Islamic Management: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Doi: 10. 30868/im. P-ISSN: 2614-4018 E-ISSN: 2614-8846 GUIDING NOBLE MORALS BASED ON AYYUHAL WALADUL MUHIBBAH BY AL GHAZALI WITH THE TAZKIYATUN NAFS APPROACH Dina Susanti1 Ibn Khaldun University Email: dinasusanti855@gmail. Received: 02/06/2020. Accepted: 14/07/2020. Published: 31/07/2020 ABSTRACT The crisis of noble character in this technological era is increasing, it is marked by increasing juvenile delinquency. Santri who are far from their parents are also of particular concern in this article, because the formation of the noble character is very much needed by the students, this is the background of this article. Guiding noble character to students is very important to do. The method in this article research is by library research. Field Research and FGD to several senior coaches with interview, observation and documentation data collection techniques, and using data analysis and source Triangulation techniques. The results of this study are the formation of Santri's Noble Character with the Tazkiyatun Nafs approach according to Imam Ghazali in the Ayyuhal Waladul Muhibbah. The Purpose. The Material (Self Concept as khalifatullah and Abdullah. Moral to God. Moral to Teachers and Parents. Moral in associatio. the Method namely Direct Method consists of: . Personal: Coaching and Counseling and Muhasabah, and . Groups: Lectures. Repentance Activities. Dhikr & Prayer Activities. Stories and Muhasabah. Indirect Method: Modeling. Customizing and Supervising. Evaluation consists of evaluation materials, namely . Worship, . Noble Morals with friends and Morals with the environment. And Evaluation Methods: Observation. Practice and 360o evaluation Keywords: guiding, character, students, tazkiyatun nafs, ghazali. ABSTRAK Krisis karakter mulia dalam era tekhnologi ini semakin meningkat, hal tersebut di tandai dengan meningkatnya kenakalan remaja. Santri yang jauh dari kedua orangtua nya juga menjadi perhatian khusus dalam artikel ini, karena pembinaan karakter mulia sangat di butuhan oleh para santri, hal ini menjadi latar belakang artikel ini. Pembinaan karakter mulia kepada santri merupakan hal yang sangat penting di lakukan. Metode dalam penelitian artikel ini adalah dengan library research. Field Reseach dan FGD kepada beberapa Pembina senior dengan tehnik pengumpulan data wawancara, observasi dan dokumentasi, serta menggunakan analisis data Triangulasi sumber dan Tehnik. Hasil dari penelitian ini adalah Pembinaan Karakter Mulia (Mentorin. Santri dengan pendekatan Tazkiyatun Nafs Menurut Imam Ghazali dalam kitab Ayyuhal Waladul Muhibbah. Tujuan Kokurikulum. Materi Kokurikulum (Konsep Diri sebagai khalifatullah dan Abdullah. Akhlak kepada Allah. Akhlak Kepada Guru dan orangtua. Akhlak dalam pergaula. Metode Kokurikulum yaitu Metode Langsung terdiri dari: . Personal: Coaching and Counseling dan Muhasabah, dan . Kelompok: Ceramah. Aktivitas Taubat. Aktivitas Dzikir & doa. Kisah dan Muhasabah. Metode tidak langsung: Keteladanan. Pembiasaan dan Pengawasan. Evaluasi Kokurikulum terdiri Materi Evaluasi yaitu . Ibadah, . Karakter mulia. Akhlak terhadap teman dan Akhlak terhadap lingkungan. Dan Metode Evaluasi: Observasi. Praktek dan 360o evaluasi Kata Kunci: Pembinaan. Karakter, santri. Tazkiyatun Nafs. Ghazali PENDAHULUAN Kemajuan suatu bangsa terletak pada karakter yang dimiliki bangsa tersebut. Karakter merupakan hal yang sangat penting dan mendasar. Karakter adalah mustika hidup yang membedakan antara manusia dengan hewan. Manusia yang tidak berkarakter dikatakan sebagai manusia yang sudah melampui batas. Orang yang berkarakter kuat dan baik secara individual dan sosial ialah yang memiliki akhlak, moral dan budi pekerti yang baik. Persoalan karakter menjadi bahan pemikiran sekaligus keprihatinan bersama. Karena masyarakat Indonesia saat ini sedang mengalami krisis karakter. Krisis ini ditandai