Jurnal Agroteknologi. Vol. 15 No. Agustus 2024: 27Ae 36 DOI: 10. 24014/ja. Available online at https://ejournal. uin-suska. id/index. php/agroteknologi/ ISSN 2356-4091 . ISSN 2087-0620 . EFIKASI DAN EFEKTIVITAS FORMULASI DAUN MELADA (Piper colubrinum Lin. SEBAGAI ATRAKTAN HAMA LALAT BUAH (STUDI KASUS PERTANAMAN CABAI) (Efficacy and Effectiveness of Melada Leaf (Piper Colubrinum Lin. Formulation as a Fruit Fly Attractant (Case Study of Chili Pepper Cultivatio. ) FEBRINA FEBY1*. SEPIANTO1. BAYU JULIANTO1. HIDAYAT2. PUTRI JANUARTI3. CICO JHON KARUNIA SIMAMORA1 Jurusan Budidaya Pertanian. Fakultas Pertanian. Universitas Tanjungpura. Pontianak. Indonesia Jurusan Biologi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Tanjungpura. Pontianak. Indonesia Jurusan Kimia. Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Tanjungpura. Pontianak. Indonesia *E-mail: febrinafeby17@gmail. ABSTRACT Fruit flies (Bactrocera spp. ) represent a group of Plant Pests that can inflict both qualitative and quantitative losses. The utilization of chemical pesticides and the scarcity of Methyl Eugenol continue to pose significant challenges in agriculture. The abundant availability of Melada plants presents an opportunity for the development of an economically viable and environmentally friendly biological Encapsulation technology based on Maltodextrin and Gum Arabic (MD-GA) formulated with powdered simplicia of Melada leaves F1 . F2 . F3 . , and F4 . is employed to enhance the slow-release resistance of volatile compounds. The surface oil content of the four formulations ranges from 0. 3% to 9. The encapsulation efficiency value for the four formulations ranges from 70% to 85%. The loading capacity value ranges from 0. 7% to 1. The yield value of microcapsule characteristics ranges from 63% to 82%. Morphological analysis reveals a decrease in the number of particles along with the combination of treatment formulations. The size of the microcapsules for the four formulations falls within the range of 201. 2 AAmAe252. 6 AAm. The effectiveness of the resulting attractant can lure 19-185 fruit flies. The diversity of the fruit fly pest population obtained includes the Bactrocera umbrosa and Bactrocera melastomatos species. The total value of the best formulation for the four treatments ranging from 0. 3% to 0. The optimization of the best biological attractant application with high development potential lies in the encapsulation formulations F3 and F4. Keywords: Agriculture. Drosophila. Encapsulation. Pesticide. Slow Release PENDAHULUAN Lalat buah (Bactrocera spp. ) merupakan kelompok Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang dapat menyebabkan kerugian secara kualitatif maupun kuantitatif. Upaya pengendalian lalat buah telah banyak dilakukan, namun belum mendapat hasil maksimal. Populasi dan intensitas serangan lalat buah terus meningkat sehingga menuntut adanya teknik pengendalian yang efektif dan efisien, serta ramah Salah satu pengendalian yang dilakukan menggunakan pestisida sintetis ternyata berdampak negatif bagi lingkungan dan kesehatan. Hal ini didukung Astuti . dimana pestisida sintetis digunakan oleh hampir 80% petani sayuran untuk mengendalikan serangan OPT. Penggunaan pestisida terutama pestisida sintetis dapat menimbulkan dampak negatif, seperti timbulnya biotipe baru yang resisten terhadap pestisida, serta meninggalkan residu yang berbahaya bagi manusia. Rata-rata penggunaan pestisida sintetis pada usaha tani sayuran dapat mencapai 20% dari biaya produksi (Direktorat Perlindungan Hortikultura 2. Salah satu alternatif yang dapat mengurangi dampak berbahaya dari pestisida sintetis adalah menggunakan pestisida alami. Pestisida alami merupakan agen pengendali yang menggunakan bahan aktif berasal dari tanaman . maupun sumber agen lain seperti hewan dan mikroorganisme. Salah satunya adalah atraktan yang dapat mengendalikan lalat pada buah. Atraktan memiliki kemampuan yang dapat menarik lalat buah jantan karena memiliki aroma seperti lalat buah betina (Juniawan 2. Aroma lalat buah betina ini berasal dari senyawa kimia Metil Eugenol. Namun ketersediaan bahan ini rendah, mayoritas petani masih mengalami kesulitan dalam mendapatkan atraktan Metil Eugenol. Hal ini menyebabkan petani Jurnal Agroteknologi | DOI: 10. 