Jurnal Manajemen Bisnis ISSN: 2302-3449 I e-ISSN: 2580-9490 Vol. 9 I No. 2, hal 72-80 Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang Profil Internal Migrant Worker dan Lama Mencari Kerja di Banten Anisa Rima Rahmawati1,2. Rina Sri Kalsum Siregar3 Program Magister Ekonomi Kependudukan dan Ketenagakerjaan. Universitas Indonesia. Jakarta. Indonesia Seksi Statistik Sosial. Badan Pusat Statistik Kota Tangerang. Tangerang. Indonesia Seksi Statistik Distribusi. Badan Pusat Statistik Kabupaten Sleman. Yogyakarta. Indonesia anisarima@bps. id, 3rina. siregar@bps. Keyword Abstract Unemployment. Internal Migrant Worker. Duration of Job Search. Cox Regression Banten is the province with the highest unemployment rate. Its unemployment rate for some periods is higher than the national unemployment rate. Many jobs attract migrants to enter the Banten region. The large number of incoming migrants who are looking for work is not all absorbed by the labor market, thus increasing the number of unemployed people in Banten. This study aims to look at the description of internal migrant workers and local workers and determine the factors that determine the duration of job search in Banten. The data used is the 2017 Sakernas The unit of analysis is workers aged 15 years and over who worked 1 . years ago. The analytical method used is descriptive analysis and inferential analysis with survival analysis methods using the Cox Regression Model. The results showed that age, sex, marital status, education status, wage level, work experience, training, and employment status had a significant effect on the length of time someone was looking for work to be released from unemployment. A 2020 JMB. All right reserved PENDAHULUAN Provinsi Banten merupakan provinsi yang terletak berdampingan langsung dengan ibukota Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS, 2. Provinsi Banten merupakan provinsi dengan angka pengangguran tertinggi. Angka pengangguran Provinsi Banten selama beberapa periode tercatat lebih tinggi dibanding angka pengangguran nasional, seperti tampak pada Gambar 1. Pengangguran merupakan salah satu isu besar yang dihadapi banyak negara (Yehosua. Rotinsulu, & Niode, 2019. Paelongan & Sandy. Tingkat pengangguran menggambarkan adanya ketidakseimbangan jumlah penduduk usia kerja yang masuk dalam angkatan kerja dengan ketersediaan kesempatan kerja (Maryanti, 2016. Nasution, 2. Hal ini menunjukkan jumlah permintaan tenaga kerja yang ada, belum mampu menyerap semua angkatan kerja yang tersedia. 8,92 9,28 8,52 5,61 5,34 8,11 5,28 Agust 2016 Agust 2017 Agust 2018 Agust 2019 Prov Banten Nasional Gambar 1. Tingkat Pengangguran Terbuka Banten dan Nasional. Agustus 2016-Agustus 2019 (Perse. Di Provinsi Banten banyak terdapat lapangan pekerjaan yang menarik migran untuk masuk ke Banten. Banyaknya migran masuk yang mencari pekerjaan ini tidak semuanya terserap oleh pasar kerja sehingga menambah jumlah pengangguran di Banten (BPS, 2. Di lain pihak, migran masuk yang berpendidikan tinggi akan lebih mudah memperoleh pekerjaan di Banten. Pada Agustus 2019, angka pengangguran Provinsi Banten menempati peringkat pertama terbesar nasional, dimana angka pengangguran nasional tercatat sebesar 5,28 persen sedangkan pengangguran di Banten sebesar 8. 