Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 1: April 2025 Original Article Combination of Marmet Massage Therapy and Stimulation of Endorpin. Oxytocin, and Suggestive Massage (SPEOS) on Increased Breast Milk Production Kombinasi Terapi Pijat Marmet dan Stimulasi Pijat Endorpin. Oksitosin, dan Sugestif (SPEOS) terhadap Peningkatan Produksi Air Susu Ibu Eni Folendra Rosa1. Rita Kamalia2,Umar Hasan Martadinata3. Nelly Rustiati4. Vina Ameliantika Putri5 1,2,3,4,5 Politeknik Kesehatan Kemenkes Palembang *Corresponding Author: Eni Folendra Rosa Politeknik Kesehatan Kemenkes Palembang Email: enifrosa@gmail. Keyword: Breastfeeding. SPEOS. Marmet Massage Kata Kunci: Air Susu Ibu. SPEOS. Pijat Marmet A The Author. 2025 Abstract Insufficient milk production is often a problem for breastfeeding mothers, which can affect the health and development of the baby. The combination of Marmet's massage therapy and Stimulation of Endorphins. Oxytocin, and Suggestive Massage (SPEOS) has been proposed as an effective method to increase milk production. This study aims to evaluate the effectiveness of the combination of Marmet massage therapy and SPEOS on increasing breast milk production in breastfeeding mothers. This study uses a case study design with a nursing process approach. Two breastfeeding mothers with the problem of inadequate milk supply were the subjects of the study. The intervention involved breastfeeding education and the application of Marmet massage and SPEOS for 4 days. Data were collected through interviews, observations, and a checklist sheet to record the frequency of breastfeeding and frequency of infant urination. The results showed that in the first client, the frequency of breastfeeding increased from 6 times before the intervention to 10 times after the intervention. In addition, the frequency of infant urination also increased from 5 times before the intervention to 8 times after the intervention. Similar results were also seen in the second client, where the frequency of breastfeeding increased from 3 times before the intervention to 10 times after the intervention, while the frequency of baby's BAK increased from 4 times before the intervention to 9 times after the These improvements indicate that the combination of Marmet and SPEOS massage is effective in increasing breastmilk production, breastfeeding frequency, and infant voiding frequency, which are indicators of adequate breastmilk intake and good hydration for infants. The combination of Marmet's massage therapy and SPEOS is effective in increasing breast milk production, breastfeeding frequency, and infant voiding This intervention can be a holistic non-pharmacological alternative to support successful breastfeeding and improve the quality of life of mothers and infants. Abstrak Article Info: Received : July 18, 2024 Revised : March 5, 2025 Accepted : March 6, 2025 Cendekia Medika: Jurnal STIKes AlMaAoarif Baturaja e-ISSN : 2620-5424 p-ISSN : 2503-1392 This is an Open Access article distributed under the terms of the Creative Commons AttributionNonCommercial 4. 0 International Produksi ASI yang tidak mencukupi sering menjadi masalah bagi ibu menyusui, yang dapat mempengaruhi kesehatan dan perkembangan bayi. Kombinasi terapi pijat Marmet dan Stimulasi Pijat Endorfin. Oksitosin, dan Sugestif (SPEOS) telah diusulkan sebagai metode efektif untuk meningkatkan produksi ASI. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas kombinasi terapi pijat Marmet dan SPEOS terhadap peningkatan produksi ASI pada ibu menyusui. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus dengan pendekatan proses keperawatan. Dua ibu menyusui dengan masalah ketidakadekatan suplai ASI menjadi subjek penelitian. Intervensi melibatkan edukasi menyusui serta penerapan pijat Marmet dan SPEOS selama 4 hari. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan lembar ceklist untuk mencatat frekuensi menyusui dan frekuensi BAK bayi. Hasil penelitian menunjukkan Pada klien pertama, frekuensi menyusui meningkat dari 6 kali sebelum intervensi menjadi 10 kali setelah intervensi. Selain itu, frekuensi BAK bayi juga meningkat dari 5 kali sebelum intervensi menjadi 8 kali setelah intervensi. Hasil serupa juga terlihat pada klien kedua, di mana frekuensi menyusui meningkat dari 3 kali sebelum intervensi menjadi 10 kali setelah intervensi, sementara frekuensi BAK bayi meningkat dari 4 kali sebelum intervensi menjadi 9 kali setelah intervensi. Peningkatan ini menunjukkan bahwa kombinasi pijat Marmet dan SPEOS efektif dalam meningkatkan produksi ASI, frekuensi menyusui, dan frekuensi BAK bayi, yang merupakan indikator kecukupan asupan ASI dan hidrasi yang baik bagi bayi. Kombinasi terapi pijat Marmet dan SPEOS efektif dalam meningkatkan produksi ASI, frekuensi menyusui, dan frekuensi BAK https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 1: April 2025 License. PENDAHULUAN Intervensi ini dapat menjadi alternatif non-farmakologis yang holistik untuk mendukung keberhasilan menyusui dan meningkatkan kualitas hidup ibu dan bayi. Menyusui adalah metode alami dan bermanfaat untuk memberi nutrisi pada bayi, meningkatkan kesehatan, hubungan, dan pertumbuhan ekonomi1. Hal ini memperkuat hubungan antara ibu dan anak, yang mengarah pada peningkatan kesehatan emosional dan penurunan angka kematian bayi2. Hal ini penting bagi kesejahteraan anak secara keseluruhan, dan kekurangan ASI dapat berdampak buruk pada bayi dan anak kecil3. Menurut World Health Organization, hanya separuh bayi berusia kurang dari enam bulan di Indonesia yang mendapat ASI eksklusif, menurun dibandingkan tahuntahun sebelumnya4. Target yang ditetapkan WHO untuk pemberian ASI eksklusif di seluruh dunia adalah 70%. Di Sumatera Selatan, persentase bayi yang mendapat ASI eksklusif sebesar 60,7%. 5 Di Kabupaten OKU, cakupan ASI Eksklusif meningkat sebesar 8,7% dari tahun Namun di Puskesmas Tanjung Agung, hanya 46% bayi yang mendapat ASI ASI, terutama dari ibu, sangatlah penting dan bermanfaat bagi bayi, terutama pada bulan-bulan awal kehidupannya7,8. Ini diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan mereka9. ASI saja sudah mencukupi kebutuhan bayi pada 6 bulan pertama, menghilangkan kebutuhan akan makanan atau minuman lain 10. Pemberian ASI eksklusif menawarkan banyak manfaat seperti peningkatan kesehatan ibu dan anak, ikatan yang lebih kuat di antara mereka, penurunan angka penyakit dan kematian, penurunan risiko kemungkinan penyakit ovarium dan kanker payudara11, 12. Menyusui juga praktis dan hemat biaya karena mengurangi biaya pembelian susu formula dan merawat anak yang sakit, sehingga pada akhirnya memberikan manfaat bagi sumber daya manusia suatu negara13, 14. Pemberian ASI yang tidak efektif terjadi ketika ibu dan bayi mengalami masalah dan 15,16 Kurangnya produksi ASI dapat ditandai dengan kurangnya ASI yang menetes atau muncrat dari payudara dan bayi tidak buang air kecil minimal 8 kali