Ekasakti Pareso Jurnal Akuntansi e-ISSN: 2985-6612 | p-ISSN: 2985-6620 Vol. No. Juli 2026 Website: https://ejurnal-unespadang. id/EPJA Meninjau Akuntabilitas Keuangan Desa dari Sudut Pandang Kompetensi Aparatur dan Sistem Pengelolaan: Systematic Literature Review Nabila Khairunnisa Ahmad1*. Maria Bianca Cheravine2. Afifah Alya Zulaikha3. Novi Karsa Pratiwi4. Rika Henda Safitri5. Universitas Sriwijaya. Palembang. Indonesia Email: 01031282429049@student. Universitas Sriwijaya. Palembang. Indonesia Email: 01031182429033@student. Universitas Sriwijaya. Palembang. Indonesia Email: 01031382429183@student. Universitas Sriwijaya. Palembang. Indonesia Email: 01031282429123@student. Universitas Sriwijaya. Palembang. Indonesia Email: rikahenda@unsri. *Corresponding Author: Nabila Khairunnisa Ahmad Abstract: Fund allocations often increase as needs grow, and village management demands greater accountability due to these increased allocations. However, there are gaps in the competence of village officials and in system optimization that need to be addressed. This study employs a Systematic Literature Review method, analyzing 15 prior articles from the 2020Ae2025 period. The findings indicate that consistent improvements in the application of accounting standards and relatively rapid reporting can be achieved through the practical implementation of the Village Financial System (SISKEUDES). Financial literacy and moral integrity are the primary determining factors that can fulfill the accountability process as a means of ensuring the quality of informative information. Some reports still face technical challenges in achieving transparency, which poses a barrier within the scope of public Thus, to realize village finances with high accountability, two main components that are well correlated are required: the intellectual strengthening of village officials and the massive utilization of technology. This study can indirectly contribute to decision-making regarding digital transformation efforts in rural areas. Keywords: Accountability. Apparatus Competence. Village Financial System. Village Finance. Abstrak: Pengalokasian dana sering kali bertambah seiring dengan semakin banyaknya kebutuhan yang diperlukan, begitupun dengan pengelolaan desa yang menuntut akuntabilitas yang lebih tinggi dikarenakan adanya penambahan alokasi biaya. Akan tetapi, terdapat kesenjangan berupa kompetensi aparatur dan juga optimalisasi sistem yang perlu ditindak Studi menggunakan metode Systematic Literature Review dengan menganalisis 15 artikel terdahulu dalam rentang waktu 2020-2025. Temuan ini menunjukkan jika peningkatan yang dialami secara konsistensi terhadap penerapan standar akuntansi serta pelaporan yang relatif cepat dapat dicapai dengan adanya implementasi secara nyata menggunakan Sistem DOI: https://doi. org/10. 31933/epja. Licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License 369 | Page e-ISSN: 2985-6612 | p-ISSN: 2985-6620 Vol. No. Juli 2026 Keuangan Desa (SISKEUDES). Faktor literasi keuangan dan juga integritas moral menjadi faktor penentu utama yang dapat memenuhi proses akuntabilitas sebagai bentuk pemenuhan kualitas informasi yang informatif. Sebagian laporan masih sulit untuk melakukan transparansi secara teknis, hal ini menjadi kendala dalam ruang lingkup aksesibilitas publik. Dengan demikian, dalam mewujudkan keuangan desa dengan akuntabilitas yang tinggi, memerlukan dua komponen utama yang saling berkorelasi dengan baik, yakni adanya bentuk penguatan secara intelektual pada sumber daya aparatur desa dan pemanfaatan teknologi secara masif. Studi ini dapat memberikan kontribusi secara tidak langsung dalam pengambilan keputusan terkait upaya transformasi digital pada pedesaan. Kata Kunci: Akuntabilitas. Kompetensi Aparatur. Sistem Keuangan Desa. Keuangan Desa. PENDAHULUAN Dalam mengelola keuangan, diperlukan laporan yang jelas mengenai alur kas terkait dengan keuangan tersebut. Ketentuan ini berlaku tidak hanya bagi beberapa aktor ataupun organisasi namun, laporan yang jelas untuk memberikan informasi mengenai alur kas keuangan merupakan