Jurnal Nusa Sylva Vol. 24 No. 2 (Desember 2. : 86-95 DOI : https://doi. org/10. 31938/jns. ISSN 2797-4502 . ISSN 1412-4696 . STIMULASI KOLONISASI CENDAWAN MIKORIZA ARBUSKULA PADA SEMAI MINDI (Melia azedarach LINN) DENGAN APLIKASI KOMPOS AKTIF PADA MEDIA TAILING TAMBANG EMAS Stimulation of Arbuscular Mycorrhiza Colonization to Mindi (Melia azedarach LINN) seedling by Active Compost Application on Tailing Media of Gold Mining Pongkor Luluk Setyaningsih1 Fakultas Kehutanan. Universitas Nusa Bangsa. Jl. KH. Iskandar Km 4. Tanah Sareal. Bogor. Indonesia. e-mail: luluk. setya03@gmail. ABSTRACT Tailing is one of the most abundant wastes from gold mining process. This material usually has a high concentration of some heavy metal such as Pb and Fe, insufficient of some essential elements, and a low caption exchange capacity, organic mater and prohibit microorganism growth. In order to improve rehabilitation tailing area by revegetation, utilization of plant root symbiotic organism, arbuscular mycorrhiza fungi (AMF), have been introduced. Arbuscular mycorrhiza fungi, however, need to be support to encourage its colonization to host plant in tailing media. The objectives of this research were to determine the effect of activated compost application on tailing media to spora density and colonization of arbuscular mycorrhiza on host plant (Melia azedarach seedlin. as well as its MEI. Three factors complete randomised experimental design was conducted under green house conditions and DMR Test was used to analyse of the effect of tailing, compost and kinds of AM treatment. Percent of AM colonization to mindi seedling root. AM spore number in media, and Mycorrhiza inoculation effect were measured in this experiment. Application of activated compost on tailing media increased colonization of NPI 126 (Glomus etunicatu. up to 4 times. This treatment also increased spore number and improve colonization of local AM fungi. The positif of Mycorrhiza inoculation effect (MIE) value was found on tailing media and mix media without actif compost. Active a Compost application is potential to improve the AMF role in order to increase the plant growth quality. Key words: Melia azedarach. Arbuscular Mycorrhiza Fungi, activated compost, tailing ABSTRAK Tailing merupakan salah satu limbah yang dihasilkan dari proses penambangan emas. Pada material ini sering ditemukan adanya kandungan logam berat, seperti Pb dan Fe dalam konsentrasi tinggi, rendahnya beberapa unsur esensial untuk pertumbuhan tanaman, rendahnya kapasitas tukar kation (KTK), kandungan bahan organic, dan menghambat pertumbuhan mikroorganisme penting dalam Dalam rangka untuk meningkatkan keberhasilan rehabilitasi lahan yang terdominasi tailing melalui kegiatan revegetasi, telah dimanfaatan organisme simbiotik dengan akar tanaman, cendawan mikoriza arbuskula (FMA). Untuk meningkatkan pertumbuhan FMA dibutuhkan dukungan guna mendorong terjadinya kolonisasi dengan inang tanaman yang menjadi target, sehingga peran FMA dalam membantu pertumbuhan tanaman dapat terwujud. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui pengaruh aplikasi kompos aktif pada media tailing terhadap densitas spora dan kolonisasi FMA pada akar tanaman inang . emai Melia azedarac. serta megetahui efek inokulasi mikoriza terhadap biomasa semai mindi (MIE). Penelitian dilakukan dalam rumah kaca dengan rancangan acak lengkap factorial, dengan 3 kali pengulangan dan menggunakan Uji DMRT untuk menganalisa pengaruh aplikasi kompos aktif pada media terhadap perkembangan FMA. Persen koloni FMA pada akar semai mindi, jumlah spora FMA pada media semai dan nilai Mycorrhiza inoculation effect (MIE) diukur dalam penelitian ini. Aplikasi kompos aktif pada media tailing dapat meningkatkan kolonisasi inokulan FMA NPI 126 (Glomus etunicatu. hingga 4 kali. Perlakuan tersebut juga mampu meningkatkan jumlah spora FMA dan kolonisasi FMA lokal. Nilai MIE yang positif hanya ditemukan pada semai yang ditanam pada media tailing dan media campuran tanpa aplikasi kompos aktif. Aplikasi kompos aktif pada media miskin hara berpotensi meningkatkan peran FMA dalam meningkatkan kualitas tanaman. Kaca Kunci: Melia azedarach. Cendawan Mikoriza Arbuskula. Kompos Aktif. Tailing PENDAHULUAN Sumbangan terhadap perekonomian Indonesia, salah satunya bersumber dari bahan tambang migas dan minerba. Namun demkian, kegiatan pertambangan juga dapat meninggalkan dampak terhadap kualitas tanah. Bahkan penambangan telah ditengarahi sebagai salah satu penyebab terjadinya kerusakan yang ekstrem pada tanah. Berlapis tanah hilang, tanah padat, unsur hara esensial rendah, toksisitas unsur-unsur tertentu dan rendahnya bioiversitas flora fauna maupun mikroba, merupakan fenomena yang umum ditemukan pada lahan bekas tambang. Dalam ISSN 2797-4502 . ISSN 1412-4696 . Jurnal Nusa Sylva Vol. 24 No. 2 (Desember 2. : 86-95 rangka rehabilitasi dan reklamasi lahan pasca tambang, revegetasi pada lahan bekas tambang penting dilakukan. Namun seringkali upaya revegetasi menghadapi kendala yang cukup berat sebagai akibat dari karakter lahan yang Penambangan limbah berupa tanah bekas penambangan . ock-dum. dan tanah bekas pengolahan . Tailing tambang emas diketahui kandungan bahan oranik. KTK, hara makro sangat rendah (Wasis et al. Setyaningsih et al 2. dan juga aktifitas mikroorganisme beberapa logam cukup tinggi (Setyaningsih et al, 2. Keberadaan tailing tersebut berpotensi menurunkan kesuburan tanah dan dapat menyebabkan tanaman keracunan, sehingga tanaman terhambat pertumbuhannya bahkan kesulitan untuk bertahan hidup. Untuk meningkatkan keberhasilan revegetasi pada lahan yang didominasi tailing dibutuhkan jenis tanaman yang mampu beradaptasi, dan perbaikan kembali sifat fisik, kimia dan biologi tanah, dengan menstimulir aktivitas mikroba tanah, dan aplikasi kompos untuk memperbaiki tekstur media tanam dan kandungan nutrisi. Fungi mikoriza arbuskula (FMA) merupakan salah satu cendawan yang mampu membentuk simbiosis saling menguntungkan antara cendawan dengan akar tanaman, yang mampu meningkatkan kapasitas dalam menyerap unsur hara dan air (Brundrett et al. Salim et al 2. , seperti unsur fosfat (Bolan, 1991. Husna et al 2. yang ketersedianya pada tanah-tanah masam dan tanah dengan pH tinggi, menjadi terbatas, sehingga seringkali menjadi salah satu produktivitas tanaman. FMA pernah dilaporkan membantu penyerapan nutrisi untuk tanaman inang dengan memanfaatkan nutrisi dalam bentuk anorganik maupun nutrisi dari kompos dalam bentuk organik (Cavagnaro, 2. Namun kemampuan kolonisasi FMA dan efektifitasnya dapat dipengaruhi oleh jenis tanaman, jenis mikoriza dan lingkungan. Kompos merupakan bahan organik yang telah dihumifikasi dengan secara biologi, yang diketahui dapat meningkatkan ketersediaan nutrisi sehingga seringkali diaplikasikan pada kegiatan pertanian (Cavagnaro, 2. Upaya perbaikan sifat tailing pernah dilaporkan dengan menambahkan bahan organik kompos, juga penggunaa kascing dan arang aktif pada tailing tambang emas (Dharmawan, 2. , atau penambahan bio organik untuk tailing tambang timah (Setiadi, 2. Pada