Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 19 Nomor 2 Oktober 2025 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 Analisis Kedisiplinan Siswa Terhadap Kebijakan Perpustakaan Wana Hartika SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru Dini Olifia Putri Universitas Lancang Kuning Triono Dul Hakim Universitas Lancang Kuning Email: dinioliviaputri98@gmail. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kedisiplinan siswa terhadap kebijakan perpustakaan di Perpustakaan Wana Hartika SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru. Latar belakang penelitian adalah masih ditemukannya pelanggaran terhadap tata tertib dan prosedur peminjaman buku, termasuk peminjaman tidak sah dan kurangnya rasa tanggung jawab terhadap koleksi Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memahami pentingnya tata tertib, namun pelanggaran masih sering terjadi akibat minimnya sosialisasi lanjutan dan pengawasan. Peran kepala perpustakaan, pustakawan, dan staf sangat penting dalam menegakkan kedisiplinan. Simpulan dari penelitian ini adalah perlunya strategi pembinaan dan sosialisasi berkelanjutan untuk menumbuhkan kedisiplinan siswa. Kata kunci: Kedisiplinan siswa, kebijakan perpustakaan, pelanggaran ABSTRACT This study aims to analyze student discipline toward the library policies at Wana Hartika Library of SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru. The background of this research is the frequent violations of rules and book borrowing procedures, including unauthorized borrowing and lack of responsibility for the library collection. This descriptive qualitative research employed observation, interviews, and documentation techniques. The results showed that while most students understood the importance of discipline, violations still occurred due to lack of ongoing policy socialization and supervision. The roles of the library head, librarians, and staff are crucial in enforcing The study concludes that continuous guidance and policy dissemination are essential to improve student discipline. Keywords: Discipline. library policy. book borrowing Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 19 Nomor 2 Oktober 2025 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 PENDAHULUAN Perpustakaan pendidikan yang berfungsi sebagai pusat sumber belajar untuk mendukung kegiatan akademik siswa dan guru. Salah satu elemen penting dalam operasional perpustakaan adalah penerapan kebijakan dan tata tertib yang bertujuan menciptakan suasana tertib, nyaman, serta mendidik siswa dalam membentuk karakter disiplin. Disiplin siswa dalam mematuhi aturan yang berlaku menjadi indikator keberhasilan perpustakaan dalam menjalankan fungsinya sebagai ruang pembelajaran yang kondusif. Penelitian ini dilakukan oleh penulis terhadap siswa SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru yang menjadi pengguna aktif Perpustakaan Wana Hartika. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus 2024 hingga Juni 2025, dengan fokus pada perilaku kedisiplinan siswa dalam mematuhi kebijakan Penelitian ini menjadi penting karena masih ditemukan . nauthorized borrowin. , keterlambatan pengembalian, serta kurangnya rasa tanggung jawab terhadap koleksi perpustakaan. Menurut Kurniawan . , kedisiplinan adalah hasil dari proses pembentukan perilaku yang dilandasi ketaatan terhadap aturan, dan menjadi bagian dari pembentukan karakter siswa. Di sisi lain, teori dari Nahla . menjelaskan bahwa disiplin pemustaka dapat dilihat dari indikator perilaku, ketaatan terhadap kebijakan, kejujuran, ketegasan, dan Dalam mencerminkan sejauh mana siswa memahami, menerima, dan mematuhi kebijakan yang telah ditetapkan oleh lembaga pendidikan. Urgensi dari penelitian ini terletak pada pentingnya mengevaluasi sejauh mana implementasi kebijakan perpustakaan dipatuhi oleh siswa serta bagaimana pihak perpustakaan . epala perpustakaan, pustakawan, dan sta. Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 19 Nomor 2 Oktober 2025 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 menjalankan fungsi sosialisasi dan pengawasan. Penelitian ini juga ingin mengungkap faktor penyebab pelanggaran dan bentuk tanggung jawab siswa terhadap pelanggaran tersebut. Keunikan penelitian ini dibandingkan dengan penelitian sebelumnya terletak pada fokus kajiannya yang tidak hanya menyoroti tingkat pemahaman siswa terhadap tata tertib . eperti pada penelitian Sapli, 2. , tetapi juga menganalisis aspek kejujuran, tanggung jawab, dan mekanisme sosialisasi kebijakan perpustakaan sekolah berbasis karakter kedisiplinan siswa secara menyeluruh. Selain itu, penelitian ini mengangkat studi kasus pada perpustakaan sekolah kejuruan dengan intensitas kunjungan tinggi dan sistem pengelolaan berbasis otomasi, yang jarang dijadikan objek kajian. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya menyajikan gambaran kondisi aktual perilaku disiplin siswa dalam konteks perpustakaan sekolah, tetapi juga menawarkan temuan orisinal mengenai efektivitas kebijakan, peran pustakawan, serta rekomendasi strategis dalam meningkatkan kedisiplinan siswa untuk menunjang keberlanjutan layanan perpustakaan. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif yang bertujuan untuk menggambarkan fenomena kedisiplinan Data dikumpulkan melalui teknik observasi, wawancara mendalam, dokumentasi, dan catatan lapangan. Observasi dilakukan secara non partisipatif untuk melihat perilaku siswa secara alami, sedangkan wawancara dilakukan terhadap kepala perpustakaan, pustakawan, staf perpustakaan, dan delapan orang siswa sebagai informan utama. Pemilihan informan dilakukan dengan teknik purposive sampling, yaitu dengan mempertimbangkan relevansi dan keterlibatan langsung mereka terhadap topik yang diteliti. Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 19 Nomor 2 Oktober 2025 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari data primer yang diperoleh langsung dari hasil wawancara dan observasi, serta data sekunder berupa dokumen kebijakan dan arsip perpustakaan. Penelitian dilaksanakan di Perpustakaan Wana Hartika SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru pada bulan Agustus 2024 hingga Juni 2025. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pihak yang terlibat dalam aktivitas perpustakaan, sementara sampelnya adalah kepala perpustakaan, pustakawan, staf perpustakaan, dan siswa pengguna perpustakaan. Data yang terkumpul disajikan dalam bentuk naratif dan tematik, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi tiga tahap, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan Reduksi data dilakukan dengan menyaring informasi penting, penyajian data dilakukan dalam bentuk uraian deskriptif, dan penarikan kesimpulan dilakukan berdasarkan pola dan temuan yang muncul selama proses penelitian. Ketepatan metode ini sangat menentukan kedalaman hasil analisis, khususnya dalam mengungkap faktor-faktor penyebab pelanggaran kedisiplinan siswa serta efektivitas sosialisasi kebijakan perpustakaan. Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 19 Nomor 2 Oktober 2025 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Kedisiplinan Siswa Terhadap Kebijakan Perpustakaan Wana Hartika SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru Berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan pada Perpustakaan Wana Hartika terkait dengan kedisiplinan siswa terhadap kebijakan perpustakaan mendapatkan respon positif dari kepala perpustakaan, pustakawan, staf perpustakaan dan siswa. Dalam pelaksanaannya peneliti menggunakan analisis kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi Adapun informan dalam penelitian ini yaitu kepala perpustakaan, pustakawan, dan siswa. Untuk Perpustakaan Wana Hartika, peneliti melakukan wawancara kepada kepala perpustakaan, pustakawan dan siswa untuk mendapatkan penjelasan lebih detail mengenai kedisiplinan siswa terhadap kebijakan Perpustakaan Wana Hartika. Berikut kedisiplinan siswa terhadap kebijakan Perpustakaan Wana Hartika yang meliputi lima indikator yaitu sebagai berikut: Kedisiplinan Menurut (Sofia, 2. kedisiplinan adalah tindakan yang menunjukan kepatuhan serta ketaatan terhadap perturan dan norma yang berlaku, baik yang tertulis maupun tidak tertulis. Disiplin merupakan suatu bentuk kesadaran diri secara individu untuk melakukan sesuatu sesuai dengan nilai dan norma yang telah disepakati oleh masyarat atau kelompok. Oleh karena itu, sebuah sistem baru dapat dikatakan berjalan efektif apabila semua pihak yang terlibat mampu menerapkannya secara konsisten. Namun, menjaga dan meningkatkan kedisiplinan bukanlah hal yang Dalam perpustakaan, kedisiplinan juga menjadi hal penting yang harus diterapkan agar semua individu di dalamnya mampu