keharusan yang dapat diikuti oleh berbagai organisasi, lembaga, wilayah, bahkan desa. Semenjak Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 mengenai desa diberlakukan, adapun satu sektor yang menjadi titik fokus utama dalam tata kelola pemerintahan yakni adalah pengelolaan keuangan desa (Pramesti et al. , 2. Adanya tuntutan mengenai standar profesionalisme, transparansi serta akuntabilitas yang tinggi menjadi sebuah konsekuensi ketika dikelola secara mandiri oleh pemerintah desa, dimana disebabkan oleh adanya implementasi dari kebijakan tersebut yang belum terkoordinasi dengan baik (Ardelia & Handayani, 2. Secara nyata dalam pengelolaan dana keuangan terdapat kendala yang cukup signifikan, berupa kesenjangan antara besaran anggaran yang diberikan dengan tingkat kemampuan yang dimiliki oleh administrasi hingga kualitas dari Sumber Daya Manusia. Adanya proses pelaporan yang tidak terkoordinasi dengan baik menyebabkan terjadinya keterlambatan dalam mempertanggung jawabkan laporan. Melalui kondisi yang selalu menunjukkan ketidaksiapan dalam melakukan transparansi pada laporan keuangan, dapat menimbulkan risiko baik secara internal maupun sosial (Rahmasari, 2. Seperti adanya anggaran yang menyimpang atau tidak diketahui tujuannya dan menurunnya kredibilitas masyarakat mengenai proses pengelolaan yang dibawa oleh desa yang bersangkutan. Kemajuan teknologi mendorong pemanfaatannya untuk sektor yang membutuhkan media agar pengelolaan yang diharapkan dapat bekerja secara optimal. Pada sistem pengelolaan keuangan desa, sebagian besar telah dikenalkan dengan aplikasi Sistem Keuangan Desa (SISKEUDES). Aplikasi siskeudes diharapkan dapat menjadi sebagai jembatan untuk para pengurus keuangan didaerah untuk mengoptimalkan pelaporan serta memiliki data yang terintegrasi dengan baik. Dibalik keinginan siskeudes untuk mencapai tujuan utama bagi warga desa, didapati beberapa kendala yang harus diatasi sebelum penerapan siskeudes yakni mengenai sumber daya yang akan menggunakannya secara Dalam pemanfaatan siskeudes pada pengelolaan desa, tentunya tidak semua wilayah desa sudah mengerti terkait dengan pemanfataan siskeudes di daerahnya. Tidak hanya bagi masyarakat, siskeudes juga menjadi sebuah inovasi dalam pemanfataa teknologi terlebih lagi bagi pengurus kepentingan. Selain latar belakang yang melandasi kepenulisan ini, adapun beberapa rumusan masalah yang akan dipenuhi dalam kepenulisan ini. Pertama. Bagaimana literatur menilai kepatuhan pemerintah desa terhadap Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) dalam mewujudkan akuntabilitas? Kedua. Antara Kualitas SDM (Kompetens. dan Ketaatan Prosedur (Sistem Pengelolaa. , komponen mana yang lebih dominan dalam menentukan Page 370 e-ISSN: 2985-6612 | p-ISSN: 2985-6620 Vol. No. Juli 2026 kualitas laporan keuangan desa? Ketiga dan yang terakhir. Apakah sistem pengelolaan keuangan saat ini lebih banyak menghasilkan akuntabilitas yang bersifat sekadar memenuhi kewajiban laporan mencerminkan kondisi keuangan yang sebenarnya?. Lalu, pembahasan mengenai upaya penguatan tata kelola keuangan entitas publik telah banyak dikaji oleh beberapa studi terdahulu terlebih lagi mengenai pengaruh kompetensi dan upaya penerapan sistem informasi dalam meningkatkan keluaran laporan keuangan. Adapun kajian pertama yang melakukan eksplorasi pada implementasi siskeudes yang berfokus pada struktur data. Studi ini hanya berfokus pada struktur data yang digunakan dalam sistem yang menjadi media penelitian, sehingga tidak membahas secara langsung keterkaitan antar variabel yang dapat mendukung kemajuan hasil laporan keuangan (Saputra & Novitasari. Sistem pengendalian internal menggunakan kerangka kerja COSO menjadi fokus penelitian pada studi selanjutnya. Dimana hasil menunjukkan jika dalam proses pengendalian internal, dapat mengalami keterlambatan apabila pemerintah desa memiliki pemahaman yang relatif lemah sehingga dapat berdampak pula terhadap perwujudan pengelolaan desa yang efektif (Handiyono & Lutfi, 2. Uji secara kuantitatif terhadap dua variabel yang mempengaruhi aksesibilitas terhadap laporan