IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. , 2024, 37-57 Migrasi Sirkuler Sebagai Faktor Determinan Urbanisasi Penduduk Dari Desa Ke Kota Dampak Pekerja Migrasi Sirkuler Terhadap Kesejahteraan Sosial Keluarga Suryani1. Syartiwidya2. Soetji Andari1. Pusat Riset Kesejahteraan Sosial Desa dan Konektivitas. Badan Riset Dan Inovasi Nasional (BRIN) 2 Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Riau e-mail: sury032@brin. Received: 28/08/2024. Revised: 13/12/2024. Accapted: 20/12/2024. Published: 27/12/2024 Abstract This research has a clear focus on identifying the factors driving rural-to-urban migration, particularly in Surabaya City. The method used a qualitative descriptive, the study successfully gathered primary data through interviews and direct observations of 100 migrant labours selected through purposive sampling. The research location was chosen based on the consideration that Surabaya City has a significant population engaged in circular migration. The results indicate that the main factors driving migration are limited employment opportunities and challenges in improving family welfare in rural areas. Respondents, mostly fishermen, choose to migrate to cities hoping to secure higher income and enhance their family's living standards. They believe that cities offer more job opportunities and a modern environment. Efforts to address this migration issue require rural development utilizing PSM and TKSK to provide support and empower communities. With this approach, it is hoped that communities can harness local potentials to meet their daily needs without resorting to urban migration. This proactive step aims to combat the root causes of migration issues persisting in many areas. Keywords: Circular Migration. Determinant Factors. Urbanization Abstrak Penelitian ini memiliki fokus yang jelas dalam mengidentifikasi faktor-faktor yang mendorong migrasi penduduk dari pedesaan ke perkotaan, khususnya di Kota Surabaya. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, sehingga penelitian ini berhasil mengumpulkan data primer melalui wawancara dan observasi langsung terhadap 100 responden buruh migran yang dipilih secara purposive sampling. Lokasi penelitian dipilih dengan pertimbangan bahwa Kota Surabaya memiliki banyak penduduk yang melakukan migrasi sirkuler. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor utama yang mendorong migrasi adalah terbatasnya kesempatan kerja dan sulitnya meningkatkan kesejahteraan keluarga di pedesaan. Responden, sebagian besar adalah nelayan, memilih bermigrasi ke kota dengan harapan mendapatkan pendapatan yang lebih besar dan meningkatkan standar hidup keluarga mereka. Mereka percaya bahwa di kota, peluang kerja lebih banyak dan lingkungan lebih modern. Upaya mengatasi masalah migrasi ini, diperlukan pembangunan di daerah pedesaan dengan memanfaatkan PSM dan TKSK untuk melakukan pendampingan dan pemberdayaan Dengan pendekatan ini, diharapkan masyarakat dapat memanfaatkan potensi lokal untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari tanpa harus bermigrasi ke perkotaan. Ini adalah langkah proaktif untuk memerangi akar permasalahan migrasi yang terus terjadi di banyak wilayah. Kata kunci: Migrasi Sirkuler. Faktor Determinan. Urbanisasi PENDAHULUAN Migrasi merupakan istilah yang perpindahan penduduk suatu tempat ke tempat lain untuk tujuan menetap melalui batas politik, negara maupun batas administrasi, atau batas bagian suatu negara. Migrasi merupakan perpindahan orang atau penduduk dari satu wilayah ke wilayah lainnya, baik dalam jangka waktu sementara atau menetap secara permanen di wilayah tertentu. Migrasi adalah istilah IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. , 2024, 37-57 perpindahan penduduk dari satu tempat ke tempat lain, yang dapat melibatkan batas politik, negara, administrasi, atau bagian suatu negara. Migrasi ini dapat berupa perpindahan orang atau penduduk dari satu wilayah ke wilayah lainnya, baik untuk jangka waktu sementara atau menetap secara permanen di wilayah tertentu. Motivasi migrasi bervariasi dan dapat dipengaruhi oleh faktor ekonomi, sosial, keamanan, serta dampak dari bencana alam. Salah satu dorongan ekonomi utama adalah mencari peluang pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan di wilayah tujuan (Waromi et al. , 2. Migrasi beberapa faktor termasuk aspek ekonomi, sosial, keamanan, dan dampak dari bencana alam. Salah satu dorongan ekonomi yang mendasari migrasi adalah keinginan untuk mencari peluang pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan di daerah tujuan (Waromi et al. , 2. Migrasi internasional terjadi bila penduduk berpindah dari satu negara ke negara lainnya, yang melibatkan perpindahan lintas batas nasional. Orang-orang melakukan migrasi internasional dengan berbagai motivasi, seperti pendidikan, menghindari konflik atau pergesekan, atau untuk tujuan lainnya. Fenomena ini dapat memiliki dampak ekonomi, sosial, dan kultural baik pada negara asal maupun negara tujuan, serta mempengaruhi kehidupan para Migrasi internasional sering kali menjadi isu kompleks yang memerlukan perhatian global dalam penanganan dan pemahamannya (Marsel et al. , 2. Sedangkan migrasi dalam negeri merupakan perpindahan yang terjadi dalam batas wilayah suatu negara, baik antar daerah maupun antar provinsi, seperti urbanisasi dan transmigrasi. Migrasi dijelaskan Undangundang dalam Pasal 1 No. 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian bahwa lalu lintas orang yang masuk atau keluar Indonesia menjaga tegaknya kedaulatan Negara (Azis et al. , 2. Migrasi penduduk pada awal mulanya didominasi oleh non-permanen merupakan migrasi jarak pendek dan untuk waktu yang tidak terlalu lama. Migrasi non-permanen merupakan jenis perpindahan yang umum, di mana individu masih memiliki niat untuk kembali dan menetap di desa Selama mengirimkan sebagian pendapatan desa dalam bentuk remitansi, yang sering dianggap sebagai kontribusi penting untuk kelangsungan hidup di lingkungan pedesaan (Khoiriyah. Pada tahap selanjutnya, migrasi menjadi lebih jauh dan disertai dengan menetapnya di tempat lain. Adanya kemajuan infrastruktur transportasi dan komunikasi, fenomena migrasi non-permanen, bentuk penglaju, kembali memegang peran sentral. Perubahan cepat dalam peningkatan urbanisasi dan migrasi penduduk dari desa ke kota untuk mencari pekerjaan yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dan meningkatkan kesejahteraan dalam Dampaknya peningkatan konsentrasi penduduk, terutama di wilayah perkotaan, yang berkontribusi pada masalah urbanisasi dan memperumit perolehan tenaga kerja di sektor pertanian pedesaan (Wati & Setianto, 2. IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. , 2024, 37-57 Migrasi internasional terjadi ketika penduduk berpindah dari satu negara ke negara lain, melibatkan perpindahan lintas batas nasional. Motivasi untuk migrasi internasional melibatkan berbagai faktor, seperti pencarian pekerjaan, pendidikan, menghindari konflik atau persekusi, atau tujuan lainnya. Fenomena ini memiliki dampak ekonomi, sosial, dan kultural pada negara asal, negara tujuan, dan kehidupan para migran Migrasi internasional sering kali menjadi isu kompleks yang memerlukan perhatian global dalam penanganan dan pemahamannya (Marsel et al. , 2. Sementara itu, migrasi dalam negeri mencakup perpindahan penduduk dalam batas wilayah suatu negara, baik antar daerah maupun antar provinsi, seperti urbanisasi dan transmigrasi. Migrasi sirkuler atau circular migration merupakan perpindahan penduduk dari satu tempat asal ke tempat tujuan yang terjadi berkali-kali . perpindahan penduduk dari desa ke kota yang memiliki tujuan untuk mencari nafkah demi terpenuhi Menurut Mantra sirkuler yaitu: AuMigrasi sirkuler adalah gerak penduduk dari suatu wilayah menuju ke wilayah lain dengan tidak ada niatan menetap di daerah tujuanAy. Warga yang disebut sebagai pekerja migran sirkuler biasanya pergi ke kota menganggap desa sebagai tempat Migrasi mempunyai daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang memiliki masalah dengan keadaan sosial ekonominya, apalagi untuk masyarakat di daerah pedesaan banyak dari mereka yang berpikiran bahwa dengan melakukan migrasi mereka akan sukses dan dapat mencapai kehidupan yang lebih layak. Migrasi ini merupakan pekerjaan rumah yang harus cepat dibenahi oleh pemerintah agar tidak terjadi ke kacauan atau masalah lain yang dapat di timbulkan oleh migrasi tersebut. Migrasi sirkuler adalah perpindahan penduduk dari tempat tinggal asal menuju tempat tujuan yang dilakukan setiap hari pulang pergi untuk melakukan suatu pekerjaan. Sirkuler merupakan gerak penduduk harian yang hampir berulang setiap hari dengan tidak ada niatan untuk menetap di daerah tujuan. Migrasi sirkuler ini juga banyak di lakukan oleh masyarakat di daerah pedesaan dan Sehingga menimbulkan berbagai macam dampak positif dan juga dampak negatif yang perlu ditinjau lebih jauh agar gerak penduduk ini tidak menimbulkan banyak kerugian. Warga desa yang bermigrasi profesional spesifik, terdorong untuk bermigrasi ke kota demi memenuhi kebutuhan fisik mereka. Mereka melakukan migrasi non-permanen bertujuan untuk menetap dari suatu tempat ke tempat lain dalam jangka waktu tertentu, dengan rencana kembali ke daerah asal pada waktu yang ditentukan (Alviora et al. , 2. Mereka beranggapan bahwa di pekerjaan yang lebih besar. Upah rendah yang ada di pedesaan menjadi pendorong migrasi sementara ini, memunculkan masalah perumahan kumuh di perkotaan. Sementara itu, di desa asal, meningkatnya jumlah single parent disebabkan oleh anggota keluarga yang mencari nafkah di kota. Peningkatan IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. , 2024, 37-57 terdidik yang menganggur di pedesaan menciptakan potensi peningkatan tingkat kriminalitas. Sektor informal di kota menjadi daya tarik bagi warga desa yang ingin berkembang di luar sektor pertanian (Setiawan, 2. Era informasi dan komunikasi yang berkembang, diwakili oleh kehadiran TV dan radio di pedesaan, juga memperbesar aspirasi kebutuhan warga desa. Dampak migrasi dari desa ke kota menciptakan lingkungan perkotaan yang semakin kumuh dan Berdasarkan uraian diatas dapat ditarik rumusan masalah faktor-faktor utama yang mendorong warga desa untuk melakukan migrasi sirkuler ke kota, dampak migrasi sirkuler dari desa ke kota terhadap kondisi lingkungan perkotaan, migrasi sirkuler dari desa ke kota mempengaruhi struktur dan dinamika keluarga. Berdasarkan rumusan masalah ini, mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi migrasi sirkuler dari desa ke kota, serta menggali dampaknya secara lebih mendalam pada lingkungan perkotaan dan kesejahteraan keluarga. METODE Penelitian mengungkap penyebab urbanisasi penduduk dari desa ke kota secara deskriptif dengan menggambarkan keadaan dan kondisi yang dialami oleh para urbanisasi. Pada penelitian ini kualitatif yang bersifat penemuan fakta-fakta . act findin. untuk menunjukkan distribusi dan hubungan di antara aspek-aspek yang diselidiki (Mujiburrahmad Penelitian deskriptif adalah suatu bentuk penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan fenomenafenomena tentang migrasi yang terjadi Surabaya, fenomena yang terjadi di perkotaan. Penelitian penyusunan data, juga meliputi analisis dan interpretasi tentang arti data tersebut dalam bentuk studi Data primer diperoleh dari wawancara dan angket terhadap penduduk yang melakukan migrasi dari desa ke kota, sebanyak 100 orang. Teknik pengumpulan data yang dipergunakan adalah . observasi untuk mengamati dan melakukan kegiatan responden . teknik wawancara dengan menggunakan Studi literatur untuk digunakan mengungkap berbagai masalah yang berkaitan dengan urbanisasi diambil dari dokumendokumen di lokasi penelitian yang sedangkan teknik analisa data menggunakan deskriptif kualitatif. HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi Lokasi Penelitian Kota Surabaya merupakan kota industri dan perdagangan dilihat dari prosentase kegiatan ekonomi daerah ini setiap tahunnya. Hasil produksi dan kegiatan ekonomi daerah lebih banyak berada di sektor industri pengolahan. Perdagangan yang meliputi hotel dan restoran merupakan kontributor Surabaya. Jumlah penduduk yang merupakan migran sirkuler terus Data migrasi Indonesia pada tahun 2015 menunjukkan bahwa IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. , 2024, 37-57 sekitar 39,6% dari total migran antarprovinsi memutuskan untuk berpindah karena mencari pekerjaan, sedangkan hanya sekitar 7,5% yang sebagai faktor utama (BPS, 2. Namun, perlu dicatat bahwa data tersebut tidak mencakup informasi tentang mobilitas sirkuler. Hasil Sensus Penduduk 2020 mencatat 668 penduduk atau 11,6 persen Populasi Indonesia memiliki populasi yang tersebar secara merata di berbagai wilayah (Muslich. Hal ini penting untuk layanan publik, karena memastikan bahwa semua wilayah memiliki akses yang sama terhadap fasilitas dan Persentase seumur hidup di daerah perkotaan 5,1 kali lipat lebih besar daripada di daerah perdesaan, masing-masing sebesar 20,4 dan 3,6 persen. Menurut gender, jumlah migran laki-laki lebih banyak daripada migran perempuan. Seks rasio migran adalah 102. Data-data tersebut menunjang teori, bahwa migran lebih banyak di daerah perkotaan dan laki-laki lebih banyak Persentase