Jayapangus Press Metta: Jurnal Ilmu Multidisiplin Volume 3 Nomor 4 . ISSN : 2798-7329 (Media Onlin. Ngaben Di Krematorium Sagraha Mandra Kantha Santhi Sebagai Sebuah Solusi Sang Ayu Putu Wismayani SMP Negeri 1 Bangli. Indonesia dadi@gmail. Abstract Bali is an island which is famous for its customs and culture that are wrapped in Hinduism. The changes that are constantly occurring lead us to the world's development that is increasingly advanced. The changes that occur refer to all aspects, including the implementation of the ngaben ceremony in Bali. Many phenomena that we find in the community, i. many people who carry out the funeral ceremony at the cremation place. This is caused by the fact that today's society wants everything that is practicable, economical and without reducing the meaning. This is the reason why people choose crematorium as a place to carry out the funeral process, one of which is Bebalang crematorium. Bangli. The methods used in this research are qualitative methods using literature review. Ngaben ceremony is one of the pitra Yajya ceremonies, which become the time for paying debts to ancestors. Ngaben is the ceremony of burning the corpse of Hindu in Bali. Nowadays, people are starting to turn to the crematory to carry out the process of funeral ceremonies. One of them is the Sagraha Mandra Kantha Santi Crematorium. This cremation place was recently established in 2019, but many people have carried out their funeral ceremonies in this place, especially during the pandemic. There are several reasons that causes people prefer crematoriums as a place to hold ngaben ceremonies, first, because it is very practical, it doesn't take a long time, the cost of carrying out the ceremony is also relatively cheap, and the main thing is the procession of the activities is similar to the ngaben which is carried out in traditional setras Keywords: Ngaben. Crematorium. Solution Abstrak Pulau bali merupakan sebuah pulau yang terkenal dengan adat istiadat dan budayanya yang berbalut keyakinan agama Hindu. Perubahan yang terus menerus terjadi membawa kita kepada perkembangan dunia yang semakin maju. Perubahan yang terjadi mengacu ke segala bidang, termasuk dalam pelaksanaan upacara ngaben di Bali. Banyak fenomena yang kita temukan di masyarakat, yaitu banyak warga yang melaksanakan upacara pengabenan di tempat kremasi. Hal ini disebabkan karena masyarakat sekarang menginginkan segala sesuatu yang praktis, ekonomis dan tidak mengurangi makna. Hal inilah yang menjadi pemicu mengapa masyarakat memilih krematorium sebagai tempat melaksanakan proses pengabenan, salah satunya adalah krematorium Bebalang. Bangli. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan menggunakan tinjauan deskriptif kualitatif. Pengambilan data dilakukan dengan studi Pustaka, wawancara dan juga dengan observasi kegiatan. Upacara ngaben merupakan salah upacara pitra Yajya yaitu pembayaran hutang kepada leluhur. Ngaben merupakan upacara pembakaran mayat masyarakat Hindu di Bali. Seiring perkembangan zaman. Masyarakat mulai beralih ke tempat kremasi untuk melaksanakan proses upacara Salah satunya adalah Krematorium Sagraha Mandra Kantha Santi. Tempat kremasi ini baru didirikan pada tahun 2019, namun sudah banyak Masyarakat yang melaksanakan upacara pengabenan di tempat tersebut, apalagi pada masa pandemi. Ada https://jayapanguspress. org/index. php/metta beberapa alasan yang menyebabkan masyarakat lebih memilih krematorium sebagai tempat pelaksanaan upacara ngaben, yang pertama adalah karena praktis, tidak memakan waktu yang lama, biaya untuk melaksanakan upacara juga tergolong rendah, dan yang lebih utama ialah prosesi kegiatannya sama dengan ngaben yang dilaksanakan di setra adat pada umumnya. Kata Kunci: Ngaben. Krematorium. Solusi Pendahuluan Pulau Bali merupakan sebuah pulau kecil namun begitu mendunia, hal ini tidak lepas karena keindahan, ragam adat, seni dan budaya yang ada di pulau tersebut. Pulau dewata, pulau seribu pura, pulau surga dan masih banyak lagi sebutan untuk pulau kecil Dengan mayoritas penduduk beragama Hindu, secara otomatis, semua karya seni, budaya, adat istiadat yang berkembang di Bali tak lepas dari agama Hindu. Adanya perkembang zaman, juga membawa perubahan terhadap kegiatan keagamaan yang berkembang di pulau Bali. Perubahan-perubahan ini terjadi karena semakin kompleknya kehidupan masyarakat sehingga mereka menginginkan kegiatan yang praktis dan ekonomis, termasuk dalam kegiatan yadnya (Pitana, 2020. Sujana, 2. Pada zaman dahulu, para tetua Bali sebagian besar memiliki mata pencaharian sebagai