JIPSOS: Jurnal Inovasi Pendidikan dan Ilmu Sosial Vol. 2 No. OKTOBER 2024 -ISSN. -ISSN. ANALISIS PEMBELAJARAN IPS PADA KURIKULUM MERDEKA BELAJAR DI SMP BABUSSALAM PAGELARAN KABUPATEN MALANG Muhammad Fathul IhsaniA*. Hamidi RasyidA A,2 Pendidikan Ilmu Pengetahuan Soial. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Islam Raden Rahmat. Indonesia *Email: muhammadfathulihsani96@gmail. ABSTRAK Penelitian ini dilatar belakangi oleh adanya perubahan kurikulum yaitu dari kurikulum 2013 menjadi kurikulum Merdeka, sehingga peneliti akan menganalisis pembelajaran IPS di sekolah dengan adanya perubahan kurikulum tersebut yang peneliti lakukan di SMP Babussalam. Tujuan dari penelitian ini adalah peneliti ingin mengetahui proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang dilakukan oleh guru pada mata pembelajaran IPS dengan menggunakan Kurikulum Merdeka di SMP Babussalam. Metode penelitian yang peneliti gunakan adalah kualitatif dengan jenis deskriptif, dimana peneliti akan mendeskripsikan dari hasil yang peneliti temukan melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Temuan dalam penelitian ini adalah guru sudah melakukan perencanaan dengan baik yaitu dengan membuat ATP dan Modul Ajar. Setelah itu guru IPS mengimplementasikan pembelajaran IPS sesua dengan yang ada di ATP dan Modul Ajar sedangkan pada proses evaluasi pembelajaran guru melakukan evaluasi secara menyeluruh baik evaluasi kognitif. Afektif dan Psikomotor. Kata Kunci: analisis. pembelajaran IPS. kurikulum merdeka. ABSTRACT This research is motivated by a change in the curriculum, namely from the 2013 curriculum to the Merdeka curriculum, so that the researcher will analyze social studies learning in schools with the curriculum changes that the researcher carried out at Babussalam Middle School. The aim of this research is that the researcher wants to know the planning, implementation and evaluation process carried out by teachers in the social studies subject using the Merdeka Curriculum at Babussalam Middle School. The research method that the researcher uses is qualitative with a descriptive type, where the researcher will describe the results that the researcher finds through interviews, observation and documentation. The findings in this research are that teachers have planned well, namely by creating ATP and Teaching Modules. After that, the social studies teacher implements social studies learning according to what is in the ATP and Teaching Module, while in the learning evaluation process the teacher carries out a comprehensive evaluation, including cognitive, affective and psychomotor evaluations. Keywords: analysis. social studies learning. independent curriculum. PENDAHULUAN IPS merupakan salah satu dari sekian banyak topik yang dibahas dalam proses pembelajaran di sekolah. Salah satu mata pelajaran yang wajib diajarkan di sekolah adalah Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) yang diajarkan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau Madrasah Tsanawiyah (MT. Ilmu Pengetahuan Sosial disebut juga IPS diajarkan di satuan pendidikan SMK/MAK. Wahidmurni . menyatakan bahwa DOI : a. JIPSOS: Jurnal Inovasi Pendidikan dan Ilmu Sosial Vol. 2 No. OKTOBER 2024 -ISSN. -ISSN. mata kuliah IPS diwajibkan pada jenjang pendidikan dasar (SD dan SMP). Siswa harus mengambil IPS sebagai mata pelajaran, dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, pemerintah pusat, mengembangkan dan memutuskan kurikulumnya. Kurikulum yang dibuat oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbu. harus diikuti oleh sekolah sebelum kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung di sana. Kurikulum yang digunakan sekarang adalah untuk belajar Kurikulum ini sangat menekankan pada pengembangan karakter dan pengalaman belajar yang lebih menyenangkan. Marisa . menyatakan sistem