Archive. Vol. No. Desember 2024, pp. ISSN: 2809-7076 (Onlin. ISSN: 2809-7246 (Prin. DOI: https://doi. org/10. 55506/arch. Advokasi Guru Sekolah Mitra tentang Urgensi & Desain Pembelajaran untuk Penguatan Keterampilan Kolaborasi Siswa dalam Akselerasi Pemulihan Mutu Pembelajaran di Kota Kediri Poppy Rahmatika Primandiria*. Suciptoa. Muhammad Najibullah Muzakia. RoAoikatul Jannaha. Dila Elpin Setiania. Dewi Rossylia Watia. Mohammad Annan Makruf Mustofaa. Umar Al Faruqa. Yunita Sukawatib. Ahmad Fauzanb. Heri Setiawanb. Sulastric. Ibnu Qoyimd. Chairul Effendie. Kanako N. Kusanagif. Zainal Afandia. Agus Muji Santosoa Universitas Nusantara PGRI Kediri. Indonesia SMPN 5 Kediri. Indonesia PDM 10 Ditjen PAUD-DASMEN Kemdikbudristek. Indonesia Dinas Pendidikan Kota Kediri. Indonesia Cabang Dinas Pendidikan Kota Kediri. Indonesia Nagoya University. Japan Artikel Info ABSTRAK Genesis Artikel: Latar Belakang: Ada kesenjangan kolaborasi siswa berkemampuan akademik tinggi dengan rendah. Pemahaman dan keterampilan guru dalam mendesain pembelajaran kolaboratif perlu dikuatkan. Tujuan: Menguatkan pemahaman dan keterampilan guru tentang desain pembelajaran yang menguatkan keterampilan kolaborasi siswa. Metode: Program advokasi dilaksanakan dengan model pembelajaran ODSIMED yang terdiri atas Observation. Design. Socialisasion. Implementation. Monitoring. Evaluation, dan Desemination bagi guru-guru sekolah mitra. Hasil: Ratarata skor pemahaman guru meningkat dengan kategori sedang (N Gain = 0,. Kesimpulan: Advokasi yang dilakukan efektif dalam meningkatkan pemahaman guru tentang keterampilan kolabroasi siswa. Dikirim, 29 November 2024 Diterima, 12 Desember 2024 Diterbitkan, 25 Desember 2024 Kata Kunci: Keterampilan Kolaborasi Rapor Pendidikan Kurikulum Merdeka Literasi dan Numerasi ABSTRACT Keywords: Collaboration Skills Education Report Card Independent Curriculum Literacy and Numeracy Background: There is a collaboration gap between high and low academic Teachers' understanding and skills in designing collaborative learning need to be strengthened. Objective: To strengthen teachers' understanding and skills about learning design that strengthen students' collaboration skills. Methods: The advocacy program was carried out with the ODSIMED learning model consisting of Observation. Design. Socialization. Implementation. Monitoring. Evaluation, and Desemination for teachers of partner schools. Results: The average teacher's comprehension score increased with a moderate category (N Gain = 0. Conclusion: The advocacy carried out is effective in improving teachers' understanding of students' collaboration skills. This is an open access article under the CC BY-SA License. Penulis Korespondensi: Poppy Rahmatika Primandiri Program Studi Pendidikan Biologi. Universitas Nusantara PGRI Kediri. Email: poppyprimandiri@unpkediri. Orchid ID: https://orcid. org/0000-0003-0232-882X Archive: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Archive. Vol. No. Desember 2024, pp. ISSN: 2809-7076 (Onlin. ISSN: 2809-7246 (Prin. DOI: https://doi. org/10. 