PEDAGOGIKA Volume 15 (Nomor . 2024 HaL. Penerapan Teknologi Digital dalam Manajemen Kelas Inklusif di Sekolah Dasar Syarifah Nuzuliana1. Pujiyati2. Achadi Budi Santosa3 1,2,3 Universitas Ahmad Dahlan Email: budi. santosa@mp. ABSTRAK Sekolah tidak hanya menerima siswa reguler saja namun juga dapat menerima siswa berkebutuhan khusus, oleh karena itu sekolah semacam ini dapat disebut sebagai sekolah inklusi. Dalam sistem pendidikan yang inklusif, semua siswa, termasuk siswa dengan kebutuhan khusus atau disabilitas, berhak mendapatkan pendidikan berkualitas yang setara. Tujuan dari penelitian ini adalah mengungkap pengelolaan kelas inklusif berbasis teknologi digital di Sekolah Dasar. Cara pengambilan data dalam penelitian kualitatif ini menggunakan teknik wawancara, observasi, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses manajemen dilakukan melalui tahap perencanaan, meliputi pembahasan kurikulum, dukungan sumber daya, sarana prasarana, kolaborasi, deteksi dini dan pelatihan pengembangan keterampilan guru terhadap siswa berkebutuhan khusus. Strategi dan metode pembelajaran dilakukan berbasis digital dengan menggunakan LCD proyektor, serta aplikasi pendukung seperti Canva. Power Point, dan Quiziz. Pengorganisasian dilakukan dengan cara pembagian tim beserta ketugasan masing-masing. Pelaksanaan kelas inklusi telah berjalan sesuai dengan perencanaan, hasil evaluasi menunjukan siswa reguler dan siswa berkebutuhan khusus dapat berinteraksi dengan cukup baik Keywords: manajemen kelas. kelas inklusi. sekolah dasar. model digital ABSTRACT Schools not only accept regular students but can also accept students with special needs, therefore this type of school can be called an inclusive school. In an inclusive education system, all students, including students with special needs or disabilities, have the right to receive equal quality education. The purpose of this study was to reveal the management of inclusive classes based on digital technology in Elementary Schools. The method of data collection in this qualitative study used interview, observation, and document analysis techniques. The results of the study showed that the management process was carried out through the planning stage, including curriculum discussion, resource support, infrastructure, collaboration, early detection and teacher skills development training for students with special needs. Learning strategies and methods were carried out digitally using LCD projectors, as well as supporting applications such as Canva. Power Point, and Quiziz. Organization was carried out by dividing teams and their respective assignments. The implementation of inclusive classes has gone according to plan, the evaluation results showed that regular students and students with special needs could interact quite well. Keywords: class management. inclusive class. elementary school. digital model A 2024 Syarifah Nuzuliana. Pujiyati. Achadi Budi Santosa Under the license CC BY-SA 4. PENDAHULUAN Pendidikan mengalami transformasi besar selama beberapa tahun terakhir ini, dengan pendekatan inklusif dan adopsi teknologi digital menjadi prioritas utama. Dalam hal ini, arsitektur multimedia dan lingkungan pembelajaran digital telah diperkenalkan. Pada era digital seperti sekarang ini dunia pendidikan telah bertransformasi untuk mencapai hasil yang Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 100 PEDAGOGIKA Volume 15 (Nomor . 2024 HaL. lebih besar dan lebih efisien. Realitasnya memang memang masih banyak siswa berkebutuhan khusus belum dapat mencapai potensi penuh dalam lingkungan pembelajaran Manajemen kelas inklusif berbasis digital hanyalah salah satu cara untuk membuat lingkungan pembelajaran di kelas dapat lebih membangkitkan, memperkaya, dan mendukung pertumbuhan setiap siswa, dalam sistem sekolah inklusif yang semakin Pesatnya perkembangan teknologi informasi di era globalisasi tidak bisa lagi lepas dari dampaknya terhadap dunia pendidikan. Kebutuhan global menuntut dunia pendidikan untuk senantiasa menyesuaikan perkembangan teknologi dengan upaya peningkatan mutu pendidikan, dan khususnya menyesuaikan teknologi informasi (TIK) dengan dunia pendidikan khususnya proses pembelajaran (Santosa et al. , 2. Pada era revolusi 4. 