petani, dengan menggarap lahan pertanian yang mereka miliki atau terkadang ada juga yang menggarap lahan pertanian yang merupakan laba pura. Secara otomatis, penduduk di desa akan menetap di desanya sendiri, dan sangat jarang mereka beraktivitas di luar desa. Dengan demikian, maka seluruh warga desa akan selalu aktif terlibat dalam berbagai kegiatan adat yang diadakan di desa Namun sekarang, sebagai imbas dari perubahan zaman, banyak diantara warga desa yang tidak mau bertani dan memilih untuk mencari pekerjaan lain di kota sesuai dengan bakat dan keahliannya (Gangga & Binawati, 2. Hal ini menyebabkan, warga desa tersebut jarang bisa pulang ke desa dan sangat jarang bisa terlibat dalam berbagai kegiatan di banjar. Untuk segala kewajiban di adat/di banjar bisa dilakukan dengan AunekelAy yaitu membayar sejumlah uang sebagai ganti tidak bisa tedun. Kesibukan warga di dunia kerja, menyebabkan warga untuk memilih kegiatan yang praktis dan ekonomis, tanpa banyak menyita waktu namun tidak mengurangi makna dalam beryadnya (Gama & Perbowosari, 2. Sehingga, ketika ada sanak keluarganya yang melakukan upacara mereka akan memilih membeli banten atau mengadakan upacara di tempat tertentu, seperti di griya, kedatuan ataupun juga di yayasan. Begitu juga ketika ada salah satu anggota keluarganya yang meninggal, mereka cenderung untuk memilih tempat kremasi sebagai tempat untuk melaksanakan upacara pitra yadnya. Adanya pandemi Covid-19, dimana terjadi pembatasan jumlah orang dalam kegiatan juga menjadi pertimbangan dalam melaksanakan upacara yadnya di rumah. Adanya fenomena social distanching dan physical distanching, dan keterbatasan ekonomi menjadi salah satu factor mengapa orang memilih krematorium sebagai tempat pelaksanaan upacara ngaben (Sudarsana, 2. Upacara ngaben selama pandemi Covid19 juga mulai mengenalkan masyarakat umum terkait dengan tempat kremasi. Semenjak Covid-19, masyarakat mulai mengenal kremasi dan juga mulai menggunakan jasa kremasi dalam kegiatan pitra yadnya . bagi anggota keluarganya yang Saat ini di Bali sudah terdapat banyak tempat kremasi yang tersebar di beberapa kabupaten/kota, salah satunya adalah Krematorium Sagraha Mandra Kantha Santhi yang ada di desa Bebalang. Bangli. Krematorium ini lebih dikenal dengan nama Krematorium Bebalang. Diantara banyaknya tempat kremasi, krematorium Bebalang paling banyak melaksanakan proses kremasi, apalagi di masa pandemi Covid-19. Dalam https://jayapanguspress. org/index. php/metta sehari Krematorium Bebalang, bisa melaksanakan kremasi 20 sampai 30 jenazah bahkan pernah melaksanakan sampai 40 jenazah dalam sehari. Untuk itulah, peneliti ingin mengetahui mengapa masyarakat memilih ngaben di tempat kremasi, dan bagaimanakah prosesi ngaben di tempat kremasi, khususnya di Krematorium Bebalang. Hal ini agar masyarakat luas mengetahui perbedaan antara ngaben di banjar dengan ngaben di tempat kremasi, khususnya Krematorium Bebalang. Metode Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan deskriftif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini dilakukan melalui studi Pustaka juga dilakukan dengan melakukan wawancara dengan pengurus Krematorium Sagraha Mandra Kantha Santhi dan juga dengan beberapa orang yang menggunakan jasa tempat kremasi tersebut. Selain itu juga dengan melakukan observasi di tempat crematorium. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil dan Pembahasan Upacara Ngaben Upacara Ngaben merupakan salah upacara pitra Yajya yaitu pembayaran hutang kepada leluhur. Ngaben merupakan upacara pembakaran mayat masyarakat Hindu di Bali. Pelaksanaan ngaben merupakan suatu ritual yang dilaksanakan guna mengembalikan jenasah kepada unsur panca maha bhuta. Yaitu pengembalian unsurunsur yang membentuk manusia tersebut. Pada umumnya ngaben dilaksanakan pada kuburan atau setra desa pakraman di Bali. Setiap desa pakraman di Bali memiliki setra atau kuburan tersendiri. Setiap Desa Pakraman mempunyai desa, kala, dan patra masingmasing. Sehingga antara desa pakraman yang satu dengan yang lain mempunyai prosesi pembakaran mayat atau pengabenan yang berbeda-beda. Namun tidak terlepas dengan nilai-nilai yang ada dalam ajaran agama Hindu yang bersumber dari kitab suci Veda. Jika dilihat dari arti kata pengabenan berasal dari kata AyApiAy kata ini mendapat prefik anuswara AyngAy menjadi AyngapiAy dan mendapatkan sufik AyanAy menjadi AyngapianAy. Kata ngapian mengalami sandi menjadi kata AyngapenAy dan karena terjadi perubahan bunyi konsonan AyPAy menjadi AyBAy menurut hukum perubahan bunyi P. W merupakan rumpun huruf labial. Lalu menjadi AyNgabenAy. (Wijayananda, 