Jurnal Regional Planning DOI: 10. 36985/rnd4c221 E Ae ISSN: 2302 Ae 5980 Vol. 7 No 2 Agustus 2025 PERAN SENTRA INDUSTRI PAYUNG GEULIS SEBAGAI PENGGERAK EKONOMI LOKAL DALAM RENCANA TATA RUANG WILAYAH KECAMATAN INDIHIANG KOTA TASIKMALAYA Siti Nurlaili Masripah1*. Aulia Rohman2. Sari Muna Laeliyah3 Siti Fadjarajani4. Cahya Darmawan5 1,2,3 Universitas Siliwangi. Kota Tasikmalaya e-mail: 232170080@student. ABSTRAK Sentra industri Payung Geulis yang terletak di Kecamatan Indihiang Kota Tasikmalaya adalah sebuah warisan budaya lokal yang memiliki nilai ekonomi besar dan dapat berfungsi sebagai penggerak ekonomi di daerah tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis peran serta potensi pengembangan sentra industri Payung Geulis dalam kerangka perencanaan tata ruang yang Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan menggunakan teknik studi literatur. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun industri ini masih beroperasi sebagai industri rumahan dan berada di daerah permukiman, kontribusinya dalam menciptakan lapangan kerja, menjaga keberlanjutan budaya, dan memberdayakan UMKM sangat Namun, sejumlah tantangan seperti minimnya dukungan infrastruktur, regenerasi pengrajin, dan masalah legalitas ruang masih menjadi hambatan yang harus diatasi. Penelitian ini merekomendasikan agar sentra industri Payung Geulis diintegrasikan dalam zonasi tata ruang sebagai kawasan industri kreatif dan budaya, serta penguatan digitalisasi untuk mendukung pemasaran dan kelangsungan industri tersebut. Dengan adanya kebijakan tata ruang yang tepat, industri ini berpotensi untuk tumbuh menjadi kekuatan ekonomi lokal sekaligus menjaga keberadaan budaya Kota Tasikmalaya. Kata Kunci: Ekonomi Daerah. Industri Kreatif. Payung Geulis. Perencanaan Ruang ABSTRACT he Payung Geulis industrial center located in Indihiang District. Tasikmalaya City is a local cultural heritage that has great economic value and can function as an economic driver in the area. The purpose of this study is to analyze the role and potential for developing the Payung Geulis industrial center within the framework of sustainable spatial planning. The method used in this study is descriptive qualitative using literature study techniques. The results of this study indicate that although this industry still operates as a home industry and is located in a residential area, its contribution to creating jobs, maintaining cultural sustainability, and empowering MSMEs is very However, a number of challenges such as minimal infrastructure support, regeneration of craftsmen, and issues of spatial legality are still obstacles that must be overcome. This study recommends that the Payung Geulis industrial center be integrated into spatial zoning as a creative and cultural industrial area, as well as strengthening digitalization to support the marketing and sustainability of the industry. With the right spatial planning policy, this industry has the potential to grow into a local economic force while maintaining the existence of the culture of Tasikmalaya City. Keywords: regional economy, creative industry. Payung Geulis, spatial planning. PENDAHULUAN Sentra industri Payung Geulis di Kecamatan Indihiang. Kota Tasikmalaya, merupakan salah satu pusat kerajinan tradisional yang memiliki nilai ekonomi dan budaya yang penting. This is an open access article distributed under the Creative Commons Attribution 4. 0 International License Jurnal Regional Planning DOI: 10. 