Jurnal Dhammavicaya: Volume: IV No. 1 Juli 2020 Halaman:22-26. Tersedia secara online http:// https://stabnalanda. e-journal. id/dv ISSN:2580-8028 Perbandingan Konsep Kesaktian Menurut Agama Buddha Dengan Pandangan Kejawen Catari Paramita. Lauw Acep, dan Jo Priastana Program Studi Dharma Acariya Sekolah Tinggi Agama Buddha Nalanda ABSTRACT Scientific discussion about magic will help people to access information about magic powers. Research on the comparison of the concept of magic in the view of Buddhism and Kejawen's view is an interesting discussion and contributes to the treasures of science. This thesis research aims to examine the concept of magic in the view of Buddhism and the concept of magic in the view of Kejawen. In-depth study will provide a clear picture of each concept. Supernatural powers complement the history of human development inherent in cultural traditions. Power is a high inner and body ability, used to help In the history of Buddhism and Kejawen, magic is inherent in the religious system which is believed to have a great influence on life. Key words : Divine Power. Buddhism. Kejawen. ABSTRAK Pembahasan ilmiah tentang kesaktian akan membantu masyarakat untuk mengakses informasi tentang ajaran kesaktian. Penelitian tentang perbandingan konsep kesaktian dalam pandangan Agama Buddha dan Pandangan Kejawen menjadi pembahasan yang menarik serta memberikan sumbangsih pada khasanah ilmu. Penelitian skripsi ini bertujuan untuk mengkaji konsep kesaktian dalam pandangan Agama Buddha dan konsep kesaktian dalam pandangan Kejawen. Kajian secara mendalam akan memberikan gambaran yang jelas dari masing-masing konsep. Kesaktian melengkapi sejarah perkembangan manusia yang melekat dalam tradisi kebudayaan. Kesaktian merupakan kemampuan batin dan tubuh yang tinggi, dipergunakan untuk membantu kelangsungan hidup. Dalam sejarah Agama Buddha dan Kejawen, kesaktian melekat pada sistem religi yang diyakini mempunyai pengaruh besar dalam kehidupan. Kata kunci : Kesaktian. Agama Buddha. Kejawen. Riwayat Artikel : Diterima: Maret 2020 Disetujui: Mei 2020 Alamat Korespondensi: Catari Paramita. Lauw Acep, dan Jo Priastana Dharma Acariya Sekolah Tinggi Agama Buddha Nalanda Jln. Pulo Gebang Permai. No. Pulo Gebang. Cakung. Jakarta Timur 13950 E-mail: penulis Kata kesaktian sudah tidak asing lagi dalam kehidupan masyarakat, ketika mendengar kata kesaktian maka yang terpikir adalah seseorang yang memiliki ilmu tinggi atau sakti. Begitu juga di Jawa sampai sekarang masih banyak dijumpai orang-orang yang memiliki kesaktian atau ilmu sakti. Kesaktian muncul sejak zaman pra sejarah yang membuktikan bahwa pada zaman primitif, kesaktian telah digunakan oleh manusia dengan berbagai macam cara. Seiring tradisi kebudayaannya masing-masing, disetiap tempat dan negara pasti ada sedikit persamaan dan perbedaannya, namun pada intinya hampir sama, yakni dengan memuja dan memohon bantuan makhluk halus, baik tingkat rendah sampai tingkat yang tertinggi (Purwadi, 2007:. Soemardjan . 4: . menyatakan bahwa kesaktian sering juga disebut kemampuan batin yang tinggi, super power, adi duniawi, supranatural, hipnotis, mentalis, sulap. Kesaktian selalu menarik orang pada saat dipertunjukan di depan orang banyak, sebab ia kelihatan aneh tapi nyata, tidak masuk akal tapi dapat dibuktikan, dan kenapa tidak setiap orang bisa melakukannya. Semua itu tergantung kondisi seseorang yang memohon lalu menjalankannya. Jika tanpa bantuan makhluk halus, salah satunya ialah sulap yaitu menggunakan trik/tak-tik kecepatan tangan dan gerakan, kemudian ada lagi kesaktian tingkat tinggi yakni dengan kemampuan atau kekuatan pikiran dan kesadaran, hasil dari latihan yang bukan dengan mudahnya orang bisa memperoleh itu yakni adengan latihan meditasi yang intensif baik melalui bimbingan gurunya atau dengan panduan buku-buku yang bisa dipertanggung Kalupahana . 