Jayapangus Press Jurnal Penelitian Agama Hindu Volume 10 Nomor 3 . ISSN : 2579-9843 (Media Onlin. Ngerebeg Nini Sebagai Aktualisasi Memori dan Tindakan Kolektif Masyarakat Desa Silangjana Dalam Habitus Liturgi Agraris Putu Sanjaya*. Putu Subawa. Luh Wantari. Putu Periyasa Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan. Singaraja. Indonesia *putusanjaya947@gmail. Abstract Ngerebeg nini has become an agrarian practice based on the socio-religious beliefs of the people of Silangjana Village, a vertical relationship with Dewi Sri, a horizontal relationship between humans and the universe, as well as other metaphysical The purpose of this research is to provide an explanation regarding the nature of agrarian community actions in rituals. This research applies a qualitative method within the framework of a case study. Data collection triangulation was conducted intensively for 1 month, without any distractions. The focus of the research became more directed because the researchers employed the purposive sampling method, having already determined the informants to be interviewed, starting from the subak leader, subak members, and jro mangku. After the data was collected and accumulated, thematic data analysis was conducted, involving reading, redefinition, reinterpretation, explanation, and conclusion of empirical data synchronized with relevant paradigms. Finally, data validity was applied thru source triangulation techniques, aimed at verifying the redefinition, reinterpretation, and explanation of the research results. Ngerebeg nini as an agricultural-based ritual ceremony performed by the community in Silangjana Village, as well as a representation of agrarian rituals, can be viewed from a theoretical perspective, particularly thru the paradigms of memory and collective action. Ngerebeg nini, from the perspective of habitus, as a manifestation of the mindset and actions of the agrarian community, is consistently carried out due to the system of idea inheritance from one generation to the next. Ngerebeg nini becomes a system of liturgical-based communalism that is generative, due to the legitimacy of Hinduism and social Keywords: Ngerebeg Nini. Collective Memory-Action. Habitus Abstrak Ngerebeg nini menjadi praktik agraris berbasis sosio-religius masyarakat Desa Silangjana, relasi vertikal dengan Dewi Sri, hubungan horizontal antara manusia dengan alam semesta serta unsur-unsur metafisik lainnya. Tujuan dari penelitian ini adalah memberikan penjelasan mengenai hakikat tindakan masyarakat agraris dalam berupacara. Penelitian ini mengaplikasikan metode kualitatif, dalam selingkung studi kasus. Triangulasi pengumpulan data dilakukan secara intensif selama 1 bulan, tanpa adanya Fokus penelitian menjadi lebih terarah karena, peneliti melakukan metode purposive sampling, yakni sudah menentukan informan yang akan diwawancarai, mulai dari kelian subak, krama subak dan jro mangku. Setelah data dikumpulkan dan diakumulasi, dilakukan analisis data berbasis tematik, dengan melakukan pembacaan, redefinisi, reinterpretasi, eksplanasi serta konklusi data empiris yang disinkronisasi dengan paradigma relevan. Terakhir, validitas data diaplikasikan melalui teknik triangulasi sumber, bertujuan untuk melakukan verifikasi dari redefinisi, reinterpretasi serta eksplanasi hasil penelitian. Ngerebeg nini sebagai ritus upacara berbasis pertanian yang dilakukan oleh masyarakat di Desa Silangjana, serta sebagai representasi ritus https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH agraris dapat dilihat dalam perspektif teoretis, terutama paradigma memori serta tindakan Ngerebeg nini dalam perspektif habitus sebagai wujud pola pikir dan tindakan masyarakat agraris, konsisten dilaksanakan karena adanya sistem pewarisan ide dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Ngerebeg nini menjadi sistem komunalisme berbasis