migran terbesar di Kota Surabaya dan terkecil di Kabupaten Sumenep (Nurmadhani & Faisol. Profil Responden Berdasarkan data hasil penelitian terungkap penduduk yang melakukan migrasi sirkuler dari desa ke kota Surabaya sebagian besar berjenis kelamin laki-laki sebanyak 67 orang . %) sedangkan responden yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 33 orang . %). Sebagian besar migran sirkuler adalah laki-laki, ini dapat mempengaruhi dinamika sosial dan ekonomi di kota Surabaya. Misalnya, dapat meningkatkan permintaan terhadap pekerjaan dan fasilitas publik yang lebih sesuai dengan kebutuhan pria. Data tersebut mengindikasikan bahwa laki-laki maupun perempuan mempunyai hak dan tanggung jawab yang sama, engan memiliki pemahaman yang komprehensif terkait konsep gender, kita dapat menciptakan lingkungan yang mendukung kesetaraan dan menghormati keberagaman antara pria dan wanita (Kartini & Maulana, 2. Data menunjukkan bahwa usia responden yang melakukan migrasi penduduk dari desa ke kota mayoritas responden Hal memiliki semangat tinggi dalam kebutuhan keluarga dapat terpenuhi. Dibawah ini dapat dilihat tabel kondisi responden berdasarkan usia. Tabel 1. Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Usia Responden Tahun Tahun Tahun Tahun Sumber : data Primer n = 100 Data hasil penelitian menunjukkan bahwa 84% dari total responden, yaitu 84 orang, berada dalam rentang usia produktif, yaitu antara 16-46 tahun. Tabel 1 menunjukan, usia responden dengan persentase tertinggi adalah antara 25-36 tahun, dengan 35 orang . %), diikuti oleh usia 16-25 tahun sebanyak 27 orang . %), dan usia 25- IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. , 2024, 37-57 36 tahun sebanyak 22 orang . %). Responden yang berumur 36-45 tahun mencapai 27 orang . %), dan penduduk dengan usia di atas 45 tahun sebanyak 16 orang . %) dari total 100 responden. Perubahan sosial mempengaruhi perilaku, interaksi sosial, sistem kelembagaan, dan lingkungan perkotaan. Migran dari desa ke kota oleh pelaku usia produktif disebabkan oleh keinginan untuk meningkatkan kesejahteraan mereka, karena kehidupan di kota dianggap dengan kehidupan tradisional di desa ( Diah, 2. Mengingat usia produktif diberdayakan secara optimal di daerah asal, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kemajuan daerah asal dalam semua sektor. Oleh karena itu, migrasi penduduk dari desa ke kota dapat ditekan untuk memaksimalkan potensi pengembangan di daerah asal . e Haas, 2. Pendidikan merupakan hal yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan dalam segala hal termasuk di dalamnya pada sektor Secara lengkap data pendidikan responden adalah sebagai Tabel 2. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pendidikan Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat D3/Akademi Sumber: Data primer, n = 100. Tabel 2 menampilkan tingkat pendidikan responden di lokasi Persentase didominasi oleh 36 orang . %) yang memiliki latar belakang pendidikan Sekolah Menengah Umum (SMU), diikuti oleh 35 orang . %) yang berpendidikan Sekolah Dasar (SD). Sementara itu, 26 orang . %) memiliki pendidikan tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan hanya 3 orang . %) memiliki pendidikan Data mengungkapkan bahwa sebanyak 61 orang . %) dari total responden memiliki pendidikan mulai dari SD hingga SMP, menunjukkan tingkat pendidikan yang rendah di kalangan pekerja migran. Hal ini dapat dipersepsikan sebagai akibat dari tingginya jumlah keluarga miskin di Kekurangan kepastian ini berdampak pada masalah jumlah angkatan kerja di berbagai desa, yang dapat mempengaruhi perusahaanperusahaan (Sembiring & S. Kom. Apabila perkawinan para migran sirkuler, terungkap bahwa sebagian besar, 68 orang . %) tidak kawin/belum Hal ini disebabkan, salah satunya karena adanya kontrak kerja mensyaratkan untuk tidak kawin sebagaimana yang dilaksanakan oleh berbagai perusahaan di Surabaya. Sebagian besar berdomisili didaerah Rungkut, dengan status kawin sebanyak 40 orang . %) mereka adalah penduduk migran sirkuler yang bekerja sebagai nelayan musiman di Kalurahan Kenjeran dan bermata pencaharian sebagai pemulung barang rongsok di Kembang putih. Selanjutnya jika IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. , 2024, 37-57 ditinjau status perkawinan para responden, terungkap yang berstatus janda dan duda jumlahnya hanya 2 orang . %). Data di atas menunjukkan bahwa sebagian besar buruh pabrik terikat oleh perjanjian kontrak kerja selama 2 tahun yang melarang mereka menikah. Meskipun demikian, ada juga pekerja migran yang belum menikah namun merasa bertanggung jawab untuk mengirim sebagian penghasilannya ke daerah asal guna membantu biaya sekolah saudara mereka. Hal ini seringkali menjadi alasan mereka menunda pernikahan. Data tersebut menyiratkan bahwa sebagian besar tanggungan keluarga, namun mereka memiliki motivasi dan semangat untuk bekerja, yang bisa menjadi potensi untuk pengembangan daerah asal Dengan demikian, mereka tidak perlu bermigrasi ke kota untuk mencari pekerjaan, sehingga dapat tinggal bersama keluarga atau orang tua mereka. Selain itu, hal tersebut juga dapat membantu menekan pertumbuhan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang sering kali muncul akibat dampak dari migrasi pekerja. Data ini diperkuat oleh jumlah tanggungan para migran, di mana 50 orang . %) dari total 100 responden memiliki tanggungan 1-2 orang. Mayoritas dari mereka adalah keluarga muda yang memiliki seorang istri dan satu anak, mirip dengan kebanyakan pekerja migran di kota Surabaya. Sementara itu, ada 18 orang . %) responden yang memiliki 3-5 anak, dan 13 orang . %) memiliki tanggungan lebih dari 5 orang. Mayoritas dari mereka yang memiliki tanggungan lebih dari 5 orang bekerja di sektor informal atau sebagai nelayan di sepanjang pantai Kenjeran Data di atas menunjukkan bahwa mayoritas buruh pabrik merupakan pekerja yang terikat oleh kontrak kerja selama dua tahun yang melarang mereka menikah. Namun, terdapat juga pekerja migran yang belum menikah tetapi merasa berkewajiban saudarasaudaranya di daerah asal, sehingga Informasi ini mengindikasikan bahwa tanggungan keluarga, namun memiliki semangat dan motivasi untuk bekerja, yang bisa menjadi potensi untuk mengembangkan daerah asal mereka. Hal ini dapat mengurangi kebutuhan mereka untuk bekerja di kota, sehingga mereka dapat tinggal bersama keluarga atau orang tua mereka. Selain itu, hal ini juga dapat membantu Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang muncul akibat migrasi. Data ini didukung oleh fakta bahwa sebagian besar responden memiliki tanggungan keluarga, dengan 50% dari jumlah tanggungan, yang umumnya