60 ISSN CETAK: 2715-3339 ISSN ONLINE: 2722-208X Strategi Pengembangan Desa Wisata Bukit Tawap di Kabupaten Sumenep sebagai Destinasi Berkelanjutan Widyawati1), Agus Sukristyanto2), IGN. Anom Maruta3). 1) Universitas Dr. Soetomo email: rendsata@gmail.com 2) Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya email: agussukris@untag-sby.ac.id 3) Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya email: anommaruta@untag-sby.ac.id ABSTRAK Tujuan penelitian adalah mengeksplorasi integrasi konsep pemberdayaan masyarakat dan ekowisata sebagai pendekatan inovatif dalam pengembangan desa wisata berkelanjutan. Masalah penelitian meliputi rendahnya partisipasi masyarakat, kurangnya pelestarian lingkungan, dan minimnya kolaborasi antar pemangku kepentingan. Rumusan masalah penelitian adalah bagaimana integrasi kedua konsep tersebut dapat menjadi pendekatan inovatif dalam pengembangan Desa Wisata Bukit Tawap. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi, dengan informan meliputi pembuat kebijakan, pelaksana kebijakan, dan penerima dampak kebijakan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa ekowisata telah meningkatkan pendapatan, rasa percaya diri, kohesi sosial, dan partisipasi politik masyarakat. Namun, tantangan seperti ketimpangan distribusi manfaat ekonomi, kurangnya motivasi masyarakat, dan keterbatasan akses informasi masih perlu diatasi. Saran penelitian mencakup peningkatan inklusivitas distribusi manfaat ekonomi, edukasi dan pelatihan masyarakat, serta transparansi dalam pengelolaan informasi dan sumber daya. Dengan mengatasi tantangan ini, Desa Wisata Bukit Tawap dapat menjadi model desa wisata berkelanjutan yang inovatif dan inklusif. Kata Kunci: Pemberdayaan Masyarakat, Ekowisata, Pengembangan Desa Wisata ABSTRACT This research is entitled "Community Empowerment through Ecotourism: Development of BukitTawap Tourism Village, Sumenep Regency, as a Sustainable Destination". The research aims to explore the integration of community empowerment and ecotourism concepts as an innovative approach to developing sustainable tourism villages. Research problems include low community participation, lack of environmental conservation, and minimal collaboration among stakeholders. The research question is how the integration of these two concepts can become an innovative approach in developing BukitTawap Tourism Village. The research method employed is qualitative with a case study approach. Data were collected through in-depth interviews, participatory observation, and documentation, with informants including policymakers, policy implementers, and Majalah Ilmiah “CAHAYA ILMU” Vol. 7 No. 1 Pebruari 2025 61 ISSN CETAK: 2715-3339 ISSN ONLINE: 2722-208X policy beneficiaries. Research findings indicate that ecotourism has increased community income, self-confidence, social cohesion, and political participation. However, challenges such as unequal distribution of economic benefits, lack of community motivation, and limited access to information still need to be addressed. Research recommendations include improving the inclusivity of economic benefit distribution, community education and training, and transparency in information and resource management. By addressing these challenges, BukitTawap Tourism Village can become an innovative and inclusive model for sustainable tourism village development. Keywords: Community Empowerment, Ecotourism, Tourism Village Development 1. PENDAHULAN Pariwisata telah menjadi salah satu sektor penting dalam pembangunan ekonomi global, termasuk di Indonesia. Dalam beberapa dekade terakhir, konsep ekowisata (ecotourism) muncul sebagai alternatif yang menjanjikan untuk menggabungkan pertumbuhan ekonomi dengan pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat lokal (Honey, 2008). Ekowisata tidak hanya menawarkan pengalaman wisata yang unik tetapi juga mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam pengelolaan destinasi wisata, sehingga menciptakan manfaat ekonomi yang berkelanjutan (Wearing & McDonald, 2002). Di Indonesia, desa wisata berbasis ekowisata mulai berkembang sebagai upaya untuk memanfaatkan potensi alam dan budaya lokal sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan (Rahmayani, D 2022) Pengembangan desa wisata berbasis ekowisata di Indonesia, termasuk di Desa Wisata BukitTawap, menghadapi tiga tantangan utama. Pertama, rendahnya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan destinasi wisata. Partisipasi masyarakat adalah kunci keberhasilan ekowisata, namun banyak masyarakat desa belum memiliki kapasitas dan kesadaran yang memadai untuk terlibat aktif Kedua, kurangnya pelestarian lingkungan dalam aktivitas pariwisata. Ekowisata yang tidak dikelola dengan baik dapat menyebabkan degradasi lingkungan, seperti kerusakan ekosistem dan polusi. Ketiga, minimnya kolaborasi antar pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, swasta, dan masyarakat lokal. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan inovatif yang mengintegrasikan konsep pemberdayaan masyarakat dan ekowisata untuk memastikan pembangunan desa wisata yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana integrasi konsep pemberdayaan masyarakat dan ekowisata dapat menjadi pendekatan inovatif dalam pengembangan Desa Wisata BukitTawap. Dengan fokus pada aspek pemberdayaan Majalah Ilmiah “CAHAYA ILMU” Vol. 7 No. 1 Pebruari 2025 62 ISSN CETAK: 2715-3339 ISSN ONLINE: 2722-208X masyarakat, pelestarian lingkungan, dan keberlanjutan, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi baik secara teoritis maupun praktis dalam bidang administrasi publik, pariwisata, dan pembangunan berkelanjutan. Solusi umum yang sering diusulkan untuk mengatasi tantangan ini meliputi peningkatan kapasitas masyarakat melalui pelatihan, penguatan kelembagaan lokal, dan penerapan prinsip-prinsip keberlanjutan dalam pengelolaan destinasi wisata (Honey, 2008). Namun, solusi ini seringkali bersifat parsial dan tidak terintegrasi, sehingga kurang efektif dalam menciptakan dampak yang berkelanjutan. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih holistik dan inovatif, seperti integrasi konsep pemberdayaan masyarakat dan ekowisata. Berdasarkan literatur sebelumnya, beberapa solusi khusus telah diusulkan untuk mengatasi tantangan dalam pengembangan desa wisata berbasis ekowisata. Pertama, peningkatan partisipasi masyarakat dapat dicapai melalui pembentukan kelompok kerja atau lembaga adat yang bertanggung jawab atas pengelolaan destinasi wisata (Wearing & McDonald, 2002) Kedua, pelestarian lingkungan dapat ditingkatkan melalui penerapan praktik-praktik berkelanjutan, seperti pengelolaan sampah, penggunaan energi terbarukan, dan edukasi wisatawan tentang pentingnya menjaga lingkungan (Honey, 2008). Ketiga, kolaborasi multistakeholder dapat diperkuat melalui pembentukan forum atau platform yang melibatkan pemerintah, swasta, LSM, dan masyarakat lokal (Scheyvens, 1999). Namun, solusi-solusi ini seringkali belum diterapkan secara optimal di Indonesia, khususnya di daerah pedesaan seperti Desa Wisata BukitTawap. Oleh karena itu, penelitian ini mengusulkan pendekatan inovatif yang mengintegrasikan konsep pemberdayaan masyarakat dan ekowisata. Pendekatan ini diharapkan dapat menciptakan sinergi antara peningkatan kapasitas masyarakat, pelestarian lingkungan, dan penguatan kolaborasi antar pemangku kepentingan. Penelitian ini bertujuan untuk mengisi kesenjangan tersebut dengan mengeksplorasi integrasi konsep pemberdayaan masyarakat dan ekowisata dalam pengembangan Desa Wisata BukitTawap. Dengan fokus pada aspek pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan keberlanjutan, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi baru dalam literatur akademis dan praktik pembangunan desa wisata. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji bagaimana integrasi konsep pemberdayaan masyarakat dan ekowisata dapat menjadi pendekatan inovatif dalam pengembangan Desa Wisata BukitTawap sebagai destinasi berkelanjutan. Penelitian ini memiliki tiga kebaruan utama. Pertama, integrasi konsep pemberdayaan masyarakat dan ekowisata sebagai pendekatan inovatif dalam Majalah Ilmiah “CAHAYA ILMU” Vol. 7 No. 1 Pebruari 2025 63 ISSN CETAK: 2715-3339 ISSN ONLINE: 2722-208X pembangunan desa wisata. Kedua, fokus pada Desa Wisata BukitTawap sebagai studi kasus spesifik, yang memberikan perspektif lokal yang unik dan belum banyak dieksplorasi dalam literatur. Ketiga, penekanan pada keberlanjutan sebagai tujuan utama, dengan memadukan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan dalam pengembangan pariwisata. Cakupan penelitian ini meliputi lokasi di Desa Wisata BukitTawap, Kabupaten Sumenep, dengan subjek penelitian berupa masyarakat lokal, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan lainnya. 2. 2.1 TINJAUAN PUSTAKA Pembangunan Berkelanjutan Teori Pembangunan Berkelanjutan, yang dipopulerkan oleh Brundtland Report (1987), menekankan pentingnya memenuhi kebutuhan generasi saat ini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka. Teori ini didasarkan pada tiga pilar utama: ekonomi, sosial, dan lingkungan (United Nations, 2015). Dalam konteks penelitian ini, teori ini menjadi landasan utama karena pengembangan Desa Wisata BukitTawap sebagai destinasi berkelanjutan harus mempertimbangkan keseimbangan antara peningkatan pendapatan masyarakat (ekonomi), pelestarian budaya lokal (sosial), dan perlindungan lingkungan. Misalnya, aktivitas ekowisata harus dirancang untuk meningkatkan pendapatan masyarakat melalui homestay dan penjualan produk lokal, sambil memastikan bahwa alam dan budaya lokal tetap terjaga. 2.2 Ekowisata Teori Ekowisata, yang dikembangkan oleh Ceballos-Lascurain (1987) dan diperluas oleh Fennell (2020), menekankan pada pariwisata yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan berfokus pada pelestarian alam serta pemberdayaan masyarakat lokal (Fennell, 2020). Teori ini menekankan pentingnya prinsip-prinsip keberlanjutan dalam pengelolaan destinasi wisata. Dalam konteks penelitian ini, ekowisata di Desa Wisata BukitTawap harus dirancang untuk meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan, seperti dengan mengembangkan jalur trekking ramah lingkungan dan menggunakan energi terbarukan di homestay. Selain itu, masyarakat lokal harus dilibatkan secara aktif dalam pengelolaan ekowisata, sehingga mereka dapat memperoleh manfaat ekonomi langsung dari aktivitas pariwisata. Majalah Ilmiah “CAHAYA ILMU” Vol. 7 No. 1 Pebruari 2025 64 ISSN CETAK: 2715-3339 ISSN ONLINE: 2722-208X 2.3 Pemberdayaan Masyarkat Teori Pemberdayaan Masyarakat, yang dikembangkan oleh Rappaport (1987) dan diperluas oleh Zimmerman (2000), menekankan pentingnya meningkatkan kapasitas, partisipasi, dan kemandirian masyarakat dalam proses pembangunan (Zimmerman, 2000). Teori ini menyoroti bahwa pemberdayaan bukan hanya tentang memberikan sumber daya, tetapi juga tentang membangun kemampuan masyarakat untuk mengontrol sumber daya tersebut. Dalam konteks penelitian ini, pemberdayaan masyarakat di Desa Wisata BukitTawap dapat dicapai melalui pelatihan pengelolaan ekowisata, pembentukan kelembagaan lokal, dan peningkatan partisipasi dalam pengambilan keputusan. Hal ini