KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat November 2024. Vol. 1 No. 2: 73-77 Pelatihan Kewirausahaan Pembuatan Produk Hiliran Minyak Pati Serai Di Mardi Kuala Linggi Jayu Triawan1. Zamrina2. Siti Mariam3. Muhammad Israf Setiawan4. Deddy Iswanto5. Nurul Murdianti6. Kristin Lecintiva Agustina7. Kurniatul Fil Khoirin8 STIE SyariAoah Bengkalis. Jl Poros Selat Baru Desa Sungai Alam Kecamatan Bengkalis. Kabupaten Bengkalis. Riau. Indonesia Ae28751 https://doi. org/10. 46367/khidmah. Info Artikel Riwayat: Dikirim: 15 November Direvisi: 16 November Diterima: 20 November Kata Kunci: Minyak Serai. Produk Hiliran. Kewirausahaan. Pelatihan. ABCD Abstrak Pelatihan kewirausahaan pembuatan produk hiliran minyak pati serai ini dilaksanakan di MARDI Kuala Linggi, bertujuan untuk memberdayakan masyarakat lokal dalam mengolah sumber daya serai menjadi produk bernilai tinggi. Minyak serai yang memiliki kandungan antiseptik, antimikroba, dan antioksidan sangat potensial dikembangkan menjadi produk kesehatan dan kecantikan seperti sabun, minyak pijat, dan aromaterapi. Program ini menggunakan metode ABCD (Asset-Based Community Developmen. yang melibatkan empat tahapan utama: pemetaan aset lokal, pembangunan koneksi dengan pihak terkait, keterlibatan aktif masyarakat, dan implementasi pelatihan pembuatan produk. Hasil pelatihan menunjukkan peningkatan signifikan dalam keterampilan peserta dalam proses produksi dan pengemasan, serta pemahaman dalam pemasaran produk. Evaluasi pascapelatihan mengungkapkan bahwa peserta berhasil memproduksi produk hiliran dalam skala kecil dan mulai memasarkan produk secara lokal. Pelatihan ini diharapkan dapat memberikan dampak positif yang berkelanjutan, menciptakan peluang usaha baru, serta meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan ekonomi masyarakat MARDI Kuala Linggi. Korespondensi: Jayu Triawan, jayutriawan64@gmail. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4. 0 International License. PENDAHULUAN Indonesia dan Malaysia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam, termasuk berbagai tanaman yang memiliki manfaat kesehatan dan ekonomi (Erwin et al. , 2. Salah satu tanaman yang memiliki potensi besar adalah serai (Cymbopogon citratu. , terutama dalam bentuk minyak atsiri. Minyak atsiri serai diketahui memiliki sifat antiseptik, antimikroba, dan antioksidan, sehingga banyak digunakan dalam berbagai produk kecantikan dan kesehatan. Namun, pemanfaatan serai dalam industri produk hilir masih terbatas, terutama di kalangan masyarakat pedesaan yang belum memiliki keterampilan atau pengetahuan untuk mengolahnya menjadi produk bernilai tinggi. Minyak serai, yang diekstraksi dari daun atau batang serai, telah banyak digunakan dalam industri aromaterapi, kosmetik, dan farmasi. Kandungan utama dalam minyak serai seperti citral dan geraniol menjadikannya bahan alami yang sangat dihargai (Nurmawati et al. , 2. Di sisi lain, pengembangan minyak serai sebagai produk hilir memerlukan keahlian khusus dalam teknik ekstraksi, formulasi produk, pengemasan, hingga pemasaran. Untuk itulah diperlukan upaya pelatihan yang bertujuan meningkatkan keterampilan masyarakat agar mampu mengolah bahan alam ini menjadi produk komersial (Irawan et al. E-ISSN: 3047-5155 https://ejournal. id/index. php/khidmah KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat November 2024. Vol. 1 No. 2: 73-77 Di wilayah pedesaan, khususnya di kawasan MARDI Kuala Linggi, serai sering kali ditanam sebagai tanaman sampingan atau hanya digunakan untuk keperluan rumah tangga. Pemanfaatan serai dalam bentuk produk hilir belum menjadi perhatian utama masyarakat karena minimnya keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk mengolahnya. Pelatihan kewirausahaan dalam pembuatan produk hiliran minyak serai ini diharapkan dapat menjadi solusi dalam meningkatkan taraf ekonomi masyarakat setempat melalui pemanfaatan