Jurnal Kajian Ilmiah e-ISSN: 2597-792X. ISSN: 1410-9794 Vol. 23 No. 2 (Mei 2. Halaman: 167 Ae 176 Terakreditasi Peringkat 4 (SINTA . sesuai SK RISTEKDIKTI Nomor. 158/E/KPT/2021 Kekerasan Simbolik Pada Teks Pemberitaan COVID-19 Di Media Daring Gorontalo Julianur Rajak Husain 1,*. Noval Sufriyanto Talani 1. Yowan Tamu 1 Fakultas Ilmu Sosial. Universitas Negeri Gorontalo. e-mail: julianur. rajak@gmail. noval_st@ung. id, yowan. tamu@ung. * Korespondensi: e-mail: julianur. rajak@gmail. Submitted: 18/04/2023. Revised: 23/04/2023. Accepted: 18/05/2023. Published: 27/05/2023 Abstract The COVID-19 pandemic has become a momentum for global and local mass media to compete to present news about the surge in cases of transmission of coronavirus diseases, including Gorontalo's local online media. Gopos. This research was raised from the problem of how the news text of COVID-19 in online media such as Gopos. id is displayed. The purpose of this research is to find out about the discourse on COVID-19 and to identify and find hidden signs of symbolic violence in the news text of COVID-19 on the online media Gopos. id through the use of certain words, phrases, or sentences. News texts are analyzed using qualitative methods with a knife of analysis using semiotics from M. K Halliday, which includes . the field of discourse, . the tenor of discourse, and . the mode of discourse. Based on the research results, symbolic violence in COVID-19 reporting texts in the online media Gopos. tends to appear in discourse fields and discourse modes or language styles and is implicitly presented to the discourse participants. Because symbolic violence is invisible or hidden, victims tend not to realize it. Keywords: COVID-19. Mass Media. News Text. Online Media. Symbolic Violence Abstrak Pandemi COVID-19 menjadi momentum ramainya media massa global dan lokal berlombalomba menyajikan pemberitaan tentang lonjakan kasus penularan coronavirus diseases, tidak terkecuali media daring lokal Gorontalo yakni Gopos. Penelitian ini diangkat dari permasalahan tentang bagaimana teks pemberitaan COVID-19 di media daring seperti Gopos. id ditampilkan. Tujuan dari penelitian ini ialah mengetahui wacana tentang COVID-19, mengidentifikasi dan menemukan tanda-tanda kekerasan simbolik yang tersembunyi dalam teks pemberitaan COVID-19 di media daring Gopos. id melalui penggunaan kata, frasa, ataupun kalimat-kalimat tertentu. Teks pemberitaan dianalisis menggunakan metode kualitatif dengan pisau analisisnya menggunakan semiotika dari M. K Halliday yang meliputi . medan wacana . ield of discours. , . pelibat wacana . enor of discours. , dan . mode wacana . ode of Berdasarkan hasil penelitian secara umum kekerasan simbolik pada teks pemberitaan COVID-19 di media daring Gopos. id cenderung muncul pada penggunaan medan wacana dan mode wacana atau gaya bahasa serta secara implisit dihadirkan pada pelibat Dikarenakan kekerasan simbolik adalah kekerasan tidak kasat mata atau kekerasan tersembunyi maka korban cenderung tidak menyadarinya Kata kunci: COVID-19. Media Massa. Teks Berita. Media Daring. Kekerasan Simbolik Available Online at http://ejurnal. id/index. php/JKI Julianur Rajak Husain. Noval Sufriyanto Talani. Yowan Tamu Pendahuluan Kehadiran COVID-19 membawa beragam perubahan di kalangan masyarakat, seperti perubahan dari konsumsi media konvensional menjadi media daring secara signifikan (Pratama & Yuliani, 2. Pandemi COVID-19 membuat masyarakat Indonesia menjadi lebih aktif menggunakan internet selama tahun 