menyesuaikan diri dengan norma dan budaya yang berlaku. Salah satu bentuk disiplin di lingkungan aturan-aturan Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 19 Nomor 2 Oktober 2025 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 Praktik disiplin ini penting untuk menciptakan suasana perpustakaan yang aman, tertib, dan mendukung proses belajar yang Melaksanakan tata tertib dengan baik Melaksanakan tata tertib dengan baik ialah proses siswa mengikuti serta mematuhi peraturan yang telah diterapkan oleh lembaga pendidikan untuk menciptakan lingkungan yang tertib, aman dan kondusif bagi proses Dengan melaksanakan tata tertib, siswa dapat membentuk karakter serta kepribadian yang baik, yang penting untuk kehidupan bermasyarakat (Mabuka,2. Setiap perpustakaan memiliki tata tertib dan kebijakan yang wajib dipatuhi. Kebijakan yang dibuat untuk mengawasi perilaku pengunjung perpustakaan terutama siswa dalam menggunakan Berdasarkan wawancara dengan Kepala Perpustakaan, diketahui bahwa sumber kebijakan yang membuat tata tertib di perpustakaan di Perpustakaan Wana Hartika SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru dari pakta Pakta integritas yang diterapkan di sekolah telah mencakup seluruh aturan dan tata tertib, termasuk ketentuan peminjaman buku yang berlaku di perpustakaan. Kepala perpustakaan menekankan bahwa melalui dokumen ini, seluruh pihak, baik guru maupun siswa, telah disosialisasikan dan diingatkan untuk mematuhi tata tertib yang berlaku selama berada di lingkungan perpustakaan. Tata tertib juga dibuat secara tertulis dan dipajang di dinding dalam perpustakaan dengan tujuan agar siswa dapat dengan mudah membaca tata tertib yang berlaku. Pernyataan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Sapli,2. yang mengatakan bahwa kebijakan atau tata tertib di perpustakaan dibuat sebagai bagian dari upaya mengatur kegiatan pelayanan dan menjaga ketertiban. Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan kepala perpustakaan, pustakawan dan para staf perpustakaan menjelaskan bahwa perpustakaan memiliki tata tertib dan kebijakan yang harus diikuti oleh pustakawan, staf. Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 19 Nomor 2 Oktober 2025 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 dan pengguna layanan. Pakta integritas di sekolah berfungsi untuk menyatukan semua kebijakan, termasuk tata tertib bagi siswa. Meskipun sudah ada sosialisasi tentang peraturan, masih terdapat tantangan dalam menjaga ketertiban, terutama dari siswa yang terkadang tidak mematuhi aturan contohnya meribut di ruangan perpustakaan. Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala perpustakaan, pustakawan, staf, dan siswa, sesuai dengan sub indikator perilaku pengunjung peneliti dapat menyimpulkan bahwa tata tertib dan kebijakan perpustakaan di SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru telah disusun dengan tujuan menciptakan suasana belajar yang nyaman, tertib, dan kondusif. Pakta integritas menjadi dasar penguatan aturan yang berlaku bagi seluruh pengguna perpustakaan, termasuk siswa. Meskipun aturan telah disosialisasikan, kenyataannya ketidakpatuhan terhadap ketentuan berpakaian. Mayoritas pentingnya aturan perpustakaan, karena dinilai membantu menjaga ketertiban dan kenyamanan belajar. Namun, ada pula siswa yang menyampaikan bahwa beberapa aturan perlu dibuat lebih fleksibel dan disesuaikan dengan kondisi siswa, seperti dalam hal berpakaian. Selain itu, beberapa siswa juga mengaku masih sering lupa terhadap tata tertib yang sosialisasi kebijakan. Taat terhadap kebijakan-kebijakan yang berlaku Menurut (Suleman, 2. taat terhadap kebijakan ialah sikap maupun perilaku yang menunjukan kepatuhan terhadap aturan, dan kebijakan ditetapkan suatu organisasi atau institusi. Menghormati prosedur yang ada serta disiplin mengikuti instruksi memastikan kelancaran operasional agar mencapai tujuan organisasi atau instansi serta menciptakan lingkungan yang teratur dan efektif. Perpustakaan memiliki kebijakan yang mengatur tata tertib saat berada di perpustakaan khususnya pada peminjaman buku. Kebijakan tersebut telah disetujui oleh sekolah serta perpustakaan. Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 19 Nomor 2 Oktober 2025 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 Kebijakan juga disosialisasikan kepada para pustakawan dan staf agar dapat menjalankan kebijakan dengan baik. Tidak lupa juga kebijakan juga disosialisasikan kepada siswa ketika orientasi siswa (MOS) berlangsung agar seluruh siswa dapat memahami kebijakan yang berlaku. Pernyataan dari Kepala Perpustakaan dan Pustakawan menunjukkan bahwa sosialisasi kebijakan perpustakaan kepada siswa telah dilakukan, terutama melalui kegiatan Masa Orientasi Siswa (MOS) untuk kelas satu dan pengenalan singkat saat proses belajar bagi kelas dua dan tiga. Namun, penyampaian aturan cenderung bersifat satu kali di awal dan hanya diulang jika ada pelanggaran. Hal ini menunjukkan bahwa sosialisasi belum dilakukan secara rutin dan sistematis, sehingga dapat menyebabkan sebagian siswa kurang memahami atau melupakan aturan yang berlaku di Sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh (Sapli,2. yang mengatakan bahwa sosialisasi yang dilakukan melalui berbagai cara seperti pemberian informasi secara langsung oleh pustakawan saat pendaftaran anggota perpustakaan, penempelan tanda serta rambu-rambu tata tertib di area perpustakaan, serta melakukan kegiatan pengenalan perpustakaan pada masa orientasi siswa. Berdasarkan dengan wawancara dengan pihak perpustakaan, maka dapat disimpulkan bahwa kebijakan di Perpustakaan Wana Hartika telah disosialisasikan kepada pustakawan maupun kepada staf sesuai dengan yang telah ditetapkan. Serta kebijakan yang telah diatur bagi siswa disosialisasikan melalui kegiatan masa orientasi siswa (MOS) pada saat pertama kali bersekolah di SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru. Berdasarkan hasil wawancara dengan siswa, dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa kekurangan dalam sosialisasi kebijakan di perpustakaan. Beberapa siswa merasa bahwa mereka sering lupa tentang aturan yang ada di perpustakaan, khususnya dalam peminjaman buku di perpustakaan. Siswa sering lupa untuk meminjam buku dengan aturan yang berlaku. Meskipun pihak perpustakaan telah memberikan penjelasan terkait dengan kebijakan peminjaman buku di perpustakaan saat melakukan masa orientasi Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 19 Nomor 2 Oktober 2025 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 siswa (MOS) pada tahun awal siswa berada di sekolah, namun informasi itu dirasa belum cukup bagi siswa. Hal ini menunjukan perlunya ada sosialisasi tambahan untuk selalu mengingatkan siswa bagaimana cara meminjam buku dengan baik dan benar. Berdasarkan Perpustakaan Wana Hartika SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru, untuk sub peraturan yang jelas mengenai pemahaman kebijakan oleh pustakawan dan Tetapi pada pelaksanaannya masih ada siswa yang lupa dan kurang disiplin terhadap kebijakan yang berlaku di perpustakaan. Jujur Jujur adalah sifat yang mencerminkan keselarasan antara perkataan dan perbuatan dengan benar. Jujur merupakan kesesuaian sikap antara perbuatan dan perkataan. Menurut (Chairilsyah, 2. jujur ialah sifat terpuji yang mencerminkan kesesuaian antara ucapan dan perbuatan dengan kebenaran guna membangun pondasi utama pembentukan karakter yang baik. Jujur meliputi aspek ucapan, perbuaan dan niat. Sikap jujur khususnya pada siswa dalam kebijakan peminjaman buku menjadi Didapati kedisiplinan dalam peminjaman buku. Pada wawancara terhadap informan Kepala Pepustakaan, ditemukan perilaku tidak jujur siswa dalam meminjam Siswa melakukan peminjaman buku tidak melalui sistem peminjaman yang sah. Dijelaskan kembali bahwa pelanggaran tersebut disebabkan oleh intensitas siswa yang datang begitu ramai pada waktu yang bersamaan sehingga pelangaran luput dari pengawasan pustakawan Berdasarkan pernyataan Kepala Perpustakaan dan Pustakawan, dapat disimpulkan bahwa masih terjadi pelanggaran kedisiplinan oleh siswa berupa unauthorized borrowing . nauthorized borrowing . eminjaman tidak Hal ini disebabkan oleh dua faktor utama, yaitu terbatasnya pengawasan saat jam kunjungan ramai dan adanya siswa yang sengaja menghindari aturan karena jumlah peminjaman buku telah habis. Kondisi Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 19 Nomor 2 Oktober 2025 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 ini menunjukkan perlunya sistem peminjaman yang lebih efektif serta pengawasan yang diperkuat untuk mencegah terjadinya pelanggaran serupa di masa mendatang. Kejujuran dalam peminjaman buku sangat penting untuk menjaga setiap