dengan maraknya tindakan kriminalitas, seperti tawuran antara pelajar meningkatnya pergaulan bebas, maraknya angka kekerasan anak-anak dan remaja pelecehan seksual, maraknya geng motor dan begal yang seringkali menjurus pada tindakan kekerasan yang meresahkan masyarakat, korupsi mewabah dan merajalela dan merambah pada semua sektor kehidupan masyarakat, bahkan menjerumus pada tindakan pembunuhan. Fenomena tersebut jelas telah mencoreng citra pelajar dan lembaga pendidikan, karena banyak orang yang berpandangan atau mempunyai prespektif bahwa kondisi demikian berawal pada apa yang kemudian dihasilkan oleh dunia pendidikan. Penjelasan tersebut mengindikasikan bahwa karakter pada hakikatnya mengarah pada kejiwaan yang berimplikasi pada tingkah laku. Menurut ajaran Islam, pembinaan karakter kepada generasi muda sangat penting, agar tercipta generasi yang memiliki pengetahuan dengan perilaku yang baik atau Islam menyebutnya akhlaq al karimah. Remaja diharapkan memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara. Pendidikan dan pembinaan kepada generasi muda merupakan tanggung jawab semua lapisan masyarakat, lingkungan keluarga, masyarakat sosial, dan masyarakat sekolah. Dalam hal ini penulis menspesifikasikan pembinaan karakter kepada santri, santri yang selama 24 jam tinggal di pesantren, jauh dari kedua orangtua, menghadapi lingkungan yang sama setiap hari, bersama pembimbing dan teman Ae teman di pesantren, dan jika masalah menghampiri, maka santri harus bisa mengahadapi sendiri dan memecahkan masalah nya sendiri. Apalagi santri yang di maksud adalah santri yang berusia 12- 15 tahun, dimana pada masa ini santri memasuki masa remaja awal atau baligh dalam islam, perkembangan emosional yang masih labil, menghadapi gejolak jiwa yang berbeda, perasaan yang sulit terkendali juga keinginan mencari jati diri atau menemukan konsep diri. Agama adalah menjadi solusi utama dalam pembentukan dan pembinaan karakter peserta didik, di sisi lain, dimensi jiwa dalam kehidupan manusia sangat berpengaruh dalam membina perjalanan keimanan, ke-Islaman dan keihsanan seorang muslim. Menurut Muhammad Izzudin Taufiq . -72 : 2. Pentingnya wahana ruhani dikarena jiwa adalah eksistensi terdalam yang senantiasa membutuhkan konsumsi spritual agar berkembang tumbuh sehat dan mandiri. Sebab pendidikan seorang muslim tidak akan berhasil secara maksimal apabila tidak bisa mengolah rasa jiwanya sampai pada tahap kesucian, kemuliaan dan keluhuran. Untuk mencapai tahapan keluhuran, maka harus dimulai dari tahap pertama yaitu tahap penyucian jiwa, tahap inilah yang dalam istilah bahasa arab disebut penyucian jiwa . azkiyatun naf. Tazkiyah dimaksudkan sebagai cara untuk memperbaiki seseorang dari tingkat yang rendah ke tingkat yang lebih tinggi dalam hal sikap, sifat, kepribadian dan karakter. Semakin sering seseorang melakukan tazkiyah pada karakter kepribadiannya, semakin Allah membawanya ke tingkat keimanan yang lebih tinggi. Sebagaimana firman Allah dalam surat As-Syamsy: A aI I a ac O aNA a ACa Ea a aI IacE O aN aOCa aA AuSesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinyaAy. (Q. As-Syamsy 9-. Membaca ayat di atas, jelas bahwa menyucikan jiwa adalah sesuatu yang penting dalam kehidupan seorang manusia. Jiwa yang bersih akan menghasilkan prilaku yang bersih pula, karena jiwalah yang menentukan suatu perbuatan itu baik atau buruk. Jadi dapat dikatakan bahwa, puncak kebahagiaan manusia terletak pada penyucian jiwa . azkiyatun naf. , sementara puncak kesengsaraan manusia terletak pada tindakan membiarkan jiwa mengalir sesuai dengan tabiat alamiah. Pembinaan karakter mulia sangat berbeda dengan yang di lakukan di sekolah umum atau Non Boarding, karena secara psikologis kebutuhan mentoring santri cukup besar , setiap hari santri beradaptasi dengan lingkungan yang sama dan orang yang sama, jika terjadi permasalahan ia butuh teman, pembimbing atau guru yang bisa menjadi teman bertukar cerita