2020. Berdasarkan Laporan Tren Konsumsi Media di Indonesia diterbitkan oleh Dable, platform penelusuran konten di Asia, jumlah konten media daring dari FebruariAeMaret 2020 meningkat hingga 28% (Barlian, 2. Naiknya kuantitas pemberitaan selama pandemi dipicu oleh kebutuhan informasi meningkat, akses ke sumber informasi cepat dan mudah, serta biaya produksi yang dikeluarkan untuk mengakses informasi cenderung murah. Di tengah merebaknya wabah coronavirus diseases hadirlah infodemik, yakni informasi tentang suatu wabah diproduksi oleh individu, kelompok, maupun institusi tertentu, entah bersifat benar atau tidak menyebar secara luas dan tidak bisa dikontrol (Senaharjanta & Fendista, 2. Gempuran produksi informasi juga turut memunculkan kembali fenomena information overload. Kelebihan informasi atau information overload adalah dampak dari lelahnya pengguna social network sites ketika mengonsumsi banyak informasi dan akses komunikasi (Lee. Son, dan Kim, 2016 dalam Kumalasari, 2. Riset dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia (PDSKJI) yang 522 responden menunjukkan ada sebanyak 64,3% dari total responden memiliki masalah psikologi berupa cemas dan depresi (Mutia, 2. ketika membaca berita tentang COVID-19. Hasil riset ini secara tidak langsung turut menggambarkan bagaimana pemberitaan tentang suatu wabah disertai dengan berlangsungnya fenomena information overload mampu memicu ketakutan, kekhawatiran, kekalutan, dan pelbagai jenis masalah psikologis lainnya. Teks pemberitaan seperti ini condong pada berita dengan muatan kekerasan simbolik. Kekerasan simbolik merupakan cara dominasi halus, lembut, dan tidak terlihat yang mencegah dominasi yang tidak dapat dikenali dan dikenalkan secara sosial (Suraya, 2. Kekerasan simbolik termasuk pada kekerasan wacana . adalah aktivitas intelektual, bekerja pada olah pikir sehingga korban menerima pelbagai bentuk kekerasan seperti kekerasan fisik maupun kekerasan psikis secara sukarela dan sah karena merasa tidak mengalami kedua hal tersebut secara tidak sadar (Marsana, 2000 dalam Gusnita, 2. Teks pemberitaan terkait COVID-19 dipilih karena kuantitas pemberitaan dan gaya penulisannya bisa memuat kekerasan simbolik secara tersembunyi atau telah dikonstruksi sebelumnya oleh penulis maupun instansi terkait. Misalnya adanya unsur memengaruhi pembaca, menekan, menakut-nakuti, bahkan menghaluskan beberapa informasi lain dengan mengaburkan atau membiaskan makna tertentu. Metode Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif di mana penelitian ini menggunakan pendekatan naturalistis, interpretatif, menyangkut pemahaman makna yang oleh manusia dilekatkan pada fenomena . indakan, keputusan, kepercayaan, nilai, dan lain-lai. dalam dunia Jurnal Karya Ilmiah 23 . : 167 Ae 176 (Mei 2. Kekerasan Simbolik Pada A sosial mereka (Ritchie & Lewis, 2. Sumber data utamanya ialah kata-kata tertulis atau teks berita COVID-19 yang diunggah oleh Gopos. Ada 7 teks berita sudah dikurasi dari situs Gopos. di dalamnya Berita-berita menggunakan pisau analisis semiotika sosial dari M. K Halliday . yang mana analisis kekerasan simbolik akan dilihat dari tiga komponen wacana yakni medan wacana . ield of discours. , pelibat wacana . enor of discours. , dan mode wacana . ode of discours. (Hasnah, 2. serta menggunakan teori kekerasan simbolik dari Pierre Bourdieu. Hasil dan Pembahasan Pada sub bab hasil dan pembahasan, penelitian ini akan menganalisis tentang tujuh teks yang diambil dari situs Gopos. Peneliti akan menganalisis tentang tiga komponen