80 DEIKSIS SOSIAL KUMPULAN ESAI BUKU REPUBLIK #JANCUKERS KARYA SUJIWO TEJO Agus Budiman. Sujinah. NgatmaAoin Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surabaya Boedieprakosa77@gmail. ABSTRAK Permasalahan dalam penelitian ini adalah keragaman makna ungkapan bahasa yang terdapat pada deiksis sosial dalam kumpulan esai buku Republik #Jancukers karya Sujiwo. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan fungsi deiksis sosial yang terdapat dalam kumpulan esai buku Republik #Jancukers karya Sujiwo Tejo. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif. Data penelitian diperoleh dari kumpulan esai buku Republik #Jancukers karya Sujiwo Tejo yang mengandung deiksis sosial. Teknik pengumpulan data menggunakan metode Instrumen penelitian menggunakan tabel pengodean. Prosedur penelitian mempunyai empat tahap, yakni tahap membaca, mengidentifikasi, mengumpulkan, menganalisis. Analisis data menggunakan metode deskripsi. Hasil penelitian pada bentuk dan fungsi deiksis sosial meliputi gue sebagai bentuk keakraban, mbah sebagai bentuk penghormatan, anjing sebagai bentuk keakraban, jeng sebagai bentuk keakraban, mas sebagai bentuk penghormatan, mas sebagai bentuk keakraban, bung sebagai bentuk keakraban, bung sebagai bentuk penghormatan, jancuk sebagai bentuk keakraban, jancuk sebagai bentuk merendahkan, anjing sebagai bentuk merendahkan, gus sebagai bentuk keakraban dan ding sebagai bentuk keakraban. Kata Kunci: deiksis sosial, republik #jancukers PENDAHULUAN Permasalahan bahasa muncul di masyarakat saat ini disebabkan ungkapan sebuah Hal tersebut terjadi karena petutur salah persepsi dalam memaknai bahasa penutur, ataupun bisa juga penutur tidak tepat dalam pemakaian bahasa yang Salah satu contoh kesalahan petutur dalam memaknai sebuah bahasa adalah kasus spanduk yang bertuliskan AiTuhan MembusukAn yang ditulis mahasiswa salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya. Slogan tersebut memiliki multitafsir, slogan yang berbentuk frasa dari kata AiTuhanAn dan AimembusukAn. STILISTIKA Vol. 9 No. 2 JuliAeDesember 2016 ISSN 1978-8800 Partisipan memiliki peran yang amat penting dalam memahami konteks sebuah ujaran, karena status partisipan dipengaruhi waktu dan tempat terjadinnya sebuah Dengan memahami kapan dan di mana ujaran itu berlangsung, maka secara otomatis petutur juga harus memahami siapa yang ada dalam ujaran tersebut, sehingga petutur dapat mengetahui latar belakang sosial penutur. Terjadinya keragaman atau kevariasian bahasa ini bukan hanya disebabkan oleh para penuturnya yang tidak homogen, tetapi juga karena interaksi sosial yang mereka lakukan sangat beragam, terjadinya variasi bahasa juga tidak luput dari lingkungan penutur, lingkungan penutur termasuk variasi bahasa berdasarkan status kelas sosial Dalam hal ini terjadinya variasi bahasa penutur tampak pada bidang kosa kata (Chaer dan Agustina, 2010:. Kosa kata yang diucapkan penutur dapat berubah-ubah maknanya bergantung dari maksud penutur. Selain itu, makna yang terdapat pada kosa kata dapat berubahubah bergantung pada konteks dituturkannya kosa kata tersebut. Konteks yang dimaksud dalam hal ini adalah partisipan, waktu serta tempat terjadinya tuturan. Terjadinya perubahan makna kosa kata tersebut bersifat deiksis. Menurut Purwo . , sebuah kata dikatakan deiksis apabila referennya berpindah-pindah atau berganti-ganti, bergantung pada siapa yang menjadi si pembicara dan bergantung pada saat dan tempat dituturkannya kata itu. Pernyataan tersebut menjelaskan secara umum tentang pengertan deiksis, bahwa deiksis merupakan ungkapan yang dituturkan penutur dengan maksud tertentu dalam menyampaikan sebuah ungkapan kepada Petutur harus mampu memahami maksud ungkapan penutur dengan melihat konteks terjadinya tuturan. Kumpulan esai buku Republik #Jancukers berisi tentang ungkapan penulis yakni Sujiwo Tejo sebagai bentuk kritikan terhadap fenomena sosial, budaya serta politik yang ada di masyarakat. Ungkapan-ungkapan bahasa tersebut berupa variasi bahasa yang mengandung bentuk-bentuk status sosial. Salah satu variasi bahasa yang sering diungkapkan penulis dalam Kumpulan Esai Republik #Jancukers adalah AijancukAn. Kata yang menjadi ciri khas masyarakat Surabaya ini memiliki keberagaman makna, terkadang kata AijancukAn dapat menggantikan peran partisipan dalam suatu tuturan. Tejo . menjelaskan bahwa AijancukAn atau biasa disingkat AicukAn memiliki keberagamaan dalam pemakaiannya, dengan niat yang tulus penggunaan kata ISSN 1978-8800 STILISTIKA Vol. 9 No. 2 JuliAeDesember 2016 AijancukAn dapat digunakan untuk menjalin keakraban antara penutur dan petutur, tetapi jika dalam pemakaian kata AijancukAn dengan niat yang tidak tulus, maka kata AijancukAn dapat menyakiti. Pernyatan tersebut menjelaskan bahwa kata AijancukAn yang diungkapkan penutur memiliki maksud yang berbeda-beda bergantung pada konteks Petutur harus memahami ungkapan yang disampaikan penutur. Ungkapan yang dituturkan penutur memiliki makna yang berubah-ubah, sehingga petutur harus memahami maksud yang disampaikan penutur dengan melihat konteks tuturan. Hal inilah yang menarik peneliti untuk melakukan penelitian dengan mengambil judul AiDeiksis Sosial dalam Kumpulan Esai Buku Republik #Jancukers Karya Sujiwo TejoAn. METODE Metode yang akan dilakukan penelitian adalah metode penelitian kualitatif. Metode kualitatif digunakan untuk mendapatkan data yang mendalam dan mengandung makna yang sebenarnya. Metode penelitian kualitatif