6: . menjelaskan bahwa mencapai penerangan sempurna atau pencerahan agung berarti mencapai kebebasan, bebas dari penderitaan secara total karena telah berhasil memutuskan mata rantai sebab musabab terjadinya kelahiran kembali. Penderitaan melekat pada eksistensi manusia atau makhluk yang bertumimbal lahir. Menurut doktrin karma dan kelahiran kembali, makhluk dilahirkan sebagai akibat dari ketidaktahuan (Avijj. , keinginan rendah (Tanh. , dan resultannya adalah kemelekatan (Upadan. Kebebasan (Vimutt. yang disebut merealisasi Nibbana. Terdiri dari penghapusan tiga sebab ini, yaitu dengan mengembangkan pandangan terang atau pengetahuan (Vijj. serta penghapusan keinginan . dan ketidakmelekatan . Penggunaan kesaktian haruslah didasarkan pada tujuan-tujuan dan karakteristik-karakteristik moral dari seseorang yang menguasainya. Kebanyakan orang Jawa meyakininya sebagai salah satu kekuasaan alam yang Kesaktian bersifat amoral dalam pengertian tidak baik maupun jahat. Berbagai variasi kesaktian bisa digunakan untuk kebaikan maupun kejahatan. Teori kerajawian Jawa didasarkan pada apa yang disebut Moertono . sebagai suatu Aukultus kemegahanAy . ult of glor. dan apa yang digambarkan di beberapa tempat (Woodward 1985, 1. sebagai suatu Teokrasi Sufi . rang yang mendalami ilmu kasabu. Kendati detail-detail dari kepercayaan kraton Jawa begitu kompleks, namun ia sebenarnya berdasarkan pada prinsip-prinsip keagamaan yang relatif kecil. Diantaranya adalah wahyu, kasekten, penyamaan kerajawian dan kewalian, dan doktrin Sufi mengenai kesatuan mistik. Seseorang bisa memiliki kesaktian jika orang tersebut dapat memasuki ketenangan dalam meditasi dan memperoleh kebijaksanaan atau kecerdasan, maka kesaktian akan datang dengan sendirinya. Di dalam ajaran agama Buddha, kesaktian bukanlah tujuan utama untuk mencapai kebebasan hidup dan mati. Tetapi kadang-kadang dengan menggunakan sedikit kesaktian akan bisa menuntun umat kearah melatih diri. Para Buddha Bodhisattva karena ingin menuntun umat, maka dengan kebijaksanaan mereka akan menunjukkan kesaktian demi meyakinkan umat dan menuntun umat menuju ke arah melatih diri, karena umat memiliki sifat merasa aneh dan ingin tahu. Misalnya Avalokitesvara Bodhisattva, dengan menggunakan kesaktiannya, melihat dan mendengar penderitaan makhluk hidup lalu dating menolonginya (Widyadharma, 1997:. Walaupun demikian, kesaktian hanyalah salah satu dari 84. 000 cara Buddha untuk menuntun umat. Kesaktian bukanlah tujuan yang sebenarnya dari ajaran Buddha. Di dalam ajaran agama Buddha, sebesar atau sekuat apapun kesaktian seseorang, dia tidak akan bisa mengalahkan kekuatan Karma. Karma adalah kekuatan yang tidak terkalahkan. Salah satu murid Buddha. Moggallana yang mempunyai julukan Kesaktian. Agama Buddha mengenal kekuatan batin atau kesaktian yang dianggap orang awam sebagai manifestasi mukjizat, tapi bagi agama Buddha, istilah AuMukjizatAy dimunculkan dalam benak orang awam karena tidak memahami corak sejati dari pikiran dan alam semesta. Dalam literature Buddhis, bertaburan kisah-kisah mukjizat yang dipertunjukkan oleh Buddha dan siswa-Nya. Sebagai contoh. Buddha biar lenyap dari tepi sungai Gangga yang satu dan muncul kembali di tepi seberang bersama Bhikkhu. Buddha dan murid-Nya bernama Nanda lenyap dari hutan Jeta dan muncul diantara para dewa di surga Tavatimsa. Seorang siswa Buddha lenyap dari aula rumah yang atapnya berjendela di Hutan besar dan muncul di hadapan para