Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra P-ISSN: 1978-8800. E-ISSN: 2614-3127 http://journal. um-surabaya. id/index. php/Stilistika/index Vol. 16 No. Januari 2023, hal 1-18 POSISI AKTOR DALAM NOVEL LUSI LINDRI KARYA Y. MANGUNWIJAYA ACTOR'S POSITION IN THE NOVEL LUSI LINDRI BY. MANGUNWIJAYA Andi Anugrah Batari Fatimah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Universitas Sawerigading Makassar. Indonesia batari@gmail. *penulis korespondensi Info Artikel ABSTRAK Sejarah artikel: Diterima: 27 November 2022 Direvisi: 21 Desember 2022 Disetujui: 12 Januari 2023 Novel sebagai sebuah wacana dapat merepresentasikan fenomena dan posisi aktor dalam ceritanya. Novel Lusi Lindri memuat permasalahan gender, yakni sikap diskriminatif dan subordinasi patriarki terhadap posisi aktor Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan posisi aktor sebagai subjek maupun objek yang mengalami bentuk ketidakadilan gender, berdasarkan pandangan analisis wacana kritis Sara Mills, digunakan sebagai media literasi sastra berbasis gender di perguruan tinggi. Penelitian ini memanfaatkan metode kualitatif-linguistik kritis bersifat deskriptif. Data penelitian berupa kata, frasa, klausa, kalimat yang bersumber pada novel Lusi Lindri karya Y. Mangunwijaya. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumentasi, baca simak, dan pencatatan. Peneliti sebagai instrumen kunci penelitian. Teknik analisis data melalui prosedur mengidentifikasi, mengklasifikasi, menganalisis, dan membuat kesimpulan. Hasil penelitian ditemukan posisi aktor sebagai subjek terdominasi dan objek terodominasi yang mengalami . kekerasan verbal, fisik, dan psikis . beban ganda perempuan. Kata kunci: Analisis Wacana Kritis. Posisi Aktor. Ketidak adilan gender. Novel. Pembelajaran Literasi Sastra. Article Info ABSTRACT Article history: Received: 27 November 2022 Revised: 21 December 2022 Accepted: 12 January 2023 The novel as a discourse can represent the phenomena and positions of the actors in the story. Lusi Lindri's novel contains gender issues, namely discriminative attitudes and patriarchal subordination to the position of female actors. This study aims to describe the position of actors as subjects and objects who experience forms of gender inequality, based on the views of Sara Mills' critical discourse analysis, used as a medium for gender-based literary literacy in higher institutions. This research utilizes a descriptive qualitative-critical linguistic method. The research data are in the form of words, phrases, clauses, sentences that originate from the novel Lusi Lindri by Y. Mangunwijaya. Data collection techniques were carried out using documentation, reading and recording techniques. Researchers as key research instruments. Data analysis techniques through identifying procedures, classifying, analyzing, and making conclusions. The results of the study found that the position of actors as dominated subjects and dominated objects experienced . verbal, physical and psychological violence . the double burden of women. Keyword: Critical Discourse Analysis. Actor's Position. Gender Inequality. Novels. Literary Literacy Learning. Copyright A 2023. Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra DOI: http://dx. org/10. 30651/st. Fatimah/ Posisi Aktor dalamA Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 16 No. Januari 2023 Hal 1-18 PENDAHULUAN Salah satu unsur pembangun dari dalam sebuah karya sastra yaitu Melalui tokoh penulis mampu untuk menghidupkan cerita dengan memberikan lakon-lakon yang sesuai dengan karakter yang diinginkan. Tokoh merupakan aspek yang menarik karena memberikan cerminan perilaku manusia yang mudah untuk ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga terasa begitu hidup dan relevan dengan fenomena yang terjadi di lingkungan masyarakat (Setiawan, 2. Tokoh sering juga disebut sebagai aktor yang Pengklasifikasian aktor dalam cerita atau wacana menurut pandangan analisis wacana kritis Sara Mills . dapat ditinjau berdasarkan sudut pandang peristiwa yang dilakonkan aktor dalam cerita. Aktor yang berposisi pencerita disebut subjek dan aktor yang diceritakan berposisi objek. Selain itu posisi subjek juga ditinjau berdasarkan banyaknya kesempatan seorang aktor untuk memunculkan dirinya maupun gagasannya dalam cerita atau wacana (Mills, 2. Posisi aktor juga dapat menunjukkan muatan kekuasaan dalam wacana, sehingga diperlukan suatu analisis wacana yang bersifat kritis (Imron M. , 2. Berdasarkan analisis wacana kritis berbasis gender Sara Mills, pemosisian aktor berfungsi untuk membongkar kuasa patriarki wacana-wacana termasuk dalam karya sastra novel (Budiwati, 2. Tokoh-tokoh atau aktor yang berposisi pencerita tidak melulu berperan sebagai penguasa, namun dapat juga berposisi sebagai subjek yang terdominasi. Sedangkan pihak yang diceritakan . seringkali merupakan pihak yang terdominasi (Mills, 2. Dominasi ketidakadilan gender yang secara spesifik oleh Monsour Fakih . dijabarkan ke dalam lima bentuk, yaitu marginalisasi, subordinasi, stereotip, kekerasan dan beban ganda. Bentukbentuk tersebut bukan lagi fenomena baru di lingkungan masyarakat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik kasus ketidakadilan gender berupa kekerasan terhadap perempuan pada tahun 2019 mencapai 13. 