yang telah disebutkan di atas, antara lain medan wacana, pelibat wacana, dan mode wacana. Berikut ini hasil dari analisis tujuh teks berita tersebut: Laju Penyebaran Virus COVID-19 di Indonesia Berita pertama tentang COVID-19 di media daring Gopos. id diterbitkan pada 6 Maret Mengangkat tajuk AuVirus COVID-19 Cepat MenyebarAy berita tersebut mewacanakan bagaimana laju penyebaran virus COVID-19 dalam 5 paragraf. Dimensi berita pertama ini mengarahkan pada medan wacana terkait orientasi akan penyebaran virus COVID-19 di Indonesia. Berita ini hanya diunggah di situs Gopos,id dengan pelibat wacana adalah dr. Achmad Yurianto selaku sumber resmi pemerintah di bidang kesehatan, juga penulis berita. Andi Arifuddin. Berita tersebut ditulis menggunakan gaya bahasa . ode wacan. sekaligus informatif. Eufemisme dioperasikan agar suatu teks atau ungkapan tertentu bisa diterima dengan baik tanpa ada unsur menghina, menyinggung, atau mengarah pada hal-hal kurang menyenangkan. Kekerasan simbolik sebagaimana dijelaskan oleh Pierre Bourdieu adalah kekerasan halus yang dialami oleh masyarakat secara tidak sadar karena kekerasan tersebut tidak Kekerasan simbolik diungkapkan melalui bahasa dapat ditemukan pada beberapa kata ataupun kalimat di medan wacana dan mode wacana dari berita pertama. Penggunaan frasa AuHari ini ada sekitar 130 kasus baru, permasalahannya ada di kecepatan penyebaran, artinya kita tahu ini penyebarannya cepat sekali,Ay dan Aumungkin tidak ada panas tinggiAy merupakan bentuk kekerasan simbolik dan memiliki makna implisit. Implisit di sini Gopos. id mengisyaratkan makna ancaman berkaitan dengan cepatnya mutasi virus corona di lingkungan terdekat. Ancaman dari frasa-frasa tersebut bisa menjadi teror secara tidak langsung bagi pembaca serta meningkatkan kewaspadaan individu terhadap potensi sebaran virus. Kepungan information overload berhubungan dengan informasi mengenai pandemi COVID-19 dan bentuk kekerasan simbolik disamarkan melalui bahasa bisa membuat seseorang mengalami news fatigue. News fatigue adalah kondisi seseorang merasa kelelahan dan stres dikarenakan menerima informasi berlebihan (Poyant, 2. Tercatat 4 Pasien COVID-19 Meninggal Dunia Copyright A 2023 Jurnal Karya Ilmiah 22 . : 167 Ae 176 (Mei 2. Julianur Rajak Husain. Noval Sufriyanto Talani. Yowan Tamu Berita ini diterbitkan pada 14 Maret 2020 dengan tajuk AuSudah Empat Pasien Positif COVID-19 Meninggal DuniaAy. Medan wacana dari berita ini menggambarkan situasi pandemi virus corona yang tidak bisa dianggap sepele. Sedangkan pelibat wacana dalam berita adalah Achmad Yurianto (Juru Bicara Pemerintah Bidang Kesehata. Andi Arifuddin . artawan/penulis berita di Gopos. , dan beberapa pasien COVID-19. Adapun penggunaan gaya bahasa . ode wacan. pada berita ini terkesan informatif sekaligus repetisi. Berbeda dengan mode wacana di berita pertama, berita kedua ini Gopos. id menekankan gaya bahasa informatif dan repetisi. Secara khusus bentuk kekerasan simbolik dari teks berita kedua ini tergambar pada medan wacana. Lewat narasinya kekerasan simbolik dari berita ini muncul pengulangan frasa maupun klausa seperti: positif COVID-19, pasien COVID-19 yang meninggal, perburukkan kondisi dengan cepat, dan kontak tracing. Frasa-frasa tersebut secara umum menggambarkan bagaimana tingkat kematian selama pandemi COVID-19 berlangsung justru sangat tinggi dan penularan juga sangat rentan. Dominasi pengulangan frasa maupun klausa tentang sebaran infodemik secara tidak langsung bisa mempengaruhi isi pikiran pembaca. Kekerasan