2. Api dalam lambang agama Hindu yaitu lambang Brahma, jadi kata ngaben artinya menuju alamnya Brahman (Wirata, 2. Ngaben berasal dari kata AybeyaAy. Beya berarti bekal, yakni berupa jenis upakara yang diperlukan dalam upacara ngaben itu (Dewi, et al. , 2. Kata beya yang berarti AybekalAy, yakni sejenis banten yang digunakan pada saat orang ngaben. Kata AobeyaAo yang berarti bekal, dalam bahasa Indonesia menjadi biaya. Biaya dalam bahasa Bali menjadi AuprebeyaAy, dan orang yang melaksanakan proses penyelenggaraannya disebut AumeyaninAy. Ngaben, meyanin adalah kata yang sama dengan upacara Aosawa wedanaAo (Wikarman, 1. Bukian & Jayanti . menjelaskan bahwa, upacara ngaben atau meyanin atau juga atiwa-tiwa, untuk umat Hindu di pegunungan Tenger dikenal dengan nama entasentas. Kata entas mengingatkan pada upacara pokok ngaben di Bali. Yakni tirta pangentas yang berfungsi untuk memutuskan kecintaan Sang Atma . dengan badan jasmaninya dan menghantarkan Atma ke alam Pitara. Dari penjelasan terkait ngaben di atas, ngaben merupakan sebuah proses pembakaran jenazah sehingga menjadi abu, jika secara filosofi upacara ngaben merupakan proses pengembalian unsur Panca Maha Bhuta. Dan upacara ngaben harus dilaksanakan, karena apabila dalam jangka waktu yang panjang tidak dilaksanakan maka badan kasar manusia akan menjadi penyakit (Bhuta Dalam Lontar tattwa loka kretti, lempiran 5a disebutkan sebagai berikut. https://jayapanguspress. org/index. php/metta yan wwang mati mapendheme ring prathiwi selawasnya tan kinenan widhiwidhana, byakta matemahan rogha ning bhuana, haro-haro gering mrana ring rat, atemahan gadgda. Terjemahannya: Jika orang mati dikubur di tanah dan tidak diupacara ngaben, sungguh akan menjadi penyakit bumi, kacau sakit di dunia, menjadi gadgad . Lebih lanjut juga dijelaskan sebagai berikut. Kunang ikang sawa yan tan inupakara atmanya mendadi neraka, munggwing tgal penangsaran, mangebeki wadhuri ragas, katiksnan panesning surya, manangis mangisek-isek, sumambe anak putunya, sang kari mahurip, lingnya : duh anakku bapa, tan hana matra wlas ta ring kawitanta, maweh bubur mwang we atahap, akeh mami madruwe, tan hana wawanku mati, kita juga mawisesa, anggen den abecik-becik, tan eling sira ring rama rena, kawitanta, weh tirtha pangentas, jah tasmat kita santananku, wastu kita amangguh alphayusa, mangkana temahning atma papa ring santana (Tatwa Loka Kretti. Lem. Terjemahannya: Adapun sawa yang tidak diaben, atmanya akan berada di neraka, bertempat tinggal di tegal penangsaran, yang penuh dengan pohon berduri yang berguguran, terbakar oleh sengatan matahari, menangis tersedu-sedu dan menyebut anak cucunya yang masih hidup, berkata: oh anakku, tidak sedikit belas kasihanmu kepada leluhurmu, memberikan bubur dan air seteguk, apa yang saya punya tidak ada yang saya bawa, kamu juga yang menikmati wahai anak, cucuku, pemastuku semoga kamu berumur pendek, demikian kutukannya. Berdasarkan dasar pemikiran yang ada pada lontar Tatwa loka Kretti (Wikarman, 1. , maka upacara ngaben wajib dilaksanakan. Seperti yang telah dipaparkan di atas, tujuan dari pelaksanaan ngaben adalah untuk mengembalikan unsur-unsur panca maha Bhuta. Hal ini seperti yang tercantum di dalam lontar Puja mamukur yaitu: AuOm prthiwi apah teja bayu akasa, prthiwi sangkaning Gandha mulih ring prthiwi, apah sangkaning masa mulih maring apah, teja sangkaning rupa mulih ring teja, bayu sangkaning ambekan mulih ring bayu, akasa sangkaning sabda mulih ring akasaAy. Kutipan tersebut diterjemahkan bahwa pertiwi kembali ke pertiwi, apah kembali ke apah, teja kembali ke teja, bayu kembali ke bayu dan akasa kembali ke akasa. Kutipan lainnya juga ada yang menyatakan sebagai berikut. AuOm ragha saking tirtha muling ring tirtha, wewayangan saking bayu mulih ring bayu, sarira sangkaning tanana mulih ring tanana, les maring praba sumuruping bayu langgeng, raga mulih mareng kepala, bayu mulih ring idep. Atma malih maring wisesaAy. Artinya Au raga dari air kembali ke air, dan Atma mulih ring wisesaAy. Dari kedua kutipan di atas, diharapkan bahwa hendaknya melaksanakan upacara ngaben agar unsur panca mahabutha bisa segera kembali ke asalnya. Upacara ngaben yang dilakukan tidaklah harus yang besar dan menghabiskan biaya yang besar, tetapi upacara ngaben yang dilakukan hendaknya disesuaikan dengan kemampuan. Karena besar kecilnya upacara ngaben yang dilaksanakan oleh seseorang tidak menentukan apakah atma dari leluhurnya tersebut mendapatkan surga/neraka. Ngaben terdiri dari lima jenis: Ngaben Sawa Wedana adalah upacara Ngaben yang melibatkan jenazah yang masih