Perawat dapat mendukung dengan menawarkan pendidikan tentang menyusui, dukungan emosional, bimbingan yang tepat tentang laktasi, dan teknik relaksasi kepada ibu yang memerlukannya18. Salah satu pendekatan non-farmakologis yang dapat membantu meningkatkan produksi ASI adalah dengan terapi pijat19, 20. Pijat Marmet dan Stimulasi Pijat Endorfin. Oksitosin, dan Sugestif (SPEOS) adalah dua teknik pijat yang diketahui efektif dalam meningkatkan produksi ASI21. Pijat Marmet adalah teknik pemijatan manual yang dirancang untuk meningkatkan aliran ASI mengosongkan payudara secara efisien dan merangsang produksi ASI22, 23. Di sisi lain. SPEOS adalah kombinasi teknik pijat yang menargetkan hormon-hormon penting seperti endorfin dan oksitosin yang berperan dalam produksi ASI dan pengurangan stres pada ibu menyusui24. Studi-studi sebelumnya telah menunjukkan efektivitas masing-masing teknik pijat ini dalam meningkatkan produksi ASI. Namun, penelitian mengenai kombinasi dari kedua teknik ini masih terbatas. Kombinasi terapi Pijat Marmet dan SPEOS berpotensi memberikan manfaat sinergis yang lebih besar dalam meningkatkan produksi ASI dibandingkan dengan penerapan masingmasing teknik secara terpisah. Pendekatan holistik ini tidak hanya berfokus pada aspek fisik tetapi juga pada kesejahteraan https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 1: April 2025 emosional ibu, yang memainkan peran penting dalam produksi ASI7, 25. Berdasarkan data diatas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kombinasi terapi pijat marmet dan SPEOS terhadap ASI. Dengan demikian, diharapkan penelitian ini dapat memberikan alternatif intervensi yang efektif bagi ibu menyusui yang mengalami masalah produksi ASI, serta berkontribusi pada peningkatan angka pemberian ASI eksklusif di Indonesia. METODE Penelitian ini menggunakan desain studi Studi kasus ini bertujuan untuk mengetahui kombinasi terapi pijat marmet dan SPEOS terhadap peningkatan produksi ASI. Studi kasus ini merupakan bagian dari penelitian utama sebelumnya yang berfokus pada edukasi holistik menyusui, dimana materi edukasi antara lain pijat marmet dan SPEOS. Penelitian mengembangkan kajian lebih lanjut. Pelaksanaan studi kasus ini berfokus pada implementasi yaitu Edukasi Menyusui dikombinasi SPEOS pada ibu post partum yang mengalami menyusui tidak efektif berhubungan dengan ketidakadekuatan suplai ASI di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Tanjung Agung. Subyek pada studi kasus ini adalah 2 ibu menyusui dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Adapun kriteria inklusi ini yaitu Ibu Ibu menyusui anak pada usia 1 Ibu menyusui yang kooperatif dengan perawat. Ibu menyusui dengan masalah ASI tidak adekuat. dan Ibu menyusui yang berumur <20 tahun sampai >35 tahun. Sedangkan kriteria ekslusi nya yaitu Ibu menyusui dengan gangguan kejiwaan. Ibu dengan keluhan Ibu dengan postpartum blues. dan Ibu yang mengalami baby blues. Pengumpulan data atau instrumen yang digunakan penulisan studi kasus ini yaitu format pengkajian asuhan keperawatan yang meliputi pengkajian keperawatan, untuk mengetahui kesehatan Ibu dan didapatkan diagnosa keperawatan, rencana keperawatan, serta tindakan keperawatan yang akan dilakukan yaitu dengan pemberian pijat marmet dan di kombinasi dengan metode SPEOS. Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data ini yaitu SOP Metode SPEOS dan Pijat Marmet. lembar ceklist penerapan marmet dan SPEOS. booklet pijat marmet dan SPEOS. video pijat SPEOS dan Marmet. persetujuan tindakan. dan lembar evaluasi. Analisa deskriptif dari hasil penelitian dengan mengacu pada fokus penelitian. Penyajian dan analisis data memuat tentang data dan temuan yang diperoleh dari metode observasi,wawancara dan lembar ceklist sebagai alat untuk memperoleh data yang berkaitan dan mendukung dalam penelitian ini. Penelitian ini telah memperoleh lolos kaji etik dari Komite Etik Penelitian Kesehatan Poltekkes Kemenkes Palembang No. 0396/KEPK/Adm2/ i/2024. HASIL Pengkajian Keperawatan Pengkajian klien I dilakukan pada tanggal 29 Maret 2024 Pukul 14. 00 WIB. Pada kunjungan di hari pertama, mengumpulkan data dengan cara wawancara secara langsung yang meliputi identitas diri dan masalah menyusui yang dialami. Klien mengatakan memiliki keluhan yaitu pengeluaran ASI yang sedikit, sehingga klien jarang menyusui dan frekuensi menyusui hanya 8 kali 24 jam, klien mengatakan bayi kurang puas dan sering menangis setelah menyusu, saat menyusu bayi tampak menghisap dan sesekali https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 1: April 2025 melepaskan payudara ibu, sehingga klien Pengkajian klien II dilakukan pada tanggal 23 April 2024 Pukul 16. 00 WIB. Pada melakukan pengumpulan data dengan cara wawancara langsung dengan klien yang meliputi identitas diri dan masalah menyusui pada klien. Klien mengatakan memiliki keluhan yaitu pengeluaran ASI yang kurang dari kebutuhan bayi, sehingga bayi rewel ketika menyusui terkadang melepas hisapan, frekuensi menyusui 67x/hari. BAK bayi kurang dari 8 kali dalam waktu 24 jam, sehingga klien memberikan susu formula sebagai tambahan. Diagnosis Keperawatan Penulis dapat merumuskan diagnosis keperawatan yang muncul pada kondisi klien yaitu Menyusui Tidak Efektif berhubungan dengan Ketidakadekuatan Suplai ASI (D. Ketidakefektifan menyusui merujuk pada kondisi dimana ibu dan bayi mengalami ketidakpuasan atau kesulitan dalam proses menyusui. Berdasarkan diagnosis yang dialami klien I dan klien II dengan diagnosis yang sama yaitu Menyusui Tidak Efektif berhubungan dengan Ketidakadekuatan Suplai ASI maka intervensi utama yang diambil adalah Edukasi Menyusui (I. Dilakukan tindakan keperawatan selama 6 hari diharapkan Status menyusui membaik (L. Perlekatan bayi pada payudara ibu . Miksi bayi lebih dari 8 jam kali/24 jam . Tetesan dan pancaran ASI . Kepercayaan diri ibu . Kelelahan maternal . Kecemasan . , . enyusui menuru. Intervensi Keperawatan Intervensi keperawatan untuk edukasi menyusui melibatkan beberapa langkah penting yang diterapkan pada dua klien. Pada identifikasi kesiapan dan kemampuan klien untuk menerima informasi serta tujuan atau keinginan mereka dalam menyusui. Langkah terapeutik meliputi penyediaan materi dan media pendidikan kesehatan, penjadwalan pendidikan kesehatan sesuai memberikan kesempatan bagi klien untuk Selain itu, dukungan diberikan kepada ibu untuk meningkatkan kepercayaan diri dalam menyusui, dengan melibatkan sistem pendukung seperti suami, keluarga, tenaga kesehatan, dan masyarakat. Edukasi menyusui mencakup konseling menyusui, penjelasan tentang manfaat menyusui bagi ibu dan bayi, serta ajaran tentang perawatan payudara postpartum, termasuk teknik memerah ASI, pijat payudara, dan pijat oksitosin. Pendekatan ini bertujuan diperlukan bagi ibu untuk berhasil dalam Implementasi Keperawatan Implementasi keperawatan untuk dua klien dilakukan melalui beberapa tahap. Pada tanggal 29 Maret 2024 pukul 14. 