keuangan yakni kompetensi pemerintah desa serta aksesibilitas laporan keuangan, selain dari dua komponen tersebut, terdapat komponen lainnya yang lebih unggul untuk memberikan pengaruh atau dampak yang cukup signifikan pada akuntabilitas, yakni kompetensi serta upaya pengendalian interal yang lebih berpengaruh sesuai hasil studi (Puspa & Prasetyo, 2. Adapun tujuan utama dari penelitian ini ialah untuk mengidentifikasi secara luas terkait dengan faktor penentu yang dapat meningkatkan kualitas dan menghindari Risiko dalam proses pengelolaan keuangan hingga pelaporan. Berdasarkan berbagai penelitian terdahulu, didapati berbagai kendala utama yang membuka celah penelitian untuk penelitian ini, yakni minimnya pembahasan mengenai penerapan sistem yang digunakan secara nyata pada beberapa wilayah untuk mendukung kemajuan dalam menyajikan leporan keuangan, hingga konsistensi penggunaan yang mendukung penerapan peraturan mengenai tata cara mengelola laporan keuangan, baik dalam beberapa wilayah atau bahkan masuk dalam skala Untuk mengisi celah penelitian tersebut, penerapan metode Systematic Literature Review (SLR) pada penelitian ini akan mengkaji secara dalam melalui 15 artikel yang sudah melewati pemilihan ketat melalui protokol dan tahapan yang ada pada PRISMA. Studi ini akan menyajikan berbagai faktor pendukung bahkan penghambat yang dapat dijadikan acuan bagi pengembangan sistem digitalisasi pelaporan keuangan desa agar dapat terus berinovasi dan juga mengedepankan informasi yang transparansi dan terpercaya. Adapun keterbaruan dari penelitian ini ialah dengan memberikan pendekatan pada sistem keuangan desa melalui uji efektivitas serta meninjau aspek literasi hingga fungsi dari audit internal kepemimpinan desa. Perspektif terkait sistem informasi yang dapat memberikan pengaruh yang lebih stabil untuk menyajikan laporan keuangan yang lebih berkualitas akan menjadi sudut pandang baru yang akan ditemukan pada studi ini. Besar harapan kajian ini akan berdampak secara signfiikan melalui hasil analisis penerapan mengenai sistem keuangan desa melalui faktor-faktor hingga keluaran dari penggunaan sistem untuk berbagai daerah, sehingga dapat menjadi media informasi untuk sebagain wilayah atau desa yang membutuhkan informasi atau inovasi dari sistem keuangan desa. METODE PENELITIAN Proses pengkajian yang dimulai dengan mencari sumber data yang relevan sesuai dengan kata kunci dan juga memenuhi kriteria yang dibutuhkan, berbagai sumber yang didapati secara langsung memerlukan tinjauan agar secara lengkap membahas hal yang relevan mengenai topik yang dibahas sehingga penelitian ini berbasis kepustakaan dengan Page 371 e-ISSN: 2985-6612 | p-ISSN: 2985-6620 Vol. No. Juli 2026 mengadopsi pendekatan Systematic Literatur Review (SLR) untuk menghasilkan studi yang kaya akan informasi dan hasil kajian yang kredibel (Simamora et al. , 2. Dalam melakukan penyaringan artikel agar didapati hasil penelitian yang konkrit dan sesuai dengan kriteria pembahasan, penerapan protokol PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic reviews and Meta-Analyse. yang merupakan sebuah standar pedoman yang diberikan untuk meningkatkan kualitas laporan tinjauan sistematis. Yang dimana PRISMA bertujuan untuk membawa pengaruh positif terkait proses penyaringan artikel sebab dapat memberikan informasi secara transparan mengenai kualitas proses dengan divisualisasikan memalui diagram alir yang melengkapi gambaran proses penyeleksian artikel (Kahale et al. , 2. Penelitian ini menggunakan dua kata kunci pada dua mesin pencari sumber data yang Penerapan kata kunci AuSistem Pengendalian Internal Pemerintah Daerah AND Kualitas Laporan KeuanganAy dan mengatur rentang waktu pada enam tahun terakhir yakni 2020-206 digunakan sebagai tujuan untuk melakukan filterisasi pada keluaran mesin pencarian artikel artikel, supaya semua artikel yang keluar sesuai dengan tema serta topik yang akan dibahas pada studi. Kriteria Pemilihan Artikel Adanya titik fokus mengenai Akuntansi. Kompetensi, dan Sistem Pengelolaan, yang diterapkan, adapun beberapa kriteria ketat mengenai pemilihan artikel untuk memudahkan tahapan penyaringan. Semua artikel yang tidak memenuhi kriteria pada tabel 1, tidak akan dimasukkan dalam analisis literatur. Kriteria Rentang Waktu Jenis Literatur Subjek Penelitian Topik Variabel Metode Penelitian Bahasa Tabel 1. Kriteria Pemilihan Artikel Penelitian Inklusi (Diterim. Eksklusi (Ditola. Artikel yang dipublikasikan dalam kurun waktu Artikel yang terbit sebelum tahun 2016 10 tahun terakhir . 