utuh, tanpa dikubur lebih dulu. Upacara ini biasanya dilakukan dalam kurun waktu 3-7 hari terhitung dari hari meninggalnya orang tersebut. Ngaben Asti Wedana adalah upacara Ngaben yang melibatkan kerangka jenazah yang pernah dikubur. Upacara ini juga diikuti dengan upacara Ngagah, yaitu upacara menggali kembali kuburan dari orang yang bersangkutan untuk kemudian mengupacarai tulang belulang yang tersisa. Prosesi ini dilakukan sesuai tradisi dan aturan desa setempat. Swasta adalah upacara Ngaben tanpa memperlihatkan jenazah maupun kerangka mayat. https://jayapanguspress. org/index. php/metta Hal ini biasanya dilakukan karena beberapa hal, seperti meninggal di luar negeri atau tempat jauh, jenazah tidak ditemukan, dan sebagainya. Pada upacara ini, jasad biasanya disimbolkan dengan kayu cendana yang dilukis dan diisi aksara magis sebagai badan kasar dari atma orang yang bersangkutan. Pengabenan ngewangun Pengabenan Ngewangun didasari karena semua organ tubuh atau sebagai awangun memperoleh material upakara sehingga upakaranya banyak. Ngaben jenis ini diikuti dengan Pengaskaran. Ada dua jenis Pengabenan ngewangun: 1. Upacara Pengabenan ngewangun Sawa Pratek Utama, ada jenasah atau watang matah. Upacara Pengabenan mewangun Nyawa Wedana, tidak ada jenasah tetapi disimbulkan dengan adegan kayu cendana yang digambar dan ditulis aksara sangkanparan. Nyawa Wedana berasal dari kata Nyawa atau nyawang yaitu dibuatkan simbul. Wedana artinya rupa atau Dengan demikian Nyawa Wedana artinya dibuatkan rupairupaan sebagai simbolis mayat yang akan diupacarai. Rangkaian atau prosesi upacara Pengabenan ngewangun, berdasarkan Yama Purwwa Tattwa adalah : Dimulai dengan Ngulapin, yaitu pihak keluarga melakukan ritual permohonan izin dan restu kepada Dewi Durga yang merupakan sakti dari Dewa Siwa. Ngulapin dilakukan di Pura Dalem atau Pura Mrajapati. Berikutnya adalah upacara mesiram atau mabersih, yaitu memandikan jenazah yang terkadang hanya berupa tulang belulang, dilakukan di rumah duka atau . Selanjutnya adalah upacara Ngaskara, yaitu upacara penyucian jiwa tahap awal. Dilanjutkan dengan Narpana yaitu upacara persembahan sesajen ata bebanten kepada jiwa yang telah meninggal. Puncak dari prosesi Ngaben adalah Ngeseng Sawa, yaitu pembakaran jenazah yang dilakukan di setra atau kuburan. Jenazah yang akan dibakar diletakkan di dalam sebuah replika binatang seperti sapi, singa, macan ikan, gajah, atau peti yang disebut petulangan. Usai jasad dibakar, dilakukan upacara Nuduk Galih, yaitu keluarga mengumpulkan sisa-sisa tulang . jenazah setelah pembakaran. Prosesi selanjutnya adalah pangiriman . Prosesi terakhir adalah Nganyut, yaitu menghanyutkan abu jenazah ke sungai atau laut, sebagai simbolis pengembalian unsur air dan bersatunya kembali sang jiwa dengan alam. Upacara Pengabenan Pranawa Pengabenan Pranawa merupakan upacara Pengabenan dengan sarana upakaranya ditujukan kepada sembilan lobang yang ada pada diri manusia. Pranawa berasal dari kata prana yaitu lobang, nafas, atau jalan dan nawa artinya sembilan. Kesembilan lobang yang dimaksud adalah : Udana yaitu lobang kening, mempengaruhi baik buruknya pikiran. Kurma yaitu lobang mata, mempengaruhi budhi baik atau buruk, dan berpengaruh ke dasendriya. Krkara yaitu lobang hidung mempengaruhi tri kaya, jujur atau tidak. Prana yaitu mulut, dosa bersumber dari mulut adalah tri mala paksa. Dhananjya yaitu kerongkongan, kekuatannya mempengaruhi manah yang berkontribusi terhadap sombong dan durhaka. Samana yaitu lobang pepusuhan, mempengaruhi jiwa menjadi loba dan serakah. Naga yaitu lobang lambung, mempengaruhi karakter yang berkaitan dengan sad . Wyana yaitu lobang sendi, mempengaruhi perbuatan memunculkan subha asubha https://jayapanguspress. org/index. php/metta . Apana yaitu pantat kemaluan, mempengaruhi kama yang berkaitan dengan Sapta Timira. Kesembilan lobang pada manusia ini dapat mengantar manusia kelembah dosa. Pengabenan Pranawa tidak diikuti dengan upacara pengaskaran. Ada lima jenis Pengabenan Pranawa, yaitu 1. Sawa Pranawa : Disertai jenasah atau watang matah. Kusa Pranawa : dengan watang matah atau hanya dengan adegan saja. Adegannya disertakan pengawak dari sagenggam ambengan. Melakukan pengaskaran yang dilakukan di setra setelah sawanya menjadi sekah tunggal. Toya Pranawa : Sama dengan Kusa Pranawa, hanya di dalam adegannya berisi payuk pere, berisi air dan dilengkapi dengan eteh-eteh pengentas. Melakukan pengaskaran yang dilakukan di setra setelah sawanya menjadi sekah tunggal. Gni Pranawa : Sama dengan pranawa lainnya, juga melakukan pengaskaran tapi pengaskaran nista