831 kasus (BPS, 2. Hal ini membuktikan masyarakat terhadap perilaku-perilaku ketidakadilan gender yang bisa saja telah terjadi pada masyarakat namun tidak disadari. Salah satu upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah untuk terhadap bentuk-bentuk ketidakadilan gender yakni dengan memasukkan pendidikan karakter di lingkungan sekolah hingga perguruan tinggi. Kemasan pembelajaran literasi bahasa Indonesia, maupun literasi sastra berbasis gender. Menurut (Beers, 2. lingkungan perguruan tinggi diharapkan menjadi garis depan dalam pengembangan budaya literasi. Persoalan yang terjadi kemudian, yakni rendahnya minat baca masyarakat sehingga budaya literasi sulit digalakkan. Berdasarkan data survei Program for International Student Assessment (PISA, 2. yang di rilis Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) yang menyatakan bahwa Indonesia menempati 10 negara terbawah dengan tingkat literasi terendah atau peringkat ke 62 dari 70 negara. Berdasarkan data tersebut dibutuhkan pemanfaatan media literasi yang menarik secara Fatimah/ Posisi Aktor dalamA Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 16 No. Januari 2023 Hal 1-18 maksimal agar dapat membangkitkan minat baca masyarakat. Pada dasarnya berbagai fasilitas dan media telah dikembangkan secara kreatif oleh guru maupun dosen. Terutama Indonesia. Media yang ditawarkan sangat beraneka mulai dari media daring hingga luring. Pemanfaatan media belajar tersebut seyogyanya kebutuhan mahasiswa. Termasuk menyediakan media yang betul-betul relevan dengan kehidupan. Salah satunya dengan memaksimalkan fungsi tokoh dalam cerita novel, yang pada wacana kemudian disebut aktor. Aktoraktor dalam wacana novel dapat memunculkan peran dan karakter yang patut dan tidak patut untuk ditiru. Selain itu juga dapat menampilkan gambaran fenomena yang dapat menimbulkan permasalahan gender. Pembiasaan dunia literasi sesungguhnya sebagai sebuah upaya penanaman budi pekerti luhur terhadap peserta didik dalam hal ini mahasiswa, di tengah maraknya fenomena masa kini yang memerlukan kesadaran Termasuk pencegahan perlakuan tidak menyenangkan dan perilaku kriminal Di lingkungan kampus hal ini tidak asing lagi bagi kalangan bullying atau perundungan, pelecehan dan ketidaksadaran para mahasiswa akan perilakunya yang dapat meciderai harkat dan martabat mahasiswa Hal ini diperparah dengan kesenjangan antara laki-laki dan perempuan yang terkadang dapat menimbulkan isu-isu gender yang tidak disadari bahkan dianggap tabu dan aib sehingga banyak korban yang tidak berani untuk berbicara. Rasa trauma dan goncangan pada jiwa muda tidak melulu berasal dari tindakan anarkis yang besar namun cenderung berasal dari hal kecil (Fatimah, 2. Untuk itulah penyadaran nilai karakter memanfaatkan literasi sastra berbasis gender sebagai medianya. Usia mahasiswa yang seharusnya telah cukup dewasa untuk mengambil keputusan nyatanya tetap harus diarahkan dan disadarkan agar tetap berada pada koridor yang tepat. Kisah dalam karya sastra dapat mengasah menyadarkan, bahwa materi maupun pesan dalam karya sastra yang tergambar dalam lakon aktornya terdapat cerminan fakta sosial (Syahrul, 2. Pada dasarnya apresiasi karya sastra sebagai media literasi telah menjadi topik menarik yang telah Diantaranya kajian yang dilakukan oleh (Goziyah, 2. yang meneliti mengenai media film Rudi Habibie sebagai sarana peningkatan kemampuan berpikir kritis di kalangan Mahasiswa. Proses menemukan bahwa melalui media film dapat melatih daya kritis mahasiswa agar tidak bersifat stereotipe, kekerasan dan mudah berprasangka. Selain itu penelitian yang dilakukan oleh (Herdiana, 2. yang mengulik novel Ronggeng Duku Paruk karya Ahmad Tohari dan Tarian Bumi karya Oka Rusmini untuk mengetahui posisi perempuan pada teks wacana sastra melaui pembacaan kritis. Adapun temuannya berupa pandangan kritis mengenai pemilihan diksi dan keberpihakan pengarang laki laki dan Fatimah/ Posisi Aktor dalamA Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 16 No. Januari 2023 Hal 1-18 perempuan yang berbeda dalam menggambarkan posisi masing-masing tokoh perempuan dalam novelnya. Kemudian penelitian sejalan lainnya juga dilakukan oleh (Putri, 2. yang mengulik novel Merakit Kapal karya Shion Miura dan novel Pandang Bulan karya Andrea Hirata yang di relevansikan terhadap pembelajan sastra di SMA. Riset-riset dilakukan oleh ketiga penelitian sebelumnya masing-masing memiliki sisi persamaan dan sisi padang Dimulai dari Goziyah . yang mengkaji mengenai penggunaan media film yang direlevansikan dengan peningkatan daya kritis Disusul oleh Putri . yang mengkaji mengenai teori nilai karakter utama tokoh pada dua novel pembelajaran sastra di SMA. Persaaman kedua penelitan tersebut yaitu dalam hal pemanfaatan novel maupun film sebagai media relevan terhadap pembalajaran pada tingkat SMA Perguruan Perbedaannya tampak pada pisau Putri menggunakan teori nilai karakter sedangkan Goziyah menggunakan pandangan kritis. Pernelitian Goziyah memiliki persamaan dengan Herdiana sama-sama menggunakan pandangan kritis namun objek material yang digunakan Herdiana menggunakan Goziyah menggunakan media Film. Selain itu Hardiana bermaksud mengungkap posisi perempuan melalui pandangan kritis, sedangkan Goziyah hanya melatih daya kritis mahasiswa. Sehingga dapat ditarik sebuah benang merah bahwa ketiga penelitian sebelumnya memiliki persamaan tujuan yakni memanfaatkan media baik novel maupun film sebagai contoh konkret dalam penanaman nilai karakter dan daya kritis siswa di SMA maupun mahasiswa perguruan tinggi. Penelitian kali ini mengulik mengenai karya sastra novel yang membahas isu gender di dalamnya. Novel dengan judul Lusi Lindri merupakan seri ketiga dari Trilogi Rara Mendut Mangunwijaya. Alasan pemilihan karya sastra ini karena