0 yang serba sangat cepat ini diperlukan pemimpin yang bisa dan mampu mengikuti perkembangan teknologi dalam menjalankan kepemimpinan sehingga tujuan yang diharapkan oleh organisasi dapat tercapai terutama dalam meningkatkan mutu di sekolah (Fitriyah, 2. Keterbukaan dengan perkembangan untuk menghadapi era digital, reaksi yang akan dilakukan dengan cepat berorientasi pada proses dan hasil, menguasai formula 4C yaitu: critical thinking, creativity, communication, dan collaboration. Pemimpin yang memiliki jiwa visioner, tidak cukup hanya mengikuti perkembangan jaman namun mampu membawa organisasi yang dibawahinya menjadi acuan dan tuntunan bagi yang lain sehingga tidak akan terus tertinggal (Wening, 2. Kutipan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan: AuDigitalisasi sekolah merupakan terobosan baru dalam dunia pendidikan, dengan memanfaatkan perkembangan teknologi informasi di berbagai aspek pendidikan. Ay (Pendidikan et al. , 2. Inovasi pembelajaran melibatkan pemanfaatan teknologi untuk menghadirkan inovasi pembelajaran, namun guru perlu melek dan beradaptasi dengan kemajuan abad 21 berdasarkan revolusi 4. 0 dalam kegiatan pembelajaran (Lubis, 2. Inisiatif terobosan dalam digitalisasi pembelajaran ini pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran siswa (Patmasari et al. Kualitas pendidikan sangat bergantung pada kualitas guru yang membimbing proses pembelajaran (Kelas et al. , 2. Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, pendidikan diartikan sebagai proses pembelajaran yang memungkinkan peserta didik mewujudkan potensi kekuatan spiritual, pengendalian diri, budi pekerti, kecerdasan, akhlak mulia, dan keterampilan yang perlu dikembangkan secara aktif. Pendidikan khusus adalah upaya untuk melahirkan potensi-potensi yang tertimbun pada pribadi peserta didik secara optimal sesuai dengan tingkat perbekalan yang dimiliki oleh masing-masing pribadi peserta Pendidikan khusus diterjemahkan ke dalam pendidikan inklusif melalui konsep sekolah inklusif dengan misinya tersebut, bahwa semua siswa diberi kesempatan yang sama, dimana anak disabilitas dan/atau anak berkebutuhan khusus diakui sebagai anak kelompok belajar dan harus diberdayakan. Dalam melaksanakan pendidikan inklusif, program atau kegiatan atau hal-hal yang terkait dengan pendidikan inklusif harus terintegrasi dan dituangkan secara jelas dalam rencana kerja sekolah (Susilowati et al. , 2. Perencanaan sekolah adalah proses menentukan tindakan sekolah di masa depan melalui serangkaian keputusan dengan mempertimbangkan sumber daya yang tersedia, termasuk sumber daya Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 101 PEDAGOGIKA Volume 15 (Nomor . 2024 HaL. pendukung pendidikan inklusif (David Wijaya, 2. Fokus pada pengelolaan kelas inklusif dapat memberikan kontribusi positif terhadap upaya membangun sistem pendidikan yang inklusif dan berkeadilan (Handayani et al. , 2. Guru memiliki peran penting dalam mewujudkan visi pendidikan sesuai yang Sebagai eksekutor kebijakan pendidikan, guru harus mampu melaksanakan kurikulum sesuai dengan kualifikasi profesionalnya (Bahi, 2. Guru merupakan salah satu tokoh penting dalam praktek inklusi di sekolah. Karena guru berintraksi secara langsung dengan para siswa, baik siswa yang berkebutuhan khusus maupun siswa non berkebutuhan Selain itu, seorang guru juga memiliki peran yang vital dalam mengatur segala proses dan perencanaan pembelajaran sampai pada tahapan evaluasi untuk mengukur tingkat keberhasilan anak berkebutuhan