11 persen. Dengan latar belakang ini penulis ingin melihat bagaimana gambaran profil pekerja migran internal yang masuk ke Provinsi Banten maupun pekerja lokal dan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap lama mencari kerja pekerja migran dan pekerja lokal di Provinsi Banten. TINJAUAN TEORITIS DAN EMPIRIS Teori Pendorong dan Penarik Migrasi Menurut Lee . terdapat empat mengambil keputusan untuk bermigrasi. Pertama, faktor yang terdapat di daerah asal (Faktor pendorong/ Push Facto. Kedua, faktor yang terdapat pada tempat tujuan (Faktor Penarik/ Pull Facto. Faktor-faktor penarik ini diantaranya tersedianya lapangan kerja, kesempatan memperoleh pendidikan yang lebih tinggi, keadaan lingkungan yang menyenangkan dan kemajuan di tempat tujuan. Ketiga, faktor rintangan-rintangan yang Terakhir, faktor-faktor pribadi. Teori Pencarian Kerja (Job Searc. dan Migrasi Setiap angkatan kerja yang menganggur, berusaha mencari kerja di pasar dimana informasi tidak sempurna. Ketidaksempurnaan informasi di sini artinya para penganggur tersebut tidak mengetahui secara pasti kualifikasi yang dibutuhkan maupun tingkat upah yang ditawarkan pada lowonganlowongan kerja yang ada dipasar (Faggian. Asumsi-asumsi Teori Mencari Kerja (Moeis J. P dalam Febriansyah, 2. Pengangguran adalah angkatan kerja dipasarkerja dengan informasi tidak Setiap pencari kerja harus membayar sejumlah biaya tertentu yang tetap dalam suatu produk mencari kerja. Sebagai imbalan dari biaya yang memperoleh tawaran pekerjaan yang diasumsikan jumlahnya satu periode. Jangka waktu pengambilan keputusan tidak terbatas. Pencari kerja adalah individu yang riskneutral, mereka akan memaksimumkan expected net incomenya. Pencari kerja sebelum memulai proses mencari kerja, harus menetukan batasan dalam penetuan diterima atau tidaknya suatu tawaran pekerjaan. Batasan ini bisa berupa jumlah sampel atau tingakt upah minimum . eservation wag. Dengan reservation wage sebagai kriteria menerima dan menolak suatu pekerjaan, pencari kerja akan mengakhiri proses kerja pada saat MC=MR dari suatu tawaran Penentuan reservation wage dipengaruhi oleh karakteristik pencari kerja, seperti umur dan tingkat pendidikan. Makin tinggi pendidikan seseorang makin tinggi pula reservation wage yang ditentukan. Selanjutnya makin tinggi reservation wage makin tinggi tawaran yang bersedia diterima oleh individu yang bersangkutan. Akibatnya waktu yang diperlukan untuk memperoleh pekerjaan menjadi lebih lama. Dengan kata lain makin tinggi reservation wage makin kecil kemungkinan untuk memperoleh tawaran pekerjaan sehingga masa mencari kerja . earch perio. menjadi makin Demikian pula sebaliknya. Tinjauan Empiris Hubungan pengalaman kerja dan lama mencari kerja menurut Sutomo, dkk . diperkirakan bahwa dengan pengalaman kerja pencari kerja lebih sanggup untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai, selain itu pengalaman kerja menggambarkan pengetahuan pasar kerja. Dengan memiliki pengalaman kerja didukung tingkat pendidikan yang tinggi, maka tenaga kerja akan mempunyai lebih banyak kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan. Penelitian mengenai search theory juga dilakukan oleh Suratman . Dalam penelitiannya menggunakan data Sakernas 1992 yang hasilnya antara lain yaitu pencari kerja dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi cenderung lebih lama mencari kerja dibanding pencari kerja yang berpendidikan rendah, mereka yang berumur muda cenderung lebih lama mencari kerja dibandingkan mereka yang berumur tua, laki- laki cenderung mencari kerja lebih lama dibanding perempuan, pencari kerja yang berstatus kepala rumah tangga masa mencari kerjanya lebih singkat dibandingkan mereka yang bukan kepala rumah tangga dan semakin tinggi tingkat pendidikan tenaga kerja maka expected value lama mencari kerjanya juga akan semakin