PENGEMBANGAN SOAL TES BERKONTEKS BUDAYA LOKAL MERON SUKOLILO UNTUK MENGUKUR KEMAMPUAN NUMERASI SISWA SMP KELAS VII Putri Deviansyah1. Rizky Esti Utami2. Irkham Ulil Albab3 1,2,3 Pendidikan Matematika. Fakultas Pendidikan Matematika Ilmu Pengetahuan Alam dan Teknologi Informasi. Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia Semarang. Indonesia putrideviansyahh@gmail. com1 rizkyesti@gmail. com2 irkhamulilalbab@gmail. Corresponding author : putrideviansyahh@gmail. Abstrak Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan soal tes berkonteks budaya lokal Meron Sukolilo untuk mengukur kemampuan numerasi siswa yang valid, praktis dan memiliki efek potensial. Penelitian ini merupakan penelitian R&D dengan model pengembangan 4D . efine, design, develop, disseminat. Namun, pada penelitian ini tidak melaksanakan tahap disseminate. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa SMP Negeri 1 Kayen dengan jumlah 30 siswa Kelas VII. Teknik pengumpulan data berupa wawancara, tes, angket, dan dokumentasi. Instrumen penelitian berupa lembar validasi ahli, angket respon siswa dan lembar tes. Validasi dilakukan oleh ahli instrumen tes dan uji coba terbatas. Hasil penelitian diperoleh kevalidan produk berdasarkan hasil validasi ahli instrumen tes dan uji coba terbatas. Kepraktisan produk diperoleh dari angket respon siswa dengan rata-rata presentase 81,2% kategori Ausangat praktisAy. Efek potensial dilihat dari respon positif siswa dan ketertarikan siswa terhadap soal tes. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa soal tes yang dikembangkan dinyatakan valid, praktis, dan memiliki efek potensial. Kata Kunci: soal tes, kemampuan numerasi, budaya lokal Meron Sukolilo. Abstract : This study aims to produce test questions with the context of Meron Sukolilo local culture to measure students' numeracy skills that are valid, practical and have potential effects. This study is an R&D study with a 4D development model . efine, design, develop, disseminat. However, this study did not carry out the disseminate The sample in this study was students of SMP Negeri 1 Kayen with a total of 30 students in Class VII. Data collection techniques were interviews, tests, questionnaires, and documentation. The research instruments were in the form of expert validation sheets, student response questionnaires and test sheets. Validation was carried out by test instrument experts and limited trials. The results of the study obtained product validity based on the results of expert validation of test instruments and limited trials. The practicality of the product was obtained from the student response questionnaire with an average percentage of 81. 2% in the "very practical" category. Potential effects were seen from students' positive responses and student interest in the test questions. Thus, it can be concluded that the developed test questions are declared valid, practical, and have potential effects. Keywords: test questions, numeracy ability. Meron Sukolilo culture. PENDAHULUAN Perkembangan pendidikan di abad ke-21 menuntut siswa untuk memiliki ketrampilan berpikir tingkat tinggi (High Order Thinking Skill. sebagai bekal menghadapi tantangan global. Salah satu bentuk ketrampilan yang sangat penting dalam pembelajaran matematika adalah kemampuan numerasi. Kemampuan numerasi sangat diperlukan dalam matematika karena tidak hanya tentang rumus, melainkan membutuhkan daya nalar atau pola berpikir kritis untuk dapat menyelesaikan setiap permasalahan yang tersaji (Pulungan, 2. Kemampuan numerasi tidak hanya berorientasi pada penguasaan matematis, tetapi juga pada kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan memecahkan masalah yang berkaitan dengan kehidupan nyata (Putra & Purnomo, 2. Namun, hasil assesmen internasional seperti