Jurnal Manajemen Kesehatan Yayasan RS. Dr. Soetomo Vol. 11 No. 2 Oktober 2025 : 289-302 Determinan Stres Dan Pola Konsumsi Junk Food Pada Remaja: Studi Faktor Sosial. Ekonomi. Dan Psikologis Determinants Of Stress And Junk Food Consumption Patterns Among Adolescents: A Study Of Social. Economic. And Psychological Factors Fadelia Hani Saputri1. Muhammad Ari Arfianto2. Fichalia Amarita Santoso3 1,2,3 Nursing Department. Faculty of Health Science. Muhammadiyah Malang University . -mail: muhammad_ari@umm. Jl. Bendungan Sutami 188A. Malan. ABSTRAK Konsumsi junk food semakin umum di kalangan remaja, terutama di daerah perkotaan seperti Kota Malang, dan dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan seperti obesitas, penyakit jantung, diabetes, dan gangguan mental seperti depresi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi hubungan antara tingkat stres dengan perilaku konsumsi junk food pada remaja di Kota Malang. Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dengan desain cross-sectional. Sampel terdiri dari 214 remaja usia 13-19 tahun . aki-laki dan perempua. , yang disurvei menggunakan kuesioner terstruktur. Tingkat stres diukur dengan Perceived Stress Scale (PSS-. , yang terdiri dari 10 pertanyaan dan telah diuji validitasnya, menggunakan skala Likert untuk menilai frekuensi stres. Analisis data dengan SPSS menggunakan uji korelasi Spearman menunjukkan hubungan signifikan antara stres tinggi dan peningkatan konsumsi junk food . <0,. , dengan pengaruh sosial . ekanan teman sebay. dan ekonomi . endapatan keluarg. yang turut berkontribusi. Pengetahuan gizi yang rendah juga memperburuk kecenderungan remaja mengonsumsi junk food saat stres. Studi ini menyimpulkan bahwa stres secara signifikan berdampak pada konsumsi junk food, menyoroti perlunya intervensi pendidikan untuk meningkatkan kesadaran tentang pola makan sehat dan manajemen stres. Kata Kunci: Junk Food. Perilaku Makan. Remaja. Stres ABSTRACT Junk food consumption is increasingly common among adolescents, especially in urban areas such as Malang City, and is associated with various health problems such as obesity, heart disease, diabetes, and mental disorders such as depression. This study aims to analyze the factors influencing the relationship between stress levels and junk food consumption behavior among adolescents in Malang City. This study used a purposive sampling technique with a cross-sectional design. The sample consisted of 214 adolescents aged 13-19 years . oys and girl. , who were surveyed using a structured Stress levels were measured using the Perceived Stress Scale (PSS-. , which consists of 10 questions and has been tested for validity, using a Likert scale to assess stress frequency. Data analysis with SPSS using the Spearman correlation test showed a significant relationship between high stress and increased junk food consumption . <0. , with social . eer pressur. and economic . amily incom. influences contributing. Low nutritional knowledge also exacerbates adolescents' tendency to consume junk food when stressed. The study concluded that stress significantly impacts junk food consumption, highlighting the need for educational interventions to increase awareness about healthy eating and stress management. Keywords: Adolescents. Eating Behavior. Junk Food. Stress Fadelia Hani Saputri. Muhammad Ari Arfianto. Fichalia Amarita Santoso :Determinan Stres Dan A. PENDAHULUAN Konsumsi junk food di kalangan remaja semakin meningkat dan menjadi masalah global karena dampak negatifnya terhadap kesehatan, seperti obesitas, penyakit kardiovaskular, diabetes, dan gangguan mental. Junk food sering mengandung kalori, garam, lemak jenuh tinggi, namun rendah nutrisi, seperti kentang goreng, biskuit, permen, dan es krim (Bohara et al. , 2. Kebiasaan ini semakin berkembang di kalangan remaja yang sibuk dengan aktivitas padat, membuat mereka cenderung memilih makanan cepat saji yang mudah didapat tanpa memperhatikan kandungan gizinya (Koca & Arkan, 2. Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi junk food di kalangan remaja, seperti yang ditemukan oleh Liu et al. , lebih tinggi dibandingkan dengan orang dewasa. Di Indonesia, 27,1% remaja berusia 13-19 tahun mengonsumsi junk food secara rutin, sementara hanya sedikit yang mengonsumsi makanan bergizi seimbang (Rachmi et al. Mengkonsumsi junk food berlebihan tidak baik untuk kesehatan karena pola makan ala barat yang porsinya besar, miskin nutrisi, rendah serat dan jika dikonsumsi dalam jangka panjang dapat menyebabkan obesitas, penyakit jantung iskemik, diabetes, kanker perut, hipertensi, asma, dan depresi yang berat (Bui et al. , 2021. Li et al. , 2. Konsumsi junk food yang berlebihan dapat membuat tubuh mengalami risiko obesitas terutama di kalangan remaja. Menurut World Health Organization (WHO) obesitas di dunia terus meningkat dan dianggap sebagai pandemi. World Obesity Federation . memperkirakan bahwa sebanyak 206 juta anak dan remaja yang berusia 5-19 tahun akan hidup dengan obesitas pada tahun 2025, prevalensi obesitas meningkat drastis di banyak negara yang berpenghasilan tinggi seperti Tiongkok. India. Amerika Serikat. Indonesia. Brazil dan diikuti 42 negara lainnya (Jebeile et al. , 2. Berdasarkan data RISKESDAS . menunjukkan bahwa sebanyak 13,5% populasi orang yang berusia di atas usia 18 tahun di Indonesia mengalami berat badan berlebih. Menurut penelitian Alhashemi et al. , obesitas pada remaja meningkat seiring dengan konsumsi junk food yang berlebihan. Gaya hidup tidak sehat ini perkembangan (Tanveer et al. , 2. Stres juga memainkan peran penting dalam meningkatkan konsumsi junk food. Remaja yang mengalami stres, baik akibat tekanan akademis maupun sosial, cenderung mengonsumsi makanan tinggi lemak dan gula sebagai cara mengurangi ketegangan (Hill et al. , 2. Penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat stres yang dialami remaja, semakin besar kecenderungan mereka untuk mengonsumsi junk food (Dakanalis et al. , 2023. Roy et al. , 2. Jurnal Manajemen Kesehatan Yayasan RS. Dr. Soetomo Vol. 11 No. 2 Oktober 2025 : 289-302 Remaja memiliki kecenderungan mengonsumsi junk food berlebih sehingga diperlukan program khusus untuk mencegah terbentuknya kebiasaan makan buruk (Shawon et al. , 2. Pendidikan tentang makanan bergizi dan olahraga efektif mencegah obesitas, dengan dukungan keluarga dan teman sebaya yang berperan besar dalam membangun kebiasaan sehat serta mengurangi stres (Boni, 2022. Melnyk et al. Kebiasaan ini dipengaruhi faktor sosial, ekonomi, dan psikologis. Laki-laki lebih sering memilih makanan berlemak dan manis dibanding perempuan (Modlinska et al. Remaja perkotaan lebih rentan mengonsumsi junk food dibanding pedesaan karena aktivitas ekonomi yang padat (Islam & Ullah, 2. Selain itu, pendidikan orang tua turut menentukan pola makan remaja (Wyrnberg et al. , 2. Pentingnya penelitian ini terletak pada hubungan antara konsumsi junk food, stres, dan dampaknya terhadap kesehatan remaja. METODE Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional study untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat stres dan perilaku konsumsi junk food pada remaja. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling, di mana sampel diambil setelah peneliti menentukan individu yang sesuai dengan karakteristik penelitian. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 455 remaja di Malang, dan sampel yang digunakan sebanyak 214 remaja. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang terdiri dari beberapa bagian, dengan pengambilan data dilakukan dari bulan Juli hingga Desember 2024 di kota Malang. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari variabel independen, yaitu variabel sosiodemografi yang mencakup usia, jenis kelamin, tingkatan kelas, jurusan atau bidang studi, jumlah saudara, pendidikan orang tua, dan pekerjaan orang tua, serta variabel tingkat stres. Sementara itu, variabel dependen adalah perilaku konsumsi junk food. Untuk mengukur variabelvariabel tersebut, peneliti menggunakan tiga instrumen, yaitu instrumen karakteristik sosiodemografi responden. The Perceived Stress Scale (PSS-. untuk mengukur tingkat stres dalam sebulan terakhir, dan Junk Food Intake Measure (JFIM) untuk mengukur frekuensi konsumsi junk food. Instrumen karakteristik sosiodemografi berisi pertanyaan mengenai usia, jenis kelamin, asal daerah, suku, agama, pendidikan orang tua, dan penghasilan orang tua. PSS-10 terdiri dari 10 item pertanyaan yang menggunakan skala Likert untuk mengukur Fadelia Hani Saputri. Muhammad Ari Arfianto. Fichalia Amarita Santoso :Determinan Stres Dan A. tingkat stres selama satu bulan terakhir, dengan lima pilihan jawaban, yaitu 0 . idak perna. , 1 . ampir tidak perna. , 2 . adang-kadan. , 3 . ukup serin. , dan 4 . angat Sementara itu. JFIM, yang digunakan oleh Boylan et al. , . , mengukur perilaku konsumsi junk food dengan frekuensi konsumsi produk kentang goreng, keripik kentang, biskuit, kue, donat, dan es krim. Kuesioner ini terdiri dari lima pertanyaan yang menilai penyajian makanan dengan skor 0-4 berdasarkan frekuensi konsumsi, di mana 0 berarti tidak pernah, 1 hampir tidak pernah, 2 kadang-kadang, 3 sering, dan 4 sangat Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman dengan perangkat aplikasi SPSS versi 27. Penelitian ini telah memperoleh persetujuan etik dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang dengan nomor 5a/074/KEPK-UMM/i/2024. HASIL Tabel 1. Karakteristik Responden . Variabel Usia 15 tahun 16 tahun 17 tahun 18 tahun Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Kelas Jurusan Teknik Sepeda Motor Asisten Keperawatan Teknik Kendaraan Ringan Teknik Instalasi Tenaga Listrik Teknik Komputer dan Jaringan Suku Jawa Madura Batak Sunda Lain-Lain Pekerjaan Ayah Swasta PNS Pedagang Buruh Petani Lain-Lain f (%) 28. Jurnal Manajemen Kesehatan Yayasan RS. Dr. Soetomo Vol. 11 No. 2 Oktober 2025 : 289-302 Pekerjaan Ibu Swasta PNS Pedagang Buruh Guru Petani Lain-Lain Penghasilan Ayah < 1 juta 1-2 juta > 3 juta Penghasilan Ibu < 1 juta 1-2 juta > 3 juta Uang Saku < 20. > 50. Pendidikan Ayah Tidak Sekolah SMP SMA Pendidikan Ibu Tidak Sekolah SMP SMA Variabel f (%) 75. %) 2. Hasil penelitian menunjukkan variasi yang signifikan pada data demografi Sebagian besar responden berusia 16 tahun . ,1%), sementara yang paling sedikit berusia 15 tahun dengan persentase 13,1%. Dalam hal jenis kelamin, responden laki-laki lebih banyak . ,1%) dibandingkan perempuan . ,9%). Data suku menunjukkan dominasi suku Jawa dengan persentase tinggi mencapai 93,9%, sementara suku lainnya, seperti Madura. Batak, dan Sunda, memiliki persentase yang jauh lebih Mengenai pekerjaan orang tua, mayoritas ayah responden bekerja di sektor swasta . %), sementara pekerjaan ibu lebih bervariasi, dengan 35% bekerja di sektor swasta dan 33,1% terlibat dalam pekerjaan lainnya. Dalam hal penghasilan, terdapat Fadelia Hani Saputri. Muhammad Ari Arfianto. Fichalia Amarita Santoso :Determinan Stres Dan A. variasi yang jelas, di mana sekitar 45,8% ayah memiliki penghasilan di bawah 1 juta, dan 72,9% ibu berada