yang dilakukan di setra setelah sawanya menjadi sekah tunggal. Tanpa uperengga seperti Damar kurung, tumpang salu, pepelengkungan, ancak saji, bale paga, tiga sampir, baju antakesuma, pajeng pagut, hanya memakai peti jenasah dan papaga atau penusangan. Sapta Pranawa : upacara ini dilakukan di rumah, menggunakan damar kurung dan pengaskaran. Tapi tidak menggunakan bade atau wadah waktu mengusung jenasah ke setra. Hanya menggunakan papaga atau panusangan. Juga dilaksanakan langsung di setra tapi pelaksanaan Pengabenannya mapendem tidak dibakar, serta pelaksanaan pengentasnya di atas Pengabenan Swastha Upacara Swastha adalah upacara Pengabenan sederhana, dengan tingkat terkecil karena tidak dirangkaikan dengan pangaskaran. Berarti tidak menggunakan kajang, otomatis tanpa upacara Pengajuman Kajang. Tidak menggunakan bale paga, damar kurung, damar layon, damar angenan, petulangan, tiga sampir, baju antakesuma dan payung pagut. Hanya menggunakan peti jenasah dan papaga atau penusangan untuk mengusung ke setra. Pelaksanaan upacara di setra saja. Pengabenan Swastha Geni ini sering rancu dengan Pengabenan Geni Pranawa. Swasta asal katanya AusuAy artinya luwih, atau utama. Astha berasal dari Asthi artinya tulang, atau abu. Dengan demikian Swastha berarti pengabenan kembali ke intinya tapi tetap memiliki nilai utama. Pengabenan swastha terdiri dua jenis: 1. Pengabenan Swastha Geni : penyelesaian di setra dengan cara membakar jenasah maupun tanpa jenasah. Hanya ada pelaksanaan AupengirimanAy setelah dibuatkan bentuk sekah tunggal, kemudian dilanjutkan dengan upacara nganyut. Pengabenan Swastha Bambang: semua runtutan pelaksanaannya upakaranya dilaksanakan di atas bambang penguburan jenasah. Kwantitas upakaranya sama dengan Pengabenan Swastha Geni hanya saja dalam upakaranya ditambah dengan Aupengandeg bambangAy. Pengabenan Swastha bambang ini tidak disertakan upacara pengerekan dan penganyutan, karena tidak dilakukan pembakaran melainkan dikubur. Sedangkan AupengelemijianAy dan pengerorasan tetap dilaksanakan seperti Ngaben biasa. Pengabenan Kerthi Parwa, termasuk Pengabenan tingkat nistaning utama. Dilakukan pada umat Hindu yang gugur di medan perang. Tidak dilakukan pengaskaran, hanya upacara ngentas dan pengiriman saja. Pelaksanaanya seperti pengabenan Swastha Geni. Pengabenan Swastha Geni atau Swastha Bambang termasuk pengabenan nistaning utama, tidak memakai bale papaga, tidak melaksanakan pangaskaran. Ngaben Ngerit Ngaben ngerit merupakan pengabenan yang dilaksanakan secara berkelompok ataupun secara massal. Ngaben ngerit sering juga disebut ngaben ngegalung. Disebut ngaben ngegalung karena berbarengan, banten yang digunakan adalah satu banten untuk https://jayapanguspress. org/index. php/metta Kegiatan dilakukan secara bersamaan, dimulai dengan ngeplugin di perempatan, nunas atma di pura Dalem, ngagah di setra, ngadegang tetukon atau ngadegang sawa resi dan tetukon dilaksanakan di rombongan atau di Bale banjar. Ngelungah Ngelungah merupakan upacara pengabenan yang dilakukan pada bayi atau anak yang belum meketus . anggal gig. (Perdana, et al. , 2. Upacara ini biasanya lebih sederhana dari pengabenan lainnya. Biasanya upacara ngelungah tidak mencari dewasa ayu, ataupun mencari dewasa yang khusus. Kegiatan ngelungah biasanya dilakukan secara bergandengan dengan upacara ngaben. Warak Keruron Upacara warak keruron merupakan upacara yang dilakukan pada bayi yang mengalami keguguran (Perdana, et al. , 2. Upacara ini merupakan sebuah upacara yang berfungsi sebagai pembersihan kepada si calon ibu. Sama dengan upacara Ngelungah, upacara warak keruron pun dilaksanakan berbarengan dengan pelaksanaan ngaben di desa. Namun sekarang ini, dengan adanya perubahan dalam tatanan kehidupan Masyarakat, kegiatan ngelungah, warak keruron bisa dilaksanakan di tempat crematorium ataupun di tempat lainnya. Ngaben Ngelanus Ngaben Ngelanus bukanlah jenis dari upacara ngaben, melainkan teknis pelaksanaannya yang lebih efisien (Supartika, 2. Dalam ngaben ngelanus upacara berlanjut setelah ngaben langsung memukur atau meperoras. Ngaben ngelanus dibedakan menjadi dua yaitu Upacara Pengabenan Ngelanus Tandang Mantri dan Upacara Pengabenan Ngelanus Tumandang Mantri. Upacara Pengabenan Ngelanus Tandang Mantri merupakan upacara yang dilaksanakan untuk Sadhaka atau Sulinggih. Upacara Pengabenan Ngelanus Tumandang Mantri adalah pelaksanaan upacara pengabenan dan memukur hanya dalam satu hari saja. Upacara ini dapat dilaksanakan pada manusia yang berstatus walaka. Krematorium Sagraha Mandra Kantha Santhi Krematorium merupakan tempat membakar mayat