00 WIB, klien I dan klien II diperkenalkan dengan wawancara terkait masalah menyusui. Kedua klien menyatakan kesiapan dan kesediaan menerima informasi mengenai tanda bayi cukup ASI, manfaat menyusui, serta teknik pijat speos dan Marmet. Selanjutnya, pada tanggal 30 Maret 2024 06 WIB, dilakukan demonstrasi pijat speos dan Marmet menggunakan video kepada klien I, yang menunjukkan sikap kooperatif dan antusias. Klien kemudian diminta untuk mempraktikkan gerakan yang telah diajarkan. Klien mencatat frekuensi menyusui dan BAK bayi untuk pemantauan lebih lanjut. https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 1: April 2025 Pada tanggal 31 Maret 2024 pukul 11. WIB, dilakukan wawancara dengan klien I mengenai frekuensi menyusui dan BAK bayi setelah penerapan pijat speos dan Marmet. Hasilnya peningkatan frekuensi menyusui menjadi 8 kali dan BAK menjadi 6 kali. Implementasi pijat dilakukan sesuai dengan Standar Operasional Prosedur, dengan bantuan suami atau ibu klien. Tanggal 1 April 2024 pukul 11. 23 WIB, wawancara dilakukan dengan klien I yang melaporkan frekuensi menyusui bayi sebanyak 9 kali sehari dan BAK bayi sebanyak 8 kali. Klien merasakan tubuhnya lebih nyaman dan rileks, meningkatkan kepercayaan diri dalam menyusui. Pada tanggal 23 April 2024 pukul 16. WIB, klien II dijelaskan tentang edukasi menyusui dan pijat speos Marmet menggunakan booklet dan video. Klien menandatangani informed consent, serta setuju untuk melakukan penerapan pijat pada tanggal 23-28 April 2024. Selanjutnya, pada tanggal 24 April 2024 00 WIB, demonstrasi pijat speos dan Marmet dilakukan kepada klien II. Klien kooperatif dan antusias, serta berhasil mempraktikkan gerakan dengan Klien mencatat frekuensi menyusui dan BAK bayi untuk pemantauan lebih Pada tanggal 25 April 2024 pukul 14. WIB, wawancara dengan klien II menunjukkan frekuensi menyusui bayi sebanyak 6 kali dan BAK sebanyak 6 kali. Pijat dilakukan sesuai dengan SOP, dengan bantuan suami atau ibu klien. Tanggal 26 April 2024 pukul 14. 00 WIB, klien II melaporkan frekuensi menyusui bayi sebanyak 8 kali sehari dan BAK sebanyak 6 kali. Klien merasakan lebih nyaman dan rileks setelah pijat, serta bayi menyusu dengan lahap. Pada tanggal 27 April 2024 pukul 16. WIB, klien II melaporkan peningkatan frekuensi menyusui bayi menjadi 9 kali sehari dan BAK sebanyak 9 kali. Klien merasa lebih percaya diri dalam menyusui dan bayi tidak rewel lagi. Terakhir, pada tanggal 3 April 2024 pukul 44 WIB, wawancara dengan klien I menunjukkan frekuensi menyusui bayi sebanyak 10 kali dan BAK sebanyak 8 kali setelah pijat speos dan Marmet. Klien merasakan tubuhnya lebih nyaman dan rileks, serta bayi menyusu dengan lahap. Klien mengucapkan terima kasih dan berencana untuk rutin melakukan pijat speos dan Marmet secara mandiri atau dibantu suami. Evaluasi Keperawatan Setelah dilakukan tindakan pijat SPEOS dikombinasi dengan pijat marmet pada kedua klien selama 4 hari. Tabel 1 menunjukkan perbandingan frekuensi menyusui dan frekuensi BAK bayi pada Klien I dan Klien II, sebelum melakukan penerapan speos dan marmet pada Klien I tanggal 28 Maret 2024 dan Klien II 22 April 2024 dan setelah melakukan penerapan speos dan marmet pada Klien I tanggal 29 Maret 2024 d an Klien II 23 April 2024. Tabel 1. Hasil Penerapan Pijat Speos Dan Marmet pada Klien I Kriteria hasil Klien I Hari ke-1 Cukup meningkat Perlekatan bayi pada payudara ibu . Miksi bayi lebih dari 8 kali/24 jam Tetesan/pancaran ASI Intake