24014/ja. melakukan pengendalian lalat buah dengan metode alternatif salah satunya menggunakan ekstrak tanaman selasih sebagai atraktan karena mengandung senyawa mirip Metil Eugenol. Akan tetapi pengendalian alternatif ini juga menemui tantangan pada praktiknya, yaitu ketersediaan selasih yang Hal inilah yang mendasari perlu dicari sumber alternatif Metil Eugenol alami lain yang melimpah ketersediaanya, salah satunya adalah tanaman Melada. Melada (Piper colubrinum Lin. merupakan tanaman lada hutan yang biasanya digunakan sebagai batang bawah grafting untuk mencegah serangan busuk pangkal batang pada batang lada unggul. Tanaman ini menyukai naungan, hidup di habitat lahan rawa, memiliki banyak akar udara yang memanjang dan masuk ke dalam tanah, serta tahan genangan air selama tunas masih berada di atas air (Raja et al. Di antara famili Piperaceae. Melada memiliki kandungan fenolik yang paling tinggi antara lain terdiri dari asam salicylic, 2-protocatechuic, gentisic, 4-coumaric, caffeic, dan ferulic (Sruthi & Zachariah 2. Tanaman Melada diduga memiliki senyawa potensial yang mirip Metil Eugenol untuk pengendalian hama lalat buah ramah lingkungan. Inovasi ini lahir berdasarkan pengalaman di lapangan ditemukan daun tanaman Melada kerap dihinggapi oleh lalat buah dalam jumlah yang banyak. Potensi senyawa dan ketersediaannya yang melimpah di Asia Tenggara, akan berdampak positif sebagai metode alternatif efektif pengendalian lalat buah. Kendala aplikasi sederhana dengan menggunakan daun tanaman Melada adalah cepat hilangnya senyawa volatile akibat penguapan yang tinggi. Hal ini menyebabkan efektivitas atraktan lalat buah rendah, sehingga perlu diganti secara berkala 3 hari sampai dengan 4 hari sekali menggunakan daun Kekurangan ini menyebabkan tanaman Melada belum efektif untuk diterapkan sebagai atraktan dan perlu teknologi enkapsulasi untuk mengurangi hilangnya senyawa yang ada pada daun melada. Enkapsulasi merupakan suatu metode yang dapat mempertahankan sifat fisik, kimia, dan biologis dengan suatu bahan penyalut atau media enkapsulasi (Gusti et al. Teknologi enkapsulasi yang digunakan dalam penelitian ini berbasis Maltodextrin dan Gum Arabic yang diformulasikan dengan simplisia bubuk daun Melada dalam beberapa formulasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan teknologi enkapsulasi berbasis Maltodextrin dan Gum Arabic dalam meningkatkan ketahanan slow release senyawa volatile pada tanaman Melada, mengetahui efektivitas pengujian formulasinya di lapangan, dan menemukan optimasi terbaik dalam aplikasi atraktan biologis tanaman melada sebagai upaya pengendalian OPT. Manfaat dari penelitian ini adalah memberikan inovasi baru menggabungkan teknologi yang mudah diterapkan di lapangan bagi petani di Indonesia, mendukung pertanian berkelanjutan guna terwujudnya SDGs nomor 2 serta data yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai wawasan baru terkait potensi tanaman Melada terenkapsulasi solusi pengganti atraktan sintetis. BAHAN DAN METODE Bahan dan Alat Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah aquades, daun Melada. Etanol 70%. Maltodextrin (MD). Gum Arabic (GA), kertas saring Whatman nomor 42, n-Heksana teknis dan Petrogenol. Alat yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari ayakan 60 mesh (KZM-test sieve mes. , neraca analitik OHAUS, botol air mineral ukuran 600 mL, botol vial ukuran 5 mL dan 100 mL, batang pengaduk, blender Philips Hr-2061, cawan krus, cawan petri PYREX, corong kaca PYREX, desikator Duran, erlenmeyer IWAKI 250 mL, gelas ukur IWAKI, gelas beaker IWAKI, klem, kondensor, labu lemak IWAKI, mantel pemanas, oven DHG 9030A, pipa F, pipet ukur, pompa air, rotary vacuum evaporator EYELA, selongsong, sifon, shaker orbital AMTM 10, spatula, statif, baking paper, tea bag, yellow kop. SEM TM-3000. PSA. , nampan, tali, dan kayu ukuran 1,5 meter. Pengambilan dan Penyortiran Sampel Daun Melada Pengambilan sampel daun Melada dilakukan di Desa Rasau Jaya 3. Kabupaten Kubu Raya. Kalimantan Barat. Sampel daun Melada yang telah diambil kemudian dipisahkan untuk mendapatkan daun Melada yang berkualitas baik, tidak membusuk, dan tidak memiliki lubang bekas gigitan hama serta memisahkan daun yang terkontaminasi (Wahyurini & Utomo 2. Preparasi Daun Melada Daun Melada yang telah disortir kemudian dicuci bersih dan dipotong-potong menjadi bagian yang lebih kecil. Potongan daun Melada lalu dikeringkan pada suhu ruang selama kurang lebih 3 hari-4 hari. Daun Melada yang sudah kering kemudian haluskan menggunakan blender. Simplisia bubuk daun Jurnal Agroteknologi. Vol. 15 No. Agustus 2024: 27Ae 36 DOI: 10. 