sumber daya lokal yang melimpah (Khoirin et al. , 2. Kebutuhan akan produk kesehatan dan kecantikan alami saat ini semakin meningkat seiring dengan kesadaran masyarakat terhadap efek samping produk berbasis bahan kimia (Nita & Iskandar, 2. Produkproduk alami, seperti sabun, minyak pijat, dan aromaterapi dari bahan alami, menjadi tren yang banyak Hal ini membuka peluang bisnis baru bagi masyarakat jika mereka mampu memproduksi dan memasarkan produk tersebut (Rahmany et al. , 2. Melalui pelatihan ini, peserta diajak untuk memahami kebutuhan pasar serta cara mengembangkan produk minyak serai yang memiliki daya jual tinggi (Ishak & Zarefar, 2024. Khoirin et al. , 2. Selain itu, pelatihan ini juga bertujuan untuk meningkatkan pemahaman peserta tentang pentingnya pengemasan dan pemasaran yang tepat dalam memperkenalkan produk ke pasar yang lebih luas (Bukido & Mushlihin, 2. Banyak produk lokal yang sebenarnya memiliki kualitas baik, namun gagal bersaing karena kurang menarik dari segi pengemasan atau kurang terjangkau oleh pasar. Pelatihan ini akan mengajarkan strategi pemasaran modern yang dapat diadaptasi oleh pelaku UMKM, termasuk pemanfaatan media sosial untuk menjangkau konsumen secara lebih luas (Arwin et al. , 2023. Rosyidi et al. , 2023. Wigati, 2. MARDI Kuala Linggi dipilih sebagai lokasi pelatihan karena lokasi ini memiliki sumber daya serai yang melimpah serta dukungan dari pihak pengelola yang antusias dalam meningkatkan potensi ekonomi masyarakat sekitar. Pelatihan ini juga didukung oleh pemerintah setempat yang melihat program ini sebagai langkah penting dalam meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat melalui kewirausahaan. Dengan adanya kolaborasi antara pihak akademisi, pengusaha lokal, dan pemerintah, diharapkan pelatihan ini dapat menjadi model pemberdayaan masyarakat yang efektif (Ishak & Selamat, 2024. Mashuri et al. , 2. Pemanfaatan serai untuk produk hilir juga memiliki nilai keberlanjutan. Dibandingkan dengan produk kimiawi, produk alami cenderung lebih ramah lingkungan dan tidak menimbulkan polusi. Dengan demikian, pelatihan ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan ekonomi tetapi juga pada aspek keberlanjutan dan kesehatan lingkungan (Irawan et al. , 2. Program pelatihan ini bukan hanya memberikan keterampilan teknis kepada peserta, tetapi juga membekali mereka dengan pengetahuan kewirausahaan yang penting untuk memulai dan mengelola bisnis (Tanjung, 2. Banyak UMKM gagal berkembang karena kurangnya kemampuan dalam manajemen bisnis, keuangan, dan pemasaran. Melalui program ini, peserta diharapkan dapat memiliki pemahaman dasar mengenai aspek-aspek penting dalam kewirausahaan, sehingga mereka dapat mengembangkan bisnis yang berkelanjutan (Sembiring & Manoi, 2. Tujuan akhir dari pelatihan ini adalah menciptakan masyarakat yang mandiri secara ekonomi dan mampu mengembangkan potensi lokal menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Dengan adanya keterampilan yang tepat, diharapkan peserta mampu memproduksi dan menjual produk hilir minyak serai, yang tidak hanya akan meningkatkan pendapatan keluarga mereka tetapi juga meningkatkan perekonomian Diharapkan, pelatihan ini dapat memberikan dampak jangka panjang yang positif. Selain peningkatan keterampilan teknis, pelatihan ini juga akan meningkatkan kepercayaan diri peserta dalam mengembangkan bisnis mereka sendiri. Dengan produk yang bernilai tambah tinggi dan keterampilan pemasaran yang baik, mereka memiliki peluang lebih besar untuk memperkenalkan produk mereka ke pasar lokal maupun internasional. METODE Metode pelatihan yang digunakan dalam kegiatan ini adalah metode ABCD (Asset-Based Community Developmen. Berikut adalah langkah-langkah dalam pendekatan ini: A - Asset Mapping (Pemetaan Ase. E-ISSN: 3047-5155 https://ejournal. id/index. php/khidmah KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat November 2024. Vol. 