Bhikkhu di tepi sungai Vagga muda (Widyadharma, 1997:. Dalam Kevaddha Sutta menjelaskan tentang Bhikku Kevadha yang menawarkan kepada Buddha untuk mengutus para Bhikku untuk beradu kesaktian dan keajaiban, tetapi Buddha menolaknya dan Bhikkhu terus Ketika Bhikkhu Kevadha mengulang permohonan untuk ketiga kalinya. Buddha mengatakan bahwa ada tiga jenis kesaktian yang dinyatakan setelah mencapainya dengan pandangan terang sendiri. Apakah tiga itu? Kesaktian kekuatan psikis, kesaktian telepati, kesaktian nasihat. Kesaktian kekuatan psikis adalah seorang bhikkhu memperlihatkan berbagai kesaktian dalam berbagai Dari satu, ia menjadi banyak, dari banyak, ia menjadi satu dan ia dengan tubuhnya pergi hingga ke alam Brahma. Dan seseorang yang memiliki keyakinan dan percaya akan melihatnya melakukan hal-hal Kesaktian telepati merupakan membaca pikiran makhluk-makhluk lain, pikiran orang lain, membaca kondisi batin mereka, pikiran dan renungan mereka, dan mengatakan: AuPikiranmu seperti ini, kecenderunganmu seperti ini, hatimu seperti iniAy Dan seseorang yang berkeyakinan dan percaya akan melihatnya melakukan hal-hal ini. Ao Kesaktian nasihat merupakan memberikan nasihat sebagai berikut: AuPerhatikan seperti ini, jangan perhatikan seperti itu, arahkan pikiranm u seperti ini, bukan seperti itu, lepaskan itu, capai ini dan pertahankan ini. Ay Itu. Kevaddha, disebut kesaktian nasihatAy. Paramita. Acep, dan Priastana. Perbandingan Konsep Kesaktian Kesaktian bukanlah hal utama karena tidak membawa seseorang menjadi orang yang luhur atau suci. Terkadang kebalikan dari menjadi tercerahkan, kesaktian kadang membawa kesombongan, ego yang besar yang mengarah ke hal negatif. Oleh karena itu, kesaktian bukanlah merupakan tanda kesucian seseorang. Melampaui hal itu, kesaktian yang patut dikembangkan yang biasanya merupakan kesaktian orang suci adalah kemampuan memancarkan metta pada saat seseorang bisa menganalisa bahwa orang lain sedang membencinya atau ketika orang itu sedang menderita dan kesaktian melepaskan napsu ketika memandang obyek yang untuk orang lain sangat mengundang napsu serta mujizat tertinggi seperti yang disebutkan di atas yaitu kesaktian instruksi . isa menginstruksikan pikiran mana yang benar dan salah, mana yang harus dilakukan dan tidak kesaktian Pengetahua. Itulah kesaktian tertinggi dan hal itulah yang harus diperjuangkan. Dengan kesaktian mengetahui maka kita tidak akan menyia-nyiakan hidup kita yang pendek hanya untuk mengejar hal yang tidak layak dikejar. Dengan sudut pandang di atas, ajaran Buddha memperlakukan kesaktian, keajaiban ataupun mukjizat sedemikian rupa sehingga membawa kita menjadi individu yang sabar, pemaaf, tidak sombong dan memiliki kualitas baik lainnya, dan membuat pikiran kita terbuka sehingga kita tidak mengejar kesaktian yang tidak sepatutnya diperjuangkan tidak menyerahkan kehidupan kita pada semua mahluk yg telah mempunyai atau telah menpertontonkan kesaktiannya (Teja Rashid, 1997:128-. Dalam Agama Buddha Abhinna merupakan kemampuan batin yang tertinggi, yang hanya dapat dimiliki oleh mereka yang berhasil dalam meditasi, bila kehidupan yang lampau maupun saat ini ia sukses dalam meditasi, maka sisa kemampuan itu masih dapat terlihat dalam kehidupan yang sekarang. Pencapaian Abhinna sangat beragam bagi setiap orang, karena berkaitan dengan obyek meditasi yang digunakannya ketika bermeditasi. Contohnya seperti: bila menggunakan obyek zat padat . , maka dapat membuat segala sesuatu menjadi padat, walaupun orang lain melihat sebagaimana adanya, misalnya seseorang yang dapat berjalan diatas air, baginya air itu telah menjadi padat, tetapi orang lain mengatakan atau