esensi dari kisah yang ditawarkan sarat dengan pembelajaran moral. Selain itu novel ini ditulis oleh seorang pengarang lelaki yang pro perempuan. Bersetting masa lampau, bergendre kolosal dengan alur yang sangat menarik. Ceritanya bermula dengan hadirnya Lusi sebagai generasi ketiga yang mengalami penderitaan menjadi seorang perempuan, menjadi seorang anak yang lahir dari rahim seorang Dayang, yang bertugas melayani Selir Kecaman hidup telah dirasakannya sejak dalam buaian hingga menjadi salah seorang dari Trinisat Kenyah, 30 perempuan perawan pelindung raja yang gila wanita. B Mangunwijaya sebagai pengarang kisah ini betulbetul memberikan gambaran perilakuperilaku penindas yang bertindak amoral yang tidak layak ditiru, dan pada waktu yang bersamaan juga memberikan gambaran kekuatan perempuan yang betul-betul dapat membuktikan bahwa hak dan kelas dibidang sosial antara laki-laki dan perempuan boleh disebut setara. Sekali Romo Mangun membuktikan diantara berbagai karyanya novel Lusi Lindri mampu menggambarkan dunia kelam masa kerajaan yang mungkin saja masih relevan dengan kehidupan saat ini Fatimah/ Posisi Aktor dalamA Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 16 No. Januari 2023 Hal 1-18 namun dengan kemasan yang Adapun kebaruan penelitian yang ditawarkan dalam penelitian ini yaitu, pengalaman batin baru yang akan dirasakan oleh mahasiswa dalam memanfaatkan teori yang berbeda dengan penelitian sebelumnya. Teori tersebut yakni analisis wacana kritis berbasis gender Sara Mills dibantu dengan teori ketidakadilan gender Mansour Fakih, yang diterapkan terhadap sebuah karya novel yang merupakan salah satu media literasi sastra berbasis gender. Gambaran posisi aktor dan perilaku tokoh dalam kisah novel dapat membangkitkan kompetensi analisis wacana kritis terhadap mahasiswa. Sehingga mampu mengasah dan membedakan ragam menghindari berita bohong, terutama mengenai isi-isu gender yang marak dikalangan mahasiswa. Adapun permasalahan dalam penelitian ini yaitu bagaimana posisi aktor dalam wacana novel Lusi Lindri yang mengalami bentuk ketidakadilan gender? yang dapat digunakan sebagai alternatif media literasi sastra berbasis gender di perguruan tinggi. Tujuan penelitian mendeskripsikan posisi aktor dalam wacana yang bersumber pada teks novel, baik posisi aktor sebagai subjek maupun objek yang mengalami bentuk ketidakadilan gender ditinjau berdasarkan analisis wacana kritis (AWK) Sara Mills, dan pembelajaran literasi sastra berbasis gender di perguruan tinggi. Tujuan lainnya yaitu diharapkan dapat memberikan sumbangsih pemikiran terhadap pengentasan problematika pembelajaran literasi sastra berbasis METODE Penelitian ini memanfaatkan jenis penelitian kualitatif-linguistik kritis bersifat deskriptif. Data penelitian berupa kata, frasa, klausa, kalimat yang bersumber pada novel Lusi Lindri karya Y. Mangunwijaya. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumentasi, baca simak, dan Peneliti sebagai instrumen kunci penelitian. Teknik analisis data Prosedur analisis data mengacu pada pandangan model analisis wacana kritis Sara Mills . yang menitikberatkan pada pemosisian penggambaran aktor tersebut dalam cerita baik sebagai subjek pecerita maupun objek yang diceritakan. Pengkategorian bentuk ketidakadilan gender yang dialami oleh para aktor Mansour Fakih . yakni bentuk marginalisasi, subordinasi, stereotip, kekerasan, dan beban ganda. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan uraian yang telah disampaikan pada bagian pendahuluan mengenai berbagai macam fenomena mahasiswa yang kurang peka terhadap budaya sekitar sehingga berbuntut mencederai harkat, martabat, dan gender, maka dari itu dipandang perlu menyajikan sebuah analisis karya sastra prosa dalam bentuk novel sebagai Fatimah/ Posisi Aktor dalamA Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 16 No. Januari 2023 Hal 1-18 media literasi berbasis gender yang ditelisik lebih mendalam melalui pandangan analisis wacana kritis sebagai media referensi relevan dalam pembelajaran literasi sastra berbasis Adapun Model analisis wacana dikemukakan oleh Sara Mills . analisisinya yaitu posisi aktor sebagai subjek-objek. Posisi subjek sebagai pendominasi atau terdominasi, maupun posisi objek sebagai pendominasi atau Subjek pencerita atau penderita atau objek pelaku atau Setelah menentukan posisiposisi aktor tersebut, kemudian ditemukanlah bentuk ketidakadilan gender meliputi bentuk marginalisasi, subordinasi, stereotip, kekerasan dan beban ganda (Fakih, 2. Berikut bentuk analisisnya. Posisi Subjek Terdominasi Puan Buchori dan Lusi Lindri Subjek Marginalisasi (Penguasaan Perempua. AuLalu apa guna pula benteng kecil di tepi kolam dengan lubang-lubang sempit yang diperuntukkan bagi rajamu itu? Lusi tak dapat apa-apa kecuali diam. Malu bercampur marah berkecamuk dalam hatinya. Memang, setiap orang tahu, sampai di Betawi pun, di tengah kolam besar keputrian istana ada bangunan yang hanya boleh dipakai Susuhunan. Oh, jadi jika dulu itu para Trinisat Kenyah sering diundang penuh ramah tetapi setengah harus ikut mandi di situ, maka untuk maksud begituankah itu sebenarnya? Benci, sungguh membuat Lusi merasa diri Dan itu terjadi Bodoh. Sungguh kerbau-kerbau dia dengan kawan teman Trinisat Kenya itu. Tetapi bukankah semua wanita milik Raja? Apakah Nyai Pinundhi tahu juga? Ah, terserah! Toh itu sudah masa lalu yang tak akan Ay (Mangunwijaya. LL, 2019:. (D. Berdasarkan kutipan . dapat dijelaskan bahwa saat Lusi berbincang dengan Puan Buchori di Ibukota. Puan menyinggung mengenai adanya