24014/ja. Available online at https://ejournal. uin-suska. id/index. php/agroteknologi/ ISSN 2356-4091 . ISSN 2087-0620 . Melada yang telah halus kemudian diayak menggunakan ayakan 60 mesh setelah itu, disimpan dalam wadah tertutup pada suhu ruang. Pembuatan Media Enkapsulasi Media enkapsulasi dibuat dengan 5 gram Maltodextrin dan 5 gram Gum Arabic yang dilarutkan dengan 20 mL aquades serta diaduk menggunakan magnetic stirrer. Enkapsulasi Daun Melada Enkapsulasi daun Melada dilakukan dengan mencampurkan simplisia bubuk daun Melada dengan media enkapsulasi (MD-GA) menggunakan magnetic stirrer. Perbandingan antara bahan enkapsulasi (MD-GA) dan simplisia bubuk daun Melada diatur dalam empat formulasi yaitu F1. F2. F3, dan F4. Keempat variasi sampel kemudian dikeringkan menggunakan oven selama kurang lebih 48 jam pada suhu 60EE-70oC. Sampel kering kemudian dihaluskan menggunakan blender. Tabel 1. Perbandingan Bubuk Simplisia bubuk daun Melada dan Bahan Enkapsulasi pada Mikroenkapsulasi Keterangan Rasio bubuk simplisia daun melada:MD-GA 02:10 05:10 10:10 12:10 Kandungan Minyak Permukaan Kandungan minyak dilakukan dengan menggunakan metode yang dijelaskan oleh Sahlan et al. dengan modifikasi. Mengekstrak 1 gram sampel dari tiap formulasi yaitu F1 . F2 . F3 . , dan F4 . dengan larutan n-Heksan teknis menggunakan metode maserasi selama 15 menit lalu diaduk dengan shaker selama 2 menit. Ekstrak kemudian disaring menggunakan kertas saring Whatman dan dikeringkan pada suhu 60EE-80oC selama 24 jam. Nilai kandungan minyak permukaan dihitung sebagai massa sediaan padat pada awal pengujian dikurangi massa sisa kering padatan sampel. Kemudian nilai kandungan minyak permukaan dibagi dengan jumlah minyak pada awal percobaan. Pengujian ini dilakukan sebanyak tiga kali pada hari pertama, kelima, dan kesepuluh. Efisiensi Enkapsulasi Efisiensi enkapsulasi dilakukan dengan menggunakan metode yang dijelaskan oleh Sahlan et al. dengan modifikasi. Kandungan bubuk total diasumsikan merupakan jumlah bubuk simplisia bubuk daun Melada sebelum enkapsulasi pada tiap sampel pada hari pertama, kelima dan kesepuluh. Efisiensi enkapsulasi dihitung berdasarkan persamaan ini: yaya (%) = yaycaycuyccycycuyciycaycu ycoycnycuycycayco ycycuycycayco Oe yaycayccycayc ycoycnycuycycayco ycyyceycycoycycoycaycaycu yaycaycuyccycycuyciycaycu ycoycnycuycycayco ycycuycycayco y 100% Karakteristik Mikrokapsul Yield Karakteristik mikrokapsul dilakukan dengan menggunakan metode yang dijelaskan oleh Burhan et . dengan modifikasi. Yield adalah perbandingan antara jumlah mikrokapsul yang didapatkan setelah proses pengeringan dengan jumlah bahan pembentuk mikrokapsul meliputi media enkapsulasi (MD-GA), simplisia bubuk Melada, dan pelarut yang dihitung berdasarkan bobot kering . Karakteristik Mikrokapsul dapat dihitung dengan rumus berikut: yaAycuycaycuyc ycoycnycoycycuycoycaycyycycyco ycUycnyceycoycc (%) = y 100% yaAycaEaycaycu ycyyceycoycayceycuycycyco ycoycnycoycycuycoycaycyycycyco yaycuycayccycnycuyci yaycaycyycaycaycnycyc (%) = ycOyceycuyco y 100% ycOycoycy Dimana Weo adalah berat minyak atsiri yang terenkapsulasi . dan Wmp adalah berat sampel mikrokapsul yang didapatkan setelah proses pengeringan. Analisis Morfologi Analisis morfologi dilakukan dengan mikroskop elektron scanning (SEM) perbesaran 30. 000 kali. Sampel yang diperiksa melalui SEM adalah empat formulasi F1 . F2 . F3 . , dan F4 Jurnal Agroteknologi | DOI: 10. 24014/ja. enkapsulasi simplisia bubuk daun Melada. Analisis morfologi dilakukan untuk melihat permukaan enkapsulasi pada enkapsulasi simplisia bubuk daun Melada. Ukuran Mikrokapsul Ukuran mikrokapsul dari formulasi F1 . F2 . F3 . , dan F4 . diukur menggunakan alat Particle Size Analyzer (PSA) by Malvern Mastersizer (Malvern Instrument. Analisis dilakukan dengan pengukuran sel tunggal dengan sampel media cair dan metode Dynamic Light Scattering (DLS). Suhu dan durasi pengukuran adalah 25 AC dan 70 detik. Efektivitas Atraktan Efektivitas atraktan dilakukan dengan pengujian di lapangan pada tanaman cabai rawit varietas Dewata. di Desa Sungai Selamat. Kecamatan Pontianak Utara. Kota Pontianak. Perangkap lalat buah dipasang dengan jarak 20 meter. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Total formulasi enkapsulasi F1 . F2 . F3 . , dan F4 . adalah 12 perangkap dan kontrol (F. berasal dari atraktan Petrogenol diulang sebanyak 3 kali. Jumlah dan jenis lalat buah yang tertangkap pada trap dihitung sesuai formulasi perlakuan. Durasi waktu pemasangan perangkap diamati setiap satu hari, lima hari dan sepuluh hari. Identifikasi Hama Lalat Buah Identifikasi hama lalat buah dilakukan menggunakan kunci determinasi lalu diklasifikasikan berdasarkan spesies dan jenis kelaminnya. Berdasarkan referensi "Fruit Flies (Tephritida. : Phylogeny and Evolution of Behavior" oleh Martin Aluja dan Allen Norrbom serta "A Manual of Fruit Flies" yang disusun oleh Meredith C. Romig. Gary J. Steck, dan Wayne N. Mathis. Penentuan Formulasi Terbaik Perlakuan terbaik dianalisis menggunakan metode indeks efektivitas (De Garmo et al. , 1. Metode ini dilakukan dengan pemberian bobot pada masing-masing parameter berdasarkan kepentingan dengan rentang 0-1. Formulasi terbaik didapatkan berdasarkan nilai produk tertinggi. Analisis Data Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dimana parameter pengujian yaitu pengaruh dosis bubuk ektrak tanaman melada dan lama waktu efektivitas bubuk ekstrak tanaman Data yang diperoleh dianalisis menggunakan program SPSS 22. 0 dengan menguji Two Way ANOVA (Analysis of Varianc. apabila terdapat perbedaan dilakukan uji lanjut BNJ taraf 5%. HASIL DAN PEMBAHASAN Kandungan Minyak Permukaan Minyak permukaan menunjukan kandungan minyak yang berpindah pada permukaan enkapsulasi. Nilai kandungan minyak permukaan (Tabel . dapat menentukan efisiensi enkapsulasi. Tabel 2. Hasil Analisis Kandungan Minyak Permukaan Formulasi Enkapsulasi F1 . F2 . F3 . F4 . Kandungan Minyak Permukaan (%) Hari ke-1 Hari ke-5 Hari ke-10 BNJ 5% = 0,607 Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang sama berbeda tidak nyata pada BNJ 5%. Hasil analisis ragam menunjukan nilai signifikansi yang lebih kecil dari 5% ( = 0. , sehingga perbandingan formulasi enkapsulasi dengan durasi daya pikat pada hari pertama hingga hari kesepuluh memberikan pengaruh nyata terhadap nilai kandungan minyak permukaan yang dihasilkan. Hasil perhitungan kandungan minyak menunjukkan formulasi enkapsulasi F1 . memiliki nilai kandungan minyak permukaan tertinggi dibandingkan dengan formulasi enkapsulasi lainnya. Enkapsulasi simplisia bubuk daun Melada yang mempunyai kandungan minyak permukaan tinggi lebih sensitif terhadap oksidasi karena kapsul tidak menutupi bubuk seluruhnya. Hal ini menunjukkan bahwa Jurnal Agroteknologi. Vol. 15 No. Agustus 2024: 27Ae 36 DOI: 10. 24014/ja. Available online at https://ejournal. uin-suska. id/index. php/agroteknologi/ ISSN 2356-4091 . ISSN 2087-0620 . enkapsulasi simplisia bubuk daun Melada telah rusak atau terkikis sehingga menyebabkan minyak dalam kapsul berpindah ke permukaan (Rao et al. Nilai kandungan minyak formulasi enkapsulasi F1 dimana persentase selisih durasi daya pikat dari hari pertama ke hari kesepuluh yang dihasilkan sebesar 32. Semakin tinggi persentase minyak di permukaan, produk akan rentan mengalami kerusakan dan dapat menurunkan kualitas bahan aktif selama distribusi maupun penyimpanan (Pulungan et al. Hal ini disebabkan karena MD-GA pada formulasi enkapsulasi F1 hanya melapisi sedikit bubuk, sehingga bubuk Melada yang terdapat pada enkapsulasi F1 lebih cepat memudar seiring dengan berpindahnya minyak ke permukaan enkapsulasi. Artinya formulasi enkapsulasi mengandung sedikit simplisia bubuk daun Melada. Oleh karena itu, minyak pada formulasi F1 lebih cepat memudar dibandingkan formulasi F2. F3 dan F4 seiring pertambahan hari. Kenaikan nilai kandungan minyak yang tinggi dapat mempengaruhi kandungan minyak pada simplisia bubuk daun Melada mudah untuk hilang terpapar oksigen dan uap air sehingga dapat menurunkan media enkapsulasi (Yuwon & Waziiroh 2. Turunnya stabilitas bahan enkapsulasi dapat meningkatkan reaksi oksidasi sehingga lapisan enkapsulasi dapat mengalami kerusakan (Jayanudin et al. Formulasi enkapsulasi F4 memiliki persentase kandungan minyak permukaan terkecil. Persentase selisih durasi daya pikat formulasi F4 dari hari pertama ke hari kesepuluh adalah sebesar 5. Hal ini berarti tidak banyak yang hilang dari minyak