khusus dalam mengikuti setiap materi Pelajaran (Fitriatun. Pada pola pendidikan saat ini, sekolah tidak hanya menerima siswa reguler saja tetapi juga dapat menerima siswa berkebutuhan khusus, maka dari itu sekolah pada saat ini disebut sebagai sekolah inklusi. Sekolah inklusi adalah sekolah yang memberi ruang pembelajaran bagi murid berkebutuhan khusus agar mendapatkan kesempatan yang sama seperti anak sekolah pada umumnya. Dalam pendidikan inklusif, semua siswa memperoleh dukungan yang sama dalam proses pembelajaran di kelas (Firanti, 2. Penjelasan tersebut, menyadarkan pentingnya pengelolaan kelas inklusif secara komprehensif dari perspektif penataan lingkungan fisik kelas serta pengelolaan pembelajarannya. Mengingat betapa pentingnya pengelolaan kelas dalam proses pembelajaran, khususnya pada kelas inklusif yang terdiri dari siswa reguler dan siswa berkebutuhan khusus. Pengelolaan kelas dilakukan untuk menciptakan suasana kelas yang menumbuhkan semangat belajar, meningkatkan prestasi akademik siswa, dan mengembangkan bakat dan minat, serta melibatkan guru dalam memberikan bimbingan dan dukungan pembelajaran kepada siswa agar lebih mudah dalam proses pembelajaran di kelas (Wulandari, 2. Penelitian tentang sekolah inklusif sangat penting untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang adil dan mendukung bagi semua Dalam sistem pendidikan yang inklusif, semua siswa, termasuk siswa dengan kebutuhan khusus atau disabilitas, berhak mendapatkan pendidikan berkualitas yang setara. Dengan penelitian yang dilakukan dalam konteks ini, kami dapat mempelajari bagaimana kurikulum umum dapat diintegrasikan dengan baik dengan siswa yang memiliki kebutuhan Penelitian manajemen kelas inklusi di sekolah dasar ini diharapkan dapat dijadikan bahan evaluasi untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya inklusi serta membentuk sikap positif terhadap keberagaman di lingkungan sekolah. Upaya ini juga memungkinkan untuk mengukur dampak dari program inklusi yang diterapkan dan menilai keberhasilannya, sehingga bisa dilakukan penyesuaian yang diperlukan untuk mencapai hasil yang lebih baik. Berbagai penelitian menunjukan bahwa manajemen kelas merupakan keterampilan yang harus dimiliki guru dalam memutuskan, memahami, mendiagnosis dan kemampuan bertindak menuju perbaikan suasana kelas terhadap aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam manajemen kelas diantaranya: sifat kelas, pendorong kekuatan kelas, situasi kelas, tindakan seleksi dan kreatif. Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian upaya anggota organisasi dan menggunakan seluruh sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Oci, 2. Sedangkan Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 102 PEDAGOGIKA Volume 15 (Nomor . 2024 HaL. menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI No. 70 Tahun 2009 menyebutkan bahwa pendidikan inklusif adalah sistem pendidikan yang memberikan kesempatan kepada seluruh peserta didik yang menyandang disabilitas dan berpotensi memiliki kecerdasan atau bakat khusus untuk ikut serta dalam proses belajar mengajar di lingkungan pendidikan bersamasama dengan peserta didik lainnya (Fitriya & Latif, 2. Tujuanmanajemen kelas bagi peserta didik yaitu memberikan pemahaman agar setiap anak disaat kegiatan pembelajaran dapat tanggung jawab dan disiplin dalam rangka meraih target pembelajaran secara Dan tujuan bagi pendidik yakni memberikan pemahaman bahwa setiap pendidik wajib mampu mengelola kegiatan pembelajaran dengan menerapkan macammacam startegi dan metode dengan menyesuaikan kasus perkasus, sehingga dapat diwujudkan kegiatan pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan (Hidayati, 2. Digitalisasi pendidikan merupakan bagian baru dan kreatif dalam penyempurnaan sistem pendidikan yang mengarah pada transformasi sistem ke arah digital melalui pemanfaatan teknologi (Dalam et al. , 2. Ayu berpendapat bahwa merupakan kewajiban sekolah untuk meningkatkan literasi digital di sekolah. Ini termasuk membantu siswa belajar bahasa daerah melalui pengoptimalan cerita rakyat digital (Ayu et al. , 2. Digitalisasi kelas menjadi kebutuhan bagi guru dan siswa di sekolah (Saidova 2. , dan pandemi COVID-19 di seluruh dunia menuntut transformasi pendidikan. Xie mengatakan bahwa kelas digital dapat menyelesaikan keterbatasan proses pendidikan (Xie 2. Kelas digital juga merupakan suatu kelas dengan memanfaatkan internet, multimedia dan teknologi sebagai sarana untuk kegiatan belajar mengajar secara daring (Rindia & Firdausi, 2. Pembelajaran kelas digital membantu siswa memahami materi, membuat pembelajaran menjadi lebih menyenangkan, memudahkan guru yang mahir menggunakan teknologi untuk menyampaikan materi, dan memantau kehadiran siswa. Menurut Hartanto dan Nurhajanti . , implementasi sistem kelas digital dapat mencakup penggunaan audio dan video online, tugas dan ujian online, nilai tugas dan ujian online, serta sistem koreksi soal otomatis dan absensi digital. Menurut Ida Miftakhul Jannah . , dalam jurnalnya tentang Manajemen Kelas Inklusif Di SD Negeri Ketintang II Surabaya menyatakan bahwa pengelolaan kelas inklusif dari perspektif pengelolaan lingkungan Fisik sudah baik. Hal ini terlihat dari furnitur kelas yang ditata sesuai dengan ruang, ventilasi dan penerangan di dalam ruang kelas sangat baik, kursi disusun dalam dua baris untuk siswa umum dan dua baris untuk siswa ABK. Jika pembelajaran klasikal berbentuk Au UAy tidak ada pengelompokan khusus. Dan juga dari segi administrasi tidak ada pengelompokan sesuai kemampuan ABK. Artinya semua ABK diajar oleh Guru Pendamping Kelas (GPK). Putri & Hidayati . dalam Implementasi manajemen pembelajaran Kelas Inklusi di SMA Kartini Batam menyatakan bahwa terdapat beberapa langkah yang dilakukan oleh pihak sekolah yaitu melakukan perencanaan, pengorganisasian dan pelaksanaan serta evaluasi yang komprehensif sehingga dapat meningkatkat hasil pembelajaran peserta didik. Manajemen Kelas Inklusi Berbasis Digital merupakan hal yang perlu dikembangkan dan diperhatikan untuk kemajuan dunia Pendidikan dan pemerataan hak belajar bagi seluruh Penelitian ini menjadi penting dan menarik bagi peneliti untuk meneliti secara menyeluruh tentang manajemen kelas inklusi berbasis digital, mengingat kompleksitas Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 103 PEDAGOGIKA Volume 15 (Nomor . 2024 HaL. masalah manajemen dan penggunaan teknologi digital yang keberlangsungan proses pembelajaran yang lebih aktif dan kreatif. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif yang dilakukan di SD Muhammadiyah Demangan. Yogyakarta. Penelitian ini berupaya menyajikan data secara natural tanpa manipulasi atau proses pengolahan lainnya. Tujuan penelitian ini untuk memberikan gambaran utuh tentang peristiwa atau menjelaskan fenomena yang sedang terjadi (Rusli et al. , 2. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan observasi secara mendalam serta analisis terhadap dokumen yang ada di sekolah. Wawancara dilakukan langsung dengan sumber data primer yakni guru sekaligus konselor di sekolah. Data hasil wawancara yang terkumpul divalidasi dengan berbagai dokumen sekolah yang relevan dan melalui teknik konfirmasi silang dengan para narasumber yang dilakukan dalam grup diskusi kecil. Alur penelitian Manajemen kelas inklusif berbasis digital ini dimulai dengan pembuatan perencanaan pembelajaran, dilanjutkan dengan pengorganisasian rencana, kemudian pelaksanaan dan evaluasi. Teknik pengolahan data dilakukan dengan 4 tahapan yakni editing, klasifikasi, verifikasi dan kesimpulan. Kesimpulan diambil sesuai kondisi di lapangan dan ceking data melalui berbagai dokumen yang telah dikumpulkan. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian, sekolah telah menerima siswa tanpa seleksi masuk dan tanpa syarat tertentu, oleh karena itu sekolah ini juga sudah menerima beberapa siswa berkebutuhan khusus untuk mengikuti pembelajaran bersama dengan kelompok siswa normal Alasan sekolah menerima siswa berkebutuhan khusus adalah untuk membantu membangun sikap positif dalam keberagaman, sehingga setiap siswa memiliki kesempatan untuk mendapatkan akses yang sama dalam mencapai pendidikan berkualitas. Dalam pengalamannya, sejauh ini belajar dan bertumbuh bersama siswa berkebutuhan khusus justru meningkatkan jiwa sosial antar siswa dan menumbuhkan rasa saling menolong serta rasa empati selaku makhluk sosial. Menurut IDEA atau Individuals with Disabilities Education Act Amandements yang dibuat pada tahun 1997 dan ditinjau kembali pada tahun 2004 dalam Buku Psikologi Anak Berkebutuhan Khusus (Desiningrum, 2. Secara umum klasifikasi dari anak berkebutuhan khusus adalah: Anak dengan Gangguan Fisik, meliputi: Tunanetra. Tunarungu, dan Tunadaksa. Anak dengan Gangguan Emosi dan Perilaku, meliputi: Tunalaras, yaitu anak yang mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri dan bertingkah laku tidak sesuai dengan normanorma yang berlaku. Anak dengan gangguan komunikasi bisa disebut tunawicara, yaitu anak yang mengalami kelainan suara, artikulasi . , atau kelancaran bicara, yang mengakibatkan terjadi penyimpangan bentuk bahasa, isi bahasa, atau fungsi bahasa. Hiperaktif, secara psikologis hiperaktif adalah gangguan tingkah laku yang tidak normal, disebabkan disfungsi neurologis dengan gejala utama tidak mampu mengendalikan gerakan dan memusatkan perhatian. Anak dengan Gangguan Intelektual: Tunagrahita, yaitu anak yang secara nyata mengalami hambatan dan keterbelakangan perkembangan mental intelektual Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 104 PEDAGOGIKA Volume 15 (Nomor . 2024 HaL. jauh dibawah rata-rata sehingga mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik, komunikasi maupun sosial. Anak Lamban belajar . low learne. , yaitu anak yang memiliki potensi intelektual sedikit di bawah normal tetapi belum termasuk tunagrahita . iasanya memiliki IQ sekitar 70-. Anak berkesulitan belajar khusus, yaitu anak yang secara nyata mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik khusus, terutama dalam hal kemampuan membaca,menulis dan berhitung atau matematika. Anak berbakat, adalah anak yang memiliki bakat atau kemampuan dan kecerdasan luar biasa yaitu anak yang memiliki potensi kecerdasan . , kreativitas, dan tanggung jawab terhadap tugas . ask commitmen. diatas anak-anak seusianya . nak norma. , sehingga untuk mewujudkan potensinya menjadi prestasi nyata, memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Autisme, yaitu gangguan perkembangan anak yang disebabkan oleh adanya gangguan pada sistem syaraf pusat yang mengakibatkan gangguan dalam interaksi sosial, komunikasi dan perilaku. Indigo adalah manusia yang sejak lahir mempunyai kelebihan khusus yang tidak dimiliki manusia pada Berdasarkan klasifikasi anak berkebutuhan khusus, beberapa siswa di SD Muhammadiyah Demangan tidak ada anak dengan gangguan fiisk, namun ada siswa yang hiperaktif, tunagrahita, dan berkesulitan belajar khusus. Perbandingan siswa di kelas inklusi adalah 1 : 32. Hal ini menjadi perhatian penting bagi sekolah, khususnya guru pengajar dan keterlibatan orang tua sehingga mampu mengoptimalkan tumbuh kembang anak terutama pada bidang akademik. Dalam penelitian ini, dibahas bagaimana perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan evaluasi dalam manajemen kelas inklusi berbasis digital. Proses perencanaan dalam manajemen kelas inklusi berbasis digital dilakukan dengan beberapa tahapan yakni, meliputi bidang Kurikulum: Kurikulum menentukan keberlangsungan kegiatan yang dilaksanakan selama pembelajaran di kelas. Dengan adanya kurikulum, maka tenaga pendidik akan lebih terarah