866 JOONG-KI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Mei 2025 Penerapan Terapi Bermain Mewarnai Terhadap Kemampuan Motorik Halus Anak Di SLB Negeri Samarinda Bachtiar Safrudin1*. Andi Aprilya Anggryani*2. Muhammad Amir Zulfahmi Hibaturrahman3. Melly Amanda4. Shintya Anugerah Aprilia5. Wyldha Noor Azizah6. Shabrina Safitri7. Arinda Fadilla Rizky Aulia8. Esa Shafa Praditha9. Nuri Aprilia Arifin10. Putri Anggraeni11. Dwi Widyastuti 12 Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur. Indonesia E-mail: mbs143@umkt. id *1, 2211102411034@umkt. id *2 Article History: Received: 28 Maret 2025 Revised: 30 April 2025 Accepted: 06 Mei 2025 Keywords: Anak Berkebutuhan Khusus. Motorik Halus. Terapi Mewarnai PENDAHULUAN Abstract: Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) merupakan anak dengan karakteristik berbeda dibandingkan anak-anak pada umumnya. Tujuan pelaksanaan kegiatan terapi mewarnai pada Anak Berkebutuhan Khusus di SLB Negeri Samarinda adalah sebagai upaya peningkatan kemampuan mototik halus anak, meningkatkan konsentrasi, serta membantuk mengekspresikan emosi mereka. Metode yang digunakan adalah dengan program bimbingan melalu terapi mewarnai. Pelaksanaan ini dilakukan pada tanggal 31 Oktober 2024 dengan tahapan persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Hasil menunjukkan bahwa terapi mewarnai memberikan dampak positif terhadap perkembangan anak. Anakanak mampu menggenggam dan menggerakkan krayon dengan baik, menunjukkan peningkatan konsentrasi, serta mampu mengekspresikan perasaan mereka melalui pilihan warna. Terapi mewarnai juga meningkatkan rasa percaya diri dan kemandirian anak. Berdasarkan hasil ini, disarankan agar terapi mewarnai dapat dijadikan bagian dari kurikulum harian di SLBN untuk lebih mendukung perkembangan motorik, emosi, dan kreativitas anakanak berkebutuhan khusus. Anak berkebutuhan khusus (ABK) merupakan anak yang mempunyai karakteristik berbeda dengan anak pada umumnya. Jika seorang anak mempunyai kelebihan atau kekurangan tertentu maka ia tergolong berkebutuhan khusus. ABK memerlukan penanganan khusus terhadap gangguan perkembangan dan kecacatan yang dialaminya. Klasifikasi ABK dapat dibedakan berdasarkan jenis kelainan atau kelainan yang dideritanya, meliputi aspek fisik/motorik, kognitif, bahasa dan bicara, pendengaran, penglihatan, serta aspek sosial dan emosional (Paschalia et al. Anak dengan retardasi mental . umumnya memiliki tingkat kecerdasan dan kemampuan menangkap informasi yang berada di bawah rata-rata. Karena daya tangkap yang-rendah ini, mereka sering mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dan bersosialisasi a. ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Mei 2025 dengan orang-orang di sekitarnya. Selain tantangan dalam bersosialisasi, anak-anak dengan retardasi mental juga cenderung kurang mampu menggali potensi diri yang mereka miliki. Hal ini menyebabkan mereka umumnya tidak memiliki rasa percaya diri yang tinggi (Ambarwati & Yuliantika, 2. Terapi bermain merupakan salah satu bentuk intervensi yang dapat membantu mengurangi kecemasan dan sikap tidak kooperatif pada anak. Salah satu metode yang efektif adalah dengan mewarnai gambar, yang sangat cocok untuk anak-anak prasekolah (Dewi, 2. Terapi pewarnaan ini dianjurkan berdasarkan situasi klinis anak yang menjalani perawatan di rumah sakit. Kegiatan permainan ini dirancang untuk melatih reaksi psikologis anak dalam mengekspresikan emosi (Latip et al. , 2. Salah satu cara untuk mengembangkan keterampilan motorik halus anak adalah melalui kegiatan warna. Mewarnai memberi anak -anak kesempatan untuk mengekspresikan diri mereka secara bebas dan mengurangi kebosanan. Kegiatan ini sangat cocok untuk anak -anak prasekolah. Ini karena pada usia ini, mereka mengenali