SADU. BERNADUS & KUSUMAWATI. NINUK JURNAL SUAKA INSAN MENGABDI (JSIM). VOLUME 3. EDISI 2. NOVEMBER 2021 SOSIALISASI RISIKO DAN LATIHAN PENCEGAHAN CARPAL TUNNEL SYNDROME (CTS) TERKAIT PENGGUNAAN GAWAI PADA MAHASISWA ASRAMA PUTRA STIKES SUAKA INSAN BANJARMASIN Bernadus Sadu1*. Ninuk Kusumawati2 Sarjana Fisioterapi. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Suaka Insan Banjarmasin *Email : bernadussadu@gmail. ABSTRAK Penggunaan gawai/gadget sangat membantu seseorang dalam menyelesaikan pekerjaan atau tugas. Namun penggunaan perangkat teknologi seperti gawai/gadget secara berlebihan . engan posisi tangan yang sala. dapat menyebabkan munculnya masalah kesehatan seperti Carpal Tunnel Syndrome (CTS). CTS merupakan sekumpulan gejala yang muncul diarea pergelangan tangan dan jari-jari tangan . ari-I sampai dengan sebagian jari-IV) disebabkan oleh terjadinya penekanan/kompresi pada saraf medianus di pergelangan tangan . arpal tunne. Sosialisasi terkait CTS perlu dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan mahasiswa asrama putra STIKes Suaka Insan tentang risiko dan latihan sederhana pencegahan CTS. Sosialisasi dilakukan dengan metode ceramah, diskusi dan demonstrasi latihan pencegahan CTS diikuti seluruh peserta. Untuk melihat tingkat pengetahuan peserta terkait risiko dan latihan pencegahan CTS maka dilakukan pengukuran tingkat pengetahuan peserta dengan melakukan pre-test dan post-tes menggunakan angket. Hasil pre-test 90. 9% peserta menjawab tidak tahu, sedangkan setelah sosialisasi/post-test didapatkan 77,3% peserta menjawab tahu dan sisanya pada kategri sangat tahu dan sedikit tahu. Sosialisasi cukup berhasil ditandai dengan antusiasme peserta dengan memberikan banyak pertanyaan saat sesi diskusi dan partisipasi peserta memperagakan latihan pencegahan CTS. Kata Kunci : Carpal Tunnel Syndrome. Gawai. Risiko. Latihan . Sosialisasi Data juga menunjukkan peningkatan PENDAHULUAN Kemajuan dalam bidang teknologi yang stabil dalam waktu yang dihabiskan merupakan sesuatu yang tidak bisa untuk mengkses Internet. pada tahun dihindari dalam kehidupan ini, karena 2019, 89,8% orang berusia di atas 20 kemajuan teknologi akan berjalan sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan. menghabiskan 112 menit setiap hari Setiap inovasi teknologi yang diciptakan menggunakan Internet (Saito & Saito, dapat memberikan manfaat positif bagi Indonesia berada pada posisi kehidupan manusia (Pramandani & kelima sebagai negara pengguna terbesar Wirawan, internet di seluruh dunia dengan 143,26 Massachusetts Institute of Technology juta pengguna di tahun 2019. Pada tahun menyatakan bahwa 95,7% dari populasi 2020. Indonesia memiliki 175,4 juta di Jepang memiliki perangkat seluler, pengguna internet. Jumlah pengguna dengan 79,2% memiliki smartphone. internet di Indonesia adalah lebih dari Tahun 000 rumah tangga. Page 133 | 141 SADU. BERNADUS & KUSUMAWATI. NINUK JURNAL SUAKA INSAN MENGABDI (JSIM). VOLUME 3. EDISI 2. NOVEMBER 2021 setengah jumlah populasi Indonesia jika gerakan berulang ini berlangsung yaitu 272,1 jiwa (Batara et al. , 2. Selain itu, rata-rata, peserta Gawai memudahkan manusia dalam kehidupan selama lebih dari 3 jam setiap hari dan sehari-hari layaknya kebutuhan primer melaporkan keluhan muskuloskeletal. bagi kehidupan manusia. Di balik segala