PISA dan TIMSS menunjukkan bahwa kemampuan numerasi siswa Indonesia masih tergolong rendah (OECD, 2. Berdasarkan Permendikbud No. 5 Tahun 2022 dijelaskan bahwa penting bagi siswa untuk memiliki kemampuan numerasi dalam bernalar menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika untuk dapat menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan diri, lingkungan, masyarakat sekitar, dan masyarakat global. Kemampuan numerasi merupakan pengetahuan dan kecakapan menggunakan, dan mengkomunikasikan berbagai macam angka dan simbol matematika untuk memecahkan berbagai masalah yang muncul dalam kehidupan sehari-hari dan menganalisis informasi yang disajikan dalam berbagai bentuk seperti grafik, tabel, bagan, atau lainnya utnuk mengambil suatu keputusan (Tenny et al. , 2. Kemampuan numerasi ini harus dimiliki oleh siswa sebagai upaya untuk dapat menghadapi tantangan baru di masa depan yang tentunya akan lebih kompetitif (Husna et al. , 2. Tingkat kemampuan setiap orang dalam menguasai numerasi berbeda-beda tergantung pada situasi dan kebutuhan di lingkungan sekitarnya (Rezky et al. , 2. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa rendahnya kemampuan numerasi siswa disebabkan karena siswa tidak terbiasa mengerjakan soal-soal numerasi yang bersifat kontekstual (Fauzi et al. , 2. Faktor lain yang mempengaruhi adalah minimnya inovasi guru dalam menggunakan pendekatan pembelajaran yang relevan (Astuti et al. , 2. Baharuddin et , . , menyatakan bahwa siswa masih kesulitan memahami isi soal matematika dalam bentuk cerita atau kontekstual karena tidak terbiasa dengan soal yang menuntut kemampuan bernalar dan berpikir kritis. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah Pendekatan ini mengintegrasikan unsur budaya lokal dalam pembelajaran matematika untuk meningkatkan pemahaman konsep secara kontekstual dan bermakna (Muhammad, 2. Etnomatematika mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih dekat dengan kehidupan siswa, serta memperkuat karakter melalui pelestarian budaya (Ajmain et al. Penerapan etnomatematika sebagai sarana untuk memotivasi dan menstimulasi siswa dapat membantu mengatasi kejenuhan dan kesulitan siswa dalam pembelajaran (Utami, et al. Melalui pendekatan pembelajaran etnomatematika, harapannya konsep-konsep matematika dapat dikaji dalam praktik-praktik budaya. Selain itu, melalui penerapan etnomatematika siswa diharapkan dapat lebih memahami bagaimana budaya yang terkait dengan matematika. Oleh karena itu, pemanfaatan budaya lokal sebagai konteks dalam soal numerasi dinilai sebagai alternatif solusi yang potensial. Berdasarkan wawancara tidak terstruktur dengan guru mata pelajaran matematika di SMP Negeri 1 Kayen, diperoleh informasi bahwa kemampuan numerasi siswa dalam menyelesaikan soal cerita masih tergolong kurang baik. Siswa masih kesulitan dalam memahami maksud dari soal yang telah disajikan apabila soal yang diberikan dalam bentuk uraian panjang. Hal ini dikarenakan siswa belum terbiasa mengerjakan soal cerita sehingga siswa kesulitan dalam menyelesaikan permasalahan yang Selain itu, hasil observasi lain yang ditemukan menggunakan pendekatan pembelajaran dalam menyampaikan materi kepada siswa. Guru kurang berinovasi dalam membuat soal-soal terutama soal yang kontekstual dengan kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan budaya. Penelitian terdahulu, belum ada yang mengembangkan soal tes untuk mengukur kemampuan numerasi dengan menggunakan konteks budaya lokal Meron Sukolilo pada materi bentuk aljabar. Konteks pengimplementasian budaya lokal Meron Sukolilo diharapkan dapat memperkenalkan kepada siswa tentang apa saja budaya lokal yang ada di Indonesia khususnya di daerah Jawa Tengah. Sehingga, harapannya pengembangan soal tes berkonteks budaya lokal Meron