perkembanganya, berbagai macam formula kompos dikembangkan untuk meningkatkan kemampuanya memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tailing, antara lain memperbaiki tekstur tailing, meningkatkan kandungan bahan organic, dan meningkatkan KTK tailing (Setyaningsih et al, 2. Kompos aktif merupakan kompos yang diperkaya cairan bio activator, berupa cairan organik mengandung enzim, hormone, asam amino serta unsur hara mikro esensial (Green Earth, 2. Penggunaan kompos aktif pada tailing diperkirakan akan berpengaruh terhadap perkembangan pembentukan mikoriza maupun meningkatkan pertumbuhan tanaman. Penelitian ini ditujukan untuk menganalisa kolonisasi FMA pada akar semai mindi dengan pemberian kompos aktif pada media tailing, dan menganalisa densitas spora yang terbentuk dalam media tailing dengan semai mindi sebagai tanaman inang, serta untuk mengetahui tingkat ketergantungan semai mindi pada FMA. II. METODOE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi Hutan. Pusat Penelitian Bioteknologi IPB, dan di Rumah Kaca Laboratorium Silvikultur Fakultas Kehutanan ISSN 2797-4502 . ISSN 1412-4696 . Jurnal Nusa Sylva Vol. 24 No. 2 (Desember 2. : 86-95 Universitas Nusa Bangsa Bogor. berlangsung selama 10 bulan. Penelitian Bahan dan Alat Bahan-bahan yang diperlukan antara lain: inokulum mycofer (Glomus manihotis. Gigaspora Acaulospora tuberculat. , inokulum NPI 126 (Glomus etunicatu. , benih mindi (Melia azedarach LINN), tanah permukaan gunung Pongkor, tailing tambang emas Pongkor, arang sekam, kompos kotoran sapi, bioactivator, sorgum, ethanol 50%. KOH 2. HCL 10%, H2O2 2. 5%, glyserin 50%. Trypan blue 0. PVLG. MelzerAos reagen, aquades, bayclean. Alat-alat yang digunakan antara lain: mikroskop dissecting, mikroskop stereo, saringan spora 275 Am, 125 Am, dan 45 Am, kaca objek, dan cover glass, pinset spora, gelas ukur, cawan petri, pipet, timbangan analitik, gelas plastik, bak kecambah, label, polybag . x20 c. , oven, kamera, termometer suhu ruang, alat tulis. Rancangan Penelitian Penelitian ini disusun berdasarkan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 Faktor Media Tanam: Tanah 100% (M. Tailing 100% (M. Campuran TanahTailing . :1 v/. (M. Faktor Kompos: Tanpa kompos aktif (K. Penambahan kompos aktif . :20 w/. (K. Faktor Jenis Inokulan FMA: Tanpa inokulan. Mycofer. NPI 126. Setiap perlakuan diulang 3 kali dengan 3 unit pada setiap ulangan. Prosedur Penelitian Perbanyakan inokulum FMA Mycofer . ampuran Glomus manihotis. Gigaspora margarita. Acuolospora s. dan NPI 126 (Inokulum tunggal Glomus Perbanyakan dilakukan secara bioassay, yaitu dengan memberikan 10 gran starter FMA, berisi kurang lebih 50 spora FMA, pada media perbanyakan dan menggunakan semai sorgum sebagai inang dan dipanen setelah 3 bulan (Setyaningsih et al. Pembuatan mencampurkan kompos kotoran sapi . , arang sekam . , fosfat alam . dan bio activator . , yang dikomposkan selama 6 minggu. Media tanam semai yang digunakan tanpa disterilisasi, yaitu berupa tanah murni, tailing murni dan campuran tanah-tailing. Perlakuan Inokulasi FMA sebanyak 15 g per pot . ekitar 50-75 spora FMA) pada semai mindi dilaksanakan saat pemindahan semai ke Pemeliharaan berupa penyiraman semai dilakukan setiap hari selama pengamatan, 14 Volume penyiraman menyesuaikan dengan kondisi kejenuhan air pada media Pengamatan penelitian Biomasa semai, dengan mengukur berat kering pucuk dan akar semai mindi yang dipanen pada pekan ke 14 setelah tanam. Semai hasil panen dioven pada suhu 700 sampai mendapatkan berat kering konstan . iperkirakan antara 20 Ae 28 ja. Jumlah spora pada media semai dihitung pada akhir pengamatan petumbuhan semai mindi, yaitu dengan melakukan penyaringan spora ukuran 275 Am, 125 Am, dan 45 Am. Namun tidak dilakukan identifikasi jenis Densitas spora dihitung per 10 gram Kolonisasi FMA pada akar semai dihitung pada akhir pengamatan . dengan membuat preparat akar semai yang telah diberi pewarna biru, dan diamati dibawah mikroskop. Analisa data Kolonisasi (%) = ( bidang pandang akar yang bermikoriza : bidang pandang akar yang diamat. x 100%. (Setiadi dkk 1. ISSN 2797-4502 . ISSN 1412-4696 . Jurnal Nusa Sylva Vol. 24 No. 2 (Desember 2. : 86-95 Mycorrhizae Inoculation Effect dihitung pada akhir pengamatan. (MIE) MIE (%) = [(Biomasa kering semai diinokulasi Ae Biomasa kering semai tidak diinokulas. /Biomasa diinokulas. x 100% AA(Bagyaraj 1. Uji keragaman Data kolonisasi mikoriza, densitas spora mikoriza dan ketergantungan pada Mikoriza dianalisa keragamanya dengan menggunakan program CoStat 6311 Win. HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL Kolonisasi Cendawan Mikoriza Arbuskula pada semai mindi Kolonisasi FMA pada akar semai mindi mencerminkan tingkat infektivitas dan kompatibilitas antara cendawan endomikoriza dengan tanaman inang. Keberadaan hifa, spora, vesikel, dan arbuskula pada jaringan akar menjadi indikator kolonisasi. Berbagai struktur yang ditemukan pada jaringan kortek akar semai mindi menunjukan ada atau tidaknya kolonisasi FMA pada akar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi FMA berhasil menginfeksi akar semai mindi, yang ditandai dengan terbentuknya struktur arbuskula, vesikel, hifa, dan spora dalam jaringan kortek akar (Gambar . Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa faktor perlakuan media (M), kompos (K), dan FMA (F), baik secara tunggal maupun interaksi antar faktor, berpengaruh secara signifikan . < 0,. terhadap persentase kolonisasi FMA dan nilai MIE pada umur 14 minggu. Namun faktor Media (M) dan kombinasi Media dan Kompos (M x K) tidak berpengaruh nyata terhadap densitas spora FMA pada media semai . >0. Perlakuan interaksi Media x Kompos x FMA berpengaruh signifikan . <0. terhadap densitas kolonisasi mikoriza pada akar semai dan densitas spora FMA pada media tumbuh. Seluruh perlakuan tunggal dan interaksi berpengaruh nyata terhadap nilai MIE (Tabel Tanpa infeksi Vasikel Arbuskula Hifa Spora Gambar 1. Struktur FMA pada jaringan kortek akar semai mindi umur 14 minggu setelah tanam. Tanpa infeksi = tidak terjadi kolonisasi FMA. Arbuskula. Vesikel. Spora atau Hifa = terjadi kolonisasi FMA. ISSN 2797-4502 . ISSN 1412-4696 . Jurnal Nusa Sylva Vol. 24 No. 2 (Desember 2. : 86-95 Tabel 1. Sidik ragam pengaruh perlakuan Media (M). Kompos (K) dan FMA (F) terhadap kolonisasi, densitas spora dan efek inokulasi FMA (MIE) pada semai mindi umur 14 minggu setelah tanam . Sumber Keragaman Media (M) Kompos (K) FMA (F) Media x Kompos (M x K) Media x FMA (M x F) Kompos x FMA (K x F) Media x Kompos x FMA (MxKxF) Kolonisasi FMA <0,001** <0,001** <0,002** <0,001** <0,001** <0,001** <0,001** Probabilitas Densitas Spora FMA >0,06tn <0,001** <0,002** >0,05tn <0,001** <0,001** <0,001** MIE <0,001** <0,001** <0,001** <0,001** <0,001** <0,001** <0,001** Keterangan : ** = Perlakuan berpengaruh signifikan pada tingkat kesalahan 1%. tn = Perlakuan berpengaruh tidak signifikan pada tingkat kesalahan 1% Semai mindi yang ditanan pada media tanah dengan aplikasi kompos aktif dan inokulasi NPI126, terindikasi memiliki kolonisasi FMA tertinggi, mencapai 