Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 5 No. August 2025, pp. ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346. DOI: 10. 57163/almuhafidz. Journal Homepage: https://jurnal. stiq-almultazam. id/index. php/muhafidz/index The Meaning of Bahr in the QurAoan: Semantic Analysis by Toshihiko Izutsu (Arti Bahr dalam Al-Qur'an: Analisis Semantik oleh Toshihiko Izuts. Afita Nurul Hidayah,1* Wahdah Farhati,1 Agus Setiawan,1 Ali Zaenal Arifin1 1Sekolah Tinggi Ilmu Al-QurAoan Al-Multazam. Indonesia Article Info ABSTRACT Article history: The QurAoan often employs words that appear to be synonyms but have subtle differences in meaning. Such is the case with the use of the terms bahr and yamm for the sea. This study explores why the QurAoan uses bahr in certain cases and yamm in others, with the hope of discovering the semantic meaning of bahr and its implications on the concept of mutaradif . in the QurAoan. The inquiry is particularly relevant today, as the seaAian essential part of human lifeAiis facing ecological dangers wrought by human actions. Adopting a qualitative library-research design, data were gathered from QurAoanic verses containing bahr yamm, classical and modern Arabic lexicons, and major tafsir works. analysis followed IzutsuAos procedures . yntagmaticAeparadigmatic mapping, synchronicAediachronic tracing, and worldview synthesi. , with validity strengthened through source triangulation and peer/expert Using Toshihiko IzutsuAos semantic theory, this research analyzes the term bahr to identify its hidden meanings and its theological and ethical implications. Findings indicate a deliberate lexical differentiation: bahr extends beyond the physical sea toward divine taskhir, order, and benefit, whereas yamm appears predominantly in threatAepunishment narratives. Taken together, the QurAoan does not employ near-synonyms interchangeably. contrast clarifies QurAoanic diction and underpins a theologicalAe ecoethical call to gratitude, restraint and responsible marine Received Jul 12, 2025 Revised Aug 17, 2025 Accepted Aug 17, 2025 Published Aug 26, 2025 Keywords: Bahr Ecology Sosiocultural Toshihiko Izutsu Yamm How to Cite Afita Nurul Hidayah. Wahdah Farhati. Agus Setiawan. Ali Zaenal Arifin. AuThe Meaning of Bahr in the QurAoan: Semantic Analysis by Toshihiko IzutsuAy. Al Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan Dan Tafsir, 5. , https:// 57163/almuhafidz. This is an open access article under the CC BY license. Corresponding Author: Afita Nurul Hidayah Sekolah Tinggi Ilmu Al-QurAoan Al-Multazam. Maniskidul. Kec. Jalaksana. Kabupaten Kuningan. Jawa Barat 45554. Indonesia. Email: haulaula1@gmail. Copyright . 2025 Afita Nurul Hidayah. Wahdah Farhati. Agus Setiawan. Ali Zaenal Arifin Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 PENDAHULUAN Studi mengenai sinonim . memegang peranan penting dalam upaya memahami makna Al-QurAoan. As-Suyuti mendefinisikan taraduf sebagai dua kata yang memiliki makna yang sama atau sangat mirip. 2 Sementara itu. Al-AoArabi memberikan pemahaman yang sedikit berbeda. Beliau menyatakan bahwa taraduf adalah dua kata yang berlainan yang dipakai oleh orang Arab untuk menyebut suatu objek yang sama, namun dalam konteks pemakaian yang berbeda. 3 Contohnya seperti pada lafaz AIA dan AAo(Ia. yang keduanya berarti tahun, kemudian lafaz A(CIAqasa. dan A(EAAhal. yang sama-sama bermakna sumpah. 4 Lafaz-lafaz tersebut dapat dianggap memiliki makna yang hampir identik, namun penggunaannya dapat berbeda tergantung pada konteks kalimat. 5 Penggunaan taraduf dalam Al-QurAoan turut memperkaya khazanah bahasa dan menjadikannya lebih ekspresif. Taraduf dapat menjadi alat bagi penutur untuk beradaptasi dengan konteks yang berbeda, sehingga dapat memperjelas komunikasi dan menghindari kebingungan. 6 Selain itu, taraduf juga berfungsi sebagai penciri ayat-ayat mutasyabih dalam Al-QurAoan. 7 Sehingga, melalui pemahaman taraduf, penafsiran dapat menjangkau konteks yang lebih luas dari ayat-ayat Al-QurAoan dan mempermudah pendekatan makna penafsiran Al-QurAoan bagi pembaca. Begitu pula pada istilah laut. Al-Quran tidak hanya menggunakan lafaz tetapi juga menyertakan lafaz A(Abah. A(IOAyam. sebagai bentuk mutaradif . dari lafaz Penyebutan lafaz bahr yang digunakan dalam Al-QurAoan sebanyak 41 kali, sedangkan lafaz yamm disebut sebanyak 7 kali. 8 Laut menyimpan berbagai keanekaragaman hayati yang sangat besar. Keberadaan biota mendukung rantai makanan yang kompleks dan jaring-jaring ekologi yang kuat sebagai penyokong 9 Ekosistem laut memberikan sumber daya yang penting, juga berkontribusi dalam penyokong ekonomi, baik melalui wisata bahari maupun perikanan lanjutan. Radiarta. Erlania dan Haryadi . menyatakan bahwa salah satu kontribusi signifikan 1 Muhammad Nuruddin, al-Taraduf fi Al-QurAoan al-Karim (Mizan, 1. , 30. 2 Abdurrahman Jalaluddin As-Suyuthis. AL-MUZHIR FI AoULUM AL-LUGHAH WA ANWAAoUHA (Maktabah Dar al-Turath, t. ), 403. 3 Abu Bakr Abd al-Qahir Abd al-Rahman Muhammad al-Jurjani. At-Tarifat (Dar Al Kutub Al Ilmiyah, 2. , 60. 4 Muhammad Ali Mubarok. Sinonimitas dalam Al-Quran (Analisis Semantik Lafadz Zauj dan ImrA`a. (Salatiga, 2. , 3. 5 Fitri Aulia dan Zulpina Zulpina. AuAN EA AO AO EEAA,Ay El-Jaudah Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Arab 2, no. : 72Ae94, https://doi. org/10. 56874/faf. 6 Wardatussaadah dkk. AuThe Analisis Taraduf Kata Pendidik Dalam Ayat Al-QurAoan,Ay Mauriduna: Journal of Islamic Studies 5, no. : 531Ae45, https://doi. org/10. 37274/mauriduna. 7 Badrus Samsul Fata dan S Mahmudah Noorhayati. AuMAZHAB SINONIMITAS (AL-TARyCDUF) DALAM AoULUMUL QURAoAN,Ay AL Fikrah : Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam 2, no. : 26Ae40, https://doi. org/10. 51476/alfikrah. 8 Muhammad Fuad Abd Al Baqi. Al MuAojam Al Mufahras Li Alfazh Al Quran (Dar Al Kutub Al Mishriyyah, 1. , 114. 9 Siti Qomariah dkk. AuREKOMENDASI PENETAPAN KAWASAN EKOSISTEM ESENSIAL DI DESA PANJARATAN,Ay Jurnal Hutan Tropis 9, no. : 282Ae90, https://doi. org/10. 20527/jht. 10 Waode Siti Cahyani dkk. AuKONDISI DAN STATUS KEBERLANJUTAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG DI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN PULO PASI GUSUNG. SELAYAR,Ay Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis 10, no. : 153Ae66, https://doi. org/10. 