36985/rnd4c221 E Ae ISSN: 2302 Ae 5980 Vol. 7 No 2 Agustus 2025 Payung Geulis, yang berarti Apayung cantikA dengan nilai estetika tinggi, telah menjadi ikon dan identitas khas Kota Tasikmalaya sejak awal abad ke-20, khususnya bermula di Kelurahan Panyingkiran. Kecamatan Indihiang. Industri ini tidak hanya berfungsi sebagai mata pencaharian utama bagi banyak warga setempat, tetapi juga sebagai sarana pelestarian tradisi dan budaya lokal yang unik. Peran sentra industri Payung Geulis sebagai penggerak ekonomi lokal sangat Selain memberikan lapangan kerja yang melibatkan berbagai kelompok usia dan gender, termasuk anak-anak, remaja, dan ibu rumah tangga, industri ini juga memperkuat struktur sosial dan budaya masyarakat Indihiang. Keberadaan industri ini membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui produksi dan pemasaran payung yang bernilai seni tinggi, meskipun menahan tantangan seperti menurunnya minat generasi muda dan persaingan dengan produk modern. Dalam konteks rencana tata ruang wilayah Kecamatan Indihiang, keberadaan sentra industri Payung Geulis perlu diintegrasikan sebagai bagian dari pengembangan ekonomi lokal yang berkelanjutan. Dengan mempertahankan dan mengembangkan sentra ini, rencana tata ruang dapat mendukung pelestarian budaya sekaligus meningkatkan potensi ekonomi masyarakat melalui penguatan industri kreatif dan pariwisata budaya. Hal ini juga dapat mendorong regenerasi pengrajin dan meningkatkan daya saing produk unggulan Kota Tasikmalaya, sekaligus menjaga keberlangsungan warisan budaya yang telah ada sejak era 1930-an. METODE PENELITIAN Metode yang diterapkan oleh penulis dalam studi ini adalah metode kualitatif Penelitian kualitatif merupakan salah satu tipe penelitian di bidang pendidikan, di mana peneliti mengandalkan perspektif dari partisipan atau informan. Peneliti membuat pertanyaan yang mendalam, bertanya secara umum, dan mengumpulkan data yang sebagian besar terdiri dari kata - kata, yang kemudian dijelaskan dan dianalisis untuk menjadi tema (Safrudin et al. , 2. Penelitian kualitatif didasarkan pada positivisme dan digunakan untuk menyelidiki aspek-aspek yang bersifat alami. Dalam pendekatan ini, peneliti berperan sebagai instrumen utama dan menerapkan teknik pengumpulan data melalui triangulasi serta analisis data secara induktif atau deduktif. Penemuan dari penelitian kualitatif lebih fokus pada pemahaman makna dan konstruksi dari fenomena dibandingkan dengan generalisasi (Albert Penelitian deskriptif adalah bidang studi yang bertujuan untuk mengidentifikasi keberadaan variabel mandiri, baik hanya satu atau lebih . ariabel yang berdiri sendir. , tanpa melakukan perbandingan antara variabel tersebut (Hunowu, 2. Metode deskriptif adalah metode yang digunakan untuk menganalisis data melalui penjelasan atau menggambarkan data sebagaimana adanya (Elisabeth & Novanti, 2. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan teknik studi literatur. Menurut (Rohmah, 2. dalam penelitian pustaka terkait dengan tinjauan teoritis yang berkaitan dengan analisis teoritis dan sumber lain yang relevan dengan budaya serta nilai nilai yang muncul dalam konteks sosial yang dikaji. Informasi yang diperoleh dari sumber yang berhubungan dengan isu yang diteliti dengan melakukan penelitian pustaka seperti dari artikel, buku, jurnal, dan penelitian sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis This is an open access article distributed under the Creative Commons Attribution 4. 0 International License Jurnal Regional Planning DOI: 10. 