Gangguan muskuloskeletal terjadi ketika kemudahan yang didapatkan, terdapat bagian tubuh dipaksa untuk bekerja lebih dampak positif dari penggunaan gawai yaitu menambah ilmu pengetahuan, keparahan dari dampak gangguan atau Tingkat berbeda-beda memperluas jaringan pertemanan. Selain dampak positif, terdapat dampak negatif Menggenggam perangkat gawai yang terlalu lama dan berulang-ulang bisa memberikan efek kurang baik pada kesehatan tubuh, salah satunya adalah menyebabkan keluhan muskuloskeletal keluhan pada muskuloskeletal (Batara et (Batara et al. , 2. Baabdullah et al. , 2. 2020 menemukan adanya berkorelasi Saat mengoperasikan smartphone positif dari keluhan pada pergelangan atau gawai dalam waktu lama, pengguna 66,4% gerakan berulang. Beberapa penelitian merupakan pecandu smartphone/gawai. Salah satu gangguan muskuloskeletal gangguan muskuloskeletal pada individu penggunaan samartphone/gawai secara muda, yang disebabkan oleh smartphone/gadget. Alhazmi et al. , 2018 menemukan bahwa berlebihan adalah CTS (Pramandani & Wirawan, 2. ,2%) Carpal tunnel syndrome (CTS) menggunakan smartphone selama lebih adalah kondisi medis yang disebabkan dari 8 jam setiap hari . ata-rata dan standar deviasi 6,65 A 4,3 ja. Woo et , 2016 menganalisis penggunaan degenerasi atau penggunaan tangan yang berlebihan (Koyama et al. , 2. Carpal ditemukan bahwa aktivitas ini memberi Tunnel Syndrome (CTS) atau sindroma tekanan berlebihan pada saraf medianus, terowongan karpal (STK) merupakan Page 134 | 141 SADU. BERNADUS & KUSUMAWATI. NINUK JURNAL SUAKA INSAN MENGABDI (JSIM). VOLUME 3. EDISI 2. NOVEMBER 2021 salah satu gangguan pada lengan tangan akibat penyempitan terowongan karpal, kekuatan, tekanan pada otot, getaran, baik akibat edema fasia maupun akibat suhu, postur kerja yang tidak ergonomik kelainan pada tulang-tulang kecil tangan dan lain Ae lain. Masa kerja juga sehingga terjadi penekanan terhadap merupakan salah satu faktor individu terkena CTS, semakin lama masa kerja maka akan semakin besar risiko terkena syndrome (CTS) adalah jenis neuropati CTS. Masa timbulnya CTS berkisar yang paling umum dengan prevalensi sampai 5-10 tahun. CTS paling banyak terjadi pada usia 29-62 tahun, risiko penduduk dunia. Kondisi ini karena meningkat pada usia 40-60 tahun terjadi penekanan pada saraf medianus (Batara et al. , 2. Hasil observasi oleh tendon fleksor wrist di dalam pada mahasiswa asrama putra STIKes retinaculum/carpal tunnel, menyebabkan Suaka kelemahan, parestesia dan nyeri pada mahasiswa sering menghabiskan yang pergelangan tangan dan tangan, dan dengan demikian menurunkan kualitas hidup (Polat et al. , 2. gawai, hal ini tentunya menjadikan Wirawan, (Pramandani Carpal 0,1-0,5% Insan Banjarmasin. Faktor risiko yang berpengaruh mahasiswa sangat berisiko mengalami terjadinya keluhan muskuloskeletal yaitu CTS. Berdasarkan hasil temuan dari obervasi awal tersebut, maka perlu jangka waktu lama. Penggunaan gawai dilakukan sosialisasi untuk mengenalkan secara aktif dengan posisi tubuh yang kepada mahasiswa asrama putra STIKes tidak baik memberikan efek pada otot Suaka penyebab/risiko dan latihan sederhana pergelangan tangan dan jari tangan. Hal yang dapat dilakukan untuk pencegahan CTS. dari perangkat gawai yang dipegang Banjarmasin penggunaan telepon pasif. Berat beban Insan Kegiatan