6Ae2. ebelum implementasi penuh UU Desa No. 6/2. Jurnal ilmiah nasional/internasional yang telah Skripsi. Tesis. Disertasi. Prosiding seminar melalui proses peer-review. yang tidak lengkap, atau artikel berita/opini. Fokus pada Pemerintah Desa di Indonesia. Fokus Pemerintah Daerah (Kabupaten/Kot. BUMN, atau organisasi Membahas minimal dua variabel: Akuntabilitas Hanya membahas korupsi desa secara Keuangan Desa. Kompetensi Aparatur, atau umum tanpa meninjau aspek kompetensi Sistem Pengelolaan Keuangan. akuntansi atau sistemnya. Menggunakan metode Kuantitatif. Kualitatif, atau Artikel yang hanya berupa review buku Mixed Methods. atau esai pendek tanpa metodologi penelitian yang jelas. Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Bahasa selain Indonesia dan Inggris. HASIL DAN PEMBAHASAN Melalui pencarian yang dilakukan menggunakan dua sumber data yang berbeda, yakni google scholar dan juga garuda, sebagai tahapan awal pencarian artikel, didapatkan sebanyak 203 artikel dari sumber data Google Scholar dan 14 artikel yang berasal dari garuda. kedua hasil sumber data tersebut, total keseluruhan artikel setelah di kalkulasikan berjumlah akan tetapi, sifat dari data yang didapatkan ini masih bersifat mentah, sehingga diperlukan berbagai tahapan untuk mengolah data ini menjadi data yang siap untuk di Page 372 e-ISSN: 2985-6612 | p-ISSN: 2985-6620 Vol. No. Juli 2026 Sumber: Peneliti Gambar 1. Diagram Alir PRISMA Olah data yang dihasilkan akan dilanjutkan dengan keempat tahapan yang sesuai dengan protokol PRISMA. proses analisis artikel dengan tahapan sesuai ketentuan PRISMA akan membantu dalam menemukan jumlah artikel yang relevan dan artikel yang benar-benar sesuai dengan cakupan penulisan secara lengkap. untuk alur analisis menggunakan PRISMA dapat dilihat melalui gambar yang disajikan pada gambar 1. Tahapan awal merupakan tahap identifikasi yang merupakan tahapan artikel dari dua sumber data yang berbeda, terdapat data mentah sebanyak 217, artikel-artikel tersebut pada tahapan ini terdapat beberapa artikel yang di eliminasi, artikel yang terduplikasi sebanyak 17 dan artikel yang otomatis dihapus oleh mesin pencarian 10 sehingga dari dua alasan tersebut pada tahapan ini terdapat 27 artikel yang di eliminasi. dari jumlah artikel awal, pada tahapan identifikasi tersisa 190 yang dapat lanjut ke tahapan penyaringan. Pada tahapan ini, artikel akan di analisis sesuai dengan judul dan abstrak. penyaringan secara menyeluruh pada 190 artikel yang masuk pada tahapan penyaringan akan dianalisis sesuai kesesuaian judul dan abstrak yang berada dalam kategori kriteria yang telah ditentukan. berdasarkan hasil penyaringan, terdapat 120 artikel yang dinyatakan tidak relevan secara segi judul dan abstrak sehinga dikeluarkan pada tahapan ini. Akan tetapi terdapat 15 artikel yang dikeluarkan karena tidak dapat diakses secara keseluruhan. Sehingga, tersisa sebanyak 55 artikel yang akan lanjut pada tahapan berikutnya. Tahap uji kelayakan yang merupakan lanjutan dari tahapan penyaringan dilakukan dengan cara membaca secara keseluruhan isi dari artikel. pada bagian ini, terdapat 15 yang dikeluarkan dikarenakan secara keseluruhan cakupan pembahasannya tidak sesuai dengan lalu, sebanyak 15 dikeluarkan karena tidak tersedia keseluruhan isi dari artikel terpilih, selain itu terdapat 10 artikel yang dikeluarkan karena data yang dimiliki oleh artikel tidak lengkap. Sehingga pada uji kelayakan terdapat 40 artikel yang dikeluarkan. dari tahapan ini didapatkan sebanyak 15 yang dipertahankan. sehingga tahapan akhir dari Page 373 e-ISSN: 2985-6612 | p-ISSN: 2985-6620 Vol. No. Juli 2026 proses ini mendapatkan hasil sebanyak 15 