adalah pasangan dan satu anak, mirip dengan mayoritas pekerja migran di Surabaya. Sementara itu, 18% dari responden memiliki 3-5 anak, dan 13% memiliki tanggungan 5-7 orang. Migran yang memiliki tanggungan lebih dari lima orang umumnya bekerja di sektor informal atau sebagai nelayan di sepanjang pantai Kenjeran. Meskipun belum menikah, mereka tetap memiliki mengirimkan uang secara berkala untuk biaya pendidikan saudara mereka di daerah asal. IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. , 2024, 37-57 Kondisi tersebut mengungkapkan bahwa tingkat kesejahteraan keluarga atau saudara di daerah asal masih terbilang kurang memadai. Pekerja migran sirkuler memiliki peran membentuk jalur pekerjaan mereka, termasuk pengelolaan keuangan dan implikasi yang mungkin timbul, baik secara individual maupun pada tingkat (Yulianto & Furqan, 2. Hal ini disebabkan oleh situasi di pedesaan tempat pekerja migran berasal, yang masih terisolasi atau jauh dari pusat aktivitas ekonomi yang menjadi pusat pasar tenaga kerja. Pendapatan yang mereka dapatkan juga rendah, sehingga tidak mencukupi kebutuhan dasar mereka dengan layak. Dari 100 responden, terungkap bahwa 9 orang . %) pekerja migran sirkuler tidak memiliki tanggungan keluarga, dan banyak di antara mereka bekerja untuk mendapatkan pengalaman, serupa dengan beberapa penjaga toko. Analisis asal daerah para migran sirkuler menunjukkan bahwa mereka berasal dari kabupaten-kabupaten yang berdekatan dengan Surabaya. Ini disebabkan oleh pembangunan yang masih terbatas di berbagai sektor di daerah mereka, sehingga sulit untuk menyediakan lapangan kerja yang Migran sirkuler memiliki tiga keuntungan, yang bermanfaat bagi daerah tujuan, asal, dan diri mereka sendiri, dan merupakan mekanisme utama untuk memperoleh manfaat (Wickramasekara, 2. Sebagian besar migran bekerja sebagai nelayan, awalnya di Kabupaten Pasuruan dan Bangkalan Madura. Namun, karena merasa pendapatan mereka kurang mencukupi, mereka memutuskan untuk bermigrasi ke Surabaya dan menetap sementara di Kenjeran. Mereka berpendapat bahwa di Surabaya, pendapatan mereka lebih tinggi daripada saat mereka bekerja di Pasuruan, karena nelayan di Kenjeran mendapat dukungan dari pemilik perahu atau pedagang ikan. Mereka juga memiliki akses kepada kredit melalui koperasi nelayan atau berbagai bank pemerintah. Dengan akses ini, mereka dapat membeli perahu motor untuk meningkatkan penghasilan mereka dan pulang ke daerah asal setiap dua bulan sekali. Para nelayan tersebut berasal dari berbagai kabupaten di sekitar Kota Surabaya, seperti Jombang dan Gresik. Mereka mencari penghasilan di Kota Surabaya karena merasa dapat menghasilkan lebih banyak daripada di daerah asal. Namun, pembangunan Jembatan Suramadu menyebabkan penurunan penghasilan mereka, karena jumlah tangkapan ikan menurun akibat terhambatnya arus laut oleh jembatan tersebut. Situasi ini mengindikasikan bahwa pembangunan di Provinsi Jawa Timur belum merata. Hal ini mendorong meningkatnya tingkat migrasi nelayan dari daerah asal ke Kota Surabaya (Sartika & Adrison, 2. Ketika dianalisis dari tempat tinggal para migran, sebagian besar dari mereka memiliki tanah atau pekarangan di daerah asal, sementara di Surabaya mereka tinggal di kos atau kontrakan. Migran sirkuler di Surabaya biasanya bekerja sebagai buruh pabrik di Kecamatan Rungkut atau sebagai nelayan di Kecamatan Kenjeran. Selain itu, ada juga migran dari Mojokerto dan Jombang yang menjadi pengepul barang rongsok di Kecamatan Sukolilo, dan mereka biasanya tinggal di lahan bekas kuburan. Mereka pulang ke daerah asalnya setiap bulan. Para IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. , 2024, 37-57 pengepul barang rongsok dari Mojokerto dan Jombang memiliki tanah dan sawah, dan sebagian besar dari mereka bekerja di sektor Ketika musim tanam, mereka kembali ke daerah asal untuk menggarap sawah, dan selama menunggu masa panen, mereka bermigrasi sirkuler ke Kota Surabaya untuk mencari tambahan penghasilan di sektor informal seperti menjadi tukang becak atau penjual bakso. Hal ini menguatkan asumsi bahwa migrasi mereka dipengaruhi oleh faktor Data mengenai kepemilikan tanah secara lengkap adalah sebagai Tabel 3. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Kepemilikan Pekarangan/Sawah/Perkebunan Responden di Daerah Asal 0-250 M2 251 - 500 M2 >500 M2 Tidak memiliki Sumber: Data primer, n = 100 Tabel 3 diatas menunjukkan bahwa dari lokasi penelitian Kota Surabaya sebagian besar responden di daerah . ekarangan/sawah/perkebuna. , yakni ada 73 orang atau . %) dari 100 orang responden. Data hasil penelitian terungkap, bahwa sebagian besar pekerja migran tidak dapat hidup layak, dan kondisi keluarga kurang sejahtera secara ekonomi. Terdapat 18 orang . %) yang memiliki tanah 0-250 m2, kemudian 5 orang . %) memiliki tanah 251-500 m2, dan 4 orang . %) memiliki tanah lebih dari 500 m2 data tersebut menunjukan hanya sebagian kecil responden yang memiliki tanah di daerah asal, kebanyakan mereka adalah migran yang bekerja sebagai petani atau buruh tani. Apabila musim tanam belum tiba mereka mengisi waktu luang mereka sebagai buruh migran di Kota Surabaya sebagai pekerja informal, jika musim tanam dan panen tiba mereka bekerja sebagai Disamping pekerja sektor informal terdapat pula, pekerja migran sirkuler yang beralih profesi menjadi nelayan, padahal semula mereka Kondisi determinan terjadinya migrasi sirkuler dari desa menuju kota. Adapun alasan yang mereka kemukakan adalah penghasilan di desa tidak mencukupi karena belum/tidak ada uang untuk menyekolahkan anak dan membeli Hal ini terjadi karena sumber daya di pedesaan kurang kekurangan prasarana fisik di Faktor lain yang memicu migrasi adalah kemajuan teknologi, dimana sumber daya manusia di pedesaan tidak dapat diserap oleh sektor industri, hal ini disebabkan sumber daya manusia di pedesaan tidak memiliki keterampilan yang dibutuhkan oleh pasar kerja di perkotaan, sehingga kurang mampu menghadapi arus era pasar bebas. Akhirnya tingkat pengangguran di pedesaan makin meningkat. Realitas IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. , 2024, 37-57 menunjukan adanya ketimpangan daerah asal dengan daerah tujuan migran, menjadi pendorong para pekerja migran untuk mengadu nasib di daerah lain. Selain itu para pekerja migran dari desa ke kota, ternyata bukan saja untuk menaikkan cash income semata- mata, tetapi juga ada kepentingan lain untuk menaikkan posisi individu terhadap kelompok Pada masyarakat pedesaan di Indonesia, yang masih memiliki kekerabatan yang kuat, terungkap bahwa migrasi merupakan cara untuk menaikkan posisi keluarga terhadap Apabila dikaji dari pekerjaan responden