akan memastikan bahwa masyarakat memiliki peran aktif dalam pengelolaan destinasi wisata, sehingga manfaat ekowisata dapat dirasakan secara merata. Teori pemberdayaan masyarakat yang dikembangkan oleh Scheyvens (2016) dalam bukunya "Tourism and Poverty" dan diperbarui dalam artikelnya tahun 2018 yang berjudul "Linking Tourism to Poverty Reduction and Sustainability: A Review of Key Themes" menekankan pada empat dimensi pemberdayaan dalam konteks pariwisata berbasis komunitas: ekonomi, psikologis, sosial, dan politik (Scheyvens, 2018). A. Pemberdayaan Ekonomi mencakup peningkatan pendapatan masyarakat, penciptaan lapangan kerja lokal, dan distribusi manfaat ekonomi yang merata. B. Pemberdayaan Psikologis melibatkan peningkatan rasa percaya diri, kebanggaan terhadap budaya lokal, dan motivasi masyarakat untuk terlibat dalam pengelolaan pariwisata. C. Pemberdayaan Sosial mengacu pada penguatan kohesi sosial, pelestarian budaya lokal, dan partisipasi aktif kelompok rentan seperti perempuan dan pemuda. D. Pemberdayaan Politik meliputi partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan, representasi dalam lembaga pengelola pariwisata, dan akses terhadap sumber daya dan informasi. Teori ini relevan dengan penelitian karena menyediakan kerangka analisis yang komprehensif untuk mengevaluasi pemberdayaan masyarakat dalam konteks ekowisata. Dengan menggunakan empat dimensi ini, dapat mengidentifikasi sejauh mana ekowisata di Desa Wisata BukitTawap berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan ekonomi, psikologis, sosial, dan politik masyarakat, sekaligus memastikan keberlanjutan program ekowisata dari perspektif lokal. Majalah Ilmiah “CAHAYA ILMU” Vol. 7 No. 1 Pebruari 2025 65 ISSN CETAK: 2715-3339 ISSN ONLINE: 2722-208X 2.4 Kebaruan Penelitian Kebaruan penelitian ini terletak pada fokusnya yang spesifik terhadap Desa Wisata BukitTawap, yang belum banyak diteliti sebelumnya, serta integrasi antara pemberdayaan masyarakat dan ekowisata berbasis keberlanjutan. Berdasarkan studi seperti Wihartanti et al. (2020) tentang Desa Kare dan Septemuryantoro (2020) tentang Desa Candirejo, keberhasilan ekowisata sangat bergantung pada partisipasi masyarakat dan kolaborasi antar pemangku kepentingan. Namun, penelitian ini menawarkan pendekatan yang lebih inovatif dengan mengintegrasikan tiga pilar keberlanjutan: ekonomi, sosial, dan lingkungan. Studi Yyardani et al. (2021) dan Irandu & Shah (2014) menunjukkan pentingnya pendampingan dan pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan ekowisata. Penelitian ini mengadopsi pendekatan serupa tetapi dengan inovasi dalam menerapkan model Pentahelix, yaitu kolaborasi antara pemerintah, swasta, akademisi, komunitas, dan media, untuk memastikan keberlanjutan. Temuan Wiyono et al. (2023) tentang pemberdayaan ekonomi dan sosial melalui ekowisata di Desa Seloliman juga mendukung argumen bahwa pemberdayaan masyarakat dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi sekaligus melestarikan lingkungan. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya memperkaya literatur tentang ekowisata dan pemberdayaan masyarakat, tetapi juga memberikan rekomendasi praktis untuk pengembangan desa wisata berkelanjutan di Indonesia. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi konsep pemberdayaan masyarakat dan ekowisata dengan fokus spesifik pada Desa Wisata BukitTawap serta penerapan model Pentahelix untuk mencapai keberlanjutan. 3. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan jenis kualitatif dengan metode pendekatan studi kasus untuk mengeksplorasi secara mendalam fenomena pemberdayaan masyarakat melalui ekowisata di Desa Wisata BukitTawap. Studi kasus dipilih karena memungkinkan peneliti memahami konteks lokal secara holistik dan mendetail (Yin, 2018). Informan penelitian terdiri dari tiga kelompok utama: (1) pembuat kebijakan, (2) pelaksana kebijakan, termasuk pengelola desa wisata, tokoh masyarakat, serta (3) penerima dampak kebijakan, yaitu masyarakat lokal yang terlibat dalam aktivitas ekowisata (Creswell & Poth, 2018). Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam untuk menggali persepsi, pengalaman, dan harapan informan (Kvale, 2007) observasi partisipatif untuk mengamati aktivitas ekowisata dan interaksi masyarakat dengan Majalah Ilmiah “CAHAYA ILMU” Vol. 7 No. 1 Pebruari 2025 66 ISSN CETAK: 2715-3339 ISSN ONLINE: 2722-208X lingkungan serta wisatawan (Spradley, 2016) dan dokumentasi untuk mengumpulkan dokumen kebijakan, laporan kegiatan, dan data sekunder terkait pengembangan desa wisata (Bowen, 2009). Data yang terkumpul dianalisis menggunakan analisis tematik dengan mengidentifikasi tema-tema utama seperti partisipasi masyarakat, peningkatan kapasitas, dan pelestarian lingkungan (Braun & Clarke, 2006). Triangulasi digunakan untuk memastikan keabsahan data dengan membandingkan hasil wawancara, observasi, dan dokumen (Denzin, 2017). Keabsahan data dijaga melalui empat kriteria (1) credibility (kredibilitas) dengan triangulasi sumber dan metode serta member check (Lincoln & Guba, 1985); (2) transferability (transferabilitas) melalui deskripsi konteks penelitian yang detail (Shenton, 2004); (3) dependability (kebergantungan) dengan mendokumentasikan proses penelitian secara rinci (Lincoln & Guba, 1985) dan (4) confirmability (konfirmabilitas) dengan memastikan temuan didasarkan pada data yang diverifikasi dan bebas dari bias peneliti (Shenton, 2004). Metode ini dirancang untuk menghasilkan temuan yang komprehensif dan dapat diandalkan terkait pemberdayaan masyarakat melalui ekowisata di Desa Wisata BukitTawap. 4. HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN Rumusan masalah penelitian ini adalah Bagaimana integrasi konsep pemberdayaan masyarakat dan ekowisata dapat menjadi pendekatan inovatif dalam pengembangan Desa Wisata Bukit Tawap sebagai destinasi berkelanjutan? penelitian ini menggunakan Teori Pemberdayaan Masyarakat yang dikembangkan oleh Scheyvens (2018) dengan empat dimensi pemberdayaan: ekonomi, psikologis, sosial, dan politik. Teori ini dipadukan dengan data yang diperoleh dari tiga kelompok informan, yaitu pembuat kebijakan, pelaksana kebijakan, dan penerima dampak kebijakan. A. Pemberdayaan Ekonomi Berdasarkan wawancara dengan penerima dampak kebijakan (masyarakat lokal), ekowisata di Desa Wisata BukitTawap telah memberikan dampak positif terhadap peningkatan pendapatan masyarakat. Masyarakat yang terlibat dalam aktivitas ekowisata, seperti pemilik homestay, pemandu wisata, dan penjual produk lokal, melaporkan peningkatan pendapatan yang signifikan. Misalnya, pemilik homestay mampu meningkatkan pendapatan bulanan mereka sebesar 30-40% sejak desa wisata mulai dikembangkan. Majalah Ilmiah “CAHAYA ILMU” Vol. 7 No. 1 Pebruari 2025 67 ISSN CETAK: 2715-3339 ISSN ONLINE: 2722-208X Namun, menurut pelaksana kebijakan (pengelola desa wisata), distribusi manfaat ekonomi belum merata. Beberapa kelompok masyarakat, terutama yang tinggal di pinggiran desa, masih kesulitan mengakses peluang ekonomi dari ekowisata. Hal ini menunjukkan perlunya strategi yang lebih inklusif untuk memastikan bahwa semua lapisan masyarakat dapat menikmati manfaat ekonomi dari ekowisata. Temuan ini konsisten dengan studi Yyardani et al. (2021) yang menyoroti pentingnya pendampingan dan inklusivitas dalam pengembangan ekowisata. Oleh karena itu, diperlukan strategi yang lebih inklusif, seperti pelatihan dan pendampingan khusus bagi kelompok masyarakat yang kurang