artikel dengan kesesuaian kriteria yang telah ditentukan dan siap untuk di analisis lebih lanjut dan dapat menjawab rumusan masalah yang telah ditentukan Penulis & Tahun (Halid et al. (Aulia et al. (Temalagi et , 2. (Gusasi Lantowa, (Bawansel et , 2. (Utami et al. (Elfirar & Putri, 2. (Asih Adiputra, (Mardaw et , 2. (Hasan et al. (Rahmah et , 2. (Armaida et , 2. (Pratiwi , 2. (Pamungkas et al. , 2. (Tahir et al. Tabel 2. Analisis Konsistensi Standar Akuntansi Standar/Regulasi yang Temuan Kepatuhan Dirujuk Akuntansi Regulasi Dana Desa & Akuntabilitas dominan pada Standar Laporan UU Desa & Regulasi BPK Terjebak pada pemenuhan Prinsip Akuntansi & Keterlambatan Pelaporan Desa akibat transisi data manual. Permendagri 113/2014 & Pengelolaan sesuai prosedur 20/2018 dan prinsip ketaatan. Permendagri 20/2018 Permendagri 113/2014 & 20/2018 Permendagri 113/2014 & Perbup 11/2019 Permendagri 20/2018 Permendagri 113/2014 & UU 6/2014 SAP & Prinsip Pengelolaan Desa UU 6/2014 & Akuntabilitas Publik Prinsip Pengelolaan Desa Prinsip & Standar Pelaporan Desa Prinsip Akuntansi Sektor Publik Desa Prinsip Pelaporan Pemda Pencatatan sesuai struktur dan klasifikasi anggaran. Memenuhi prinsip ketaatan hukum penatausahaan. Sistem membantu sinkronisasi standar pelaporan. Struktur pencatatan konsisten meski anggaran berubah. Format realisasi APBDes sesuai siklus regulasi. Kualitas laporan bergantung Siskeudes. Akuntabilitas kebijakan sebagai dasar utama. Disiplin akuntabilitas selaras dengan kualitas laporan. Transparansi dan akuntabilitas meningkatkan kualitas laporan. Akuntabilitas kesesuaian standar penyajian. Korelasi positif transparansi terhadap kualitas informasi. Kendala Penerapan Standar Keterbatasan kompetensi teknis akuntansi substansif. Ketidakpatuhan regulasi temuan manipulasi bukti. Ketidakmampuan operasional fitur standar akuntansi. Kurangnya pemahaman teknis di luar aplikasi. Ketergantungan tinggi pada koneksi internet . Perlunya evaluasi fitur aplikasi agar lebih user-friendly. Transisi menghambat konsistensi awal. Perlunya parameter aplikasi terhadap Ketergantungan bimtek untuk input data non-rutin. Teori transparansi belum selaras dengan kualitas teknis. Transparansi laporan belum sinkron dengan standar publik. Kurangnya mendalam rincian transparansi. Celah integrasi masukan warga ke laporan teknis. Frekuensi audit internal yang belum konsisten. Variasi pengetahuan pimpinan terhadap regulasi dinamis Akan tetapi, apabila dilihat dari sudut pandang akuntabilitas yang mengharuskan kesesuaian data dengan yang ada di lapangan, terdapat sejumlah ketimpangan yang cukup signifikan dalam pemenuhannya dengan kewajiban formal. melalui hasil yang disajikan oleht tabel 2 dapat dilihat jika sebagian besar desa masih menunjukkan ketidaksesuaian atau masih sulit untuk memenuhi kewajibannya. ketimpangan tersebut disebab kan oleh berbagai faktor yang pertama ialah, adanya kergantungan yang cenderung tinggi untuk bimbingan teknis penginputan data. kedua, pengoperasian sistem akuntansi yang cukup kompleks menjadi kendala bagi sebagian aparatur, sehingga menjadi permasalahan untuk menggunakan standar yang konsisten. dari berbagai permasalahan hingga dampak nya ini, dapat dikaji jika sistem pengelolaan yang baik tidak akan bisa terjalan dengan semestinta apabila masih terdapat pengguna teknis yang kurang memadai. Page 374 e-ISSN: 2985-6612 | p-ISSN: 2985-6620 Vol. No. Juli 2026 Akuntabilitas tentunya memerlukan adanya interaksi antar sistem dengan sebuah aparatur atau aktor yang akan menjalankannya, yang dimana artinya akuntabilitas tidak hanya menilai ketersediaan sistem pengelolaan tanpa adanya aktor yang menjalankan atau mengoperasikan sistem tersebut. terlebih lagi apabila sistem telah dibuat sedemikian rupa mendukung digitalisasi pelaporan keuangan, dari pihak pimpinan masih lemah akan adanya transparansi pada laporan keuangan dan sinkronisasi cenderung lemah, semuanya tidak akan berjalan sesuai dengan harapan yang dapat mewujudkan penyesuaian laporan keuangan yang ter standarisasi. dengan melemahnya transparansi dan kesadaran pimpinan, dampak buruknya