sebuah bangunan yang berupa benteng kecil di tengah kolam istana, tempat yang khusus dipakai oleh Raja, yang belakangan diketahui bahwa benteng itu tempat mengintip perempuan yang sedang mandi. Berdasarkan penjabaran kutipan dapat diketahui bahwa aktor yang berposisi subjek pencerita diperankan oleh Puan Buchori dan Lusi sebagai subjek terdominasi. Sedangkan objek pendominasinya adalah Raja. Sebagai subjek Puan Buchorilah yang bercerita, dan Lusi mendengar sambil mengulangi ingatan saat ia masih menjadi AuTrinisat Kenyah yang selalu diundang secara ramah dan harus ikut mandi di kolam besar tersebut. Ay Walaupun berposisi sebagai objek Raja jelas telah melakukan pemarginalan pada wanita istana, baik Trinisat Kenyah (Lus. maupun perempuan lainnya, karena telah mengharuskan mereka untuk mandi di pancuran dengan tujuan mesum yiatu ingin di Tindakan raja ini merupakan bentuk ekploitasi atau penguasaan terhadap perempuan. Fatimah/ Posisi Aktor dalamA Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 16 No. Januari 2023 Hal 1-18 Posisi Objek Terdominasi Lusi Lindri dan Perempuan yang dikuasai Raja Objek Marginalisasi (Eksploitas. AuLapisan keputrian paling inti, yang keselamatannya sebagian besar adalah tanggung jawab pasukan Trinisat Kenya juga, ialah dua ratus selir Susuhunan yang berkelompok dalam empat gugusan gandok. Setiap gugusan ada di bawah kewibawaan empat istri perdana yang dinikahi Raja secara resmi, sesuai dengan agama, masih ditambah lagi para waranggana, kira-kira 150 orang wanita muda khusus, yang mahir menari dan memainkan gamelan, yang merdu menyanyi namun juga cukup terlatih dalam oleh Ay (Mangunwijaya,LL,2019:. (D. Berdasarkan kutipan dapat dijelaskan bahwa salah satu tugas Lusi sebagai Trinisat Kenyah adalah menjaga harta benda Sri Susuhunan termasuk 200 selir, empat istri perdana, 150 Waranggana yaitu perempuan yang pandai menari, bermain musik. Berdasarkan penjabaran posisi aktor sebagai objek terdominasi ditempati oleh Lusi dan perempuan-perempuan milik Raja. Ditinjau dari posisi objek Lusi dan perempuan-perempuan milik masing-masing ketidakadilan dalam hal eksploitasi atau penguasaan, hal ini terlihat pada kutipan, disebutkan bahwa kurang lebih 350 perempuan yang dikuasai oleh Raja, empat istri perdana, 200 selir dan 150 Waranggana. Raja berhak keinginannya terhadap perempuanperempuan milik Raja tersebut. Lusi sendiri sebagai salah satu dari 30 perawan pengawal pribadi Raja dalam melaksanakan tugas perlindungan Raja, melaksanakan perintah Raja atau gagal menjaga harta benda Raja. Praktik eksploitasi ini bermuara pada bentuk Lusi dan Istri Dalang (Ratu Malan. Objek Marginalisasi (Pemaksaan Menjadi Selir Raja II) . AuSiapa wanita cantik yang Den Rara antarkan itu?" tanya nenek itu ingin tahu. "Menurut petunjuk rahasia dari keputrian Kedaton, ruang tidur beliau harus istimewa dan sendirian. Tadi malam kok terdengar menangis beliau. "Entahlah, (Hampir saja Lusi menyebut Ratu Ibu. Tetapi cepat-cepat ia katakan,). Tumenggung Wirapatra. Mangunwijaya. LL, 2019:. (D. AuWanita ayu dari keranon yang mereka antar dalam tugas ini, dan yang diterka Mbah Kunir sedang hamil tadi, sudah mendahului dan masuk ke dalam rumah. Apa Mbah Kunir dan Kakang Peparing sudah tahu bahwa janda dari Keranon itu sudah dijadikan milik Susuhunan Mangkurat?Ay (Mangunwijaya. LL, 2019:. (D. Fatimah/ Posisi Aktor dalamA Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 16 No. Januari 2023 Hal 1-18 Berdasarkan kutipan . , dan . dapat dijelaskan bahwa telah ada penawar bagi kelemasan lingga sang Raja, yakni seorang istri Dalang yang sebelumnya dibunuh. Perempuan Tejarukmi. Namun Raja kedatangan wanita tersebut. Sehingga Lusi diminta untuk menjemput perempuan itu pada tengah malam. Berdasarkan penjabaran posisi subjek dan objek, posisi subjek pendominasi diperankan oleh Ratu Ibu. Objek terdominasi adalah Lusi dan istri Karena Lusilah diceritakan diperintah oleh Ratu untuk mejemput istri Dalang. Ditinjau dari posisi aktor sebagai subjek dan posisi objek, ditemukan bahwa terjadi ketidakadilan gender yang dialami oleh perempuan istri dalang dan Lusi. Lusi di perintahkan untuk mengemban tugas yang bertaruh nyawa dan Perempuan istri dalang yang akan diangkat menjadi selir, setelah suaminya dibunuh, secara keji oleh utusan sang Raja. Perempuan tersebut sedang daam keadaan hamil kemudian dilakukan penjemputan secara rahasia yang menimbulkan sedih yang sangat mendalam. Hal tersebut tampak pada kutipan . AuTadi malam kok terdengar menangis beliau. Ay Reaksi AumenangisAy berarti terdapat sebuah kesedihan yang sangat diungkapkan, tekanan berupa ketakutan dan ketidakrelaan. Ditambah lagi perkara kutipan . Auwanita ayu tersebut diterka Mbah Kunir sedang hamilAy namun harus rela menjadi selir karena sejatinya semua perempuan dilingkungan kerajaan adalah milik Susuhunan. Hal ini termasuk salah satu bukti kekuasaan sang raja, yang mampu mengeksploitasi kehidupan perempuan, dan merupakan salah satu bentuk ketidakadilan gender dalam bentuk Lusi Lindri Objek Subordinasi (Peremehan Perempuan dalam Melakukan Pekerjaan Publi. AuTetapi mengapa harus mempergunakan utusan yang masih remaja seperti itu? Apa tidak dapat mengutus seorang perwira yang cukup terpercaya, dewasa?Ay (Mangunwijaya. LL, 2019:. (D. Berdasarkan kutipan dpaat dijelaskan bahwa Saat Pangeran Purbaya menerima surat Ratu Ibu yang diantar oleh Lusi. Pangeran merasa sedikit sangsi dan menyayangkan mengapa Ratu Ibu memilih gendek yang masih sangat muda dan Berdasarkan penjabaran kutipan dapat diidentifikasi posisi