Jurnal kajian Kesehatan Masyarakat Vol. 2 No. Edition: November 2020 Ae April 2021 http://ejournal. id/index. php/JK2M Received: 20 Oktober 2020 Revised: 27 Oktober 2020 Accepted: 28 Oktober 2020 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN PENYAKIT MENULAR SEKSUAL PADA PEKERJA/REFLEKSI DI KOTA LHOKSEUMAWE TAHUN 2020 Ana Maryana. Diana Sinulingga. Nur Mala Sari Institut Kesehatan Deli Husada Deli Tua Email :anamaryana539@gmail. Abstract Sexually transmitted diseases are a national health problem that requires special attention whose phenomenon is like an iceberg. The incidence of sexually transmitted diseases spread among workers in massage parlors and salons in Lhokseumawe City. The increasing trend of sexually transmitted diseases is due to sexual behavior that is changing partners and a lack of awareness about how to prevent the transmission of sexually transmitted diseases. The purpose of this study is to analyze the factors that influence the incidence of sexually transmitted diseases in massage / reflection workers in Lhokseumawe City in 2020 . The research method is cross sectional The sample is a total population of 125 massage / reflection workers in Lhokseumawe City. Data were analyzed by logistic regression using statistical software. The results showed that there was a significant influence risk factors for sexual behavior (A = . ,health service factors (A = 0,. with the incidence of sexually transmitted diseases in massage / reflection workers. And there is no significant influence social economic factors (A = 0,. ,education factor (A = 0,098 ), and the knowledge factor (A=0,438 ),with the incidence of sexually transmitted diseases in massage / reflection workers. Occurrence of sexually transmitted diseases in massage / reflection workers in the city of Lhokseumawe because having risky sex and not carrying out health services. break the chain of the incidence of sexually transmitted diseases is further enhance the health promotion of workers in massage parlors and prevention of transmission from various factors by working together across sectors related to the handling of sexually transmitted diseases. Keywords : Massage / reflection workers, incidence of sexually transmitted diseases. Pendahuluan Penyakit menular seksual (PMS) adalah infeksi yang ditularkan melalui fenomenanya seperti gunung es. Organisasi Kesehatan Dunia WHO . menyatakan lebih dari satu juta orang di dunia didiagnosis menderita penyakit menular seksual (PMS) setiap harinya dan lebih dari 76 kasus baru penyakit menular seksual setiap tahun. Data Dinas Maryana. Sinulingga, & Sari. Faktor yang Mempengaruhi . Kesehatan Kota Lhokseumawe didapatkan 547 Kasus PMS yang di rujuk VCT HIV dan menunjukkan PMS tahunnya dimana pada tahun 2017 ada 97 kasus, tahun 2018 ada 120 kasus dan 2019 ada 330 kasus. GARBI . Chapter Lhokseumawe juga menyebutkan peningkatan kasus pengaruh LGBT terus meningkat dari tahun ketahun di Kota Lhokseumawe dan akhir tahun 2019 mencapai 1000 Kehadiran LGBT mereka juga tidak lepas dari adanya konsumen . atau pasangan untuk melakukan orientasi seksual dan pasangan mereka bisa dari kalangan manapun. Hal ini menjadi faktor resiko terhadap peningkatan kejadian PMS di Kota Lhokseumawe. Kota Lhokseumawe merupakan kota maritim dan kota petro dollar yang juga berlaku syariat Islam. Namun tidak aneh jika hal tersebut terjadi di karenakan jalur transit yang aktif. Berjamurnya tempat hiburan, kafe dan pelayanan pijat/refleksi, salon-salon bahkan tempat perhotelan tumbuh di Kota Lhokseumawe dengan pesat, seks beresiko pun di Dinas Kesehatan Kota Lhokseumawe . , menyebutkan PMS terbanyak yaitu gonore sebanyak 28 kasus, pada laki-laki 9 kasus dan perempuan 19 kasus. Kejadian PMS ditemukan pada pekerja di panti pijat, salon dan hotel di Kota Lhokseumawe. Meningkatnya PMS ini karena perilaku seks bebas yang berganti-ganti kurangnya kesadaran mengenai cara mencegah penularan PMS . Data YPAP menemukan 7 kasus PMS dari panti pijat atau salon. Jika masalah PMS di kalangan pekerja panti pijat tidak berdampak dan menyebar luas bukan hanya bagi pekerja panti pijat, tetapi juga kepada para pengguna jasa mereka bahkan dapat menyebar kepada para ibu rumah tangga. Peningkatan kasus PMS pada pekerja menyediakan jasa pijat mereka juga menyediakan layanan seks dari wanita atau pria yang bekerja di panti pijat tersebut, sehingga mereka berisiko melakukan hubungan seks sesama jenis. Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Tenaga Kerja Kota Lhokseumawe (DPMPTSP) . , izin usaha kepada jasa pijat /refleksi hanya 17 salon yang terdaftar dari tahun 2016 Ae 2018, namun panti pijat/ refleksi tidak ada satupun terdaftar. Hal ini sebabkan panti pijat dan salon terjadinya penyakit menular seksual, yang terdaftar saja berisiko apalagi yang tidak terdaftar Berdasarkan latar belakang diatas, penulis terdorong untuk AuFaktor Yang Mempengaruhi Kejadian Penyakit Menular Seksual Pada Pekerja pijat / Refleksi di Kota Lhokseumawe Tahun 2020Ay. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis faktor sosial ekonomi. Maryana. Sinulingga, & Sari. Faktor yang Mempengaruhi . ,menganalisis faktor perilaku seks berisiko, dan menganalisis faktor pijat/refleksi yang mempengaruhi kejadian Penyakit menular seksual di Kota Lhokseumawe tahun 2020Ay. Manfaat penelitian adalah. Bagi Pemda Kota Lhokseumawe sebagai Dinas Kesehatan Kota Lhokseumawe dalam penularan PMS. HIV AIDS agar dapat penularan PMS. Bagi Masyarakat sebagai bahan informasi bagi masyarakat mengenai PMS dan pentingnya melakukan pencegahan agar tidak tertular PMS, serta pentingnya melakukan pemeriksaan PMS secara berkala. Bagi institusi pendidikan, hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi sehingga dapat melengkapi hasil penelitian yang Penyakit Bagi Peneliti, penelitian ini dapat dijadikan bahan pertimbangan bahan masukan untuk sumber data bagi para peneliti lain Metode Penelitian Jenis penelitian survei yang menggunakan Tempat penelitian dilakukan di panti pijat dan pijat/refleksi di kota Lhokseumawe dari bulan Desember 2019 - Mai 2020 dengan populasi seluruh pekerja yang bekerja di panti dan salon yang ada Kota Lhokseumawe. Sampel merupakan total populasi sebanyak 125 pekerja pijat/refleksi di Kota Lhokseumawe. Penelitian menggunakan alat bantu kuesioner dengan skala Guttman. Hasil analisa data bivariat menggunakan uji Chisquare pada tingkat kepercayaan 95% . <0,. dan dengan angka OR (Odds Ratio OR), multivariate dengan regresi logistik menggunakan software statistic Hasil dan Pembahasan Tabel 1. Proporsi Variabel Independen dan Dependen. Karakteristik Proporsi (%) Sosial ekonomi Tidak baik Baik 26,4 % 73,6 % 35,2 % 64,8 % 20,8 % 79,2 % 78,4 % 21,6 % 21,6 % 78,4 % 95,2 % 4,8 % Pendidikan Rendah (Tidak Sekolah . SD. SMP. SMA) Tinggi (Akademik. Perguruan Tingg. Pengetahuan Tidak baik Baik Perilaku seks Tidak pernah Pernah Pel. Tidak Dilaksanakan Penyakit Tidak PMS PMS Pada tabel 1, analisa univariat menunjukkan bahwa mayoritas sosial ekonomi responden adalah kategori responden adalah pendidikan tinggi. Maryana. Sinulingga, & Sari. Faktor yang Mempengaruhi . mayoritas pengetahuan responden adalah katagori baik, mayoritas responden tidak pernah melakukan seks beresiko, mayoritas responden mengikuti pelayanan kesehatan yang responden tidak terjadi PMS. Tabel 2. Hasil Uji Bivariat Pada tabel 2, analisa bivariat Sosial ekonomi Dari tabel 2, menunjukkan ekonomi baik lebih banyak terjadi PMS dibanding dengan responden yang sosial ekonomi tidak baik. Hasil uji ststistik chi square diperoleh nilai A-value = 0,693 > 0,05 yang menunjukkan bahwa antara sosial ekonomi tidak baik dengan sosial terhadap kejadian PMS, yang berarti tidak terdapat antara sosial ekonomi dengan kejadian PMS pada pekerja pijat/refleksi di Kota Lhokseumawe Tahun 2020. Alasan sesorang bekerja dipanti pijat/refleksi karena status ekonomi yang kurang. Tetapi pada penelitian ini didapatkan bahwa responden lebih ekonomi baik. Status ekonomi yang baik dikarenakan para pekerja pijat ini banyak yang bekerja di salon spa yang pendapatannya lebih bagus dan UMR. Peneliti berasumsi kejadian PMS yang terjadi pada pekerja pijat dengan status ekonomi baik bisa di sebabkan karena ada pekerja pijat yang juga memberikan jasa pijat. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Astuti . di Puskesmas Sleman Yogyakarta, yaitu responden dengan status ekonomi baik lebih tinggi kasus infeksi menular seksual kurang baik, dimana status sosial ekonomi bukan termasuk faktor risiko kejadian infeksi menular seksual. Tuntutan gaya hidup dan sulitnya mencari pekerjaan menjadi alasan bagi seorang wanita untuk bekerja sebagai pekerja seks karena desakan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Namun penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Guslia W, . yang menyebutkan terdapat hubungan antara sosial ekonomi dengan kejadian IMS pada Klinik VCT di Lampung. Dimana kejadian infeksi menular seksual lebih banyak ditemukan pada responden dengan status ekonomi yang rendah atau kurang. Pendidikan Pada tabel 2, dapat dilihat bahwa responden dengan pendidikan lebih banyak terjadi PMS dibanding dengan responden yang Maryana. Sinulingga, & Sari. Faktor yang Mempengaruhi . pendidikan tinggi. Hasil uji ststistik A-value = 0,098 > 0,05 yang pendidikan tinggi tidak ada beda terhadap kejadian PMS, yang berarti bahwa tidak terdapat antara pendidikan dengan kejadian PMS pada pekerja pijat/refleksi di Kota Lhokseumawe Tahun 2020. Pada penelitian ini menunjukkan bahwa responden pendidikan rendah lebih banyak terjadi PMS dibanding dengan responden yang pendidikan Peneliti berasumsi masih ada pekerja pijat yang masih acuh akan bahaya PMS walaupun mereka sudah ditimbulkan jika berperilaku seks Berdasarkan wawancara dengan pekerja pijat bahwa ada yang mengatakan jika mengalami IMS akan sembuh dengan meminum obat. Dengan pendidikan tinggi pun tidak menjamin mereka untuk berperilaku seks yang sehat dan melakukan cara yang tepat untuk mencegah penularan IMS. Penelitian Joisnari . , juga hubungan antara tingkat pendidikan dengan kejadian IMS pada remaja di klinik IMS Puskesmas Rijali dan Passo. Dimana beresiko terhadap kejadian IMS. Jika rendah maka kemungkinan terjadi IMS semakin besar dan demikian pula sebaliknya. Pendidikan yang tinggi akan membuat seseorang semakin luas wawasan dan informasi tentang IMS dan pencegahannya lebih cepat dipahami sehingga dapat meningkatkan kesadaran dalam diri maupun pengobatan terhadap IMS. Sedangkan pada penelitian Ade hubungan antara pendidikan dengan seksual(IMS). Dimana banyak kejadian penyakit menular responden yang berpendidikan tinggi. Pengetahuan Dari tabel 2, menunjukkan PMS responden dengan pengetahuan yang tidak baik. Hasil uji ststistik diperoleh nilai A-value = 0,438 > 0,05 yang menunjukkan bahwa antara pengetahuan yang dangan pengetahuan yang tidak baik tidak ada beda terhadap kejadian PMS, yang berarti tidak terdapat dengan kejadian PMS pada pekerja pijat/refleksi di Kota Lhokseumawe Tahun 2020. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengetahuan pada pekerja pijat/refleksi dikota lhokseumawe kejadian penyakit menular seksual. Meskipun pengetahuan mereka sudah baik tetapi masih berperilaku seks tidak sehat sehingga mengalami PMS. Hal ini terjadi karena masih ada melakukan seks yang menyimpang disamping bekerja memberikan jasa Pengetahuan mempunyai peran Maryana. Sinulingga, & Sari. Faktor yang Mempengaruhi . Pengetahuan pekerja pijat tentang PMS akan membawa pemahaman yang mendalam tentang dampak baik maupun buruknya penyakit IMS ini. Penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Masni . , dimana faktor risiko kejadian infeksi menular Pengetahuan sangat penting dalam membentuk suatu perilaku atau tindakan seseorang, dimana dengan pengetahuan yang baik tentang penyakit menular seksual dan pencegahannya dapat mencegah seseorang untuk lebih waspada agar tidak tertular penyakit tersebut. Pengetahuan meningkat karena adanya informasi yang didapat dari media cetak ataupun melalui penyuluhan petugas Namun, ada sebagian dari mereka walaupun sudah mengetahui tentang penularan PMS ini masih juga Namun berbeda dengan hasil penelitian Choiriyah dkk . , pengetahuan dengan kejadian