55506/arch. PENDAHULUAN Kolaborasi menjadi bagian penting dari proses pembelajaran karena dapat meningkatkan interaksi dan kerja sama di antara peserta didik, meningkatkan pemahaman (Wicaksono, 2. , dan retensi pengetahuan (Kasimovna, 2. Keterampilan kolaborasi mengacu pada kemampuan siswa untuk bekerja sama dalam mencapai tujuan bersama (Saputri & Maura, 2. , terutama dalam menyelesaikan masalah (Demetroulis et al. , 2024. Yadav et al. , 2. Keterampilan ini akan selalu diterapkan tidak hanya di sekolah, tetapi juga saat siswa berkarir di dunia kerja, di mana kolaborasi sering kali menjadi kunci untuk inovasi dan keberhasilan tim (Morel, 2. Oleh karena itu, pengembangan keterampilan kolaborasi siswa harus menjadi fokus utama dalam proses pembelajaran, agar mereka siap menghadapi tantangan di masa depan dan mampu berkontribusi secara efektif (Lynch, 2. Oleh karena itu, salah satu indiaktor pembelajaran yang bermutu adalah pembelajaran mampu memberdayakan keterampilan kolaborasi antar siswa. Guru perlu mengembangkan desain pembelajaran untuk menguatkan keterampilan kolaborasi. Namun kenyataannya, keterampilan kolaborasi siswa masih rendah di sekolah. Hal ini disebabkan oleh metode pengajaran yang masih banyak menggunakan pendekatan yang monoton, dengan bahan ajar konvensional yang terbatas pada media cetak dan kurang interaktif, sehingga partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran masih sangat kurang (Orbit Thomas et al. , 2. Berdasarkan hasil studi pendahuluan mengungkapkan bahwa siswa berkemampuan akademik atas akan selalu bekerja sama dengan siswa yang berkemampuan akademik atas. Begitu pula sebaliknya yaitu siswa berkemampuan akademik rendah merasa enggan untuk meminta bantuan kepada temannya yang berkemampuan akademik atas. Hal tersebut terjadi apabila pembentukan kelompok belajar di kelas tidak dilaksanakan berdasarkan asesmen awal yang memetakan kesiapan belajar siswa. Kesenjangan kolaborasi tersebut juga dapat terjadi karena tugas yang diberikan untuk diselesaikan melalui kelompok dapat diselesaikan secara mandiri dan melalui pembagian tugas. Artinya tidak ada tugas yang menantang yang dapat diselesaikan secara bersama-sama. Hasil studi pendahuluan juga mengungkapkan bahwa guru sering membagi siswa dalam kelompok-kelompok belajar di kelas, namun tugas diselesaiakan oleh siswa dengan cara berbagai tugas kemudian dikompilasi. Proses bertukar pendapat dan gagasan masih terbatas sehingga hasil diskusi kelompok lebih didominasi oleh satu hingga dua siswa yang berkemampuan akademik atas. Berdasarkan uraian tentang urgensi keterampilan kolaborasi dan kondisi empiris di lapangan, diperlukan advokasi kepada guru-guru sekolah mitra. Advokasi bertujuan untuk memberikan wawasan yang lebih mendalam kepada guru tentang urgensi keterampilan kolaborasi dan bagaimana mendesain pembelajaran yang meningkatkan kolaborasi antar siswa di kelas. Program advokasi ini ditujukan kepada guru-guru di sekolah mitra PDM 10 Ditjen PAUD DASMEN Kemdikbudristek dengan sekolah model/rujukan SMPN 5 Kota Kediri. Pelatihan ini sangat penting dilaksanakan untuk meningkatkan keterampilan guru (Nurwidodo et al. , 2022. Warman et al. , 2024. Yahya et al. , 2. Tujuan pengabdian Archive: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Archive. Vol. No. Desember 2024, pp. ISSN: 2809-7076 (Onlin. ISSN: 2809-7246 (Prin. DOI: https://doi. org/10. 55506/arch. kepada masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan guru-guru sekolah mitra dalam mengembangkan desain pembelajaran yang menguatkan kolaborasi siswa sehingga dapat mengakselerasi pemulihan mutu pembelajaran di Kota Kediri. METODE PENGABDIAN Pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan pada bulan Agustus Ae Nopember 2024. Pengabdian kepada masyarakat di SMPN 5 Kediri ini dilaksanakan dengan pendekatan pemberdayaan berbasis partisipasi kolaboratif. Pendekatan tersebut bermakna bahwa: . program pengabdian kepada masyarakat yang dirancang bertujuan untuk meningkatkan kemandirian kelompok masyarakat, . kelompok masyarakat yang menjadi sasaran terlibat aktif dalam mengisiasi ide-ide dan terlibat aktif dalam