93,8%. Pada media tailing tanpa kompos (Tailing TK) terindikasi kolonisasinya terkecil, yang tidak berbeda signifikan dengan kolonisasi pada semai yang ditanam pada media campuran tanpa aplikasi mikoriza (Tabel . Dua jenis inokulan. Mycofer dan NPI 126, menunjukkan tingkat kolonisasi yang berbeda pada akar semai mindi, tergantung pada jenis media dan aplikasi kompos. FMA mycofer ditemukan dapat mengkolonisasi akar semai, rata-rata diatas 50%, baik yang ditanam pada media berkompos maupun tak berkompos, namun tidak demikian halnya dengan inokulan NPI 126. Tabel 2. Kolonisasi FMA (%) pada semai mindi dengan pemberian kompos aktif dan inokulan FMA umur 14 minggu setelah tanam Perlakuan Inkulan Media Kompos Tanpa Inokulan Mycofer NPI 126 69,80 bc* 56,01 c 25,22 d Tanah 82,31 ab 54,81 c 83,21 ab 4,30 e 61,73 c 15,51 de Tailing 62,52 c 60,02 c 73,01 bc Campuran 1,71 e 71,51 bc 10,22 de Tanah-Tailing 87,50 ab 69,22 bc 93,83 a Keterangan: TK=tanpa kompos. KA=kompos aktif * Rerata yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukan perbedaan yang tidak nyata pada tingkat kesalahan 5% berdasarkan Uji DMRT Media meningkatkan kolonisasi FMA yang signifikan pada semai dibandingkan dengan tanpa kompos, seperti misalnya pada semai di media tailing berkompos yang diinokulasi NPI 126 meningkat kolonisasinya hampir 400% dibandingkan pada media tanpa kompos, dan meningkatkan kolonisasi sebesar 819% pada media campuran tanah tailing. Peningkatan kolonisasi tersebut bahkan juga ditemukan pada semai yang tidak diinokulasi, seperti pada media tailing tanpa kompos dengan kolonisasi yang sebelumnya hanya 4,3% meningkat 12 kali lipat menjadi 62,52% setelah pemberian kompos. Kolonisasi FMA terbesar ditemukan pada akar semai mindi pada media campuran tanah-tailing berkompos dan inokulasi NPI 126 sebesar 93,8%. Semai mindi dengan kolonisasi mikoriza terkecil . ,7%) ditemukan pada media campuran ISSN 2797-4502 . ISSN 1412-4696 . Jurnal Nusa Sylva Vol. 24 No. 2 (Desember 2. : 86-95 tanah-tailing Densitas Spora Cendawan Arbuskula Mikorrhiza Sporolisasi, atau pembentukan spora . oleh fungi mikoriza, terjadi berkaitan dengan kondisi ekstrim pada rizosfer sebagai mekanisme adaptasi dan perlindungan. Terdapat kecenderungan peningkatan secara signifikan jumlah spora pada media yang berkompos aktif . <0,. Kompos Aktif meningkatkan 120% densitas spora inokulan Mycofer . ,7/10 gram medi. dan meningkatkan 310% densitas spora inokulan NPI 126 . /10 gram medi. Pada media tanah dan media campuran tana-tailing berkompos dengan inokulasi Mycofer atau NPI 126, terdeteksi memiliki densitas spora terbanyak . -23 spora per 10 gram media Beberapa jenis spora yang berhasil ditemukan pada penyaringan, antara lain: Acaulospora tuberculate. Glomus manihotis. Gigaspora margarita. Glomus etunicatum pada media dengan inokulan Mycofer dan Glomus etunicatum pada media dengan inokulan NPI 126 (Gambar . Tabel 3. Densitas Spora . ndividu spora per 10 gram medi. pada berbagai media tanam dengan aplikasi kompos aktif dan jenis inokulan yang berbeda Perlakuan Inkulan Media Kompos Tanpa Inokulan Mycofer NPI 126 Tanpa Kompos 7 b* Tanah Kompos Aktif Tanpa Kompos Tailing Kompos Aktif Camp TanahTanpa Kompos Tailing Kompos Aktif 4,5 b 14,5 a Tanah Tailing 0,5 b Camp. Tanah-Tailing 2,5 b Tanpa Kompos 2,7 b Kompos Aktif 10,7 ab Keterangan: TK=tanpa kompos. KA=kompos aktif * Rerata yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukan perbedaan yang tidak nyata pada tingkat kesalahan 5% berdasarkan Uji DMRT Gambar 2. Spora yang ditemukan pada