PMS. Dimana kelompok responden yang berpengetahuan kurang lebih banyak terjadi IMS dibandingkan responden Pengetahuan mencegah terjadinya PMS. Perilaku seks berisiko Dari tabel 2, menunjukkan melakukan seks berisiko lebih banyak terjadi PMS dibanding responden yang tidak pernah melakukan seks Hasil uji ststistik chi square diperoleh nilai A-value. < 0,05 yang menunjukkan bahwa responden yang pernah melakukan seks berisiko dangan tidak pernah melakukan seks berisiko ada beda terhadap kejadian PMS, yang artinya bahwa terdapat berisiko dengan kejadian PMS pada pijat/refleksi Kota Lhokseumawe Tahun 2020. Pada penelitian ini menunjukkan responden yang pernah melakukan seks berisiko lebih banyak terjadi PMS dibanding responden yang tidak pernah melakukan seks berisiko. Hal ini terjadi karena masih banyak para pekerja pijat yang melakukan seks berisiko, dimana lingkungan kerja terjadinya aktivitas seksual yang dapat memicu terjadinya peningkatan IMS. Ada beberapa salon dan pijat refleksi yang pekerjanya adalah waria dan hal ini dapat memicu hubungan seks sejenis, karena ada dari mereka yang melakukan aktivitas seks yang Dari data yang penulis dapatkan ada salon yang terjaring razia oleh petugas Wilayatul Hisbah (WH) karena melakukan seks bebas, selain menyediakan jasa pijat saja. Pada penelitian ini dapat dilihat bahwa sudah ada kepedulian dari Pemda setempat untuk mengantipasi terjadinya aktivitas seksual yang menyimpang, namun ada sebagian dari mereka yang masih melakukan hal tersebut secara diam-diam. Penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Guslia . dan Kandidus Maryana. Sinulingga, & Sari. Faktor yang Mempengaruhi . IMS. Perilaku seks yang bersiko adalah berganti-ganti melakukan hubungan seks sesama jenis ataupun berhubungan seks dengan orang yang sudah terkena PMS kepasangannya yang lain. Dan hal ini bersiko tinggi mengalami infeksi menular seksual. Pelayanan Kesehatan Dari tabel 2, dapat dilihat bahwa kesehatan yang tidak di laksanakan PMS kesehatan yang di Hasil uji ststistik square diperoleh nilai A-value = 0,034 < 0,05, yang menunjukkan bahwa antara pelayanan kesehatan yang tidak dilaksanakan dangan dilaksanakan ada beda terhadap kejadian PMS. Hal ini berarti terdapat dengan kejadian PMS pada pekerja pijat/refleksi di Kota Lhokseumawe Tahun 2020. Pada penelitian ini dapat dilihat bahwa responden dengan pelayanan kesehatan yang tidak di laksanakan PMS kesehatan yang di Pelayanan IMS adalah kegiatan pelayanan pemeriksaan dan pengobatan rutin masalah IMS bagi perilaku seks yang bersiko seperti para pekerja seks, pelanggan pekerja seks, waria, dan homo seksual dan juga masyarakat umum. Dinkes Kota lhokseumawe telah membuka klinik VCT di Puskesmas Muara Dua sejak tahun 2012 dan Poli IMS di Puskesmas Banda Sakti. Beradasarkan dengan para pekerja pijat mereka sudah pernah ke klinik VCT untuk memeriksakan diri apabila ada gejala IMS dan mereka juga sudah pernah diberikan pengobatan dan konseling. Namun ada juga yang masih belum stigma dan merasa enggan untuk Hasil penelitian menunjukkan petugas kesehatan sudah melakukan PMS, pemeriksaan kesehatan, pengobatan dan konseling selalu diberikan oleh petugas pada klinik IMS. Hasil dengan penelitian Pipit R,. , pelayanan klinik IMS dengan kejadian PMS pada pekerja seks komersial. PSK yang memeriksakan diri ke klinik IMS tidak banyak mengalami PMS PSK memeriksakan diri keklinik IMS. Kesimpulan Tidak terdapat pengaruh antara sosial ekonomi dengan kejadian PMS pada pekerja pijat/refleksi di Kota Lhokseumawe Tahun 2020. Tidak terdapat pengaruh antara pendidikan dengan kejadian PMS pada pekerja pijat/refleksi di Kota Lhokseumawe Tahun 2020. Tidak terdapat antara pengetahuan dengan kejadian PMS pada pekerja pijat/refleksi di Kota Lhokseumawe Tahun 2020. Terdapat pengaruh perilaku seks beresiko dengan kejadian PMS pada pekerja pijat/refleksi di Kota Lhokseumawe Tahun 2020 Maryana. Sinulingga, & Sari. Faktor yang Mempengaruhi . Terdapat pengaruh pelayanan kesehatan dengan kejadian PMS pada pekerja pijat/refleksi di Kota Lhokseumawe Tahun 2020. Daftar Pustaka