sering disebut metode penelitian naturalistik, karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang Di samping itu, disebut sebagai metode kualitatif karena data yang terkumpul dan analisisnya lebih bersifat kualitatif. Lebih lanjut. Lofland dan lofland . alam Moleong, 2013: . menyatakan bahwa sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata, dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumentasi dan lain-lain. Dalam penelitian ini sumber data diperoleh dari kumpulan esai buku Republik #Jancukers karya Sujiwo Tejo. Buku Republik #Jancukers memiliki 85 esai dan 14 lagu yang terlampir, sehingga total keseluruhan terdapat 99 Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan metode dokumentasi. Menurut Arikunto . , metode dokumentasi adalah metode untuk mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, lengger, agenda, dan Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan instrumen tabel pengodean. Tabel pengodean digunakan untuk mengidentifikasi serta menganalisis data- data yang diteliti. Penelitian ini dilakukan dengan perancangan pelaksanaan melalui STILISTIKA Vol. 9 No. 2 JuliAeDesember 2016 ISSN 1978-8800 beberapa tahap, yaitu tahap persiapan,pada tahap persiapan ini, peneliti membaca kumpulan esai buku Republik #Jancukers, selain, itu peneliti juga merumuskan serta mengidentifikasi masalah-masalah yang terdapat pada buku tersebut. Langkah selanjutnya adalah mengadakan kepustakan yang akan dijadikan objek penelitian. Pada tahap pelaksanaan, peneliti mengumpulkan data-data yang ada dalam kumpulan esai buku Republik #Jancukers. Data-data yang dikumpulkan mengacu pada rumusan masalah penelitian. Langkah selanjutnya adalah peneliti menganalisis data-data yang diperoleh yang kemudian tahap penyelesaian atau penyimpulan. Miles dan Humberman . alam Sugiyono, 2013:. mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Aktivitas dalam analisis data, yaitu pereduksian data, penyajian data dan pemverifikasian data. PEMBAHASAN Variasi Bahasa yang ada di masyarakat memunculkan keaneragaman sebuah tuturan, hal ini membuat Bahasa Indonesia menjadi bervariasi. Dialek-dialek pada tempat satu dengan tempat yang lain ataupun daerah yang satu dengan daerah yang lain menggambarkan bahwa Indonesia memiliki keunikan dalam berbahasa. Dalam penggunaan bahasa, penutur tidak serta merta menyamakan antara petutur yang satu dengan petutur yang lain. Hal ini disebabkan petutur memiliki kelas sosial tersendiri, selain itu antara penutur dengan petutur memiliki jarak kedekatan yang berbeda-beda. Penggunan bahasa berdasarkan status sosial partisipan serta jarak antara penutur dan petutur disebut deiksis sosial. Hal ini dipertegas Yule . bahwa deiksis sosial merupakan deiksis yang mengacu pada tanda status sosial lebih tinggi dibandingkan dengan status sosial rendah pada segi penutur. Ungkapan-ungkapan tersebut menunjukkan status lebih tinggi dideskripsikan sebagai bentuk penghormatan. Contoh deiksis sosial AiSilakan, tuan masuk!An Dalam pembahasan ini peneliti menemukan beberapa data yang merupakan bentuk deiksis sosial dalam kumpulan esai buku Republik #Jancukers karya Sujiwo Tejo. ISSN 1978-8800 STILISTIKA Vol. 9 No. 2 JuliAeDesember 2016 Kata Ganti Orang Pertama Tunggal Dalam deiksis sosial penggunaan kata ganti orang pertama tunggal dipengaruhi konteks suatu tuturan. Hal ini dikarenakan dalam pembahasan deiksis sosial, perubahan-perubahan kata yang menggantikan partisipan dipengaruhi status sosial. Status-status tersebut antara lain: usia, jenis kelamin, jabatan, status ekonomi, tingkat kebangsawanan, dsb. Penggunaan bentuk deiksis sosial yang diungkapkan penutur dalam sebuah tuturan memiliki fungsi di dalamnya. Selain itu, bentuk tersebut memiliki penggunaan yang bervariasi. Bentuk deiksis sosial yang ada dalam sebuah tuturan meliliki arti serta fungsi yang berbeda dengan arti leksikalnya. Hal ini dikarenakan deiksis sosial mangacu pada konteks satu tuturan. Bentuk deiksis sosial yang menggantikan kata AisayaAn dan AiakuAn adalah Gue. Kata AigueAn sebagai bentuk Dalam deiksis sosial, penggunaan kata ganti orang pertama tunggal sebagai pengganti peran penutur dalam sebuah tuturan, meliliki variasi dalam penyebutannya. Hal ini bergantung pada status sosial partisipan. Selain itu bentuk deiksis sosial untuk menggantikan kedudukan penutur dalam kalimat memiliki fungsi yang berbeda-beda. Hal tersebut seperti pada data berikut. AiKalau ada namanya Gue nggak mau makan,An alasannya. Data tersebut menjelaskan bahwa kata AigueAn dalam konteks kalimat tersebut berarti AisayaAn, dalam bentuk deiksis persona termasuk kata ganti pertama tunggal. Kata AigueAn dalam kalimat tersebut merupakan dialek yang biasanya digunakan masyarakat jakarta atau masyarakat metropolitan. Dalam variasi bahasa, kata AisayaAn termasuk jenis akrolek, yakni variasi sosial yang bahasanya lebih bergengsi dibanding dengan bahasa yang lain, hal ini bertujuan untuk meninggikan status penutur dalam kelas status sosial masyarakat. Variasi bahasa akrolek cenderung digunakan masyarakat kota Jakarta sebagai salah satu ciri kota metropolitan. Dalam konteks kalimat tersebut penggunaan kata AigueAn yang diungkapkan penutur sebagai bentuk keakraban petutur. STILISTIKA Vol. 9 No. 2 JuliAeDesember 2016 ISSN 1978-8800 Kata Ganti Orang Kedua Tunggal Dalam deiksis sosial penggunaan kata ganti orang kedua tunggal dipengaruhi konteks suatu tuturan. Hal ini dikarenakan dalam pembahasan deiksis