pembelajaran kurikulum mandiri akan berbeda dengan kurikulum sebelumnya, yaitu mencoba mengaktualisasikan lingkungan belajar yang berbeda, seperti pembelajaran di luar kelas. Selain itu, proses pembelajaran akan lebih menekankan pada pengembangan karakter siswa. hal ini diterapkan dengan cara pendidik dan peserta didik mampu berkomunikasi dengan baik melalui kegiatan belajar mengajar dengan metode diskusi yang tidak membuat psikologis peserta didik merasa takut. Kita ketahui bahwa proses belajar mengajar yang berlangsung antara siswa dan guru merupakan bagian integral dari proses pembelajaran. Kegiatan belajar mengajar merupakan suatu kesatuan dari dua kegiatan yang berjalan searah, menurut Suriansyah . Dalam kegiatan belajar mengajar, kegiatan belajar merupakan kegiatan utama, dan kegiatan mengajar merupakan kegiatan penunjang yang dimaksudkan agar kegiatan belajar mengajar dapat terselenggara dengan sebaik-baiknya. Penyusunan tujuan pembelajaran IPS merupakan prasyarat dalam proses belajar mengajar. Tujuan pembelajaran ini adalah untuk memaksimalkan pencapaian hasil yang ditargetkan. Proses pembelajaran di kelas diyakini akan mampu memotivasi dan mendorong siswa untuk secara mandiri aktif melakukan sesuatu guna memaksimalkan pembelajarannya, menurut Asrori . Tujuan mendasar dari pendidikan adalah untuk membawa perubahan yang baik di dunia, seperti perubahan persepsi individu terhadap suatu Seorang pendidik dapat melaksanakan proses belajar mengajar dengan menggunakan tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Rencana pembelajaran dengan tugas-tugas yang saling berkaitan yang akan diselesaikan guru dan siswa harus ditentukan oleh pendidik yang akan memperlancar proses belajar mengajar. Ananda . menyatakan bahwa untuk melaksanakan pembelajaran di kelas, guru harus melakukan persiapan. Persiapan tersebut harus mencakup segala bentuk perencanaan yang telah dibuat sehubungan dengan kegiatan yang akan dilakukan guru dan siswa, serta penggunaan teknik, sumber belajar, dan media yang akan membantu dalam proses Seorang pendidik dapat melaksanakan pembelajaran setelah membuat rencana pembelajaran. Untuk melaksanakan pembelajaran, lingkungan yang mendukung sangat penting. Sangat penting bagi seorang pendidik untuk berusaha DOI : a. JIPSOS: Jurnal Inovasi Pendidikan dan Ilmu Sosial Vol. 2 No. OKTOBER 2024 -ISSN. -ISSN. memperoleh keterampilan profesional untuk menyediakan lingkungan belajar yang Rahmat . mengartikan pembelajaran sebagai upaya untuk menetapkan kerangka pengembangan kegiatan pembelajaran yang memungkinkan siswa mempunyai pengalaman belajar yang cukup. Seorang pendidik biasanya akan menilai hasil pembelajaran yang dilaksanakan pada akhir pelaksanaan pembelajaran. Hal ini dimanfaatkan untuk menentukan keputusan yang akan diambil untuk proses pembelajaran selanjutnya serta tercapai atau tidaknya tujuan pembelajaran. Menentukan efektivitas dan efisiensi sistem pembelajaran secara keseluruhan merupakan tujuan umum evaluasi pembelajaran, menurut Asrul . Tujuan, materi, teknik, media, sumber belajar, lingkungan, dan sistem penilaian itu sendiri, semuanya merupakan bagian dari sistem pembelajaran yang Selain itu, penilaian pembelajaran bertujuan untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan siswa, membantu mereka belajar, mengevaluasi dan meningkatkan efektivitas program kurikulum, mengevaluasi dan meningkatkan efektivitas pembelajaran, dan memberikan informasi yang membantu dalam pengambilan METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif dengan desain penelitian Hal ini bertujuan untuk menggambarkan dan mengilustrasikan kejadiankejadian saat ini, baik alam maupun buatan manusia, dengan fokus pada kualitas, sifat, dan hubungan antara berbagai aktivitas (Yusuf, 2. SMP Babussalam Banjarejo Kec. Pagelaran. Kabupaten Malang. Jawa