Hasil penelitian yang dilakukan oleh Suroso . yaitu mengenai AuAnalisis Pengaruh Pendidikan. Keterampilan dan Upah Terhadap Lama Mencari Kerja Pada Tenaga Kerja Terdidik di Beberapa Kecamatan di Kabupaten DemakAy menujukkan hasil bahwa pendidikan, keterampilan dan upah berpengaruh siginikan terhadap lama mencari kerja. Penelitian yang dilakukan oleh Passay dan Ratna . yaitu mengenai AuPengangguran. Lama Mencari Kerja, dan Reservation Wage Tenaga Kerja TerdidikAu menyebutkan bahwa lama mencari kerja bagi yang berpendidikan tinggi lebih lama daripada yang berpendidikan rendah. Upah minimum yang diinginkan dengan karakteristik sosial, demografi, dan regional angkatan kerja berpendidikan tinggi lebih besar daripada yang lainnya. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Palupi . yaitu mengenai AuDeterminan lama mencari kerja di Indonesia . nalisis data Sakernas 2. Ay menyebutkan bahwa hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis pendidikan, pengalaman kerja, jenis pekerjaan. Variabel Variabel Terikat (Y) 1 Lama Mencari Kerja METODOLOGI PENELITIAN Sampel dan Responden Data yang digunakan adalah data sekunder hasil pencacahan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakerna. Agustus 2017 Provinsi Banten. Unit analisis penelitian ini adalah angkatan kerja yang berusia 15 tahun ke atas yang bekerja satu tahun yang lalu. Pembentukan Variabel dan Definisi Operasional Dalam penelitian ini terdapat beberapa variabel independen yang dipakai dengan variabel kontrol status migran, yaitu pekerja migran dan pekerja lokal. Lama mencari kerja merupakan waktu yang dibutuhkan para tenaga kerja untuk mendapatkan pekerjaan saat ini. Sedangkan status migran diperoleh berdasarkan status migrasi risen responden, yaitu tempat tinggal responden 5 . tahun yang lalu. Apabila pada 5 tahun yang lalu responden tinggal di luar Provinsi Banten maka akan berstatus pekerja migran internal atau internal migrant worker yang selanjutnya disebut dengan pekerja migran. Responden yang pada waktu lima tahun yang lalu tingal di wilayah Provinsi Banten, responden tersebut tergolong pekerja lokal dengan pembentukan variabel dirangkum pada Tabel Tabel 1. Pembentukan Variabel Skala/Kategori . alam bula. Variabel Tidak Terikat (X) Umur Jenis Kelamin Status Perkawinan Jenjang Pendidikan yang ditamatkan Jenis pekerjaan jumlah penghasilan atau upah yang didapat tiap bulan Pernah mempunyai pengalaman kerja atau tidak umur, jenis kelamin, status perkawinan, status kepala rumah tangga berpengaruh terhadap lama mencari kerja. alam tahu. 1 = laki-laki 0 = perempuan 1 = kawin 0 = belum/pernah kawin 1 = pendidikan tinggi (SMA ke ata. 0 = pendidikan rendah . i bawah SMA) 1 = Formal 0 = Informal 1 = upah 2 juta ke atas 0= upah di bawah 2 juta 1 = mempunyai pengalaman kerja 0 = tidak punya pengalaman Variabel Skala/Kategori Pernah mengikuti pelatihan dan 1 = pernah ikut pelatihan kerja 0 = tidak pernah ikut memperoleh sertfikat sebelumnya pengalaman kerja atau tidak Variabel Kontrol Status Migran 1= pekerja migran internal 2=pekerja lokal Model Analisis Terdapat dua metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Analisis deskriptif Analisis deskriptif digunakan untuk memberikan gambaran umum profil pekerja migran internal dan pekerja lokal di Provinsi Banten. Analisis Inferensia Metode analisis yang dipakai dalam penelitian ini adalah analisis ketahanan hidup (Survival Analysi. dengan regresi Cox untuk melihat faktor yang mempengaruhi lamanya seseorang mendapat pekerjaan. Analisis ketahanan hidup atau analisis