secara tidak sadar dialami oleh seseorang, dilakukan secara halus, serta memiliki maksud tertentu yang tersembunyi melalui media bahasa disebut sebagai bentuk kekerasan simbolik (Pujiningtyas, 2. Tekanantekanan emosi tersebut sejalan dengan penjelasan kekerasan simbolik menurut Pierre Bourdieu. Dikarenakan menyerang di wilayah olah pikir, kekerasan simbolik ini biasanya diterima secara sukarela oleh korban. Dampak paling buruk dari terus menerus mengkonsumsi informasi berlebihan tentang COVID-19 adalah perubahan keseimbangan pola pikir, memicu rasa khawatir, cemas, stress, dan berpotensi membahayakan diri sendiri seperti memunculkan rasa tidak percaya dan panik (Bafadhal & Santoso, 2. Bahkan beberapa kasus perilaku bunuh diri muncul dikarenakan adanya ketakutan akan terinfeksi virus corona (Timur, 2. Alternatif Penghentian Penyebaran Virus Corona Belum Ditentukan Gopos. id menerbitkan berita ketiga tentang COVID-19 bertajuk AuPemerintah Belum Ambil Opsi Lockdown untuk Pencegahan COVID-19Ay. Berita yang diterbitkan oleh Andi Arifuddin di situs Gopos. id ini memuat 7 paragraf dengan inti bahasan mengenai proses pengambilan keputusan oleh Pemerintah diwakili langsung oleh Jubir Pemerintah, dr. Achmad. Kehati-hatian dalam proses pengambilan keputusan tersebut menggambarkan bagaimana Pemerintah cukup memikirkan langkah-langkah preventif yang akan diambil demi kelangsungan hidup banyak orang sekaligus menggambarkan bagaimana relasi atau kedudukan seseorang sebagai pelibat wacana. Gaya bahasa . ode wacan. berita ketiga ini sedikit berbeda dari dua berita sebelumnya, terdapat kalimat yang mencerminkan gaya bahasa metafora, eufemisme, dan konotatif. Masih sama dengan beberapa analisis berita sebelumnya, pelibat wacana dalam berita ketiga ini adalah dr. Achmad Yurianto selaku Jubir Pemerintah untuk COVID-19. Andi Arifuddin . artawan Gopos. Andi sebagai penulis berita sekaligus pelibat wacana menuliskan berita ketiga dengan gaya bahasa ketiga yang didominasi oleh metafora, hiperbola, dan eufemisme. Jurnal Karya Ilmiah 23 . : 167 Ae 176 (Mei 2. Kekerasan Simbolik Pada A Masih sama dengan beberapa analisis berita sebelumnya, pelibat wacana dalam berita ketiga ini adalah dr. Achmad Yurianto selaku Jubir Pemerintah untuk COVID-19. Andi Arifuddin . artawan Gopos. Andi sebagai penulis berita sekaligus pelibat wacana menuliskan berita ketiga dengan gaya bahasa ketiga yang didominasi oleh metafora, hiperbola, dan eufemisme. Secara keseluruhan kekerasan simbolik atau kekerasan tidak terlihat yang dapat menimbulkan kecemasan dan kekhawatiran dapat ditemukan pada mode wacana atau gaya bahasa yang Berita ketiga didominasi oleh kata lockdown kemudian diikuti oleh kata penularan, isolasi, tak terkendali, dan membatasi. Kumpulan kata-kata tersebut secara umum menjelaskan bagaimana Gopos. id menggambarkan Pemerintah dalam hal ini sebagai informan untuk kasus penularan virus COVID-19 memilih untuk tidak melakukan pembatasan wilayah meski maraknya peningkatan kasus terus meningkat setiap harinya. Kekerasan simbolik menurut Pierre Bourdieu merupakan kekerasan wacana di mana olah pikir dari pihak lain dikondisikan sedemikian rupa dan diubah aktivitas intelektualnya sehingga pelbagai bentuk kekerasan simbolik bisa diterima secara cuma-cuma, sah, bahkan korban tidak menyadari sedang menerima kekerasan simbolik (Gusnita, 2. Kehadiran kata-kata penularan, isolasi, tak terkendali, dan membatasi ketika ditelisik lebih dalam berdasarkan apa yang ditafsirkan oleh Austin, seorang filsuf