di Kota Surabaya, daerah yang menjadi tujuan migran, data hasil penelitian terungkap bahwa pekerjaan responden mayoritas di sektor swasta dan kemudian urutan yang kedua mereka bekerja sebagai buruh. Kondisi demikian sebagai dampak dari pendidikan mereka yang kurang baik, pekerjaan yang layak dan tentunya mereka mendapatkan gaji yang kurang layak pula. Apabila ditinjau dari pekerjaan, pekerja migran di daerah tujuan terungkap 58 orang . %) bekerja sebagai pedagang yang bergerak di sektor informal, . enjual bakso, warung kelontong, atau sebagai penjual kaki lim. selanjutnya 28 orang . %) bekerja sebagai buruh pabrik dan pembantu rumah tangga di Surabaya Kecamatan Rungkut, kemudian 13 orang . %) bekerja disektor swasta. Data di atas terungkap pula bahwa para pekerja migran tersebut, adalah warga desa yang berada dalam Hal ini terjadi karena ekonomi pedesaan bersifat sub sistem tradisional yaitu memenuhi kebutuhan hidup mereka dengan bergantung pada sumber daya alam, tidak menganut sistem ekonomi pasar. Selain itu kebanyakan investasi industri dan jasa lebih banyak di kota. Sumber daya manusia di pedesaan pekerjaan, sebab tenaga kerja di produktivitasnya rendah dengan pengurangan jam kerja. Akhirnya berdampak pada rendahnya output . dampaknya adalah makin tingginya angka pengangguran di Situasi yang demikian menjadi penyebab terjadinya stres pada seseorang, disebabkan karena tuntutan kebutuhan ekonomi, sosial, maupun psikologis. Jika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi maka ada pemikiran untuk berpindah ke daerah lain agar kebutuhannya terpenuhi. Tetapi hal ini juga dipengaruhi oleh kondisi stres yang dialami seseorang, apabila stres seseorang tidak terlalu besar atau masih dalam batas-batas toleransi orang tersebut tidak akan melakukan migrasi. Perpindahan pekerjaan sangat di pengaruhi oleh sikap pribadi seseorang maupun faktor-faktor daerah asal, seperti halnya pekerja migran di Kota Surabaya yang berasal dari daerah secara geografis kurang subur. Mereka beranggapan bahwa di Kota Surabaya akan lebih menguntungkan sehingga dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya untuk keluarga yang Pekerja migran yang semula sebagai petani, setelah di daerah tujuan beralih sebagai nelayan yang berdomisili di Kecamatan Kenjeran, dan para pengepul barang rongsokan, dan penjual makanan di Kec Sukolilo, terdapat beberapa orang diantara para pekerja migran, yang bekerja paruh waktu. Mereka memiliki tanah pertanian di daerah asalnya, jika IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. , 2024, 37-57 musim tanam mereka bekerja sebagai petani mengerjakan lahan. Selama menunggu sampai saat panen mereka bermigrasi ke Kota Surabaya beralih profesi dari petani menjadi nelayan atau bekerja di sektor informal. Selain itu data diatas dapat dikaji lebih lanjut tampak gerak migrasi penduduk bukan hanya karena perbedaan pertumbuhan dan fasilitas ekonomi antara desa dan kota, namun juga disebabkan hal-hal yang berkaitan dengan perubahan sosial dalam kehidupannya sehari- hari, terjadi ketimpangan dalam proses perubahan antara masyarakat desa dan kota. Adapun alasan mereka meninggalkan daerah asalnya, karena mereka ingin melihat kota yang dianggapnya indah dan lebih modern. Oleh sebab itu migrasi penduduk dapat merupakan jembatan modernisasi pedesaan. Pelaku migrasi . atau migran mempunyai peranan yang sangat besar, sebagai sumber informasi yang cukup effektif mengenai seluk beluk kehidupan serta kemajuan kota. Lebih dari itu para migran tersebut dianggap oleh orang di desanya, sebagai model kemajuan yang ditiru oleh orang-orang yang ada di desa. Hasil kajian mengenai penghasilan keluarga para migran, merupakan, faktor yang penting pula penduduk dari desa ke kota. Tabel 4. Distribusi Frekuensi Tingkat Penghasilan Responden Sumber: Data primer n = 100 Berdasarkan Tabel 4 dapat dilihat dari aspek tingkat penghasilan responden terungkap persentase berpenghasilan antara Rp 1000. 000 sebesar 30 orang . %), . %) berpenghasilan Rp 500. per bulan, selanjutnya terdapat pula responden sebanyak 20 orang . %) responden yang berpenghasilan lebih dari Rp 1. 000, kemudian 11 orang . %) berpenghasilan Rp 1. Kemudian 11 orang . %). Rp 1501. 000,- Persentase terendah 10% . adalah migran sirkuler yang Rp 751. 000,- . Data hasil penelitian terungkap 71 orang . %) para pekerja migran tersebut, di daerah tujuan migran berpenghasilan antara lebih dari Rp 751. 000 sampai dengan lebih dari Rp 1. 000,- per bulan. Apabila dikaji dari aspek penghasilan responden, sebagian besar sudah meningkat penghasilannya, melebihi pada saat mereka bekerja di desanya, tetapi karena kebutuhan hidup di kota penghasilan tersebut dirasa masih kebutuhannya, sebab untuk menyewa rumah dan tempat tinggal di kota sangat mahal. Disamping itu mereka memiliki tanggungan keluarga di daerah asal, penghasilan tersebut masih kurang mencukupi maka wajar jika mereka tinggal pada tempat yang tidak layak, seperti halnya di Kelurahan Putat jaya. Kecamatan Sawahan. Kota Surabaya, mereka bermukim di pemakaman umum. Hal ini terjadi karena penghasilan yang diterima sangat rendah, sehingga mereka bermukim ditempat yang tidak Kondisi tersebut, merupakan IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. , 2024, 37-57 dampak dari rendahnya tingkat pendidikan mereka, akhirnya mereka menerima upah yang kurang memadai. Faktor Penyebab Migrasi dari desa ke kota Fenomena migrasi penduduk dari desa ke kota secara lengkap yang dikaji dari berdasarkan faktor penyebab migrasi penduduk dari desa ke kota sebagai Tabel 5 Distribusi Frekuensi Faktor Penyebab Migrasi Sirkuler Penduduk di Surabaya Sumber data N=100 Tabel 5. di atas menunjukkan bahwa dari tiga lokasi penelitian faktor dinyatakan bahwa penghasilan tidak kebutuhan hidup di daerah asal yakni ada 50 orang . %), sehingga pemenuhan kebutuhan hidupnya tidak terpenuhi yang pada akhirnya mereka bermigrasi secara sirkuler dari desanya ke kota Surabaya. Selanjutnya 28 orang . %) menyatakan mereka berpindah ke kota karena tidak tersedianya lapangan kerja di desanya, dan memilih untuk pergi dari desa dan merantau ke kota, selain itu pekerjaan yang ditawarkan di desa kebanyakan harus dilakukan dengan cukup berat namun tak sebanding dengan hasil yang mereka dapatkan. Selain itu terdapat pula 15 orang . %) pekerja migran yang mengemukakan ingin mencari pengalaman kerja dan harapan untuk dapat meningkatkan pernyataan tersebut di sampaikan oleh para pekerja migran yang masih Tujuh orang . %) migran sirkuler mengatakan bahwa tidak tersedia lapangan kerja, akibat menyempitnya lahan pertanian, daya dukung lingkungan yang tidak memadai, dan juga