANAAN Metode yang dilakukan menggunakan 4 tahapan yaitu Pendekatan Edukasi dan Pelatihan Praktis. Pelatihan praktik langsung melalui demonstrasi dan role play dan Evaluasi/Umpan balik. Pembagian dan Pengawasan lanjutan. Pelatihan diikuti oleh 30 orang dengan rentang usia 13-18 tahun. Durasi pelatihan 8 jam dengan Lokasi Pelaksanaan di Gereja Katolik St. Stevanus Sempan Timika Papua yang dilaksanakan pada tanggal 27 April 2024. Melakukan persuratan ke Pelaksanaan di Gereja Katolik St. Stevanus Sempan Timika Papua. Menyiapkan surat tugas. Berita acara dan surat telah selesai melakukan pengabdian masyarakat yang dibantu tim LPPM Koordinasi dengan Pelaksanaan di Gereja Katolik St. Stevanus Sempan Timika Papua Gambar 1: Denah Lokasi JURNAL ABDIMAS PANRITA Vol 6. No. 2 September, 2025 HASIL Tabel 1 Distribusi Berdasarkan Umur UMUR (%) n=30 Berdasarkan data pada tabel 1. 1 menunjukkan responden dari 30 responden . %), terbanyak berumur 17 tahun atau sebanyak 7 orang . ,33 %). Tabel 2 Distribusi Berdasarkan Jenis Kelamin n=30 Presentase (%) Berdasarkan data pada tabel 2 menunjukan jenis kelamin terbanyak adalah perempuan 16 orang . ,3%) dari 30 responden Tabel 3 Distribusi Berdasarkan Suku Berdasarkan data pada tabel 1. 3 menunjukan Suku terbanyak, suku Key 17 responden . ,62%). Tabel 4 Distribusi Frekuensi Kelompok untuk nilai Kelompok Nilai <60 Rata-rata JURNAL ABDIMAS PANRITA Post Pre n=30 N=30 33,33% 86,8% Vol 6. No. 2 September, 2025 PEMBAHASAN Pada kegiatan Pengabdian Masyarakat ini diikuti oleh 30 responden remaja dengan karakteristik dari setiap orang berbeda-beda. Karakteristik Respponden berdasarkan Data Demografi. Pada tabel 1 dapat diketahui bahwa respon berada di rentang usia 13-17 tahun dengan responden responden terbanyak berusia 17 tahun, 7 orang . 33%). Tabel 1. 2 menunjukkan sebanyak 16 orang . ,33%) responden Perempuan sebanyak Dan laki-laki 14 orang . ,67%). Tabel 1. 3 responden terbesar suku key 17 orang . ,62%). Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas responden berusia di rentang usia akhir remaja Dimana diusia ini secara psikologis sudah paham dan terbuka dengan pengetahuan dan Pendidikan sehingga kelompok diusia ini sangat tepat untuk diberikan pelatihan. begitupun jangkauan responden berdasarkan jenis kelamin dalam program pengabdian Masyarakat ini tanpa bias yang terlalu besar. Dalam pengabdian Masyarakat ini terlihat bahwa kegiatan inti merangkul multi etnis sehingga pendekatan intracultural juga dipertimbangkan dalam melakukan pendekatan dalam penelitian ini. Hasil Evaluasi sebelum dan setelah Kegiatan Tabel 2 menunjukkan penilaian pada responden yang menggunakan pre-posttest untuk mengukur pengetahuan dan ketrampilan responden. Dasar pemilihan metode ini berdasarkan riset systematic review yang dilakukan oleh Azizah. A, , et al. , . , yang mengukur efektivitas pelatihan BHD pada Masyarakat umum Dimana didapatkan hasil dari beberapa artikel yang menyebutkan bahwa semua artikel . artikel yang direvie. semuanya menggunakan pre-post tes. Pada tabel tersebut terlihat adanya peningkatan dalam pengetahuan. Hal yang sama dikemukakan Firdaus, et al. dalam penelitian yang mengulas 6 artikel tentang pelatihan BHD menyebutkan bahwa metode pre-post test memiliki keefektifan dalam Pengabdian Masyarakat ini penilaian diukur dengan mengklasifikasikan kelompok nilai responden. Dimana jika nilai 90-100 . angat bai. atau berarti responden mengetahui semua keterampilan dan konsep BHD dengan benar. Jika nilai 75-89 . berarti responden menguasai Sebagian besar keterampilan dengan beberapa koreksi kecil. Jika nilai 60-74 . menunjukkan respon mengerti konsep, tetapi kurang tepat dalam pelaksanaan Dan jika nilai < 60 . berarti responden butuh pelatihan ulang dan pendampingan lebih lanjut. Pengelompokkan nilai dilakukan berdasarkan JURNAL ABDIMAS PANRITA Vol 6. No. 2 September, 2025 scoring dari 7 pertanyaan mencakup pengetahuan umum tentang BHD. Langkah penanganan BHD. Tekhnik Kompresi