29244/jitkt. The Meaning of Bahr in the QurAoanA ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 penyokong ekonomi masyarakat melalui budidaya rumput laut. 11 Hal ini menunjukkan bahwa laut mempunyai peran penting dalam ajaran Islam maupun kehidupan manusia baik secara ekologi, ekonomi maupun peradaban. Namun, pesatnya perkembangan peradaban manusia menuju era industri dan teknologi modern menuntut adanya penyesuaian terhadap kebutuhan sumber daya serta keberlangsungan proses produksi demi memenuhi berbagai keperluan hidup. Sayangnya, hal ini dilakukan dengan mengorbankan ekosistem dan lingkungan hidup terutama laut. Kerusakan yang ditimbulkan pun tidak mudah untuk dipulihkan sehingga semakin memperparah kondisi bumi. Salah satu bentuk degradasi ekosistem laut adalah akumulasi limbah dalam jumlah yang besar yang mencemari perairan dan mengancam keseimbangan biota laut. Pada tahun 2023, jumlah sampah plastik yang mencemari perairan Indonesia mencapai 12,87 juta ton. 13 Selain itu, praktik penangkapan ikan dengan pengeboman telah merusak beberapa terumbu karang, dengan data Kementerian Kelautan dan Perikanan menunjukkan bahwa 33,82 persen terumbu karang di Indonesia mengalami 14 Meskipun tidak semua individu terlibat langsung dalam merusak alam, tidak dapat disangkal bahwa manusia memiliki naluri untuk berkuasa dan mendominasi, baik dalam relasi manusia maupun terhadap alam. Berdasarkan survei yang dilakukan Badan Pusat Statistik tahun 2018, 72 persen masyarakat Indonesia masih kurang perhatian terhadap sampah. 15 Tingginya angka ini mencerminkan bahwa kesadaran terhadap lingkungan masih menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian khusus karena akan berdampak jelas pada ekosistem laut. Dalam konteks ajaran Islam, fenomena ini selaras dengan peringatan yang dijelaskan dalam Surah Ar-Rum ayat 41: AaN EeAa OaA EeO O Ee O Oaa Ea aO O O E Iac O O OA A EacO O a IO EaOA a a a eA E Oa O Ca Na eI aA e e aa e a a a aa AEaa Eac aN eI Oa e O a O aIA AuTelah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki mereka agar mereka merasakan sebagian dari . perbuatan mereka, agar mereka kembali . e jalan yang bena. Ay Ayat ini seharusnya menjadi refleksi bagi umat manusia, bahwa sesungguhnya tanggung jawab terhadap lingkungan bukan sekadar isu sosial, tetapi juga bagian dari amanah yang harus dijaga dengan penuh kesadaran. Mustaqimah. Nugroho dan Nirwana . menekankan pentingnya memahami makna lafaz bahr dalam Al-QurAoan dengan proses analisis melalui pendekatan 11 I. Nyoman Radiarta dkk. AuANALISIS KESESUAIAN DAN DAYA DUKUNG PERAIRAN UNTUK PENGEMBANGAN BUDIDAYA RUMPUT LAUT DI KABUPATEN SIMEULUE. ACEH,Ay Jurnal Segara 14, no. : 11Ae22, https://doi. org/10. 15578/segara. 12 Eva Willya dkk. AuEtika dan Prinsip Pengelolaan Lingkungan dalam Perspektif Hukum Islam: Kajian Filosofis. Fenomenologis dan Normatif,Ay IAotisham : Journal of Islamic Law and Economics 2 (Januari 2. Alfian Risfil. AuPemerintah Catat Sampah Plastik Laut,Ay Juni https://rri. id/nasional/780217/pemerintah-catat-sampah-plastik-di-laut-capai-12-87-juta. 14 Endra. AuTerumbu Karang Pulau Terluar Makassar Alami Kerusakan,Ay FAJAR. CO. ID. Agustus 2024, https://fajar. id/2024/08/19/terumbu-karang-pulau-terluar-makassar-alami-kerusakan/. 15 PPID KLHK. AuKampanyekan Pengelolaan Sampah. KLHK Rilis Film Pendek AoBude Jo Belajar Kelola Sampah,AoAy April https://ppid. id/berita/siaranpers/5934/kampanyekan-pengelolaan-sampah-klhk-rilis-film-pendek-bude-jo-belajar-kelola-sampah? Vol. 5 No. August 2025, pp. Afita Nurul Hidayah, et. Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 sintagmatik dan paradigmatik dalam menjelaskan konsep semantik Toshihiko Izutsu. Literatur tersebut menemukan bahwa lafaz bahr lebih dari sekedar pemahaman fisik melainkan keluasan representasi dalam ajaran Islam. Namun, penelitian tersebut hanya berfokus pada pemaknaan lafaz bahr tanpa mengintegrasikan lafaz A(IOAyam. sebagai bentuk sinonimnya dalam Al-QurAoan. Sehingga mendapatkan hasil analisis sintagmatik dan paradigmatik dengan sudut pandang berbeda. Oleh karena itu, penelitian ini mengisi kesenjangan tersebut dengan menganalisis lafaz taraduf dari bahr untuk mendapatkan pemahaman yang utuh dan komprehensif dengan menggunakan teori semantik yang dirumuskan oleh Toshihiko Izutsu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa lafaz bahr dan lafaz A(IOAyam. dengan penerapan semantik Toshihiko Izutsu untuk memahami makna leksikal dari lafaz tersebut, serta menelusuri hubungan konseptualnya dalam berbagai konteks ayat agar seluruh konsep terorganisir dan disimbolkan melalui kosa kata tertentu hingga membentuk weltanschauung. Kemudian merumuskan implikasi terhadap pemahaman manusia tentang alam dan kekuasaan Allah serta peninjauan fenomena mutaradif dalam Al-QurAoan. Penelitian ini, diharapkan dapat ditemukan solusi yang lebih efektif untuk mengatasi berbagai permasalahan sosial yang dihadapi masyarakat saat ini, penelitian ini juga diharapkan dapat memperkaya khazanah keilmuan linguistik QurAoani dan membuka ruang bagi studi semantik terhadap lafaz-lafaz kunci lainnya. TINJAUAN PUSTAKA Beberapa buku dan jurnal akademik yang relevan dengan topik ini dibahas untuk berperan sebagai dasar teori pada proses penulisan. Tri Tarmi Gunarti dan Mubarok Ahmadi . dalam penelitiannya yang berjudul AuKonsep kata al-MaAo dalam Al-QurAoan Pendekatan Semantik Thoshihiko IzutsuAy membahas makna lafaz air dalam Al-QurAoan dengan pendekatan semantik Izutsu, bahwa air tidak hanya menjadi unsur vital bagi kehidupan fisik tetapi juga menjadi lambang kesucian, rahmat Allah dan kekuatan Ilahi dalam menciptakan dan mengatur alam semesta. Dalam versi penulis, membahas lafaz bahr dengan semantik Izutsu juga, dengan penekanan bahwa bahr terdiri dari kumpulan air yang sangat banyak. Mustaqimah. Nugroho dan Nirwana . menekankan pentingnya memahami makna lafaz bahr dalam Al-QurAoan dengan proses analisis melalui pendekatan sintagmatik dan paradigmatik dalam menjelaskan konsep semantik Toshihiko Izutsu. Literatur tersebut menemukan bahwa lafaz bahr lebih dari sekedar pemahaman fisik melainkan keluasan representasi dalam ajaran Islam. 19 Namun, penelitian tersebut hanya berfokus pada pemaknaan lafaz bahr tanpa mengintegrasikan lafaz A(IOAyam. sebagai bentuk sinonimnya dalam Al-QurAoan. Kesenjangan yang ditemukan dalam literatur di atas adalah belum ada pembahasan terkait analisis makna lafaz bahr dengan mengintegrasikan bentuk taraduf lafaznya dalam Al-QurAoan. Sehingga mendapatkan hasil analisis sintagmatik dan paradigmatik 16 Mustaqimah dkk. AuAnalysis of the Meaning of the Word Bahr in the QurAoan: Toshihiko IzutsuAos Semantic Perspective,Ay Al-Afkar. Journal For Islamic Studies 8, no. : 958Ae77, https://doi. org/10. 31943/afkarjournal. 17 Norazizah dkk. AuMakna IstikbAr dalam Al-QurAoan: Perspektif Semantik Toshihiko Izutsu,Ay Syams: Jurnal Kajian Keislaman 2, no. : 9, https://doi. org/10. 