yang dienkapsulasi dalam formulasi F4. Karena MD-GA pada formulasi enkapsulasi F4 melapisi simplisia bubuk daun Melada lebih baik dibandingkan ketiga sampel lainnya. Namun, nilai kandungan minyak permukaan pada formulasi enkapsulasi F3 pada hari pertama tidak berbeda nyata dengan F4 pada hari pertama serta daya pikat yang dihasilkan F3 pada hari kelima tidak berbeda nyata dengan perlakuan formulasi F4. Hal ini menunjukkan bahwa formulasi enkapsulasi F3 sama baiknya dengan formulasi enkapsulasi F4 dalam melapisi simplisia bubuk daun Melada. Nilai kandungan minyak permukaan yang tinggi menunjukan banyaknya minyak yang terlepas dari interaksinya dengan mikrokapsul. Minyak yang terlepas dari enkapsulasi dapat bereaksi dengan udara karena sifatnya yang volatile (Pancasakti 2. Efisiensi Enkapsulasi Efisiensi enkapsulasi menunjukan kemampuan media enkapsulasi dapat menjaga kandungan simplisia bubuk daun Melada. Efisiensi enkapsulasi merupakan perbandingan antara total minyak yang terenkapsulasi dengan total minyak yang terdapat pada mikrokapsul. Tabel 3. Hasil Analisis Efisiensi Enkapsulasi F1 . Hari ke-1 Efisiensi Enkapsulasi (%) Hari ke-5 Hari ke-10 F2 . F3 . F4 . BNJ 5% = 4. Formulasi Enkapsulasi Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang sama berbeda tidak nyata pada BNJ 5%. Hasil analisis ragam efisiensi enkapsulasi menunjukkan nilai signifikansi yang lebih kecil dari 5% ( = 0. terhadap formulasi enkapsulasi dan durasi daya pikat, sedangkan nilai signifikansi yang lebih besar dari 5% ( = 0. untuk interaksi formulasi enkapsulasi dan durasi daya pikat. Berdasarkan uji lanjut analisis efisiensi enkapsulasi menunjukkan penurunan efisiensi enkapsulasi dari hari pertama hingga hari kesepuluh. Nilai efisiensi enkapsulasi pada formulasi enkapsulasi F1. F2. F3 dan F4 menunjukkan nilai durasi daya pikat yang berbeda seiring dengan bertambahnya hari. Penurunan efisiensi enkapsulasi disebabkan oleh peningkatan kandungan minyak permukaan pada setiap Ketika jumlah simplisia bubuk daun Melada yang mulai berpindah ke permukaan enkapsulasi meningkat maka kekuatan enkapsulasi dalam menahan bubuk di dalamnnya menurun (Edris et al. Nilai efisiensi enkapsulasi formulasi F3 dan F4 memiliki efisiensi enkapsulasi tertinggi dimana persentase durasi daya pikat yang dihasilkan pada hari pertama hingga hari kesepuluh untuk formulasi F3 adalah sebesar 14. 16% dan 11. 60% untuk formulasi F4. Hal ini disebabkan karena MD-GA pada formulasi F3 dan F4 mengenkapsulasi simplisia bubuk daun Melada dalam jumlah paling banyak, sehingga enkapsulasi dapat mencakup lebih banyak simplisia bubuk daun Melada. Sampel F4 memiliki persentase kandungan minyak permukaan paling kecil, hal ini menunjukkan bahwa tidak banyak minyak Jurnal Agroteknologi | DOI: 10. 24014/ja. simplisia bubuk daun Melada yang hilang. Tingginya nilai enkapsulasi menyatakan banyaknya kandungan minyak pada simplisia bubuk daun Melada yang tersimpan dalam mikrokapsul dan kemampuan enkapsulasi yang semakin baik. Tingginya nilai efisiensi enkapsulasi ditentukan oleh nilai kandungan minyak permukaan. Semakin rendah kandungan minyak permukaan akan menghasilkan efisiensi enkapsulasi yang baik. Semakin baik efisiensi enkapsulasi maka kandungan minyak yang terkandung dalam mikrokapsul juga akan semakin baik sehingga dapat mengurangi perpindahan senyawa ke lapisan permukaan enkapsulasi (Sahlan et al. Secara keseluruhan, efisiensi enkapsulasi pada semua formulasi menunjukkan hasil efisiensi enkapsulasi yang baik, yaitu berkisar antara 70% hingga 85%. Hal ini didukung hasil penelitian oleh Sahlan et al. enkapsulasi minyak gaharu dengan Maltodextrin dan Gum Arab menghasilkan nilai efisiensi sebesar 80% hingga 97%. Karakteristik Mikrokapsul Yield Karakteristik mikrokapsul yield merupakan persentase simplisia bubuk daun Melada . ore materia. yang berhasil dienkapsulasi dalam mikrokapsul. Nilai yield yang tinggi menunjukkan proses enkapsulasi efisien dan menghasilkan banyak mikrokapsul yang mengandung simplisia bubuk daun Melada. Tabel 4. Hasil Analisis Mikrokapsul Yield Formulasi Enkapsulasi Loading Capacity (%) Yield (%) F1. F2 . F3 . F4 . Hasil perhitungan yield menunjukkan formulasi enkapsulasi F4 memiliki nilai tertinggi dibandingkan nilai formulasi enkapsulasi F1. F2 dan F3. Formulasi enkapsulasi terendah berada pada formulasi F1 dengan