aktor sebagai subjek diperankan oleh Pangeran Purbaya yang menerima surat dan menceritakan kesannya terhadap gendek Sang Ratu. Sedangkan objeknya sendiri adalah Lusi, gadis belia yang menjadi gendek kilat dan diceritakan oleh Pangeran Purbaya. Ditinjau dari posisi subjek dan objek terlihat bahwa Pangeran Purbaya mempercayai seorang perempuan muda yang bertugas menjadi penyampai pesan kilat dengan menunggang kuda. Hal ini terbukti pada potongan kalimat AuApa tidak dapat mengutus seorang perwira yang cukup terpercaya, yang AyKalimat menyatkaan kekecewaan Pangeran Purbaya tentang gandek perempuan yang diutus oleh Ratu Ibu, dengan menanyakan tidak adakah Auperwira yang cukup dewasa. Ay Dengan demikian Fatimah/ Posisi Aktor dalamA Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 16 No. Januari 2023 Hal 1-18 Pangeran Purbayan telah melakukan praktik ketidakadilan gender dalam bentuk subordinasi terhadap Lusi, dan menganggap Lusi sebagai sosok yang tidak penting, tidak layak memimpin apalagi setara dengan pria. 000 Perempuan Pelayan Raja Objek Subordinasi (Penempatan Pekerjaan Hanya dalam Sektor Domesti. AuTetapi sungguh tidak menyangka si Lusi, bahwa bertugas di dalam istana. Bagaimana mungkin dia akan dapat mengenal dan hafal mereka semua itu? Empat ribu perempuan bertugas selaku pembersih ruang-ruang dan lantai istana, di dapur dan di halaman, di tempat-tempat Banyak lagi yang bekerja di ruang-ruang tenun dan pembuat busana. Mereka semua diawasi oleh tiga ribu wanita tua yang bersenjata tombak atau keris, yang bergiliran menjaga sisi sebelah dalam dari tembok-tembok luar gugusan istana. Semua pintupintu mereka jaga dan keras tajam mereka amat-amati, siapa keluar atau masuk istana serta ruang-ruang kedaton. Selain itu masih tersedia tiga ribu wanita lain berusia sebaya, yang setiap saat siaga untuk mengiringi dan kerja bakti demi Susuhunan bila beliau ke mana pun ke luar Para wanita penjaga ring itu semua di bawah pimpinan dua orang Nyai Mas Parang dan Nyai Cinde. Ay (Mangunwijaya. LL, 2019:. (D. AuDi antara sekian banyak warasari itu. Lusi sungguh merasa diri betul-betul sebagai anak raksasi yang buruk rupa. Sepuluh perawan membawa perabot kebutuhan pribadi Raja, seperti kendi air minum, sirih dan pinang, pipa tembakau, api untuk menyalakan pipa, bokor air mawar harum, sebuah baju sutra bordiran apabila Raja alat-alat segulung tikar anyaman halus untuk duduk, dan payung Ay( Mangunwijaya. LL, 2019:. (D. Berdasarkan kutipan( . dapat dijelaskan bahwa saat Lusi memulai pekerjaannya sebagai Trinisat Kenyah, ada tugas penting yakni perempuan-perempuan istana yang menjadi tanggung jawabnya. Ada 000 perempuan dengan tanggung jawab lingkup domestik. Berdasarkan penjabaran kutipan dapat dijelaskan bahwa aktor yang berposisi subjek adalah Lusi yang bercerita mengenai perempuan pelayan Raja, dan objeknya 000 perempuan pelayan Raja. Ditinjau dari posisi subjek dan objek tersebut dapat diidentifikasi bahwa actor yang berposisi objek tersubordinasi dengan pekerjaan yang dikakukannya dalam sektor domestik termasuk dalam hal membersihkan ruang tidur, mengepel lantai, menenun dan lainnya. Kesemua posisi itu menyebabkan kesan perempuan hanya dijadikan sebagai pelayan, tidak diberi posisi-posisi pengambil kebijakan penting dalam istana. Fatimah/ Posisi Aktor dalamA Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 16 No. Januari 2023 Hal 1-18 Lusi Objek Stereotip (Pemberian Label Status Sosial Perempua. AuUntuk kali ini, agar bebas sentuhan lelaki, racun Pangeran Selarong hanya boleh diambil oleh seorang perawan kencur yang kebetulan ibunya janda, dan yang punya darah bukan keturunan Jawa. Itu syaratnya kali ini. Ay (Mangunwijaya. GD, 2019:. (D. Berdasarkan kutipan dapat dijelaskan bahwa Ada sebuah syarat yang diberikan oleh Pangeran Selarong kepada Swita Praja perihal racun yang diberikan agar dapat beraksi secara Syaratnya yaitu harus diambil oleh serong perawan kencur, beribu janda, dan berdarah campuran bukan Jawa. Kesemua ciri-ciri tersebut merujuk pada Lusi, sehingga yang mengembil racun tersebut adalah Lusi. Berdasarkan penjabaran kutipan dapat dijelaskan bahwa aktor yang berposisi subjek adalah Pangeran Selarong dan objeknya adalah Lusi. Ditinjau dari posisi subjek dan objek dapat didientifikasi bahwa tokoh Lusi, memberikan label kepada Lusi. Mencangklongkan sebutan-sebutan yang merujuk pada status seorang Sebut saja label Auperawan dan janda. Ay Keduanya mengandung makna negatif jika dikorelasikan dengan racun yang harus Mengapa perempuan selalu menjadi perantara hal yang negatif, karena penguasa berpandangan bahwa seorang perawan kencur apalagi anak seorang janda tidak akan menimbulkan kecurigaan khalayak. Selain itu juga dinilai bahwa aman rasanya jika yang dipilih sebagai kurir adalah Lusi karena ia adalah seorang perempuan yang berdasarkan kebiasaan masyarakat tidak akan singgah di kedai untuk minum arak dan menyatakan misi rahasia yang sedang ia jalankan. Sebutan semacam ini justru membuat perempuan merasa terlebel dan akan berakhir pada praktik subordinasi yang pada kenyataannya Kusir Perempuan Objek Stereotip (Penghinaan Bentuk Tubuh, dan Penyepelehan Perempuan Bekerja dalam Sektor Publi. AuMengapa mengambil kusir perempuan, gemuk lagi. Ay AuTetapi jago berkelahi dia. Mbah. Cuma susahnya, dia itu pendiam tak ketolongan. Sulit diajak bicara atau ngobrol. Entah orang apa dia ini. Tetapi Ay (Mangunwijaya. LL, 2019: . (D. Au. "Aneh. Tetapi jangan marah lho. Jeng. Mbah Kunir terus terang tidak percaya dia Kulihat eh maaf, kok begitu