linguistik, bentukbentuk bahasa bisa diartikan sebagai tanda dari tindakan manusia. Tanda-tanda tersebut bisa menjadi simbol kultural yang menuntut penggunanya agar dipatuhi, diyakini, dan didengar (Syahril, 2. Rentannya seseorang mengalami gangguan kesehatan mental seperti gejala cemas dan depresi bisa disebabkan oleh paparan berita terkait COVID-19 dan media sosial lebih dari 2 jam per hari (Timur, 2. Peringatan Kesigapan Akan Kasus COVID-19 di Gorontalo Berita keempat berisi informasi peringatan tentang status kesiagaan warga Gorontalo akan 60 Orang Dalam Pengawasan (ODP) COVID-19. Mengambil tajuk AuGorontalo Status Siaga Darurat COVID-19. Warga Masuk ODPAy berita ini menjadi salah satu berita dengan sorotan terbanyak karena berisi informasi tentang status terkini dari total 83 orang yang dipantau oleh Gugus Tugas COVID-19 Provinsi Gorontalo. Medan wacana dari berita keempat berisi penyampaian informasi terkait status penyebaran virus corona di Gorontalo, himbauan kepada masyarakat agar tetap sigap menghadapi COVID-19, dan pantauan terkini terkait orang-orang yang diduga akan termasuk ke kategori pasien COVID-19. Berbeda dari berita-berita sebelumnya. Muhajir, penulis berita sekaligus pelibat wacana menghadirkan beberapa tokoh-tokoh baru sebagai sumber rujukan. Pelibat wacana dimunculkan hampir di seluruh paragraf berita, yaitu: Pemerintah Provinsi Goorntalo, warga Gorontalo yang dilaporkan positif COVID-19. Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Corona Virus Disease 2019 Darda Darba, warga di Gorontalo dalam kategori suspect corona. Gugus Tugas COVID-19, dan Orang dalam Pemantauan (ODP). Berita ini . ode retoris dan . Penggunaan gaya bahasa oleh Gopos. id dalam hal ini mode wacana pada berita keempat Copyright A 2023 Jurnal Karya Ilmiah 22 . : 167 Ae 176 (Mei 2. Julianur Rajak Husain. Noval Sufriyanto Talani. Yowan Tamu mengarah pada gaya berita retoris dan eufemisme. Gaya bahasa retoris adalah pernyataan dengan tujuan mencapai efek lebih dalam dan tidak menghendaki suatu jawaban. Sedang di bagian lain eufemisme atau penggantian bentuk kebahasaan bernilai kasar dari seorang penutur menjadi kebahasaan bernilai lebih halus dengan kemiripan makna (Yogiswara, 2. Dari penjelasan di atas, kekerasan simbolik berita keempat ditemukan pada pelibat wacana dan mode wacana. Kekerasan simbolik adalah kekerasan yang tidak terlihat secara langsung namun bisa menjadi sumber utama pengantar menuju kekerasan lebih AonyataAo dan AoseriusAo yakni kekerasan psikologis. Mekanisme kekerasan simbolik ini dideskripsikan melalui pemilihan frasa untuk menggambarkan kondisi terkini di lapangan. Gambaran kalimat-kalimat dari Gopos. id tersebut secara umum menyiratkan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan terhadap penularan virus COVID-19 meski nyatanya sudah ada 83 warga di Gorontalo termasuk dalam pemantauan oleh Gugus Satgas COVID-19. Lebih lanjut, temuan kekerasan simbolik pada pelibat dan mode wacana tergambar dan diperhalus oleh frasa Aubelum ada yang terkena virus corona dan 23 orang dinyatakan sehatAy yang dapat diartikan bahwa semua orang masih sehat-sehat saja belum terjadi penularan virus COVID-19. AuJadi tak perlu panik dan terus berupaya agar tetap aman dan bebas penularanAy bisa diartikan Pemerintah Gorontalo dan Petugas Kesehatan terkait sementara melakukan penanganan serius terkait penyebaran kasus COVID-19. Padahal kepanikan, ketakutan, bahkan ketidakpastian akan terjangkitnya wabah virus corona sudah cukup untuk memicu rentannya gangguan mental