Timur, menjadi lokasi penelitian. Informan yang diperkirakan memiliki pengetahuan mendalam tentang kurikulum IPS SMP Babussalam dijadikan sebagai sumber data manusia dalam penelitian ini. Metode pengumpulan data, antara lain dokumentasi, wawancara, dan observasi. Langkah-langkah berikut ini merupakan bagian dari prosedur analisis data yang digunakan dalam penelitian ini: Pertama, tahap pengumpulan data, di mana peneliti mengumpulkan informasi dengan menggunakan berbagai prosedur pengumpulan data yang diperoleh sebelumnya. Kedua, tahap pemilihan data selaras dengan topik Tahap penarikan kesimpulan berada pada urutan ketiga (Sugiyono, 2. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Perencanaan Pembelajaran IPS pada Kurikulum Merdeka Belajar di SMP Babussalam Kurikulum yang ditetapkan pemerintah, yang dikenal dengan kurikulum pembelajaran otonom, akan menjadi pedoman awal sekolah sebelum memutuskan Manalu dkk. mendefinisikan kurikulum pembelajaran otonom sebagai paradigma kurikulum yang menuntut kemandirian siswa. Setiap peserta didik diberikan kemampuan untuk mengakses pengetahuan yang diperoleh melalui DOI : a. JIPSOS: Jurnal Inovasi Pendidikan dan Ilmu Sosial Vol. 2 No. OKTOBER 2024 -ISSN. -ISSN. pendidikan formal dan informal ketika mereka dianggap mandiri. Kurikulum ini mendorong kreativitas baik pengajar maupun siswa serta tidak menetapkan batasan jenis pembelajaran yang dapat terjadi di dalam atau di luar kelas. Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara yang dilakukan peneliti. Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) di SMP Babussalam sesuai dengan teori yang dikemukakan tersebut. Meskipun di sekolah tersebut baru menerapkan kurikulum merdeka belajar, pihak sekolah selalu mengusahakan supaya peserta didik mendapat ilmu yang maksimal. Para siswa tidak dibatasi untuk memperoleh ilmu dari manapun, selain itu pembelajaran yang ada di SMP Babussalam juga diselipi dengan pembelajaran Peserta didik diberikan kebebasan untuk mengembangkan bakat yang dimilikinya, pihak sekolah mengadakan keterampilan tata boga dan tata busana sesuai dengan permintaan dari para siswa. Pembelajaran adalah aktivitas yang dilakukan oleh peserta didik dan pendidik dalam suatu lingkup sekolah. Menurut Afandi, dkk . pembelajaran adalah interaksi antara guru dan siswa yang dilakukan secara sadar dan terencana baik di dalam maupun di luar ruangan yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik. Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara yang dilakukan pembelajaran di SMP Babussalam sudah sesuai dengan teori yang dikemukakan Afandi, karena guru di SMP Babussalam selalu berupaya untuk memberikan pembelajaran yang maksimal kepada peserta didik. Salah satu upaya dari pihak sekolah adalah dengan mewajibkan kepada para guru di sekolah tersebut untuk menggunakan LCD pada saat proses pembelajaran. Hilmi . menyatakan bahwa pendidikan IPS merupakan ilmu interdisipliner yang menyederhanakan ilmu sosial dan melihat suatu topik dari berbagai perspektif ilmu sosial secara kohesif. Sosiologi, ekonomi, geografi, dan mata pelajaran ilmu sosial lainnya termasuk dalam kategori ilmu sosial. Gagasan ini didukung oleh kurikulum IPS di SMP Babussalam yang ditentukan melalui observasi dan wawancara. Hal ini dikarenakan ilmu yang digunakan pada program IPS di sekolah ini adalah IPS terpadu yang mencakup berbagai mata pelajaran keilmuan seperti ekonomi, geografi, sejarah, dan sosiologi. IPS merupakan ilmu pengetahuan sosial yang menurut Miftahuddin . mengangkat konsep dan teori ilmu sosial secara terpadu dengan tujuan mendidik anak menjadi warga negara yang baik. Hal ini dilakukan dengan memahami, mempelajari, dan memikirkan pemecahan permasalahan yang ada di masyarakat. Mengingat manusia adalah makhluk sosial yang bertempat tinggal di masyarakat, maka pendidikan IPS sangatlah penting. Sehubungan dengan hal tersebut, sangat penting bagi siswa untuk memperoleh informasi ilmu-ilmu sosial guna mengembangkan sikap positif dan keterampilan kerja yang bermanfaat bagi masyarakat dan diri mereka sendiri. Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara tujuan dari pembelajaran IPS di SMP Babussalam sudah sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Miftahuddin. Melalui pembelajaran IPS di sekolah ini, menjadikan peserta didik memiliki jiwa peduli sosial yang tinggi. Hal ini dikarenakan setiap bulan di SMP Babussalam para murid DOI : a. JIPSOS: Jurnal Inovasi Pendidikan dan Ilmu Sosial Vol. 2 No. OKTOBER 2024 -ISSN. -ISSN. diwajibkan membawa nasi bungkus untuk dibagikan kepada masyarakat sekitar. Perencanaan pembelajaran yang matang harus disusun terlebih dahulu sebelum memulai pembelajaran. Sebelum melaksanakan pembelajaran IPS, seorang guru menurut Jannah & Nasiwan . harus menyusun silabus. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), media dan sumber belajar, serta alat penilaian. Silabus dikembangkan oleh guru dan diperoleh dari pemerintah. RPP dibuat oleh guru berdasarkan hasil lokakarya atau bekerjasama dengan kelompok MGMP. Meski demikian, guru juga harus menyesuaikan dengan kondisi lapangan dan karakteristik Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara yang dilakukan perencanaan pembelajaran IPS yang dilakukan guru di SMP Babussalam sudah sesuai dengan teori Sebelum memulai pembelajaran, guru IPS menyusun CP. ATP dan RPP atau modul ajar terlebih dahulu, kemudian diserahkan kepada kepala sekolah untuk RPP atau modul ajar yang disusun oleh guru IPS di sekolah ini diperoleh dengan menyesuaikan kondisi lapangan dan karakteristik peserta didik. Adapun modul ajar yang disusun oleh guru IPS didalamnya sudah mencantumkan media dan sumber belajar serta evaluasi yang akan digunakan ketika pembelajaran berlangsung. Pelaksanaan Pembelajaran IPS di SMP Babussalam Pelaksanaan pembelajaran IPS meliputi pendahuluan, kegiatan inti, dan penutup sesuai dengan RPP yang dibuat, menurut Suharso dkk. 5: 7-. Proses pembelajaran harus dilaksanakan secara metodis berdasarkan prosedur pembelajaran yang dikembangkan, dan guru harus mampu mengelola pelaksanaan pembelajaran berdasarkan prosedur tersebut. Pembelajaran IPS di SMP Babussalam mengikuti gagasan ini, berdasarkan temuan observasi dan wawancara. Guru IPS melakukan kegiatan pendahuluan, inti dan penutup sesuai dengan modul ajar yang telah disusun. Hanya saja terkadang pembelajaran tidak sesuai dengan modul ajar, hal ini dikarenakan guru IPS memperhatikan terlebih dahulu kondisi aliran listrik dan peserta didik. Sebagai contoh, kalau aliran listrik mati, maka guru IPS tidak dapat menggunakan LCD sebagaimana yang telah disusun dimodul ajar. Selain itu, guru juga memperhatikan kondisi peserta didik, jika peserta didik terlihat mengantuk dan tidak semangat dalam mengikuti pelajaran, maka guru harus merubah metode pembelajaran sehingga motode yang digunakan tidak selalu sesuai dengan modul ajar yang telah disusun. Pelaksanaan pembelajaran pada kurikulum merdeka belajar tidak hanya berada di dalam kelas saja, tetapi pembelajaran boleh dilakukan di luar kelas. Selain menuntut siswa mahir menggunakan teknologi. Indarta dkk. menyatakan bahwa tujuan kurikulum pembelajaran otonom adalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengeksplorasi bakatnya. Strategi pembelajaran yang sebelumnya dilakukan di dalam kelas akan digantikan dengan pembelajaran di luar kelas dengan kurikulum belajar Temuan observasi dan wawancara menunjukkan bahwa pembelajaran di SMP DOI : a. JIPSOS: Jurnal Inovasi Pendidikan dan Ilmu Sosial Vol. 2 No. OKTOBER 2024 -ISSN. -ISSN. Babussalam masih belum sepenuhnya sejalan dengan gagasan tersebut. Hal ini disebabkan karena tidak semua pembelajaran terjadi di dalam kelas. Di luar kelas, biasanya hanya mata pelajaran atletik yang diselesaikan. IPS merupakan salah satu mata pelajaran yang belum pernah diajarkan di luar kelas. Menurut Pratiwi & Lestari . 