persegi, dan. jakunnya, eh Pasti lelaki dia. Cuma. " (Mangunwijaya. LL, 2019:. (D. Berdasarkan kutipan . dapat dijelaskan bahwa Mabah Kunir sedang berbincang dengan Lusi, mengenai alasan memilih kusir perempuan yang gemuk sebagai kusir. Hal ini kemudian dibantah oleh Lusi bahwa kusirnya walaupun gemuk tapi mahir olah senjata. Pada kutipan dijelaskan bahwa tokoh yang bercerita adalah Lusi dan Mbah Kunir dan yang Fatimah/ Posisi Aktor dalamA Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 16 No. Januari 2023 Hal 1-18 diceritakan adalah kusir teman seperjalanan Lusi. Ditinjau dari posisi pencerita dan orang yang diceritakan, maka walau dengan nada ringan dan tidak bermaksud menyinggung, namun kalimat data . AuMengapa mengambil kusir perempuan, gemuk lagiAy yang diungkapkan oleh Mabah Kunir mengandung ungkapan yang stereotip terhadap perempuan Berdasarkan adat kebiasaan, yang menjadi kusir selalu laki-laki, namun kali ini yang menjadi kusir adalah seorang perempuan yang bertubuh gemuk. Sesuai dengan lebel perempuan kerajaan pada umumnya bertubuh proporsional, ayu, molek dan tentunya tidak Aubertubuh gemuk dan berjakun menonjolAy. Pernyataan demikianlah yang melanggengkan bentuk ketidakadilan gender dalam novel ini. Istri Kepala Kampong Objek Stereotip (Pemberian Julukan Merendahakan Perempua. AuTutup mulutmu, kau bini babi! Nyi Rara Kidul adalah kekasih dan pemberi kesaktian untuk Panembahan Senapatiing Ngalaga beserta seluruh keluarga raja keturunannya, heh! Jadi tingkatnya jauh lebih tinggi heh, dari raja-raja Mataram, tahu? Jangan asal berlidah hitam gambir sirih itu. (Mangunwijaya. LL, 2019:. Ay. AuMaafkan. Raden Ayu, maafkan bini saya ini yang. perempuan gunung. Maka omongnya ya seperti bunyi bongkahan batu item yang melorot saja. Lidahnya seperti arus lahar. Yah, maklumlah. Dan bahasanya seperti bekisar Tetapi maafkan dia. Raden Ayu. Maksudnya bukan menghina para Raden Ayu. Ay (Mangunwijaya,LL, 2019:. (D. Berdasarkan kutipan dapat dijelaskan bahwa saat melakoni pelarian dari tempat satu ke tempat lainnya, berbekal surat jalan Trinisat Kenya, tinggallah Duku dan anaknya Lusi di rumah seorang kepala kampong, dan dijamu baik oleh tuan rumah. Namun ada sebuah hal yang menjadi perhatian yaitu ungkapan bapak penatus terhadap istrinya, yakni menyamakan istrinya dengan hewan yakni babi dan menghubungkan perkataan istrinya dengan asal tempatnya tinggal dahulu yakni Sehingga muncullah hinaan Auomongnya yang seperti bunyi bongkahan batu item yang melorot Lidahnya seperti arus lahar. Yah. Dan bahasanya seperti bekisar sekarat. Ay Praktik stereotip semacam ini menjadikan perempuan merasa diperlakun kasar dan berujung pada subordinasi perempuan. Perempuan Ibu Kota Kekerasan (Budak Sek. Objek . AuTak ada gunanya menangis," hibur Nyonya Buchori. "Setiap hari pasti ada lima atau tujuh orang mati di situ. Lebih baik mereka menghadap Allah daripada serba sengsara di Luar Batang. " Ketika Lusi menoleh dan melihat ke luar dilihatnya mayat perempuan tadi terikat tali-tali pada batang bambu satu tadi. Fatimah/ Posisi Aktor dalamA Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 16 No. Januari 2023 Hal 1-18 digotong dua lelaki menuju ke pantai. Bayi dalam kandungan itu pasti masih hidup, pikir Lusi. Tetapi boleh jadi jauh lebih baik dia dibiarkan bersama ibunya (Mangunwijaya. LL, 2019:. Ay (D. AuOrang-orang Pe-O-Se menamakan rumah-rumah itu 'Keju- keju Jawa'. Nama yang jenaka sebetulnya, tetapi kenyataannya sangat Itu tempattempat mesum wanita-wanita kita yang menghibur kelasikelasi. AuYa, begitulah perasaan semua wanita yang punya kehormatan diri dan memang kesempatan itu. Mereka bukannya suka, tapi terpaksa. Kita jangan terlalu gampang menghina mereka. Di negeri Niken, kemiskinan, kejahatan, dan pelacuran selalu merupakan Ay (Mangunwijaya. LL, 2019:. (D. Berdasarkan kutipan . dapat dijelaskan bahwa saat Lusi diantar jalan-jalan bersama Puan Buchori keliling kota, dia melihat dipnggir pelabuhan ada seorang perempuan tengah hamil dan sangat kurus, lemas takberdaya dan akhirnya Puan menjelaskan bahwa hal itu lumrah terjadi dan bahkan menunjukkan bahwa disekitar sini ada sebuah rumah pelacuran yang disebut Keju-Keju Jawa, perempuan pribumi melayani para Hal ini terjadi bukan tanpa Bahwa di negeri ini kemiskinan, kejahatan dan pelacuran termasuk masalah yang tidak bisa dipisahkan. Berdasarkan penjabaran kutipan dapat dijelaskan bahwa posisi subjek pencerita diperankan oleh Puan Buchori dan Lusi. Objek dominasi yang ceritakan adalah Perempuan Ibu Kota yang menjadi pelayan kelasi-kelasi. Berdasarkan posisi tersebut dapat diidentifikasi terjadi ketidakadilan terhadap perempuan pribumi, yakni dijadikan budak seks, dalam hal pelacuran, dimiskinkan, dan dihamili tanpa ada bentuk pertanggungjawaban dan akhirnya mati sia-sia. Hal tersebut tercermin pada potongan kalimat AuMereka bukannya suka, tapi terpaksa. Kita jangan terlalu gampang menghina mereka. Di negeri seperti ini. Niken, kemiskinan, kejahatan, dan pelacuran selalu merupakan tritunggal yang tak Ay Begitu menyedihkannya hidup perempuan tanah ini dalam Tindak kekerasan ini termasuk salah satu poin dalam ketidakadilan Ratu Malang dan Pelayannya Objek Kekerasan (Peracunan. Pelecehan Seksual Penyiksaa. AuPara wanita pendamping istri terkasih Susuhunan yang akhirnya mati itu tentu terkena tuduhan berat bersekongkol membunuh wanita tercinta Raja yang kejam berjiwa aneh. Dendam kesumat Mangkurat tidak tanggung-tanggung. Lusi menghitung lebih dari 40 keranjang dengan isinya yang memelas itu. Tetapi jelas masih