koleksi yang ada di perpustakaan agar dapat digunakan kembali oleh Staf Perpustakaan menjelaskan bahwa ada dua tahapan yang harus siswa lewati setelah melakukan peminjaman buku. Pertama setelah buku dilakukan pendataan pada bagian layanan sirkulasi, lalu siswa diwajibkan melakukan pengecekan berulang pada pintu keluar perpustakaan sebelum siswa membawa buku yang telah dipinjam untuk keluar perpustakaan. Berdasarkan hasil wawancara dengan siswa, mengenai proses peminjaman buku di Perpustakaan Wana Hartika SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru dapat disimpulkan bahwa mayoritas siswa memahami dan mengikuti tata tertib yang berlaku. Mereka menyebutkan langkah-langkah yang jelas, seperti mencatat nama di komputer, mencari buku, dan memastikan buku yang dipinjam telah dicatat serta distempel oleh petugas. Siswa seperti Ahmad Fadil dan Lian menunjukkan kejujuran dengan tidak berani meminjam tanpa melapor, mencerminkan kesadaran akan pentingnya Namun, terdapat pengakuan dari informan siswa, seperti Vidal dan Ahmad Afdal, yang pernah melanggar karena terburu-buru atau mengikuti teman, menunjukkan bahwa meskipun siswa patuh pada situasi tertentu dapat memicu pelanggaran. Berdasarkan Perpustakaan Wana Hartika SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru, untuk sub indikator kejujuran dalam peminjaman buku masih terdapat pelanggaran kedisiplinan siswa dalam peminjaman buku. Didapati beberapa siswa melakukan unauthorized borrowing . eminjaman tidak sa. yang disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor yang ditemukan oleh peneliti ialah adanya kepadatan pengunjung perpustakaan, kurangnya pengawasan oleh petugas perpustakaan dan kesadaran siswa yang masih kurang pada situasi tertentu. Oleh karena itu dibutuhkan peningkatan pengawasan, serta edukasi nilai Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 19 Nomor 2 Oktober 2025 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 kejujuran serta sistem peminjaman yang lebih efisien untuk menciptakan lingkungan perpustakaan yang aman dan kondusif. Tegas Tegas mengedepankan pendiriannya (Alfiatun, 2. Sikap tegas di perpustakaan merupakan karakteristik penting bagi siswa dalam mematuhi kebijakan perpustakaan, karena mencerminkan komitmen terhadap aturan sehingga menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Dengan bersikap tegas, siswa dapat berkontribusi pada keteraturan dan efektivitas penggunaan fasilitas perpustakaan, yang tidak hanya menguntungkan diri sendiri, tetapi juga teman-teman serta lingkungan perpustakaan. Selain itu, sikap ini membantu siswa mengambil keputusan yang tepat, memanfaatkan sumber daya perpustakaan secara maksimal, dan memenuhi kebutuhan akademis. Peneliti melakukan wawancara untuk mengetahui bagaimana sikap tegas pihak perpustakaan terhadap kesadaran siswa dalam perilaku peminjaman buku diperpustakaan. Dalam wawancara bersama Kepala Perpustakaan, peneliti dapat menyimpulkan bahwa pihak perpustakaan selalu menunjukan sikap tegas dalam menyikapi perilaku peminjaman buku oleh siswa namun tetap Pemberian memberikan efek jera bagi siswa yang melanggar, seperti mengganti buku yang rusak atau hilang, serta tugas tambahan seperti membersihkan Dalam kasus tertentu, tanggung jawab kolektif juga Pernyataan berkomitmen menjaga kedisiplinan dengan tegas sambil tetap mendidik siswa agar siswa dapat sadar akan pentingnya disiplin dalam peminjaman buku di perpustakaan. Berdasarkan pustakawan serta staf perpustakaan, peneliti dapat menyimpulkan bahwa perpustakan telah bertindak tegas dalam penerapan disiplin dan sanksi di Karena Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 19 Nomor 2 Oktober 2025 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 penggunaan fasilitas. Sanksi diberikan kepada siswa yang melanggar aturan, baik berupa penggantian buku yang hilang atau hancur, maupun tugas Pustakawan menekankan bahwa sikap tegas dan disiplin siswa berkontribusi pada efektivitas pengelolaan perpustakaan. Dengan adanya penegakan aturan, diharapkan siswa dapat lebih bijak dan bertanggung jawab dalam menggunakan fasilitas perpustakaan, sehingga menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Berdasarkan hasil wawancara dengan siswa, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar siswa telah menunjukkan sikap tegas dan kesadaran untuk tidak meminjamkan atau menggunakan