23971/js. 18 Mustaqimah dkk. AuAnalysis of the Meaning of the Word Bahr in the QurAoan. Ay 19 Mustaqimah dkk. AuAnalysis of the Meaning of the Word Bahr in the QurAoan. The Meaning of Bahr in the QurAoanA ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 dengan sudut pandang berbeda. Penelitian sebelumnya belum ditemukan yang secara khusus menjelaskan makna lafaz bahr beserta sinonimnya dengan pendekatan semantik Toshihiko Izutsu juga implikasinya terhadap pemahaman manusia. METODE Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode pengumpulan data melalui studi dokumentasi yang merupakan bagian dari penelitian kepustakaan . ibrary Metode ini dipilih karena sesuai dengan karakteristik kajian yang bersifat teoritis dan konseptual. Sumber data yang digunakan meliputi berbagai dokumen tertulis yang relevan dengan topik penelitian, seperti catatan pribadi, surat-menyurat, buku harian, laporan kerja, serta berbagai literatur dalam bentuk buku maupun karya ilmiah lainnya yang mendukung analisis secara mendalam. Analisis semantik Toshihiko Izutsu dilakukan melalui langkah-langkah berikut: . mengidentifikasi lafaz bahr dan yamm sebagai kata kunci dalam ayat-ayat21 serta penafsiran ulama. mencari makna dasar serta makna relasional dari lafaz tersebut melalui analisis sintagmatik dan paradigmatik22. menjelaskan makna historis lafaz bahr dan lafaz sinonimnya dengan dua cara, yakni sinkronik dan diakronik. membagi 3 periode waktu dalam aspek diakronik, yakni masa pra-Quranik. Quranik dan pasca-QurAoanik23. menganalisis weltanschauung . andangan duni. di dalam AlQuran24. mengkaji implikasi makna bahr terhadap pemahaman manusia tentang alam dan kekuasaan Allah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kepustakaan, dimana data utama diperoleh dari sumber-sumber tertulis yang relevan. Objek kajian meliputi ayat-ayat AlQurAoan yang membahas istilah bahr, serta karya-karya yang mendukung analisis semantik, khususnya buku Relasi Tuhan dan Manusia karya Toshihiko Izutsu dan Semantik Al-QurAoan karya Muhammad Kholison. Proses penelitian dilakukan melalui tahapan membaca secara kritis, menelaah isi literatur dan menganalisis data secara tematik untuk memperoleh pemahaman yang mendalam dan kontekstual terhadap topik yang diteliti. HASIL DAN DISKUSI Analisis Makna Bahr dalam Al-QurAoan dengan Semantik Toshihiko Izutsu Makna Dasar Makna dasar sebuah kata adalah makna yang secara permanen terkait dengan kata tersebut, tetap stabil dalam berbagai situasi pemakaian dan tidak berubah meskipun dikombinasikan dengan unsur-unsur lain dalam struktur bahasa. Makna dasar ini umumnya dikenal sebagai makna leksikal, yaitu makna asli yang tidak terpengaruh oleh konteks tertentu. Untuk menentukan makna dasar, penulis merujuk pada kamus sebagai sumber representatif dalam menemukan makna leksikal yang paling mendekati karakteristik suatu kata. 20 Sukandarrumidi. Metodologi Penelitian : Petunjuk Praktis Untuk Peneliti Pemula, 4 ed. (Gadjah Mada University Press, 2. , 101. 21 Toshihiko Izutsu. Toshihiko Izutsu God and Man in The Quran (Islamic Book Trust, 2. , 4. 22 Izutsu. Toshihiko Izutsu God and Man in The Quran, 4. 23 Izutsu. Toshihiko Izutsu God and Man in The Quran, 32. 24 AuToshihiko-Izutsu-God-and-Man-in-The-Quran,Ay t. , 74. 25 Mahmud. Metode Penelitian Pendidikan, 10 ed. (Pustaka Setia, 2. , 9. 26 Toshihiko Izutsu. Relasi Tuhan dan Manusia: Pendekatan Semantik terhadap Al-QurAoan, trans. Agus Fahri Husein (PT. Tiara Wacana Yogya, 1. , 12. Vol. 5 No. August 2025, pp. Afita Nurul Hidayah, et. Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 AEa e aAterkonstruksi dari tiga huruf asal, yaitu [ A] A. Menurut Kamus alAOA Munawwir. AA a e aAEAmemiliki bentuk jamak berupa A ea. A aa eOatau A a aAyang berarti laut. Kata Sementara itu, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, laut didefinisikan sebagai suatu perairan asin yang luas dan mencakup area yang sangat besar. 28 Dan dalam Kamus Lisanul Arab kata tersebut diartikan sebagai kumpulan air yang banyak air tawar maupun air asin, dinamakan seperti itu karena keluasannya. 29 Selain itu, lafaz bahr juga digunakan untuk menunjukkan makna luas. 30 Lafaz bahr juga berarti AUA ea AA U a, . uda yang berlari kencan. Hal itu dilihat dari luasnya jarak tempuh dalam berlari. 31 Demikian pula AOA bagi orang yang memiliki keluasan ilmu dinamakan AA e aAEA, dikatakan AEaca ac OaA e OIAartinya memperluas ilmu. 32 Secara terminologi. Ar-Raghib Al-Asfahani dan Wahbah Az-Zuhaili33 dalam narasi serupa menyatakan lafaz al-bahr sebagai: setiap tempat yang luas yang dapat menampung air dalam jumlah yang sangat banyak. Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan makna dasar kata AEa e adalah laut secara harfiah yang merupakan elemen besar dan luas dalam alam semesta. Laut juga dipandang sebagai simbol kedalaman, ketidakpastian dan potensi yang sangat besar. Makna Relasional Makna relasional merujuk pada makna tambahan yang timbul ketika suatu kata digunakan dalam konteks kalimat. 35 Untuk memahami makna relasional secara utuh, diperlukan beberapa tahapan sebagai berikut: Analisis Sintagmatik Analisis ini bertujuan untuk menganalisis kata yang mendahului dan mengikuti suatu istilah guna memahami maknanya dalam konteks, yakni: Ketetapan Ilahi Beberapa kata laut dalam Al-QurAoan disandingkan dengan kata kapal, seperti dalam QS. Al-IsraAo ayat 66. Ayat ini menunjukkan bahwa laut dan kapal merupakan bagian dari sistem yang telah Allah tetapkan agar manusia dapat memperoleh manfaat dari transportasi maritim, baik dalam konteks perdagangan, perjalanan maupun pencarian sumber daya. 36 Konsep ini juga diperkuat dalam QS. An-Nahl ayat 14, yang menjelaskan lebih lanjut bahwa laut tidak hanya berfungsi sebagai jalur pelayaran tetapi juga sebagai sumber daya alam yang berkontribusi pada kesejahteraan manusia. Dengan adanya sistem transportasi laut, manusia dapat melakukan komoditas antar wilayah, 27 Ahmad Warson Munawwir. Kamus Al-Munawwir (Penerbit Pustaka Progressif. Surabaya, 1. , 28 Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. AuKamus Besar Bahasa Indonesia Daring,Ay https://kbbi. id/laut, 2012. 29 Ibnu Manzur. Lisan al-Arab, 1 ed. (Beirut-Libanon: Dar al-Qothob al-Islamiyah, 2. , 5:215. 30 Ar-Raghib Al-Ashfahani. Al-Mufradat fi Gharibil QurAoan, terj. Ahmad Zaini Dahlan (Pustaka Khazanah FawaAoid, 2. , 1:144. 31 Al-Ashfahani. Al-Mufradat fi Gharibil QurAoan, terj. Ahmad Zaini Dahlan, 1:145. 32 Muhammad Kholison. Semantik Al Quran (Pondok Pesantren Lisan Arabi, 2. , 228. 33 Wahbah Az-Zuhaili. Tafsir Al-Munir (Aqidah. SyariAoah. Manha. , terj. Abdul Hayyie al-Kattani, dkk. (Gema Insani, 2. , 4:213. 34 Al-Ashfahani. Al-Mufradat fi Gharibil QurAoan, terj. Ahmad Zaini Dahlan, 1:144. 35 Izutsu. Relasi Tuhan dan Manusia: Pendekatan Semantik terhadap Al-QurAoan, 12. 