memberikan dukungan. Tahapan kegiatan mengikuti model pelaksanaan pemberdayaan masyarakat yaitu ODSIMED dari (Santoso et al. , 2021, 2. ODSIMED merupakan akronim dari Observation. Development. Socialisation. Implementation. Monitoring. Evaluation, dan Desemination. Deskripsi singkat tahapan tersebut tersaji pada Tabel 1. Tabel 1 Tahapan PkM-KM Tahun 2024 Tahapan Observation . Development . Socialisation . Implementation . Monitoring . Evaluation . Disseminate . Deskripsi Observasi dilakukan dalam rangka memverifikasi hasil analisis kebutuhan. Tahap ini dilaksanakan dengan mengobservasi kebutuhan guru untuk mendesain pembelajaran yang menguatkan kolaborasi. Observasi disertai dengan wawancara dengan guru terkait perangkat pembelajaran serta kendala-kendala mitra selama ini. Program disusun bersama dengan guru di SMPN 5 Kediri melalui diskusi terumpun atau Focus Discussion Group (FGD). Selain itu, diskusi terumpun juga dilakukan dengan melibatkan dinas terkait yaitu Dinas Pendidikan Kota Kediri dan Cabang Dinas Pendidikan Kota Kediri. Program ini dilaksanakan untuk menyebarluaskan nama program, tujuan, luaran, dan jadwal pelaksanaan program kepada mitra sasaran. Pada tahap sosialisasi, urgensi program juga mendapatkan menguatan secara langsung dari Dinas Pendidikan Kota Kediri dan Cabang Dinas Pendidikan Kota Kediri dengan memberikan sambutan dan arahan. Program ini bertujuan agar mitra memiliki keterampilan dalam memahani pembelajaran Program pelatihan dilaksanakan oleh tim PkM-KM dengan mengikutsertakan lima . orang mahasiswa. Peran mahasiswa sebagai instruktur pendamping dan sebagai anggota tim penyusun materi. Acara pelatihan dimulai dari pengenalan tim, penyampaikan tujuan dan luaran, penyampaikan materi oleh Dr. Kanako N. Kusanagi sebagai narasumber tentang filosofi, urgensi, dan praktik baik kolaborasi siswa di Jepang. Dilanjutkan pendalaman materi oleh tim dosen dari Universitas Nusantara PGRI Kediri tentang desain pembelajaran yang menguatkan keterampilan kolaborasi. Kemudian dilanjutkan diskusi dan tanya jawab, serta sesi praktik langsung . ands o. Peserta yang mengikuti pelatihan sejumlah 52 orang. Selama pelatihan dilakukan observasi untuk mengungkap profil keterampilan mitra dalam memahami pembelajaran kolaborasi. Observasi partisipasi dilakukan oleh tim narasumber dan instruktur pendamping sesuai dengan lembar observasi yang telah divalidasi sebelumnya. Diakhir sesi, tim PkM-KM membagikan angket untuk menerima umpan balik terhadap mutu layanan PkM yang diberikan. Saat mitra mendesain pembelajaran yang menguatkan kolaborasi, tim PkM-KM dan Lembaga Penjamin Mutu Universitas Nusantara PGRI Kediri melaksanakan monitoring. Monitoring bertujuan untuk memberikan problem solving dan arahan kepada mitra yang mendapatkan Evaluasi dilakukan oleh tim PkM-KM Universitas Nusantara PGRI Kediri dengan menganalisis hasil pengisian angket umpan balik layanan dan hasil keterampilan peserta. Data dianalisis secara deskriptif dengan menyajikan data rata-rata skor keterampilan setiap aspek serta skor rata-rata butir/indicator mutu layanan program PkM. Penyebarluasan hasil PkM-KM di SMPN 5 Kediri oleh Tim PkM-KM Universitas Nusantara PGRI Kediri dilakukan melalui beberapa kanal yaitu publikasi artikel hasil PkM-KM melalui Archive: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Archive. Vol. No. Desember 2024, pp. ISSN: 2809-7076 (Onlin. ISSN: 2809-7246 (Prin. DOI: https://doi. org/10. 55506/arch. Jurnal Nasional Terakreditasi (Sint. , publikasi pada media massa di Radar Kediri Jawa Pos, pelepasan video program pada kanal YouTube institusi, dan pembuatan poster. 