sosial, perubahan-perubahan kata yang menggantikan persona dipengaruhi status sosial. Status-status tersebut antara lain: usia, jenis kelamin, jabatan, status ekonomi, tingkat kebangsawanan, dsb. Penggunaan bentuk deiksis sosial yang diungkapkan penutur dalam sebuah tuturan memiliki fungsi di dalamnya. Selain itu, bentuk tersebut memiliki penggunaan yang bervariasi. Bentuk deiksis sosial yang ada dalam sebuah tuturan meliliki arti serta fungsi yang berbeda dengan arti leksikalnya. Hal ini dikarenakan deiksis sosial mangacu pada konteks satu tuturan. Bentuk deiksis sosial yang menggantikan kata AikamuAn dan EngkauAn dalam pembahasan ini meliputi kata AimbahAn. AiasuAn, dan AimasAn. Kata AumbahAy sebagai bentuk penghormatan Dalam deiksis sosial, penggunaan kata ganti orang kedua tunggal sebagai pengganti peran petutur dalam sebuah tuturan, meliliki variasi dalam penyebutannya. Hal ini bergantung pada status sosial partisipan. Selain itu bentuk deiksis sosial untuk menggantikan kedudukan petutur dalam kalimat memiliki fungsi yang berbeda-beda. Seperti pada data berikut: @ Cochsepa: kata yang berakhiran AitorAn itu umumnya punya konotasi negatif. Mbah. Data tersebut menjelaskan bahwa kata AiMbahAn dalam konteks kalimat tersebut berarti AikamuAn. Kata AiMbahAn dalam kalimat tersebut mengacu pada penulis buku Republik #jancukers yakni Sujiwo Tejo. Biasanya masyarakat sering menggunakan kata AimbahAn untuk disandingkan dengan situs AigoogleAn menjadi Aimbah googleAn, hal ini menggambarkan bahwa kata Ai mbahAn sebagia bentuk meninggikan status orang dalam hal pengetahuan. Oleh karena itu, penggunaan kata AiMbahAn dalam konteks kalimat tersebut bermaksud meninggikan status penulis yakni Sujiwo Tejo, mengingat Sujiwo Tejo merupakan budayawan terkenal yang diakui kapasitasnya ISSN 1978-8800 STILISTIKA Vol. 9 No. 2 JuliAeDesember 2016 dalam hal pengetahuan. Penutur dalam konteks tersebut menggunakan kata AiMbahAn sebagai bentuk penghormatan terhadap Sujiwo Tejo. Kata AuAsuAy sebagai bentuk keakraban Dalam deiksis sosial, penggunaan kata ganti orang kedua tunggal sebagai pengganti peran petutur dalam sebuah tuturan, meliliki variasi dalam penyebutannya. Hal ini bergantung pada status sosial partisipan. Selain itu bentuk deiksis sosial untuk menggantikan kedudukan petutur dalam kalimat memiliki fungsi yang berbeda-beda. Seperti pada data berikut: Baiklah kalau begitu. Jadilah laki-laki setia. Dan laki-laki paling setia di muka bumi adalah Pak Ageng @masbutet, yaitu setia mencari trik agar tampak @masbutet: Huasu iki Data tersebut menjelaskan bahwa kata AiAsu/AnjingAn dalam konteks kalimat tersebut berarti AikamuAn. Kata AiAsu/ AjingAn biasanya digunakan untuk mengolok-olok atau menghina petutur, hal ini disebabkan status petutur lebih rendah dibanding penutur, kata tersebut biasanya digunakan untuk penjahat atau orang yang meresahkan orang lain. Pada data diatas kata AiAsu/anjingAn memiliki makna yang berbeda, kata tersebut merupakan bentuk keakraban antara penutur dan petutur. Dalam konteks tersebut penutur adalah Mas butet sedangkan petutur adalah Sujiwo Tejo. Dua-duanya memiliki status keakraban yang tinggi, sehingga kata AiAsuAn merupakan bentuk keakraban antara pak ageng dan Sujiwo Tejo dalam berkomunikasi atau menyapa. Kata AumasAy sebagai bentuk penghormatan Dalam deiksis sosial, penggunaan kata ganti orang kedua tunggal sebagai pengganti peran petutur dalam sebuah tuturan, meliliki variasi dalam penyebutannya. Hal ini bergantung pada status sosial partisipan. Selain itu bentuk deiksis sosial untuk menggantikan kedudukan petutur dalam kalimat memiliki fungsi yang berbeda-beda. Seperti pada data berikut: STILISTIKA Vol. 9 No. 2 JuliAeDesember 2016 ISSN 1978-8800 Nah pas dwi agak menjauh baru feby Febiola membisiki saya. AiMas. Kamu Widi itu istrinya Dwi!An Data tersebut menjelaskan bahwa kata AiMasAn dalam konteks kalimat tersebut berarti AikamuAn. Penggunaan kata AiMasAn pada kalimat tersebut merujuk pada Sujiwo Tejo. Menurut BPPB Kemendikbud . , kata AiMasAn biasanya digunakan menyapa saudara tua laki-laki atau laki-laki yg dianggap lebih tua. Selain itu, kata tersebut juga digunakan untuk menyapa laki-laki tanpa memandang usia sebagai sapaan hormat. Dalam konteks yang ada pada data tersebut, kata AiMasAn yang diungkapkan Feby Febiola kepada Sujiwo Tejo sebagai bentuk rasa hormat terhadap status orang yang lebih tua, mengingat usia Feby Febiola dengan Sujiwo Tejo terlampau jauh. Kata AumasAy sebagai bentuk keakraban Dalam deiksis sosial, penggunaan kata ganti orang kedua tunggal sebagai pengganti peran petutur dalam sebuah tuturan, meliliki variasi dalam penyebutannya. Hal ini bergantung pada status sosial partisipan. Selain itu bentuk deiksis sosial untuk menggantikan kedudukan petutur dalam kalimat memiliki fungsi yang berbeda-beda. Seperti pada data berikut: AuWah, . ini sip. Mas. Dinikahi mungkin asyik juga nih. Aukata saya ke Mas Ucup Kelik yang juga bermain dalm film tentang AucaloAy presiden itu. Data tersebut menjelaskan bahwa kata AiMasAn dalam konteks kalimat tersebut berarti AikamuAn. Penggunaan kata AiMasAn pada kalimat tersebut merujuk pada ucup kelik atau Raden Kelik Sumayoto. Beliau merupakan pelawak dan pemeran sebagai wakil presiden dalam acara democrazy. Jarak status sosial antara Sujiwo Tejo dengan Kelik sangat dekat sehingga penggunaan kata AiMasAn dalam konteks tersebut sebagai bentuk rasa keakraban penutur terhadap petutur. Kata Ganti Orang Kedua Jamak