seperti cemas, stres, bahkan perilaku bunuh diri terhadap seseorang selama pandemi (Timur, 2. Peningkatan dan Pencegahan Perubahan Status ODP Menjadi PDP Kondisi orang-orang dalam pengawasan Gugus Tugas COVID-19 Provinsi Gorontalo terus menerus diinformasikan keadaannya ke masyarakat. Berita kelima tentang COVID-19 dari Gopos. id menyorot keadaan dan status terkini yang dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo. Perubahan akan status dari Orang Dalam Pengawasan (ODP) menjadi Pasien Dalam Pengawasan (PDP) ini secara lugas dijadikan medan wacana pada berita dengan tajuk AuUpdate COVID-19 di Gorontalo: ODP Bertambah 187 Orang. PDP1. Positif 0Ay. Kondisi ini kemudian menghadirkan pelibat wacana baru selain Andi Arifuddin sebagai penulis berita. Selain itu pelibat wacana dalam berita tersebut adalah Gugus Tugas COVID-19 Provinsi Gorontalo. Orang Dalam Pengawasan (ODP). Pasien Dalam Pengawasan (PDP), serta Ketua Gugus Kesehatan Penanggulangan COVID-19 Provinsi Gorontalo. Misranda Nalole. Semua pelibat wacana selalu dimunculkan di tiap paragraf berita. Perbedaan berita ini dengan berita-berita yang diterbitkan sebelumnya terletak pada karakteristik data-data dilampirkan dalam teks berita, sehingga Gopos. id mengemas gaya bahasa dalam berita kelima secara informatif, simbolik, sekaligus persuasif. Kekerasan simbolik pada berita kelima dihadirkan oleh Gopos. id di bagian mode wacana. Sebagaimana kekerasan simbolik dimaksudkan oleh Bourdieu, kekerasan simbolik adalah tindakan yang bertujuan untuk merugikan orang lain. Jurnal Karya Ilmiah 23 . : 167 Ae 176 (Mei 2. Kekerasan Simbolik Pada A mendapatkan kendali atas dominasi olah pikir, dan bekerja dengan menyembunyikan kekerasan tersebut sebagai sesuatu yang bisa diterima oleh korban (Gusnita, 2. Frasa Au. jika hasil Lab dari PDP sudah keluar, maka pasien PDP sudah bisa dikembalikanAy bergaya kasar . karena menganalogikan manusia seperti barang bisa diambil dan dikembalikan namun frasa ini juga termuat kekerasan simbolik. Di mana pembaca ketika membaca frasa berita tersebut bisa menghadirkan pandangan ataupun stigma negatif terhadap pelibat wacana dalam hal ini ada pasien PDP. Frasa penyerta lain terkandung kekerasan simbolik ialah Au. namun ketika ada penyakit penyerta lainnya kita dipindahkan ke ruangan lain. Ay Bentuk kekerasan termuat dalam frasa ini adalah lanjutan pandangan atau stigma negatif yang terbentuk sebagai respons dari pembaca terhadap individu . elibat Pandangan maupun stigma negatif yang terbentuk bisa memicu respons lanjutan terhadap situasi COVID-19, seperti timbul rasa takut, waswas, panik, cemas, hingga stres yang bisa mengganggu aktivitas harian (Timur, 2. Stigma negatif bisa menjurus ke pengucilan terhadap individu tertentu yang terserang COVID-19 bisa memacu gangguan depresi, yang mana apabila gangguan ini tidak ditangani dengan benar tidak menutup kemungkinan akan terjadinya bahaya penyerta paling buruk lainnya seperti bunuh diri (Timur, 2. Drastisnya Peningkatan Sebaran Pasien COVID-19 Semakin hari jumlah pasien yang dinyatakan positif COVID-19 terus bertambah. Gambaran ini adalah sorotan utama dari medan wacana berita keenam terbitan Gopos. Kondisi tidak menentu di tengah wabah virus corona turut disertai banyaknya data-data dikeluarkan oleh Pemerintah dan disebarluaskan ke masyarakat. Media daring seperti Gopos. melalui penulis berita sekaligus pelibat wacana. Andi Arifuddin, menyajikan data-data tersebut dalam bentuk narasi dengan gaya bahasa . ode wacan. informatif dan