akan banyak lagi tumbal Fatimah/ Posisi Aktor dalamA Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 16 No. Januari 2023 Hal 1-18 menyusul, sebab pasti akan diselidiki, siapa yang pantas didakwa menyuruh peracunan Dan dengan racun buatan "(Mangunwijaya. LL, 2019:. (D. Berdasarkan dijelaskan bahwa sebuah peristiwa yang menyedihkan tengah terjadi pada Ratu Malang, istri raja yang paling disayang. Ratu malang teracuni oleh sesorang sehingga menyebabkannya Kasus kematian tersebut oleh Sang Raja sangat disayangkan. Kematian ini berakibat pada terusirnya 40 wanita yang tentunya disiksa habishabisan lalu di masukkan dalam keranjang rumput dan dibuang keluar 40 wanita tersebut adalah pelayan setia Ratu Malang, dan tentunya korban akan semakin bertambah hingga terungkap siapa yang meracuni istri tercinta. Berdasarkan kutipan dapat ditemukan posisi subjek pencerita diperankan oleh Lusi yang sedangkan objek dominasinya adalah Ratu Malang Objek pedominasi tentu saja Raja Mangkurat. Kesemua perempuan yang berposisi objek kekerasan, hal tersebut tampak pada penggunaan Frasa AuDendam KesumatAy, frasa ini bermakna rasa benci yang sangat mendalam sehingga berdampak terhadap semua yang dicurigai sebagai penyeban kematian Ratu. Dendam ini perempuan lain dalam istana. Rara Oyi Objek Kekerasan (Perdagangan Manusia Pembunuha. AuGadis cilik baru sebelas tahun yang masih suka memetik bunga-bunga di ladang ini ditemukan oleh punggawa-punggawa Istana Plered. Untuk apa dan siapa? Untuk pengganti Kanjeng Ratu Malang. Dan pada sumur berbau harum itulah si gadis kelewat jelita. Rara Oyi, ditemukan lalu dibeli dari ayahnya. Karena masih terlalu kecil, si Oyi dititipkan dahulu dalam rumah kepada menteri kepedak. Ngabehi Wirareja. "(Mangunwijaya. LL, 2019:. (D. Berdasarkan kutipan dapat dijelaskan bahwa Lusi bergidik ketika mengingat nama Rara Oyi, gadis cilik Ratu Malang ditemukan oleh seorang mantri dengan tanda sumur yang berbau harum. Rara Oyi yang masih berumur 11 tahun saat dibeli dari ayahnya, sehingga disimpan agar lebih matang lalu diserahkan kepada Sang Raja tua. Berdasarkan penjabara kutipan dapat dijelaskan bahwa posisi subjek pencerita terletak pada Lusi yang bercerita mengenai Rara Oyi yang berperan sebagai objek dominasi. Ayah Oyi dan Raja temasuk objek pelaku dominasi Ditinaju dari posisi subjek dan objek. Rara Oyi berposisi objek telah diperlakukan tidak adil oleh ayahnya dan Raja. Ayahnya telah menjual Rara Oyi dan Sang Raja ingin memperistri anak yang masih berusia 11 tahun. Hal ini termasuk bentuk perdangangnan manusia. Fatimah/ Posisi Aktor dalamA Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 16 No. Januari 2023 Hal 1-18 Perempuan Puri Objek Kekerasan (Fisik dan Psikis Saat Peperanga. AuDengan berlinanglinang Nyi Duku memandang ke Puri Singaranu yang sudah mulai mengepulkan asap Pilu merenungkan nasib sekian ribu wanita dan anak-anak yang tampak sedang digiring Berapa yang akan tergeletak tanpa nyawa lagi, tergojlok? Apa arti tangis nenek-nenek memelas sekian banyak anak tanpa dosa bagi lelaki-lelaki buas, yang dalam keadaan seperti itu sudah terbius beringas-berangas oleh rohroh jahat. dan tahunya melubangi dada-perut, dan mendadak pada pangkuan pangkuan penyayang yang menimang-nimang mereka sewaktu kecil? Tak ada seorang pun dari memantau di puncak Bukit Kelir itu kemudian berminat Ay (Mangunwijaya. LL, 2019:. (D. AuMangkuyuda. Panglima Madura. Demang Anggantaka dari Semarang bermarkas di dalam Keraton Plered bermesum gila dengan ratusan selir dan dayangdayang Susuhunan yang belum sempat melarikan diri. Tiga ratus ribu rial dalam peti harta Raja ditemukan dan Ay (Mangunwijaya. LL, 2019:. (D. Berdasarkan kutipan . dapat dijelaskan bahwa setelah kepergian seluruh putra Raja dan Putra Mahkota maka Istana Plared di Mataram mulai sunyi, lalu tanpa penjagaan ketat. Hal ini kemudian dimanfaatkan para pemberontak untuk menghacurkan Puri dan memangsa semua perempuan ayu dan cantik yang belum sempat melarikan diri. Setelah dinikmati maka semua kemudian dibunuh dan ikut dibumi hanguskan bersama tembok-tembok puri istana. Berdasarkan narasi yang diceritakan terdominasi diperankan gadis dan wanita ayu, berperedikat selir atau dayang yang dimangsa oleh para pemberontak yang berposisi subjek. Perempuan-perempuan tersebut sekali lagi diperlakukan secara tidak adil dengan dicabuli, dilecehkan, diperkosa disiksa, dan dibumihanguskan bersama diding-dinding istana. Hal ini termasuk tindakan kekerasan. Lusi Objek Beban Ganda . AuSudah dua belas tahun Lusi belajar menghayati kehidupan perempuan petani dan bertahan. Pada bulanbulan awalnya terasa sangat Tetapi semakin hari Lusi semakin merasa senang. Lebih-lebih lagi sesudah anak pertama, yang lahir dari Tidak sekali jadi penguasaan seni mengibui anak tiri bersama anak rahim sendiri dapat dikuasai dan berjalan adil. Namun rasa syukur terhadap yang hidup Fatimah/ Posisi Aktor dalamA Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 16 No. Januari 2023 Hal 1-18 dan segala kesempatannya yang indah mempermudah perkembangan dari Lusianak ke Lusi-istri-serta-ibu. Nenek Kunir masih tetap segar-bugar, dan merupakan penopang batin yang sangat kuat bagi ibu muda yang harus hidup tirakatan serba Ay (Mangunwijaya. LL, 2019:. (D. Berdasarkan kutipan dapat dijelaskan bahwa setelah mencoba hidup diberbagai tempat, muncul ide Lusi untuk tinggal bersama ibunya menjadi perempuan petani dan di waktu yang bersaman harus menjadi pengurus rumah tangga. Berdasarkan posisi aktor sebagai subjek pencerita adalah Lusi yang