1 No. 2: 73-77 Tahap ini melibatkan identifikasi potensi dan sumber daya lokal yang dimiliki oleh masyarakat setempat di MARDI Kuala Linggi. Pemetaan aset dilakukan untuk mengetahui ketersediaan bahan baku serai serta keterampilan dasar yang dimiliki oleh masyarakat. Selain itu, dilakukan juga identifikasi pelaku usaha lokal yang dapat mendukung kegiatan pelatihan ini. B - Building Connections (Membangun Koneks. Setelah pemetaan aset dilakukan, langkah selanjutnya adalah membangun koneksi antara masyarakat dan pihak-pihak yang terlibat, termasuk pemerintah lokal, pengelola MARDI Kuala Linggi, dan mentor Koneksi ini penting untuk memberikan akses informasi dan jaringan pemasaran yang lebih luas bagi peserta pelatihan. C - Community Engagement (Keterlibatan Masyaraka. Keterlibatan masyarakat dalam setiap tahap pelatihan menjadi fokus utama dalam pendekatan ini. Peserta diajak untuk berpartisipasi aktif, baik dalam sesi teori maupun praktik, sehingga mereka merasa memiliki dan bertanggung jawab atas proses pelatihan. Melalui keterlibatan ini, diharapkan dapat tercipta rasa kepemilikan dan semangat yang kuat dalam mengembangkan usaha produk hilir minyak serai. D - Development and Implementation (Pengembangan dan Implementas. Tahap ini adalah pelaksanaan utama dari pelatihan, yang meliputi sesi teori mengenai kewirausahaan dan sesi praktik pembuatan produk hilir minyak serai seperti sabun, minyak pijat, dan aromaterapi. Peserta juga dilatih dalam hal pengemasan produk dan strategi pemasaran agar produk mereka lebih menarik dan kompetitif di pasar. Di akhir pelatihan, peserta akan menghasilkan produk hilir minyak serai yang siap HASIL DAN PEMBAHASAN Pelatihan kewirausahaan pembuatan produk hiliran minyak serai di MARDI Kuala Linggi berlangsung selama tiga hari dan diikuti dengan antusias. Program ini memberikan pengenalan tentang cara mengolah minyak serai menjadi produk bernilai ekonomi tinggi, diikuti dengan sesi praktik pengemasan dan Berikut adalah temuan utama dari hasil pelatihan dan pembahasan mengenai manfaat serta tantangan yang dihadapi peserta. Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan Teknis Peserta menunjukkan peningkatan pemahaman yang signifikan mengenai proses pembuatan minyak serai, mulai dari teknik destilasi hingga formulasi produk hiliran seperti sabun, minyak pijat, dan Sebelum pelatihan, sebagian besar peserta hanya mengenal serai sebagai bahan masakan atau bumbu dapur tanpa pemahaman mengenai potensi minyak atsiri di dalamnya. Namun, setelah mengikuti sesi teori dan praktik, 85% peserta mampu menguasai dasar-dasar proses destilasi dan formulasi produk, serta mengidentifikasi komposisi yang tepat untuk menghasilkan produk yang berkualitas. Peningkatan Kompetensi dalam Pengemasan dan Branding Pengemasan dan branding merupakan aspek penting dalam meningkatkan daya tarik produk. Dalam sesi pelatihan, peserta dilatih mengenai teknik pengemasan yang menarik dan aman untuk produk berbahan alami seperti minyak serai. Selain itu, peserta belajar cara memilih bahan kemasan yang ramah lingkungan namun tetap ekonomis. Branding produk juga menjadi fokus pelatihan untuk membedakan produk mereka di pasar. Setelah pelatihan, peserta memiliki pengetahuan tentang pemilihan desain label, pemilihan warna, dan strategi branding yang tepat, sehingga produk mereka dapat bersaing lebih baik di pasar lokal. Pemasaran dan Akses ke Pasar Selain keterampilan teknis, pelatihan juga menekankan pentingnya strategi pemasaran, terutama dalam memanfaatkan teknologi digital seperti media sosial untuk memperluas jangkauan pasar. Dalam evaluasi, 78% peserta menyatakan bahwa mereka sebelumnya tidak memiliki pengetahuan tentang pemasaran digital. Setelah pelatihan, peserta memahami dasar-dasar penggunaan media sosial untuk pemasaran, seperti cara mengambil foto produk yang menarik, membuat konten promosi, dan menggunakan platform