akan berlaku pada kepercayaan Masyarakat. (Gusasi & Lantowa. Tabel 3. Analisis Determinasi Faktor Dominan Faktor Fokus Kompetensi (X. Fokus Sistem Paling Fokus Pengelolaan (X. Dominan Kapasitas SDM Efektivitas Siskeudes Interaksi memahami regulasi & dalam akurasi pelaporan. Keduanya teknik akuntansi. Kompetensi aparatur Mekanisme Kompetensi dalam perencanaan & pengendalian formal Moral . udit & siste. Keahlian pemakai . ser Infrastruktur teknologi & Kompetensi skill. & intensitas kemudahan fitur aplikasi. Aparatur Kemampuan operasional Siskeudes sebagai alat Sistem & pemahaman alur utama penatausahaan. (Siskeude. tanggung jawab. (Bawansel et al. , 2. Pelatihan berkelanjutan bagi kemahiran operator. Siskeudes meminimalisir kesalahan input manual. Sistem (Digitalisas. (Utami et , 2. Kemampuan input data sesuai transaksi nyata. Peran Siskeudes dalam percepatan pelaporan. Sistem (Siskeude. (Elfirar & Putri, 2. Pemahaman operasional untuk ketepatan waktu (Asih & Adiputra. Akurasi input data oleh Bendahara & Sekretaris. Kemampuan olah data mentah menjadi Pengelolaan keuangan mandiri melalui alat Siskeudes sebagai sarana pengelolaan siklus Keandalan fitur Siskeudes mengolah data Keandalan Siskeudes menghasilkan laporan Efektivitas fitur Siskeudes yang akurat & (Rahmah et , 2. Kualitas SDM & Komitmen Organisasi. Prosedur pengelolaan keuangan administratif. (Armaida et , 2. Pertanggungjawaban dana desa secara terbuka. (Pratiwi et , 2. Pertanggungjawaban transaksi kepada publik. (Pamungka s et al. Prinsip akuntansi & standar penyajian sektor Penulis & Tahun (Halid et al. (Aulia et al. (Temalagi et , 2. (Mardaw et , 2. (Hasan et , 2. Prosedur administrasi dari perencanaan ke Mekanisme transparansi (Baliho/Papan Akuntabilitas sektor publik dalam kesesuaian Sistem (Aplikas. Sistem (Siskeude. Sistem (Siskeude. Sistem (Siskeude. SDM & Komitmen Akuntabilita Interaksi Sosial Akuntabilita Alasan Teknis Akuntansi Siskeudes hanya efektif jika dijalankan SDM Tanpa integritas, sistem formal tidak efektif menekan fraud Kualitas informasi bergantung pada keahlian teknis pengguna Kedisiplinan aplikasi meningkatkan keteraturan Otomatisasi mengurangi human error dalam Integrasi data otomatis keterlambatan laporan Otomatisasi kunci perbaikan struktur pelaporan desa Sistem memudahkan olah data kompleks menjadi laporan siap audit Efektivitas sistem membantu penyelesaian laporan sesuai standar Implementasi aplikasi menjaga stabilitas kualitas Tanpa kompetensi & komitmen, sistem tidak berjalan optimal Disiplin akuntabilitas memastikan laporan akurat & minim salah Monitoring eksternal memaksa aparat bekerja teliti secara teknis Audit internal diperlukan untuk konsistensi kepatuhan standar Page 375 e-ISSN: 2985-6612 | p-ISSN: 2985-6620 (Tahir et al. Pengetahuan Kades & Vol. No. Juli 2026 Partisipasi masyarakat & transparansi informasi. Kompetensi Pimpinan Kebijakan Kades memastikan pelaporan memiliki logika akuntansi Membahas keterkaitan faktor pendukung dan juga faktor yang dapat memperhambat proses dapat dilihat melalui tabel tiga. temuan menyajikan hasil jika adanya kemajuan dalam penyediaan sistem pengelolaan baik menggunakan siskeudes ataupun media digital lainnya menjadi sebuah faktor utama yang memberikan dampak besar sebab adanya upaya otomatisasi hingga data yang dapat secara langsung terintegrasi dari tahapan awal hinggaa menuju pelaporan. Dengan adanya kemudahan tersebut, biasanya penyusunan dilakukan secara manual yang dapat menyebabkan human error, dapat diminimalisir dengan adanya sistem yang mampu mempercepat proses penyusunan laporan dan menghasilkan laporan yang siap untuk dipertanggung jawabkan. dengan adanya berbagai fitur yang disediakan pada sistem, memuat keunggulan dalam sinkronisasi pelaporan, sehingga dapat mewujudkan stabilitas pada struktur pelaporan. Selain itu, terdapat faktor yang menjadi penghambat dalam mewujudkan akuntabilitas propses pelaporan keuangan, faktor paling memberikan dampak signifikan pada keberlangsungan penggunaan siste adalah kompetensi aparatur, apabila aparatur tidak memiliki kompetensi yang memadai dalam