36985/rnd4c221 E Ae ISSN: 2302 Ae 5980 Vol. 7 No 2 Agustus 2025 integrasi sentra industri Payung Geulis dalam kebijakan dan rencana tata ruang wilayah Kecamatan Indihiang termasuk potensi pengembangannya sebagai kawasan industri kreatif. HASIL DAN PEMBAHASAN Integrasi Sentra Industri Payung Geulis dalam Perencanaan Tata Ruang Wilayah Tasikmalaya Payung Geulis Tasikmalaya merupakan salah satu produk kerajinan tangan yang berasal dari Kecamatan Indihiang Kota Tasikmalaya. Jawa Barat. Nama "geulis" dalam bahasa Sunda artinya cantik, dan payung ini dikenal karena keindahan serta keunikan yang Payung tradisional ini dibuat secara manual dan terbuat dari material alami seperti bambu sebagai rangka serta kertas atau kain yang dihias dengan motif khas Sunda di bagian atapnya. Setiap payung geulis adalah karya seni yang penuh perhatian dan warna, merefleksikan budaya serta kearifan lokal dari Tasikmalaya. Payung geulis bukan sekadar alat untuk melindungi dari sinar matahari atau hujan, tetapi juga merupakan suatu karya seni yang kaya akan makna budaya. Keistimewaan utamanya terletak pada motif-motif khas yang menghiasi wajahnya. Setiap gambar yang dilukis dengan tangan oleh para pengrajin mencerminkan kekayaan budaya Sunda, termasuk flora, fauna, dan pola geometris tradisional. Seringkali, setiap motif memiliki makna simbolis serta menyimpan kisah tentang nilai-nilai kehidupan masyarakat setempat. Hal menarik lainnya mengenai payung geulis adalah bahwa seluruh proses pembuatannya dilakukan dengan kerajinan tangan. Dari pembuatan rangka bambu, pelapisan, sampai tahap melukis, semua dilakukan oleh pengrajin berpengalaman dengan keterampilan yang sangat tinggi. Karena dikerjakan secara manual, setiap payung memiliki ciri khas tersendiri dan mencerminkan sentuhan pribadi dari pembuatnya, sehingga memberikan nilai seni yang sangat berarti. Lebih jauh lagi, payung geulis juga melambangkan upaya pelestarian budaya dan kearifan lokal di Tasikmalaya. Dalam setiap proses pembuatannya, tersimpan semangat untuk menjaga warisan nenek moyang agar tetap eksis di tengah perubahan zaman. Membeli serta menggunakan payung geulis berarti turut mendukung para pengrajin lokal dan melestarikan tradisi yang telah ada selama bertahun-tahun. Secara nyata, payung geulis sering digunakan dalam berbagai acara adat, pesta pernikahan, seni pertunjukan, serta sebagai dekorasi di rumah atau panggung. Selain bernilai budaya, payung ini juga menjadi cendera mata khas yang banyak dicari wisatawan, menjadikannya sebagai duta budaya yang memperkenalkan keindahan dan warisan Sunda ke seluruh dunia. Dengan bentuk yang unik, nilai estetika, dan muatan budaya yang dimilikinya. Payung Geulis Tasikmalaya menjadi salah satu kebanggaan kerajinan Nusantara. Industri payung geulis dikelola oleh pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) serta masih menggunakan sistem produksi rumahan. Di Kota Tasikmalaya sendiri ada 7 unit usaha yang tetap dari tahun ke tahun. Tabel 1. Jumlah Komoditas Industri Payung Geulis di Kota Tasikmalaya Komoditi Industri Payung Geulis Sumber: Dinas Koperasi. Umkm. Perindustrian dan Perdagangan Kota Tasikmalaya. This is an open access article distributed under the Creative Commons Attribution 4. 0 International License Jurnal Regional Planning DOI: 10. 