liturgi yang bersifat generatif, karena adanya legitimasi agama Hindu serta konstruksi Kata Kunci: Ngerebeg Nini. Memori-Tindakan Kolektif. Habitus Pendahuluan Liturgi merepresentasikan akumulasi memori dan tindakan kolektif, yang diimplementasikan oleh individu ataupun komunitas lokal. Ritus yang diaktualisasikan menunjukkan aktualisasi esensi manusia sebagai homo esparan sekaligus homo religious. Homo esparan menunjukkan entitas yang selalu berharap, sedangkan homo religious mengindikasikan entitas yang memiliki kehendak menyatu atau melakukan unifikasi pada hakikat causa prima (Tuhan Yang Maha Es. (Mingming, 2. Dua terma di atas, menegaskan keberadaan manusia dalam karakternya sebagai monopluralistik, menunjukkan integrasi individu tidak hanya pada lingkungan sosial, melainkan pada domain agama. Irisan antara konsep homo esparan dan homo religious mengarahkan praktikpraktik berbasis sosio-religius sebagai identitas serta habitus sosial (Kendrick, 2. Hakikat manusia sebagai entitas pengharap dan entitas religius, menciptakan struktur serta sistem berbasis agama. Sistem berbasis agama, mengalami relativisasi, sesuai dengan kondisi sekitar. Salah satu implementasi sistem sosio-religius, jamak ditemukan pada masyarakat agraris, yang melihat tanah pertanian bukan sekadar entitas spasial, melainkan entitas supra-struktur, berkaitan dengan relasi vertikal antara manusia dengan pencipta (Burchardt, 2. Terbentuknya paradigma supra-struktur dan internalisasi nilai relasi vertikal dengan Tuhan Yang Maha Esa, selanjutnya terhabitualisasi melalui praktik-praktik religius khas masyarakat pertanian. Praktik-praktik tersebut menjadi akumulasi dari kebiasaan, pola perilaku, keyakinan dan visi menjaga harmonisasi antara manusia dengan semesta raya (Stolow & Meyer, 2. Salah satu liturgi berbasis keyakinan masyarakat pertanian adalah ngerebeg nini. Ngerebeg nini adalah praktik berbasis agama Hindu yang dilakukan oleh masyarakat Desa Silangjana. Buleleng. Bali. Upacara ini dilaksanakan pada saat panen padi dan menjadi simbol keterikatan petani dengan tanah, air, aspek biotik serta abiotik sebagai penunjang keberlangsungan kehidupan agraris. Dalam dimensi religiusitas, tradisi ini menegaskan relasi holistik masyarakat dengan keberadaan Dewi Sri, dan keterciptaan simpul niskala antara petani dengan unsur-unsur metafisik lainnya. Dilain sisi, ngerebeg nini dilaksanakan sesuai dengan dewasa ayu . ari bai. sesuai dengan sistem keyakinan astronomi masyarakat sekitar, dan dilaksanakan di area Pura Baleagung desa setempat. Pelaksanaan yadnya berbasis pada habitualisasi masyarakat agraris, dilegitimasi oleh Manava Dharmasastra i. 75, yang menyebutkan: swadhyaye nityayuktah syaddaiwe caiweha karmani, daiwakarmani yukto hi bibhartimdam caracaram. Artinya: hendaknya setiap orang yang menjadi kepala rumah tangga setiap harinya menghaturkan mantra-mantra suci Weda dan juga melakukan upacara pada para dewa, karena ia yang rajin dalam melakukan upacara kurban pada hakikatnya membantu ciptaan Tuhan yang bergerak maupun yang tak bergerak. Jika diinterpretasikan, habitus masyarakat pada sektor pertanian dengan memuja entitas Dewi Sri sebagai manifestasi kesuburan, legitimasi kitab suci dan pola perilaku https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH kolektif masyarakat lokal dalam melaksanakan upacara menunjukkan praktik memori serta tindakan kolektif berbasis agama Hindu. Maksudnya, ngerebeg nini tidak menjadi peristiwa tunggal, melainkan akumulasi multisektor, baik dalam dimensi sakralitas . eyakinan pada entitas dewa atau dewi, penggunaan dewasa ayu sebagai sistem astronomi dan legitimasi kitab suc. dan dimensi profan . raktik-praktik pertanian masyarakat setempa. Unifikasi antara sakralitas dan profanisasi, menghasilkan habitus sosio-religius (Behr & Shani, 2. Habitus merepresentasikan internalisasi dan konsistensi tindakan