berkurangnya tenaga muda untuk terjun di bidang pertanian karena memerlukan tenaga yang besar dan daya tukar rendah dari hasil pertanian sehingga menyebabkan pergi dari desa ke kota. Kondisi demikian pihak-pihak terkait perlu memperhatikan yang serius untuk menciptakan lapangan kerja di daerah sehingga pekerja migran tidak melakukan migrasi dan dapat membangun serta memajukan daerahnya masing-masing. Disamping dapat mengurangi migrasi dan pembangunan dapat merata. Upaya yang diperlukan adalah memanfaatkan sumber daya alam, maupun sumber daya manusia di daerah asal melalui fasilitas pendidikan dan keterampilan yang memadai. Kemudian penyebab yang menonjol lainnya adalah faktor tuntutan ekonomi dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari yang lebih baik. Situasi yang demikian merupakan langkah nyata untuk perekonomian masyarakat serta dapat sebagai pengambil kebijakan oleh pihak-pihak terkait baik tingkat daerah maupun ditingkat pusat. IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. , 2024, 37-57 Permasalahan migrasi penduduk Kota Surabaya juga dipicu oleh, adanya sikap kebanggaan tersendiri dari warga desa yang bermukim di perkotaan selain faktor ekonomi, yakni perilaku yang menunjukan keinginan Biasanya para migran kehidupan barunya di perkotaan, serta berharap agar dirinya tidak dianggap ketinggalan zaman. Jika nantinya pulang ke kampung atau ke daerah asal, kemungkinan besar mengubah tingkah lakunya yang asli dengan pengalaman yang baru di kota, dengan memandang dirinya lebih maju. Sikap tersebut dimanifestasikan dalam kebiasaan berpakaian, pembelian perabot rumah tangga, serta sikap bergaul dengan sesama warga masyarakat di kampung daerah Hal tersebut tidak lepas, dari perkembangan atau kemajuan desa pada kehidupan kota. pekerja migran pulang ke daerah asal, dengan persentase terbesar 30 orang . %) menyatakan tinggal di kota selama 15 hari sampai satu bulan. Mereka adalah responden migran sirkuler yang bermukim di kota Surabaya, berasal dari daerah di sekitar kota Surabaya, sehingga jarak daerah asal dengan kota Surabaya relatif lebih dekat, mereka bekerja sebagai pembantu rumah tangga, atau bekerja sebagai pedagang disektor informal . engepul rosok, pedagang asongan dan sebagainy. Pada umumnya para migran tersebut cenderung memilih kota terdekat, mereka memilih daerah dimana teman atau sanak saudaranya bertempat tinggal di daerah tujuan migran selama 1-2 bulan sebanyak 27 orang . %) menyatakan tidak menentu pulang ke daerah asal. Hal ini dipengaruhi oleh makin majunya teknologi informasi, sehingga tanpa kehadiran secara fisik, para pekerja migran di kota lokasi mereka bekerja, dapat menyampaikan informasi melalui telpon seluler. Kemudian 25 orang . %) pulang antara 3-6 bulan mereka adalah para Tabel 6. migran yang bekerja sebagai buruh Distribusi Frekuensi Tenggang Waktu Pekerja pabrik dan nelayan di Surabaya, dan Migran Sirkuler Tinggal di Kota migran pulang ke rumah lebih dari 6 bulan sekali terdapat terdapat 12 orang . %), mereka bekerja sebagai 15 hari 1 bulan buruh kontrak bangunan yang tidak memiliki waktu libur yang panjang 1-2 bulan untuk pulang ke desa. 3-6 bulan Aspek-Aspek Penyebab Migrasi Sirkuler dari Desa ke Kota > 6 bulan Sumber: Data primer n = 100 Melihat data pada tabel 6 terungkap bahwa, sebagian besar para Implikasi perubahan dalam aspek persebaran harus dikelola dengan keseimbangan antar daerah dan Transisi migrasi tidak selalu bersifat jangka pendek, dengan IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. , 2024, 37-57 penduduk perkotaan yang semakin menyebar ke daerah pinggiran dan perkotaan kecil. Masyarakat perkotaan cenderung tinggal di daerah yang pedesaan yang kini berkembang menjadi masyarakat maju. Migrasi ulang-alik menjadi cepat sebagai ciri gaya hidup dinamis masyarakat Perubahan struktur sosial masyarakat dan pola migrasi saling mempengaruhi, dengan perubahan migrasi yang dapat secara perlahan mengubah struktur sosial dalam suatu komunitas atau kelompok sosial yang berbeda (Umanailo, 2. Pola pikir ini memengaruhi tindakan dan keputusan warga masyarakat desa dalam kehidupan sehari-hari. Migrasi dibedakan antara migrasi penduduk vertikal dan migrasi penduduk Migrasi penduduk vertikal ini sering disebut dengan perubahan status, dan salah satu contohnya adalah perubahan status pekerjaan. Seseorang yang mula-mula bekerja dalam sektor pertanian sekarang berubah bekerja dalam sektor Migrasi penduduk horizontal, atau sering pula disebut dengan migrasi penduduk geografis, adalah gerak . penduduk yang melintasi batas wilayah menuju ke wilayah lain dalam periode waktu Penggunaan batas wilayah dan waktu untuk indikator migrasi penduduk horizontal ini mengikuti paradigma ilmu geografi yang mendasarkan konsepnya atas wilayah dan waktu . pace and time concep. (Balk et al. , 2. Batas wilayah kabupaten, kecamatan, kelurahan, atau pedukuhan . Kalau dilihat dari ada tidaknya niatan untuk menetap di daerah tujuan, migrasi penduduk dapat pula dibagi menjadi dua, yaitu migrasi penduduk permanen atau migrasi dan migrasi penduduk Jadi, migrasi adalah gerak penduduk yang melintas batas wilayah asal menuju ke wilayah lain dengan ada niatan menetap di daerah Sebaliknya, migrasi penduduk nonpermanen ialah gerak penduduk dari suatu wilayah ke wilayah lain dengan tidak ada niatan menetap di daerah tujuan (Dustmann & Gyrlach. Migrasi penduduk dari daerah asal ke daerah tujuan terjadi karena terbatasnya peluang kerja dan fasilitas pendidikan di daerah asal. Untuk mengatasi masalah ini, diterapkan migrasi penduduk nonpermanen, yang dapat berupa komutasi pulang pergi atau tinggal sementara di daerah tujuan. Migrasi penduduk umumnya dipicu oleh faktor ekonomi, sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas hidup. Kondisi ketimpangan sumber daya alam, manusia, dan pembangunan juga mempengaruhi migrasi penduduk. Implementasi Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah akan memberikan dampak signifikan terhadap pola migrasi internal di Indonesia, termasuk migrasi dari desa ke kota. Faktorfaktor seperti jarak, biaya, dan pergerakan penduduk. Jarak dan biaya seringkali berhubungan, di mana mempengaruhi jarak sebagai fungsi Arah migrasi dipengaruhi oleh kondisi sosial-ekonomi di desa asal dan informasi tentang daerah tujuan, yang sering diperoleh dari migran yang sudah menetap di kota. Faktor jarak juga memainkan peran penting. IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. , 2024, 37-57 dengan migrasi permanen cenderung terjadi pada jarak yang jauh antara desa dan kota tujuan, sedangkan migrasi sementara atau ulang-alik lebih mungkin terjadi pada jarak yang lebih dekat. Menurut