hingga menjadi abu (Poerwadarminta, 1. Krematorium merupakan sebuah kamar mayat yang berfungsi agar supaya mayat yang dibakar dan dikurangi menjadi abu atau krematorium, ruang pembakaran (Adiprana, et al. , 2. Krematorium juga berarti proses pembakaran jenasah secara praktis, cepat, dan modern, karena situasi dan kondisi perkembangan jaman (Arjawa, 2. Krematorium berarti tempat pembakaran yang belum begitu dipahami oleh masyarakat Bali khususnya umat Hindu. Karena pada umumnya dalam melaksanakan pembakaran mayat atau upacara pengabenan dilaksanakan di kuburan atau setra masing-masing desa Pakraman atau desa Adat. Dengan adanya perkembangan zaman dan teknologi, maka kehidupan Masyarakat juga mengalami perubahan, demikian juga dengan kehidupan beragama Masyarakat Hindu di Bali. Seiring dengan adanya konflik dan masalah yang muncul pada saat melaksanakan penguburan dan pengabenan, maka mulailah berdiri sebuah tempat untuk melaksanakan proses pengabenan yang kemudian dikenal dengan nama Di Bali telah terdapat beberapa tempat kremasi yang tersebar di beberapa kabupaten/kota. Dan dalam tulisan ini, yang dibahas adalah tempat kremasi yang terletak di Desa bebalang Bangli. Tempat kremasi yang terletak di desa Bebalang ini, dikelola oleh sebuah Yayasan yang bernama Yayasan Sagraha Mandra Kantha Santhi, dan tempat kremasi ini lebih banyak dikenal dengan nama Krematorium Bebalang. Bangli. Krematorium Bebalang didirikan pada tahun 2019, tempat kremasi ini menggunakan tanah laba Desa Adat Bebalang. Pembangunan dan segala proses dalam https://jayapanguspress. org/index. php/metta kegiatan kremasi inipun mendapat dukungan penuh dari desa adat Bebalang. Letak Krematorium Bebalang, sangat stategis karena berada di jalur utama Gianyar-Bangli. Adapun Patung Barong merupakan penanda dari keberadaan tempat kremasi ini. Patung Barong Ket berada di sebelah timur jalan, dan untuk menuju lokasi crematorium Bebalang, tinggal masuk ke timur di jalan setapak yang berada di depan patung barong Krematorium Bebalang, terletak bersebelahan dengan kuburan umat Muslim yang ada di Bebalang. Bangli. Sarana dan Prasarana yang Harus Dibawa ke Kremasi Pada saat pelaksanaan upacara ngaben, tentunya diperlukan juga sarana dan Sarana dan prasarana tersebut ada yang memang disiapkan oleh pihak Yayasan, namun ada juga yang wajib dibawa oleh keluarga. Semua jenis banten untuk kegiatan ngaben, mulai dari prosesi ngulapin sampai dengan nganyut di segara semuanya telah disiapkan oleh pihak Yayasan. Termasuk tirta pengentas dan juga kajang sari. Adapun saran dan prasarana yang perlu disiapkan oleh keluarga yang melalukan pengabenan adalah lantasan atau tapakan yang merupakan symbol dari sang newata, seperangkat pakaian pengganti yang nantinya akan digunakan setelah prosesi nyiramin, pakaian pengganti ini sering juga disebut dengan pekebah puun. Kajang kawitan dan berbagai jenis Tirta yang dipakai menurut dresta adat yang berlaku di tempat tinggal keluarga yang melakukan pengabenan, kemudian membawa dua gulung kain kasa yang akan digunakan untuk ngeringkes, dan sarana persembahyangan seperti bunga, kuangen dan dupa. Proses Ngaben di Krematorium Bebalang. Bangli Berdasarkan hasil wawancara dengan ketua ketua Yayasan Sagraha Mandra Kantha Santi. I Nyoman Karsana, prosesi ngaben di Krematorium Bebalang Bangli, hanya dapat dilaksanakan oleh warga apabila sudah mendapatkan rekomendasi/ijin dari Kelian Adat/bendesa atau oleh dinas setempat, mengingat kremasi merupakan sebuah solusi untuk warga Hindu dalam melaksanakan yadnya/upacara. Adanya ijin dari kelian Adat/bendesa atau dinas setempat adalah untuk menjaga agar desa adat tetap memiliki nilai di warganya. Adapun ritual kegiatan di Krematorium Bangli didasari dengan pakem Dresta Hindu Bali, yang mana dalam kegiatan ngaben di sesuaikan dengan tingkatan yadnya, yaitu Alit. Madia, dan Utama. Berikut ini adalah penjabaran tingkatan yadnya/upacara di Krematorium Bebalang. Alit . waste geni/swaste bangban. Banten yang dipakai: Saji. Darpana. Panjang Ilang mentah/rateng. Bubur Pirata, bubur kasturi. Catur Bija. Jatah pengangkat angkat,Guru. Taman. Pulegembal. Madia . renawa: Geni,toye,kusa,supt. Banten yang dipakai: Saji. Darpana. Panjang Ilang mentah/rateng. Bubur Pirata, bubur kasturi. Catur Bija. Jatah pengangkat-angkat. Guru. Taman. Pulegembal. Tetukon. Pebangkit. Utama (Ngewangu. Banten yang dipakai ngaskara: Saji. Darpana. Panjang Ilang mentah/rateng. Bubur Pirata, bubur kasturi. Catur Bija. Jatah pengangkat angkat. Guru. Taman. Pulegembal. Tetukon, pisang jati, pring sesigaran, angenan, damar kurung. Pebangkit. Banten