MODEL PREDIKSI KINERJA PENGELOLA PROGRAM DALAM CAPAIAN CASE DETECTION RATE PENYAKIT TB DI PROVINSI SUMATERA SELATAN Afrimelda1. Ekowati Retnaningsih2 Dinas Kesehatan Palembang Jl. Merdeka No. 72A, 19 Ilir Bukit Kecil Telp. Email : melda. mhendry@yahoo. Balitbangnovda Provinsi Sumatera Selatan Jl. Demang Lebar Daun No. 4864 Telp. Email: eko_promkes2003@yahoo. Diterima : 13/06/2012 Direvisi :26/07/2013 Disetujui : 30/08/2013 ABSTRAK Penemuan kasus tuberkulosis (Case Detection Rat. di Provinsi Sumatera Selatan cakupannya 46,20% dari target CDR 70%. Fakta ini merupakan gambaran kinerja petugas pengelola program P2TB Puskesmas yang merupakan salah satu kunci strategis dalam pencapaian target Case Detection Rate. Mengetahui hubungan variabel umur, jenis kelamin, lama kerja, pengetahuan, pelatihan, desain pekerjaab, sumber daya, kepemimpinan, supervisi, motivasi petugas pengelola P2TB Puskesmas berdasarkan teori perilaku dan kinerja Gibson dengan Case Detection Rate program P2TB puskesmas provinsi sumatera selatan tahun 2009. Desain penelitian adalah cross sectional kualitatif. Sampel diambil secara multistage random sampling. Hasil uji statistik regresi logistik ganda menunjukkan variabel yang dominan adalah pelatihan . =0,001 dan Odds rasio= 8,. Jenis kelamin, pengetahuan, pelatihan, sumber daya, supervisi, motivasi petugas pengelola program P2TB Puskesmas adalah faktor-faktor yang mempengaruhi pencapaian target case detection rate program P2TB Puskesmas Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009. Faktor paling dominan adalah Kata kunci : Umur. Jenis Kelamin. Lama Kerja. Pengetahuan. Pelatihan. Design Pekerjaan. Sumber Daya. Kepemimpinan. Supervisi. Motivasi. Kinerja. Case Detection Rate PREDICTION MODEL OF PROVIDER TB PERFORMANCE TO ACHIEVE CASE DETECTION RATE IN SOUTH SUMATERA ABSTRACT Tuberculosis case detection rate in South Sumatera Province in 2009 was 4620%. This fact was a description of the Public Health Centre P2TB program officerAos performance which is one of the strategic key in the achievement of tuberculosis case detection rate. To determine the variables relationship of age, gender, length of working time, knowledge, training, job design, resources, leadership, supervision, motivation of the P2TB program officer according to the Gibson theory with tuberculosis case detection rate of Public Health Centre P2TB program in South Sumatera Province The study was a quantitative cross sectional. Samples were taken with multistage random The multiple logistic regression showed the dominant variable that significantly associated with tuberculosis case detection rate was training . -value = 0. 001 and odds ratio = 8. Conclusion gender, knowledge, training, resources, supervision, motivation of the tuberculosis case detection rate of Public Health Centre P2TB program in South Sumatera Province 2009. The dominant factor among them was training. Keywords: Age. Gender. Length Of Working Time. Knowledge. Training. Job Design. Resources. Suprervision. Motivation Performance. Case Detection Rate. Jurnal Pembangunan Manusia Vol. 7 No. 2 Agustus 2013 PENDAHULUAN Tuberkulosis paru adalah penyakit menular langsung TBC yang disebabkan program P2TB di Sumatera Selatan (Mycobacterium ternyata masih rendah yaitu sebesar Sebagian besar kuman Tuberkulosis dapat juga mengenai organ lainnya. Salah kerja personil. hasil evaluasi kinerja 46,2% pada