yang terdisposisi. Artinya, stimulasi individu atau masyarakat dalam mengamati sistem nilai masyarakat terdahulu, kemudian sistem itu terpatri, dilaksanakan dan terlegitimasi dengan capital agama, sosial dan keyakinan lokal (Conway, 2. Dilain sisi, habitus bersifat tahan lama, karena sistem nilai atau sistem perilaku sulit untuk diubah apalagi Skema ini menunjukkan, pewarisan sebuah tradisi mustahil tereleminasi dalam praktik sosio-religius masyarakat, khususnya masyarakat Silangjana. Penelitian dan publikasi yang menjelaskan keterikatan antara manusia dengan alam semesta ditelaah oleh banyak peneliti. Publikasi pertama, memberikan penjelasan tentang hakikat manusia dan alam semesta . sebagai dua entitas integratif. Manusia dengan semua capital yang dimilikinya, harus mengoptimalisasikan kemampuan dalam menjaga keberadaan alam semesta. Hal ini bertujuan untuk mencegah degradasi lingkungan, diakibatkan oleh akselerasi kehendak ekonomi yang destruktif (Dickens, 2. Publikasi kedua, memberikan penjelasan praktik-praktik agama merupakan hasil dari imajinasi spiritual serta ide-ide agama dalam menciptakan keterhubungan antara manusia. Tuhan dan semesta. Tugas manusia adalah menggunakan idiom agama dalam menjaga entitas lingkungan, agar tidak terdestruksi. Maka, upacara ataupun liturgi, menjadi salah satu solusi untuk menciptakan reposisi egaliter antara keberadaan individu, lingkungan dan entitas ketuhanan (Kendrick, 2. Publikasi ketiga, memberikan penjelasan konflik lingkungan menciptakan situasi chaos. Maka, manusia memiliki tugas moral untuk memediasi situasi konfliktual Ada berbagai cara yang bisa digunakan oleh individu ataupun masyarakat tertentu dalam menciptakan harmonisasi dengan alam, salah satunya dengan mengimplementasikan ide-ide agama dan mengontekstualisasikannya. Agama dalam persepsi native people memiliki sistem hukum, dan pada akhirnya menghasilkan keadilan bagi setiap entitas (Song et al. , 2. Publikasi keempat, memberikan penjelasan tentang hakikat civilizational. Terma ini memberikan penegasan tentang hakikat komunitas lokal yang bertanggung jawab dalam meredefinisi sekaligus merekonstruksi alam lingkungannya. Dalam pandangan poskolonial, masyarakat Selatan, terutama di Asia, menggunakan sistem keyakinan dan agamanya untuk menjaga alam. Sehingga, kepercayaan pada entitas spiritual yang menjaga sebuah wilayah, menjadi penanda individu atau masyarakat tidak boleh mendegradasi alam (Omer, 2. Publikasi kelima, memberikan penjelasan bahwa spiritualitas mengoneksikan antara manusia dengan alam semesta. Spiritualitas harus diinternalisasikan serta diaktualisasikan melalui liturgi. Dengan cara itu, individu akan selalu terhubung dengan lingkungannya (Demeulenaere et al. , 2. Novelty atau kebaruan penelitian tentang topik ngerebeg nini dengan kelima publikasi di atas, bisa dilihat dalam beberapa dimensi. Pertama, kelima penelitian terdahulu memberikan penekanan pada relasi antara manusia dengan alam semesta, sedangkan penelitian dengan topik ngerebeg nini memberikan fokus pada aspek tindakan, memori kolektif dan habitus masyarakat agraris, dengan spesifikasi locus di Desa Silangjana. Kedua, kelima publikasi di atas menggunakan berbagai persektif teori https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH dalam mengeksplanasi hasil penelitian. Sedangkan, penelitian dengan topik ngerebeg nini menggunakan perspektif Pierre Bourdieu tentang habitus sebagai kerangka analisis dalam menjelaskan praktik ritual masyarakat agraris di Desa Silangjana. Topik penelitian ngerebeg nini akan memberikan fokus pada dua formula rumusan masalah, yakni: . bagaimana aktualisasi memori dan tindakan kolektif ritus ngerebeg nini di Desa Silangjana?. bagaimana analisis habitus Pierre Bourdieu dalam ritus ngerebeg nini di Desa Silangjana? tujuan dari penelitian ini adalah memberikan penjelasan mengenai hakikat tindakan