36 Kementerian Agama RI. Tafsir Ringkasan Al-QurAoan Al-Karim Jilid I (Lajnah Pentashihan Mushaf AlQurAoan, 2. , 785. The Meaning of Bahr in the QurAoanA ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 mempercepat distribusi hasil bumi serta memperkuat hubungan sosial dan ekonomi antar komunitas. Hal ini merupakan bagian dari ketetapan Allah yang menunjukkan bagaimana alam telah diatur sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan manusia sekaligus menjadi pengingat agar mereka bersyukur atas nikmat yang diberikan. Simbol Keluasan dan Hikmah Allah Dalam beberapa ayat, laut digunakan sebagai perumpamaan untuk menunjukkan bahwa pengetahuan Allah melampaui batasan manusia dan bahkan seandainya seluruh lautan dijadikan tinta untuk menuliskan ilmu-Nya, maka tinta tersebut tidak akan pernah cukup untuk mencatat keseluruhan kebijaksanaan yang dimiliki oleh Allah. Salah satu ayat menegaskan konsep ini dalam QS. Luqman ayat 27, yang memberikan gambaran kuat tentang ketidakterbatasan ilmu Allah. Laut yang dalam kehidupan manusia sudah dianggap luas dan dalam, ternyata hanyalah analogi kecil dari keluasan ilmu Tuhan. Bahkan dengan tambahan tujuh lautan pun, tinta yang berasal dari laut tetap tidak akan cukup untuk menuliskan segala kebijaksanaan-Nya. Pemaknaan serupa juga ditemukan dalam QS. Al-Kahfi ayat 109, ayat ini kembali menegaskan konsep keluasan ilmu Allah melalui metafora laut sebagai tinta. Dalam pemaknaan ini, manusia diajak merenungkan keterbatasan mereka dalam memahami seluruh aspek Tuhan. Seberapa pun manusia berusaha memahami, mereka akan tetap berhadapan dengan keterbatasan intelektual dan kemampuan sendiri. Saksi Pembelajaran dan Kemukjizatan Ilahi Cerita perjalanan Nabi Musa as. dengan Khidir, sebagaimana yang disebutkan pada Surah al-Kahfi ayat 60 hingga 82, memiliki makna mendalam tentang pencarian ilmu dan Perjalanan ini dimulai ketika Nabi Musa as. yang berniat untuk menjumpai seorang Ibadullah yang dikaruniai ilmu yang lebih luas darinya. Pada ayat tersebut menunjukkan bahwa perjalanan untuk memperoleh ilmu dilakukan dengan melintasi laut, mengindikasikan bahwa laut dalam konteks ini berfungsi sebagai ruang transisi menuju pemahaman yang lebih dalam. Laut menjadi perantara dalam perjalanan Nabi Musa as. menuju kebijaksanaan yang lebih tinggi, mengisyaratkan bahwa ilmu sering kali di temukan melalui proses perjalanan dan eksplorasi yang penuh tantangan. Dan laut juga menjadi saksi dari beberapa peristiwa yang menguji pemahaman Nabi Musa as. terhadap hikmah Ilahi seperti tenggelamnya perahu sebagai bagian dari ujian yang diberikan Khidir kepadanya. Peristiwa ini memperlihatkan bahwa laut bukan hanya sarana fisik dalam perjalanan tetapi juga bagian dari mekanisme pembelajaran yang menggambarkan bagaimana hikmah Tuhan sering kali tersembunyi di balik peristiwa yang tampak sulit dipahami oleh akal manusia. Fenomena Laut Beberapa ayat Al-QurAoan menggambarkan karakteristik laut, mulai dari jenisnya, kegelapan yang berlapis, ombak dan arus laut, pertemuan antara dua lautan yang terpisah oleh pembatas hingga proses pemanasan dan penguapan air laut. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern, fenomena-fenomena tersebut semakin dapat dijelaskan melalui pendekatan ilmiahnya. Salah satu fenomena laut yang disebut yang terdapat di Al-QurAoan ada pada Surah An-Nur ayat 40, dimana ayat ini menggambarkan kondisi laut dalam yang memiliki lapisan kegelapan bertingkat-tingkat. Ilmu 37 Kementerian Agama RI. Tafsir Ringkasan Al-QurAoan Al-Karim Jilid I, 732. 38 Kementerian Agama RI. Tafsir Ringkasan Al-QurAoan Al-Karim Jilid 2 (Lajnah Pentashihan Mushaf Al-QurAoan, 2. , 349. 39 Kementerian Agama RI. Tafsir Ringkasan Al-QurAoan Al-Karim Jilid 2, 10. 40 Kementerian Agama RI. Al-QurAoan dan Tafsirnya JIlid 6 (Widya Cahaya, 2. , 4. 41 Kementerian Agama RI. Al-QurAoan dan Tafsirnya JIlid 6, 10. Vol. 5 No. August 2025, pp. Afita Nurul Hidayah, et. Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 pengetahuan modern pun telah membuktikan bahwa cahaya matahari mengalami absorpsi saat menembus air laut, dengan intensitas cahaya yang semakin melemah seiring bertambahnya kedalaman. Deskripsi ini sejalan dengan pemahaman ilmiah tentang stratifikasi cahaya di laut dalam, sebuah pengetahuan yang baru dipahami manusia berabad-abad setelah Al-QurAoan menyebutkannya. Analisis paradigmatik Analisis paradigmatik adalah metode analisis yang dilakukan dengan mengaitkan sebuah kata dengan kata-kata lain, yang mengandung makna serupa maupun istilah yang memiliki makna kebalikan. Dalam analisis ini, makna sebuah kata ditentukan melalui proses seleksi alternatif, yaitu Authis-or-this-or-thisAy. Analisis ini bertujuan untuk mengidentifikasi letak relasi suatu kata dengan kata-kata lain yang masih saling memiliki keterkaitan medan semantiknya. Dari analisis ini, dapat diperoleh gambaran tentang sejauh mana cakupan makna kata tersebut serta bagaimana posisinya dibandingkan dengan kata lainnya. Sinonim kata bahr Seperti yang pernah disebutkan sebelumnya, bahwa QurAoan menggunakan berbagai sinonim dalam bahasa arab. Penggunaan sinonim ini memperkaya gaya bahasa dan menyajikan berbagai makna yang berbeda. Adapun kata lain yang dapat mendefinisikan kata bahr adalah kata A(EOa acIAyam. A(EOa acIAyam. berasal dari akar kata [ A]O I IA, berarti lautan. Arti tersebut selaras dengan firman Allah Swt. dalam QS. Al-Qashash: 7 yang artinyaAuMaka buanglah ia ke AEOa acIAdigunakan untuk sesuatu yang airnya asin, juga untuk sungai yang airnya tawar. 43 A EOa acIAmenurut Wahbah Az-Zuhaili berarti laut yang dalam lautAy. Menurut Ibnu Manzur kata Kata AEOa acIAdigunakan sebanyak 7 kali dalam Al-QurAoan, yaitu pada [QS. Al-AAoraf: . , [QS. Taha: 39, 78, . , [QS. Al-Qashas: 7, . dan [QS. Al-Dzariyat: . Jika diamati lebih dalam, kata yang disebut dalam surah-surah di atas semuanya berkaitan dengan kisah Nabi Musa as. dan FirAoaun45 Seperti pada Surah al-AAoraf ayat 136: AuMaka Kami menghukum sebagian diantara mereka, lalu kami tenggelamkan mereka di laut karena mereka telah mendustakan ayat-ayat Kami dan melalaikan ayat-ayat Kami. Ay Allah Swt juga berfirman dalam QS. Taha ayat 78, yang berbunyi: AuMaka FirAoaun dengan bala tentaranya mengejar mereka, tetapi mereka digulung ombak laut yang meenggelamkan mereka. Ay Begitu juga dalam QS. Taha ayat 97, yang berbunyi: 42 Kementerian Agama RI. Al-QurAoan dan Tafsirnya JIlid 6, 616. 43 Kholison. Semantik Al Quran, 228. 44 Wahbah Az-Zuhaili. Tafsir Al-Munir (Aqidah. SyariAoah. Manha. , terj. Abdul Hayyie al-Kattani, dkk. (Gema Insani, 2. , 5:84. 45 Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran. Tafsir Al-QurAoan Tematik (Kamil Pustaka, 2. , 4:22. The Meaning of Bahr in the QurAoanA ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 AuAKami pasti akan membakarnya, kemudian sungguh menghamburkannya . ke dalam laut . Ay Maka dapat dipahami bahwa kata AEOa acIAselalu berada dalam ayat-ayat yang menggambarkan konteks kerusakan dan azab. Kemunculannya sering dikaitkan dengan konsep pelemparan, pembuangan, tenggelam serta peristiwa yang menunjukkan kehancuran atau kebinasaan. Sedangkan dalam QS. Taha ayat 39, yang dimaksud Sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Hayyan bahwa kata AEOa acIAadalah sungai Nil. AEOa acIApada ayat tersebut bermakna laut tawar yakni sungai Nil. Antonim kata bahr Jika sinonim lebih merujuk pada keterkaitan makna yang menunjukkan kesamaan, maka antonim lebih berkaitan dengan hubungan makna yang mencerminkan 48 Sebagai antonim dari bahr kata yang paling umum digunakan untuk merujuk daratan adalah AEA A( al-bar. , yang menunjukkan wilayah kering, tanah tempat berpijak serta lingkungan yang lebih stabil dibandingkan laut. Kata AEA A aAdisebutkan sebanyak 12 kali dalam Al-QurAoan, yaitu pada [QS. Al-Maidah: , [QS. Al-AnAoam: 59, 63, . , [QS. Yunus: . , [QS. Al-IsraAo: 67, 68, . , [QS. Al-Naml: . , [QS. Al-Ankabut: . , [QS. Ar-Rum: . dan [QS. Luqman: . 