dan menyelesaikan masalah, di butuhkan keterampilan kemandirian khusus untuk dapat beradaptasi dengan baik. Berbagai pendekatan yang dapat dilakukan untuk memecahkan masalah Ae masalah tersebut, membangun semangat dan meningkatkan motivasi santri. Tazkiyatun Nafs yaitu konsep penyucian jiwa menurut para ulama salaf sangat membantu dalam proses mentoring, salah satu dari konsep Tazkiyatun Nafs ini adlah Muhasabah, memposisikan santri / peserta didik dalam keadaan berserah diri kepada sang pencipta, pada saat inilah seorang guru atau pembimbing bisa memasukan kata Ae kata sugesti dan motivasi serta mengintropeksi diri dengan doa dan sentuhan . ody languag. yang sangat dapat Adapun penelitian sebelum yang berkaiatan dengan Jurnal ini adalah sebagai berikut: Aslami. Hayu AAla. AuKonsep Tazkiyatun Nafs dan Relevansinya Terhadap Pendidikan AkhlakAy. Jenis penelitian library research atau studi kepustakaan yang bersifat deskriptif kualitatif. Kesimpulan dari penelitain ini bahwa secara umum tazkiyatun nafs adalah proses penyucian jiwa dari perbuatan dosa, proses pembinaan akhlakul karimah . rilaku muli. dalam diri dan kehidupan manusia. Adapun relevansi konsep Tazkiyatun Nafs terhadap pendidikan akhlak adalah mengarahkan pada pembentukan pribadi muslim yang mulia. Dengan tujuan pendidikan yang sama yakni kesempurnaan insani dalam hal taqarrub . endekatkan dir. kepada Allah, serta kebahagiaan dunia dan akhirat. Abd Khaliq, 2017. AuPENDIDIKAN KARAKTER DALAM PERSPEKTIF KITAB AYYUHAL WALAD. KONSTRUKSI PEMIKIRAN IMAM AL-GHAZALI. Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka . ibrary researc. , penelitian yang obyek utamanya adalah bukubuku atau sumber kepustakaan tentang kitab Ayyuhal Walad, karya Imam al Ghazali. Dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Hasil penelitian, pertama, konsep pendidikan karakter merupakan gambaran tentang hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaa pendidikan karakter, baik terkait dengan definisi pendidikan karakter, tujuan pendidikan karakter dan nilai-nilai pendidikan karakter. Kedua, karakter atau akhlak menurut al-Ghazali adalah suatu kemantapan jiwa yang menghasilkan perbuatan dan pengalaman dengan mudah, tanpa harus direnungkan dan disengaja. Ketiga, pendidikan karakter dalam kitab Ayyuhal Walad berisi nasihat al-Ghazali kepada muridnya yang meminta nasihat khusus, secara garis besar membehas tentang masalah akhlak kepada Allah, akhlak seorang pendidik, akhlak seorang pelajar, dan akhlak dalam pergaulan. Tujuan dari pembahasan pendidikan akhlak dalam kitab ini untuk mencetak pribadi yang baik, bermoral dan lebih mengutamakan kepentingan Allah (SyariAoa. daripada yang lainnya. Dan juga untuk mendapatkan Ridha Allah SWT. di dunia maupun di akhirat. TINJAUAN PUSTAKA Pembinaan karakter mulia santri Menurut Simanjuntak . : 2. Pembinaan adalah upaya pendidikan formal maupun non formal yang dilakukan secara sadar, berencana, terarah, teratur, dan bertanggung jawab dalam rangka memperkenalkan, menumbuhkan, membimbing, dan mengembangkan suatu dasar-dasar kepribadiannya seimbang, utuh dan selaras, pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan bakat, kecenderungan/keinginan serta kemampuan-kemampuannya sebagai mengembangkan dirinya, sesamanya maupun lingkungannya ke arah tercapainya martabat, mutu dan kemampuan manusiawi yang optimal dan pribadi yang mandiri. Pembinaan tidak hanya dilakukan dalam keluarga dan dalam lingkungan sekolah saja, tetapi diluar keduanya juga dapat dilakukan pembinaan. Pembinaan dapat dilakukan melalui kegiatan ekstrakurikuler maupun intrakurikuler yang ada di sekolahan dan lingkungan Dalam hal ini pelaku pembinaan Pembina. Pembina adalah orang yang melakukan pembinaan secara rutin baik individual maupun kelompok. Serta merencanakan dan Dalam Abuddin Nata . : 2. Menurut bahasa, karakter berasal dari bahasa inggris. Character yang berarti watak, sifat, dan karakter. Dalam bahasa