masyarakat agraris dalam berupacara. Upacara berbasis nilai agama Hindu, tidak hanya bermakna spiritual, melainkan memiliki substansi dalam meredefinisikan relasi vertikal antara manusia dengan Tuhan, dan relasi horizontal antara manusia dengan alam semesta. Dilain sisi, praktik-praktik agraris dan praktik liturgi, jika dilacak secara epistemologi, memiliki fondasi sebagai internalisasi karakter . yang dilaksanakan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Metode Penelitian ini mengaplikasikan metode kualitatif, dalam selingkung studi kasus . ase stud. Aplikasi studi kasus diaktualisasikan melalui pemilihan Desa Silangjana sebagai locus penelitian. Alasan pemilihan Desa Silangjana karena, tradisi ngerebeg nini berbasis pada fenomena endemik, artinya hanya di desa inilah ritus ini dilaksanakan. Sehingga karena karakter endemiknya tersebut, secara spesifik studi kasus sebagai selingkung kualitatif dapat diaktualisasikan secara sistematis. Karena spesifikasi tempat penelitian, ngerebeg nini dapat dianalisis secara integral serta holistik, dengan menggunakan triangulasi pengumpulan data, yakni observasi, wawancara dan studi Triangulasi pengumpulan data dilakukan secara intensif selama 1 bulan, tanpa adanya distraksi. Fokus penelitian menjadi lebih terarah karena, peneliti melakukan metode purposive sampling, yakni sudah menentukan informan yang akan diwawancarai, mulai dari kelian subak . emimpin sektor agrari. , krama subak . nggota atau masyarakat agrari. dan jro mangku . emimpin upacar. yang mengetahui sistem liturgi dari ngerebeg nini. Setelah data dikumpulkan dan diakumulasi, dilakukan analisis data berbasis tematik, dengan melakukan pembacaan, redefinisi, reinterpretasi, eksplanasi serta konklusi data empiris yang disinkronisasi dengan paradigma relevan. Terakhir, validitas data diaplikasikan melalui teknik triangulasi sumber, bertujuan untuk melakukan verifikasi dari redefinisi, reinterpretasi serta eksplanasi hasil penelitian. Triangulasi sumber yang digunakan untuk memverifikasi data adalah kelian subak . emimpin sektor agrari. , krama subak . nggota atau masyarakat agrari. dan jro mangku . emimpin Ketiga elemen tersebut dipilih sebagai agen verifikasi, karena ketiga kelompok tersebut mengetahui latar belakang, definisi, dan hakikat pelaksanaan ngerebeg nini. Hasil dan Pembahasan Ritus ngerebeg nini menjadi esensi memori dan tindakan kolektif masyarakat Desa Silangjana. Tidak hanya dilihat dalam dimensi religius, liturgi ini dapat dilihat dalam persektif habitus, sebagai cara untuk mengurai fondasi pelaksanaan upacara. Untuk memberikan penjelasan integral, maka aras dalam tulisan ini akan dijelaskan sebagai Aktualisasi Memori dan Tindakan Kolektif Ritus Ngerebeg Nini di Desa Silangjana Ngusabha menjadi salah satu upacara keagamaan Hindu di Bali yang dilaksanakan oleh masyarakat di Desa Silangjana sampai saat ini. Terma sabha diartikan sebagai genah sangkep, kumpul, matemu, parum, bale panangkilan, paseban, alun-alun, kalangan, natar, natah, taman, puri, pagenahan, wewengkon, dan pajahjahan. Kata https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH ngusabha berasal dari kata usabha artinya upacara selamatan desa. Kata usabha memperoleh bunyi sangau AungAy menjadi ngusabha, menunjukkan kata kerja dan mempunyai pengertian melaksanakan upacara selamatan desa. Selanjutnya, terma nini diartikan sebagai batang-batang padi yang dikumpulkan dan disusun menjadi sebuah ikatan besar. Proses pelaksanaan upacara Ngerebeg Nini dibagi menjadi beberapa tahapan yang memiliki makna dan fungsi berbeda. Pertama, mekala hyas. Mekala hyas merupakan proses nedunang . enurunkan atau mengundan. Ida Bhatara sebagai entitas causa prima. Dalam prosesi nedunang, salah seorang tokoh yang disebut dengan balian desa memimpin prosesi upacara dengan tujuan menghadirkan wujud Tuhan untuk dihaturkan persembahan. Dalam prosesi