media tanam semai mindi umur 14 minggu setelah tanam. A: spora Acaulospora tuberculata yang pecah. B: spora Glomus manihotis. C: spora Gigaspora margarita. D: spora Glomus etunicatum. Bar pada A dan B menunujukan ukuran dalam 100 m ISSN 2797-4502 . ISSN 1412-4696 . Jurnal Nusa Sylva Vol. 24 No. 2 (Desember 2. : 86-95 Mycorrhiza inoculation effect (MIE) Nilai mycorrhiza inoculation effect (MIE) merupakan salah satu ukuran efektivitas inokulan FMA terhadap pertumbuhan semai. Hasil penelitian ini, menunjukan bahwa nilai MIE positif hanya pada semai mindi pada media tailing . aik yang Tanpa Kompos/TK atau yang berkompos/KA), serta ditemukan pula pada media campuran tanah tailing tanpa kompos (TK). Semai mindi yang ditanam pada media campuran tailing tanpa kompos, memiliki ketergantungan tertinggi terhadap FMA Mycofer maupun FMA NPI 126, masing-masing mencapai MIE 91,8% dan 81,2%. Pada media tanah, bahkan semai mindi cenderung tidak memerlukan FMA, yang ditunjukan dengan nilai MIE negative. Nilai ketergantungan semai mindi terhadap mikoriza cenderung semakin kecil pada media tanam yang berkompos, yang ditunjukan dengan nilai MIE secara signifikan berkurang hingga 10 kali lipat pada media berkompos dengan inokulan Mycofer, dan berkurang 5 kali lipat pada media berkompos dengan inokulan NPI 126. Namun penambahan kompos aktif pada kedua media tersebut, menurunkan ketergantungan semai mindi pada FMA (Gambar . Gambar 3. Nilai mycorrhiza inoculation effect (MIE) (%) FMA pada semai mindi umur 14 minggu pada berbagai media PEMBAHASAN Kolonisasi dan Sporolisasi FMA Secara umum, tingkat kolonisasi mikoriza pada semai bermedia tailing murni atau campuran tanah-tailing lebih kecil dibandingkan dengan kolonisasi yang terdapat pada media tanah. Kecilnya kolonisasi pada media tailing menunjukan bahwa media tailing murni dengan kharakternya yang ekstrim telah menjadi penghambat bagi pertumbuhan FMA. Rendahnya kandungan bahan organik pada pada tailing, . ,5%) dapat menghambat terjadinya perkembangan mikroorganisme mikoriza selain juga oleh karena sifat kimia tanah juga berpengaruh terhadap kolonisasi mikoriza (Sieverding, 1991. Setyaningsih et al Salim et al. Kolonisasi mikoriza dapat dijumpai pada semua semai baik yang mendapat inokulasi FMA maupun tanpa inokulasi. Kolonisasi pada media tanpa inokulasi, diduga berasal dari mikoriza lokal yang terbawa Bersama media yang tidak disterilisasi yang dapat tumbuh menginfeksi semai mindi. Hal demikian juga diperkuat dengan ditemukannya spora, walau jumlahnya sedikit, pada media tanpa Kondisi demikian juga menunjukan ISSN 2797-4502 . ISSN 1412-4696 . Jurnal Nusa Sylva Vol. 24 No. 2 (Desember 2. : 86-95 bahwa ada potensi FMA lokal berperan dalam kompatibilitas dengan mindi, sehingga dapat dipertimbangkan mengeksplorasinya lebih mendalam guna pengembangan. Keberadaan 4 macam jenis FMA dalam inokulum mycofer diduga telah memberi kesempatan yang lebih besar bagi inokulum tersebut untuk beradaptasi pada berbagai jenis media dan membentuk kolonisasi dengan akar. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Setyaningsih et al . bahwa FMA dari inokulum majemuk Mycofer mengkolonisasi akar semai jabon lebih besar dibandingkan kolonisasi oleh inoculum FMA Peningkatan kolonisasi FMA pada semai mindi dengan aplikasi kompos aktif pernah juga dilaporkan oleh Budi & Setyaningsih . , bahwa aplikasi biochar pada media meningkatkan kolonisasi mikoriza, namun kolonisasinya menurun jika penambahan biochar mencapai 15% pada semai mindi. Peningkatan kolonisasi tersebut diduga berakitan dengan peningkatan aktifasi mikoriza dalam memanfaatkan karbohidrat yang dieksudasi semai, setelah semai mendapatkan cukup nutrisi dari kompos. Kolonisasi akar oleh FMA dipengaruhi oleh pH tanah. P tersedia. K, dan Mg (Melo et al. , namun kolonisasi akar oleh AMF secara signifikan lebih tinggi pada kondisi defisiensi Mg (Zhang et al. Sporolisasi merupakan salah satu FMA adaptasinya terhadap kondisi lingkungan yang ekstrim, seperti saat lingkungan kekeringan (Brundrett et al 1. Densitas spora terbanyak ditemukan pada media campuran tanah-tailing berkompos dengan inokulan mikoriza NPI 126. Namun secara umum, tidak terdapat korelasi antara kolonisasi dengan densitas spora (R2=7%. p<0,. Hal ini berarti bahwa kolonisasi tidak selalu Sporolisasi FMA pada media tanam tidak secara konsisten berkorelasi dengan tingkat kolonisasi FMA dalam akar tanaman, dalam kondisi tertentu dapat berkorelasi positif (Zangaro et al. atau berkorelasi negatif (Husna et al. sangat dipengaruhi kondisi Selain memperbaiki struktur tanah dan sifat tanah lainya, aplikasi kompos dapat keragaman populasi mikroba tanah (Reeves. Budi & Setyaningsih, 2. Penggunaan kompos aktif yang mengandung bio activator sebagai cairan organic dengan kandungan enzim, hormone perangsang pertumbuhan, asam amino dan diperkaya unsur hara esensial (Green Earth, 2006. Setyaningsih et al 2. berpotensi membantu percepatan perkecambahan spora hingga membantu meningkatkan infeksi pada semai (Cavagnaro 2014. Budi & Setyaningsih. Ketergantungan semai mindi pada FMA Nilai MIE diketahui positif, atau atau pertumbuhan semai mindi, berkisar 13 Ae 58%, pada media tailing dan media campuran tanahtailing tanpa kompos. Nilai MIE cenderung menurun pada media berkompos. Kondisi demikian menjelaskan bahwa ketergantungan semai mindi terhadap mikoriza pada media miskin hara. Kondisi demikian sejalan dengan penelitian yang dilaporkan Setyaningsih et al . , bahwa Tifa yang ditanam pada media ketergantungan pada mikoriza lebih besar daripada pada media yang telah diberi Pada tanah marginal . iskin har. , peran FMA sangat signifikan dalam membantu meningkatkan pertumbuhan tanaman (Husna et al. Setyaningsih et al 2020. Salim et al Pada lahan marginal. FMA dapat berperan meningkatkan ketersediaan unsur hara, seperti fosfat, dengan mekanisme pelepasan unsur fosfat dari logam dengan menggunakan enzim fosfatase (Bolan 1. Pada awal pertumbuhan, semai mindi lebih ISSN 2797-4502 . ISSN 1412-4696 . Jurnal Nusa Sylva Vol. 24 No. 2 (Desember 2. : 86-95 tergantung pada keberadaan kompos daripada keberadaan FMA pada media berkompos, namun adanya kolonisasi yang tinggi pada media berkompos dapat menjadi harapan, jika ketersediaan hara yang bersumber dari kompos berkurang, maka mikoriza akan berperan lebih penyediaan unsur hara bagi tanaman. Oleh karenanya, keberadaan mikoriza sangat penting dan dengan manfaat berkelanjutan. IV. KESIMPULAN Aplikasi kompos aktif pada media tailing meningkatkan kolonisasi inokulan FMA NPI 126 (Glomus etunicatu. hingga 300-819% dan meningkatkan jumlah spora serta kolonisasi FMA lokal hingga 10 kali lipat dibandingkan media tanpa kompos. Namun, ketergantungan semai mindi terhadap FMA sangat tinggi pada media tanpa kompos, yang Mycorrhiza Inoculation Effect (MIE) yang lebih tinggi pada media tanpa kompos dibandingkan media yang mendapat aplikasi kompos aktif. Hal ini mengonfirmasi bahwa mikoriza berperan penting dalam mendukung pertumbuhan tanaman, terutama pada kondisi media tanam yang miskin hara seperti tailing. DAFTAR PUSTAKA