Sukolilo ini dapat membantu untuk mengukur kemampuan numerasi siswa dan menstimulasi proses berpikir siswa. Seperti yang dijelaskan oleh Utami et al. , . , bahwa soalsoal yang dirancang atau dikembangkan diharapkan dapat membantu siswa untuk memahami proses generalisasi informasi lokal, memodelkan ke dalam variabel, hingga memutuskan kesimpulan. Oleh karena itu, pengembangan soal tes berkonteks budaya lokal Meron Sukolilo untuk mengukur kemampuan numerasi siswa menjadi fokus dalam penelitian ini. METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini merupakan jenis penelitian pengembangan Research and Development (R&D). Penelitian ini menggunakan model pengembangan 4D . efine, design, develop, disseminat. yang dikembangkan oleh Thiagarajan. Namun, pada penelitian ini tidak melaksanakan tahap Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Kayen dengan subjek penelitian kelas VII yang berjumlah 30 siswa. Teknik pengumpulan data berupa wawancara, tes, angket, dan dokumentasi. Instrumen dalam penelitian ini adalah lembar angket validasi oleh ahli instrumen tes, lembar tes, dan lembar angket respon siswa. Kemudian data dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Kevalidan soal tes yang dikembangkan dilihat dari data yang dianalisis menggunakan data hasil validasi dari ahli instrumen tes. Data yang dianalisis merupakan hasil perhitungan dari rumus Aiken V pada tiap butir soal yang dikategorikan berdasarkan indeksnya dengan rincian kategori indeks sebagai berikut: Tabel 1. Kriteria Validitas Indeks Kategori > 0,76 Sangat Valid 0,51 Ae 0,75 Valid 0,26 Ae 0,50 Tidak Valid < 0,25 Sangat Tidak Valid (Sumber: Riyani et al. , 2. Data angket setiap butir soal dihitung dengan menggunakan rumus Aiken V sebagai berikut: Kevalidan produk juga dilihat dari hasil uji coba terbatas yang kemudian digunakan untuk menghitung reliabilitas, indeks kesukaran, dan daya Uji reliabilitas dilakukan dengan rincian kategori indeks sebagai berikut: Tabel 2. Kriteria Reliabilitas Indeks Kategori Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah (Sumber: Masullah et al. , 2. Uji reliabilitas dihitung dengan menggunakan rumus Alpha Cronbach sebagai berikut: Perhitungan indeks kesukaran menggunakan rumus sebagai berikut: Perhitungan daya pembeda dilakukan dengan rincian kategori indeks sebagai berikut: Tabel 4. Kriteria Daya Pembeda Indeks Oc Kategori Sangat Baik Baik Cukup Kurang Baik (Sumber: Masullah et al. , 2. Perhitungan daya sebagai berikut: Oc Tabel 3. Kriteria Indeks Kesukaran Indeks Kategori Sukar Sedang Mudah (Sumber: Masullah et al. , 2. Kepraktisan produk yang dikembangkan dilihat dari data yang dianalisis menggunakan data dari angket respon siswa. Data yang dianalisis disajikan dalam bentuk presentase rata-rata nilai kepraktisan yang dikategorikan dengan rincian sebagai berikut: Tabel 5. Kriteria Kepraktisan Soal Tes Indeks Kategori 0 % - 20% Sangat Tidak Praktis 21% - 40% Kurang Praktis 41% - 60% Cukup Praktis 61% - 80% Praktis 81% - 100% Sangat Praktis (Sumber: Septia et al. , 2. Data perolehan skor angket dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: Perhitungan indeks kesukaran dilakukan dengan rincian kategori indeks sebagai berikut: Efek potensial produk yang dikembangkan dilihat dari perasaan siswa atau sikap siswa dalam aljabar terdapat pada awal semester genap di mengerjakan soal yang telah diberikan. Kemudian, kelas VII. efek potensial lainnya dapat dilihat dari kemampuan numerasi yang mungkin dapat d. Analisa Konsep Hasil analisa konsep dilakukan penyusunan dimunculkan siswa melalui tahap penyelesaian soal langkah-langkah yang dilakukan secara rasional yang telah dikerjakan oleh siswa. mulai dari menentukan materi, tujuan pembelajaran, capaian pembelajaran, alur tujuan HASIL DAN PEMBAHASAN