nedunang, balian desa menggunakan sarana utama ampilan yang berbentuk kotak segi empat dilengkapi dengan hiasan, berfungsi sebagai media sthana atau tempat Ida Bhatara setelah dihadirkan. Selain ampilan juga dilengkapi dengan beberapa sarana pengiring yakni paica desa . nugerah bertua. seperti keris dan tombak. Prosesi mekala hyas menjadi tahapan awal penyucian seluruh sarana upacara yang akan dipergunakan pada saat prosesi mapeningan . endak tirta atau memohon air suci sebagai pelengkap liturg. Prosesi ini dipimpin balian desa yang didampingi oleh pangenter Dalam mekala hyas yang diikuti sekitar duapuluh lima orang warga, berkumpul dengan membawa peralatan-peralatan seperti ampilan . otak segi empat dilengkapi dengan hiasa. , pratima . enda yang digunakan sebagai perwujudan Tuha. , tedung . arana upacara yang berbentuk seperti payun. , dan senjata nawa sanga . enjata dari sembilan dewa yang berada di sembilan penjuru mata angi. , berdiri di hadapan balian desa yang sedang melakukan pemujaan. Setelah balian desa selesai melakukan puja mantra, warga yang bertugas mengikuti jalannya proses mekala hyas selanjutnya berjalan mengelilingi banten dengan pola purwa daksina . earah jarum ja. Kedua, mapeningan. Mapeningan merupakan prosesi mendak tirta ke sumber mata air, dilakukan oleh pemangku desa, prajuru . engurus di desa ada. , dan krama subak . nggota kelompok petan. yang ada di Desa Silangjana. Warga yang mengikuti proses mapeningan secara kolektif menuju Tirtha Beji berlokasi dekat dengan Pura Baleagung, dengan membawa seluruh peralatan dalam proses mekala hyas dan dilengkapi dengan tetabuhan baleganjur. Di Tirtha Beji, terdapat sebuah palinggih sebagai tempat warga melakukan permohonan agar Tuhan memberikan tirta suci yang akan digunakan oleh warga dalam pelaksanaan upacara ngusabha di Pura Baleagung termasuk pula dalam proses ngerebeg nini. Ketiga, ngerebeg nini. Tahapan ini dilaksanakan dengan mengelilingi Pura Baleagung. Desa Silangjana sebanyak 3 . kali dengan pola putaran searah jarum jam. Dalam perjalanan mengelilingi pura, ada pola yang harus dipatuhi, yakni dimulai dari pemangku Pura Dalem yang berjalan pada barisan pertama, diikuti dengan krama yang mengusung pangogongan . lat yang digunakan untuk membawa pratima atau benda yang direpresentasikan sebagai wujud Tuha. , diikuti oleh krama subak yang memundut . Pada proses ngerebeg nini diwajibkan menggunakan tetabuhan baleganjur, kidung-kidung sebagai representasi dari Panca Gita . ima suara dalam upacara keagamaan Hind. Barisan krama desa yang memundut nini berputar mengelilingi Pura Baleagung sebanyak tiga kali, dan adanya internalisasi nilai suka cita. Hal tersebut merepresentasikan rasa syukur warga karena telah mendapatkan waranugraha . seperti panen yang baik dan melimpah. Dalam memundut nini, warga senantiasa menunjukkan sikap yang terjaga dan tidak berperilaku sembarangan seperti tidak berkatakata kotor atau kasar, tidak bercanda, dan juga tidak mengeluh. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Hal ini disebabkan, dalam proses pundut . ada entitas berkarakter suci, sebagai representasi Bhatari Sri . imbol kemakmura. itu sendiri. Hal ini mencerminkan bahwa, warga Desa Silangjana menjaga sikap sradha dan bhakti kepada Bhatari Sri dengan penuh kesadaran, kesungguhan, dan ketaatan. Ngerebeg nini sebagai ritus upacara berbasis pertanian yang dilakukan oleh masyarakat di Desa Silangjana, serta sebagai representasi ritus agraris dapat dilihat dalam perspektif teoretis, terutama paradigma memori serta tindakan kolektif. Memori kolektif menunjukkan ingatan komunal atau kelompok masyarakat mengenai hakikat diri mereka. Dalam konteks masyarakat Desa Silangjana, memori kolektif yang terinternalisasi adalah penegasan bahwa masyarakat lokal berasal dari status sebagai pekerja agraris . Memori atau ingatan tersebut, secara simultan membentuk