Seperti pada pembahasan sebelumnya. Dalam deiksis sosial, penggunaan kata ganti orang kedua tunggal sebagai pengganti peran petutur dalam sebuah tuturan, meliliki variasi dalam penyebutannya. Pada pembahasan ini, peran kata ganti orang ISSN 1978-8800 STILISTIKA Vol. 9 No. 2 JuliAeDesember 2016 kedua dalam bentuk deiksis sosial berarti jamak. Seperti halnya kata ganti orang kedua tunggal, kata ganti orang kedua jamak juga memiliki fungsi yang berbeda-beda dalam penggunaannya. Hal ini bergantung pada konteks ujaran. Bentuk deiksis sosial yang menggantikan kata ganti orang kedua jamak dalam pembahasan ini adalah AisaudaraAn. AisampeanAn. AiadingAn. AibungAn. AicukAn, dan AigusAn. Kata AusaudaraAy sebagai bentuk keakraban. Dalam deiksis sosial, penggunaan kata ganti orang kedua jamak sebagai pengganti peran petutur jamak dalam sebuah tuturan, meliliki variasi dalam Selain itu, penggunaan bentuk tersebut memiliki kegunaan yang berbeda-beda. Hal ini bergantung pada status sosial partisipan. Selain itu bentuk deiksis sosial orang kedua jamak memiliki fungsi yang berbeda-beda. Seperti pada data berikut: Tapi kini sudah bukan zamannya pidato. Ini zaman tweet, saudara. Data tersebut menjelaskan bahwa kata AisaudaraAn dalam konteks kalimat tersebut berarti AikamuAn. Tetapi melihat konteks yang ada pada kalimat tersebut saudara bukan termasuk kata ganti kedua tunggal melainkan kata ganti jamak. Hal ini disebabkan jumlah followers dalam akun twitter @sujiwo tejo sebanyak 945. 057, sehingga kata AisaudaraAn yang diungkapkan Sujiwo Tejo tersebut merujuk pada followers yang ada di twitland Sujiwo Tejo. Penggunakan kata AisaudaraAn merupakan bentuk ketakziman kata persona kedua, selain itu kata AisaudaraAn dinilai lebih formal dan sopan. Kata AusampeanAy sebagai bentuk keakraban Dalam deiksis sosial, penggunaan kata ganti orang kedua jamak sebagai pengganti peran petutur jamak dalam sebuah tuturan, meliliki variasi dalam Selain itu, penggunaan bentuk tersebut memiliki kegunaan yang berbeda-beda. Hal ini bergantung pada status sosial partisipan. Selain itu bentuk deiksis sosial untuk menggantikan kedudukan petutur dalam kalimat memiliki fungsi yang berbeda-beda. Seperti pada data berikut: STILISTIKA Vol. 9 No. 2 JuliAeDesember 2016 ISSN 1978-8800 Sampean boleh saja hidup lama diluar negeri, tapi jangan sampai terlalu lama hidup di luar zaman. Data tersebut menjelaskan bahwa kata AisampeanAn dalam konteks kalimat tersebut berarti AikamuAn. Dalam bentuk deiksis, persona termasuk kata orang ganti kedua Tetapi melihat konteks yang ada pada kalimat tersebut saudara bukan termasuk kata ganti kedua tunggal melainkan kata ganti orang jamak. Seperti penjelasan sebelumnya bahwa kata AisampeanAn yang dimaksud bukan hanya merujuk pada petutur tunggal melainkan petutur jamak, dengan melihat jumlah followers yang ada di twitland penulis. Penggunaan kata AisampeanAn berasal dari variasi bahasa jawa kromo, sehingga kata AisampeanAn yang diungkapkan Sujiwo Tejo kepada para penduduk Republik #Jancukers berfungsi memperhalus sebuah kata agar lebih sopan. Karena kata-kata yang diungkapkann dalam bahasa jawa kromo identik dengan . Kata AubungAy sebagai bentuk kekraban Dalam deiksis sosial, penggunaan kata ganti orang kedua jamak sebagai pengganti peran petutur dalam sebuah tuturan, meliliki variasi dalam penyebutannya. Selain itu, penggunaan bentuk tersebut memiliki kegunaan yang berbeda-beda. Hal ini bergantung pada status sosial partisipan. Selain itu bentuk deiksis sosial untuk menggantikan kedudukan petutur dalam kalimat memiliki fungsi yang berbeda-beda. Seperti pada data berikut: Akhirnya yang dapat menghubungkan atau tidak menghubungkan wakil mentari dan menterinya itu cuma pikiran masyarakat sendiri. Ini negeri demokratis Bung. Data tersebut menjelaskan bahwa kata AibungAn dalam konteks kalimat tersebut berarti AikamuAn. penggunaan kata tersebut memiliki arti jamak. Dalam Historitas berkenaan dengan sejarah perkembangan bahasa atau sejarah pemakaian bahasa kata AibungAn dikhususkan untuk panggilan orang yang terhormat dan populer pada masa penjajahan, misalnya AiBung KarnoAn ataupun AiBung HattaAn, tetapi dengan melihat perkembangan bahasa yang begitu pesat, pada masa Harmoko menjadi Menteri Penerangan RI, kata AibungAn disetarakan dengan kata AimbakAn dalam pemakaiannya. ISSN 1978-8800 STILISTIKA Vol. 9 No. 2 JuliAeDesember 2016 Jadi, kata AibungAn dapat digunakan pada semua kalangan laki-laki tanpa memandang Oleh karena itu, penggunaan kata AibungAn pada konteks kalimat tersebut sebagai bentuk keakraban antara penutur dan petutur. Kata AucukAy sebagai bentuk kekraban Dalam deiksis sosial, penggunaan kata ganti orang kedua jamak sebagai pengganti peran petutur dalam sebuah tuturan, meliliki variasi dalam penyebutannya. Selain itu, penggunaan bentuk tersebut memiliki kegunaan yang berbeda-beda. Hal ini bergantung pada status sosial partisipan. Selain itu bentuk deiksis sosial untuk menggantikan kedudukan petutur dalam kalimat memiliki fungsi yang berbeda-beda. Seperti pada data berikut: Padahal. Cuk, tanpa mur dan baut untuk berbagai peralatan termasuk alat angkutnya, mustahil Neil Amstrong menjadi manusia pertama yang mendarat di bulan. Data tersebut menjelaskan bahwa kata Aicuk/jancukAn dalam konteks kalimat tersebut berarti AikamuAn. Seperti penjelasan awal bahwa penggunaan kata tersebut memiliki arti jamak, karena mengacu pada followers yang ada di twitland Sujiwo Tejo. Kata cuk/jancuk