tahun 2009. Penemuan pasien (Case Detection Rat. dalam kegiatan program penanggu langan TB. Menurut Depkes RI 2008 P2TB adalah angka penemuan suspect TB dan angka penemuan kasus TB adalah tugas dan tanggung jawab BTA( ). Kegiatan CDR ini melibatkan pengelola program P2TB. Indikator ini seluruh petugas yang termasuk dalam P2TB tingkat kinerja tenaga kesehatan tingkat Kepala nasional, provinsi, kabupaten, sampai Puskesmas Puskesmas. Dokter balai pengobatan, berhubungan dengan capaian CDR. erawat BP), petugas laboratorium atau CDR merupakan gambaran kinerja dan seluruh unit pelayanan kesehatan petugas pengelola TB dengan Capaian (UPK). Akan tetapi yang lebih banyak CDR yang tugas dan tanggung jawab terhadap menggambarkan masih rendah kinerja keberhasilan penemuan kasus baru pengelola program TB Paru. Faktor- (CDR) Tuberkulosis paru terletak pada faktor apa yang mempengaruhi kinerja Paru ini belum banyak diketahui, oleh karena Puskesmas. peningkatan CDR sangat itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang kinerja pengelola P2TB dalam penanggulangan TB Karena CDR rendah, penularan TB P2TB Kinerja pengelolaan program Bahwa hal ini Puskesmas. Jika ditanggulangi maka kematian akibat TB lebih banyak dan kerugian secara berkaitan erat dengan indikator kinerja ekonomis pada usia produktif . -50 program. Kinerja dapat merupakan penampilan individu maupun kelompok waktu kerjanya 3 sampai 4 bulan. Hal rata-rata Afrimelda dan Ekowati Retnaningsih: Model Prediksi Kinerja Pengelola Program Dalam Capaian Case Detection Rate Penyakit TB Di Provinsi Sumatera Selatan tersebut berakibat pada kehilangan efek tidak langsung terhadap perilaku Karena Selain merugikan secara ekonomis. TB variabel kemampuan dan keterampilan yang terdiri dari fisik dan mental sulit lainnya secara sosial stigma bahkan sampai dikucilkan oleh masyarakat. Variabel isain pekerjaan, sumber Kerangka konsep daya kepemimpinan, imbalan, struktur. Kerangka konsep dalam penelitian ini dibuat dengan mengacu pada Teori Prilaku Kinerja Gibson dalam Yaslis Ilyas . Menurut Teori Prilaku dan Kinerja Gibson . dalam Yaslis Ilyas. ada beberapa yang mempengaruhi kinerja Variabel individu terdiri dari subvariabel kemampuan dan belakang dan sub variabel demografis. Menurut Gibson . variabel ini banyak dipengaruhi oleh subvariabel kemampuan dan keterampilan sedang kan subvariabel demografis mempunyai Gibson . berefek tidak langsung terhadap perilaku dan kinerja individu. Peneliti tidak melakukan struktur dan kontrol karena tidak dapat Variabel psikologis seperti persepsi, merupakan hal yang kompleks dan sulit diukur. , maka peneliti hanya meneliti subvariabel motivasi. Peneliti mencoba penelitian ini berdasarkan teori perilaku dan kinerja oleh Gibson . sebagai Bagan 1 Kerangka Konsep Penelitian VARIABEL INDEPENDEN VARIABEL DEPENDEN VARIABEL INDIVIDU Umur Jenis kelamin Lama kerja Pengetahuan Pelatihan VARIABEL ORGANISASI Design pekerjaan Sumber daya Kepemimpinan Supervisi CDR Program P2TB Paru Puskesmas VARIABEL PSIKOLOGIS Motivasi Jurnal Pembangunan Manusia Vol. 7 No. 2 Agustus 2013 METODOLOGI Penelitian ini menggunakan desain membutuhkan sampel minimum 100 cross sectional dengan pendekatan . kuantitatif, yang dilaksanakan pada Berdasarkan perhitungan statis jumlah Populasi sebanyak 278 sampel yang akan diteliti sebanyak 96 orang petugas pengelola program TB di ditambah 10% sehingga jumlah sampel Sumatera