3 HASIL DAN ANALISIS Kegiatan pelatihan pemahaman guru terhadap keterampilan kolaborasi di pembelajaran diikuti oleh 52 orang guru di SMPN 5 Kediri. Pelatihan diawali dengan pemaparan materi oleh narasumber yaitu Dr. Kanako N. Kusanagi dari Nagoya University (Gambar . Setelah itu peserta melakukan pelatihan tentang kolaborasi bersama instruktur. Temuan hasil pengabdian dapat dilihat di Tabel 2. Gambar 1. Tangkapan layar saat sesi kolaborasi narasumber dari Universitas Nusantara PGRI Kediri dengan Univeritas Nagoya (Jepan. dalam program advokasi keterampilan kolaborasi bagi guru-guru Tabel 2 Skor Profil Pemahaman Guru Sekolah Mitra tentang Keterampilan Kolaborasi No. Butir Pemahaman Kolaborasi Kolaborasi di kelas bukan hanya sekadar membagi tugas Setiap siswa dalam sebuah kelompok kolaboratif memiliki tanggung jawab Dalam sebuah kelompok kolaboratif, keputusan diambil bersama-sama atau pun boleh ditentukan oleh siswa yang berkemampuan akademik tinggi saja Dalam sebuah kelompok kolaborasi, antar siswa memiliki tugas yang saling berkaitan Kolaborasi terjadi jika siswa berkemampuan akademik tinggi menghargai keberadaan temannya yang berkemampuan akademik Siswa berkemampuan akademik rendah harus dimotivasi agar mau bertanya kepada temannya jika memiliki kendala/kesulitan dalam belajar Dalam sebuah kelompok, ternyata ada beberapa siswa berkemampuan akademik rendah yang dibiarkan oleh temannya. Saya sebagai guru akan membiarkan hal itu karena itu tanggung jawab kelompok. Saya selalu mendorong siswa berkemampuan akademik atas agar mereka memiliki inisitif untuk menawarkan bantuan kepada temannya Skor Rata-Rata Awal 3,01 A 1,08 Akhir 3,83 A 0,38 N-Gain 0,83 Kategori Peningkatan Tinggi 2,88 A 1,22 3,87 A 0,34 0,92 Tinggi 1,56 A 0,67 2,28 A 1,04 0,30 Sedang 2,49 A 0,39 3,79 A 0,55 0,86 Tinggi 3,22 A 0,07 3,81 A 0,40 0,76 Sedang 3,11 A 0,54 3,87 A 0,34 0,85 Tinggi 2,73 A 0,96 3,32 A 1,12 0,46 Sedang 3,02 A 0,02 3,70 A 0,55 0,69 Sedang Berdasarkan Tabel 2, peserta pelatihan telah mampu memahami bahwa kolaborasi di kelas bukan hanya sekedar membagi tugas (N-Gain 0,82, kategori Tingg. Kolaborasi melibatkan partisipasi aktif siswa (Kaltsas & Gkaintartzi, 2. , pengalaman belajar bersama siswa, dan membina hubungan di Archive: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Archive. Vol. No. Desember 2024, pp. ISSN: 2809-7076 (Onlin. ISSN: 2809-7246 (Prin. DOI: https://doi. org/10. 55506/arch. mana siswa berinteraksi satu sama lain dan juga berinteraksi dengan guru (Boye, 2. Oleh karena itu, peran guru dalam memfasilitasi kelompok agar produktif menjadi sangat penting (Webb & Burnheimer, 2. Guru dapat memfasilitasi diskusi kelompok agar produktif dengan mengatur jalannya diskusi, mendorong siswa saling memberikan masukan, memberikan dukungan, dan memberikan ide-ide inovatif sehingga dapat meningkatkan pemahaman dan keterlibatan siswa (Wei et , 2. Dengan adanya fasilitasi guru, diskusi siswa bisa berlangsung sesuai dengan aturan sehingga diskusi dapat berjalan secara efektif (Kraatz et al. , 2. dan dapat menumbuhkan empati antar siswa (Omelchenko, 2. Peserta pelatihan memahami jika setiap siswa dalam sebuah kelompok kolaboratif memiliki tanggung jawab (N-Gain 0,92, kategori tingg. Keterlibatan dan kontribusi aktif setiap siswa sangat penting untuk mencapai tujuan bersama dan mendukung satu sama lain, yang pada akhirnya mengarah pada peningkatan hasil pembelajaran (Webb & Burnheimer, 2. Tanggung jawab pada kontribusi aktif siswa juga akan meningkatkan motivasi, memastikan bahwa setiap anggota kelompok akan menyelesaikan tugas