36985/rnd4c221 E Ae ISSN: 2302 Ae 5980 Vol. 7 No 2 Agustus 2025 Proses pembuatan payung tradisional menggabungkan keterampilan tangan dan seni yang diturunkan dari generasi ke generasi. Tahap pertama dimulai dengan merakit rangka payung yang terbuat dari bambu pilihan. Bambu tersebut dipotong, dibelah, dan diraut dengan teliti hingga membentuk kerangka yang tepat. Setiap bagian rangka harus sesuai dan simetris agar payung bisa dibuka dan ditutup dengan baik. Setelah rangka selesai, tahap pelapisan dilakukan dengan menempelkan kertas atau kain tipis pada struktur bambu. Pelapisan ini harus dipasang dengan hati-hati dan merata untuk menjaga keseimbangan dan keindahan Kain atau kertas biasanya diikat dengan lem alami dan dibiarkan kering sempurna sebelum melanjutkan ke proses selanjutnya. Tahap pewarnaan dan penggambaran adalah bagian utama dari nilai seni payung Para pengrajin menggunakan cat khusus yang tahan air dan tidak mudah pudar untuk menciptakan motif khas. Motif yang dipilih sering kali melambangkan kekayaan budaya setempat, seperti bunga teratai, burung merak, kupu-kupu, hingga pola geometris yang unik di daerah tersebut. Proses menggambar ini memerlukan kesabaran yang tinggi, karena setiap goresan harus rapi, simetris, dan memiliki makna yang dalam. Setelah lukisan selesai dan catnya kering, payung akan memasuki tahap akhir, yaitu proses penyelesaian. Di tahap ini, permukaan payung diberikan lapisan pelindung seperti vernis atau resin transparan yang berfungsi untuk melindungi bahan, menambah kekuatan warna, serta memberikan kilau yang mempercantik penampilan. Jadi, payung tidak hanya berfungsi sebagai pelindung dari hujan atau panas, tetapi juga sebagai karya seni yang mencerminkan identitas budaya dari Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Tasikmalaya tahun 20112031. Kota Tasikmalaya dibagi dalam zona peruntukan seperti pemukiman, industry dan Dalam hal ini. Lokasi sentra industri Payung geulis belum seluruhnya berada dalam Kawasan industri. Tetapi berada di Kawasan yang berdampingan dengan dengan permukiman warga sehingga menimbulkan tantangan dalam hal legalitas ruang dan pengelolaan tata kota. Gambar 1. Lokasi Sentra Industri Payung Geulis Kota Tasikmalaya Sumber: Google Earth Gambar di atas adalah peta satelit wilayah Tasikmalaya, yang menunjukkan beberapa lokasi industri kerajinan payung geulis Ai salah satu produk budaya khas daerah tersebut. This is an open access article distributed under the Creative Commons Attribution 4. 0 International License Jurnal Regional Planning DOI: 10. 36985/rnd4c221 E Ae ISSN: 2302 Ae 5980 Vol. 7 No 2 Agustus 2025 Berdasarkan titik-titik penanda . in mera. dalam peta, terlihat bahwa sebagian besar sentra industri dan pengrajin payung geulis seperti Pengrajin Payung Geulis Mandiri. Payung Geulis Karya Utama, dan Payung Geulis Primaart masih berlokasi di kawasan pemukiman warga. Hal ini menunjukkan bahwa industri payung geulis masih sangat bergantung pada sistem home industry atau industri rumahan, di mana proses produksi dilakukan di rumah-rumah warga, bukan di pabrik besar atau kawasan industri khusus. Namun, keberadaan pengrajin di tengah permukiman menciptakan ekosistem ekonomi kerakyatan, memperkuat keterlibatan masyarakat lokal dalam pelestarian budaya, dan mempermudah transfer keterampilan antar Selain itu, terlihat pula bahwa lokasi ini berada cukup dekat dengan fasilitas umum seperti Ramayana Hotel. Pasar Cikurubuk, dan Tugu Payung Geulis Tasikmalaya, yang dapat menunjang kegiatan promosi dan distribusi produk. Dengan tetap berada di kawasan pemukiman, industri ini tidak hanya mempertahankan nilai-nilai tradisional, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Tasikmalaya. Dampak ekonomi lokal Industri Payung Geulis Sentra industri payung geulis di Kota Tasikmalaya adalah salah satu warisan budaya lokal yang memberikan kontribusi signifikan terhadap ekonomi masyarakat. Keberadaan industri ini membawa pengaruh positif di beberapa aspek penting. Salah satu dampak ekonomi yang paling terlihat adalah penciptaan lapangan pekerjaan. Industri payung geulis mengandalkan