Selatan. Penentuan jumlah sampel menggunakan rumus: didapat n = 96. Oe . Sehingga Pengambilan sampel dilakukan Keterangan: random sampling yaitu cluster random n= Besar sampel dan simpel random sampling. Cluster Z= Standar error rata-rata( table 1,96 karena alpha 0,005. Cl=95%) D= Derajat kesalahan 10% = 0,1 P= Proporsi CDR pada populasi sumsel yaitu di kabupaten Muba. Ogan 46,20% masyarakat di 40% kabupaten / kota di Ilir. Palembang. Lubuk Linggau. Musi 0,46 Diketahui n= jumlah petugas pengelola Rawas dan Banyuasin. Pengumpulan P2TB Puskesmas dengan cara telaah dokumen dan . x 0,46. Oe 0,. wawancara menggunakan kuesioner. 3,8416 x 0,2484 0,01 Analisis data menggunakan analisis = 95,8 dibulatkan menjadi 96 Menurut Sutanto Priyo Hastono untuk HASIL Hasil analisis univariat variabel kinerja CDR dapat dilihat pada tabel 1. Multivariat Tabel 1 Distribusi Frekuensi Case Detection Rate Program P2TB Puskesmas Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 metode enter. = 0,9543 O 0,01 CDR program P2TB PKM Tercapai target 70% Tidak tercapai target 70% Total Jumlah Persentase Afrimelda dan Ekowati Retnaningsih: Model Prediksi Kinerja Pengelola Program Dalam Capaian Case Detection Rate Penyakit TB Di Provinsi Sumatera Selatan Dari tabel 1 diketahui bahwa Case Detection Rate program P2TB Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 tidak tercapai target 70% pada responden sebanyak 78 orang atau 73,6% lebih responden yang tercapai target 28 orang atau 26,4%. Distribusi frekuensi dari seluruh variabel independen dapat dilihat pada tabel 2. Tabel 2 Gabung Variabel Umur Total Jenis kelamin Total Lama kerja Total Pengetahuan Total Pelatihan Total Desain Pekerjaan Kategori Ou median . ,5 . < median . ,5. Laki-laki Perempuan Lama . -45 tahu. Baru (<4 tahu. Baik (Ou media. Kurang (< media. Pernah (Ou1 kal. Tidak pernah Sesuai (Ou media. Tidak sesuai (< media. Total Sumber Daya Total Kepemimpinan Total Supervisi Total Motivasi Lengkap . a= . Tidak lengkap . Motivator . a=1-. Tidak motivator . Baik . kor nilai Ou75%) Kurang . kor nilai <75%) Baik (Oumedian. Kurang ( 0,25 tidak diikutsertakan ke Hasil seleksi bivariat dari penelitian ini dapat dilihat pada tabel 4. Tabel 4 Hasil Analisis Regresi Logistik Ganda Tahap Seleksi Bivariat Terhadap Variabel Independen Variabel independen Jenis kelamin Lama kerja Pengetahuan Pelatihan Sumber Daya Kepemimpinan Motivasi Konstanta P value 0,063 0,140 0,051 0,007 0,001 0,022 0,036 -12,240 Ketujuh variabel independen hasil analisis regresi logistik ganda tahap seleksi bivariat diatas dilanjutkan untuk analisis regresi logistik ganda tahap permodelan dengan p-value Exp (B) 3,389 0,291 4,132 9,492 8,890 4,573 4,603 95% Cl 0,938-12,247 0,056-1,502 0,995-17,165 1,832-49,185 2,324-34,014 1,244-16,811 1,107-19,136 <0,05. Hasil analisa multivariat dengan uji regresi logistik ganda tahap permodelan dengan mengeluarkan pvalue secara bertahap dari p-value Afrimelda dan Ekowati Retnaningsih: Model Prediksi Kinerja Pengelola Program Dalam Capaian Case Detection Rate Penyakit TB Di Provinsi Sumatera Selatan Hasil permodelan dapat dilihat pada tabel 5. Tabel 5 Hasil Akhir Analisis Regresi Logistik Ganda Tahap Permodelan Variabel independen P value Exp (B) 95% Cl Pelatihan 0,001 8,891 2,384 - 33,150 Sumber Daya 0,001 8,559 2,473 - 29,630 Kepemimpinan 0,006 5,527 1,624 - 18,810 Motivasi 0,014 5,434 1,405 - 21,023 Konstanta -10,310 Dari tahun 2009 dengan kecenderungan 8,9 bahwa tidak ada variabel independen kali berhubungan bermakna dengan yang p-value >0,05 berarti ada 4 CDR program P2TB Puskesmas. Model variabel independen yang lolos dalam prediksi dapat dilihat pada tabel 3 yaitu analisa multivariat dengan uji regresi terdapat 4 . variabel independen logistik ganda yaitu variabel pelatihan, sumber daya, supervisi dan motivasi. sumber daya, supervisi dan motivasi Setelah sedangkan ketiga variabel lainnya yaitu lama kerja, jenis kelamin, pengetahuan interaksi antara variabel independen dapat dikatakan sebagai confounding. sehingga hasil akhir permodelan tetap Persamaan regresi tanpa interaksi dari dengan 4 variabel independen seperti variabel regresi tanpa interaksi dan pada tabel diatas. Dari tabel diatas Case Detection Rate P2TB dominan adalah variabel pelatihan . - value = 0,. dengan nilai ExpB = 8,891 CDR program P2TB Puskesmas merupakan variabel yang dominan atau = -10,310 2,185 . 2,147 . umber day. 1,710 . Case Detection Rate (CDR) program P2TB 1,193 . Puskesmas Provinsi Sumatera Selatan Jurnal Pembangunan Manusia Vol. 7 No. 2 Agustus 2013 PEMBAHASAN Hasil Menurut teori Gibson . yang menyatakan bahwa pelatihan termasuk program P2TB Puskesmas yang tidak sebanyak 57 orang atau 53,8% lebih Pelatihan merupakan salah satu upaya peningkatan pengetahuan, responden yang pernah mendapatkan sikap dan keterampilan petugas dalam 46,2%. rangka meningkatkan mutu dan kinerja Berdasarkan hasil analisis bivariat CDR petugas. Konsep pelatihan dalam P2TB Puskesmas pendidikan/pelatihan sebelum bertugas TB, responden yang pernah mendapatkan . re pelatihan sebanyak 21 orang atau 42,9% penanggulangan TB strategi DOTS, kemudian pelatihan dalam tugas . n mendapatkan pelatihan sebanyak 7 service trainin. berupa pelatihan dasar orang atau 12,3%, dimana p-value . nitial 0,001 . <0,. yang berarti pelatihan implementatio. yaitu pelatihan penuh, ada hubungan bermakna dengan CDR seluruh materi diberikan. Sedangkan dengan Odds Rasio=5,357 dan nilai pelatihan ulangan . , yaitu 95%CI=2,026-14,167. Berdasarkan DOTS terhadap peserta yang telah mengikuti dinyatakan bahwa variabel independen yang dominan adalah variabel pelatihan kinerjanya, dan tidak cukup hanya Pelatihan ExpB=8,891 berarti variabel pelatihan yang dilakukan terhadap peserta yang terhadap Case Detection Rate (CDR) telah mengikuti pelatihan sebelumnya program P2TB Puskesmas Provinsi minimal 5 tahun atau ada up-date Sumatera Selatan tahun 2009 dengan kecenderungan 8,89 kali. -value=0,. tugas/refreshe. Afrimelda dan Ekowati Retnaningsih: Model Prediksi Kinerja Pengelola Program Dalam Capaian Case Detection Rate Penyakit TB Di Provinsi Sumatera Selatan telah mengikuti pelatihan sebelumnya dilakukan sejalan. Pada penelitian ini tetapi masih ditemukan masalah dalam kinerjanya, dan cukup diatasi hanya berhubungan oleh karena dengan telah mengikuti pelatihan secara langsung Untuk . ontinue training/advanced trainin. maksudnya pengetahuan, keterampilan, serta kerja yang lebih terarah sehingga dapat memotivasi bekerja lebih baik dari Materi berbeda dengan pelatihan dasar. Berdasarkan Pada pengelola program di provinsi sumatera selatan tahun 2009 lebih banyak yang belum terlatih Kristiani . yang mengatakan bahwa pelatihan ada hubungan dengan penderita TB (Case Detection Rat. penemuan kasus TB BTA positif. Hal ini belum mencapai target. Pencapaian