terlibat, untuk memastikan bahwa semua lapisan masyarakat dapat menikmati manfaat ekonomi dari ekowisata. B. Pemberdayaan Psikologis Dari wawancara dengan penerima dampak kebijakan, terungkap bahwa ekowisata telah meningkatkan rasa percaya diri dan kebanggaan masyarakat terhadap budaya dan lingkungan lokal. Masyarakat merasa lebih dihargai karena budaya dan alam mereka menjadi daya tarik utama bagi wisatawan. Misalnya, seorang pemandu wisata menyatakan, "Saya bangga bisa menunjukkan keindahan alam dan budaya kami kepada wisatawan." Namun, pembuat kebijakan (pejabat pemerintah) mencatat bahwa masih ada tantangan dalam memotivasi masyarakat untuk terlibat aktif dalam pengelolaan ekowisata. Beberapa masyarakat masih ragu karena kurangnya pemahaman tentang manfaat jangka panjang ekowisata. Oleh karena itu, diperlukan program edukasi dan pelatihan yang lebih intensif untuk meningkatkan motivasi masyarakat. Hal ini menunjukkan perlunya program edukasi dan pelatihan yang lebih intensif untuk meningkatkan motivasi masyarakat. Studi Septemuryantoro (2020) juga menekankan pentingnya edukasi dan sosialisasi untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan ekowisata. C. Pemberdayaan Sosial Berdasarkan observasi dan wawancara dengan pelaksana kebijakan, ekowisata telah memperkuat kohesi sosial di Desa Wisata BukitTawap. Masyarakat bekerja sama dalam mengelola destinasi wisata, seperti membersihkan lingkungan dan mengadakan acara budaya. Selain itu, partisipasi aktif dari kelompok rentan, seperti perempuan dan pemuda, juga meningkat. Misalnya, kelompok perempuan Majalah Ilmiah “CAHAYA ILMU” Vol. 7 No. 1 Pebruari 2025 68 ISSN CETAK: 2715-3339 ISSN ONLINE: 2722-208X terlibat dalam penjualan produk lokal, sementara pemuda aktif sebagai pemandu wisata. Namun, penerima dampak kebijakan mengungkapkan bahwa masih ada ketimpangan partisipasi antara kelompok masyarakat. Beberapa kelompok, seperti lansia, merasa kurang dilibatkan dalam aktivitas ekowisata. Hal ini menunjukkan perlunya pendekatan yang lebih inklusif untuk memastikan bahwa semua kelompok masyarakat dapat berpartisipasi. Studi Scheyvens (2018) juga menekankan pentingnya inklusivitas dalam pemberdayaan sosial untuk memastikan bahwa tidak ada kelompok yang terpinggirkan. D. Pemberdayaan Politik Menurut pembuat kebijakan, partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan telah meningkat sejak desa wisata dikembangkan. Masyarakat dilibatkan dalam perencanaan dan evaluasi program ekowisata melalui forum musyawarah desa. Selain itu, masyarakat juga memiliki representasi dalam lembaga pengelola pariwisata, seperti Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata). Namun, penerima dampak kebijakan mengungkapkan bahwa akses terhadap sumber daya dan informasi masih terbatas. Beberapa masyarakat merasa bahwa informasi tentang program ekowisata tidak disampaikan secara merata. Oleh karena itu, diperlukan transparansi yang lebih baik dalam pengelolaan informasi dan sumber daya. . Hal ini menunjukkan perlunya transparansi yang lebih baik dalam pengelolaan informasi dan sumber daya. Studi Irandu & Shah (2014) juga menekankan pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan ekowisata untuk memastikan bahwa manfaat dirasakan secara merata oleh semua masyarakat. E. Integrasi Konsep Pemberdayaan Masyarakat dan Ekowisata Berdasarkan temuan di atas, integrasi konsep pemberdayaan masyarakat dan ekowisata dapat menjadi pendekatan inovatif dalam pengembangan Desa Wisata Bukit Tawap sebagai destinasi berkelanjutan. Berikut adalah analisis integrasi tersebut: 1) Pemberdayaan Ekonomi dan Ekowisata : a) Ekowisata telah meningkatkan pendapatan masyarakat melalui aktivitas seperti homestay, pemanduan wisata, dan penjualan produk lokal. Majalah Ilmiah “CAHAYA ILMU” Vol. 7 No. 1 Pebruari 2025 69 ISSN CETAK: 2715-3339 ISSN ONLINE: 2722-208X b) Namun, diperlukan strategi untuk memastikan distribusi manfaat ekonomi yang lebih merata, seperti dengan melibatkan kelompok masyarakat yang tinggal di pinggiran desa. 2) Pemberdayaan Psikologis dan Ekowisata : a) Ekowisata telah meningkatkan rasa percaya diri dan kebanggaan masyarakat terhadap budaya dan lingkungan lokal. b) Namun, diperlukan program edukasi dan pelatihan untuk meningkatkan motivasi masyarakat dalam mengelola ekowisata. 