melihat ia sedang berjalan diatas air. METODE Penelitian tentang AuPerbandingan Konsep Kesaktian Menurut Agama Buddha dalam Pandangan KejawenAy digunakan metode jenis penelitian kajian pustaka. Penelitian ini termasuk penelitian eksploratif research adalah penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya dan seluas-luasnya pada obyek yang belum banyak diketahui. Informasi yang ingin dikaji seluas-luasnya dalam penelitian ini yang berkitan dengan Agama Buddha yaitu apa perbedaan antara Kesaktian menurut Agama Buddha dengan pandangan Kejawen yang mencakup pengertian, metode pencapaian, tujuan, sumber dan jenis-jenis kesaktian. Penelitian ini termasuk penelitian dasar yaitu penelitian yang bertujuan untuk memahami masalah secara mendalam guna mendapatkan konsep-konsep yang sudah ada sebelumnya. Informasi yang ingin dikaji seluas-luasnya dalam penelitian ini yang membedakan antara Kesaktian menurut Agama Buddha dengan Kejawen. Penelitian ini termasuk deskriptif yaitu penelitian yang menjelaskan kedudukan dan hubungan konsepkonsep. Istilah yang lebih tepat untuk penelitian ini adalah konsep. Dalam penelitian ini, penulis mendiskripsikan Kesaktian umum dengan pandangan Agama Buddha. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada dasarnya praktik mistik adalah salah satu metode dalam kesaktian, menempuh jalan mistik sungguh berat dan mensyaratkan bertekad bulat atas tujuan. Orang harus berlatih guna mengatasi aspek-aspek dengan cara tapa yang bisa terdiri dari puasa, beribadah, berpantang melakukan hubungan seksual, meditasi, bangun sepanjang malam, berjaga di kuburan orang sakti atau menyepi di gunung dan di gua. Tujuan tapa adalah penyucian guna mencapai samadi, yakni keadaan pikiran yang bisa digambarkan sebagai sebuah konsentrasi lepas di dunia. Tapa dan meditasi merupakan sarana yang memungkinkan dalam mencapai tujuan-tujuan yang sepenuhnya duniawi dan magis yang bisa saja bersifat merusak bagi orang lain. Melalui tapa dan samadi orang bisa menembus semesta alam dan memperoleh kekuasaan serta inspirasi dari kekuatan-kekuatan sakti. Dengan menjalankan tapa dan samadi, seseorang bisa memperoleh wawasan tentang kejadian di masa depan, tetapi peringatan mistik terhadap kebanggaan dan kepuasan diri menghalangi penyebaran wawasan-wawasan semacam itu. Menempuh jalan mistik adalah pekerjaan yang berbahaya dan sukar. Bisa-bisa seseorang dikuasai kekuatan jaha, menjadi gila, ataupun tersesat. Tentu saja orang tidak boleh berkecimpung di dalamnya pada usia terlalu Paramita. Acep, dan Priastana. Perbandingan Konsep Kesaktian muda, ketika ia dipandang tidak mampu menegakkan disiplin yang dibutuhkan atas jiwa dan raga. Maka dari itu, orang dianjurkanuntuk menggabungkan diri dengan seorang guru, seorang master yang dipandang sudah jauh meniti jalannya, dan yang bersedia menuntun orang lain dalam meraih gelar ngelmu . Buddha tidak pernah mengajarkan kepada para umatnya untuk mencari kesaktian, keajaiban dan mukjizat apalagi meminta kita untuk mempercayai kekuatan-kekuatan seperti itu karena tidak akan memberikan berkah dan Dan bagi mereka yang senang akan kesaktian, keajaiban, mukjizat atau kekuatan-kekuatan seperti itu serta mencari perlindungan sesaat darinya, mereka tidak akan pernah melihat kebenaran Dhamma yang dibabarkan oleh Buddha. Mereka yang demikian akan terlena dengan mencari kekuatan-kekuatan diluar dirinya dan lupa akan pencapaian yang menjadi tujuan akhir setiap manusia. Mengenal hal ini. Buddha tidak hanya sekali tetapi berulang kali dengan tegas melarang murid-muridnya menggunakan keajaiban untuk membuktikan kehebatan ajaranajarannya, walaupun banyak dari mereka memiliki kemampuan