mengoperasikan sistem, hal tersebut justru akan menjadi penghambat utama dalam pengelolaan. Lalu, temuan analisis menekankan jika keahlian secara teknis dan pemahaman alur logika akuntansi yang dimiliki pengguna atau bahkan pimpinan sangat mempengaruhi kualitas dari keluaran informasi akuntansi. Selain itu, faktor yang paling penting untuk diperhatikan ialah mengenai integritas. pengelolaan yang baik, dan juga berjalan dengan semestinya tidak akan pernah sempurna apabila tidak menjaga integritas sebagai landasan untuk meminimalisir kecurangan pelaporan, diindikasi apabila integritas tidak ditanamkan, maka semua upaya untuk mendukung kemajuan proses akuntabilitas tidak akan terlaksana. dua faktor ini merupakan temuan utama yang melandasi hambatan yang terjadi pada sejumlah desa yang menerapkan sistem. dari kedua jenis faktor, baik itu faktor pendukung dan juga penghambat, dapat diimplementasikan secara langsung guna untuk melakukan evaluasi terkait rangkaian pengoperasian evaluasi sistem. penghambat sebagai bahan evaluasi, dan faktor pendukung sebagai acuan untuk mendatangkan inovasi baru pada penerapan sistem. Penulis & Tahun Tabel 4. Analisis Kualitas vs Formalitas Akuntabilitas Bentuk Akuntabilitas Bentuk Akuntabilitas Kesimpulan Formal (Simboli. Substansif (Kualita. Kualitas Publikasi APBDes agregat tanpa rincian Kontrol sosial dan evaluasi manfaat program oleh Formalitas Dominan Kepatuhan prosedural dan kelengkapan sistem Aplikasi sebagai alat percepatan penyelesaian Internalisasi etika dan tanggung jawab moral Formalitas Dominan Akurasi informasi keuangan hasil optimalisasi sistem. Formalitas Tinggi (Gusasi & Lantowa. Pelaporan tepat waktu sesuai format Siskeudes. Pertanggungjawaban jujur dan andal kepada publik. Substansif Baik (Bawansel et , 2. Ketersediaan cetakan laporan fisik dari Siskeudes. Validitas data laporan yang akurat dan tepat waktu. Substansif Meningkat (Halid et al. (Aulia et al. (Temalagi et , 2. Masalah pada Transparansi Budaya "sungkan" dan rendahnya literasi keuangan Simbolis tanpa dukungan komitmen moral aparatur Kendala teknis akses informasi dan literasi Perlu penguatan kemudahan akses informasi warga Fokus internal akses warga awam terbatas Page 376 e-ISSN: 2985-6612 | p-ISSN: 2985-6620 Vol. No. Juli 2026 (Utami et al. Kepatuhan prosedur penginputan data Laporan andal mencerminkan penggunaan dana riil. Data keuangan dapat dipertanggungjawabkan per Laporan akurat dan terpercaya bagi pihak (Elfirar & Putri, 2. Kelancaran aliran data nagari ke kecamatan. (Asih & Adiputra. Pemenuhan laporan fisik sesuai tenggat waktu. (Mardaw et , 2. Kewajiban pelaporan Siskeudes ke Pemda. Media penilaian kinerja aparat oleh masyarakat. Substansif Baik (Hasan et al. Laporan rutin sebagai ketaatan administratif. Pengaturan keuangan efisien dengan integritas data. Substansif via Sistem (Rahmah et , 2. Dokumentasi administratif proses dan Pencapaian tujuan program berdampak nyata bagi desa. Substansif via Komitmen (Armaida et , 2. Pemenuhan administratif pelaporan kepada Penyajian informasi jujur kepada publik. Substansif Baik (Pratiwi et , 2. Publikasi laporan keuangan fisik di area Peningkatan kualitas informasi melalui pengawasan warga. Substansif Meningkat (Pamungkas et al. , 2. Pemenuhan kewajiban administratif desa. Laporan transparan dan dapat diuji kebenarannya. Substansif Terjaga (Tahir et al. Prosedur dana desa. Informasi relevan, andal, dan dapat dibandingkan. Substansif Baik Substansif Baik Substansif Meningkat Substansif Baik Dominasi pelaporan ke Kecamatan dibanding warga Informasi sulit dipahami oleh masyarakat luas Kendala infrastruktur . hambat publikasi cepat Detail teknis aplikasi belum sepenuhnya diakses warga Transparansi tidak langsung pada Pengaruh variabel transparansi paling kecil dibanding SDM Transparansi signifikan namun butuh akuntabilitas Keterlibatan masyarakat dalam pengawasan belum Tanpa audit, akuntabilitas berisiko sekadar formalitas Data publikasi seringkali hanya angka tanpa makna Melalui praktik akuntabilitas keuangan desa yang kebanyakan diterapkan dimasa sekarang, pada sajian tabel