0:120-. dalam pelaksanaan pembelajaran, guru melakukan beberapa tahap pelaksanaan pembelajaran, sebagai berikut: Kegiatan Pendahuluan, kegiatan mampu menciptakan suasana awal pembelajaran yang efektif yang memungkinkan siswa dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Kegiatan Inti, meliputi tujuan pembelajaran, model dan metode pembelajaran, materi pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar Kegiatan Penutup, kegiatan penutup merupakan kegiatan akhir dari rangkaian pelaksanaan pembelajaran di kelas. Berdasarkan pelaksanaan pembelajaran IPS di SMP Babussalam berjalan sesuai dengan teori tersebut yaitu. Kegiatan pendahuluan dilakukan oleh guru IPS dengan cara menyiapkan media yang akan digunakan terlebih dahulu kemudian mengulas kembali materi yang sebelumnya telah dipelajari, . Kegiatan inti dilakukan guru dengan cara guru mulai menjelaskan materi selanjutnya kepada peserta didik, adapun media yang digunakan oleh guru seringnya PPT, dan sumber belajar yang diperoleh guru juga beragam diantaranya dari internet dan video youtube, dan . Kegiatan penutup dilakukan dengan cara memberikan refleksi pembelajaran, memberikan informasi mengenai materi yang akan dipelajari dipertemuan selanjutnya serta mengakhiri dengan penutup dan doAoa. Evaluasi Pembelajaran IPS di SMP Babussalam Setiap guru diharapkan melakukan evaluasi sebagai bagian dari pembelajaran yang sedang berlangsung, seperti yang diungkapkan oleh Purwati & Nugroho . Penilaian pembelajaran merupakan suatu rangkaian prosedur pembelajaran. Penilaian merupakan bagian wajib dari proses pembelajaran yang baru diterapkan bagi guru. Temuan evaluasi dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan pembelajaran selanjutnya serta menjadi standar pengukuran efektivitas pembelajaran yang telah dilaksanakan sebelumnya. Gagasan yang dikemukakan ini didukung oleh temuan observasi dan wawancara yang dilakukan peneliti, yang digunakan untuk mengevaluasi pembelajaran guru IPS. Guru IPS melakukan evaluasi dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada peserta didik mengenai materi yang dipelajari, hasil dari evaluasi tersebut oleh guru IPS digunakan untuk menentukan pembelajaran selanjutnya. Contohnya para siswi diberikan soal sebanyak 5 butir, ternyata banyak siswi yang masih salah dalam mengerjakan soal no 3, berdasarkan hal ini untuk pertemuan selanjutnya guru IPS mengulas kembali materi yang ada di no 3 Menurut Sari & Purnomo . evaluasi pada pembelajaran IPS meliputi evaluasi kognitif, afektif dan psikomor. Pelaksanaan evaluasi kognitif dilakukan guru DOI : a. JIPSOS: Jurnal Inovasi Pendidikan dan Ilmu Sosial Vol. 2 No. OKTOBER 2024 -ISSN. -ISSN. untuk mengukur pengetahuan peserta didik. Evaluasi ranah afektif digunakan guru untuk mengukur keaktifan peserta didik di kelas. Guru juga memperhatikan kesopanan peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung dan presensi peserta didik turut menjadi indikator evaluasi ranah afektif. Sedangkan untuk evaluasi ranah psikomotor, digunakan guru untuk mengukur keterampilan peserta didik di dalam proses Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara yang dilakukan peneliti, evaluasi pembelajaran yang dilakukan guru IPS masih belum sesuai dengan teori Nyatanya guru IPS di SMP Babussalam hanya menggunakan evaluasi kognitif dan afektif saja, untuk evaluasi psikomor masih belum dilakukan oleh guru IPS di sekolah tersebut. Evaluasi kognitif dilakukan guru dengan cara memberikan soal kepada peserta didik, baik soal pilihan ganda ataupun soal essay. Sedangkan untuk evaluasi afektif guru melihat keaktifan peserta didik ketika mengikuti