nilai 63. Formulasi enkapsulasi F4 memiliki nilai yang tinggi yaitu sebesar 82. karena emulsi simplisia bubuk daun Melada dan MD-GA yang dihasilkan lebih stabil sehingga menghasilkan mikrokapsul bubuk dengan jumlah yang lebih tinggi. Dengan kata lain, formulasi F4 memiliki konsentrasi media enkapsulasi MD-GA yang lebih sedikit sehingga dalam proses enkapsulasinya formulasi F4 tidak banyak tertinggal pada wadah sampel dalam proses pengeringan dan memiliki nilai yield yang paling besar diantara ketiga formulasi lainnya. Hasil analisis menunjukan semakin tinggi pebandingan bubuk Melada yang diberikan akan meningkatkan yield yang dihasilkan. Hasil yield dapat dipengaruhi oleh hilangnya produk dalam proses enkapsulasi dan terdapat produk yang masih tertinggal pada wadah sampel saat proses pengeringan. Selain itu, nilai yield yang dihasilkan dipengaruhi oleh sifat media enkapsulasi yaitu MD-GA yang memiliki sifat emulsifier yang kurang stabil sehingga proses pencampuran media enkapsulasi dengan simplisia bubuk daun Melada kurang baik, mengakibatkan banyaknya media enkapsulasi yang menempel pada wadah sampel saat proses pengeringan menggunakan oven (Mardikasari et al. Nilai loading capacity atau kapasitas pemuatan yang didapatkan menggambarkan jumlah simplisia bubuk daun Melada yang mampu dienkapsulasi pada jumlah mikrokapsul tertentu setelah proses Loading capacity pada formulasi enkapsulasi F4 memiliki nilai tertinggi yaitu 1. Hal ini menunjukkan bahwa formulasi F4 media MD-GA mengenkapsulasi simplisia bubuk daun Melada lebih baik dibandingkan formulasi enkapsulasi F1. F2. F3, dan F4. Nilai loading capacity F2 dan F3 memiliki nilai yang lebih kecil dibandingkan formulasi enkapsulasi F4. Nilai kapasitas pemuatan yang lebih kecil dapat disebabkan oleh lebih sedikit enkapsulasi yang berdampingan dengan pelarut sehingga massa padatan menjadi lebih sedikit (Sahlan et al. Analisis Morfologi Gum Arabic menghasilkan partikel enkapsulasi dengan morfologi permukaan yang lebih halus dan lipatan yang lebih banyak (Setriato, 2. Morfologi permukaan tersebut terbentuk karena sifat bahan enkapsulasi yang digunakan adalah polisakarida seperti Maltodextrin (Sahlan et al. Hal ini terjadi karena adanya proses penyusutan atau penyusutan partikel yang terjadi pada saat proses pengeringan. Hasil analisis morfologi SEM pada pembesaran 30. 000 kali menunjukkan partikel-partikel MD-GA yang berada pada formulasi enkapsulasi F1 lebih banyak dibandingkan formulasi enkapsulasi F2. F3, dan F4. Formulasi enkapsulasi F1 menunjukan adanya mikrokapsul yang berukuran 363. 6 AAm. F2 memiliki ukuran mikrokapsul sebesar 334. 3 AAm. F3 memiliki ukuran mikrokapsul sebesar 310. 2 AAm, dan F4 memiliki mikrokapsul sebesar 275. 2 AAm. Ukuran mikrokapsul yang berbeda dipengaruhi oleh perbandingan antara media enkapsulasi MD-GA dan simplisia bubuk daun Melada. Sampel enkapsulasi yang dihaluskan dapat menyebabkan permukaan memiliki sudut tajam pada pinggir partikel . Hal ini akan menyebabkan daerah tipis selama penyalutan sehingga menyebabkan pola Jurnal Agroteknologi. Vol. 15 No. Agustus 2024: 27Ae 36 DOI: 10. 24014/ja. Available online at https://ejournal. uin-suska. id/index. php/agroteknologi/ ISSN 2356-4091 . ISSN 2087-0620 . pelepasan bahan inti . dan perlindungan terhadap pengaruh lingkungan menjadi tidak sempurna. Partikel besar yang terlihat pada Gambar 1. terbentuk karena penggumpalan media enkapsulasi MDGA yang mengikat simplisia bubuk daun Melada dalam konsentrasi yang kecil. Jumlah partikel dan ukuran mikrokapsul menunjukkan penurunan seiring dengan media enkapsulasi. Ukuran partikel terkecil terdapat pada formulasi enkapsulasi F4. Hal ini disebabkan karena media enkapsulasi yang ditambahkan lebih sedikit dibandingkan dengan simplisia bubuk daun Melada sehingga mikrokapsul yang terbentuk memiliki konsentrasi media MD-GA yang kecil dan mengurangi penggumpalan media pada mikrokapsul. Permukaan enkapsulasi yang berpori disebabkan oleh banyaknya cairan yang ada di dalam lapisan permukaan enkapsulasi. permukaan enkapsulasi membentuk rongga. Semakin banyak cairan yang terdapat pada lapisan enkapsulasi maka semakin banyak pula pori-pori yang terjadi pada permukaan enkapsulasi yang dihasilkan (Sahlan et al. Gambar 1. Hasil Analisis Morfologi Enkapsulasi . F1: formulasi enkapsulasi 02:10, . F2: formulasi