merupakan variasi bahasa jenis AiSlangAn, dikatakan sebagai kata AislangAn karena kata Aicuk/jancukAn adalah variasi sosial yang bersifat khusus dan rahasia, artinya variasi ini digunakan oleh kalangan tertentu yang sangat terbatas dan tidak boleh diketahui oleh kalangan di luar kelompok itu. Penggunaan kata AicukAn pada kalimat tersebut sebagai bentuk keakraban antara penutur dengan petutur. Kata AudingAy sebagai bentuk keakraban Dalam deiksis sosial, penggunaan kata ganti orang kedua jamak sebagai pengganti peran petutur dalam sebuah tuturan, meliliki variasi dalam penyebutannya. Selain itu, penggunaan bentuk tersebut memiliki kegunaan yang berbeda-beda. Hal ini bergantung pada status sosial partisipan. Selain itu bentuk deiksis sosial untuk menggantikan kedudukan petutur dalam kalimat memiliki fungsi yang berbeda-beda. Seperti pada data berikut: Eh. Maaf, komodo itu karakter NKRI ding. Cuma ada di Nusantara. STILISTIKA Vol. 9 No. 2 JuliAeDesember 2016 ISSN 1978-8800 Data tersebut menjelaskan bahwa kata Aiding/adingAn adalah adik. Kata ading berasal dari kota banjarmasin, kalimantan selatan. Dalam konteks kalimat tersebut kata AiadingAn berarti AikamuAn yakni followers yang ada pada twitland Sujiwo Tejo. Kata AiadingAn biasanya digunakan masyarakat banjar dalam aktivitas jual beli di atas sungai dengan peralatan perahu atau biasa dikenal dengan pasar apung. Penggunaan kata Aiading atau adikAn menganggap followers memiliki status sosial lebih rendah. Status sosial ini dilihat dari usia penutur dan petutur. Oleh karena itu. Sujiwo Tejo menyapa followers dengan sebutan adik sebagai bentuk keakraban antara penutur dengan petutur. Kata AugusAy sebagai bentuk keakraban Dalam deiksis sosial, penggunaan kata ganti orang kedua jamak sebagai pengganti peran petutur dalam sebuah tuturan, meliliki variasi dalam penyebutannya. Selain itu, penggunaan bentuk tersebut memiliki kegunaan yang berbeda-beda. Hal ini bergantung pada status sosial partisipan. Selain itu bentuk deiksis sosial untuk menggantikan kedudukan petutur dalam kalimat memiliki fungsi yang berbeda-beda. Seperti pada data berikut. AiDi lokasi ini kita tidak dipalakin preman. Mas. Mereka di sini semua orang punya pekerjaan. Aikata Fajar Nugroho. Jadi siapa yang sebenarnya lelah. Gus? Jadi siapa yang sebenarnya kalah. Gus? Data tersebut menjelaskan bahwa kata AiGusAn pada mulanya sama seperti kata AiCakAn yakni sapaan akrab masyarakat jawa timur untuk laki-laki paruh baya. Namun, kata AiGusAn lambat laun memiliki penggunaan secara tersendiri. Kata AiGusAn biasanya diberikan kepada putra seorang kyai atau orang-orang yang memiliki hubungan keturunan dengan kyai, bukti penggunaan kata AiGusAn secara khusus adalah Abdurrahman Wahid, yang sering dikenal dengan sebutan AiGus DurAn. Kata AiGusAndalam konteks kalimat tersebut tidak memiliki kekhususan tersendiri, melainkan kata AiGusAn dalam kalimat tersebut merujuk pada followers yang ada di twinland Sujiwo Tejo, sehingga kata AiGusAn sebagai bentuk keakraban antara penutur ISSN 1978-8800 STILISTIKA Vol. 9 No. 2 JuliAeDesember 2016 dengan dengan petutur. Seperti halnya kata AiCakAn yang sering dipakai Sujiwo Tejo untuk menyapa followersnya. Kata Ganti Orang Ketiga Tunggal Dalam deiksis sosial penggunaan kata ganti orang ketiga tunggal dipengaruhi konteks suatu tuturan. Hal ini dikarenakan dalam pembahasan deiksis sosial perubahan-perubahan kata yang menggantikan persona dipengaruhi status sosial. Status-status tersebut antara lain: usia, jenis kelamin, jabatan, status ekonomi, tingkat kebangsawanan, dsb. Penggunaan bentuk deiksis sosial yang diungkapkan penutur dalam sebuah tuturan memiliki fungsi di dalamnya. Selain itu, bentuk tersebut memiliki penggunaan yang bervariasi. Bentuk deiksis sosial yang ada dalam sebuah tuturan meliliki arti serta fungsi yang berbeda dengan arti leksikalnya. Hal ini dikarenakan deiksis sosial mangacu pada konteks satu tuturan. Bentuk deiksis sosial yang menggantikan kata Aidia, ia dan -nyaAn dalam pembahasan ini adalah kata AibungAn. Aibuaya daratAn. AimbokAn. Aigarong kerah putihAn. AipakAn. AicelengAn. AianjingAn, dan AicakAn. Kata AubungAy sebagai bentuk penghormatan Dalam deiksis sosial, penggunaan kata ganti orang ketiga tunggal sebagai pengganti peran orang yang dibicarakan dalam sebuah tuturan, meliliki variasi dalam Selain itu, penggunaan bentuk tersebut memiliki kegunaan yang berbeda-beda. Hal ini bergantung pada status sosial partisipan. Selain itu bentuk deiksis sosial untuk menggantikan kedudukan petutur dalam kalimat memiliki fungsi yang berbeda-beda. Seperti pada data berikut: Catat. Ini sudah bukan zamannya Bung Karno dan Bung Tomo sangar di Data tersebut menjelaskan bahwa kata AibungAn dalam konteks kalimat tersebut berarti AikamuAn. Dalam Historitas berkenaan dengan sejarah perkembangan bahasa atau sejarah pemakaian bahasa kata AibungAn dikhususkan untuk panggilan orang yang terhormat dan populer pada masa penjajahan, misalnya AiBung KarnoAn ataupun AiBung HattaAn. Kata AibungAn sendiri berarti panggilan akrab kepada seorang laki-laki. Jadi. STILISTIKA Vol. 9 No. 2 JuliAeDesember 2016 ISSN 1978-8800 kata AibungAn yang terdapat dalam konteks kaliat tersebut sebagai bentuk penghormatan kepada pahlawan-pahlawan pada masa penjajahan. Kata Aubuaya daratAy sebagai bentuk merendahkan Dalam deiksis sosial, penggunaan kata ganti orang ketiga tunggal sebagai pengganti peran petutur dalam sebuah tuturan, meliliki variasi dalam