kartu anggota milik orang lain, karena memahami bahwa hal tersebut melanggar aturan perpustakaan dan dapat berakibat sanksi. Namun demikian, masih terdapat beberapa siswa membiarkan buku yang dipinjam dibaca bersama hingga berisiko rusak atau Temuan ini menunjukkan bahwa kesadaran dan ketegasan siswa dalam mematuhi kebijakan peminjaman buku belum merata dan masih perlu ditingkatkan melalui pengawasan serta pembinaan karakter yang lebih Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Fitria,2. mengenai atauran perpustakaan dalam peminjaman buku hanya boleh dilakukan dengan menggunakan Kartu Tanda Anggota (KTA) pribadi yang masih aktif, tetapi masih ditemukan peminjaman buku dengan menggunakan KTA milik orang lain. Berdasarkan pustakawan, staf, dan siswa, untuk sub indikator kesadaran siswa dalam perilaku peminjaman buku di perpustakaan dapat disimpulkan bahwa kesadaran siswa dalam perilaku peminjaman buku di Perpustakaan Wana Hartika SMK Kehutanan Negeri kecenderungan utama. Pekanbaru Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 19 Nomor 2 Oktober 2025 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 Sebagian besar siswa telah memahami dan menunjukkan sikap tegas dalam mematuhi aturan, seperti tidak meminjamkan atau menggunakan kartu anggota milik orang lain serta menjaga jumlah dan penggunaan buku yang dipinjam secara bijak. Sikap ini merupakan bentuk komitmen terhadap aturan dan mencerminkan kesadaran akan pentingnya kedisiplinan dalam menciptakan lingkungan perpustakaan yang tertib dan kondusif. Namun demikian, masih terdapat sebagian siswa yang kurang menunjukkan kesadaran disiplin, seperti meminjamkan kartu anggota kepada teman, menggunakan kartu milik orang lain, atau membiarkan buku dibaca bersama hingga berisiko rusak atau hilang. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran dan ketegasan siswa dalam menjalankan aturan belum merata, serta masih dipengaruhi oleh kelalaian, rasa enggan, atau tekanan Dari sisi pengelola perpustakaan, telah diterapkan sanksi secara tegas namun edukatif bagi pelanggar aturan, baik berupa denda, penggantian buku, tugas tambahan, hingga tanggung jawab kolektif. Langkah ini dilakukan untuk memberikan efek jera sekaligus menumbuhkan kesadaran tanggung jawab di kalangan siswa. Secara keseluruhan, kesadaran siswa dalam perilaku peminjaman buku masih perlu ditingkatkan melalui pengawasan yang konsisten, pembinaan karakter, dan sosialisasi aturan secara berkelanjutan agar tercipta budaya disiplin yang merata di lingkungan Bertanggung Jawab Tanggung jawab ialah kemampuan untuk merespon atau menjawab tindakan maupun keputusan yang diambil. Menghadapai konsekuensi dan mengakui kesalahan atas akibat dari tindakan yang dilakukan (Zakaria. Bertanggung jawab merupakan sikap yang menunjukan kesadaran dan kesanggupan seseorang atau kelompok untuk melaksanakan tugas dan Kepala Perpustakaan bertanggung jawab memastikan semua pihak . ustakawan, staf perpustakaan dan sisw. memahami setiap kebijakan yang berlaku. Berdasarkan wawancara yang telah peneliti Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 19 Nomor 2 Oktober 2025 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 lakukan, peneliti mengetahui bahwa Perpustakaan Wana Hartka melakukan rapat evaluasi bulanan. Rapat evaluasi bulanan yang dipimpin oleh Kepala Perpustakaan membahas evaluasi kegiatan perpustakaan setiap dua bulan sekali, termasuk kendala-kendala yang dihadapi oleh pustakawan dan staf Dijelaskan kembali oleh informan pustakawan Bapak Rizki Agung bahwa salah satu kendala yang paling sering dibahas pada evaluasi rapat bulanan ialah mengenai kedisiplinan siswa, khususnya dalam peminjaman Perpustakaan Wana Hartika pada setiap 3 bulan sekali melakukan inspeksi barak. Dimana pustakawan dan staf perpustakaan memeriksa setiap barak siswa untuk mencari buku-buku yang dipinjam secara tidak Sesuai dengan penjelasan informan pustakawan, pada inspeksi barak pustakawan dan staf perpustakaan menemukan lebih kurang 200 buku berbeda-beda. Perpustakaan bertanggung jawab sesuai dengan pelanggaran yang telah dilakukan. Pelanggaran dalam pengembalian buku, siswa dikenai biaya Rp. 500 rupiah untuk 1 hari keterlambatan. Pelanggaran dalam peminjaman buku tidak sah disesuaikan dengan keadaan buku yang ditemukan di barak. Jika buku tersebut ditemukan rusak tetapi tidak ditemukan siswa