empat didapatkan temuan jika masih terdapat sejumlah ketimpangan antara upaya pemenuhan laporan keuangan sebagai kebutuhan formalitas, dan laporan keuangan sebagai informasi yang konkrit secara nyata sesuai dengan kondisi yang ketimpangan yang terjadi dikarenakan adanya perbedaan hasil antara sejumlah desa yang cukup signifikan dalam pengelolaan laporan keuangan menggunakan sistem yang penyajian pada tabel empat memperoleh hasil jika sebagian desa telah mencapai akuntabiitas secara formal atau memang benar-benar digunakan dan disajikan sesuai fakta, yang dimana dibuktikan dengan ketepatan waktu pengumpulan laporan, kesesuaian format dengan sistem keuangan desa, serta adanya keluaran berbentuk fisik dan secara digital yang di publikasikan pada APBDES. sebaliknya, sebagian aparatur desa gagal dalam memenuhi kewajiban administratif yang dipengaruhi oleh beberapa faktor yang menghambat proses pelaporan serta tidak dapat menyelesaikan tuntutan otoritas lainnya yang cenderung lebih tinggi yang berasal dari pemerintah daerah ataupun kecamatan. Dalam mewujudkan akuntabilitas pelaporan keuangan yang dilandasi dengan integritas, diperlukannya kesadaran dalan komitmen moral serta pengawasan yang terkoordinasi dengan baik dan dilakukan secara berkala. melalui kesadaran tersebut, dampak yang baik akan dirasakan pula oleh masyarakat, karena masyarakat akan sangat mendukung dan menjunjung tinggi transparansi yang disajikan melalui laporan keuangan daerah. Akan tetapi, sebagian orang yang masih awam dengan teknologi, sehingga merasa kesulitan dalam Page 377 e-ISSN: 2985-6612 | p-ISSN: 2985-6620 Vol. No. Juli 2026 mengoperasikan layanan untuk melihat publikasi laporan keuangan juga menjadi penghambat untuk mewujudkan transparansi laporan keuangan. Dari berbagai keberhasilan dan juga kegagalan yang disajikan, hal ini membuktikan jika untuk mewujudkan sistem pengelolaan yang ter integrasi dan juga transparansi pelaporan keuangan tidak hanya melibatkan satu variabel sajaa, banyak sekali variabel yang menjadi peran utama bahkan faktor pendukung yang bisa mewujudkan akuntabilitas pelaporan keuangan. dengan demikian, keluaran pelaporan keuangan yang baik, tidak hanya bergantung pada sistem yang melatar belakangi prosesnya, namun tetap membutuhkan dukungan berbagai pihak yang dapat mendukung berlangsungnya proses pelaporan keuangan. KESIMPULAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa kemampuan sumber daya manusia dan keandalan sistem manajemen digital memainkan peran penting dalam menentukan akuntabilitas keuangan desa di Indonesia, berdasarkan temuan evaluasi literatur komprehensif terhadap lima belas studi ilmiah. Disiplin administrasi dan keseragaman standar akuntansi dalam pelaporan keuangan desa telah ditingkatkan secara efektif melalui penerapan teknis aplikasi Siskeudes. Namun, efisiensi sistem tersebut masih dibatasi oleh kompetensi pejabat, yang umumnya memandang akuntabilitas tidak lebih dari sekadar pelaksanaan formalitas simbolis untuk memenuhi kewajiban kepada otoritas yang lebih tinggi. Akuntabilitas substantif hanya dapat dicapai jika teknologi digunakan bersamaan dengan pengetahuan keuangan yang memadai, dedikasi organisasi, dan integritas moral pejabat untuk mengurangi kemungkinan manipulasi data. Selain itu, ketidakmampuan masyarakat saat ini untuk mengakses atau memahami informasi keuangan dengan benar menjadikan transparansi sebagai hambatan yang signifikan. Sebagai saran praktis, pemerintah daerah sebaiknya meningkatkan frekuensi pelatihan akuntansi teknis yang menekankan pemahaman atas prinsip-prinsip akuntansi substantif, selain pengoperasian perangkat lunak. Untuk mengubah paradigma akuntabilitas dari sekadar pelaporan administratif menjadi alat kontrol sosial yang konkret, sangatlah penting untuk memperkuat fungsi audit internal dan mengoptimalkan saluran transparansi yang lebih ramah pengguna bagi warga desa. Disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui apakah partisipasi masyarakat yang kuat dalam pengawasan digital secara langsung dapat mengurangi prevalensi penyalahgunaan dana desa. REFERENSI