indonesia, watak di artikan sebagai sifat bathin manusia yang memengaruhi segenap pikiran dan berbuatannya. berarti pula TabiAoat dan budi pekerti dengan demikian, pendidikan karakter adalah uapaya memengaruhi seganp pikiran dan sifat bathin peserta didik dalam rangka membentuk watak, budi pekerti, dan kepribadian nya. Selanjutnya yang di maksud dengan sifat adalah rupa dan keadaan yang tampak pada sesuatu benda. Dalam bahasa Arab, kata karakter sering di sebut dengan istilah akhlak yang oleh para ulama di artikan bermacam Ae macam. Ibn Miskawaih misalnya mengatakan: hal linnafs daAoiyah laha ila afAoaliha min ghair fikrin wa laa ruwiyatin. Artinya, sifat atau keadaan yang tertanam dalam jiwa yang paling dalam yang selanjutnya melahirkan berbagai perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan lagi. Menurut Abuddin Nata . : 2. Dengan demikian, sebuah perbuatan akhlaki setidaknya memiliki 5 ciri, yaitu: . perbuatan yang sudah tertanam kuat dan mendarah daging dalam jiwa. perbuatan yang dilakukan dengan mudah tanpa memerlukan pemikiran lagi, sebagai akibat dari keadaan nya yang sudah mendarah daging. Perbuatan yang muncul atas pilihan bebas dan bukan paksaan. Perbuatan yang dilakukan dengan sesungguhnya, bukan rekayasa, dan . Perbuatan yang di lakukan dengan ikhlas karena Allah SWT semata. Sedangkan menurut Furqon Hidayatullah . : A), karakter adalah kualitas atau kekuatan mental atau moral, akhlak atau budi pekerti individu yang merupakan kepribadian khusus yang menjadi pendorong dan penggerak, serta yang membedakan individu lain. Dari pengertian ini dapat dipahami bahwa karakter anak didik merupakan kualitas atau kekuatan mental atau moral, akhlak atau budi pekerti individu yang merupakan kepribadian khusus yang harus melekat sebagai pendorong dan penggerak dalam melakukan sesuatu. Pembinaan karakter adalah Pembinaan untuk membentuk sifat atau karakter baik agar tertanam dan mengakar pada jiwa anak. Pendidikan karakter adalah pendidikan yang tidak hanya mengedepankan aspek kognitif atau intelektual semata, akan tetapi lebih berorientasi pada aspek pembinaan dan pengembangan potensi yang dimiliki peserta didik secara keseluruhan melalui pembiasaan sifat-sifat dan sikap baik yaitu berupa nilai-nilai karakter Pengertian santri adalah panggilan untuk seseorang yang sedang menimba ilmu pendidikan agama islam selama kurun waktu tertentu dengan jalan menetap di sebuah pondok pesantren. santri adalah orang yang menuntut ilmu, patuh terhadap kyia dan tinggal di dalam pesantren, mengikuti kegiatan pesantren secara keseluruhan. Dan pada pembahasan ini penulis lebih menspesifikasikan santri dalam usia 10-15 tahun, dan dalam psikologi islam menurut Abdul Mujib . : 2. di sebut Al Ae Amrad. Jika tahap Tamyiz . asa sebelumny. mempersiapkan seseorang menjadi Aoabdullah . amba Alla. maka selanjutnya memasuki fase Amrad yaitu fase dimana seseorang dipersiapkan menjadi khalifah . akil Alla. di bumi. Seorang khalifah yang menyebarkan kebaikan dan mencegah keburukan (Aoamar maAoruf nahi mungka. Pada fase ini juga anak mulai mencari identitas dirinya, ia berusaha mengenal fisik dan psikologisnya untuk dapat mengenali diri dan mengembangkan diri. Secara intelektual pada usi ini anak sudah mampu berfikir abstrak, mulai dapat diajarkan ilmu logika, fisika, filsafat dan astronomi. Tugas perkembangan manusia pada fase Amrad menurut Abdul Mujib . Memiliki kesadaran tentang tanggung jawab terhadap semua makhluk Memiliki wawasan atau pengetahuan yang memadai tentang makhluk hidup. Memiliki pengetahuan dan keterampilan teknis dalam bidang tertentu . idang yang memiliki manfaat dalam kehidupan bersama manuusi. Memiliki kemampuan memahami diri sendiri. Memilihara dan membangkan kekuatan dan kesehatan fisik. Memiliki kemampuan mengontrol dan mengembangkan diri sendiri. Memiliki kemampuan menjalin relasi dengan sesame manusia. Memiliki kemampuan menjalin relasi dengan makhluk fisik . umbuhan, biantang, makhluk mat. Membebaskan diri dari pengaruh makhluk gaib . in, setan, ibli. Pendekatan tazkiyatun nafs Dalam Dahlan Tamrin . : 2. Tazkiyatun Nafs berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata tazkiyah dan nafs. Al-Tazkiyah dari kata tazakka yang secara bahasa diartikan dengan suci, pensucian, atau pembersihan. Menurut Muhammad Izzudin . : 2. Kata tazkiyah berasal dari bahasa Arab yaitu isim mashdar yang berarti penyucian. Sinonim dari kata ini adalah thahara yang berarti suci/bersih. Kata thahara ini memiliki arti membersihkan sesuatu yang bersifat jasmani seperti membersihkan tubuh dan najis, sedangkan tazkiyah membersihkan sesuatu yang bersifat immateri . seperti membersihkan fikiran dari angan-angan dan pikiran kotor, nafsu jahat dan berbagai penyakit. Menurut Imam al-Ghazali dalam H Taufik . : 2. dalam diri manusia terdapat dua hal yaitu tubuh . ang tampa. dan jiwa . ang tidak tampa. Yang dimaksud dengan nafs adalah jiwa manusia yang tidak tampak, di mana dalam jiwa yang tidak tampak ini terdapat empat hal yang meliputi hati, roh, jiwa dan akal. Tazkiyatun nafs adalah pembersihan atau penyucian sifat lathifah rubbaniyah dalam diri manusia dari berbagai perangai yang tidak sesuai dengan fitrah manusia. Bukan hanya membersihkan saja, akan tetapi juga membimbing serta mengarahkan jiwa ke jalan yang di ridhoi Allah S. Diri manusia rentan pada setiap perubahan yang terjadi, umumnya perubahan yang negatif. Sebagaimana firman Allah dalam surat As-Syams Ayat 7-10: A aII a ac O aNA AaOIa a An aOaI a acOO aNaEaaI aNAa a aOaN aOaC aOO aNCa Ea a aIIacE O aN aOCa aA AuDan jiwa serta penyempurnaannya . , maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu . kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri . engan berima. , dan dia ingat nama Allahnya, lalu dia Ay(Q. Asy-Syam: 7-. Menurut Muhammad Izzudin . : 2. Yang dimaksud dengan penyucian diri adalah mengantarkannya kepada kesempurnaan diri. Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah dengan menyempurnakan ilmu pengetahuan, karena manusia lahir dalam keadaan bodoh. Dengan cara belajar membaca dan menulis. Keduanya adalah kunci untuk bisa memahami ilmu pengetahuan. Bila seseorang telah memiliki alat yang mengantarkannya untuk bisa memiliki ilmu pengetahuan, maka bukan hal sulit baginya untuk menguak dan memahami semua ilmu yang berguna. Dengan kesucian jiwa dari sifat kotor, jiwa akan mampu mengenal dan menemukan esensi jati dirinya sendiri dan dunia spiritual yang melatar belakanginya. Jika ia bisa membebaskan keterikatannya pada nafsu, berarti ia bisa mengosongkan jiwanya dari fikiran kotor, dan tentu sangat mudah untuk mengisinya dengan sifat terpuji. Oleh karena itu, tazkiyatun nafs sangatlah diperlukan agar jiwa senantiasa tetap berada dalam keadaan fitrah . , sehingga akal selalu dalam kondisi prima untuk selalu memilah pengetahuan yang ditangkap oleh indera sesuai dengan tuntutan agama, dengan mudah pula diresapi oleh hati sehingga terbentuklah sikap terpuji. Menurut Al-Ghazali dalam Bahrun Abu Bakar . : 2. Bersihnya jiwa . akan berpengaruh pada bersihnya hati, karena perumpamaan hati sama dengan cermin, sesungguhnya selama cermin itu jernih dan bersih dari kotoran dan karat, ia dapat digunakan untuk mencerminkan segala sesuatu. Namun apabila permukaannya telah dipenuhi karat, maka tidak ada sarana untuk menjernihkannya kembali. Apabila kekuasaan kalbu telah lumpuh secara total, maka setanlah yang menguasainya, lalu sifat-sifat yang terpuji berbalik menjadi sifat-sifat yang tercela. Sebelum hal itu tejadi, setiap manusia sangat perlu membersihkan, mensucikan hatinya dari sifat-sifat tercela dengan sarana- sarana tazkiyah, dalam rangka pembentukan akhlak karimah, pengembalian jiwa ke fitrah, penyeimbang lahir dan batin, penyucian akal. Dengan demikian, dalam Dahlan Tamrin . : 2. jiwa akan mendekat kepada Allah dan menyelamatkan diri dari siksa neraka. Karena bersihnya akal pikiran karena bersihnya hati dan bersihnya hati karena bersihnya nafsu. Sebagaimana pandangan ahli hikmah AuAkal sehat di hati yang sehat dan hati yang sehat di badan . yang sehatAy. Adapun konsep Tazkiyatun Nafs dalam Imtihan AssyafiAoI . menurut ulama Salafush Shalih yaitu Ibnu RajyAob Al-Hambali. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dan Imam AlGhazali adalah sebagai berikut : Ikhlas. Niat. Ilmu. Hati. Zuhud. Nafsu. Muhasabah (Introspeks. Sabar. Syukur. Tawakkal. Mahabbah (Mencintai Alla. Ridha. RajyAo (Berpengharapan kepada Alla. Khauf (Takut kepada Alla. Dunia dan Taubat . METODOLOGI PENELITIAN Pendekatan penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian penelitian lapangan . ield researc. menurut Abu Achmadi . : 2. penelitian lapangan bertujuan untuk mempelajari secara intensif latar belakang keadaan sekarang, dan interaksi lingkungan suatu unit sosial tentunya bersifat apa adanya, individu, kelompok, lembaga masyarakat. methode tindakan . ction researc. merupakan penelitian yang diarahkan pada mengadakan pemecahan masalah atau perbaikan, metode ini difokuskan kepada perbaikan proses maupun peningkatan hasil kegiatan dan Telaah Pustaka (Library Reseac. penelitian yang dilakukan hanya berdasarkan karya tertulis, termasuk hasil penelitian yang telah dipublikasikan maupun yang belum dipublikasikan. Jenis penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian penelitian lapangan . ield researc. yang bertujuan untuk mempelajari secara intensif latar belakang keadaan sekarang, dan interaksi lingkungan suatu unit sosial tentunya bersifat apa adanya, individu, kelompok, lembaga masyarakat. (Cholid Narbuko. Abu Achmadi,2. dengan methode tindakan . ction researc. merupakan penelitian yang diarahkan pada mengadakan pemecahan masalah atau perbaikan, metode ini difokuskan kepada perbaikan proses maupun peningkatan hasil kegiatan dan Telaah Pustaka (Library Reseac. penelitian yang dilakukan hanya berdasarkan karya tertulis, termasuk hasil penelitian yang telah dipublikasikan maupun yang belum Data dan sumber data Sumber primer dalam penelitian ini adalah hasil wawancara dan observasi Pesantren Alam Qurani Mecca Medina, dan kitab Ayyuhal Waladul Muhibbah karya Imam Al-Ghazali adapun sumber informasi pada penelitian lapangan adalah para Pembina pembinaan di pesantren, para pembimbing dan santri. Sumber Data sekunder merupakan buku-buku bacaan dan yang lainnya yang dianggap berkaitan dengan judul penelitian dan memiliki tujuan dari peneliti. Metode ini digunakan untuk mengamati secara langsung terhadap tafsir-tafsir yang ada kaitannya dengan penelitian, buku-buku dan pemikiran para tokoh-tokoh Tazkiyatun Nafs. Tehnik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah Observasi. Wawancara. Dokumentasi dan FGD (Focus Grup Discussio. Tehnik analisis data Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Data yang dikumpulkan diolah dan dianalisis dengan langkah-langkah Teknik analisis reduksi data. Penyajian data . isplay dat. dan Verifikasi data/penarikan kesimpulan. Pengujian keabsahan data dengan menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi teknik. HASIL DAN PEMBAHASAN Tujuan Tujuan Umum: Peserta Pembinaan mempunyai konsep diri, akhlak kepada Allah. Akhlak kepada guru atau orang yang lebih tua dan akhlak terhadap diri sendiri, teman dan lingkungan dalam pergaulan serta mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari Ae hari. Tujuan Khusus . Peserta pembinaan . memiliki akhlak kepada Allah dengan memperbanyak ibadah, tawakal, istiqomah, ikhlas. Rajy (Berpengharapan kepada Alla. dan Khauf . akut kepada Alla. , menghidupkan malam dan memperbanyak taubat kepada Allah . Peserta pembinaan . mempunyai akhlak kepada guru dengan niat yang benar untuk belajar, memanfaatkan waktu, menghormati guru, mengamalkan ilmu nya dan mendoakan guru. Peserta pembinaan . mempunyai akhlak kepada diri sendiri, teman dan lingkungan