identitas dan konstruksi sosio-kulturalnya. Dilain sisi, memori kolektif juga merepresentasikan ingatan spesifik mengenai peristiwa, keseharian, pola perilaku, tindakan dan sistem kebudayaan komunitas lokal. Artinya, tidak semua hal di Desa Silangjana yang membentuk kesadaran sosial, melainkan hal-hal spesifik yang relevan dengan kehidupan masyarakat setempat. Karena pertanian menjadi basis perilaku serta fondasi suprastruktur, maka pola kehidupan yang berhubungan dengan pola agrarislah yang terinternalisasi (Syme, 2. Ritus ngerebeg nini dalam perspektif memori kolektif masyarakat Desa Silangjana, juga dapat dilihat sebagai ingatan yang berorientasi pada linieritas waktu. Artinya, ingatan mengenai upacara, sakralisasi tanaman padi, distribusi air ataupun pola perilaku yang berhubungan dengan kebiasaan masyarakat petani, diorientasikan untuk menjaga siklus kehidupan sosio-kultural setempat. Dengan mengaplikasikan liturgi dan berbagai hal yang berhubungan dengan sistem pertanian, masyarakat setempat berupaya menjaga lingkungan yang tidak hanya bisa digunakan pada masa itu, melainkan proses penjagaan entitas spasial agraris bisa digunakan pada masa ini dan masa depan. Konklusinya, ingatan kolektif berupaya untuk menjaga pola pikir pendahulu, agar keberadaan pertanian bisa dijaga sekaligus dimanfaatkan secara gradual dan berkesinambungan oleh warga setempat (Tarca, 2. Pelaksanaan ngerebeg nini dalam analisis memori kolektif juga merepresentasikan basis kerangka sosial. Hal ini menandakan, upacara pemuliaan pada tanaman padi tersebut, dilegitimasi oleh soliditas masyarakat petani di Desa Silangjana, sekaligus legitimasi sosial untuk menjaga alam pertanian, juga diperkuat dengan menggunakan legitimasi berbasis agama. Hal ini bisa dilihat dari pendefinisian lahan pertanaian, khususnya tanaman padi sebagai manifestasi Dewi Sri. Adanya konstruksi teologis untuk mendefinisikan entitas ekologis, menunjukkan internalisasi simbol-simbol agama dalam fase hidup masyarakat pertanian. Upaya masyarakat agraris di Desa Silangjana dalam menjaga lahan pertanian dan pemuliaan pada tanaman padi, terkonstruksi melalui organisasi subak. Subak dalam pandangan sosiologis, tidak sekadar kelompok pertanian, melainkan menjadi akumulasi tindakan kolektif masyarakat. Tindakan kolektif adalah praksis simultan dari sekumpulan individu yang mengidentifikasikan diri mereka pada kelompok sosial tertentu. Tujuannya, untuk mengaplikasikan praksis kolegial dalam mencapai tujuan (Honneth, 2. Identifikasi pada komunitas akan membentuk identitas, dan tindakan setiap orang yang berada di dalam kelompok tersebut, bersifat seragam sesuai ideologi komunal. Ideologi komunal dalam organisasi subak adalah membangun jejaring berbasis vertikal dan horizontal. Jejaring vertikal diaplikasikan melalui liturgi, yakni mendefinisikan lahan pertanian bukan sekadar entitas spasial, melainkan entitas causa https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Padi dan lahan pertanian adalah representasi dari kekuatan teologis Dewi Sri, sehingga tindakan destruktif pada pertanian, menjadi bentuk ketidakhormatan pada entitas Dewi Sri. Maka, pemuliaan kepada entitas ketuhanan, diaplikasikan melalui tindakan kelompok dengan muatan nilai-nilai agama Hindu, salah satunya upacara ngerebeg nini. Sedangkan, jejaring berbasis horizontal diaplikasikan melalui ekualitas sosial, yakni mendefinisikan anggota subak dalam posisi setara, dengan menerapkan sistem pembagian hasil, sistem irigasi dan struktur sosial berbasis social justice (Schulz. Analisis Habitus Pierre Bourdieu Dalam Ritus Ngerebeg Nini di Desa Silangjana Pelaksanaan upacara-upacara agama merupakan perwujudan dari rasa syukur umat pemeluk agama kepada Tuhan yang disembahnya. Ngerebeg nini yang dilaksanakan pada ngusabha desa di Desa Silangjana merupakan bentuk dari rasa syukur masyarakat desa kepada Tuhan dalam