sosialisasi ini dilakukan dengan menggunakan metode ceramah, muskuloskeletal terutama pada bahu dan tanya jawab dan demonstrasi. Adapun tahapan sosialisasi sebagai berikut: Beberapa METODE menjadi risiko terhadap terjadinya CTS. Tahap Persiapan: Page 135 | 141 SADU. BERNADUS & KUSUMAWATI. NINUK JURNAL SUAKA INSAN MENGABDI (JSIM). VOLUME 3. EDISI 2. NOVEMBER 2021 Persiapan . Membuka Menggenggam Telapak Tangan mahasiswa asrama putra STIKes Posisi awal duduk tegak Suaka Insan Banjarmasin terkait Tangan yang akan di latih lurus penggunaan perangkat teknologi kedepan, dengan telapak tangan terbuka . xtensi wris. Lakukan Selanjutnya melakukan koordinasi menggenggam dan membuka dengan pihak asrama putra STIKes telapak tangan secara perlahan Suaka Insan Banjarmasin, untuk Lakukan sebanyak 5 kali Lakukan bergantian pada kedua tangan . ihat gambar . Tahap Pelaksanaan Kegiatan Sosialisasi diawali dengan melakukan pengukuran tingkat Gambar 1. Latihan Membuka dan Menggenggam Tangan . re-tes. menggunakan angket, kemudian . terkait risiko CTS dan demonstrasi latihan pencegahan CTS di ikuti oleh semua peserta, di ikuti sesi diskusi dan tanya jawab. Kegiatan diakhiri dengan kembali mengukur tingkat pengatahuan peserta . ost-tes. terkait materi menggunakan angket yang sama. Menyentuhkan Ujung Jari-Jari Tangan Posisi awal seperti pada latihan Gerakan ujung jari lain secara bergantian untuk menyentuh ibu Latihan Mencegah Nyeri Pergelangan Tangan (CTS) (Dosis latihan: 1-2 x/hari, minimal 2-3 x/mingg. Lakukan pengulangan sebanyak 3 kali Lakukan bergantian pada kedua tangan (Lihat Gambar . Page 136 | 141 SADU. BERNADUS & KUSUMAWATI. NINUK JURNAL SUAKA INSAN MENGABDI (JSIM). VOLUME 3. EDISI 2. NOVEMBER 2021 Gambar 2. Latihan menyentuh ujung jarijari tangan . eperti sikap berdo. Turunkan posisi telapak tangan kearah bawah sambil tetap menjaga seluruh permukaan tangan tetap persentuhan Tahan posisi tersebut selama 30 . Menggenggam Pergelangan Tangan Posisi awal salah satu tangan lurus kedepan, dengan telapak detik (Lihat Gambar . Gambar 4. Latihan Peregangan otot menghadap keatas Tangan yang lain menggenggam area pergelangan tangan Tahan genggaman sekitar 2 detik Lakukan bergantian pada kedua . Peregangan Otot Flexor Posisi awal duduk tegak tangan tangan (Lihat Gambar . Gambar 3. Latihan Menggenggam Tangan keatas . xtensi wris. Tangan yang lain menggenggam jari ke- 2 sampai dengan jari ke-5 Tarik . xtensi wris. secara perlahan Tahan posisi tersebut selama 30 . Peregangan Otot Tangan Dengan Posisi Seperti Berdoa Posisi Lakukan bergantian pada kedua tangan (Lihat Gambar . didepan dada dengan telapak Page 137 | 141 SADU. BERNADUS & KUSUMAWATI. NINUK JURNAL SUAKA INSAN MENGABDI (JSIM). VOLUME 3. EDISI 2. NOVEMBER 2021 Gambar 5. Latihan Peregangan Otot Flexor . Menarik Pergelangan Tangan Posisi awal duduk tegak tangan didepan dada dengan telapak tangan menghadap ke bawah. Tangan yang lain menggenggam dari arah punggung tangan . ari Tangan yang digenggam dalam posisi diam/menahan, dan tangan . Peregangan Otot Extensor Posisi awal duduk tegak, tangan yang lain melakukan tarikan secara perlahan sampai dirasakan pergelangan tangan menekuk ke peregangan pada pergelangan bawah . lexi wris. Tangan yang lain menggenggam telapak tangan yang menekuk Gunakan menggenggam untuk menekuk Tahan