banyak tenaga kerja, terutama dari kalangan ibu rumah tangga dan individu yang memiliki keahlian dalam seni lukis atau kerajinan. Hal ini sejalan dengan penelitian dari Universitas Pendidikan Indonesia yang menunjukkan bahwa industri kecil ini dapat menyerap banyak tenaga kerja meski berhadapan dengan produk impor yang lebih murah. Selain menyerap tenaga kerja, industri payung geulis juga menunjukkan tingkat efisiensi ekonomi yang cukup tinggi. Penelitian oleh Universitas Jenderal Soedirman mencatat bahwa lima industri kecil payung geulis di Kelurahan Panyingkiran berhasil mencapai titik impas dengan harga jual Rp. 000 dan total produksi sebanyak 534 unit. Analisis kelayakan usaha menunjukkan rasio R/C mencapai 1,56, yang berarti bahwa setiap Rp1 biaya produksi dapat menghasilkan Rp1,56 pendapatan. Ini mengisyaratkan bahwa industri ini tidak hanya dapat bertahan, tetapi juga menguntungkan secara finansial. Lebih jauh, studi tersebut merekomendasikan strategi pengembangan yang intensif dan terintegrasi untuk meningkatkan daya saing usaha di pasar yang lebih luas. Dampak ekonomi lain adalah dorongan untuk kemajuan UMKM serta inovasi dalam pemasaran yang berbasis digital. Dalam beberapa tahun terakhir, pelatihan mengenai pemasaran digital telah diberikan kepada pelaku usaha payung geulis maupun produk kerajinan lainnya di Tasikmalaya. Salah satu contohnya dilaporkan dalam Jurnal Kumawula Universitas Padjadjaran, yang menyebutkan bahwa pelatihan media sosial sebagai sarana promosi berhasil memperluas jangkauan pasar produk kerajinan hingga tingkat nasional dan internasional. Penggunaan media sosial seperti Instagram dan platform pasar daring memungkinkan produk lokal bersaing di pasar yang lebih luas serta meningkatkan pendapatan para pengrajin Namun, meskipun memiliki dampak positif, industri payung geulis juga menghadapi berbagai tantangan serius. Penelitian dari Universitas Galuh mengungkapkan bahwa program pelestarian seni budaya, termasuk payung geulis, terhambat oleh kurangnya fasilitas seperti galeri, tempat pameran, dan minimnya pengawasan dari pemerintah daerah. Akibatnya, pelestarian budaya dan pengembangan ekonomi tidak dapat berlangsung secara maksimal This is an open access article distributed under the Creative Commons Attribution 4. 0 International License Jurnal Regional Planning DOI: 10. 36985/rnd4c221 E Ae ISSN: 2302 Ae 5980 Vol. 7 No 2 Agustus 2025 Selain itu, studi dari Universitas Padjadjaran menggarisbawahi bahwa pengembangan industri kreatif ini masih bersifat top-down dan belum sepenuhnya memberikan pemberdayaan komunitas lokal secara berkelanjutan. Masih ada kekurangan dalam pengembangan modal sosial, modal budaya, serta kualitas sumber daya manusia yang rendah, terutama di kalangan generasi muda yang kurang berminat untuk melanjutkan pekerjaan sebagai pengrajin payung Potensi pengembangan Berbasis Tata Ruang Berkelanjutan Payung Geulis adalah salah satu jenis warisan budaya non-benda yang berasal dari Tasikmalaya. Jawa Barat, dengan karakteristik dekoratif yang mencerminkan keindahan serta kebijaksanaan lokal masyarakat Sunda. Keistimewaan estetika dan nilai sejarah dari Payung Geulis menjadikannya sebagai salah satu aset utama dalam sektor ekonomi kreatif yang berbasis budaya. Namun, tantangan dari modernisasi dan globalisasi memerlukan penerapan strategi pengembangan yang tidak hanya fokus pada nilai ekonomi, tetapi juga memperhatikan aspek keberlanjutan dalam ruang, sosial, dan lingkungan. Oleh karena itu, pendekatan yang berlandaskan tata ruang berkelanjutan sangat penting untuk mengintegrasikan perkembangan industri