penyebutannya. Selain itu, penggunaan bentuk tersebut memiliki kegunaan yang berbeda-beda. Hal ini bergantung pada status sosial partisipan. Selain itu bentuk deiksis sosial untuk menggantikan kedudukan petutur dalam kalimat memiliki fungsi yang berbeda-beda. Seperti pada data berikut: Kalau memang kita negara maritim, seyogyanya umpatan itu bukan Aike laut aja lo!An tapi Aike pengadilan aja lo!An atau ke kejaksaan aj lo! Atau Aikementerian agama aja lo! Atau kemana pun saja tempat buaya darat biasa Data tersebut menjelaskan bahwa kata Aibuaya daratAn merupakan istilah yang digunakan kepada penjahat ataupun orang yang selalu meresahkan orang lain. Dalam konteks tersebut kata Aibuaya daratAn merujuk pada orang ketiga tunggal atau orang yang sedang dibicarakan yakni dia. Kata AiBuaya daratAn yang diungkapkan penutur sebagai bentuk merendahkan petutur, karena petutur dianggap sebagai penjahat ataupun pencuri. Pencuri . yang ada di Indonesia disama artikan seperti buaya darat, karena status sosial para koruptor sangat rendah walaupun berprofesi sebagai pejabat, sehingga penutur menggunakan kata Aibuaya daratAn untuk merendahkan status sosial petutur. Kata AumbokAy sebagai bentuk penghormatan Dalam deiksis sosial, penggunaan kata ganti orang ketiga tunggal sebagai pengganti peran petutur dalam sebuah tuturan, meliliki variasi dalam penyebutannya. Selain itu, penggunaan bentuk tersebut memiliki kegunaan yang berbeda-beda. Hal ini bergantung pada status sosial partisipan. Selain itu bentuk deiksis sosial untuk menggantikan kedudukan petutur dalam kalimat memiliki fungsi yang berbeda-beda. Seperti pada data berikut: ISSN 1978-8800 STILISTIKA Vol. 9 No. 2 JuliAeDesember 2016 Buat yang malam ini punya ide untuk bunuh diri, pesanku: Tunda dulu. Siapa tahu esok masih ada mbok jamu yang tersenyum. Data tersebut menjelaskan bahwa kata AimbokAn dalam konteks kalimat tersebut merupakan bentuk ketiga tunggal yakni dia. Kata AimbokAn termasuk ragam kromo ngoko untuk perempuan tua, biasanya digunakan untuk sapaan perempuan tua yang kedudukan sosialnya lebih rendah daripada penutur. Penggunaan kata AimbokAn ada dalam bahasa Jawa maupun Bali, keduanya digunakan dengan arti yang berbeda, dalam bahasa Bali AimbokAn berarti kakak perempuan, sedangkan AimbokAn dalam bahasa jawa berarti ibu. Jadi, saat orang jawa yang baru di Bali mungkin akan sedikit tersinggung saat seorang laki-laki bali menyapa dengan sebutan mbok. Dalam konteks kalimat tersebut kata AimbokAn digunakan penutur untuk merujuk pada perempuan tua, mengingat penjual-penjual jamu identik dengan perempuanperempuan tua. Tujuan penggunaan kalimat tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap perempuan yang lebih tua. Kata Augarong kerah putihAy sebagai bentuk merendahkan Dalam deiksis sosial, penggunaan kata ganti orang ketiga tunggal sebagai pengganti peran petutur dalam sebuah tuturan, meliliki variasi dalam penyebutannya. Selain itu, penggunaan bentuk tersebut memiliki kegunaan yang berbeda-beda. Hal ini bergantung pada status sosial partisipan. Selain itu bentuk deiksis sosial untuk menggantikan kedudukan petutur dalam kalima memiliki fungsi yang berbeda-beda. Seperti pada data berikut: Lagi pula, positiflah, garong kerah putih tak sepenuhnya salah kok. Data tersebut menjelaskan bahwa kata Aigarong kerah putihAn berasal dari AigarongAn yang berari perampok/ pencuri, sedangkan Aikerah putihAn merupakan orangorang terpandang atau orang-orang yamg berstatus tinggi dalam rangka pekerjaannya. Kata Aigarong kerah putih Ai yang terdapat pada kalimat tersebut merujuk pada bentuk persona orang ketiga tunggal yakni dia. Dalam konteks kalimat tersebut Aigarong kerah putihAn berarti kejahatan atau perampokan yang dilakukan orang-orang yang berpendidikan atau berstatus lebih tinggi. Tetapi, penggunaan kata Aigarong kerah putihAn yang diungkapkan penutur sebagai bentuk merendahkan terhadap petutur. Hal STILISTIKA Vol. 9 No. 2 JuliAeDesember 2016 ISSN 1978-8800 ini disebabkan status kerah putih yang termasuk tinggi dalam kelas sosial menjadi rendah karena orang-orang terpandang tersebut melakukan tindak kejahatan atau Oleh karena itu kata Aigarong kerah putihAn yang terdapat pada konteks kalimat tersebut berfungsi merendahkan orang-orang berpendidikan yang bertindak kejahatan, biasanya kata tersebut digunakan para pejabat negara yang korupsi. Kata AupakAy sebagai bentuk penghormatan Dalam deiksis sosial, penggunaan kata ganti orang ketiga tunggal sebagai pengganti peran petutur dalam sebuah tuturan, meliliki variasi dalam penyebutannya. Selain itu, penggunaan bentuk tersebut memiliki kegunaan yang berbeda-beda. Hal ini bergantung pada status sosial partisipan. Selain itu bentuk deiksis sosial untuk menggantikan kedudukan petutur dalam kalimat memiliki fungsi yang berbeda-beda. Seperti pada data berikut: Tak mustahiil, memang kumis penyayi dangdut itu bisa jadi akan setebal kumis Pak Menteri. Data tersebut menjelaskan bahwa kata AiPakAn berasal dari kata AiBapakAn yang berarti laki-laki yang dipandang sebagai orang tua atau orang yang dihormati. Penggunaan kata AipakAn yang melekat pada kata AiMenteriAn merupakan bentuk hormat penutur terhadap petutur. Dalam konteks kalimat tersebut kata AiPak MenteriAn merujuk pada Bapak Menteri Andi Malarangeng, karena Pak Andi Malarangeng identik dengan kumis yang tebal. Hal ini disebakan kelas status sosial Pak Andi Malarangeng lebih tinggi dibanding Sujiwo Tejo dalam hal jabatan. Oleh