CDR Program P2TB Puskesmas Sumatera Selatan tahun 2009 pada pengelola program P2TB membangun serta pekerjaan menjadi sebanyak 75 orang atau 70,8% lebih Hasil ini sama dengan hasil banyak, sedangkan responden yang Kristiani . lengkap 31 orang atau 29,2%. Hasil menyatakan ada hubungan bermakna analisis bivariat menyatakan bahwa pelatihan dengan penemuan kasus TB Case Detection Rate (CDR) program P2TB Puskesmas Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 yang mencapai dapat ditingkatkan. Berdasarkan pembahasan di atas P2TB Puskesmas mempunyai sumberdaya yang lengkap bahwa tidak ada perbedaan antara sebanyak 17 orang atau 54,8% lebih hasil penelitian yang dilakukan dengan banyak, sedangkan pada responden dengan sumber daya tidak lengkap beberapa peneliti terdahulu, menurut sebanyak 11 orang atau 14,7%, dimana analisis peneliti diduga penelitian yang p-value 0,001 . <0,. berarti sumber Jurnal Pembangunan Manusia Vol. 7 No. 2 Agustus 2013 daya ada hubungan bermakna dengan kualitatif yaitu perlunya kelengkapan Case Detection Rate dengan Odds sumber daya manusia dan sumber Rasio=7,065 dan nilai 95%CI= 2,722- daya sarana dalam program P2TB 18,336. Pada hasil analisis regresi logistik ganda didapatkan hasil bahwa variabel sumber daya mempunyai p value 0,001 berarti p-value< 0,005. Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa tidak ada Berdasarkan teori Gibson . perbedaan antara hasil penelitian yang sumber daya merupakan alat bantu di lakukan dengan teori kinerja dan UPK Pada Puskesmas yaitu untuk Puskesmas bahwa penelitian ini sejalan dengan Rujukan Mikroskopis dan Puskesmas teori dan hasil penelitian terdahulu. Pelaksana Mandiri, kebutuhan minimal Peneliti menduga pada penelitian ini tenaga pelaksana 1 dokter dan atau kenyataan yang terjadi di tahun 2009 kepala puskesmas, 1 perawat/petugas ketersediaan sarana penunjang seperti TB, dan 1 tenaga laboratorium. Untuk logistik reagensia, sarana penyimpanan puskesmas satelit, kebutuhan minimal dahak dan obat terjadi keterlambatan tenaga pelaksana terlatih, 1 dokter atau kepala puskesmas dan 1 perawat sehingga penemuan kasus TB menjadi /petugas TB. Puskesmas pembantu, kebutuhan minimal petugas pelaksana Hasil yaitu 1 perawat/petugas TB. Sarana menunjukkan bahwa kegiatan supervisi laboratorium harus memiliki mikroskop dari dinas kesehatan Kabupaten/Kota binokuler, cukup tersedia gelas dan Dimula dengan ketersediaan tim puskesmas dalam pencapaian target pengelola program penanggulangan TB CDR program P2TB pada responden proses yang SDM P2TB sistematis dan kurang sebanyak 60 orang atau 56,6% memenuhi ketenagaan yang cukup dan lebih banyak, sedangkan responden bermutu sesuai dengan kebutuhan. dengan supervisi yang baik 46 orang Hal atau 43,4%. Hasil analisis bivariat yaitu penelitian Syahrial dkk . secara Case Detection Rate (CDR) Program Afrimelda dan Ekowati Retnaningsih: Model Prediksi Kinerja Pengelola Program Dalam Capaian Case Detection Rate Penyakit TB Di Provinsi Sumatera Selatan P2TB Puskesmas provinsi sumatera berhubungan dengan kinerja petugas selatan tahun 2009 yang mencapai target 70% adalah pada supervisi dari meningkatkan pengelola program P2TB dinas kesehatan Kabupaten/Kota yang sudah sejauh mana yang bersangkutan baik sebanyak 22 orang atau 47,8% telah melaksanakan pekerjaannya. Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa tidak ada sebanyak 6 orang atau 10% dimana perbedaan antara hasil penelitian yang pvalue 0,001 . <0,. berarti supervisi dilakukan dengan teori kinerja dan hasil dari dinas kesehatan Kabupaten/Kota penelitian beberapa peneliti terdahulu, ada hubungan bermakna dengan Case menurut hasil analisis peneliti bahwa Detection Rate (CDR) dengan Odds penelitian ini sejalan dengan teori dan Rasio= 8,250 dan nilai 95%CI=2,967- 22,942. Berdasarkan . -value 0,001>0,. Supervisi Pada merupakan kegiatan mencari solusi terhadap problem solving yang terdapat pada program P2TB puskesmas yang merupakan kegiatan lanjutan pelatihan. P2TB dinas kesehatan Kabupaten/Kota Selain itu supervisi dapat juga berupa suatu progres pendidikan dan pelatihan Pada kenyataan yang ada berkelanjutan dalam bentuk on the job di lapangan kegiatan ini relatif belum Tujuan supervisi adalah untuk maksimal dikerjakan. meningkatkan kinerja petugas . Hasil Hasil penelitian dari Bambang yaitu P2TB responden terhadap pencapaian CDR merupakan kegiatan monitoring dan program P2TB Puskesmas yang baik evaluasi yang dapat mempengaruhi sebanyak 56 orang atau 52,8% lebih dalam meningkatkan semangat petigas banyak, sedangkan yang kurang 50 dari dalam. Hal ini senada dengan hasil Kristiani . 47,2%. Hasil bivariat yaitu Case Detection Rate supervisi berhubungan dengan kinerja program P2TB Puskesmas Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 yang Jurnal Pembangunan Manusia Vol. 7 No. 2 Agustus 2013 mencapai target 70% adalah pada merupakan komponen variabel motivasi pengelolaan program P2TB puskesmas kepuasan pekerja yang berdampak sebanyak 20 orang atau 35,7% lebih pada peningkatan kinerja. Berdasarkan banyak dibandingkan dengan motivasi pembahasan di atas dapat disimpulkan kurang sebanyak 8 orang atau 16%, bahwa tidak ada perbedaan antara dimana p-value 0,038 . <0,. berarti hasil penelitian yang dilakukan dengan dengan Case Detection Rate dengan beberapa peneliti terdahulu, menurut Odds analisis peneliti bahwa penelitian ini Rasio 2,917 95%CI=1,147-7,414. Menurut Gibson penelitian terdahulu. Pada penelitian ini motivasi yang dilakukan oleh program dukungan dana dari pihak ke tiga. Suatu sistem imbalan yang Dukungan yang diberikan dalam bentuk finansial yang dapat diterima oleh Jika anggota organisasi diliputi oleh rasa tidak puas atas Ketidakpuasan kompensasi yang diterimanya, dampak bagi organisasi akan bersifat negatif. yang diterima dan sistem pemberian Berdasarkan penelitian Mahendra imbalan serta harapan masing-masing Hendrati . menyimpulkan bahwa faktor motivasi kasus TBC. Semakin tinggi motivasi petugas maka semakin besar angka BTA ( ) Puskesmas. Menurut hasil penelitian Raflizar . motivasi berhubungan dengan kinerja karena insentif yang KESIMPULAN Kesimpulan penelitian ini adalah 4 variabel yaitu pelatihan, sumber daya, supervisi dan motivasi terbukti sebagai variabel prediksi pada model yang terbentu untuk kinerja pengelola TB CDR. Variabel independen sebagai prediktor yang Afrimelda dan Ekowati Retnaningsih: Model Prediksi Kinerja Pengelola Program Dalam Capaian Case Detection Rate Penyakit TB Di Provinsi Sumatera Selatan SARAN Memperhatikan hasil tersebut, kepada meningkatkan jumlah dan Dinkes. Profil Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Kristiani. Pengaruh Motivasi Kerja. Kepemimpinan. Budaya Organisasi Terhadap Kepuasan Kerja Karyawan. UGM. Jogyakarta bagi pengelola TB sampai tingkat puskesmas. DAFTAR PUSTAKA