yang mengakui kesalahannya, maka akan diberikan hukuman dengan istilah Tapol. Tapol ialah program pembinaan karakter siswa agar memiliki sikap tertib, disiplin terutama dalam mengikuti kebijakan di perpustakaan. Sanksi Tapol biasanya dilakukan siswa secara individu maupun kelompok. Sanksi tapol yang diberikan oleh perpustakaan ialah kerja bakti di perpustakaan oleh siswa yang melanggar selama 1-2 minggu sesuai dengan pelanggaran yang Bertanggung jawab bagi siswa adalah sikap yang mencerminkan kesadaran dan kesanggupan siswa dalam melaksanakan tugas serta kewajiban, termasuk dalam bertanggung jawab menerima sanksi yang diberikan oleh perpustakaan jika ditemukannya pelanggaran kedisiplinan kebijakan di perpustakaan. Selain melakukan wawancara dengan pihak Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 19 Nomor 2 Oktober 2025 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 perpustakaan, peneliti juga melakukan beberapa wawancara dengan siswa terkait dengan bertanggung jawab menerima sanksi yang diberikan oleh perpustakaan jika ditemukannya pelanggaran kedisiplinan kebijakan di Dari hasil wawancara dengan informan siswa, peneliti mengetahui bahwa siswa pernah melakukan pelanggaran terkait peminjaman buku di perpustakaan dengan sanksi yang berbeda. Rival mengaku terlambat mengembalikan buku karena teman yang meminjam, yang mengakibatkan denda yang dibayar oleh temannya. Vidal Abi mendapatkan hukuman Tapol selama satu minggu akibat sidak di barak. Ahmad Afdal menunjukkan sikap tanggung jawab dengan jujur dan menerima sanksi berupa tugas bersihbersih perpustakaan selama tiga hari. Sementara itu. Zaki harus mengganti buku yang ditemukan dalam keadaan basah, menegaskan pentingnya tanggung jawab dalam peminjaman. Peneliti menemukan bahwa terdapatnya variasi sanksi tidak tertulis dalam penanganan masalah peminjaman buku di perpustakaan. Berdasarkan menemukan bahwa terdapat berbagai respons terkait tanggung jawab siswa terhadap sanksi yang diberikan akibat pelanggaran kebijakan peminjaman Beberapa siswa, seperti Ahmad Fadil Afandi dan Lian Riang Wulung, mengatakan bahwa selalu mematuhi aturan dengan selalu menggunakan kartu anggota dan tidak terlambat mengembalikan buku. Sebagian siswa termotivasi mendapatkan hadiah jika telah menjadi siswa dengan peminjam buku terbanyak. Pada siswa lain seperti Gwen Rosadana Bintang dan Rival mengakui pernah mengalami sanksi, baik berupa denda maupun hukuman dikarenakan keterlambatan pengembalian buku. Siswa Vidal Abi dan Ahmad Afdal juga menunjukkan bahwa mereka melihat sanksi sebagai bagian dari proses pembelajaran. Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan untuk sub indikator bertanggung jawab terhadap pelanggaran kedisiplinan yang dilakukan, peneliti dapat menyimpulkan bahwa tanggung jawab dalam peminjaman Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 19 Nomor 2 Oktober 2025 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 buku di perpustakaan merupakan sikap yang penting bagi siswa dan staf Kepala Perpustakaan, serta staf perpustakaan menjelaskan bahwa ada sistem evaluasi yang dilakukan rutin oleh pihak perpustakaan dan sanksi yang terstruktur maupun tidak terstruktur termasuk hukuman sosial seperti kerja bakti. Sebagian informan siswa, mematuhi aturan dan berusaha untuk tidak melanggar kebijakan perpustakaan. Disisi lain, ada siswa yang pernah mengalami sanksi namun tetap melihatnya sebagai bagian dari proses pembelajaran. Meskipun ada beberapa pelanggaran, mayoritas siswa menunjukkan kesadaran dan tanggung jawab yang positif, yang mencerminkan nilai-nilai disiplin dan kejujuran di lingkungan Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Fitria, 2. di Perpustakaan UIN AR-Raniry Banda Aceh yang menunjukan bahwa pengunjung yang terlambat mengembalikan buku dapat dikenakan sanksi didenda Rp. 500 perhari. Kerusakan maupun kehilangan buku yang disebabkan kelalaian pengunjung wajib mengganti dengan buku sejenis ataupun dalam disiplin ilmu yang sama. Pada penelitian oleh (Fitria,2. terdapat sanksi berat yaitu pencabutan keangotaan perpustakaan maupun diserahkan kepada pihak berwajib yang disebabkan oleh pencurian perusakan ataupun peminjaman buku tidak sah sesuai dengan kebijakan peminjaman buku. Sanksi ini menunjukan bahwa pelangaran serius tidak hanya diproses sacara internal tetapi juga melalui jalur hukum, sehingga