personifikasinya sebagai Bhatari Sri yang merupakan dewi kesuburan dan kemakmuran. Upacara ini memiliki nilai inheren dengan kehidupan agraris masyarakat setempat, khususnya berkaitan dengan ketersediaan pangan. Pangan sebagai kebutuhan pokok individu, memberikan stimulasi kepada setiap kelompok masyarakat untuk menjaga ekualitas dengan semesta raya (Shoshitaishvili, 2. Salah satu tanaman pangan yang menjadi sumber pokok makanan adalah tanaman padi yang selanjutnya diproses menjadi beras dan menjadi bahan pokok makanan seharihari. Untuk menjaga keberlangsungan serta ketahanan pangan tersebut, berimplikasi pada upaya keberlangsungan pertanian dalam bentuk persawahan, serta terjaganya tanaman padi secara konsisten. Sederhananya, sawah dan pertanian menjadi basis fundamental dalam menjaga ketahanan pangan warga. Selain menggunakan praktik-praktik kontekstual dalam mendefinisikan sekaligus menjaga konsistensi pelestarian lahan pertanian, praktik keberlangsungan juga dilegitimasi melalui sistem upacara agama (Warde et al. , 2. Di Desa Silangjana menjaga tradisi-tradisi yang berkaitan dengan pertanian, tidak hanya representasi dari emosi keagamaan, memori ataupun tindakan Melainkan, penegasan tentang habitus. Habitus pada pola kehidupan pertanian, dengan melaksanakan ngerebeg nini menjadi salah satu cara agar lahan sawah tetap terpelihara dan terjaga, tidak berubah atau beralihfungsi menjadi lahan yang lain. Dengan konsistensi tersebut, padi tetap ditanam dan beras sebagai pangan utama tetap dihasilkan. Pangan warga tetap stabil dan nini sebagai sarana utama dalam ngusabha desa dan ngerebeg nini terjaga eksistensinya. Habitus yang ditunjukkan dari praktik ngerebeg nini adalah meminimalisir alih fungsi lahan di Desa Silangjana yang berdampak pada transformasi tatanan kehidupan, profesi masyarakat serta aktivitas keagamaan setempat. Salah satu formula yang dilakukan oleh warga lokal untuk menjaga eksistensi persawahan dan juga tradisinya adalah dengan menekan terjadinya perubahan status tanah atau konversi lahan. Walaupun masyarakat di Desa Silangjana menyadari berkembangnya jumlah penduduk, perubahan zaman yang berimplikasi pada perubahan infrastruktur dan juga kebutuhan akses pada lahan untuk kebutuhan perumahan. Namun, untuk melestarikan tradisi keagamaan ngerebeg nini, tanah sawah harus terus ada dan terjaga keberlangsungannya. Habitus dalam ngerebeg nini juga menginternalisasikan upaya menjaga dan melestarikan keajegan konsep pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi yang dalam manifestasi-Nya sebagai Bhatari Sri, dan juga Bhatara Rambut Sedana. Tradisi dapat tetap bertahan apabila masyarakat pendukung tradisi tersebut masih melakukannya dengan penuh keikhlasan dan tanpa tekanan. Sebaliknya, tradisi dapat hilang apabila sudah dianggap tidak relevan lagi untuk dilaksanakan atau adanya persepsi memberatkan untuk dilakukan secara konsisten. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Sehingga, mulai menciptakan simplifikasi, yang mengedepankan kepraktisan dari segi waktu, tenaga, ataupun biaya. Konteks ini dapat menciptakan degradasi pada sistem liturgi masyarakat setempat. Namun, ngerebeg nini masih dilaksanakan oleh masyarakat Desa Silangjana, berimplikasi pada eksistensi ritus dan lahan pertanian lokal. Upacara ngerebeg nini tidak hanya bermuatan teologis, melainkan bermuatan sosiologis. Selain memiliki substansi ingatan dan tindakan kolektif, aplikasi ngerebeg nini juga bisa dilihat dalam perspektif pos-strukturalisme. Ritus berbasis pertanian di Desa Silangjana tersebut, relevan dibaca dengan menggunakan paradigma habitus dari Pierre Bourdieu. Habitus adalah sistem disposisi yang terinternalisasi secara intensif dalam struktur kognitif setiap individu (Purhonen. Struktur kognitif . de, nilai, pandangan teologis, persepsi sosial ataupun kerangka kebudayaa. yang terpatri secara gradual dan