dengan saling memberikan dukungan antar siswa di kelompok (Gillies, 2. Setiap siswa berkontribusi secara berbeda tetapi mendukung tujuan bersama (Triyanto, 2. Dalam sebuah kelompok kolaboratif, keputusan diambil bersama-sama atau pun boleh ditentukan oleh siswa yang berkemampuan akademik tinggi saja (N-gain 0,30, kategori sedan. Peserta pelatihan menyatakan jika keputusan sering diambil oleh siswa berkemampuan akademik tinggi karena siswa dengan akademik rendah sering pasif di diskusi. Sehingga siswa dengan kemampuan tinggi akan mendominasi jalannya diskusi sampai mengambil keputusan dengan meninggalkan siswa yang berkemampuan kurang. Guru juga kurang memberikan perhatian kepada siswa dengan kemampuan rendah menjadi pasif di kegiatan diskusi. Pengambilan keputusan kolaboratif harus berasal dari ide-ide yang beragam dari semua anggota kelompok, bukan hanya dari siswa yang berkemampuan tinggi (Arroyo et al. , 2. Kontribusi dari semua anggota kelompok akan menumbuhkan rasa kebersamaan (Arshed et al. , 2. Dalam sebuah kelompok kolaborasi, antar siswa memiliki tugas yang saling berkaitan (N-Gain 0,86, kategori tingg. Tugas di kelompok kolaboratif yang menuntut siswa mengerjakan tugas yang saling terkait dan membutuhkan kerja sama akan menciptakan saling ketergantungan antar siswa sehingga dapat meningkatkan fokus pada tujuan bersama, mengembangkan keterampilan berpikir kritis, pengambilan keputusan, dan keterampilan pemecahan masalah (Sarode & Bakal, 2. Ketergantungan positif antara siswa akan mendorong mereka untuk menyelesaikan tugas yang diberikan guru sambil memastikan bahwa siswa lain dalam kelompok juga mencapai tujuan mandiri (Gillies, 2. misalkan pemahaman konsep, ide-ide inovatif dan lainnya. Kolaborasi terjadi jika siswa berkemampuan akademik tinggi menghargai keberadaan temannya yang berkemampuan akademik rendah (N-Gain 0,76, kategori sedan. Saling menghargai akan Archive: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Archive. Vol. No. Desember 2024, pp. ISSN: 2809-7076 (Onlin. ISSN: 2809-7246 (Prin. DOI: https://doi. org/10. 55506/arch. mendorong komunikasi positif, memungkinkan siswa untuk terlibat secara aktif, berbagi ide, dan mendapatkan manfaat dari proses diskusi kolaboratif (Zhang, 2. Seringkali, beberapa siswa berkemampuan akademik tinggi akan menerima siswa berkemampuan akademik rendah di kelompok tanpa mengharapkan kontribusi tinggi dari mereka(Santoso. Primandiri, et al. , 2. Meskipun demikian siswa berkemampuan akademik rendah harus berusaha untuk berkontribusi aktif sehingga dapat menghindari ketergantungan berlebihan pada siswa berkemampuan akademik tinggi (Griebeler. Siswa berkemampuan akademik rendah harus dimotivasi agar mau bertanya kepada temannya jika memiliki kendala/ kesulitan dalam belajar (N-gain 0,85, kategori tingg. Siswa berkemampuan akademik rendah, harus dimotivasi untuk bertanya kepada teman lain jika mengalami kesulitan belajar untuk meningkatkan hasil belajar (Burlison et al. , 2. dan memperkuat persahabatan (Okada, 2007. Saraswati & Winarsunu, 2. Guru dapat memotivasi siswa berkemampuan rendah dengan melakukan pembimbingan dan memberikan nasehat (Manivasakan et al. , 2. Berdasarkan hasil pelatihan, guru sudah mampu memahami pentingnya merancang pembelajaran yang menguatkan kolaborasi siswa. Untuk pelaksanaan pengabdian kepada masyakarat, peserta pelatihan telah menilai mutu layanan pada Tabel 3. Mutu pelaksanaan pengabdian masyarakat mendapatkan respon yang sangat baik dari peserta Berdasarkan Tabel 3, skor rata-rata mutu layanan yang diberikan oleh Tim Dosen Pelaksana PkM-Kemitraan Masyarakat