dan mempunyai tujuan, strategi, metode bahkan teknik dalam kegiatan belajar mengajar. Kurikulum yang dibuat untuk kelas inklusi di SD Muhammadiyah Demangan adalah kurikulum pendidikan inklusif menggunakan kurikulum sekolah umum, atau kurikulum nasional yang dimodifikasi atau diimprovisasi untuk memenuhi kebutuhan perkembangan siswa, serta perkembangan ilmu pengetahuan dan Kurikulum ini akan disesuaikan dengan tahap perkembangan siswa dan mempertimbangkan karakteristiknya serta tingkat kecerdasannya masing-masing. Selain fokus pada kurikulum nasional yang disesuaikan, strategi kegiatan belajar mengajar di SD Muhammadiyah Demangan dilakukan berbasis digital. Setiap kelas tersedia LCD dan proyektor, guru menggunakan aplikasi pendukung seperti canva, power point, quiziz, dan lain-lain. Strategi pembelajaran yang kreatif dan tidak membosankan akan memudahkan siswa menerima pelajaran di kelas. Strategi pembelajaran berbasis digital juga memudahkan guru yang mahir menggunakan teknologi untuk menyampaikan materi. Dukungan Sumber Daya: Dalam perencanaannya, manajemen kelas inklusi melibatkan banyak sumber daya untuk keberlangsungan pembelajarannya, maka pentingnya peran tenaga pendidik sebagai sumber dukungan bagi seluruh siswa. Tenaga pendidik terkait adalah guru kelas, guru mata pelajaran . uru PAI dan guru olahrag. , konselor, serta kepala sekolah. Keterlibatan dan dukungan dari pihak-pihak terkait sangat berpengaruh dalam tumbuh kembang siswa. Salah Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 105 PEDAGOGIKA Volume 15 (Nomor . 2024 HaL. satu bentuk dukungan dari tenaga pendidik dan sekolah yakni dapat berupa perhatian, kelas belajar tambahan khusus inklusi, serta sistem penilaian bagi siswa berkebutuhan khusus. Sarana Prasarana: Sarana prasarana, peralatan, perlengkapan, dan fasilitas di sekolah haruslah mendukung kegiatan untuk kelas inklusi. Sudah banyak standar sekolah berbasis inklusi yang dapat diterapkan di SD Muhammadiyah Demangan. Dalam perencanaannya, fasilitas kelas telah dilengkapi dengan meja kursi yang representatif satu siswa satu meja kursi, papan tulis, layar LCD dan proyektor, speaker, desain kelas yang berwarna dan unik, tembok sekolah dengan lukisan yang menarik, pegangan tangga, ruang perpustakaan yang nyaman, toilet duduk dan jongkok serta lainnya. Kolaborasi: Dalam mendukung manajemen kelas inklusi berbasis digital, tentu memerlukan kolaborasi atau kerja sama dengan beberapa pihak, salah satunya adalah orang tua, siswa dan warga sekitar sekolah. Peran dan dukungan orang tua sangat mempengaruhi emosional dan sosial anak berkebutuhan khusus. Maka pentingnya untuk sekolah mengadakan pertemuan dan evaluasi siswa kepada orang Pelatihan: Proses perencanaan kelas inklusi memerlukan pihak ahli di bidangnya, sehingga tercipta suasana sekolah inklusi yang baik untuk menghasilkan pelayanan yang puas bagi wali siswa. Proses yang dilakukan yakni deteksi dini siswa berkebutuhan khusus, kemudian pelatihan untuk pengembangan keterampilan bagi tenaga pendidik dan kependidikan di sekolah. Guru dan karyawan SD Muhammadiyah juga dibekali pelatihan aplikasi pendukung pembelajaran seperti pelatihan Canva, quiziz maupun yang lainnya. Pengorganisasian merupakan pengelompokan orang sesuai bidang dan kemampuannya untuk melaksanakan sebuah tugas. Jajaran Komite dan Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Demangan telah membuat sebuah tim work untuk mengkawal manajemen kelas inklusi berbasis digital. Kelompok orang tersebut ditunjuk dan diberi ketugasan masingmasing. Berikut kelompok yang terlibat adalah Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan beserta tim. Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum beserta tim. Wakil Kepala Sekolah bidang Sarana Prasarana beserta tim serta Wakil Kepala Sekolah bidang SDM beserta tim. Ketiga kelompok tersebut saling bekerja sama dalam penyelenggaraan manajemen kelas inklusi berbasis digital. Pelaksanaan manajemen kelas inklusi berbasis digital mengacu pada perencanaan yang telah dibuat pada poin sebelumnya. Berikut adalah tabel pelaksanaannya. Tabel 1. Pelaksanaan Manajemen Kelas Inklusi Berbasis Digital Perencanaan Kurikulum Pelaksanaan A Kurikulum nasional yang dimodifikasi untuk pendidikan A Strategi khusus pembelajaran menggunakan aplikasi pendukung, seperti : Canva. Power point. Quiziz, dl. A Teknik pengajaran . ace to fac. Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 Penanggung Jawab Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum beserta tim E-ISSN: 2716-0580 | 106 PEDAGOGIKA Volume 15 (Nomor . 2024 HaL. Dukungan Sumber Daya Sarana Prasarana Kolaborasi Pelatihan A Perhatian dari tenaga pendidik . uru pendamping kelas, guru mata pelajaran, konselo. A Tambahan kelas khusus . A Sistem penilaian A Ruang kelas representatif A Meja kursi . A Tersedia Papan tulis A Tersedia LCD Proyektor A Pegangan tangga A Toilet duduk dan jongkok A Ruang perpustakaan yang A Ruang konsultasi / konseling A Desain kelas yang unik dan A Pertemuan dengan wali siswa A Sosialisasi anti bullying dengan seluruh siswa . elalui poster dan pengajara. A Deteksi dini ciri anak berkebutuhan khusus bersama A Pelatihan untuk pengembangan keterampilan tenaga pendidik dan kependidikan di lingkungan sekolah A Pelatihan keterampilan guru pada pengajaran berbasis digital, seperti : pelatihan canva, quiziz, kahot, dll. Wakil Kepala Sekolah Bidang SDM dan Kesiswaan beserta tim Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana Prasarana beserta tim Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan beserta tim Wakil Kepala Sekolah Bidang SDM beserta tim Dalam pelaksanaannya seluruh warga sekolah bekerja sama agar tercipta lingkungan sekolah yang kondusif dan mendukung program inklusi. Semua tahapan diatur untuk menghasilkan manajemen kelas inklusi yang maksimal. Didukung program dan strategi yang berbasis digital untuk menunjang siswa yang lebih aktif dan kreatif di kelas tanpa melabeli anak berkebutuhan khusus. Pada dasarnya semua anak terlahir dalam keadaan fitrah . sehingga semua anak berhak menerima pendidikan yang layak dan berkualitas. Kurikulum yang telah dibuat merupakan hasil modifikasi dari kurikulum nasional, pembelajaran dilakukan face to face atau 4 mata langsung antara guru pendamping kelas dan siswa berkebutuhan khusus. Jam tersebut telah disesuaikan dengan aktivitas di kelas. Strategi pembelajaran dilakukan dengan beberapa cara seperti pembuatan dan penayangan video, kerja kelompok atau diskusi serta lainnya. Selain itu, metode pembelajaran sudah dilakukan dengan berbasis digital, menggunakan aplikasi pendukung seperti canva, power point, quiziz dan lainnya. Metode ini memudahkan siswa menerima pelajaran di kelas dan menghasilkan suasana kelas yang lebih hidup serta kreatif. Metode pembelajaran berbasis digital juga memudahkan guru yang mahir menggunakan teknologi untuk menyampaikan materi serta mengikuti perkembangan teknologi yang pesat. Dukungan sumber daya menjadi hal utama dalam manajemen kelas inklusi, karena peranan lingkungan sekolah dan warga sekolah berpengaruh terhadap perkembangan kondisi psikologis, emosional dan sosial anak. Dukungan sumber daya ini berupa perhatian dari guru terhadap siswa. anak dengan kebutuhan khusus membutuhkan perhatian lebih baik dalam Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 107 PEDAGOGIKA Volume 15 (Nomor . 