retoris. Meningkatnya pasien dinyatakan positif COVID-19, pasien COVID-19 yang sembuh, dan pasien COVID-19 yang meninggal di Indonesia digambarkan oleh Gopos. id sebagai medan wacana tentang informasi terkini seputar COVID-19. Berita ini sedikit berbeda dengan berita awal Gopos. id tentang COVID-19. Karena situasi digambarkan semakin pelik, pelibat wacana dari berita ini selain Andi Arifuddin selaku penulis berita, dr. Achmad Yurianto selaku juru bicara Pemerintah untuk penanganan virus corona, pasien terkonfirmasi positif corona, juga pelibat wacana lain seperti: pasien yang dinyatakan sembuh setelah sebelumnya dinyatakan positif, dan pasien yang meninggal dunia akibat virus corona. Penulisan berita keenam ini cenderung informatif dan persuasif. Seperti yang sudah dijabarkan, konstruksi kekerasan simbolik pada berita keenam dikemas oleh Gopos. id pada mode wacana atau gaya bahasa. Perwujudan kekerasan simbolik atau kekerasan tidak terlihat oleh mata dan korban sering tidak menyadari bahwa telah mengalami kekerasan dimaknai dari penggunaan kata-kata seperti penambahan, konfirmasi positif, pasien meninggal bertambah, kasus baru, dan cukup Konstruksi dibangun dari frasa Au. terjadi kasus penambahan cukup banyak, hendaknya jadi atensi kita semua dalam mewaspadai kondisi iniAy secara umum digunakan untuk Copyright A 2023 Jurnal Karya Ilmiah 22 . : 167 Ae 176 (Mei 2. Julianur Rajak Husain. Noval Sufriyanto Talani. Yowan Tamu memberikan informasi terkini riwayat penularan pasien terinfeksi virus corona dan ajakan untuk terus berhati-hati selama beraktivitas. Hal tersebut tercermin dari frasa Auterjadi kasus penambahan cukup banyak,Ay dan Auhendaknya jadi atensi kita semua dalam mewaspadai kondisi iniAy. Sedangkan ketika ditelisik lebih mendalam mengenai makna terkandung di dalamnya, kekerasan simbolik dari berita ini bekerja untuk memberikan sekaligus memberlakukan tekanan-tekanan besar seperti tekanan sosial bagi pembaca berita sebagaimana termuat dari kata hendaknya jadi atensi kita semua. Kata-kata tersebut adalah wujud dari kekerasan simbolik. Korban dalam hal ini adalah pembaca rentan mengalami fenomena news fatigue . elelahan dan stres akibat kelebihan informas. ketika terus terpapar berita tentang COVID-19. Kondisi tersebut dapat terhubung dengan penggunaan kata-kata di atas dipaparkan secara berulang kepada pembaca yang bisa membangun kerentanan gangguan kesehatan mental seperti perasaan khawatir, cemas, panik, bahkan stres secara tidak langsung dan tidak disadari oleh pembaca (Timur, 2. Sebaran Percepatan Virus Corona Kian Hari Kian Meningkat Pembicaraan tentang kasus konfirmasi positif COVID-19 terus ramai. Melalui berita dengan tajuk AuUpdate COVID-19: Pasien Positif di Indonesia Tembus 1. 046 OrangAy Gopos. melalui pelibat wacana sekaligus penulis berita. Andi Arifuddin, menggambarkan medan wacana berita kali ini dengan perincian status pasien COVID-19 juga sebaran kasus tersebut di beberapa daerah di Indonesia. Gambaran tersebut diikuti oleh gaya bahasa informatif dan Perincian status terbaru mengenai COVID-19 di paragraf pertama, paragraf kedua berita terbitan Gopos. id kali ini menjadi penggambaran akan medan wacana. Gambaran tersebut secara eksplisit juga diteguhkan pernyataannya oleh pelibat wacana seperti Andi Arifuddin . enulis berit. Achmad Yurianto (Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19. Gugus Tugas COVID-19, tentang kondisi terbaru dan sebaran lokasi pasien COVID-19 terkonfirmasi positif, sembuh, dan dinyatakan meninggal, yang mana