dalam kategori penghasilan serupa. Terkait dengan uang saku, mayoritas responden . ,3%) menerima uang saku kurang dari 20. Pada aspek pendidikan, sebagian besar ayah responden berpendidikan terakhir SMA . ,4%), sementara ibu responden juga didominasi oleh lulusan SMA . ,2%). Temuan ini memberikan gambaran mengenai faktor sosial dan ekonomi yang mungkin berpengaruh terhadap tingkat stres dan perilaku konsumsi junk food pada remaja. Tabel 2. Hubungan pola konsumsi junk food dengan determinan stres Variabel Independen Usia Jenis Kelamin Kelas Jurusan Suku Pekerjaan Ayah Pekerjaan Ibu Penghasilan Ayah Penghasilan Ibu Uang Saku Pendidikan Ayah Pendidikan Ibu Tingkat Stres *)Berhubungan signifikan dengan pola konsumsi junk food P-Value (R) 595 (-0. 168 (-0. 673 (-0. 407 (-0. Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan adanya hubungan antara faktor sosiodemografi, tingkat stres, dan perilaku konsumsi junk food pada remaja. Berdasarkan tabel 2, variabel jenis kelamin, pendapatan ayah, pendapatan ibu, dan tingkat stres memiliki nilai p (<0,. , yang menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dengan perilaku konsumsi junk food. Nilai R yang diperoleh memberikan informasi mengenai arah dan kekuatan hubungan, di mana nilai R positif menunjukkan hubungan yang searah, dan semakin besar angka R, semakin kuat hubungan antara variabel tersebut. Di antara variabel yang berhubungan signifikan, tingkat stres menunjukkan hubungan yang paling kuat dengan perilaku konsumsi junk food (R=0,. , diikuti oleh jenis kelamin (R=0,. , pendapatan ibu (R=0,. , dan pendapatan ayah (R=0,. Dengan demikian, tingkat stres merupakan faktor yang paling signifikan dan kuat berhubungan dengan perilaku konsumsi junk food pada remaja. Sementara itu, variabel seperti usia, kelas, suku, dan faktor lainnya tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan perilaku konsumsi junk food pada remaja. Jurnal Manajemen Kesehatan Yayasan RS. Dr. Soetomo Vol. 11 No. 2 Oktober 2025 : 289-302 PEMBAHASAN Dalam penelitian ini mengangkat isu mengenai tingkat stres dan perilaku konsumsi junk food pada remaja menjadi perhatian utama, mengingat gaya hidup modern saat ini yang cenderung mempengaruhi pola makan dan kesehatan mental remaja. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat stres dan bagaimana faktor-faktor tersebut berkonstribusi dalam perubahan perilaku konsumsi junk food di kalangan remaja. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara tingkat stres dengan perilaku konsumsi junk food pada remaja. Temuan ini mengidentifikasi bahwa stres dapat mendorong remaja untuk memilih junk food sebagai cara mengatasi tekanan yang mereka rasakan. Hasil analisis menunjukkan bahwa setiap peningkatan tingkat stres akan meningkatkan konsumsi junk food secara signifikan. Hal ini dapat diartikan bahwa remaja memilih menggunakan junk food yang dimana merupakan makanan berlemak, bergula tinggi dan mengandung sedikit gizi sebagai mekanisme koping untuk meredakan stres yang mereka alami (Amanda et al. , 2021. Shofah & Widiyawati, 2. Selain itu, hasil korelasi menunjukkan terdapat faktorfaktor lain seperti jenis kelamin dan pendapatan orang tua juga memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku konsumsi junk food pada remaja. Saat individu mengalami stres maka akan terjadi perubahan pada pola makan karena terjadinya reaksi fisiologis dan psikologis yang terjadi dalam tubuh saat menghadapi tekanan. Ketika stres hormon kortisol dan adrenalin dapat memicu seseorang ingin untuk mengonsumsi makanan tertentu seperti yang tinggi gula dan lemak (Komaruddin et al. , 2024. Lail & Yudistira, 2. Stres dapat memengaruhi regulasi nafsu makan yang dimana akan