enkapsulasi 05:10, . F3: formulasi enkapsulasi 10:10, . F4: formulasi enkapsulasi 12:10, partikel berwarna putih menunjukkan partikel MD-GA, partikel berwarna hitam menunjukkan partikel simplisia bubuk daun Melada Ukuran Mikrokapsul Ukuran mikrokapsul merupakan komponen penting karena dapat mempengaruhi sifat mikrokapsul yang terbentuk (Umar, 2. Penentuan ukuran mikrokapsul diukur menggunakan instrumen Particle Size Analyzer (PSA). Tabel 5. Distribusi Ukuran Mikrokapsul Berdasarkan Diameter Volume Formulasi Ukuran Partikel (Z-averag. (AA. Distribusi Ukuran Partikel (PI) (AA. Keterangan: Data distribusi ukuran partikel (PI) persentase dibawah 90% F1: 02:10. F2: 05:10. F3: 10:10. F4:12:10 Hasil pengukuran mikrokapsul pada formulasi enkapsulasi F1 sampai dengan F4 rata-rata ukuran partikel berada pada rentang 201. 2 AAmAe252. 6 AAm. Distribusi ukuran partikel terbesar berada pada formulasi enkapsulasi F4 yaitu 489. 9 AAm. Perbedaan ukuran partikel ini dipengaruhi oleh perbandingan rasio formulasi enkapsulasi yang digunakan dengan MD-GA sebagai pembentuk dinding mikrokapsul. Ketidakmerataan proses pengeringan sangat mempengaruhi distribusi dari ukuran partikel (Septevani et al. Efektivitas Atraktan Efektivitas atraktan adalah kemampuan senyawa untuk menarik hama dengan cara yang efektif dan efisien. Atraktan merupakan senyawa yang dapat menarik serangga untuk datang (Andiko et al. Hasil analisis ragam menunjukan nilai signifikansi yang lebih kecil dari 5% ( = 0. , sehingga perbandingan formulasi enkapsulasi dengan durasi waktu pemasangan perangkap pada hari pertama hingga hari kesepuluh memberikan pengaruh nyata terhadap jumlah lalat buah yang didapatkan. Berdasarkan data uji lanjut didapatkan formulasi enkapsulasi F4 sebanyak 171. 67 ekor pada hari kelima tidak berbeda nyata dengan kontrol Metil Eugenol F0 sebanyak 168 ekor pada hari pertama. Formulasi enkapsulasi F3 menangkap lalat buah (Bactrocera spp. ) sebanyak 61. 67 ekor dan F4 sebanyak 75 ekor juga menunjukkan nilai yang tidak berbeda nyata dengan kontrol F0 sebanyak 55 ekor pada hari Hal ini berarti adanya peningkatan efektivitas ketahanan slow release senyawa volatile Jurnal Agroteknologi | DOI: 10. 24014/ja. atraktan biologis simplisia bubuk daun Melada untuk memerangkap lalat buah pada tanaman cabai Tabel 6. Jumlah Populasi Lalat Buah pada Tanaman Cabai Rawit Selama Sepuluh Hari Pengamatan Jumlah Populasi . Formulasi Enkapsulasi Hari ke-1 F0 (Kontrol Petrogeno. F1 . F2 . F3 . F4 . Hari ke-5 Hari ke-10 BNJ 5% = 1. Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang sama berbeda tidak nyata pada BNJ 5%. Identifikasi Hama Lalat Buah Identifikasi hama lalat buah dilakukan menggunakan kunci determinasi lalu diklasifikasikan berdasarkan spesies dan jenis kelaminnya. Gambar 2. Hasil Identifikasi Keragaman Lalat Buah pada Tanaman Cabai Rawit . Imago Bactrocera umbrosa dan . Imago Bactrocera melastomatos Berdasarkan hasil pemasangan perangkap lalat buah menggunakan kontrol Metil Eugenol (Petrogeno. dan kombinasi perlakuan media (MD-GA) dengan simplisia bubuk daun Melada, didapatkan lalat buah spesies Bactrocera melastomatos lebih dominan terperangkap dibandingkan spesies Bactrocera umbrosa pada lahan cabai rawit di Desa Sungai Slamet. Pontianak Utara. Kota Pontianak. Perbedaan kelompok lalat buah berdasarkan kisaran inang pada spesies lalat buah dapat terjadi akibat proses evolusi yang terjadi antara spesies lalat buah dan inangnya (Yudhastuti & Sembiring 2. Menurut Rasyid . perbedaan kisaran inang yang dimiliki oleh spesies lalat buah dipengaruhi oleh preferensi serta persepsi lalat buah terhadap morfologi, nutrisi, persebaran dan kuantitas tanaman inang serta interaksi terhadap organisme serta individu lain. Hasil identifikasi keragaman lalat buah dari hari pertama hingga hari kesepuluh didapatkan perlakuan kontrol F0 tingkat kelimpahan populasi adalah 408 ekor dengan spesies lalat buah jantan yang dominan terperangkap adalah Bactrocera umbrosa. Perlakuan formulasi enkapsulasi F1 didapatkan rata-rata kelimpahan populasi lalat buah sebanyak 66 ekor dengan spesies lalat buah jantan yang dominan terperangkap adalah Bactrocera melastomatos. Perlakuan F2 didapatkan rata-rata kelimpahan populasi lalat buah jantan sebanyak 167 ekor dengan spesies lalat buah jantan yang dominan terperangkap adalah Bactrocera