fondasional, mengonstruksi pola perilaku setiap individu. Implikasinya, praktik-praktik sosio-religius . alam hal ngerebeg nin. dilaksanakan secara konsisten, tanpa mempertanyakan ulang esensi upacara tersebut. Habitus didapatkan oleh individu sejak mereka lahir, dengan mendengarkan ide ataupun melihat praktik-praktik sosio-religius secara langsung. Maka, intensitas dalam memahami ataupun mempraktikkan nilai-nilai itu, terinternalisasi di alam bawah sadar setiap masyarakat (Rossier, 2. Inilah yang menyebabkan, ngerebeg nini sebagai ritus lokal-tradisional, sulit untuk diubah atau tereleminasi dalam perilaku kolektif masyarakat agraris Desa Silangjana. Dilain sisi, habitus menjadi semakin akseleratif karena bersifat Hal ini mengindikasikan bahwa, ngerebeg nini sebagai wujud pola pikir dan tindakan masyarakat agraris, konsisten dilaksanakan karena adanya sistem pewarisan ide dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Pembentukan simpul agama dan upaya regeneratif untuk menjaga sistem dan pelaksanaan upacara agraris, tidak boleh terputus dalam situasi apapun (Angella, 2. Apalagi, dalam masyarakat kontemporer dimensi tradisional mulai mengalami degradasi. Sehingga, dengan adanya habitus ngerebeg nini terus diwariskan, menjadi simbol soliditas dan representasi teologis masyarakat setempat. Habitus juga menjelaskan bahwa, sistem sosial suatu masyarakat menjadi semakin kuat karena relevan dengan ranah. Ranah didefinisikan sebagai lokasi atau tempat berlangsungnya praktik sosial (Atkinson, 2. Jika dikontekstualisasikan, ngerebeg nini menjadi relevan dilaksanakan karena sesuai dengan situasi dan tempat masyarakat Desa Silangjana dengan basis Karena kondisi spasial yang dekat dengan kehidupan agraris, maka sistem penanaman nilai dan perilakunya disesuaikan dengan konteks pertanian, termasuk sistem sosial . serta sistem liturgi . gerebeg nin. Konteks ini menunjukkan bahwa, habitus menjadi akumulasi dari keseluruhan sistem berpikir dan bertindak, dipraktikkan melalui upacara lokal. Kesimpulan Ngerebeg nini merepresentasikan memori dan tindakan kolektif masyarakat di Desa Silangjana. Memori dan tindakan kolektif teraktualisasi melalui sistem komunalisme berbasis liturgi. Artinya, upacara untuk memuliakan lahan pertanian dan tanaman padi, dilakukan bersama-sama. Dilain sisi, konsistensi masyarakat agraris di kawasan tersebut melaksanakan upacara ini adalah sistem pewarisan nilai yang bersifat generatif, serta adanya legitimasi agama Hindu serta konstruksi sosial. Selanjutnya, ngerebeg nini dalam perspektif pos-strukturalisme linier dengan konsepsi habitus. Linieritas ini bisa dilihat dari internalisasi sistem kognitif . de, gagasan, sistem upacara dan sistem sosia. yang diaplikasikan melalui sistem berupacara. Dilain sisi, habitus memandang pelaksanaan ngerebeg nini relevan dilaksanakan karena ranah Desa https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Silangjana yang didominasi oleh lahan pertanian. Sehingga, kondisi spasial agraris menjadi faktor determinan dalam pewarisan ide liturgis dan perilaku sosial yang berhubungan dengan itu. Kontribusi penelitian ini dilihat dari kerangka analisis yang menggunakan dua perspektif, yakni perspektif teologis dan paradigma sosiologis. Dua kerangka analisis tersebut memberikan analisis integratif dalam memahami fenomena emik suatu masyarakat lokal. Akan tetapi, penelitian ini memiliki limitasi. Keterbatasannya dapat dilihat dari fokus sekup pembahasan. Berbicara mengenai masyarakat pertanian, ada berbagai elemen yang bisa dieksplanasi, seperti sistem ekopedagogi, sistem sekaa dalam subak, dan lain sebagainya. Tetapi, penelitian ini hanya memberikan fokus pada upacara ngerebeg nini dalam perspektif teologis dan sosiologis. Sehingga, penelitian selanjutnya yang memiliki kesamaan topik, diharapkan melakukan eksplorasi dan memberikan eksplanasi holistik. Daftar Pustaka