Universitas Nusantara PGRI Kediri termasuk sangat baik. Narasumber dan instruktur telah mampu mengelola alokasi waktu secara optimal dalamsesi penyampaikan materi. Termasuk kegiatan diskusi dan tanya jawab yang terjadi selama sesi-sesi tersebut berlangsung. Peserta pelatihan menyatakan bahwa materi yang diberikan sesuai dengan kebutuhan guru untuk meningkatkan mutu layanan yang mencapai skor 4,68 . angat bai. Penjelasan dari narasumber juga dinilai oleh peserta mudah dipahami dengan skor 4,60 . angat bai. Alokasi waktu pelatihan mendapatkan skor 4,26 . aik sekal. Tempat pelaksan dinilai oleh peserta sangat representatif dan kondusif untuk mendukung kegiatan sehingga kegiatan dapat berjalan dengan lancar. Aspek ini mendapatkan skor 4,60 . angat bai. Aspek kecukupan waktu bagi peserta untuk berdiskusi dan bertanya mendapatkan skor 4,72 . angat bai. Berdasarkan hasil layanan mutu PkM, kegiatan PkM untuk advokasi pemahaman dan keterampilan guru dalam mendesain pembelajaran yang menguatkan keterampilan kolaborasi siswa termasuk kategori sangat baik. Tabel 3 Skor Profil Mutu Layanan Pengabdian kepada Masyarakat No. Aspek Mutu Layanan Materi sesuai dengan kebutuhan guru untuk meningkatkan mutu Penjelasan narasumber mudah dipahami Alokasi waktu kegiatan cukup Tempat kegiatan representatif sehingga mendukung kegiatan Peserta diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapat, berdiskusi, dan Archive: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Skor 4,68 A 0. Kategori Sangat Baik 4,60 A 0,58 4,26 A 0,67 4,60 A 0,61 4,72 A 0,54 Sangat Baik Sangat Baik Sangat Baik Sangat Baik Archive. Vol. No. Desember 2024, pp. ISSN: 2809-7076 (Onlin. ISSN: 2809-7246 (Prin. DOI: https://doi. org/10. 55506/arch. Mutu layanan PkM pada program advokasi yang termasuk kategori sangat baik ini disebabkan aktivitas-aktivitas pemberdayaan yang dilakukan telah mengacu pada analisis kebutuhan, karakteristik mitra sasaran, dan berbasis kolaborasi dengan mitra eksternal dengan Universitas Nagoya (Jepan. dan PDM 10 Ditjen PAUD DASMEN Kemdikbudristek. Hal tersebut sesuai dengan temuan sebelumnya bahwa program pemberdayaan yang dirancang dan dikembangkan berdasarkan pada analisis kebutuhan mitra di lapangan, karakteristik mitra program, dan ketersediaan sumber daya akan memiliki mutu layanan yang optimal (Santoso. Istiqlaliyah, et al. , 2. Mutu layanan program pengabdian kepada masyarakat juga dipemngaruhi sejauh mana mitra sasarana mendapatkan pemahaman tentang urgensi program yang akan dilaksanakan. Pada program PkM advokasi ini, tim pelaksana menggunakan model pemberdayaan ODSIMED dimana salah satu tahapan penting yang dilakukan adalah observasi lapang . , pengembangan program . , dan sosialisasi program . melibatkan perwakilan mitra sasaran secara langsung. 4 KESIMPULAN Program PkM advokasi ini dapat meningkatkan pemahaman dan keterampilan guru tentang pembelajaran dan asesmen yang menguatkan keterampilan kolaborasi siswa. Mutu layanan program advokasi ini juga mendapatkan respon sangat baik dari peserta . uru sekolah mitr. Rencana pengambangan pengabdian selanjutnya adalah pendampingan guru untuk melaksanakan desain pembelajaran yang sudah dibuat. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Direktorat Riset. Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) Kemdikbudristek yang telah membiayai kegiatan ini melalui Hibah PkMKemitraan Masyarakat SMPN Kediri Nomor Kontrak Induk: 129/E5/PG. 00/PM. BARU/2024. Ditjen PAUD DASMEN Kemdikbudristek dalam Program Pemulihan Pembelajaran serta kepada Dinas Pendidikan Kota Kediri atas dukungannya. REFERENSI