melastomatos. Perlakuan F3 didapatkan rata-rata kelimpahan populasi lalat buah jantan sebanyak 306 ekor dengan spesies lalat buah jantan yang dominan terperangkap adalah Bactrocera melastomatos dimana 50 ekor diantaranya merupakan lalat buah jantan spesies Bactrocera umbrosa. Perlakuan F4 didapatkan rata-rata kelimpahan populasi lalat buah jantan sebanyak 400 ekor dan 1 lalat buah betina dengan jenis lalat buah yang dominan terperangkap adalah Bactrocera melastomatos dan 72 ekor spesies Bactrocera umbrosa. Perlakuan F0 . adalah perlakuan yang menangkap lalat buah lebih banyak dibandingkan formulasi enkapsulasi, namun jumlah ini tidak berbeda jauh dengan hasil kelimpahan populasi lalat buah pada perlakuan F3 dan F4 yang memikat lalat buah paling beragam. Perlakuan F1 adalah formulasi enkapsulasi yang kelimpahan populasi lalat buahnya paling sedikit. Ariva et al. menyatakan bahwa keanekaragaman inang yang tinggi sangat mempengaruhi keanekaragaman spesies, kelimpahan individu dan persebaran lalat buah di suatu wilayah, sedangkan habitat homogen umumnya terdiri atas inang dengan jenis yang terbatas sehingga menyebabkan adanya keterbatasan spesies lalat buah yang terdapat pada wilayah tersebut. Hal ini juga menunjukkan daya pikat formulasi enkapsulasi tiap durasi waktu hari pertama, hari kelima dan hari kesepuluh mengalami penurunan, namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan kontrol Jurnal Agroteknologi. Vol. 15 No. Agustus 2024: 27Ae 36 DOI: 10. 24014/ja. Available online at https://ejournal. uin-suska. id/index. php/agroteknologi/ ISSN 2356-4091 . ISSN 2087-0620 . Metil Eugenol, berarti ketahanan pelepasan senyawa volatile formulasi enkapsulasi dapat dipertahankan dengan baik . low releas. dan efektif untuk memikat lalat buah pada tanaman cabai Penelitian yang dilakukan oleh Ariva et al. menunjukkan bahwa keberadaan tanaman yang sengaja dibudidayakan dalam jumlah tinggi sangat mempengaruhi populasi spesies lalat buah yang menjadi hama tanaman tersebut. Penentuan Formulasi Terbaik Formulasi terbaik dihitung berdasarkan metode indeks efektivitas (De Garmo et al. Nurjannah & Utami 2. Tabel 7. Hasil Analisis Perlakuan Terbaik Dengan Metode Indeks Efektivitas Formulasi M:MD-GA 02:10 05:10 10:10 12:10 Total Nilai Produk Keterangan: Bobot nilai produk tertinggi merupakan formulasi dengan perlakuan terbaik M:MD-GA: Melada-Maltodekstrin-Gum Arabic. EA: Efektivitas Atraktan. EE (%): Efisiensi Enkapsulasi. LC (%): Loading Capacity. Y (%): Yield Berdasarkan perhitungan bobot nilai dan nilai efektivitas didapatkan formulasi enkapsulasi F4 memiliki nilai tertinggi yaitu 0. 581 dengan perbandingan simplisia bubuk daun Melada dan media MD-GA adalah 12:10. Hasil ini menunjukkan bahwa perbandingan pada formulasi F4 menghasilkan produk enkapsulasi dengan nilai produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan formulasi lainnya. Nilai produktivitas ini menggambarkan nilai efektivitas atraktan, efisiensi enkapsulasi, loading capacity, dan yield terbaik, dimana secara kuantitas dapat memerangkap jumlah lalat buah yang lebih banyak dan secara kualitas ketahan pelepasan senyawa volatile bersifat slow release lebih tinggi dan ketahanan yang lebih lama. KESIMPULAN Formulasi enkapsulasi simplisia bubuk daun Melada berbasis Maltodextrin dan Gum Arabic dalam meningkatkan ketahanan slow release senyawa volatile dan efektif memikat lalat buah terbanyak adalah formulasi F3 rasio perbandingan 10:10 dan F4 rasio perbandingan 12:10. Optimasi aplikasi atraktan biologis terbaik yang berpotensi dikembangkan sebagai atraktan lalat buah yang ramah lingkungan upaya pengendalian OPT dapat disesuaikan kebutuhan, dimana formulasi F3 dapat dipilih karena memberikan hasil efektivitas yang tidak berbeda, namun untuk memberikan hasil yang maksimal maka formulasi F4 dapat dijadikan pilihan terbaik. Selain itu, penelitian ini masih memiliki beberapa keterbatasan, seperti belum dilakukannya pengujian efektivitas atraktan pada jenis tanaman lain dan belum dilakukannya analisis biaya-manfaat. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk melengkapi penelitian ini. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih disampaikan kepada Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbud Riste. yang telah memberikan bantuan dana dalam melaksanakan penelitian PKM-RE 2024. DAFTAR PUSTAKA