pendapat Ravenstein . , secara singkat perilaku migrasi penduduk disebut dengan hukumhukum migrasi penduduk, para migran cenderung memilih tempat terdekat sebagai daerah tujuan. Mekanisme motivasi untuk mengatur perilaku penyelesaian konflik sebagai alat utama untuk mengatur perilaku migrasi penduduk (Semykina et al. Faktor kesulitan mencari pekerjaan di daerah asal dan peluang pekerjaan yang lebih baik di daerah tujuan. Daerah tujuan harus menawarkan nilai kefaedahan yang lebih tinggi. Berita dari keluarga atau teman yang telah berpindah juga berpengaruh signifikan. Informasi negatif dari daerah tujuan dapat mengurangi niat migrasi. Pengaruh urbanisasi dan pendapatan yang tinggi mempengaruhi tingkat migrasi. Migran cenderung memilih daerah di mana teman atau keluarga mereka telah Pola migrasi sulit diprediksi dan dipengaruhi oleh peristiwa mendadak seperti bencana alam. Penduduk muda, belum menikah, dan berpendidikan tinggi cenderung lebih sering bermigrasi (Unver, 2. Data tentang migrasi penduduk sirkuler sulit diperoleh karena pelaku migrasi Dampak Sosial Migrasi Penduduk dari Desa ke Kota Dampak dari migrasi penduduk sangat kompleks baik terhadap daerah asal atau kota yang menjadi sasaran tujuan migrasi penduduk. Dampak secara negatif migrasi penduduk mempengaruhi atau melemahkan nilai-nilai sosial budaya yang ada di daerah asal. selain itu cenderung memicu terjadinya konflik antar perbedaan suku dan sosial budaya, sangat potensial untuk menuju pada disintegrasi sosial (Saefullah, 2. Dampak yang terjadi di kota tujuan migrasi antara lain meningkatnya jumlah penduduk yang tidak sesuai perkampunganperkampungan kumuh, meningkatnya kriminalitas dan kerusakan di kotakota besar maupun dampak sosial yang Pendatang atau para urban di perkotaan akan memicu terjadinya integrasi sosial yang baik antara pendatang dan penduduk lokal (Heath & Schneider, 2. Persaingan untuk pekerjaan dan sumber daya dapat memicu konflik. yaitu pendatang yang berurbanisasi ke kota, namun tidak menjadi orang kota, mereka tetap masih berpola pikir tradisional, tidak memiliki pola pikir orang kota. Akhirnya para migran sirkuler tersebut menampilkan diri menjadi orang marjinal seperti halnya, gelandangan pengemis, pemukiman kumuh, makin meningkat pula masalah sosial di perkotaan (Ni Made & Ni Ketut, 2. Kesempatan kerja yang makin langka di pedesaan, akhirnya memaksa banyak warga pedesaan yang keluar dari sektor pertanian dan bekerja di sektor non pertanian. Makin buruknya kondisi desa, sehingga makin tidak memberikan harapan bagi warganya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. , 2024, 37-57 Akhirnya mereka melakukan migrasi secara sirkuler di perkotaan. Dampak dari migrasi tersebut adalah terjadinya urbanisasi di perkotaan, dampak dari urbanisasi tersebut menimbulkan gejala inkapsulasi, para migran sirkuler tersebut tidak menjadi orang kota, tetapi tetap membawa latar . Hal ini menimbulkan Kota dipandang sebagai inefisien dan artificial proses Aupseudo-urbanisastionAy. Sehingga dependen terhadap pertumbuhan Dampak negatif lainnya yang ditimbulkan oleh tingginya arus urbanisasi terjadi karena adanya daya tarik . ull factor. dari perkotaan dan dorong . ush factor. dari Faktor pendorong dari desa yang menyebabkan terjadinya Terbatasnya kesempatan kerja atau lapangan kerja di desa (Yazid, 2. Tanah pertanian di desa banyak yang sudah tidak subur atau mengalami Kehidupan pedesaan lebih monoton tidak berubah daripada di Fasilitas kehidupan kurang tersedia dan tidak memadai karena upah kerja di desa rendah. Serta timbulnya bencana desa, seperti banjir, gempa bumi, kemarau panjang, dan wabah penyakit. Faktor penarik masyarakat desa pindah ke kota yang menyebabkan terjadinya urbanisasi sebagai berikut: Kesempatan kerja lebih banyak dibandingkan dengan di desa, mendapatkan upah kerja tinggi. Tersedia beragam fasilitas kehidupan, seperti fasilitas pendidikan, kesehatan, transportasi, rekreasi, dan pusat-pusat Kota sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, ilmu pengetahuan, dan teknologi (Sudrajat et al. , 2. Dampak urbanisasi bagi kota terbagi menjadi dua, yaitu dampak positif dan dampak negatif. Dampak positif urbanisasi bagi kota adalah kebutuhan akan tenaga kerja. Semakin berkualitas, kondisi di perdesaan dapat semakin maju dan berprestasi (Rijal & Tahir, 2. Di sisi lain, dampak negatif urbanisasi bagi kota melibatkan beberapa aspek seperti peningkatan tingkat pengangguran, pembentukan gubuk-gubuk liar di tengah-tengah kota. Selain itu, urbanisasi juga dapat mengakibatkan peningkatan kemacetan lalu lintas, praktik pelacuran, perjudian, dan munculnya berbagai masalah sosial lainnya (Liang et al. , 2. Semakin Pertambahan penduduk kota yang begitu pesat, sudah sulit diikuti kemampuan daya dukung kotanya. Saat ini, lahan kosong di daerah perkotaan sangat jarang ditemui. Ruang untuk tempat tinggal, ruang kendaraan, dan tempat parkir sudah sangat minim. Bahkan, lahan untuk Ruang Terbuka Hijau (RTH) pun sudah tidak ada lagi. Lahan kosong yang terdapat di daerah perkotaan telah banyak dimanfaatkan oleh para urban perdagangan, dan perindustrian yang legal maupun ilegal. Bangunanbangunan yang didirikan untuk perdagangan maupun perindustrian umumnya dimiliki oleh warga Selain itu, para urban yang tidak memiliki tempat tinggal biasanya IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. , 2024, 37-57 menggunakan lahan kosong sebagai pemukiman liar mereka. hal ini menyebabkan semakin minimnya lahan kosong di daerah perkotaan. Masyarakat yang melakukan urbanisasi baik dengan tujuan mencari pekerjaan maupun untuk memperoleh kendaraan sehingga dapat menambah polusi udara. Pertambahan kendaraan bermotor roda dua dan roda empat yang membanjiri kota yang terus menerus, menimbulkan berbagai polusi atau pencemaran seperti polusi udara dan kebisingan atau polusi suara bagi telinga manusia. Ekologi di daerah kota tidak lagi terdapat keseimbangan yang dapat menjaga keharmonisan lingkungan perkotaan. Para urban yang tidak memiliki pekerjaan dan tempat tinggal biasanya menggunakan lahan kosong di pusat kota maupun di daerah pinggiran Daerah Aliran Sungai (DAS) untuk mendirikan bangunan liar baik untuk pemukiman maupun lahan berdagang Hal ini tentunya akan membuat lingkungan tersebut yang menyerap air hujan justru menjadi penyebab terjadinya banjir. Daerah Aliran Sungai sudah tidak bisa menampung air hujan lagi yang dapat menyebabkan bencana alam. Kepergian penduduk desa ke kota untuk mengadu nasib tidaklah menjadi masalah apabila masyarakat mempunyai keterampilan tertentu yang dibutuhkan di kota. Namun, kenyataannya banyak diantara mereka yang datang