sekitar nya dengan, mampu memberi, menerima dan melaksanakan nasihat, tidak berlebihan dalam mencintai golongan / seseorang, mampu meminta maaf kepada orang lain, tidak iri dengan keberhasilan ornaglain, tidak riya dan sombong. Dermawan, tidak saling bermusuhan, tidak berdebat, tidak bergaul dengan pejabat atau penguasa tidak menyakiti dan menggangu orang lain serta memahami perkembangan fisik & psikologis diri sendiri. Materi Konsep diri Konsep Diri adalah cara pandang dan sikap seseorang terhadap dirinya sendiri. Konsep diri sangat erat hubungannya dengan dimensi fisik, karakter individu, dan motivasi diri. Pandangan diri atau konsep diri ini mencakup berbagai kekuatan individual dan juga kelemahannya, bahkan termasuk kegagalannya. Konsep diri . elf concep. adalah inti dari kepribadian dalam diri seseorang. Inti kepribadian individu punya peranan yang sangat penting dalam menentukan dan mengarahkan perkembangan kepribadian serta perilaku seseorang di tengah-tengah Secara sederhana, pengertian konsep diri adalah pandangan, penilaian atau pandangan seseorang pada dirinya sendiri. Salah satu dari para ahli membagi konsep diri menjadi tiga bentuk, antara lain. Body image, kesadaran seseorang melihat tubuh dan dirinya sendiri . Ideal self, harapan dan cita-cita seseorang tentang dirinya sendiri . Social self, bagaimana ia berpikir orang lain melihat dirinya Konsep diri sangat berpengaruh pada berbagai aspek kehidupan, mulai dari sosial hingga lingkungan pekerjaan sekalipun. Seseorang memiliki konsep diri negatif bila memandang dirinya tidak berdaya, lemah, malang, gagal, tidak disukai, tidak kompeten dan Lebih mendalam pembahasan konsep diri ini pun di masukan konsep diri sebagai Khalifatul fil Ard dan juga sebagai Abdullah Akhlak kepada Allah Akhlak kepada Allah dapat diartikan sebagai sikap atau perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai makhluk, kepada Tuhan sebagai khalik. Keharusan itu sangatlah logis karena begitu banyak nikmat-Nya yang tercurah pada manusia. Di mana dengan limpahan nikmat-Nya itulah manusiadapat menjalani segala aktivitas kehidupannya sebagai khalifah di muka bumi. Perbanyak ibadah . Ikhlas . Tawakal . Istiqomah . Menghidupkan malam . Rajy (Berpengharapan kepada Alla. Khauf (Takut kepada Alla. Taubat Akhlak Kepada guru . Niat yang benar . Memanfaatkan waktu . Menghormati guru . Mengamalkan ilmunya . Mendoakan guru Akhlak dalam pergaulan . Berprilaku baik terhadap orang lain . Memberi, menerima nasihat dan melaksanakannya . Tidak berlebihan dalam mencintai seseorang/ golongan . Meminta maaf kepada orang lain . Tidak iri pada keberhasilan orang lain . Tidak riya dan sombong . Dermawan . Tidak saling bermusuhan . Tidak berdebat . Tisak senang menyakiti atau menggannggu orang lain. Pertumbuhan psikologis dan fisik usia nya. Metode Metode Langsung Personal Metode personal di laksanakan secara individu dengan waktu kondisional, di usahakan ruangan yang cukup prefesi, agar santri mudah untuk mngeluarkan masalah yang . Coaching and Counseling Coaching adalah membantu santri untuk memecahkan masalah nya dengan menstimulus santri melalui beberapa pertanyaan, dan akan keluar dari pemikiran santri apa yang garus dilakukan nya. Seorang pembina melaksanakan proses coaching hanya akan bertanya dan menggali saja kepada santri. Dia bahkan sama sekali tidak memberikan saran atau masukan. Semua ide dan pemikiran berasal dari santri. Counseling disini membangun hubungan yang baik dengan santri, memahami kondisi santri, merasakan apa yang dirasakan oleh santri dengan masuk dalam Auruang kepercayaanAy nya hingga santri bias terbuka tentang pribadinya kemudian memasukan beberapa sugesti dan motivasi untuk menguatkan nya. Muhasabah Muhasabah ini di lakukan setelah santri tersebut merasakan beban yang teramat berat hingga sampai menangis, maka tehnik bagi Pembina adalah memberikan sentuhan kepada santri dengan memegang tangan dan bahu nya seolah memberi