mengalami beban ganda yaitu sebagai pengatur rumah tangga dan Merujuk penjabaran contoh kutipan novel Lusi Lindri karya YB. Mangunwijaya dapat digambarkan bahwa posisi aktor baik sebagai subjek maupun objek memberikan gambaran sikap-sikap yang masih relevan dengan kehidupan saat ini. Maraknya praktik marginalisasi berupa eksploitasi atau penguasaan perempuan, subordinasi berupa peremehan perempuan yang dinilai tidak dapat bekerja pada sektor publik dan hanya kompeten dibidang Perilaku stereotip atau pemberian label perempuan sebagai perawan kencur, sebutan janda, babi, bekisar sekarat, dan perempuan gunung, bahkan perempuan gemuk. Perilaku kekerasan, seperti kekerasan fisik, perdagangan manusia, budak seks, pencabulan, dan pembunuhan. Beban ganda pun masih sering disaksikan dalam kehidupan sehariAe Penggambaran konkret dalam novel ini diharapkan mampu menjadi studi media pembelajaran, yang relevan untuk diingatkan maupun ditanamkan kepada mahasiswa bahwa sikap-sikap tercela seperti pada contoh kutipan tidak baik dan tidak patut dicontoh. Gambaran perilaku pada kutipankutipan pada data penelitian merupakan perilaku yang mungkin tidak disadari dan dianggap lumrah di dalam Padahal kasus demikian dapat menjadi isu gender yang menimbulkan ketidakadilan bagi salah satu pihak, seperti yang tampak pada kutipan novel Lusi Lindri yang telah kita bahas. Penggambaran temua data yang telah dibedah menggunakan analis wacana kritis model Sara Mills . dipadukan dengan teori ketidakadilan gender Mansour Fakih . , untuk gender yang kemudian dapat dijadikan cerminan perilaku yang tidak patut untuk dicontoh merupakan titik kebaruan dan pembeda penelitian ini dengan penelitian terdahulu lainnya. Misalnya Raharjo . Putri . walaupun penelitian yang dilakukan sama-sama memanfaatkan media novel sebagai objek material kajian, namun berbeda dari segi objek formal atau pisau bedahnya. Begitupun dengan penelitian yang dilakukan oleh Goziyah . yang walaupun sama-sama sasaran kajiannya mahasiswa namun pendekatan yang digunakan bukanlah berupa novel melainkan berupa film. Sehingga dapat ditarik sebuah benang merah bahwa ketiga penelitian sebelumnya memiliki persamaan tujuan yakni memanfaatkan media novel maupun film sebagai contoh konkrit Fatimah/ Posisi Aktor dalamA Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 16 No. Januari 2023 Hal 1-18 dalam penanaman nilai karakter di SMA maupun perguruan tinggi. Namun memanfaatkan gambaran posisi actor dan perilaku tokoh dalam kisah novel untuk menemukan contoh bentuk ketidakadilan gender belum pernah Diharapkan hadirnya penelitian ini dapat membangkitkan daya analisis wacana kritis mahasiswa dan meningkatkan kompetensi literasi berbasis gender. Sehingga mampu mengasah dan membedakan ragam menghindari berita bohong, terutama mengenai isu-isu gender yang marak dikalangan mahasiswa. PENUTUP Berdasarkan hasil analisis dan disimpulkan bahwa, melalui kajian analisis wacana kritis Sara Mills dengan bantuan teori ketidakadilan gender Mansour Fakih ditemukan bahwa aktor perempuan yang menempati posisi sebagai subjek terdominasi adalah Puan Buchori dan Lusi Lindri. Sebagai subjek yang menceritakan marginalisasi perilaku penguasaan perempuan yang dilakukan oleh Raja. Adapun aktor perempuan yang menempati posisi objek terdominasi, atau aktor yang diceritakan mengalami ketidakadilan gender diantaranya . Lusi Lindri dan Ratu Malang yang mengalami marginalisasi dalam hal eksploitasi perempuan . emaksaan menjadi seli. 000 perempuan subordinasi . emberian pekerjaan hanya dibidang domestik rumah . Lusi Lindri. Kusir Perempuan, dan Istri Kepala Kampong, masing-masing sebagai objek stereotip dalam hal pemberian label dengan nama binatang, status sosial . ebutan perawan kecur dan jand. , bentuk tubuh tidak ideal . erempuan gemu. , pemberian julukan yang merendahkan perempuan . abi, bekisar sekarat, perempuan gunung, bongkahan batu item, dan lidah arus laha. Perempuan Ibu Kota. Ratu Malang. Rara Oyi. Perempuan Puri diceritakan sebagai kekerasan fisik, verbal, dan psikis. Lusi Lindri sebagai objek beban ganda dalam hal bekerja dalam sektor publik dan sektor domestik secara bersamaan. Posisi-posisi berperan sebagai subjek maupun objek terdominasi yang mengalami berbagai bentuk ketidakadilan gender dalam novel ini dapat menjadi gambaran konkret perilaku amoral yang masih sering terjadi dilingkungan sekitar kita, yang menjadi isu gender yang mesti diperangi, dan tentunya tidak untuk Melalui kajian ini mahasiswa diharapkan memperoleh kompetensi tambahan mengenai gambaran posisi aktor dalam analisis wacana novel yang dilakukan secara kritis berbasis gender, sebagai alternatif media literasi sastra berbasis gender di perguruan tinggi. Dapat menajamkan sikap kritis dan inovatif mahasiswa, menjadi generasi yang telah siap menghadapi dan memerangi segala bentuk ketidakadilan Menanamkan dalam diri bahwa yang biasa belum tentu benar, dan yang benar hendaknya dibiasakan. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi wujud bantuan kepada mahasiswa, dosen, dan tenaga pengajar lainnya dalam hal penyediaan media alternatif literasi sastra berbasis gender di lingkungan perguruan tinggi. Selain memaksimalkan penelitian ini dengan mencari peluang kajian lebih lanjut mengenai novel Lusi Lindri. Sebagai wujud peran dan turut andil dalam mengentaskan problematika kehidupan Fatimah/ Posisi Aktor dalamA Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 16 No. Januari 2023 Hal 1-18 melalui produk karya sastra termasuk dalam dunia pendidikan. DAFTAR PUSTAKA