mengedukasi engguna untuk bertanggung jawab secara hukum. Perbedaannya terletak pada bahwa Perpustakaan Wana Hartika memiliki sanksi sosial yang mengatur siswa yang melakukan tindak ketidak disiplinan terhadap kebijakan peminjaman buku. Sanksi sosial yang diberikan disesuaikan dengan bentuk kesalahan yang dilakukan oleh siswa. Sanksi yang diberikan berupa kerja bakti yang dilakukan secara individu maupun kelompok oleh para siswa. Sanksi sosial ini diharapkan agar siswa dapat bertanggung jawab dengan pelanggaran yang telah diperbuatnya dan tidak mengulangi pelanggaran tersebut Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 19 Nomor 2 Oktober 2025 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 PENUTUP Simpulan Setelah melalui proses wawancara, observasi, dan analisis dalam penelitian mengenai kedisiplinan siswa terhadap kebijakan Perpustakaan Wana Hartika SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru, beberapa kesimpulan dapat diambil. Berikut adalah ringkasan temuan penelitian faktor yang menyebabkan pelanggaran kedisiplinan terhadap peminjaman buku di Perpustakaan Wana Hartika SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru: Bentuk Kedisiplinan Siswa dalam Mematuhi Tata Tertib dan Kebijakan Perpustakaan Bentuk kedisiplinan siswa dalam mematuhi tata tertib dan kebijakan Perpustakaan Wana Hartika SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memahami dan menerima kebijakan yang telah ditetapkan. Siswa menyadari pentingnya mematuhi aturan untuk menciptakan suasana belajar yang kondusif. Namun, masih ditemukan beberapa pelanggaran disiplin seperti keributan dan pelanggaran berpakaian, terutama saat perpustakaan dalam kondisi ramai. Hal ini menunjukkan perlunya peningkatan intensitas sosialisasi dan pengawasan terhadap pelaksanaan tata tertib. Bentuk Pelanggaran terhadap Prosedur Peminjaman Buku Bentuk pelanggaran terhadap prosedur peminjaman buku yang ditemukan meliputi praktik unauthorized borrowing, yaitu siswa membawa pulang buku tanpa melalui prosedur peminjaman resmi. Pelanggaran ini umumnya terjadi karena kurangnya pengawasan saat jam kunjungan ramai dan terbatasnya kuota peminjaman. Meskipun sebagian besar siswa memahami alur peminjaman yang benar, terdapat pula kasus siswa yang dengan sengaja atau karena terburu-buru melewatkan prosedur yang Hal ini menunjukkan masih lemahnya kesadaran dan sikap jujur dalam menjalankan prosedur yang ditetapkan. Peran Kepala Perpustakaan. Mensosialisasikan Kebijakan Pustakawan. Staf Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 19 Nomor 2 Oktober 2025 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 Peran kepala perpustakaan, pustakawan, dan staf sangat penting dalam mensosialisasikan kebijakan dan menegakkan kedisiplinan siswa. Sosialisasi kebijakan dilakukan terutama saat masa orientasi siswa (MOS), namun pelaksanaannya belum dilakukan secara rutin dan berkelanjutan. Pustakawan dan staf juga berperan dalam memberikan pengawasan, terutama saat keluar-masuknya siswa di pintu perpustakaan. Kendati demikian, keterbatasan jumlah pustakawan dan intensitas kunjungan yang tinggi menyulitkan pengawasan yang maksimal. Oleh karena itu, perlu Saran Untuk Pihak Perpustakaan Diharapkan pihak perpustakaan dapat meningkatkan sosialisasi kebijakan secara berkelanjutan, tidak hanya saat MOS, tetapi juga melalui media visual, digital, dan pengingat berkala agar siswa lebih memahami dan mengingat peraturan yang berlaku. Untuk Pustakawan dan Staf Disarankan untuk memperkuat sistem pengawasan, khususnya saat jam-jam padat kunjungan. Penambahan personil atau penggunaan sistem barcode otomatis di pintu keluar dapat menjadi alternatif solusi untuk mengurangi pelanggaran peminjaman buku. Untuk Siswa Siswa diharapkan dapat meningkatkan kesadaran diri terhadap pentingnya disiplin, jujur, dan bertanggung jawab dalam menggunakan fasilitas perpustakaan. Hal ini akan menciptakan lingkungan belajar yang tertib, aman, dan mendukung proses pendidikan secara menyeluruh. Untuk Sekolah Pihak perpustakaan melalui penyediaan sumber daya manusia, anggaran, dan kebijakan yang mendukung penegakan tata tertib serta memberikan penghargaan bagi siswa yang disiplin sebagai bentuk motivasi. Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 19 Nomor 2 Oktober 2025 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 DAFTAR PUSTAKA