kekuatan untuk bias menghadapi masalah yang sedang di alaminya, kemudian ingatkan santri tentang pengorbanan ayah bunda nya atau orang Ae orang yang di kasihinya. Kelompok Metode kelompok di laksanakan perkelompok maksimal 10 santri dengan waktu 1 minggu sekali di bimbing oleh 1 pembina. Adapun metode pembinaan dalam kelompok adalah sebagai berikut : Ceramah . Aktivitas Taubat . Aktivitas Dzikir & doa . Kisah . Muhasabah Metode tidak langsung Keteladanan Pembiasaan Pengawasan Evaluasi Kokurikulum Materi Evaluasi Ibadah, yang di evaluasi dalam ibadah ini adalah kuantitas dan kualitas ibadah seperti wudhu, shalat wajib, shalat sunnah, puasa senin kamis, qiyamul lain, tilawah dan hafalan qurAoan. Karakter mulia : Akhlak terhadap guru atau orang yang lebih tua Akhlak terhadap diri sendiri Akhlak terhadap teman Akhlak terhadap lingkungan Metode Evaluasi Observasi : Pembina melakukan Observasi keseharian santri Praktek : evaluasi ini untuk evaluasi ibadah agar sesuai dengan kaifiyah yang benar dan evaluasi tilawah qurAoan 360o evaluasi : yaitu evaluasi akhlak santri dari berbagai sudut pandang yaitu sudut pandang orangtua. Pembina, wali asrama dan teman KESIMPULAN Berdasarkan penelitian yang telah penulis lakukan, dan setelah dilakukan analisis datadata yang ada, tentang Kokurikulum Pembinaan Karakter Mulia (Menorin. santri dengan Pendekatan Tazkiyatun Nafs adalah sebagai berikut: Tujuan Peserta Pembinaan mempunyai konsep diri, akhlak kepada Allah. Akhlak kepada guru atau orang yang lebih tua dan akhlak terhadap diri sendiri, teman dan lingkungan dalam pergaulan serta mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari Ae hari Materi Kokurikulum . Konsep Diri sebagai khalifatullah dan Abdullah . Akhlak kepada Allah yaitu: Perbanyak ibadah. Ikhlas. Tawakal. Istiqomah. Menghidupkan malam. Rajy (Berpengharapan kepada Alla. Khauf (Takut kepada Alla. Taubat . Akhlak Kepada guru yaitu : Niat yang benar. Memanfaatkan waktu. Menghormati guru. Mengamalkan ilmunya. Mendoakan guru . Akhlak dalam pergaulan yaitu Berprilaku baik terhadap orang lain. Memberi, menerima nasihat dan melaksanakannya. Tidak berlebihan dalam mencintai seseorang/ golongan. Meminta maaf kepada orang lain. Tidak iri pada keberhasilan orang lain. Tidak riya dan sombong. Dermawan . Tidak saling bermusuhan . Tidak berdebat. Tidak bergaul dengan pejabat atau penguasa. Tisak senang menyakiti atau menggannggu orang lain. Pertumbuhan psikologis dan fisik usianya. Metode . Metode Langsung terdiri dari: . Personal: Coaching and Counseling dan Muhasabah, dan . Kelompok : Ceramah. Aktivitas Taubat . Aktivitas Dzikir & doa. Kisah dan Muhasabah . Metode tidak langsung : Keteladanan . Pembiasaan dan Pengawasan Evaluasi . Materi Evaluasi yaitu . Ibadah, . Karakter mulia yang mencakup : Akhlak terhadap guru atau orang yang lebih tua. Akhlak terhadap diri sendiri. Akhlak terhadap teman dan Akhlak terhadap lingkungan . Metode Evaluasi : Observasi . Praktek dan 360o evaluasi. Saran Pesantren hendaknya tidak hanya melakukan Pembinaan Karakter Mulia kepada santri saja, namun juga memberikan Pembinaan kepada para pembimbing kamar atau wali asrama, karena metode keteladanan santri akan lebih baik penerapan akhlak mulia dan dapat menstandarisasikan karakter Ae karakter pembimbing atau wali asrama. Kepada para Pembina dalam mengkonseling santri secara individu hendaknya bisa lebih dekat secara emosional, terus melakukan observasi Perkembangan santri tersebut sampai ia benar Ae benar selesai dari masalah nya dan dapat menyelesaikan masalah Ae masalah yang ia hadapi. Ketersedian ruang konseling harus yang lebih aman dan Prefesi sehingga menjamin kebebasan santri dalam menceritakan masalah. Santri melaksanakan disiplin dan tata tertib harus timbul dari hati dan keinginan serta kesadaran santri itu sendiri, bukan paksaan atau ancama, kesadaran akan kebutuhan kedisiplinan dan tata tertib harus lebih di tingkatkan. DAFTAR PUSTAKA