posisi tersebut selama 5 Lakukan secara bergantian pada kedua tangan . ihat gambar . leksi wris. secara perlahan Tahan posisi tersebut selama 30 Gambar 7. Latihan menarik pergelangan Lakukan bergantian pada kedua tangan (Lihat Gambar . Gambar 6. Latihan Peregangan Otot Extensor Page 138 | 141 SADU. BERNADUS & KUSUMAWATI. NINUK JURNAL SUAKA INSAN MENGABDI (JSIM). VOLUME 3. EDISI 2. NOVEMBER 2021 terjadinya CTS. HASIL DAN PEMBAHASAN Sebelum dilakukan sosialisasi, tim begitu juga setelah pelaksana melakukan pre test terlebih melakukan evaluasi tingkat pengetahuan dahulu menggunakan angket yang berisi peserta dengan post-test menggunakan pertanyaan tentang tingkat pengetahuan peserta terkait pengertian, risiko, dan disajikan dalam grafik 1. Hasil pre-test latihan yang lakukan untuk mencegah Grafik 1. Distribusi tingkat pengetahuan peserta sebelum sosialisasi . re-tes. PRE-TEST Tidak Tahu Sedikit Tahu Tahu Sangat Tahu 0% 0. 0% 0. 0% 0. 0% 0. Pengertian CTS Risiko CTS Dari grafik 1 menunjukan bahwa tingkat pangetahuan Latihan Pencegahan CTS Pada peserta sebelum distribusi tingkat pengetahuan peserta dilakukan sosialisasi untuk pertanyaan menunjukan perbaikan dimana untuk tentang pengertian CTS didapatkan pertanyaan mengenai pengertian CTS 72,7% peserta menjawab tidak tahu dan sebelum sosialisasi dominan peserta sisanya menjawab sedikit tahu, untuk menjawab tidak tahu . ,7%) tetapi pertanyaan tentang risiko/penyebab CTS 90,1% peserta menjawab tidak tahu, dan pada pertanyaan latihan pencegahan menjawab sangat tahu . ,3%). Pada CTS semua perserta menjawab tidak pertanyaan tentang risiko/penyebab CTS sebelum sosialisasi lebih dari 90% kembali dilakukan pengukuran tingkat peserta menjawab tidak tahu, tetapi setelah sosialisasi berubah manjadi 77,3% peserta menjawab tahu, 18,2% Selanjutnya . ,7%) peserta menjawab sangat tahu dan Page 139 | 141 SADU. BERNADUS & KUSUMAWATI. NINUK JURNAL SUAKA INSAN MENGABDI (JSIM). VOLUME 3. EDISI 2. NOVEMBER 2021 sisanya menjawab sedikit tahu. Untuk pertanyaan tentang latihan penceghan 77,3% peserta menjawab tahu dan CTS sebelum sosialisasi seluruh peserta sisanya menjawab sangat tahu. %) menjawab tidak tahu, tetapi Grafik 2. Distribusi tingkat pengetahuan peserta setelah sosialisasi . ost-tes. POST-TEST Tidak Tahu Sedikit Tahu Tahu Sangat Tahu 0% 4. 0% 0. 0% 0. Pengertian CTS Hasil pre-test Risiko CTS post-test menunjukan bahwa sosialisasi telah Latihan Pencegahan KESIMPULAN Penggunaan gawai dalam waktu lama merupakan salah satu risiko diharapkan, dimana terjadi peningkatan pengetahuan peserta terkait risiko, dan pemahaman tentang risiko dan cara latihan pencegahan CTS. Selain itu, kriteria keberhasilan sosialisasi juga Sosialisasi telah berjalan dengan baik dapat dilihat dari antusiasme peserta selama mengikuti sosialisasi dengan pemahaman dan kemampuan peserta banyaknya pertanyaan-pertanyaan saat sesi diskusi serta partisipasi aktif semua latihan yang dapat dilakukan untuk peserta untuk meperagakan gerakan pencegahan CTS yang dapat dilihat dari latihan pencegahan CTS. perbedaan hasil pengukuran pre-test dan post-test CTS risiko/penyebab CTS Keberhasilan sosialisasi juga ditunjukan mengikuti sosialisasi. Page 140 | 141 SADU. BERNADUS & KUSUMAWATI. NINUK JURNAL SUAKA INSAN MENGABDI (JSIM). VOLUME 3. EDISI 2. NOVEMBER 2021 REFERENSI