pembelajaran, indikator kemampuan numerasi. Hasil Penelitian indikator soal, level kognitif, dan bentuk soal. Penelitian ini dilakukan dengan 3 tahap e. Perumusan Tujuan Pembelajaran yaitu define . , design . , dan Hasil perumusan tujuan pembelajaran develop . Setiap tahapan yang diperoleh dari merangkum hasil seluruh analisa telah dilakukan dalam penelitian ini diuraikan yang telah dilakukan sebelumnya. Hasil dari sebagai berikut: analisa yaitu soal tes numerasi berkonteks Tahap Define (Pendefinisia. budaya lokal Meron Sukolilo yang bertujuan Analisa Awal untuk mengukur kemampuan numerasi siswa. Analisa awal dilakukan dengan studi lapangan dan studi literatur. Hasil studi lapangan Tahap Desain (Desig. berupa wawancara tidak terstruktur dengan guru Hasil dari tahap define dijadikan sebagai mata pelajaran matematika SMP Negeri 1 dasar dalam membuat soal tes. Hal-hal yang Kayen diperoleh informasi bahwa kemampuan dilakukan pada tahap ini diuraikan sebagai berikut: numerasi siswa masih tergolong rendah. Penyusunan Standar Tes Kemudian, dari informasi yang telah diperoleh Penyusunan standar tes dilakukan dengan diperkuat dengan studi literatur yang menghubungkan tahap pendefinisian dengan mendukung terkait faktor-faktor penyebab tahap perancangan. Standar tes rendahnya kemampuan numerasi siswa yaitu dikembangkan yaitu soal tes numerasi meliputi faktor internal dan faktor eksternal. berkonteks budaya lokal Meron Sukolilo. Soal Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh tes yang dikembangkan merupakan soal tes Ayu et al. , . , faktor internal yang bentuk uraian terbuka. Jenis soal ini digunakan mempengaruhi adalah tingkat intelektual, sikap, untuk mengukur kemampuan siswa secara dan psikomotor siswa, sedangkan faktor mendalam, mendorong kemampuan berpikir lingkungan belajar siswa, ketersediaan sarana kemungkinan kesalahpahaman siswa dalam dan prasarana yang kurang memadai, serta menjawab soal. Alokasi waktu pengerjaan soal pengaruh teman sebaya. tes yaitu 120 menit untuk 15 soal bentuk uraian. Analisa Siswa Kemudian kisi-kisi soal tes meliputi capaian Hasil analisa siswa diperoleh informasi pembelajaran, indikator kemampuan numerasi, bahwa sebagian besar siswa masih kesulitan indikator soal, level kognitif, bentuk soal, dan untuk menjawab soal-soal cerita yang diberikan nomor soal. Selanjutnya, menuliskan butir soal oleh guru. Selain itu, terkadang siswa juga yaitu sejumlah 15 butir soal uraian terbuka yang masih merasa kesulitan untuk memahami disesuaikan dengan indikator kemampuan maksud dari soal. Oleh karena itu, siswa numerasi dan indikator soal yang telah dibuat. membutuhkan soal yang dapat mengukur b. Pemilihan Media kemampuan numerasi siswa guna melihat sejauh Pemilihan media yang digunakan dalam mana siswa memahami konsep dalam suatu penelitian ini adalah sebuah tes tertulis berupa materi yang telah dipelajari. soal tes numerasi berkonteks budaya lokal Analisa Tugas Meron Sukolilo. Soal dicetak dengan kertas atau Hasil analisa tugas siswa yang digunakan dikerjakan secara offline. Hal tersebut dalam penelitian harus sudah memperoleh dikarenakan sekolah tidak menggunakan sistem materi yang akan digunakan untuk penelitian soal tes tertulis berbasis online. yaitu materi bentuk aljabar. Materi bentuk c. Pemilihan Format tersebut harus dibuang atau tidak layak untuk Pemilihan format dalam pengembangan ini yaitu soal tes numerasi dengan konteks budaya c. Uji Coba Produk lokal Meron Sukolilo dalam bentuk soal uraian Setelah soal tes numerasi berkonteks terbuka, bukan isian singkat. Pemilihan format budaya lokal Meron Sukolilo diuji kelayakannya tersebut bertujuan untuk memberikan ruang oleh ahli instrumen tes dan diujicobakan pada kepada siswa untuk menalar, menjelaskan kelas uji coba, diperoleh hasil sejumlah 12 butir