semuanya secara tidak langsung adalah pelibat wacana. Penggambaran akan situasi terkini pasca COVID-19 dinyatakan masuk ke beberapa daerah menggunakan gaya bahasa yang cenderung informatif dan retoris. Informatif sudah diperlihatkan di bagian medan wacana atau masuk ke paragraf pertama berita. Dari medan wacana, pelibat wacana, hingga mode wacana, kekerasan simbolik pada berita ini direpresentasikan oleh Gopos. id pada medan wacana dan mode wacana. Kekerasan simbolik menurut Bourdieu adalah pengantar jalan menuju kekerasan lebih nyata, yakni fisik Kekerasan simbolik tidak dapat dilihat secara langsung oleh mata, oleh karenanya dampak yang timbul juga tidak bisa langsung dirasakan. Meski begitu kekerasan ini cukup berbahaya apabila berlangsung secara terus menerus terlebih bagi pembaca berita (Alnashava , 2. Frasa Au. kasus positif sudah menembus angka 1. 046 orang. Sementara 46 orang sembuh dan 87 orang meninggal duniaAy dan Au. sementara yang meninggal bertambah sembilan Sebelumnya pada Kamis . /3/2. , tercatat 893 kasus positif COVID-19Ay dituliskan oleh penulis berita sebagai realitas kejadian. Jurnal Karya Ilmiah 23 . : 167 Ae 176 (Mei 2. Kekerasan Simbolik Pada A Sedangkan bentuk kekerasan simbolik dari frasa ini ialah dominasi pemberian informasi sebagai saluran sekaligus sumber informasi. Pun bisa menjadi alat pengontrol risiko yang akan mengancam korban di situasi pandemi COVID-19. Pemberitaan media berlangsung secara intensif bahkan berlebihan . bisa menimbulkan ketegangan dan ancaman lain bagi pembaca berita. Sebagaimana penggunaan frasaAy. kasus positif sudah menembus angka 046 orang. Sementara 46 orang sembuh dan 87 orang meninggal duniaAy dapat meningkatkan persepsi buruk dan lebih menakutkan lagi, sehingga stigma negatif terhadap pasien COVID-19 tidak luput dihindari. Frasa tersebut juga berkontribusi menyembunyikan makna kekerasan simbolik yang menjurus pada peningkatan rasa putus asa, stres, bahkan depresi. Di sisi lain frasa Au. sementara yang meninggal bertambah sembilan kasus. Sebelumnya pada Kamis . /3/2. , tercatat 893 kasus positif COVID-19Ay juga meningkatkan rasa khawatir dan takut akan terinfeksi virus corona. Bentuk kekerasan simbolik dari frasa ini bertujuan menekan korban . dengan realitas yang dihadapi saat ini bahwa virus corona tidak bisa dipandang sebelah mata karena seeing is believing, karena saya melihatnya dan saya percaya (Timur, 2. Kondisi terpaparnya informasi akan COVID-19 setiap hari bisa memperberat kondisi imun seseorang sehingga kondisi mental jadi terganggu. Risiko terjadinya pelbagai gangguan jiwa seperti cemas, takut, stres, depresi, bahkan perilaku bunuh diri pun tidak dapat dihindari (Timur, 2. Apalagi ketika pembaca mengalami news fatigue yakni kondisi kelelahan menerima informasi berlebihan dan berakibat pada stres (Poyant, 2. Kesimpulan Berdasarkan uraian penelitian di atas kekerasan simbolik di media daring Gopos. disembunyikan melalui kalimat-kaimat yang ditulisan dalam teks berita dan sering dimunculkan pada medan wacana dan mode wacana, serta secara implisit dihadirkan pada pelibat wacana. Mekanisme kekerasan simbolik pada wacana berita digambarkan dengan penulisan berita terkesan positif karena berisi informasi situasi terkini, penyebab, dan risiko di tengah situasi berlangsungnya pandemi. Hal tersebut dikarenakan berita ditulis secara halus dan masuk akal sehinga pembaca . sering kali tidak langsung menyadari kekerasan simbolik sementara berlangsung pada komponen wacana dalam teks berita. Daftar Pustaka