Pengiriman ngaben: Saji. Darpana. Panjang Ilang mentah/rateng. Bubur Pirata, bubur kasturi. Catur Bija. Jatah pengangkat angkat. Guru. Taman. Pulegembal,Tetukon. Pebangkit. https://jayapanguspress. org/index. php/metta Adapun Eed/jalannya upacara ngaben di Krematorium Bebalang adalah sebagai Pemandian jenazah. Pemandian jenasah sekaligus upacara ngelelet sawa seperti dresta Hindu Bali, menaruh dedaunan, kuangi atau sesuatu di bagian tubuh almarhum yaitu: Di alis : di taruh daun intaran sebagai harapan alisnya seperti daun intaran . Di mata: di taruh Kaca sebagai harapan nanti matanya se kemilap kaca . Di gigi: di taruh baja dengan harapan giginya sekuat baja . Di bibir: di tarus kembang rijasa, dengan harapan senyumnya manis seperti kembang rijasa . Di kedua ibu jari kaki dan tangan di ikat dengan benang putih, sebagai penyatuan rwe bineda. Ngulapin. Ngulapin sekaligus mamitang di pura dalem/rajepati, karena di krematorium Bangli lengkap ada pengayengan pura Dalem dan Rajepati, dalam proses ini dalam dresta Bali, membuat almarhum menjadi SANG PALASTRA, dimana dengan mantra badan halus /Roh almarhum disemayamkan di lantasan/tigasan, sedangkan yang sebentar akan di bakar adalah badan kasarnya yang terdiri dari pertiwi, apah, teja, bayu, akasa. Opering. Opering atau persembahan kepada almarhum, bila yadnya alit dan madia, di lakukan opering dengan banten sesuai di atas, dan bila yadnya utama atau ngemawun, di laksanakan opering ngaskara/menek bia sekaligus memeras cucu almarhum Persembahyangan. Panca sembah biasa, yang juga berisi persembahyangan kepada almarmum . Proses pembakaran. Dalam proses ini dilakukan pembakaran jazad almarhum yaitu unsur pertiwi, apah, teja, bayu, akasa yang dikembalikan ke asalnya Proses nuduk galih/tulang yang telah di bakar. Nuduk galih merupkan proses mengumpulkan tulang yang telah habis terbakar. Proses ngereka, nguyeg. Pembuatan suku Tunggal. Tulang yang telah diambil dalam proses nuduk galih, kemudian dipilah, disusun dan dibuatkan lagi bentuk tubuh baru . , di lanjutkan dengan nyupit dan dihaluskan . Bahan yang sudah selesai diAyuyegAy kemudian dimasukkan ke dalam bungkak . elapa mud. kemudian ditutup dengan sebuah bentuk piramida ( suku tunggal ). Suku tunggal kemudian dihias dengan beraneka macam bunga-bunga yang wangi . iasanya digunakaan sandat, cepaka, ratna, dan bunga ema. Pengiriman ngaben. Yaitu persembahan sajen sesuai tingkatan yadnya, alit, madia. Mepegatan. Kegiatan mepegatan adalah sebagai simbolis pemutus ikatan cinta dan kasih sayang dengan almarhum. Nganyut. Merupakan proses terakhir dalam rangkaian ngaben di tempat kremasi. Nganyut merupakan yaitu proses pelepasan abu di air. Di tempat crematorium Bebalang, proses nganyut dilakukan di pantai, untuk ngaben di desa biasanya dilakukan di sungai atau sumber air terdekat. Berdasarkan uarain proses ngaben di tempat Krematorium Bebalang, langkah demi langkah yang dilakukan hampir sama dengan ngaben yang dilakukan di desa adat. Hanya saja, tempat pelaksanaannya yang berbeda. Dalam proses kegiatan di krematorium Bebalang, di mulai jam 07. 00 wita dan kurang lebih akan berakhir 13. 00 wita atau memakan waktu kurang lebih selama 6 jam. Selain tingkatan ngaben seperti yang dipaparkan di atas, di Krematorium Bebalang juga melaksanakan kegiatan ngaben Upacara Pengabenan Ngelanus Tumandang Mantri merupakan pelaksanaan upacara pengabenan yang dilanjutkan dengan upacara memukur dan dilaksanakan hanya dalam satu hari saja. https://jayapanguspress. org/index. php/metta Jika yang dilakukan adalah pengabenan ngelanus, maka setelah upacara nganyut dilanjutkan dengan kegiatan ngedetin. Sesampainya di tempat upacara (Piyadnya. dilanjutkan dengan ngadegang Puspa Lingga, menyatukan lantasan yang dibawa dari segara dengan puspa lingga . yilih asi. , melaspas puspa lingga, mepurwa daksina, munggah petak dan ngayab bakti peroras . akti catu. Setelah itu dilanjutkan dengan sembahyang, mralina puspa lingga, nganyut puspa lingga, nyegara Gunung di Pura Goa lawah, dan sesampainya di rumah langsung melinggih. Gambar 1. Proses Pembakaran Jenazah Ngaben Kremasi sebagai sebuah Solusi Kremasi atau pengabuan adalah praktik penghilangan jenazah manusia setelah meninggal dengan cara membakarnya. Biasanya hal ini dilakukan di kuburan atau tempat krematorium di Bali yang disebut setra atau pasetran. Praktik kremasi di Bali disebut Untuk saat ini, masyarakat Hindu Bali, mulai banyak yang menggunakan jasa tempat kremasi. Hal ini dapat dilihat dengan maraknya perkembangan tempat kremasi di Bali. Sampai saat ini di Bali sudah terdapat beberapa