proses penyelesaian, dan menyampaikan soal tes yang layak untuk digunakan atau jawaban secara runtut. diujikan pada kelas eksperimen. Rancangan Awal Analisis dan Interpretasi Data Rancangan awal yang dilakukan yaitu Setelah dilakukan uji coba produk, berupa keseluruhan perangkat pembelajaran kemudian dilakukan analisis secara kualitatif sebelum uji coba dilaksanakan meliputi kisi-kisi untuk mengetahui efek potensial pada produk soal tes numerasi berkonteks budaya lokal yang dikembangkan. Analisis yang dilakukan Meron Sukolilo, soal tes numerasi berkonteks meliputi hasil pengerjaan soal tes dan hasil budaya lokal Meron Sukolilo, kunci jawaban & wawancara tidak terstruktur dengan siswa. pedoman penskoran soal tes numerasi e. Uji Kepraktisan Produk berkonteks budaya lokal Meron Sukolilo, angket Setelah produk diujikan pada responden kepraktisan soal tes, dan lembar validasi soal tes produk, kemudian siswa diberikan angket numerasi berkonteks budaya lokal Meron dengan sejumlah 20 butir pernyataan guna Sukolilo. melihat kepraktisan produk yang telah Tahap Develop (Pengembanga. Penilaian Ahli Pembahasan Pada tahap pengembangan ini dilakukan Hasil akhir produk dalam penelitian ini kegiatan validasi oleh ahli instrumen tes. adalah soal tes berkonteks budaya lokal Meron Kegiatan validasi ini menggunakan angket yang Sukolilo untuk mengukur kemampuan numerasi telah disusun oleh peneliti. Penilaian yang siswa SMP kelas VII. Pengembangan produk soal indikator tes berdasarkan pada indikator kemampuan kemampuan numerasi dan indikator soal dengan numerasi Kemendikbud 2021 yang mana pada butir soal yang telah dibuat serta aspek produk penelitian ini telah melalui tahap validasi ahli yang terdiri dari aspek konten, konstruk, dan instrumen tes serta uji coba secara terbatas. Pada kegiatan validasi ini terdapat Tahapan ini dilakukan untuk memperoleh saran untuk dan masukan serta penilaian kelayakan produk memperbaiki kekurangan soal sehingga soal yang telah dikembangkan sehingga memenuhi dapat digunakan untuk uji coba secara kriteria validitas, kepraktisan, dan efektifitas. Validasi instrumen tes dilakukan oleh 5 Soal tes yang dikembangkan pada validator yang terdiri dari 3 dosen program studi penelitian ini secara kesuluruhan mendapat respon Pendidikan Matematika Universitas PGRI cukup baik dari siswa pada saat dilakukan uji coba. Semarang dan 2 guru mata pelajaran matematika Soal tes berkonteks budaya lokal Meron Sukolilo SMP Institut Indonesia Semarang. didesain untuk mengukur kemampuan numerasi Uji Coba Terbatas Pada penelitian pengembangan produk soal Setelah dilakukan validasi oleh ahli tes berkonteks budaya lokal Meron Sukolilo untuk instrumen tes, peneliti melakukan uji coba mengukur kemampuan numerasi siswa memiliki terbatas dengan mengambil 2 kelas yang keterbatasan penelitian diantaranya: berjumlah 59 siswa. Setelah itu, dilakukan 1. Pengembangan soal tes berkonteks budaya analisis uji coba terbatas guna melihat kelayakan lokal Meron Sukolilo untuk mengukur soal dengan melakukan uji reliabilitas, indeks kemampuan numerasi siswa pada materi kesukaran, dan daya pembeda. Diperoleh hasil bentuk aljabar. dari 15 butir soal, terdapat 3 butir soal yang 2. Soal tes dalam produk pengembangan tidak layak digunakan karena daya pembeda menggunakan konteks budaya lokal agar siswa dalam kategori kurang baik sehingga soal mampu menyelesaikan soal secara kontekstual berdasarkan budaya yang ada disekitar mereka. Pengembangan soal tes dengan konteks budaya lokal Meron Sukolilo hanya dapat digunakan disekitar daerah yang dekat dengan Sukolilo. Pati. Kevalidan soal tes dilihat dari hasil validasi ahli instrumen tes dan uji coba secara terbatas pada kelas uji coba. Berdasarkan keseluruhan tahapan pengembangan yang telah diuraikan sebelumnya, diperoleh