dan menyukai berbagai warna dan bentuk area. Mewarnai Novia & Arini Dalam (Sari et al. , 2. , memungkinkan anak -anak untuk mempraktikkan keterampilan motorik dan keterampilan kognitif. Selain itu, otak anak-anak juga dapat membantu menganalisis warna yang memilih atau menggunakan pengamatan dan keinginan saat mewarnai. Kegiatan warna dapat diajarkan untuk membimbing anak -anak untuk mengarahkan kebiasaan sukarela. Selain itu, pewarnaan juga merupakan kegiatan yang memiliki nilai pendidikan melalui berbagai media. Anak -anak yang suka menambahkan warna baik saat menggambar dan mengisi foto lebih terlibat dalam prosesnya. Tujuan dari stimulus ini dapat dicapai dengan baik ketika anak-anak menikmati diri mereka sendiri dan lebih suka kegiatan yang telah mereka lakukan (Paschalia et al. , 2. Gambar juga harus disesuaikan dengan karakteristik anak. Selain itu, alat yang digunakan untuk pewarnaan juga harus berbeda bahan. Bahan alami seperti pensil berwarna, pensil berwarna, cat air, warna makanan, kuas, daun pisang, hijau-hijau, kembang kol dan bahan-bahan alami lainnya (Kemba et al. , 2. METODE Terapi bermain mewarnai ini dilakukan selama satu hari dan dilakukan dalam tiga tahap seperti persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Proses persiapan dimulai dengan memberi tahu mitra tentang aktivitas yang akan dilakukan. Selanjutnya, tim menyusun rangkaian tugas dan menyiapkan alat-alat untuk terapi mewarnai. Pada langkah kedua, pelaksanaan, tim membuka dan meminta siswa untuk menyebutkan nama mereka. Kemudian, tim membagikan kertas gambaran dan pewarna kepada masing-masing siswa. Terakhir, siswa diminta untuk menunjukkan hasil mewarnai mereka dan menyebutkan hewan atau gambar apa yang mereka Di SLB Negeri Samarinda, di kelas 3, pelaksanaan ini berlangsung selama sekitar 60 menit pada tanggal 31 Oktober. Program bimbingan melalui terapi mewarnai digunakan untuk menciptakan lingkungan yang mneyenangkan dan mencegah anak merasa terbebani. Anak-anak didampingi dan didukung oleh tim dan guru pendamping, yang memberikan motivasi lisan dan tindakan nyata jika diperlukan. Selama beberapa sesi, terapis juga menawarkan tugas sederhana kepada anak-anak, seperti mengajarkan mereka untuk mewarnai di sekitar garis foto atau memilih warna sesuai petunjuk. ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Mei 2025 HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan ini di laksanakan di ruang kelas SLB Negeri Samarinda dengan jumlah 6 siswa, hanya tiga siswa dari total enam siswa yang mengikuti kegiatan di ruang kelas SLB Negeri Samarinda saat terapi bermain dilakukan. Mahasiswa keperawatan melakukan kegiatan terapi bermain mewarnai ini dengan bantuan guru mereka. Kegiatan dimulai oleh siswa yang memperkenalkan diri dan meminta semua siswa untuk menyebutkan nama mereka. Setelah itu, siswa membagikan kertas gambaran dan pewarna masing-masing. Gambar 1. Proses Terapi Mewarnai Oleh Siswa SLBN Gambar 2. Kemampuan Motorik Halus Siswa SLBN Setelah penilaian selesai, peserta dilatih untuk mewarnai dan mampu dengan baik a. ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Mei 2025 memegang dan menggerakkan krayon atau pensil warna. Anak menjadi lebih fokus dengan terapi mewarnai ini. Anak-anak tampak lebih tenang dan sabar saat mereka menyelesaikan gambar Beberapa anak yang awalnya cenderung cepat bosan, mulai lebih fokus. Namun, ada satu anak yang kurang perhatikan dan biasanya asik sendirian. Terapi mewarnai juga memberi anak-anak kesempatan untuk mengungkapkan perasaan Anak-anak yang biasanya pendiam atau sulit berbicara terlihat lebih nyaman dan menunjukkan kebebasan dalam memilih warna yang sesuai dengan suasana hati mereka. Anakanak terlihat sangat antusias saat mewarnai. Kegiatan terapi mewarnai berjalan lancar