karena itu penutur menggunakan kata AiPakAn sebagai bentuk penghormatan atau meninggikan status petutur. Kata AucelengAy sebagai bentuk merendahkan Dalam deiksis sosial, penggunaan kata ganti orang ketiga tunggal sebagai pengganti peran petutur dalam sebuah tuturan, meliliki variasi dalam penyebutannya. Selain itu, penggunaan bentuk tersebut memiliki kegunaan yang berbeda-beda. Hal ini bergantung pada status sosial partisipan. Selain itu bentuk deiksis sosial untuk ISSN 1978-8800 STILISTIKA Vol. 9 No. 2 JuliAeDesember 2016 menggantikan kedudukan petutur dalam kalimat, memiliki fungsi yang berbeda-beda. Seperti pada data berikut: Eh, atau sebetulnya koruptor itu lebih mirip celeng, ya? Buktinya lukisan karya Maestro Djoko Pekik tentang carut marut koruptor menggambarkan celeng terbalik dan terikat yang digotong ramai-ramai. Judulnya. AiBerburu celengAn. Data tersebut menjelaskan bahwa kata AicelengAn dalam konteks kalimat tersebut menyatakan orang ketiga tunggal yakni dia. Kata celeng biasanya digunakan untuk memaki-maki orang lain, makian-makian tersebut sebagai bentuk merendahkan status sosial petutur karena menyamakan manusia dengan hewan. Kata AicelengAn merupakan kritikan terhadap masa reformasi pada zaman runtuhnya rezim Soeharto, penggunaan kata AicelengAn dalam konteks kalimat tersebut merupakan bentuk penghinaan yang ditujukan pada oknum-oknum yang ada pada pemerintahan Soeharto. Kata AuanjingAy sebagai bentuk merendahkan Dalam deiksis sosial, penggunaan kata ganti orang ketiga tunggal sebagai pengganti peran petutur dalam sebuah tuturan, meliliki variasi dalam penyebutannya. Selain itu, penggunaan bentuk tersebut memiliki kegunaan yang berbeda-beda. Hal ini bergantung pada status sosial partisipan. Selain itu, bentuk deiksis sosial untuk menggantikan kedudukan petutur dalam kalimat memiliki fungsi yang berbeda-beda. Seperti pada data berikut: Kok semakin jarang saya baca warning AiAwas Anjing Galak!An ya? Emang semakin berkurang jumlah anjing galak atau karena saya makin asosial yang semakin jarang berkunjung ke rumah orang? @Lukasjalu: Anjing sekarang mudah disuap, mbah. Lempar makanan beras. Berdasarkan data tersebut, kata AianjingAn berarti binatang menyusui yang biasa dipelihara untuk menjaga rumah, berburu. selain itu, anjing juga digunakan untuk menghina orang bodoh dan miskin yang sombong saat mencapai kesuksesan. Penggunaan kata AianjingAn dalam kontek kalimat tersebut merujuk pada orang ketiga tunggal yakni dia. Penutur dalam menggunakan kata anjing sebagai bentuk pengganti orang ketiga bermaksud untuk merendahkan atau mengolok-olok petutur. Hal ini disebabkan sifat anjing yang digambarkan dalam konteks tersebut adalah orang yang STILISTIKA Vol. 9 No. 2 JuliAeDesember 2016 ISSN 1978-8800 mudah disuap, sehingga status petutur tersebut menjadi rendah. Selain itu, kata Aianjing dalam kontek kalimat tersebut menggambarkan jarak yang jauh antara penutur dan petutur. Kata AucakAy sebagai bentuk keakraban Dalam deiksis sosial, penggunaan kata ganti orang ketiga tunggal sebagai pengganti peran petutur dalam sebuah tuturan, meliliki variasi dalam penyebutannya. Selain itu, penggunaan bentuk tersebut memiliki kegunaan yang berbeda-beda. Hal ini bergantung pada status sosial partisipan. Selain itu bentuk deiksis sosial untuk menggantikan kedudukan petutur dalam kalimat memiliki fungsi yang berbeda-beda. Seperti pada data berikut: Untuk itu itu negeri #Jancukers akan mengundang pembicara dari Indonesia guna spesial membahas mur dan baut : Cak Mur Baut dari Srimulat yang lebih kondang dengan nama Nurbaut. Data tersebut menjelaskan bahwa kata AicakAn berasal dari kata cacak atau kakak. Sehingga, panggilan AicakAn sama dengan abang, mas atau kakak laki-laki. Kata AicakAn dalam konteks kalimat tersebut berarti panggilan kepada laki-laki yang dianggap lebih tua atau yang dituakan di Jawa Timur. Kata AicakAn bagi masyarakat Surabaya adalah panggilan akrab yang merakyat. Penggunaan kata AicakAn yang diungkapkan penutur yakni Sujiwo Tejo sebagai bentuk meningginkan status sosial petutur yakni Nur Baut srimulat, kalau dilihat dari status usia antara penutur dan petutur, usia Sujiwo Tejo lebih muda dibanding Nur Buat. Sujiwo menggunakan kata AicakAn sebagai panggilan laki-laki lebih tua terhadap Nur Buat sebagai bentuk meninggikan status sosial serta bentuk keakraban antara keduanya. Sujiwo Tejo dan Cak Nur Buat dikenal akrab karena mereka sering bertemu dan bermain dalam acara ludruk sebagai sutradara dan pemeran. Kata Ganti Orang Ketiga Jamak Seperti pada pembahasan sebelumnya. Dalam deiksis sosial, penggunaan kata ganti orang ketiga tunggal sebagai pengganti peran petutur dalam sebuah tuturan, meliliki variasi dalam penyebutannya. Pada bab ini peran kata ganti orang ketiga ISSN 1978-8800 STILISTIKA Vol. 9 No. 2 JuliAeDesember 2016 dalam bentuk deiksis sosial berarti jamak. Seperti halnya kata ganti orang ketiga tunggal, kata ganti orang ketiga jamak juga memiliki fungsi yang berbeda-beda dalam Hal ini bergantung pada konteks ujaran. Bentuk deiksis sosial yang menggantikan kata ganti orang ketiga jamak dalam pembahasan ini adalah Aiumbrella girlAn. AianjingAn, dan AituyulAn. Kata Auumbrella girlAy sebagai bentuk merendahkan Dalam deiksis sosial, penggunaan kata ganti orang ketiga jamak sebagai pengganti peran orang yang dibicarakan . dalam sebuah tuturan, meliliki variasi dalam penyebutannya. Selain itu, penggunaan bentuk tersebut memiliki kegunaan yang