Payung Geulis dalam konteks pembangunan daerah. Salah satu langkah penting adalah dengan menentukan dan mengidentifikasi area khusus dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) untuk dijadikan zona pelestarian budaya serta ekonomi kreatif. Di area ini, kegiatan produksi, pelatihan, dan promosi Payung Geulis dapat dilakukan secara legal dan berkelanjutan, sehingga tidak terpengaruh oleh perubahan fungsi lahan atau tekanan dari pembangunan perkotaan. Dalam konteks ini, kawasan tersebut juga bisa dirancang sebagai tujuan wisata budaya dengan pendekatan pariwisata ramah lingkungan yang menekankan pada pelestarian alam dan partisipasi masyarakat lokal. Pendekatan ini telah diakui oleh sebagai metode yang efektif untuk menggabungkan pelestarian budaya dengan pertumbuhan ekonomi melalui pariwisata yang bertanggung jawab. Selanjutnya, pengembangan Payung Geulis dapat diperkuat dengan memberdayakan komunitas pengrajin melalui pelatihan, akses terhadap modal, serta fasilitas produksi yang berbasis komunitas dan terintegrasi secara spasial. Hal tersebut tidak hanya akan meningkatkan produktivitas, tetapi juga memperkuat jalinan sosial dan ekonomi di tingkat lokal, dalam penelitian mengenai ekonomi kreatif di Indonesia. Penerapan konsep industri kluster dalam zonasi tata ruang akan menghasilkan konsentrasi aktivitas ekonomi yang saling mendukung, baik dari sisi produksi maupun distribusi. Di samping itu, digitalisasi menjadi faktor penting dalam perkembangan yang berkelanjutan. Infrastruktur teknologi informasi, seperti internet dan ruang inkubasi untuk UMKM berbasis digital, dapat menjadi bagian dari perencanaan ruang yang membantu pengrajin untuk memasuki pasar global. Strategi ini sesuai dengan Roadmap Digital Indonesia 2021Ae2024yang menekankan pentingnya digitalisasi untuk mempercepat transformasi sektor UMKM. Dengan dukungan ruang dan infrastruktur yang cukup. Payung Geulis tidak hanya bisa dipertahankan sebagai simbol budaya lokal, tetapi juga berkembang menjadi komoditas ekspor yang bernilai tinggi. Akhirnya, pendekatan tata ruang berkelanjutan dalam pengembangan Payung Geulis sejalan dengan prinsip pembangunan wilayah yang inklusif, partisipatif, dan berdasarkan potensi lokal. Proses pengembangan ini dapat dikawal dengan kerjasama antara pemerintah daerah, akademisi, masyarakat budaya, dan sektor swasta untuk menciptakan sistem yang adaptif serta tangguh terhadap perubahan sosial dan lingkungan. Dengan cara ini. Payung This is an open access article distributed under the Creative Commons Attribution 4. 0 International License Jurnal Regional Planning DOI: 10. 36985/rnd4c221 E Ae ISSN: 2302 Ae 5980 Vol. 7 No 2 Agustus 2025 Geulis tidak hanya bisa menjadi simbol pelestarian budaya, tetapi juga menjadi penggerak bagi pembangunan daerah yang berkelanjutan. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Industri Payung Geulis di Tasikmalaya adalah sebuah warisan budaya yang memiliki nilai estetika tinggi dan juga sangat penting dalam memperkuat ekonomi setempat melalui penciptaan lapangan kerja serta pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah. Meskipun masih tergantung pada sistem produksi rumah tangga dan menghadapi berbagai tantangan terkait legalitas penggunaan ruang serta regenerasi para pengrajin, industri ini berhasil bertahan dan terus berkembang. Agar keberlanjutan dan daya saingnya terjamin, penting untuk mengintegrasikan perencanaan tata ruang dengan menetapkan zona-zona ekonomi kreatif yang sah dan mendukung kegiatan produksi, pelatihan, serta promosi. Pendekatan ruang yang berkelanjutan, inklusif, berbasis