pembelajaran, selain itu presensi kehadiran siswa juga digunakan guru untuk penilaian di ranah afektif ini. KESIMPULAN Pembelajaran IPS pada Kurikulum Merdeka Belajar di SMP Babussalam yaitu perencanaan pembelajaran IPS yang ada di SMP Babussalam sudah baik. Sebelum memulai pembelajaran, guru IPS menyiapkan perangkat pembelajaran terlebih dahulu. Perangkat pembelajaran yang disusun berpedoman pada kurikulum dan silabus. Kemudian, saat pelaksanaan Pembelajaran IPS pada Kurikulum Merdeka Belajar di SMP Babussalam berjalan sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat, akan tetapi hal ini juga memperhatikan kondisi kelas dan peserta didik terlebih dahulu. Selain itu, pelaksanaan pembelajaran pada kurikulum merdeka boleh dilakukan di luar kelas, hanya saja pada mata pelajaran IPS ini guru masih belum pernah melakukan pembelajaran di luar kelas. Untuk evaluasi Pembelajaran IPS pada Kurikulum Merdeka Belajar di SMP Babussalam dilakukan oleh guru IPS meliputi evaluasi kognitif dan afektif saja. Hasil evaluasi pembelajaran yang telah dilakukan oleh guru IPS digunakan sebagai tolak ukur keberhasilan pembelajaran sekaligus untuk menentukan proses pembelajaran selanjutnya. REFRENSI Afandi. Chamalah. , & Wardani. Model dan metode pembelajaran di Sekolah. Semarang: Unissula Press. Ananda. Perencanaan Pembelajaran. Medan: Lembaga Peduli Pengembangan Pendidikan Indonesia (LpI). Asrori. Pengertian. Tujuan dan Ruang Lingkup Strategi Pembelajaran. Jurnal MADRASAH, 5 . : 163-188. Asrul. Ananda. , & Rosnita. Evaluasi Pembelajaran. Bandung: Citapustaka Media. Hilmi. Implementasi Pendidikan IPS dalam Pembelajaran IPS di Sekolah. Jurnal Ilmiah Mandala Education, 3. : 164-172. Indarta. Jalinus. A, & Adi. Relevansi Kurikulum Merdeka Belajar dengan Model Pembelajaran Abad 21 dalam Perkembangan Era Society 5. DOI : a. JIPSOS: Jurnal Inovasi Pendidikan dan Ilmu Sosial Vol. 2 No. OKTOBER 2024 -ISSN. -ISSN. Edukatif: Jurnal Ilmu Pendidikan, 4 . : 3011-3024. DOI: 10. 31004/edukatif. Jannah. , & Nasiwan. Implementasi Kurikulum 2013 pada Mata Pelajaran IPS di SMP Negeri 1 Muntilan. Sosial Studies, 6 . : 764-772. Manalu. Sitohang. , & Henrika. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Kurikulum Merdeka Belajar. Jurnal Prosiding Pendidikan Dasar, 1 . Marisa. Inovasi Kurikulum Merdeka Belajar di Era Society 5. Santhet: Jurnal Sejarah. Pendidikan dan Humaniora, 5 . : 66-78. DOI: 10. 36526/js. Miftahuddin. Revitalisasi IPS dalam Perspektif Global. Jurnal Tribakti, 27 . : 267284. Pratiwi. & Lestari. Pelaksanaan Pembelajaran IPS di Kelas Berprogram Pendidikan Inklusi di SMP Negeri 31 Semarang. Sosiolium, 2 . : 118-124. Purwati. & Nugroho. Pengembangan Media Evaluasi Pembelajaran Sejarah Berbasis Google Formulir di SMA N 1 Prambanan. Istoria: Jurnal Pendidikan dan Sejarah, 14 . : 1-10. Rahmad. Kedudukan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) pada Sekolah Dasar. Muallimuna: Jurnal Madrasah Ibtidaiyah, 2 . : 67-78. Rustantono. Rasyid. Cholifah. Yanti. Sumiharti. Amral. , . Hutabarat. Exploring the Role of Family Economic Education in Meeting Economic Demands. Sociocultural Dynamics, and Enhancing Economic Literacy. AL-ISHLAH: Jurnal Pendidikan, 16. , 1947-1958. Sari. R & Purnomo. Kemampuan Guru Dalam Pembelajaran Daring Mata Pelajaran IPS di SMP Sekecamatan Bumiayu. Jurnal SOSIOLIUM, 4 . : 1-6. Suharso. Suyatmini. , & Supriyanto. Pengelolaan Pembelajaran IPS Terpadu di SMP Negeri 2 Miri Sragen. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta. Suriansyah. Aslamiah. Sulaiman. Noorhafizah. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Wahidmurni. Metodologi Pembelajaran IPS: Pengembangan Standar Proses Pembelajaran IPS di Sekolah/Madrasah. Yogyakarta : Ar-Ruzz Media. Yusuf. Metode Penelitian: Kuantitatif. Kualitatif, dan Penelitian Gabungan. Jakarta: Kencana. DOI : a.