berbeda-beda. Hal ini bergantung pada status sosial partisipan. Selain itu bentuk deiksis sosial untuk menggantikan kedudukan petutur dalam kalimat, memiliki fungsi yang berbeda-beda. Seperti pada data berikut: Pelantikan presiden sebaiknya outdoor. Sumpah jabatannya dinaungi oleh payung kaum Umbrella girl. Data tersebut kata AiUmbrella GirlAn merupakan istilah yang digunakan dalam balap motor professional. Hal ini mengacu pada wanita muda yang memayungi pembalap dari panas matahari. AiUmbrella GirlAn juga dikenal dengan pakaian yang ketat dan mini. Kata AiUmbrella GirlAn dalam konteks kalimat mengacu pada ajudan pejabat atau presiden yang biasanya bertugas untuk mengawal bosnya. Penggunaan kata AiUmbrella GirlAn yang diungkapkan penutur merupakan bentuk merendahkan status ajudan dalam kelas sosial masyarakat. Hal ini disebabkan status ajudan atau pembantu memiliki status sosial rendah di kalangan masyarakat. Kata AuanjingAy sebagai bentuk merendahkan Dalam deiksis sosial, penggunaan kata ganti orang ketiga jamak sebagai pengganti peran orang yang dibicarakan . dalam sebuah tuturan, meliliki variasi dalam penyebutannya. Selain itu, penggunaan bentuk tersebut memiliki kegunaan yang berbeda-beda. Hal ini bergantung pada status sosial partisipan. Selain itu bentuk deiksis sosial untuk menggantikan kedudukan petutur dalam kalimat memiliki fungsi yang berbeda-beda. Seperti pada data berikut: STILISTIKA Vol. 9 No. 2 JuliAeDesember 2016 ISSN 1978-8800 Sebaiknya pejabat korup sirene mobil pengawalnya berbunyi AiKaing. An @andrew_id88: Jangan, mbah. nanti para asu . @denmazwachid: Gak rela, anjing binatang baik mbah. Data tersebut menjelaskan bahwa kata AiasuAn dalam konteks kalimat tersebut berarti AimerekaAn. Dalam bentuk deiksis persona termasuk kata ganti ketiga jamak. Kata AiAsuAn biasanya digunakan orang untuk memaki orang lain. Penggunaan kata AiAsuAn yang diungkapkan penutur mengacu pada pejabat-pejabat yang melakukan tindak koruptor. Dalam konteks kalimat tersebut, kata AiAsuAn yang diungkapkan penutur digunakan untuk merendahkan petutur, karena kata tersebut sebagai bentuk makian yang diungkapkan penutur terhadap petutur. Hal ini menggambarkan jarak antara penutur dengan petutur jauh, sehingga kata AiAsuAn dalam konteks kalimat tersebut berfungsi untuk merendahkan status sosial petutur. Kata Autuyul-tuyulAy sebagai bentuk merendahkan Dalam deiksis sosial, penggunaan kata ganti orang ketiga jamak sebagai pengganti peran orang yang dibicarakan . dalam sebuah tuturan, meliliki variasi dalam penyebutannya. Selain itu, penggunaan bentuk tersebut memiliki kegunaan yang berbeda-beda. Hal ini bergantung pada status sosial partisipan. Selain itu bentuk deiksis sosial untuk menggantikan kedudukan petutur dalam kalimat memiliki fungsi yang berbeda-beda. Seperti pada data berikut: Tapi, ngomong-ngomong, kemana gerangan tulisan AiAwas Anjing Galak!An @ariphku: Udah pada pelihara tuyul. Cuk. Aning udah sepi peminat. Akun @rendoty menyebut salah satu jenis tuyul-tuyul itu beredar di Senayan. Data tersebut menjelaskan bahwa kata Aituyul-tuyulAn dalam konteks kalimat tersebut berarti AimerekaAn. Dalam bentuk deiksis persona termasuk kata ganti ketiga AituyulAn merupakan makhluk halus yang konon berupa bocah berkepala gundul, makhluk halus tersebut dapat diperintah oleh orang yang memeliharanya untuk mencuri uang. Penggunaan kata AituyulAn yang diungkapkan penutur dalam konteks kalimat tersebut mengacu pada pejabat-pejabat yang berada di Senayan dan bekerja sebagai pencuri uang atau koruptor. Kata Aituyul-tuyulAn dalam konteks ISSN 1978-8800 STILISTIKA Vol. 9 No. 2 JuliAeDesember 2016 tersebut untuk mengolok-olok dan merendahkan status sosial petutur. Hal ini disebabkan status sosial petutur dinilai rendah, karena memiliki profesi sebagai orang yang senang melakukan kejahatan. PENUTUP Bentuk dan fungsi deiksis sosial yang dapat diperoleh dari kumpulan esai Republik #Jancukers. Bentuk deiksis sosial dalam kumpulan esai Republik #Jancukers meliputi bentuk kata ganti orang pertama, kedua, dan ketiga. Bentuk kata ganti orang pertama meliputi kata Gue sebagai bentuk keakraban. Bentuk kata ganti orang kedua meliputi Mbah sebagai bentuk penghormatan. Bung sebagai bentuk keakraban. Anjing sebagai bentuk keakraban. Ding sebagai bentuk keakraban. Sampean sebagai bentuk keakraban. Gus sebagai bentuk kekaraban. Jeng sebagai bentuk keakraban. Mas sebagai bentuk keakraban. Saudara sebagai bentuk keakraban. Dik sebagai bentuk keakraban. Cuk/Jancuk sebagai bentuk keakraban. Bentuk deiksis sosial kata ganti ketiga. Gus sebagai bentuk penghormatan. Bung sebagai bentuk penghormatan. Buaya darat sebagai bentuk merendahkan. Garong kerah putih sebagai bentuk merendahkan. Pak Menteri sebagai bentuk penghormatan. Celeng sebagai bentuk merendahkan. Cak sebagai bentuk keakraban. Umbrella girl sebagai bentuk merendahkan. Tuyul sebagai bentuk merendahkan. DAFTAR RUJUKAN Arikunto. Suharsini. Prosedur Penelitian Suatu pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. Chaer. Abdul. Tata Praktis Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta. Chaer. Abdul, dkk. Sosiolinguistik. Jakarta: Rineka Cipta Moleong. Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Sugiyono. Metode Penelitian Pnedidikan: Pendekatan Kuantitatif,Kualitatif dan R dan D. Bandung: Alfabeta. Yule. George. Pragmatik (Ter. Indah Fajar Wahyuni. Yogyakarta: Pustaka Pelajar STILISTIKA Vol. 9 No. 2 JuliAeDesember 2016 ISSN 1978-8800