meningkatan nafsu seseorang dan beralih ke makanan cepat saji atau junk food. Individu yang berada dalam keadaan stres cenderung mencari kenyamanan melalui makanan yang tinggi lemak, gula, dan kalori yang sering kali ditemukan dalam junk food. Makanan junk food memberikan sensasi kepuasan dalam jangka panjang sehingga seseorang tidak dapat mengontrol diri (Nursucita & Handayani. Rahma, 2. Pada faktor jenis kelamin menunjukkan bahwa remaja perempuan cenderung lebih sering mengonsumsi junk food dibandingkan remaja laki-laki, hal itu kemungkinan terjadi karena remaja perempuan lebih rentan terhadap tekanan emosional. Tekanan sosial yang dirasakan remaja perempuan membuat mereka mencari pelarian dengan Fadelia Hani Saputri. Muhammad Ari Arfianto. Fichalia Amarita Santoso :Determinan Stres Dan A. mengkonsumsi makanan yang tidak sehat. Konsumsi junk food sering kali dianggap sebagai cara terbaik untuk mengatasi stres atau perasaan negatif yang dirasakan. Secara biologis, perempuan memiliki kebutuhan nutrisi yang berbeda, terutama dalam fase-fase tertentu seperti menstruasi yang dapat mempengaruhi pilihan makanan mereka (Pebriani et al. , 2. Sedangkan pada remaja laki-laki memilih mengkonsumsi junk food dalam konteks pengaruh sosial seperti tawaran dari teman sebaya tanpa adanya pengaruh emosional yang sama seperti remaja perempuan. Pada laki-laki cenderung lebih menyukai junk food karena praktis dan rasa yang enak. Dari segi psikologis, laki-laki lebih sering mengabaikan dampak kesehatan dari konsumsi junk food dan hanya berfokus pada kepuasan instan dan kenikmatan rasa (Ayu et al. , 2. Oleh karena itu, dalam konsumsi junk food lebih banyak perempuan dibandingkan dengan laki-laki dan hal ini dapat dilihat dari perbedaan secara biologis, psikologis dan sosial. Hubungan antara pendapatan orang tua dan perilaku konsumsi junk food pada remaja sangat kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor ekonomi, sosial, dan Dalam penelitian ini menunjukkan hubungan yang signifikan antara pendapatan orang tua denga perilaku konsumsi junk food pada remaja. Remaja dari keluarga dengan penghasilan yang lebih tinggi memiliki akses yang lebih baik dalam mengonsumsi junk food. Tekanan waktu yang dihadapi orang tua ketika bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dapat mengakibatkan kurangnya waktu untuk menyiapkan makanan yang sehat dirumah sehingga remaja memiliki ketergantungan pada makanan junk food (Putri et al. , 2. Selain itu, lingkungan sosial dan budaya dimana remaja tumbuh juga dapat mempengaruhi perilaku konsumsi junk food. Dengan demikian penghasilan orang tua berperan penting dalam membentuk pola konsumsi junk food pada remaja melalui akses, pendidikan dan pengaruh lingkungan sosial yang berbeda. Sebenarnya faktor pendidikan orang tua, terutama pada ibu turut mempengaruhi pola makan remaja. Pendidikan ibu yang lebih tinggi sering kali dikaitkan dengan pengawasan pola makan anak yang lebih baik (Karmilasari et al. , 2. Tetapi dalam penelitian ini, pendidikan ibu ditemukan tidak berhubungan dengan tingkat stres dan perilaku konsumsi junk food pada remaja. Umumnya orang tua yang lebih terdidik cenderung memberikan pemahaman yang lebih baik kepada anak-anak mereka tentang pentingnya mengkonsumsi makanan sehat meskipun sedang dalam kondisi stres. Dalam aspek akademik, tekanan untuk mencapai prestasi juga ditemukan menjadi pemicu stres. Jurnal Manajemen Kesehatan Yayasan RS. Dr. Soetomo Vol. 11 No. 2 Oktober 2025 : 289-302 Beban tugas yang tinggi dan ekspektasi yang berlebihan dari lingkungan sekolah atau keluarga sering membuat remaja menjadi kewalahan (Roziqil & Puteri, 2. Sehingga mereka memilih junk food sebagai pilihan