dengan menggunakan kertas gambar dan pewarna yang telah disiapkan dengan baik oleh fasilitator. Gambar 3. Dokumentasi Akhir Kegiatan Terapi Mewarnai Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar siswa mampu bekerja sama dengan baik selama kegiatan, selain meningkatkan kemampuan menggenggam dan menggerakkan alat mewarnai. Selama fase perkenalan dan saat mereka saling menunjukkan hasil karya mereka, interaksi antara siswa dapat dilihat. Ini menunjukkan bahwa terapi mewarnai meningkatkan keterampilan sosial dan kerja sama anak-anak selain menjadi aktivitas individu. Siswa lebih terlibat secara sosial melalui aktivitas mewarnai. Ketika mereka melihat pekerjaan satu sama lain, ada dorongan untuk bekerja sama dan memberikan umpan balik positif. Ini sejalan dengan penelitian yang menunjukkan bahwa interaksi sosial adalah komponen penting dalam mendukung perkembangan psikososial anak-anak. Jika anak-anak terlibat dalam kegiatan terapi ini, mereka mungkin lebih terbuka untuk berkomunikasi dan mengungkapkan perasaan Selain itu, pengamatan menunjukkan bahwa anak-anak yang awalnya ragu untuk bergabung menjadi lebih percaya diri setelah mewarnai. Anak-anak dapat mengungkapkan diri dan memiliki kontrol atas apa yang mereka lakukan dengan memilih warna dan mewarnai. Ini penting karena anak-anak berkebutuhan khusus sering mengalami kesulitan dalam mengekspresikan diri, terapi ini memberi mereka kesempatan untuk mengembangkan ide-ide mereka sendiri. Secara keseluruhan, hasil belajar yang diperoleh dari terapi mewarnai ini menunjukkan bahwa teknik ini efektif dalam mendukung pertumbuhan berbagai aspek anak-anak berkebutuhan a. ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Mei 2025 khusus sambil menciptakan lingkungan yang inklusif dan menyenangkan untuk belajar. Akibatnya, aktivitas mewarnai harus dimasukkan ke dalam kurikulum harian SLB untuk mendukung pembelajaran yang lebih holistik. KESIMPULAN Terapi bermain mewarnai yang diikuti oleh siswa kelas 3 SLB Negeri Samarinda berjalan lancar dan sesuai dengan harapan. Hasil evaluasi menunjukkan keberhasilan karena siswa dapat mengikuti instruksi dan bermain setelah mewarnai. Perkembangan anak-anak dengan SLBN dapat diperbaiki dengan teknik mewarnai ini, terutama dalam hal motorik halus, konsentrasi, kreativitas, dan emosi. Kegiatan ini dapat dilanjutkan dan dimasukkan ke dalam kurikulum harian karena dapat meningkatkan keterampilan dan rasa percaya diri anak-anak berkebutuhan khusus. DAFTAR REFERENSI Ambarwati. , & Yuliantika. Efektivitas Terapi Menggambar Dan Mewarnai Berkelompok Terhadap Perkembangan Psikososial Anak Retardasi Mental. Jurnal Keperawatan GSH, 9. , 11Ae19. Dewi. Pembelajaran Konsep Dasar Mewarnai pada Anak Autis. ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin, 2. , 36Ae44. https://journalnusantara. com/index. php/JIM/article/view/1137 Kemba. Amalia. , & Samodra. Meningkatkan Perkembangan Motorik Halus Melalui Kegiatan Mewarnai. Montessori Jurnal Pendidikan Kristen Anak Usia Dini, 5. , 21Ae30. https://doi. org/10. 37010/int. Latip. Sari. , & Ratnasari. Literature Review: Pengaruh Terapi Bermain Mewarnai Terhadap Tingkat Kooperatif Anak Prasekolah yang Menjalani Hospitalisasi. COMSERVA: Jurnal Penelitian Dan Pengabdian Masyarakat, 2. , 210Ae216. https://doi. org/10. 59141/comserva. Paschalia. Cahyani. Doondori. Budiana. , & Patmawati. Terapi Bermain pada Anak Berkebutuhan Khusus di Panti Asuhan Bhakti Luhur Ende. Idea Pengabdian Masyarakat, 4. , 74Ae78. https://doi. org/10. 53690/ipm. Sari. Pordaningsih. Erwinsyah. , & Prasetya. Penerapan Terapi Bermain Mewarnai untuk Menurunkan Tingkat Kecemasan Hospitalisasi pada Anak Usia 3-6 Tahun: Studi Kasus. Jurnal Ilmiah Ners Indonesia, 4. , 109Ae115. https://doi. org/10. 22437/jini. ISSN : 2828-5700 .