dada, tekhnik pemberian napas buatan, respon situasi darurat, pemanggilan bantuan dan simulasi kasus. Materi dan kuisioner dan standar penilaian yang digunakan diambil dari AHA. Resucitation Council UK. European Resucitation Council ERC. dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Standar ini digunakan karena sangat sesuai untuk menilai remaja dan masyarakat umum. Dari hasil tersebut sebelum kegiatan semua responden pengetahuan kurang/ <60 Pelatihan menggunakan kegiatan terstruktur dengan tahapan pelatihan dibawah ini: Penyuluhan Teoritis: Sesi pertama pelatihan dimulai dengan ceramah edukatif selama 100 menit yaitu penjelasan tentang prinsip dasar Bantuan Hidup Dasar (BHD), termasuk pengenalan teknik-teknik dasar seperti resusitasi jantung paru (RJP), penanganan luka, dan pertolongan pertama pada cedera atau kecelakaan. Pemilihan metode ceramah dilakukan dengan upaya responden mengetahui konsep teori dari BHD. Sejalan dengan Metode yang sama juga dilakukan oleh Antoni, dkk . pada remaja untuk mencegah masalah mental health. Begitupun yang dilakukan Damanik. N, dkk. , . yang melakukan pelatihan BHD dengan cara edukasi pada siswa/I SMA Alfitya Medan . hal yang sama juga dilakukan oleh Tansah. , & Ismiyati. , . pada remaja putri Pondok pesantren Nurul falah kabupaten Lebak yang menyebutkan bahwa dengan memberikan edukasi selama 2 bulan dapat meningkatkan pengetahuan remaja dalam mendeteksi anemia. Hal yang sama dilakukan oleh (Sitohang, , & Yusniar. (Saputro. Afni. , & Suparmanto. Gambar 2: Fasilitator memberikan penyuluhan JURNAL ABDIMAS PANRITA Vol 6. No. 2 September, 2025 b. Demonstrasi Teknik: Fasilitator mendemonstrasikan langkah-langkah yang harus diambil dalam memberikan BHD, seperti bagaimana memberikan kompresi dada yang benar, cara melakukan pernapasan Demonstrasi dilakukan dengan Upaya meningkatkan pemahaman remaja terhadap tindakan yang akan dilakukan. Sejalan dengan (Nur. Yuliana. , & Ibrahim. , 2. yang menyebutkan bahwa dengan memberikan demonstrasi pada 36 anak meningkatkan pemahaman terkait dengan Pendidikan dan Kesehatan. Gambar 3: Fasilitator mendemonstrasikan Pelatihan Praktik Langsung: Pelatihan praktik langsung Remaja dibagi menjadi beberapa kelompok kencil untuk diberikan praktik Gambar 4: Simulasi Role Play: Setiap peserta diberi kesempatan untuk pertolongan pertama, sehingga mereka bisa mempraktikkan keterampilan BHD dalam situasi yang lebih JURNAL ABDIMAS PANRITA Vol 6. No. 2 September, 2025 Gambar 4: Role Play Evaluasi dan Umpan Balik: Setelah setiap sesi praktik, instruktur akan memberikan umpan balik langsung mengenai teknik yang digunakan oleh peserta, serta memperbaiki kesalahan dan memberikan saran perbaikan. Penilaian akhir menggunakan lembar penilaian post-test dan ujian praktek akan dilakukan untuk mengukur pemahaman peserta mengenai materi yang telah diberikan dengan nilai Dari hasil evaluasi maka dilihat adanya peningkatan dalam pengetahuan Dimana hanya 1 responden dengan nilai cukup atau kurang tepat dalam pelaksanaan teknis/praktik, 17 orang dengan kategori baik atau menguasai Sebagian besar ketrampilan dan praktik dan 10 orang sangat baik atau menguasai semua konsep dan ketrampilan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa setelah pelaksanaan pelatihan ini penguasaan materi dan ketrampilan remaja dalam melakukan BHD baik dengan rata-rata nilai 86,8 . %). Hasil ini sejalan dengan yang dikemukakan Firdaus. , . , bahwa dengan melakukan pelatihan dapat meningkatkan Begitupun Lumbantoruan. M, dkk. , . menyebutkan dalam pengabdian Masyarakat yang dilakukan pada remaja PMR meningkatkan pengetuhan dan kemampuan melakukan CPR. Hal yang sama dikemukakan (Yudyarto. Fatchurozak. Suparjo 2. (Yogiswara. Wangsa. , & Kurniawati. KESIMPULAN Kesimpulan: setelah dilakukan pelatihan BHD pada remaja terdapat peningkatan pengetahuan dan keterampilan remaja dalam melakukan Bantuan Hidup dasar. JURNAL ABDIMAS PANRITA Vol 6. No. 2 September, 2025 DAFTAR PUSTAKA