praktis dan cepat untuk memenuhi kebutuhan energi mereka. Faktor-Faktor sosio-demografi seperti usia, kelas, jurusan, suku, pekerjaan orang tua, uang saku dan pendidikan orang tua dianggap berpengaruh terhadap perilaku konsumsi junk food. Pada penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara faktor tersebut dengan perilaku konsumsi junk food, hal ini tergantung pada suatu konteks individu. Meskipun faktor-faktor diatas dapat memiliki dampak tetapi mereka tidak selalu berhubungan secara langsung dengan perilaku konsumsi junk food. Hal ini karena adanya kebiasaan makan yang dipengaruhi oleh interaksi kompleks antara lingkungan sosial, psikologis, dan budaya yang lebih luas (Zogara et al. , 2. Selain faktor-faktor dalam data sosio-demografi dan tingkat stres, peran media sosial juga tidak dapat diabaikan. Paparan iklan makanan cepat saji dan tren kuliner di media sosial cenderumg meningkatkan daya tarik junk food bagi remaja. Media sosial menjadi saluran utama bagi remaja untuk mendapatkan informasi dan inspirasi tentang makanan (Siregar & Siagian, 2023. Sudrajat & Lestari, 2. Kombinasi antara stres, pengaruh sosial, dan paparan media ini menciptakan lingkungan yang mendukung kebiasaan mengkonsumsi junk food pada remaja. Sayangnya pada penelitian ini belum memasukkan faktor media sosial sebagai pengaruh perilaku konsumsi junk food di kalangan remaja. Program intervensi untuk remaja harus dirancang tidak hanya untuk membantu mereka mengelola stres, tetapi juga untuk mendorong penerapan pola makan yang sehat. Edukasi mengenai gizi, dukungan dari keluarga, serta pengaturan iklan makanan cepat saji merupakan langkah-langkah krusial dalam menciptakan perubahan yang signifikan. Diperlukan pendekatan yang komprehensif yang melibatkan peran sekolah, komunitas, dan keluarga untuk menangani masalah ini secara efektif. Dengan melibatkan berbagai pihak, diharapkan remaja dapat lebih memahami pentingnya kesehatan dan membuat pilihan yang lebih baik dalam hal pola makan dan gaya hidup mereka (Carpentier et al. Garcya-Blanco et al. , 2022. Lambrinou et al. , 2. Stres hipotalamus-pituari-adrenal (HPA) meningkatkan pengeluaran kortisol. Kortisol dapat mengubah regulasi nafsu dengan Fadelia Hani Saputri. Muhammad Ari Arfianto. Fichalia Amarita Santoso :Determinan Stres Dan A. merangsang area otak, hal tersebut memicu peningkatan kortisol yang cenderung membuat individu memilih makanan seperti junk food karena memberikan kenyamanan dan meningkatkan dopamin. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat mengeksplor pengaruh budaya dan teknologi, seperti algoritma media sosial terhadap hubungan stres dan konsumsi junk food. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya meningkatkan pemahaman kita, tetapi juga menciptakan peluang untuk merumuskan strategi intervensi yang lebih komprehensif dan aplikatif. Melalui pendekatan ini, kita dapat mengembangkan program yang lebih tepat sasaran dan relevan, yang dapat membantu remaja dalam mengelola stres dan memilih pola makan yang lebih sehat. SIMPULAN Studi ini menunjukkan bahwa tingkat stres pada siswa remaja berhubungan signifikan dengan konsumsi makanan tidak sehat. Faktor sosial, ekonomi, psikologis, pengetahuan gizi, dan pengaruh teman sebaya berkontribusi terhadap konsumsi makanan tidak sehat oleh remaja di Kota Malang. Pendidikan kesehatan mengenai pola makan yang sehat dan teknik penanggulangan stres diperlukan untuk mencegah atau mengurangi efek negatif dari makanan tersebut seperti obesitas dan masalah kesehatan terkait lainnya. Selain itu, keterlibatan keluarga dan keterlibatan teman sebaya adalah faktor penting untuk membantu remaja menerapkan kebiasaan sehat. DAFTAR PUSTAKA