e-commerce untuk menjangkau konsumen yang lebih luas. Peserta juga diperkenalkan pada strategi penjualan berbasis komunitas, seperti berkolaborasi dengan toko lokal dan komunitas kesehatan, yang dianggap efektif untuk memasarkan produk minyak serai di pasar lokal. Penerapan Metode ABCD dalam Meningkatkan Partisipasi dan Rasa Kepemilikan E-ISSN: 3047-5155 https://ejournal. id/index. php/khidmah KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat November 2024. Vol. 1 No. 2: 73-77 Metode ABCD (Asset-Based Community Developmen. yang diterapkan dalam pelatihan ini membantu peserta lebih memahami potensi aset lokal yang ada, khususnya tanaman serai. Dengan pemetaan aset yang melibatkan peserta secara langsung, masyarakat MARDI Kuala Linggi menjadi lebih sadar akan sumber daya yang mereka miliki dan potensi ekonomi yang dapat dikembangkan dari tanaman serai. Pembangunan koneksi antara peserta dengan pihak terkait, seperti pengelola MARDI dan pemerintah lokal, membantu membangun jaringan yang dapat mendukung keberlanjutan usaha. Keterlibatan masyarakat dalam sesi-sesi pelatihan memungkinkan mereka merasa memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan produk mereka sendiri. Umpan Balik dari Peserta dan Tantangan dalam Implementasi Berdasarkan survei yang dilakukan setelah pelatihan, peserta memberikan umpan balik yang positif, terutama terkait peningkatan keterampilan teknis dan pemasaran. Namun, beberapa tantangan yang dihadapi meliputi keterbatasan akses modal untuk memproduksi dalam skala besar dan kendala dalam memperoleh peralatan destilasi yang memadai untuk pengolahan minyak serai. Sebagian peserta juga merasa bahwa mereka membutuhkan pelatihan lanjutan mengenai teknik pengawetan produk alami serta strategi pemasaran yang lebih intensif. Potensi Dampak Jangka Panjang bagi Ekonomi Lokal Dengan keterampilan yang telah diperoleh, masyarakat diharapkan dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan keluarga melalui usaha produk hiliran minyak serai. Program pelatihan ini tidak hanya meningkatkan keterampilan dan pengetahuan peserta tetapi juga membuka peluang baru dalam pengembangan UMKM berbasis produk lokal. Dalam jangka panjang, usaha-usaha ini berpotensi untuk memperkuat perekonomian MARDI Kuala Linggi melalui produk-produk lokal yang memiliki daya jual tinggi dan ramah lingkungan. Produk-produk hilir seperti sabun dan minyak pijat berbahan minyak serai diyakini dapat menarik konsumen yang lebih luas, termasuk konsumen yang peduli akan produk-produk kesehatan dan kecantikan berbasis alam. Keberlanjutan Program Pelatihan Agar pelatihan ini memiliki dampak yang berkelanjutan, perlu dilakukan pemantauan berkala terhadap perkembangan usaha peserta. Dukungan pemerintah setempat dan pengelola MARDI Kuala Linggi diharapkan dapat berlanjut dalam bentuk akses permodalan dan bimbingan lanjutan. Selain itu, diusulkan agar program pelatihan serupa dapat diadakan secara berkala dan melibatkan lebih banyak masyarakat lokal untuk memperkuat ekosistem bisnis minyak serai di wilayah tersebut. KESIMPULAN Pelatihan kewirausahaan ini memberikan dampak positif terhadap peningkatan keterampilan dan semangat berwirausaha peserta dalam memanfaatkan minyak serai sebagai produk hiliran. Dengan pelatihan yang berkelanjutan, masyarakat diharapkan mampu menciptakan produk yang kompetitif di pasar dan meningkatkan taraf ekonomi lokal. UCAPAN TERIMAKASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak MARDI Kuala Linggi yang telah memberikan tempat dan fasilitas untuk pelaksanaan pelatihan ini, serta kepada para peserta yang berpartisipasi aktif dalam setiap sesi pelatihan. Terima kasih juga kepada pihak sponsor dan seluruh tim yang mendukung keberlangsungan program ini. E-ISSN: 3047-5155 https://ejournal. id/index. php/khidmah KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat November 2024. Vol. 1 No. 2: 73-77 DAFTAR PUSTAKA