ke kota tanpa memiliki keterampilan kecuali bertani (Lumi et , 2. Oleh karena itu, sulit bagi mereka untuk memperoleh pekerjaan yang layak. Mereka terpaksa bekerja sebagai buruh harian, penjaga malam, pembantu rumah tangga, tukang becak, masalah pedagang kaki lima dan pekerjaan lain yang sejenis. Hal ini akhirnya akan meningkatkan jumlah menimbulkan kemiskinan dan pada akhirnya kurang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, orangAeorang kejahatan seperti mencuri, merampok Ada masyarakat yang gagal memperoleh tunakarya, tunawisma, dan tunasusila. Padatnya penduduk di kota menyebabkan kemacetan dimanamana, ditambah lagi arus urbanisasi yang makin bertambah. Para urban yang tidak memiliki tempat tinggal maupun pekerjaan banyak mendirikan pemukiman liar di sekitar jalan, sehingga kota yang awalnya sudah macet bertambah macet. Apalagi para migran tersebut kebanyakan adalah kaum miskin yang tidak mampu untuk membangun atau membeli perumahan yang layak bagi mereka sendiri. Akibatnya timbul perkampungan kumuh dan liar di tanah Ae tanah pemerintah (Melnikov et al. , 2. Kesempatan bekerja yang makin langka di pedesaan, akhirnya memaksa banyak warga pedesaan yang keluar dari sektor pertanian dan bekerja di sektor non pertanian. Makin buruknya kondisi desa, sehingga makin tidak memberikan harapan bagi warganya untuk memenuhi kebutuhan (Zimmermann. Mereka akhirnya melakukan migrasi sirkuler di perkotaan. Dampak dari Efek urbanisasi ini mengakibatkan mereka akhirnya melakukan migrasi sirkuler di perkotaan. Dampak dari migrasi ini adalah terjadinya urbanisasi di Efek urbanisasi ini IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. , 2024, 37-57 mengakibatkan munculnya gejala inkapsulasi, di mana para migran sirkuler tetap mempertahankan latar . dan tidak sepenuhnya beralih menjadi warga kota. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan terjadinya migran sirkuler dari desa ke kota karena faktor Asal daerah migran ke kota Surabaya adalah daerah/kabupaten di sekitarnya . karena daerah asal belum mampu menyediakan lapangan kerja. Hal ini menunjukkan belum meratanya pembangunan di segala sektor, hal demikian terbukti bahwa migran sirkuler di Kota Surabaya sebagian besar berasal dari kabupaten-kabupaten yang ada di Provinsi Jawa Timur. Selain kondisi desa dengan lapangan kerja yang terbatas, mereka secara sosiologis terimbas oleh makin tingginya arus informasi dari media massa, yang menyebabkan aspirasi penduduk desa semakin meningkat. Penduduk desa yang berusia muda melakukan migrasi ke kota karena adanya keinginan dianggap lebih maju dan modern. Hal ini dapat mencerminkan adanya perubahan sosial yang signifikan dalam kehidupan masyarakat desa. Situasi ini dikarenakan Kota Surabaya yang berdekatan dengan Kabupaten Sidoarjo merupakan kota industri dan perdagangan jadi banyak dibutuhkan tenaga kerja, namun hal yang perlu diperhatikan adalah antisipasi dampak yang ditimbulkan oleh tingginya penduduk pendatang. Faktor utama penyebab migrasi penduduk dari desa ke kota di lokasi penelitian adalah faktor ekonomi dan kurang tersedianya lapangan kerja di daerah asal. Faktor lain yang cukup berpengaruh secara sosiologis adalah terjadinya perubahan sosial di kalangan masyarakat desa yang menyebabkan aspirasi kebutuhan Situasi merupakan faktor pendorong bagi masyarakat desa untuk bekerja di kota. Berkaitan dengan temuan di atas disampaikan sejumlah rekomendasi dan saran. Rekomendasi ditujukan kepada aparatur pemerintah kota Provinsi Jawa Timur pelaksana kebijakan yang terkait maraknya migrasi penduduk dari desa ke kota. Hal yang perlu diperhatikan adalah: . Meningkatkan bidang menumbuhkan kembali kegiatan produksi, terutama kegiatan yang berbasis pada ekonomi kerakyatan, sumberdaya lokal baik itu sumber daya manusianya (SDM) maupun Sumber Daya Alam (SDA) dan orientasi ekspor, sebagai dasar untuk menciptakan landasan ekonomi yang kuat dengan menggali produk-produk unggulan yang dimiliki daerah, sehingga dapat tercipta lapangan pekerjaan. Mendata jumlah dan faktor penyebab penduduk migran yang akurat sangat diperlukan guna antisipasi dan penanganan permasalahan penduduk migran secara tepat. Sebagai upaya untuk mengatasi permasalahan dampak dari penduduk migran baik di daerah asal maupun tujuan migran, perlu bekerjasama dari unsur-unsur tersebut di atas, sehingga akan lebih efektif dan efisien, dengan mengembangkan masyarakat secara terpadu melalui Gerakan kembali ke Upaya pengentasan terhadap kemiskinan di pedesaan kiranya lebih efektif jika diarahkan untuk merubah sikap dan meningkatkan pendapatan IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. , 2024, 37-57 warga desa baik langsung maupun mengembangkan diri, terutama untuk menciptakan pekerjaan di luar sektor kualitas serta spesialisasi tenaga kerja yang memadai. Temuan penelitian menunjukkan bahwa tenaga kerja di pedesaan cenderung menjadi tenaga kerja yang Hal ini menyebabkan Sementara penduduk desa yang pindah ke kota, baik sementara maupun menetap, meluasnya pemukiman kumuh di kota. Situasi ini akan berpengaruh pada rawannya keamanan karena tingginya angka kriminalitas. Fenomena migrasi penduduk merupakan hasil dari pergeseran struktur ekonomi Indonesia yang mendukung "gerakan kembali ke Tujuan utama gerakan ini bukan melainkan lebih menekankan pada pembangunan dan keseimbangan antara kota dan desa untuk Alternatif untuk mengurangi involusi "pemberdayaan" dan penawaran beragam alternatif pekerjaan di desa. Program "Gerakan Kembali ke Desa" kesejahteraan warga desa dengan pertumbuhan ekonomi dan pekerjaan di pedesaan, menciptakan pemerataan sosial-ekonomi antara desa dan kota, dan menggali potensi ekonomi lokal Agropolitan (Tandiyono Maruta. Pendekatan ini mengacu pada empat pokok, termasuk persyaratan dasar, kerangka kerja teritorial, perluasan produksi, dan peningkatan peran Diharapkan warga desa dapat meningkatkan proses belajar sosial. Pemberdayaan masyarakat sangat pengertian pembangunan masyarakat . ommunity pembangunan yang bertumpu pada . ommunity developmen. dengan memanfaatkan Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) sebagai motivator pembangunan. Dalam menumbuhkan kemampuan masyarakat secara aktif ikut serta dalam pengambilan keputusan untuk mewujudkan itu ditentukan oleh "power" yang dimiliki seseorang . merupakan tema sentral atau jiwa partisipasi yang sifatnya aktif dan kreatif dari UCAPAN TERIMA KASIH Atas terwujudnya penulisan naskah ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak pihak terkait yakni orang-orang yang pemerintahan setempat, serta Ibu Soetji Andari sebagai pembimbing dalam penulisan naskah ini. DAFTAR PUSTAKA