49 Hubungan antara bahr dan AEA A aAdi Al-QurAoan sering kali dijelaskan pada ayat yang menekankan mobilitas manusia serta keseimbangan ekosistem. Seperti dalam Surah al-IsraAo ayat 70: AuDan sungguh Kami telah memuliakan anak-cucu Adam dan Kami telah angkut mereka di darat dan di laut dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna. Ay Ayat ini menunjukkan bahwa laut dan daratan merupakan dua wilayah utama yang menjadi tempat aktivitas manusia, dimana keduanya memiliki fungsi yang berbeda tetapi saling melengkapi. Laut berfungsi sebagai jalur perdagangan dan sumber daya, sementara daratan menjadi tempat tinggal dan pusat kehidupan manusia. Selain AEA a AE eaAjuga digunakan pada Al-QurAoan untuk merujuk pada daratan A aA, kata AA atau bumi secara luas. Kata AA a AE eaAdisebutkan sebanyak 461 kali dalam Al-QurAoan dalam bentuk mufrad dan tidak pernah muncul dalam bentuk jamak. Dalam QS. Al-AAoraf ayat 24. Allah berfirman: 46 Kholison. Semantik Al Quran, 230. 47 Kholison. Semantik Al Quran, 231. 48 Moh. Matsna HS. Kajian Semantik Arab Klasik dan Kontemporer, 1 ed. (Prenadamedia Group, 2. Muhammad Ratib Nablusi. AuMausuAoat al-IAojaz al-AoIlmi fi Alquran wa as-Sunnah,Ay 2024, https://news. tw/NewsSection/Detail/e8be0793-2719-4034-92d26712505cdbd9?lang=IN. 50 Kementerian Agama RI. Tafsir Ringkasan Al-QurAoan Al-Karim Jilid I, 786. 51 Ali Zainal Arifin dan Aas Siti Aisyah. AuMAKNA AL-AR? DALAM AL-QURAoAN (Kajian Semantik Juz . ,Ay Al Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir 1, no. : 56Ae66, https://doi. org/10. 57163/almuhafidz. Vol. 5 No. August 2025, pp. Afita Nurul Hidayah, et. Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 Au(Alla. AoTurunlah kamu! Kamu akan saling bermusuhan satu sama lain, bumi adalah tempat kediaman dan kesenanganmu sampai waktu yang telah ditentukanAy. Dalam konteks ini, al-ard memiliki makna yang lebih umum dibandingkan al-barr, mencakup seluruh permukaan bumi termasuk dataran tinggi, tanah subur serta wilayah yang menjadi tempat kehidupan manusia. Makna Historis Makna historis adalah tahap analisis yang bertujuan mengungkap sejarah perkembangan makna dari suatu kata yang menjadi objek kajian. Tahap ini bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu aspek sinkronik atau diakronik. Aspek sinkronik merujuk pada kata yang memiliki makna tetap dan tidak berubah di mana pun kata itu ditempatkan, sehingga maknanya bersifat statis dalam konteks penggunaannya. Sedangkan dari aspek diakronik. Toshihiko Izutsu membagi periode waktu penggunaannya dalam tiga periode, di antaranya: Pra QurAoanik Pembahasan ini difokuskan pada kosakata yang digunakan pada masa jahiliah. Analisis terhadap penggunaan kata pada periode ini penting untuk memahami bagaimana masyarakat pra Islam memaknai suatu kata, sehingga dapat menjadi landasan dalam memahami makna kata tersebut pada masa QurAoanik. Untuk menelusuri makna ini, penulis mengutip salah satu syair jahiliah yang berbunyi: AOCa e eEa OA AOA a e aa a a A Ee a eA a A uOaE aI eO a eI ea Ee aI eaA// A IEe U Aa a aOaIA AuAir bumi telah kembali garam dan itu menambah sakit ku, dimana air minum yang segar telah menjadi asinAy. Syair ini menggambarkan suatu kondisi perubahan alam yang memiliki makna simbolik yang dalam. Dimana air yang seharusnya segar telah berubah menjadi asin, menggambarkan suatu siklus alam yang berlawanan dengan harapan manusia yang bisa menjadi ujian dan takdir dalam kehidupan. 52 Berdasarkan syair di atas, kata bahr digunakan untuk menyatakan air asin atau garam oleh sebagian orang Arab. Quranik Masa Quranik merujuk pada periode setelah datangnya Islam beserta Al-QurAoan dan syariatnya, yang membawa konsep-konsep baru yang berbeda dari pemahaman pada masa jahiliah. Dalam pembahasan ini, kata bahr akan dianalisis berdasarkan penafsiranpenafsiran yang ada. Dalam penafsiran Kemenag pada Surah Fatir ayat 12 bahwa bahr umumnya diartikan sebagai laut atau samudera dalam jumlah yang besar. Dalam ayat tersebut, disebutkan kata bahran yang mengacu pada dua jenis perairan, yaitu lautan yang payau dan tawar. 53 Perairan laut dan perairan sungai yang berada di dalam tanah merupakan bagian dari satu sistem yang saling berhubungan dalam siklus hidrologi. Proses ini berlangsung secara terus menerus: air menguap, naik ke awan kemudian turun dalam bentuk hujan atau salju yang kemudian mengalir melalui sungai dan saluran air lainnya, hingga pada akhirnya kembali ke laut. Dalam Surah Ar-Rahman ayat 19 disebutkan: Au Dia membiarkan dua laut . awar dan asi. Ay Sejumlah mufasir memberikan penafsiran yang serupa bahwa dua jenis air tersebut bertemu, meskipun tampak bersisian tanpa sekat yang terlihat, sebenarnya dipisahkan oleh penghalang yang mencegah keduanya bercampur sehingga masing-masing tetap 52 Kholison. Semantik Al Quran, 228. 53 Kementerian Agama RI. Al-QurAoan dan Tafsirnya JIlid 6, 615. The Meaning of Bahr in the QurAoanA ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 berada dalam wilayahnya sendiri tanpa saling memasuki. Ar-Razi menyampaikan bahwa mayoritas mufasir menafsirkan ayat ini sebagai perumpamaan antara orang kafir dan orang beriman, yang keduanya tidak dapat disamakan, sebagaimana perbedaan antara air tawar dan air asin. Beberapa mufasir klasik juga memberikan penafsiran terhadap lafaz bahraini dalam Surah Al-Furqan ayat 53. Menurut ath-Thabari, yang dimaksud dengan AA U adalah AOA air yang sangat tawar. Sementara AA U AIEe U a aAmerujuk pada air yang sangat asin dan pahit. Air laut yang asin berfungsi sebagai penghalang agar air tawar tidak mengalami perubahan dan kadar salinitasnya tetap terjaga. Hal ini penting agar air tawar tetap murni karena manusia memerlukan air tawar yang segar untuk dikonsumsi. Sayyid Quthub dalam Tafsir Fi Zhilalil QurAoan menjelaskan bahwa Allah Swt menciptakan dua jenis lautan, yaitu lautan tawar dan lautan payau serta pahit, yang mengalir berdampingan dan saling bertemu tetapi tetap terpisah tanpa bercampur karena Allah menjaga kemurnian masing-masing. Berbagai perairan mengalir dengan deras dari ketinggian yang lebih tinggi dibandingkan permukaan laut, sehingga lautan yang tawar dari sungai mengucuri lautan yang asin. 56 Dalam kitab ad-Durr al-Mantsur. A aIa a Eea eaOe OIAsebagai dua as-Suyuti mengutip pendapat Abu Hatim yang menafsirkan lafaz lautan yang berada di langit, dipahami sebagai awan atau mega dan lautan yang berada di bumi. As-Sulami dalam penafsirannya terhadap ayat yang sama menyatakan bahwa keberadaan dua lautan yang memiliki sifat bertentangan, yakni perbedaan rasa dan karakter merupakan simbolisasi dari dua jenis hati manusia yang berlawanan. Hati pertama adalah milik para ahli maAorifah sedangkan hati kedua adalah milik para ahli Ahli maAorifah memancarkan cahaya hidayah sedangkan ahli nakirah yang menyebarkan kegelapan atau menyelubungi kebenaran dengan kegelapan. Di antara keduanya terdapat jenis hati ketiga, yaitu hati kaum awam yang belum tersentuh oleh ilmu dan belum memperoleh cahaya hidayah. 