3) Pemberdayaan Sosial dan Ekowisata: a) Ekowisata telah memperkuat kohesi sosial dan melibatkan kelompok rentan dalam aktivitas pariwisata. b) Namun, diperlukan pendekatan yang lebih inklusif untuk memastikan partisipasi semua kelompok masyarakat. 4) Pemberdayaan Politik dan Ekowisata: a) Ekowisata telah meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan dan representasi dalam lembaga pengelola pariwisata. b) Namun, diperlukan transparansi yang lebih baik dalam pengelolaan informasi dan sumber daya. 5. 5.1 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Integrasi konsep pemberdayaan masyarakat dan ekowisata telah memberikan dampak positif terhadap pengembangan Desa Wisata BukitTawap sebagai destinasi berkelanjutan. Ekowisata telah meningkatkan pendapatan masyarakat melalui aktivitas seperti homestay, pemanduan wisata, dan penjualan produk lokal. Selain itu, masyarakat juga merasakan peningkatan rasa percaya diri dan kebanggaan terhadap budaya serta lingkungan mereka. Kohesi sosial pun semakin kuat dengan partisipasi aktif kelompok rentan, seperti perempuan dan pemuda, dalam aktivitas pariwisata. Partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan juga meningkat, menunjukkan adanya pemberdayaan politik. Namun, masih ada beberapa tantangan yang perlu diatasi. Pertama, distribusi manfaat ekonomi belum merata, terutama bagi masyarakat di pinggiran desa. Kedua, motivasi masyarakat untuk terlibat aktif dalam pengelolaan ekowisata masih rendah karena kurangnya pemahaman tentang manfaat jangka panjang. Ketiga, partisipasi sosial belum sepenuhnya inklusif, dengan beberapa kelompok Majalah Ilmiah “CAHAYA ILMU” Vol. 7 No. 1 Pebruari 2025 70 ISSN CETAK: 2715-3339 ISSN ONLINE: 2722-208X seperti lansia merasa kurang dilibatkan. Keempat, akses terhadap sumber daya dan informasi masih terbatas, menghambat partisipasi masyarakat secara optimal. Dengan mengatasi tantangan ini melalui strategi inklusif, edukasi, dan transparansi, Desa Wisata BukitTawap dapat menjadi model pengembangan desa wisata berkelanjutan yang inovatif dan inklusif, memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan bagi seluruh masyarakat. 5.2 Saran Penelitian Berdasarkan temuan dan kesimpulan penelitian, berikut adalah saran penelitian yang dapat diimplementasikan untuk mendukung pengembangan Desa Wisata BukitTawap sebagai destinasi berkelanjutan : A. Meningkatkan Inklusivitas dalam Distribusi Manfaat Ekonomi Penelitian ini mengidentifikasi bahwa distribusi manfaat ekonomi dari ekowisata belum merata, terutama bagi masyarakat yang tinggal di pinggiran desa. Oleh karena itu, disarankan untuk mengembangkan program yang memastikan semua lapisan masyarakat dapat menikmati manfaat ekowisata. Misalnya, dengan membentuk kelompok kerja khusus yang bertugas mengidentifikasi kelompok masyarakat yang kurang terakses dan memberikan pelatihan serta pendampingan khusus. Selain itu, pemerintah atau lembaga terkait dapat menyediakan modal usaha atau fasilitas pendukung, seperti bantuan peralatan atau akses pemasaran, untuk membantu masyarakat tersebut terlibat dalam aktivitas ekowisata. B. Meningkatkan Edukasi dan Motivasi Masyarakat Temuan penelitian