bayi Menurun . Menurun . Menurun . Hari ke-2 Meningkat . Menurun . Menurun . Menurun . Hari ke-3 Meningkat . Hari ke-4 Meningkat . Sedang . Hari ke-5 Hari ke-6 Meningkat Meningkat . Cukup meningkat . Meningkat Meningkat . Cukup meningkat . Meningkat . Meningkat Meningkat . Cukup meningkat . Cukup meningkat . Meningkat Meningkat . https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 1: April 2025 Cukup meningkat Cukup meningkat Meningkat . ) . Menurun Menurun Menurun Lecet pada puting . Menurun Menurun Menurun Kelelahan maternal . Meningkat Menurun Menurun Kecemasan maternal . Menurun Meningkat Bayi rewel Cukup menurun . Meningkat Meningkat Bayi menangis setelah menyusu Cukup menurun . Hisapan bayi Meningkat . Menurun . Menurun . Menurun . Menurun . Menurun . Meningkat Meningkat . Menurun Menurun . Menurun Menurun . Menurun Menurun . Menurun Menurun . Menurun Menurun . Tabel 2. Hasil Penerapan Pijat Speos Dan Marmet pada Klien II Kriteria hasil Klien II Hari ke-1 Hari ke-2 Perlekatan bayi pada payudara ibu Cukup menurun ( 2 ) Cukup menurun ( . Miksi bayi lebih dari 8 kali/24 jam Tetesan/pancaran ASI Intake bayi Hisapan bayi Lecet pada puting Kelelahan maternal Kecemasan maternal Bayi rewel Bayi menangis setelah menyusu Hari ke-3 Cukup meningkat . Hari ke-4 Meningkat . Meningkat . Hari ke-5 Hari ke-6 Meningkat Meningkat . Menurun . Menurun . Cukup menurun . Menurun . Menurun . Menurun . Menurun . Menurun . Menurun . Meningkat . Meningkat . Menurun . Menurun . Menurun . Menurun . Menurun . Menurun . Meningkat . Meningkat . Cukup meningkat . Cukup meningkat . Meningkat Meningkat . Sedang . Meningkat Meningkat Meningkat . Meningkat Meningkat Meningkat Meningkat . Menurun Menurun Menurun Menurun . Menurun Menurun Menurun Menurun . Menurun Menurun Menurun Menurun . Cukup menurun . Menurun Menurun Cukup meningkat . ( 5 )) Cukup menurun . Menurun Menurun Cukup meningkat . Pada table diatas, terlihat peningkatan yang siginifikan dari frekuensi menyusui bayi dan frekuensi BAK bayi sebelum dan setelah dilakukan penerapan pjat SPEOS dan pijat marmet. Hasil evaluasi tindakan pijat SPEOS dikombinasi dengan pijat marmet pada ibu post partum dengan masalah menyusui tidak efektif berhasil terlihat peningkatan yang signifikan dari frekuensi menyusui bayi dan frekuensi BAK bayi sebelum dan setelah dilakukan penerapan pijat SPEOS dan pijat marmet PEMBAHASAN Hasil penelitian melaporkan setelah 4 hari dilakukan penerapan pijat SPEOS dan marmet pada 2 klien dengan masalah yang sama yaitu ketidakadekatan suplai ASI pada bayi, dapat disimpulkan bahwa pijat Meningkat Meningkat . speos dengan pijat marmet efektif untuk meningkatkan suplai ASI dibuktikan dengan frekuensi bayi menyusu dan frekuensi BAK bayi menigkat. Hal ini sejalan dengan penelitian Prabasari. Aksari. Imanah and Sukmawati 26 menyatakan bahwa teknik marmet dapat membuat pengeluaran ASI menjadi lancar karena teknik marmet menggunakan gerakan kombinasi antara memijat dan memerah sehingga dapat merangsang mammary alveoli serta merangsang serta oksitosin dan prolaktin yang berperan pada produksi dan pengeluaran ASI. Hal ini sejalan dengan penelitian Alfianti and Nurrohmah 27 yang menunjukkan terdapat pengaruh antara teknik marmet dengan kelancaran ASI karena teknik marmet https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 1: April 2025 merangsang Let Down Reflex (LDR) yang akan membuat payudara mengencang dan ASI keluar deras. Studi Pramesti. Dewi and Gayatri 28 menjelaskan bahwa kelompok yang menerima terapi SPEOS mengalami peningkatan produksi ASI yang signifikan dibandingkan kelompok kontrol. Ibu yang peningkatan kesejahteraan emosional dan penurunan tingkat stres. Didukung penelitian Nurhayati 29 menunjukkan peningkatan signifikan dalam produksi ASI dan kepuasan menyusui. Ibu yang menerima terapi melaporkan perasaan lebih rileks dan nyaman selama proses Secara fisiologis, pijat SPEOS bekerja melalui beberapa mekanisme. 