58 Penafsiran ini didukung oleh Ibnu AoArabi, yang menyatakan bahwa dua lautan, yaitu lautan tubuh . dan lautan ruh diciptakan oleh Allah sebagai satu kesatuan yang utuh dalam jiwa manusia. Lautan ruh memiliki air yang tawar sementara lautan tubuh memiliki air yang payau dan pahit karena keduanya bercampur dalam satu wadah. Pemisah yang membatasi keduanya adalah jiwa yang cenderung pada hawa nafsu . l-nafs al-hawaniya. Dari uraian di atas, kata bahr pada periode Quranik mengalami generalisasi makna. Salah satu indikasinya terlihat dalam penyebutan bahran atau bahraini, yang merujuk pada pertemuan dua jenis lautan bertemu namun tidak menyatu karena adanya pembatas yang tidak terlihat oleh mata. Secara ilmiah, fenomena ini merujuk pada perbedaan salinitas dan densitas air yang mencegah percampuran secara langsung. Sementara dalam tafsir, beberapa mufasir menginterpretasikan bahran sebagai perumpamaan bagi berbagai bentuk dualitas, seperti jiwa maAorifah dan nakirah, orang kafir dan beriman, serta lautan di langit dan lautan di bumi. 54 Fakhruddin Ar-Razi. Tafsir Mafatihul Ghaib (Dar al-Kutub al-AoIlmiyah, 2. , 161. 55 Abu JaAofar At-Thabari. Terjemah Tafsir At-Thabari Jilid 19 (Pustaka Azzam, 2. , 423. 56 Sayyid Quttub. Terjemah Tafsir Fi Dzilalil Quran Jilid 8 (Gema Insani, 2. , 307. 57 Jalaluddin As-Suyuthi. Tafsir ad-Dur al-Mantsur (Dar al-Fikr, 1. , 113. 58 Abu Abdurrahman As-Sulami. HaqaAoiq at-Tafsir Jilid 2 (Dar al-Kutub al-AoIlmiyyah, 2. , 63. 59 Ahmad Mahpur. Eksistensi Ruh Dalam Perspektif Ibnu Arabi, 2019, 76. Vol. 5 No. August 2025, pp. Afita Nurul Hidayah, et. Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 Pasca Quranik Masa ini dimulai dari setelah wafatnya Rasulullah dan kepemimpinan diteruskan para khalifah hingga muncul berbagai dinasti. Pada periode ini. Islam terus berkembang hingga mencapai puncak masa kejayaannya. Para ulama tafsir kontemporer ketika menafsirkan Al-QurAoan khususnya pada ayat kauniyyah, mereka menjelaskan secara detail dan membawanya lebih kepada kajian Sebagaimana dijelaskan oleh Zaghlul An-Najjar dalam tafsirnya Ayatul Kauniyyah fi QurAoanil Karim, para ilmuwan masa kini dapat menyaksikan fenomena alam yang menakjubkan, yaitu adanya batas atau pemisah di antara dua lautan yang memiliki karakteristik berbeda, baik secara kimia maupun sifat fisiknya. Perbedaan ini bisa terjadi secara horizontal ataupun vertikal, meskipun keduanya sama-sama berupa air asin. AnNajjar menyatakan bahwa pemisah antara dua laut tersebut berupa air juga. Jenis penghalang ini tidak sepenuhnya menghentikan perpindahan organisme laut dari satu massa air ke massa air lainnya, kecuali jika terdapat perbedaan kualitas tertentu dan tetap memungkinkan makhluk laut untuk berpindah. Menurut Tantawi Jawhari, dua lautan yang disebutkan dalam QurAoan sebenarnya berasal dari satu sumber laut yang mengalami suatu siklus alami. Prosesnya dimulai dengan penguapan air laut yang kemudian membentuk awan dan dari awan tersebut turunlah hujan. Air hujan ini mengalir ke sungai-sungai yang akhirnya kembali bermuara ke laut. Meskipun semuanya berasal dari laut yang sama, keberadaan sungai dalam siklus ini membuatnya seolah-olah terbagi menjadi dua, sehingga digunakan istilah bahraini, bukan sekadar laut dan sungai. Yusuf Qardhawi menjelaskan bahwa istilah bahraini dalam Surah Ar-Rahman ayat 19 tidak bisa disamakan dengan bahraini dalam Surah Al-Furqan ayat 53. Dalam konteks Ar-Rahman, yang dimaksud adalah dua lautan yang keduanya asin, bukan pertemuan antara air asin dan air tawar. Pertemuan dua lautan ini terjadi secara vertikal atau tumpang tindih, di mana pemisahnya tampak secara horizontal. Perbedaan antara keduanya terletak pada sifat fisik seperti kadar garam . , suhu dan kerapatan . Pertemuan ini terjadi antara lapisan atas dan bawah air laut. Pandangan Qardhawi yang menyebut bahwa dua lautan tersebut sama-sama asin merujuk pada pendapat Tahir Ibn Ashur, yang menyatakan bahwa istilah dua lautan dalam surah ini dapat dimaknai dengan dua pemahaman, salah satunya sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Qardhawi, yakni dua lautan asin yang dikenal oleh bangsa Arab pada Quraish Shihab menuliskan dalam Tafsir Al-Misbah, bahwa tidak ada ayat yang menjelaskan dimana letak pertemuan dua laut tersebut. Sementara ulama lainnya berpendapat bahwa itu di Afrika . ekarang Tuni. Pernyataan ini dikuatkan oleh Sayyid Quthub, beliau berpendapat bahwa itu adalah Laut Merah dan Laut Putih. Sedangkan, tempat pertemuannya di Danau Timsah dan Danau al-Murrah. Ibnu Asyur menegaskan bahwa tempat pertemuan dua laut yang disebut dalam QurAoan kemungkinan besar berada di Palestina, tepatnya di Buhairah Thabariyah atau Bahr al-Jalil menurut sebutan Bani Israil. Fenomena serupa juga ditemukan di wilayah Fiord, dimana air tawar dari pencairan gletser mengalir di lapisan atas, sementara air laut asin masuk dari bawah. Contoh lain terjadi di Laut Jawa, saat air dari Laut Cina Selatan yang kurang asin bertemu 60 Zaghlul An-Najjar. Ayatul Kauniyyah fi QurAoanil Karim Jilid 2 (Maktabah Asyarqiyah ad-Dauliyyah, 2. , 367. 61 Tantawi Jawhari. Jawahir fi Tafsir QurAoan al-Karim Juz 27 (Mustofa al-Babi wa al-Halbi, 1. , 17Ae 62 Muhammad Tahir Ibn Ashur. Tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir Juz 27 (Dar al-Tunis, 1. , 249. The Meaning of Bahr in the QurAoanA ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 dengan massa air asin dari Samudera Pasifik. Batas vertikal antara dua jenis air ini juga terlihat di Jepang, dimana arus dingin Oyashio bertemu dengan arus hangat Kuroshio, serta di Samudera Hindia pada pertemuan antara arus dari Atlantik Selatan yang kurang asin dan air asin dari Lautan Hindia. Berdasarkan pemaparan di atas, dapat dilihat bahwa para mufasir kontemporer, khususnya yang mengusung pendekatan tafsir Aoilmi, cenderung menafsirkan bahraini secara lebih kompleks, dengan makna yang berkaitan erat dengan penemuan-penemuan ilmiah modern khususnya fenomena pertemuan dua laut. Mereka juga cenderung menekankan aspek geografis dalam memahami istilah tersebut. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan berbagai persoalan yang muncul setelah periode Quranik, kata bahr mengalami transformasi makna yang lebih luas, tidak hanya sebagai perairan yang memberikan manfaat bagi kehidupan manusia tetapi juga sebagai objek kajian dalam berbagai disiplin ilmu. Kemunculan kebutuhan untuk memahami laut secara lebih mendalam mendorong para ulama dan ilmuwan untuk berijtihad dalam merumuskan konsep baru yang berkaitan dengan laut. Perkembangan signifikan dari pemaknaan bahr adalah masuknya laut sebagai objek studi ilmiah dalam bidang oceanografi. Oceanografi mengkaji berbagai aspek lautan termasuk arusnya, ekosistem perairan, interaksi laut dengan atmosfer dan masih banyak lagi. Ilmu ini memungkinkan manusia untuk memahami lebih jauh tentang peran laut dalam sistem global seperti siklus hidrologi dan pemanasan perairan. Al-Idrisi dan Al-MasAoudi merupakan ilmuwan muslim pada abad pertengahan yang memberikan kontribusi besar pada bidang navigasi laut. 64 Seperti dalam pembuatan peta laut, mengembangkan teori tentang jalur perdagangan maritim serta metode navigasi yang memungkinkan perjalanan lebih aman dan efisien. Perkembangan dari pemaknaan bahr terlihat juga dalam bidang fiqih, khususnya pada pembahasan hukum yang berkaitan dengan kehidupan di laut. Para fuqaha merumuskan berbagai ketentuan yang berkaitan dengan perjalanan laut . afr fi al-bah. , hukum makanan laut serta etika perdagangan maritim. Dalam aspek ekonomi, pemanfaatan laut untuk perdagangan menjadi bagian dari regulasi hukum islam. Prinsip keadilan dalam transaksi serta etika pemanfaatan sumber daya laut dibahas oleh ulama dalam rangka memastikan bahwa eksploitasi laut dilakukan dengan cara yang sesuai dengan nilai-nilai syariah dan keberlanjutan lingkungan. Selain aspek sains, fiqih dan ekonomi, bahr juga berkembang sebagai objek kajian dalam bidang linguistik, tafsir dan tasawuf yang menghasilkan pengetahuan baru secara lebih mendalam. Transformasi makna ini menunjukkan bahwa laut memiliki fungsi multidimensional dalam kehidupan manusia. Dengan berkembangnya pemahaman tentang laut hingga saat ini, kata bahr telah menjadi bagian dari interaksi wahyu, ilmu pengetahuan dan pengalaman manusia dalam memahami dunia yang telah Allah ciptakan dengan keteraturan. Weltanschauung Weltanschauung merupakan pandangan dunia atau cara pandang suatu masyarakat untuk mengonseptualisasikan dan menafsirkan dunia di sekelilingnya melalui bahasa dan konsep-konsep kunci dalam bahasa tersebut. 65 Pembahasan ini merupakan tahap 63 Lajnah Lajnah Pentashihan Mushaf Al-QurAoan. Samudra Dalam Perspektif Al-QurAoan dan Sains . , 2. , 43. 64 HS Gautama, 10 Penjelajah Muslim Awal Yang Memberi Pengaruh Besar Pada Ilmu Pengetahuan . 65 Izutsu. Toshihiko Izutsu God and Man in The Quran, 3. Vol. 5 No. August 2025, pp. Afita Nurul Hidayah, et. Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 terakhir yang ingin dicapai dalam kajian analisis terhadap istilah-istilah penting dalam alat komunikasi bahasa, dengan pendekatan yang mengarah pada pemahaman konseptual sebagaimana yang ditawarkan oleh Toshihiko Izutsu. Fokus utama adalah bagaimana dunia masyarakat berfungsi sebagai alat komunikasi atau alat berpikir, serta pentingnya konsep dan penafsiran yang melingkupi fenomena tersebut. Apabila melihat dari segi konteks penerapannya di Al-QurAoan, umumnya dapat diartikan sebagai laut berupa perairan yang luas yang menunjukkan kebesaran Allah. Seperti yang disebutkan di dalam Surah Asy-Syura ayat 32: AuDan di antara tanda-tanda . -Nya ialah kapal-kapal . ang berlaya. di laut seperti gunung-gunung. Ay Dan bila dilihat dari perspektif masa pra Quranik, kata bahr umumnya didefinisikan sebagai air garam atau air yang asin. Dan setelah memasuki masa Quranik, kata bahr mengalami perkembangan dalam jenisnya, yaitu mencakup laut asin dan laut tawar. Keduanya bertemu namun tidak bercampur karena adanya pembatas yang tak terlihat. Kedua jenis laut ini juga menjadi simbol perumpamaan untuk berbagai bentuk dualitas seperti jiwa maAorifah dan nakirah atau orang kafir dan beriman. Memasuki masa pasca Quranik, makna bahr mengalami perkembangan makna yang semakin kompleks dan multidimensional. Awalnya, kata ini berfungsi sebagai simbol keluasan dan kebesaran Allah, mencerminkan kekuasaan-Nya yang tak terbatas. Seiring dengan berkembangnya pemikiran manusia dan interaksi yang lebih luas dengan lingkungan alam, makna bahr tidak hanya dimaknai secara simbolis, tetapi juga mengalami perluasan dalam hal definisi, klasifikasi jenis laut serta penggunaan laut sebagai bentuk perumpamaan dalam berbagai aspek kehidupan seperti sains, ekonomi, sosial dan budaya. Dalam aspek sains, makna bahr berkenaan dengan dua laut yang terpisah . ront atau jabha. ) telah diteliti oleh ahli kelautan disebabkan oleh sifat biogeokimia Dalam ranah studi Islam, bahr dikaji dalam tafsir, fiqih dan tasawuf, dimana ia tidak hanya menjadi simbol kebesaran Tuhan tetapi juga memiliki dimensi hukum dan spiritual yang mendalam. Sementara itu, dalam bidang ekonomi, bahr berperan dalam perdagangan maritim66, eksploitasi sumber daya dan pengaturan hukum yang berkaitan dengan aktivitas pelayaran67. Dengan demikian, perkembangan makna bahr menunjukkan bagaimana sebuah konsep yang awalnya memiliki makna teologis kemudian berkembang menjadi objek kajian ilmiah dan sosial yang terus beradaptasi dengan kebutuhan manusia di berbagai Implikasi Makna Bahr terhadap Pemahaman Manusia tentang Alam dan Kekuasaan Allah Analisis semantik terhadap lafaz bahr dalam QurAoan tidak hanya membuka pemahaman linguistik semata, tetapi juga menyentuh dimensi teologis dan etis dalam pandangan hidup Islam. Berdasarkan teori Toshihiko Izutsu, kata-kata kunci dalam AlQurAoan membentuk suatu semantic universe yang merefleksikan wordview QurAoani. Dalam hal ini, bahr tidak hanya merujuk pada laut secara fisik, tetapi juga memuat muatan nilai yang membentuk cara pandang manusia terhadap alam dan hubungannya dengan Tuhan. 66 Tafsir Al-QurAoan Tematik, 4:27Ae29. 67 Tafsir Al-QurAoan Tematik, 4:30Ae32. The Meaning of Bahr in the QurAoanA ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 Pertama, bahr dalam Al-QurAoan diposisikan sebagai tanda kekuasaan Allah 68 . yah min ayatilla. sebagaimana ditegaskan dalam beberapa ayat, seperti dalam Surah AlJasiyah ayat 12, yang berbunyi: AuAllah-lah yang telah menundukkan laut untukmu agar kapal-kapal dapat berlayar di atasnya dengan perintah-Nya, agar kamu dapat mencari sebagian karunia-Nya dan agar kamu bersyukur. Ay Fenomena laut yang luas, dalam dan penuh misteri menuntun manusia untuk merenungkan keteraturan dan kebesaran Sang Pencipta. Dalam hal ini, makna bahr memantik kesadaran kosmik . osmic awarenes. yaitu bahwa alam semesta bukan hadir secara kebetulan, melainkan merupakan bagian dari sistem Ilahi yang teratur. Kedua, pemaknaan bahr juga memperkuat konsep taskhir yaitu bahwa laut merupakan ciptaan yang ditundukkan Allah untuk kemaslahatan manusia. Ini mengarah pada kesadaran bahwa manusia hidup dalam sistem ekologi yang penuh hikmah dan sebagai khalifah di bumi, manusia tidak boleh bersifat eksploitatif, melainkan harus menjaga keseimbangan dan kelestariannya 