menunjukkan bahwa motivasi masyarakat untuk terlibat aktif dalam pengelolaan ekowisata masih rendah karena kurangnya pemahaman tentang manfaat jangka panjang. Untuk mengatasi hal ini, disarankan untuk mengadakan program edukasi dan pelatihan intensif yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya ekowisata bagi pelestarian lingkungan dan budaya lokal. Program ini dapat berupa workshop, seminar, atau pelatihan tentang pengelolaan ekowisata berkelanjutan. Selain itu, melibatkan tokoh masyarakat sebagai agen perubahan dapat menjadi strategi efektif untuk memotivasi partisipasi aktif masyarakat. Majalah Ilmiah “CAHAYA ILMU” Vol. 7 No. 1 Pebruari 2025 71 ISSN CETAK: 2715-3339 ISSN ONLINE: 2722-208X Daftar Pustaka Bowen, G. A. (2009). Document analysis as a qualitative research method. Qualitative Research Journal, 9(2), 27-40. Braun, V., & Clarke, V. (2006). Using thematic analysis in psychology. Qualitative Research in Psychology, 3(2), 77-101. Creswell, J. W., & Poth, C. N. (2018). Qualitative inquiry and research design: Choosing among five approaches (4th ed.). Sage Publications. Denzin, N. K. (2017). The research act: A theoretical introduction to sociological methods. Routledge. Honey, M. (2008). Ecotourism and sustainable development: Who owns paradise? (2nd ed.). Island Press. Irandu, E. M., & Shah, P. (2014). The role of ecotourism in promoting women empowerment and community development: Some reflections from Kenya. Journal of Tourism and Hospitality Management, 2(6), 245-259. Kvale, S. (2007). Doing interviews. Sage Publications. Lincoln, Y. S., & Guba, E. G. (1985). Naturalistic inquiry. Sage Publications. Rahmayani, D., Yuliani, R., Kristanti, N. R., Marpaung, G. N., Supriyadi, A., & Nuurfauzi, M. (2022). Peningkatan kapabilitas green economy dalam pengembangan desa wisata sebagai upaya mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 5(1), 171. Scheyvens, R. (1999). Ecotourism and the empowerment of local communities. Tourism Management, 20(2), 245-249. Scheyvens, R. (2018). Linking tourism to poverty reduction and sustainability: A review of key themes. Journal of Sustainable Tourism, 26(7), 1081-1095. Septemuryantoro, S. A. (2020). Pengembangan potensi budaya ekowisata melalui pemberdayaan masyarakat Desa Wisata Candirejo Borobudur Jawa Tengah. Majalah Ilmiah “CAHAYA ILMU” Vol. 7 No. 1 Pebruari 2025 72 ISSN CETAK: 2715-3339 ISSN ONLINE: 2722-208X Media Wisata, 18(2), 210-222. Shenton, A. K. (2004). Strategies for ensuring trustworthiness in qualitative research projects. Education for Information, 22(2), 63-75. Spradley, J. P. (2016). Participant observation. Waveland Press. Wearing, S., & McDonald, M. (2002). The development of community-based tourism: Re-thinking the relationship between tour operators and development. Journal of Sustainable Tourism, 10(3), 191-206. Wihartanti, L. V., Styaningrum, F., & Noegraha, G. C. (2020). Pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan produk kopi Kare dan wisata alam berbasis ekowisata di Desa Kare Kecamatan Kare Kabupaten Madiun. Jurnal Terapan Abdimas, 5(1), 57-60. Wiyono, S. H., Subianto, A., & Nuhman, N. (2023). Pengembangan ekowisata berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakat: Studi kasus pusat pendidikan lingkungan hidup di Desa Seloliman, Indonesia. Masyarakat, 11(2), 310-328. Yin, R. K. (2018). Case study research and applications: Design and methods (6th ed.). Sage Publications. Yuardani, A. M., Heriyanto, H., Qadri, U., Rinaldi, H., Wana, D., Tandra, R., ... & Prestoroika, E. (2021). Pemberdayaan masyarakat berbasis pendampingan untuk pengembangan pariwisata pada Desa Sungai Kupah. Jurnal Abdidas, 2(2), 176-185. Majalah Ilmiah “CAHAYA ILMU” Vol. 7 No. 1 Pebruari 2025