2024 HaL. proses pembelajaran, maupun di luar jam pelajaran. Perhatian guru ini dilakukan dengan bentuk senyum, salam, sapa, menenangkan kelas atau siswa tersebut, memberi arahan, juga memberi tambahan kelas khusus . agar dapat memaksimalkan kemampuan dan keterampilan anak berkebutuhan khusus. Selain itu, bentuk dukungan yang diberikan adalah sistem penilaian. Sistem penilaian yang diberikan kepada siswa berkebutuhan khusus akan berbeda dengan siswa normal lainnya. Hal ini tidak bisa disamakan karena anak berkebutuhan khusus memiliki keterampilan dan kemampuan yang berbeda dan lebih Sekolah juga melengkapi fasilitas, sarana prasarana untuk menunjang standar sekolah inklusi yang dapat membantu proses pembelajaran di kelas. Dalam perencanaan bangunan sekolah atau desain ruang akan disesuaikan dengan kebutuhan kelas inklusi. Sarana prasarana seperti dapatmembantu dan memudahkan akses bagi siswa berkebutuhan khusus dalam mengeksplor dirinya di sekolah. Selain itu sekolah juga menggalakkan poster Auanti-bullyingAy untuk mencegah perundungan dan perbedaan keberagaman karena keterbatas siswa berkebutuhn khusus. Program ini menjadi bentuk kerja sama seluruh warga sekolah untuk menumbuhkan rasa simpati dan empati sesama manusia. Setiap tahun ajaran baru, salah satu program sekolah adalah pengadaan pelatihan dan deteksi dini siswa berkebutuhan khusus bersama ahli psikologis atau konselor yang dapat memantau prosesnya sampai selesai. Kegiatan ini diharapkan dapat membantu pengembangan keterampilan guru dalam menghadapi siswa berkebutuhan khusus. Selain pelatihan tersebut, guru SD Muhammadiyah Demangan juga mengikuti pelatihan penggunaan aplikasi pendukung pembelajaran seperti pelatihan canva, quiziz dan lainnya. Pelatihan ini merupakan salah satu usaha untuk mengikuti perkembangan zaman dimana perkembangan teknologi yang begitu pesat, dapat menjadi wadah pengembangan kreatifitas guru untuk menghidupkan suasana kelas serta membantu siswa belajar secara mandiri. Dalam prosesnya, dari mulai perencanaan sampai dengan pelaksanaan. Program pembelajaran khusus harus dipantau untuk memastikan keberhasilannya. Apabila anak tidak mengalami kemajuan yang signifikan dalam jangka waktu tertentu, beberapa hal harus ditinjau kembali. Sebaliknya, jika program khusus yang diberikan kepada anak mengalami kemajuan yang cukup besar, program tersebut harus diteruskan sambil memperbaiki atau menyempurnakan kesalahannya. Oleh karena itu, guru dapat menggunakan penilaian kelas, yang terdiri dari penilaian harian, penilaian tengah semester, dan penilaian akhir semester. Selain penilaian secara akademis, langkah evaluasi juga diperhatikan berkenaan dengan sikap dan kepribadian anak. Kemudian hasil evaluasi tersebut disampaikan kepada orang tua. Selain evaluasi, sekolah juga mengadakan evaluasi internal terkait manajemen kelas inklusi berbasis digital dalam rapat koordinasi guru dan karyawan di SD Muhammadiyah Demangan. SIMPULAN Berdasarkan hasil observasi, wawancara dan dokumentasi terkait Manajemen Kelas Inklusi Berbasis Digital di SD Muhammadiyah Demangan, maka dapat diambil kesimpulan bahwa proses manajemen dilakukan melalui 4 tahapan yakni perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan evaluasi. Dalam perencanaan, yang dilakukan diantaranya yakni pembahasan kurikulum, dukungan sumber daya, sarana prasarana, kolaborasi, deteksi dini dan pelatihan Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 108 PEDAGOGIKA Volume 15 (Nomor . 2024 HaL. pengembangan keterampilan guru terhadap siswa berkebutuhan khusus. Strategi dan metode pembelajaran dilakukan berbasis digital dengan menggunakan LCD dan proyektor, serta aplikasi pendukung seperti Canva. Power Point. Quiziz dan lainnya. Pengorganisasian dilakukan dengan cara pembagian tim beserta ketugasan masing-masing. Dalam pelaksanaannya manajemen kelas inklusi berjalan dengan baik sesuai dengan perencanaan. Serta dari hasil evaluasi yang dilakukan dapat dilihat dan dinilai kondisi anak berkebutuhan khusus sesuai deteksi dini, kemudian hasil disampaikan kepada orang tua untuk ditindak lanjut ke psikolog serta memberikan pengertian kepada wali siswa terkait. Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 109 PEDAGOGIKA Volume 15 (Nomor . 2024 HaL. REFERENSI