komunitas, dan didukung oleh digitalisasi serta kolaborasi antar sektor menjadi kunci untuk memastikan bahwa Payung Geulis dapat tetap terjaga sebagai simbol budaya, sekaligus mendorong pembangunan daerah yang responsif, inovatif, dan berkelanjutan. Saran Berdasarkan hasil studi mengenai integrasi sentra industri Payung Geulis dalam rencana tata ruang wilayah Kecamatan Indihiang, terdapat beberapa saran yang dapat diajukan untuk pengembangan yang berkelanjutan. Pertama, diperlukan penetapan kawasan khusus dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang mendukung keberadaan serta aktivitas sentra industri Payung Geulis sebagai zona pelestarian budaya dan ekonomi kreatif. Hal ini penting untuk memberikan kepastian hukum bagi kelangsungan produksi serta kegiatan pengrajin yang selama ini masih terletak di kawasan organisasi. Dengan adanya zonasi ini, aktivitas industri tidak akan terpengaruh oleh perubahan fungsi lahan dan dapat berkembang dalam suasana yang mendukung bidang infrastruktur dan tata ruang. Kedua, pemerintah daerah harus mendorong pembentukan klaster industri kreatif yang berbasis komunitas, yang tidak hanya menyediakan tempat produksi yang terpadu tetapi juga menjadi pusat pelatihan, pameran, dan promosi. ini harus mampu menyatukan pelestarian budaya dengan penguatan ekonomi lokal. Oleh karena itu, dukungan berupa fasilitas produksi bersama, galeri seni, serta pusat edukasi budaya sangat diperlukan untuk meningkatkan kapasitas dan daya saing para pelaku usaha, khususnya generasi muda yang harus dilibatkan secara langsung dalam proses regenerasi pengrajin Ketiga, strategi digitalisasi perlu diperkuat melalui penyediaan infrastruktur teknologi informasi di kawasan industri Payung Geulis. Pelatihan yang intensif mengenai pemasaran digital, penggunaan media sosial, dan pemanfaatan platform e-commerce harus dimasukkan dalam program pengembangan industri ini. Digitalisasi memberikan kemungkinan untuk menjangkau pasar yang lebih luas, tidak hanya di tingkat lokal, tetapi juga nasional dan internasional, sehingga produk budaya lokal dapat bersaing di pasar global. Keempat, perlu adanya kolaborasi antara berbagai sektor, yaitu pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas budaya, dan pelaku bisnis untuk mendukung industri Payung Geulis. Kerja sama ini untuk memastikan bahwa setiap kebijakan dan program yang dihasilkan bersifat partisipatif, responsif terhadap kebutuhan masyarakat, serta mampu menghadapi This is an open access article distributed under the Creative Commons Attribution 4. 0 International License Jurnal Regional Planning DOI: 10. 36985/rnd4c221 E Ae ISSN: 2302 Ae 5980 Vol. 7 No 2 Agustus 2025 tantangan perubahan sosial dan lingkungan. Pendekatan pembangunan yang inklusif dan fokus pada potensi lokal sangat penting untuk menjaga kelestarian ekonomi kreatif sambil melestarikan warisan budaya Tasikmalaya. Oleh karena itu, sentra pengembangan industri Payung Geulis tidak hanya berfungsi sebagai instrumen ekonomi, tetapi juga merupakan bagian penting dari strategi pembangunan daerah yang memiliki visi budaya, daya saing, dan Ucapan Terima Kasih Ucapan terima kasih penulis ucapkan kepada Ibu Dr. Siti Fadjarajani. Dra. Bapak Cahya Darmawan. , yang telah memberikan bimbingan dan dukungan kepada penulis serta teman-teman yang telah berkontribusi dalam penyusunan artikel ini, sehingga penulis telah menyelesaikan artikel dengan judul AuPeran Sentra Industri Payung Geulis Sebagai Penggerak Ekonomi Lokal Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kecamatan Indihiang Kota TasikmalayaAy DAFTAR PUSTAKA