hasil penilaian layak digunakan dengan perbaikan dalam pembelajaran matematika materi bentuk aljabar. Perolehan uji validitas dilakukan dengan memberikan lembar angket validasi kepada ahli instrumen tes. Hasil validasi isi butir soal digunakan rumus Aiken V untuk melihat validitas Diperoleh 5 butir soal dengan kategori sangat valid dan 10 butir soal dengan kategori valid. Pada uji validitas, 3 aspek penilaian yang meliputi aspek konten, konstruk, dan bahasa diperoleh presentase rata-rata 96,33% dengan kategori Ausangat baikAy. Berdasarkan perolehan validasi, maka produk yang dikembangkan layak untuk diujicobakan pada kelas uji coba secara Setelah dilakukan uji coba secara terbatas pada kelas uji coba dengan jumlah siswa sebanyak 59 siswa, maka dilakukan uji reliabilitas, indeks kesukaran, dan daya pembeda. Hasil dari uji reliabilitas dengan menggunakan rumus Alpha Cronbanch diperoleh nilai kriteria nilai tersebut adalah sangat tinggi. Sehingga, dapat disimpulkan produk yang dikembangkan adalah reliable. Kemudian hasil perhitungan indeks kesukaran diperoleh 1 butir soal dengan kriteria sukar, 10 butir soal dengan kriteria sedang, dan 4 butir soal dengan kriteria Lalu hasil perhitungan daya pembeda diperoleh 3 butir soal dengan kategori kurang baik sehingga soal ini harus dibuang atau tidak layak digunakan, 5 butir soal dengan kriteria cukup, 4 butir soal dengan kriteria baik, dan 3 butir soal dengan kriteria sangat baik. Sehingga, setelah dilakukan perhitungan secara keseluruhan pada produk yang dikembangkan terdapat 12 butir soal yang layak digunakan atau diujikan dari 15 butir soal yang telah dikembangkan. Kepraktisan dilihat dengan memberikan angket kepraktisan soal tes yang diberikan setelah produk diujikan. Pada lembar angket terdiri dari 20 Angket diberikan pada 30 siswa kelas eksperimen sebagai responden produk. Hasil analisis angket diperoleh presentase kepraktisan sehingga dapat dikategorikan Ausangat praktisAy. Maka, dapat dikatakan produk yang dikembangkan praktis untuk digunakan mengukur kemampuan numerasi siswa. Dengan demikian, berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa soal tes numerasi dengan konteks budaya lokal Meron Sukolilo adalah valid dan praktis. Efek potensial dilihat dari hasil pengerjaan soal tes oleh siswa dan hasil wawancara tidak terstruktur dengan siswa dan kemudian dianalisis secara kualitatif. Pertama, efek potensial dilhat dari perasaan siswa atau sikap siswa dalam Berdasarkan hasil angket respon siswa dalam mengerjakan soal pada poin pernyataan AuSaya merasa lebih tertarik mengerjakan soal tes yang berkonteks budaya lokal. Ay, sebanyak 23% siswa menjawab sangat setuju, 57% siswa menjawab setuju, dan 20% siswa menjawab kurang setuju. Respon ketertarikan siswa diperkuat dengan alas an-alasan siswa pada wawancara tidak terstruktur yaitu sebagai berikut: Tabel 6. Hasil Wawancara Siswa Kode Respon Alasan Siswa R-30 Sangat Setuju Saya tertarik dengan soal Meron karena saya tau tentang budaya Meron. Ternyata budaya Meron R-5 Sangat Setuju Soal Meron agak unik, berbeda dari soal yang diberikan guru biasanya. R-24 Setuju Saya tertarik pada soal Meron meskipun soalnya R-25 Setuju Saya tertarik karena guru tidak pernah memberikan soal seperti itu. R-8 Kurang Setuju Saya kurang tertarik karena soalnya susah. R-19 Kurang Setuju Saya kurang tertarik soal cerita, lebih suka soal langsung angka. Sebagai dampak ketertarikan siswa terkait penggunaan soal tes numerasi berkonteks budaya lokal Meron Sukolilo, dapat dilihat dari angket respon siswa pada pernyataan AuSaya merasa soal tes berkonteks budaya lokal Meron Sukolilo ini cocok digunakan untuk siswa SMP kelas VII seperti saya. Ay, sebanyak 47% siswa menjawab sangat setuju, 37% siswa menjawab setuju, 13% siswa menjawab kurang setuju dan 3% siswa menjawab sangat tidak setuju. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa siswa memberikan respon positif terhadap instrument tes yang diberikan. Siswa merasa tertarik dan tertantang untuk menyelesaikan soal tes numerasi menggunakan konteks budaya lokal Meron Sukolilo. Hal tersebut dapat dilihat dari presentase ketertarikan siswa yang cukup baik. Respon positif juga dapat dilihat dari komentas yang diberikan siswa dimana siswa memberikan komentar lebih tertarik dan tertantang untuk menyelesaikan soal-soal tersebut meskipun terdapat beberapa siswa yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan dan memahami soal. Efek potensial selanjutnya dapat dilihat dari kemampuan numerasi yang mungkin dapat dimunculkan siswa melalui tahapan penyelesaian soal yang dikerjakan oleh siswa. Berikut ini akan diuraikan beberapa jawaban siswa yang memuat indikator kemampuan numerasi. runtut sesuai dengan indikator kemampuan numerasi 1, 2, dan 3. Dapat dilihat bahwa siswa menuliskan bagian diketahui dan ditanya, yang berarti menunjukkan siswa menjawab soal sesuai dengan tahapan indikator kemampuan numerasi 2 yaitu siswa mampu menganalisis informasi yang ditampilkan di dalam berbagai bentuk yaitu gambar dan bagan untuk menuliskan bagian diketahui dan ditanya dengan tepat. Kemudian, siswa menuliskan bagian jawaban yang mana hal tersebut menunjukkan siswa menjawab soal sesuai dengan tahapan indikator kemampuan numerasi 3 yaitu menggunakan interpretasi hasil analisis untuk keputusan untuk menuliskan bagian jawaban. Lalu, secara keseluruhan langkah penyelesaian yang dituliskan oleh siswa sesuai dengan tahapan menggunakan berbagai macam bilangan dan simbol terkait dengan matematika dasar untuk memecahkan masalah praktis dalam konteks kehidupan sehari-hari. Sehingga, dapat dilihat bahwa siswa dapat menjawab soal tes butir soal nomor 1 yang telah dikembangkan dengan runtut dan baik sesuai pada indikator kemampuan numerasi yang ingin dicapai. Gambar 2. Jawaban R-9 Butir Soal Nomor 2 Gambar 1. Jawaban R-30 Butir Soal Nomor 1 Jawaban di atas adalah salah satu jawaban benar dari siswa. Siswa tersebut menjawab secara Jawaban di atas adalah salah satu jawaban benar dari siswa. Siswa tersebut menjawab secara runtut sesuai dengan indikator kemampuan numerasi 1, 2, dan 3. Siswa menjawab soal sesuai dengan tahapan indikator kemampuan numerasi 2 yaitu siswa mampu menganalisis informasi yang ditampilkan di dalam berbagai bentuk poin-poin untuk menuliskan bagian diketahui dan ditanya dengan tepat dan menuliskan jawaban dalam bentuk tabel. Kemudian siswa menjawab soal sesuai dengan tahapan indikator kemampuan numerasi 3 yaitu menggunakan interpretasi hasil analisis untuk memprediksi dan mengambil kesimpulan keputusan untuk menuliskan bagian Lalu secara keseluruhan langkah penyelesaian yang dituliskan oleh siswa sesuai dengan tahapan indikator kemampuan numerasi 1 yaitu menggunakan berbagai macam bilangan dan simbol terkait dengan matematika dasar untuk memecahkan masalah praktis dalam konteks kehidupan sehari-hari. Sehingga, dapat dilihat bahwa siswa dapat menjawab soal tes butir soal nomor 2 yang telah dikembangkan dengan runtut dan baik sesuai pada indikator kemampuan numerasi yang ingin dicapai. Berdasarkan hasil analisis deskriptif pada contoh kedua jawaban siswa, diketahui bahwa siswa mampu menyelesaikan soal-soal sesuai dengan tahapan indikator kemampuan numerasi dengan baik. Siswa mampu menggunakan berbagai macam bilangan dan simbol yang terkait matematika dasar dengan baik, menganalisis informasi yang ditampilkan dalam berbagai bentuk, dan menggunakan interpretasi hasil analisis dengan baik untuk mengambil kesimpulan. Namun, terdapat beberapa siswa yang memahami maksud soal akan tetapi kesulitan atau Selain itu, terdapat juga