21 Pijat endorfin merangsang pelepasan endorfin dalam tubuh ibu karena efek analgesik dan 24 Peningkatan kadar endorfin dapat mengurangi stres dan ketegangan, yang merupakan faktor penting dalam produksi ASI. 28 Ketika stres berkurang, hormon prolaktin dan oksitosin yang berperan dalam produksi dan pengeluaran ASI dapat bekerja lebih efektif. Selanjutnya, pijat oksitosin secara langsung merangsang pelepasan hormon oksitosin Oksitosin berperan dalam proses let-down reflex, yaitu refleks pengeluaran ASI dari alveoli ke duktus laktiferus sehingga ASI lebih mudah dikeluarkan. 30 Sementara itu, pijat Marmet adalah teknik pemijatan ASI rangsangan langsung pada payudara, membantu mengosongkan payudara secara efisien dan merangsang produksi ASI lebih 26, 27, 31 Kombinasi dari kedua teknik pijat ini tidak hanya meningkatkan produksi ASI melalui mekanisme hormonal dan fisik tetapi juga meningkatkan kesejahteraan emosional ibu, yang secara keseluruhan berkontribusi pada peningkatan frekuensi menyusui dan BAK Dengan berkurangnya stres dan meningkatnya rasa rileks pada ibu, proses menyusui menjadi lebih lancar dan efisien. 20 Peningkatan menunjukkan bahwa bayi menerima ASI dalam jumlah yang cukup, yang penting untuk pertumbuhan dan perkembangan Selain itu, frekuensi BAK yang meningkat pada bayi merupakan indikator langsung dari kecukupan asupan ASI, menunjukkan bahwa bayi mendapatkan nutrisi yang diperlukan untuk hidrasi dan fungsi tubuh yang optimal. Secara keseluruhan, pijat SPEOS dan pijat Marmet merupakan intervensi nonfarmakologis yang efektif dan holistik dalam mengatasi masalah ketidakadekatan suplai ASI, meningkatkan kualitas hidup keberhasilan menyusui. Intervensi ini dapat diterapkan secara luas sebagai bagian dari program edukasi dan dukungan menyusui di berbagai fasilitas kesehatan. Saat melakukan studi kasus yang menjadi hambatan pada klien I dan klien II yaitu kondisi bayi yang sering tiba-tiba menangis, sehingga suasana kurang kondusif pada saat peneliti melakukan penerapan pijat SPEOS dan marmet. Solusi yang dilakukan peneliti adalah meminta ibu untuk menyusui bayi nya terlebih dahulu sebelum memulai penerapan pijat SPOES dan Marmet, supaya bayi tenang dan tertidur agar penelitian ini dapat berjalan dengan baik, jika bayi tidak mau tertidur peneliti meminta klien untuk melibatkan keluarga nya untuk menjaga bayi nya sebentar selama penelitian berlangsung. https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 1: April 2025 KESIMPULAN Studi kasus ini menyimpulkan bahwa terapi pijat marmet dan SPEOS dapat meningkatkan pengetahuan ibu tentang menyusui dan cara memperlancar ASI pengeluaran ASI, frekuensi BAK, dan frekuensi menyusu bayi. SARAN Hasil penelitian ini dapat menambah informasi tentang salah satu cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan ASI menerapkan pijat speos dan pijat marmet. Peneliti menyarankan suami klien untuk meneruskan pemijatan speos dan marmet yang telah diajarkan oleh peneliti. DAFTAR PUSTAKA