itu. Buddha hanya akan menggunakan kekuatannya tersebut bila memang benar-benar dibutuhkan untuk menolong orang lain. Di dalam Digha Nikaya I. Buddha menyatakan bahwa para pertapa yang melakukan peramalan suratan tangan, meramal sesuatu yang akan terjadi, mempersembahkan korban, mendapatkan jawaban sabda para dewa, berkomat-kamit dengan kata-kata tertentu berlaku seperti orang suci dan berpraktek sebagai dokter, merupakan pertapa-pertapa yang mendapatkan penghidupan dengan cara rendah. Bila suatu saat kita menyaksikan ada seseorang yang menyatakan dirinya sebagai pengikut Buddha tetapi melakukan hal-hal yang tidak terpuji sebagaimana yang telah dijabarkan diatas, maka kita harus berwaspada apakah beliau benar-benar murid Buddha . ila murid Buddha berarti beliau telah melanggar vinay. atau seseorang yang hanya mencari keuntungan pribadi dengan menggunakan nama Buddha . tau agama Buddh. yang sudah mempunyai reputasi Internasional hampir 2600 tahun lamanya. Kita harus ingat bahwa kebijaksanaanlah yang ditekankan oleh Buddha bagi pengikutnya, bukannya kepercayaan yang otoriter. Dengan ini diharapkan agar pengikut Buddha dapat berpikir secara rasional dan tidak fanatik secara membabi-buta. Bila sakit hendaknya umat Buddha mencari dokter untuk penyembuhan, bukannya mencari penyembuhan melalui kekuatan-kekuatan tertentu. Bila ingin hidup berkecukupan, bekerjalah secara baik dan benar bukannya berpangku tangan dengan meminta bantuan dari kekuatan-kekuatan seperti itu. Bila ingin bebas dari penderitaan, pelajarilah Dhamma dan laksanakan agar dapat membuahkan kebahagiaan, bukannya mencari perlindungan dari makhluk-makhluk atau benda-benda yang katanya memiliki atau menguasai keajaiban. Seperti cerita Angulimala, pada saat Angulimala akan membunuh ibunya untuk melengkapi jari tangan yang dikumpulkan . eribu tanga. untuk dipersembahkan kepada gurunya. Buddha mendatangi Angulimala dan berdiri di antara Angulimala dan ibunya. Pada saat Angulimala melihat Buddha, dengan pedang terhunus Angulimala berlari mengejar Buddha untuk membunuhnya. Walaupun Buddha berjalan dengan lambat. Angulimala tidak pernah berhasil mengejar dan menyentuh Buddha walaupun sudah mengejar sekuat tenaga. Kemudian Buddha memberikan nasehat kepada Angulimala. Setelah mendengar kata-kata Buddha. Angulimala menyadari perbuatannya dan kemudian ditahbiskan menjadi bhikkhu dan mencapai kesucian Arahat. SIMPULAN Berdasarkan dari hasil analisis sistem yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan dengan adanya bukti-bukti itu bahwa seseorang bisa memiliki kesaktian jika orang tersebut dapat memasuki ketenangan dalam meditasi dan memperoleh kebijaksanaan atau kecerdasan, maka kesaktian akan datang dengan Kesaktian bukanlah tujuan yang sebenarnya dari ajaran Buddha. Di dalam ajaran agama Buddha, sebesar atau sekuat apapun kesaktian seseorang, dia tidak akan bisa mengalahkan kekuatan Karma. Karma adalah kekuatan yang tidak terkalahkan. Di dalam ajaran agama Buddha, kesaktian bukanlah tujuan utama untuk mencapai kebebasan hidup dan mati. Tetapi kadang-kadang dengan menggunakan sedikit kesaktian akan bisa menuntun umat kearah melatih diri. Para Buddha Bodhisattva karena ingin menuntun umat, maka dengan kebijaksanaan mereka akan menunjukkan kesaktian demi meyakinkan umat dan menuntun umat menuju ke arah melatih diri, karena umat memiliki sifat merasa aneh dan ingin tahu. Misalnya Avalokitesvara Bodhisattva, dengan menggunakan kesaktiannya, melihat dan mendengar penderitaan makhluk hidup lalu dating menolonginya. Orang Jawa sangat yakin bahwa kemampuan serta keterampilan yang dimiliki oleh seseorang yang mempunyai kesaktian hanya dapat