beberapa siswa yang tidak memahami maksud soal sehingga kesulitan dalam menjawab soal. Dilihat dari soalsoal yang telah diberikan, banyak siswa yang mampu menyelesaikan soal tanpa menuliskan diketahui dan ditanya namun langsung menuliskan bagian jawaban. Hal tersebut dikarenakan siswa tidak terbiasa menuliskan jawaban dengan runtut. Selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Adam et al. , . , menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi kemampuan numerasi matematika secara umum adalah minimnya pengetahuan siswa terkait kemampuan numerasi serta siswa siswa tidak terbiasa mengerjakan soalsoal numerasi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa soal tes numerasi dengan menggunakan konteks budaya lokal Meron Sukolilo yang dikembangkan memiliki efek potensial. Efek potensial tersebut diantaranya adalah soal tersebut mampu menarik minat siswa dan membuat siswa merasa tertantang untuk menyelesaikan soal. Ketertarikan tersebut tidak terlepas dari motivasi penggunaan budaya Meron Sukolilo sebagai konteks soal. Selain itu, soal-soal tersebut mampu memunculkan kemampuan numerasi siswa dalam menyelesaikan soal. Berdasarkan hasil pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa soal tes yang telah dikembangkan dengan menggunakan konteks budaya lokal adalah valid, praktis, dan memiliki efek potensial. Sehingga, pertanyaan dari rumusan masalah dalam penelitian ini telah terjawab. Hal tersebut menunjukkan bahwa soal tes yang dikembangkan layak digunakan menurut ahli instrumen tes dan hasil uji coba terbatas. Selain itu, soal tes yang dikembangkan juga praktis digunakan untuk mengukur kemampuan numerasi siswa. Soal tes memiliki efek potensial diantaranya mampu menumbuhkan rasa ketertarikan siswa dan memotivasi siswa sehingga siswa merasa tertantang dalam menyelesaikan soal. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Charmila et al. , . menunjukkan bahwa pengembangan soal dengan menggunakan konteks budaya adalah valid, praktis, dan memiliki efek potensial. Sedangkan, pada penelitian lain yang serupa yaitu penelitian yang dilakukan oleh Dasaprawira & Aspriyani, . , juga menghasilkan soal dengan menggunakan konteks budaya yang valid, praktis, dan memiliki efek potensial. Oleh karena itu, terbukti bahwa soal tes dengan menggunakan konteks budaya dapat menjadi alternatif dalam mengukur serta meningkatkan kemampuan numerasi siswa. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa soal tes berkonteks budaya lokal Meron Sukolilo untuk mengukur kemampuan numerasi siswa adalah sebagai berikut: Soal tes berkonteks budaya lokal Meron Sukolilo prosedur pengembangan 4D . efine, design, develop, disseminat. tanpa melaksanakan tahap disseminate. Kualitas soal tes yang dikembangkan dilihat dari kevalidannya layak untuk digunakan berdasarkan penilaian dari ahli instrumen tes terhadap isi butir soal serta hasil analisis aspek isi butir soal yang meliputi konten, konstruk, dan bahasa dengan perolehan presentase ratarata 96,33% pada kategori Ausangat baikAy. Asesmen Kemampuan Minimum ( AKM ) Kepraktisan soal tes dari penilaian angket Numerasi. 3, 24Ae33. respon siswa memperoleh presentase rata-rata Baharuddin, . Sukmawati. , & Christy. 81,2% dengan kategori Ausangat praktisAy. Deskripsi Kemampuan Numerasi Siswa Soal tes berkonteks budaya lokal Meron Menyelesaikan Operasi Pecahan. Sukolilo memiliki efek potensial untuk Pedagogy: Jurnal Pendidikan Matematika, 6. , digunakan mengukur kemampuan numerasi 90Ae101. SMP, mampu Charmila. Zulkardi. , & Darmawijoyo. menumbuhkan rasa ketertarikan siswa dan Pengembangan soal matematika model PISA memotivasi siswa sehingga siswa merasa menggunakan Konteks Jambi. Jurnal Penelitian tertantang dalam menyelesaikan soal. Dan Evaluasi Pendidikan, 20. , 198Ae207. Saran