69. Ketiga, pertemuan antara dua laut yang berbeda sifatnya seperti yang dijelaskan dalam Surah al-Furqan dan Surah ar-Rahman, mengandung pelajaran tentang keteraturan hukum alam dan kehendak Allah yang Mahabijaksana 70. Fenomena ini tidak hanya dapat diamati secara ilmiah, tetapi juga menyimpan makna spiritual bahwa segala sesuatu berjalan di bawah aturan yang di tetapkan Tuhan. Dengan demikian, makna bahr secara semantik tidak hanya memperkaya khazanah linguistik Al-QurAoan, tetapi juga mendorong terbentuknya kesadaran teologis-ekologis. Melalui pemahaman ini, manusia diajak untuk memandang alam sebagai manifestasi kekuasaan Allah sekali71gus sebagai amanah yang harus dijaga dan dipelihara. Relasi Sinonim Lafaz Bahr dalam Al-QurAoan: Tinjauan Fenomena Mutaradif dalam Al-QurAoan Dalam beberapa ayat di Al-QurAoan, istilah yang digunakan untuk merujuk penyebutan laut terdiri dari dua kata yang berbeda, yaitu bahr dan al-yamm. Meskipun keduanya mempunyai kedekatan makna dan sama-sama merujuk pada laut atau perairan luas, analisis semantik menunjukkan bahwa terdapat fitur makna yang membedakan keduanya dalam penggunaan dan konteks ayat-ayat Al-QurAoan. Dari hasil analisis makna paradigmatik, kata bahr memiliki karakteristik semantik yang lebih umum dan luas dalam penggunaannya. Ia sering dikaitkan dengan konsep kelimpahan aAEe A a eAEA, keluasan A OADalam Ala AeEIeO aA. ca dan hamparan yang membentang AA aAE aA QurAoan, bahr digunakan untuk merujuk laut sebagai bagian dari ciptaan Allah yang memberikan berbagai manfaat pada kehidupan manusia, seperti dalam konteks kebesaran Tuhan, transportasi dan sumber pangan. Selain itu, kata ini juga muncul dalam konteks penceritaan kisah para nabi, dimana laut berfungsi sebagai elemen penting dalam peristiwa sejarah yang berkaitan dengan ujian dan mukjizat. Sebaliknya, kata AEOa acIAmemiliki cakupan makna yang lebih spesifik dan terbatas dalam Berdasarkan distribusi kata dalam Al-QurAoan, al-yamm lebih sering 68 Tafsir Al-QurAoan Tematik, 4:23Ae24. 69 Tafsir Al-QurAoan Tematik, 4:26. 70 Tafsir Al-QurAoan Tematik, 4:25. 71 {Citatio. Vol. 5 No. August 2025, pp. Afita Nurul Hidayah, et. Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 muncul dalam konteks siksaan dan azab. Kata ini digunakan dalam ayat-ayat yang menggambarkan peristiwa tenggelamnya FirAoaun dan pasukannya serta kisah nabi Musa yang dilemparkan ke sungai sebagai bagian dari rencana penyelamatan Ilahi. Oleh karena itu, secara semantik, al-yamm memiliki fitur makna yang mengarah pada ketidakstabilan, hukuman dan peristiwa yang melibatkan bahaya atau konsekuensi bagi kaum tertentu. Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa AEa e aAdan A EOa acIAmerupakan sinonim kata dalam Al-QurAoan, tetapi dengan perbedaan signifikan dalam nuansa makna dan penerapan konteksnya. Jika hasil analisis ini dikaitkan dengan konsep lafaz mutaradif dalam Al-QurAoan, maka fenomena ini sesuai dengan pola penggunaan sinonim dalam teks Al-QurAoan, dimana dua kata yang berbeda digunakan untuk menyebutkan suatu nama yang sama dengan penggunaan yang berbeda. Dengan demikian, setiap kata yang dipilih Al-QurAoan dirancang dengan tujuan spesifik untuk menggambarkan berbagai aspek dari suatu konsep. Selain memperhatikan keindahan bahasa, setiap kata juga mengandung kedalaman semantik yang memastikan ketetapan makna sesuai dengan tujuan ayat. HASIL TEMUAN PENELITI Tabel 1. 1 Hasil Analisis Bahr Aspek Makna Dasar Lafaz Bahr Laut lepas, luas dan akar kata A A A . Adigunakan dalam Makna Rasional konteks Arab praIslam secara terbatas Berhubungan niAomah . , . , tadbir . engaturan Simbol dan rahmat Allah. spiritual (QS. AnNahl: . Berkembang kosmik dalam tafsir klasik dan modern Catatan dan Implikasi Laut dalam konteks Bahr Ibrani. akar kata A O IAkosmik-universal. A . IAhanya muncul di naratif-spesifik kisah Nabi Musa Lafaz Yamm Berhubungan Aoadhab . , . , muAojizah . Bahr Ie rahmat dan Ie keadilan dan intervensi Tuhan Insrumen keadilan ilahi dalam kisah Nabi Musa Ae FirAoaun (QS. Taha: . Menunjukkan kosmologis dalam narasi QurAoani Tetap simbol historis Ae kisah Nabi Musa. Weltanschauung Mewakili Arena QurAoani keteraturan ciptaan, penelamatan Evolusi semantik bahr lebih dinamis disbanding yam Fungsi Teologis Aspek Historis Perbedaan 72 Kholison. Semantik Al Quran, 232. The Meaning of Bahr in the QurAoanA Aspek Sosiokultural Aspek Ekologi Kesimpulan Umum ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 eksplorasi kehancuran. simbol intensionalitas dan ujian iman (QS. Tuhan pemilihan Luqman: . atas sejarah (QS. QurAoani Yunus: 90-. Dihubungkan dengan Bagian dari memori Bahr relevan bagi dan kolektif Bani Israil. refleksi symbol pembebasan cosmopolitan. perubahan budaya dari perbudakan Arab dari takut laut identitasmenuju eksplorasi Representasi Laut sebagai Membentuk etika ekosistem kompleks. kekuatan yang bisa ekospiritual Islam konservasi menyelamatkan dan etika lingkungan atau (QS. Ar-Rum: . Bersifat luas, kosmik Bersifat spesifik. Kombinasi naratif dan simbolik. relevan untuk isu keadilan ilahi dalam kerangka dan sejarah lingkungan QurAoani KESIMPULAN Artikel ini menyimpulkan bahwa makna lafaz bahr dalam Al-QurAoan dengan menggunakan pisau analisis semantik Toshihiko Izutsu yaitu berupa perairan yang sangat luas sehingga dapat dijadikan sebuah simbol perumpamaan pada sesuatu yang tidak terhingga besarnya. Bahr juga dijadikan sebagai objek kajian dalam berbagai disiplin ilmu. Temuan ini memperlihatkan bahwa makna bahr tidak sekadar bersifat teologis, melainkan berkembang menjadi objek kajian ilmiah dan sosial yang terus beradaptasi sesuai zaman dan kebutuhan manusia. Implikasi makna bahr terhadap pemahaman manusia tentang alam dan kekuasaan Allah yaitu memantik kesadaran bahwa alam semesta bukan hadir secara kebetulan, melainkan bagian dari sistem Ilahi yang teratur. Juga mengarahkan pada kesadaran manusia untuk tidak bersifat eksploitatif terhadap sistem ekologi yang penuh hikmah. KONTRIBUSI PENULIS Adapun kontribusi yang diberikan penelitian ini yaitu mengembangkan kajian semantik Al-QurAoan, khususnya dalam memahami konsep lafaz mutaradif. Dengan digunakannya teori semantik Toshihiko Izutsu dapat membuktikan bahwa pemilihan kata dalam Al-QurAoan merupakan pemilihan yang sangat teoritis dan kontekstual. Artikel ini diharapkan dapat memperkaya literatur ilmu keislaman, khususnya dalam konteks tafsir tematik dan linguistik Al-QurAoan. Selain itu, artikel ini berkontribusi pada analisa reflektif isu ekologi dari perspektif Islam. Dengan mengkaji makna simbolis dan etis bahr. Vol. 5 No. August 2025, pp. Afita Nurul Hidayah, et. Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 penelitian ini mencoba mendorong pemahaman bahwa laut dalam Al-QurAoan bukan sekadar fenomena alam, tetapi juga bagian dari tanda-tanda Kekuasaan Tuhan yang berisi pesan tanggung jawab manusia dalam menjaga kelestariannya. REFERENSI