diperoleh dengan Paramita. Acep, dan Priastana. Perbandingan Konsep Kesaktian melakukan disiplin yang ketat dan dengan bertapa. Dalam keyakinan Orang Jawa, kekuatan sakti dapat mempunyai aspek baik dan buruk, tetapi ada juga beberapa jenis kekuatan energi yang buruk. Kesaktian bukanlah hal utama karena tidak membawa seseorang menjadi orang yang luhur atau suci. Terkadang kebalikan dari menjadi tercerahkan, kesaktian kadang membawa kesombongan, ego yang besar yang mengarah ke hal negatif. Oleh karena itu, kesaktian bukanlah merupakan tanda kesucian seseorang. Melampaui hal itu, kesaktian yang patut dikembangkan yang biasanya merupakan kesaktian orang suci adalah kemampuan memancarkan metta pada saat seseorang bisa menganalisa bahwa orang lain sedang membencinya atau ketika orang itu sedang menderita dan kesaktian melepaskan napsu ketika memandang obyek yang untuk orang lain sangat mengundang napsu serta mujizat tertinggi seperti yang disebutkan di atas yaitu kesaktian instruksi . isa menginstruksikan pikiran mana yang benar dan salah, mana yang harus dilakukan dan tidak/ kesaktian Pengetahua. Dengan sudut pandang di atas, ajaran Buddha memperlakukan kesaktian, keajaiban ataupun mukjizat sedemikian rupa sehingga membawa kita menjadi individu yang sabar, pemaaf, tidak sombong dan memiliki kualitas baik lainnya, dan membuat pikiran kita terbuka sehingga kita tidak mengejar kesaktian yang tidak sepatutnya diperjuangkan tidak menyerahkan kehidupan kita pada semua mahluk yg telah mempunyai atau telah menpertontonkan kesaktiannya Konsep Kesaktian dalam Kejawen berbeda dengan konsep Kesaktian dalam Agama Buddha, perbedaan tersebut terletak pada metode yang digunakan. Metode yang digunakan dalam ajaran Budda memiliki petunjuk yang jelas dan terarah. Sedangkan metode yang digunakan dalam tradisi Kejawen tidak memiliki metode yang DAFTAR RUJUKAN Achmad. Sri Wintala. Falsafah Kepemimpinan Jawa. Yogyakarta: araska. Dennys. Lombard. Nusa Jawa: Silang Budaya. Jakarta: Gramedia Pustaka. (DN. Kevadha Sutta: . Endraswara. Suwardi. Agama Jawa. Yogyakarta: Narasi. Hadiwijoyo. Intisari Filsafat India. Jakarta: Erlangga. Herusatoto. Budiono. Konsepsi Spiritual Leluhur Jawa. Yogyakarta: Ombak. Kalupahana. David J. Filsafat Buddha Sebuah analisis Historis. Jakarta: Erlangga. Koentjaraningrat. Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka. Mulder. Niles. Mistisme Jawa Idiologi di Indonesia. Yogyakarta: Lkis. Panjika. Kamus Umum Buddha Dhamma. Jakarta: Tri Sattva Buddhist Centre. Purwadi. Filsafat Jawa. Yogyakarta: Cipta Pustaka. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Raffles. Thomas Stamford. The History Of Java. Yogyakarta: Narasi Santoso. Iman Budhi. Lelaku Prihatin Investasi Menuju Sukses Ala Manusia Jawa. Yogyakarta: Memayu Publishing. Schie. Van, 1996. Manusia Segala Abad Pencari Serta Pencipta Makna Hidupnya. Jakarta: Obor. Soemardjan. Selo. Perubahan Sosial Dalam Masyarakat Yogyakarta. Jakarta: Balai Pustaka. Solikhin. Muhammad. Kanjeng Ratu Kidul. Jakarta: Narasi. Sukatno. Otto dan Arif Khohil. Mata Air Peradaban Dua Mellenium Wonosobo. Yogyakarta: Lkis Yogyakarta. Suyono. Capt. Dunia Mistik Orang Jawa Roh. Ritual. Benda Magis. Yogyakarta: Lkis. Teja Rashid. Sila dan Vinaya. Jakarta: Penerbit Buddhis Bodhi. Tipitakadhara Mingun Sayadaw. Riwayat Agung Para Buddha I. Ehipassiko Foundation Giri Mangala Publications Widya. Dr. Surya. Dhammapada. Jakarta: Yayasan Abdi Dhamma Indonesia. Wijaya Mukti. Krisnanda. Wacana Buddha Dhamma. Jakarta: Ekayana Buddhist Centre. Wintala Achmad. Sri. Falsafah Kepemimpinan Jawa. Yogyakarta: Araska. Paramita. Acep, dan Priastana. Perbandingan Konsep Kesaktian