tempat kremasi yang tersebar di beberapa Kabupaten. Berdasarkan data yang dapat kami peroleh kurang lebih sudah ada 14 tempat kremasi di Bali. Ini merupakan salah satu bukti bahwa masyarakat di Bali, khususnya yang beragama Hindu sudah banyak yang melaksanakan pengabenan di tempat kremasi. Gambar 2. Sulinggih yang Muput https://jayapanguspress. org/index. php/metta Salah satu tempat kremasi, yang tahun kemarin sangat banyak menerima proses kremasi adalah Krematorium Bebalang. Bangli. Sesuai dengan namanya, tempat kremasi ini terletak di Desa Bebalang. Kelurahan Bebalang. Kecamatan Bangli. Kabupaten Bangli. Krematorium ini dikelola oleh Yayasan Sagraha Mandra Kantha Santhi. Sejak mulai dibuka, bulan Juli 2019 sampai sekarang, masyarakat yang memakai jasa Krematorium Bangli, semakin hari semakin meningkat. Berdasarkan data di sekretariat Yayasan, sampai bulan Desember 2022 sudah mencapai 6000 lebih, dengan rata-rata setiap bulan permintaan kremasi mencapai 70 jenazah/sawa. Berdasarkan data tersebut, kremasi merupakan salah satu solusi yang dipilih oleh warga masyarakat Hindu untuk melaksanakan upacara pengabenan/pitra yadnya. Adapun beberapa alasan yang menyebabkan masyarakat cenderung untuk memilih kremasi sebagai solusi adalah sebagai berikut. Ngaben di tempat kremasi sangat praktis Banyak orang memilih tempat kremasi karena mereka tidak perlu ribet mengurus banten, sarana dan prasarana yang lain. Semua perlengkapan yang dibutuhkan untuk upacara ngaben sudah sepenuhnya disediakan di tempat kremasi, sehingga masyarakat yang akan ngaben hanya cukup datang dengan membawa lantasan, tirta, dan juga alat Ngaben di tempat kremasi memakan waktu yang singkat Tidak seperti halnya ngaben-ngaben di Banjar, dimana setiap warga harus tedun dalam jangka waktu yang lama, bahkan sampai berbulan-bulan apabila ngaben masal. Hal ini tentu saja secara ekonomi sangat merugikan bagi warga yang bekerja diluar daerah atau yang bekerja di instansi-instansi pemerintahan. Dengan melaksanakan ngaben di tempat kremasi, warga hanya memerlukan waktu kurang lebih 6 sampai 8 jam untuk giat upacara di tempat kremasi. Tentu saja hal ini sangat menguntungkan sang pekerja, karena mereka cukup ijin sehari saja untuk melaksanakan upacara. Ngaben di tempat kremasi tergolong murah Ngaben hanya memerlukan biaya antara 15,5 juta sampai dengan 25 juta tergantung dari tingkatan yadnya/upacara yang diambil. Apabila dibandingkan dengan upacara ngaben yang dilaksanakan di desa/banjar hal ini bisa dikatakan murah. Ngaben di desa, apabila melaksanakannya sendiri akan menghabiskan biaya yang jauh lebih mahal, berkisar antar 50 juta sampai dengan 100 juta. Belum lagi waktu pengerjaannya yang lebih lama. Ngaben di tempat kremasi untuk penyakit tertentu Ngaben di kremasi merupakan solusi pengabenan apabila warga yang meninggal menderita sakit tertentu, seperti terkena sakit COVID-19. HIV-AIDS. Dengan langsung diaben/dikremasi, akan meminimalisir penularan dari penyakit tersebut. Ngaben di tempat kremasi sebagai solusi dalam keadaan khusu Ngaben di tempat kremasi sebagai solusi dalam keadaan khusus contohnya apabila ada keluarga yang meninggal sedangkan di keluarga tersebut akan melaksanakan upacara Atma Wedana. Disini tentu saja kremasi sebagai solusinya, karena apabila orang yang meninggal tersebut dikubur tentunya upacara atma wedana untuk keluarga yang lain tidak bisa dilakukan. Sedangkan apabila melaksanakan upacara ngaben di setra, setra masih dalam masa kekeran. Maka satu-satunya alternatif adalah dengan melaksanakan pengabenan di tempat kremasi. Kesimpulan Ngaben merupakan sebuah proses pembakaran jenazah sehingga menjadi abu, jika secara filosofi upacara ngaben merupakan proses pengembalian unsur Panca Maha Bhuta. Dan upacara ini wajib dilakukan agar apabila dalam jangka waktu yang lama tidak https://jayapanguspress. org/index. php/metta dilakukan maka akan menjadi buta cuil. Upacara ngaben terdiri dari beberapa tingkatan, yang pelaksanaanya disesuaikan dengan kondisi ekonomi. Seiring dengan perkembangan zaman, masyarakat cenderung memilik tempat kremasi sebagai tempat melaksanakan upacara pengabenan, salah satunya adalah di Krematorium Sagraha Mandra Kantha Santhi yang terletak di desa Bebalang. Bangli. Masyarakat memilih crematorium sebagai solusi dari upacara pitra yadnya karena ngaben di tempat kremasi sangat praktis, ngaben di tempat kremasi memakan waktu yang singkat, ngaben di tempat kremasi tergolong murah, ngaben di kremasi dilakukan untuk seseorang yang menderita sakit tertentu, dan ngaben di kremasi membantu dalam keadaan khusus. Daftar Pustaka