survival adalah analisis mengenai data yang diperoleh dari catatan waktu yang dicapai suatu objek sampai terjadinya peristiwa tertentu yang disebut sebagai failure event. Dalam penelitian ini failure event yang dimaksud adalah mereka mendapatkan pekerjaan. Model untuk semua responden angkatan kerja yang mendapatkan pekerjaan satu tahun terakhir adalah sebagai L()= 1umur 2jenis_kelamin 3status_kawin 4pendidikan 5jenis_pekerjaan 6pendapan 7pengalaman_kerja 8pelatihan_kerja A Hazard Ratio Hazard ratio merupakan fungsi yang menyatakan nilai faktor yang mempercepat individu mengalami kejadian atau event, yang didefinisikan oleh: Perempuan ( ) ( ) HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Profil Pekerja Migran Internal dan Pekerja Lokal Data pada Gambar2 menunjukkan karakteristik pekerja menurut jenis kelamin. Pekerja migran internal didominasi oleh persentase pekerja lokal didominasi oleh perempuan sebesar 65% dan 35% berjenis kelamin laki-laki. Pekerja lokal Laki-Laki Perempuan Persamaan ini menunjukkan bahwa untuk individu dengan vektor peubah penjelas tertentu, perbandingan antara fungsi hazard pada saat t dengan fungsi hazarddasar atau baseline hazard function ( ( ), saat x bernilai 0 semu. selalu konstan, bersifat proporsional dan tidak tergantung dengaan waktu. Pada kecenderungan suatu individu sampai dengan mengalami kejadian atau event sekian kali lipat dibandingkan dengan reference category-nya. Pekerja migran Laki-Laki ( ) Sumber: Sakernas, 2017 . Gambar 2. Karakteristik Pekerja Migran dan Lokal Menurut Jenis Kelamin Jika dilihat berdasarkan kelompok umur, struktur pekerja migran internal yang telah mendapatkan pekerjaan setahun yang lalu didominasi oleh pekerja berusia 25-29 tahun yaitu sebesar 28,5% diikuti kelompok umur 20-24 tahun yaitu sebesar 25,5%. Sedangkan untuk pekerja lokal atau penduduk asli Provinsi Banten mendapatkan pekerjaan, struktur pekerja didominasi oleh usia 20-24 tahun sebesar 25,1% diikuti dengan kelompok umur 25-29% sebanyak 16,4%, seperti tampak pada Gambar 15-19 tahun 30,0% 20-24 tahun 25,0% 25-29 tahun 20,0% 30-34 tahun 35-39 tahun 15,0% 40-44 tahun 10,0% 45-49 tahun 50-54 tahun 5,0% 55-59 tahun 0,0% Pekerja migran Pekerja Lokal 60-64 tahun Sumber: Sakernas, 2017 . Gambar 3. Karakteristik Pekerja Migran dan Pekerja Lokal Berdasarkan Kelompok Umur Gambar 4 menunjukkan distribusi pekerja menurut status perkawinan. Pekerja Migran di Banten yang satu tahun lalu mendapatkan pekerjaan didominasi oleh pekerja berstatus kawin yaitu sebesar 52,1%, 1 Belum Kawin 2 Kawin Pekerja migran sisanya 47,9% berstatus belum kawin. Sedangkan pada pekerja lokal, 50,7% didominasi oleh pekerja berstatus kawin, diikuti dengan mereka yang berstatus belum kawin yaitu sebesar 44,9 persen. 3 Cerai Hidup 4 Cerai Mati Pekerja Lokal Sumber: Sakernas, 2017 . Gambar 4. Karakteristik Pekerja Migran dan Pekerja Lokal Berdasakan Status Perkawinan Berdasarkan tingkat pendidikannya, terlihat perbedaan yang mencolok antara struktur pekerja migran dan pekerja lokal. Pekerja migran lebih didominasi oleh pekerja dengan pendidikan tinggi yaitu pendidikan tertinggi SMA ke atas yaitu sebesar 63,2%. Sedangkan struktur pekerja pada pekerja lokal terlihat hampir seimbang, yaitu 51% pekerja berpendidikan rendah atau di bawah SMA dan 49% pekerja berpendidikan tinggi atau pendidikan tertinggi SMA ke atas, seperti tampak pada Gambar 5. pendidikan rendah Pekerja migran pendidikan tinggi Pekerja Lokal Sumber: Sakernas, 2017 . Gambar 5. Karakteristik Pekerja Migran dan Pekerja Lokal Berdasarkan Tingkat Pendidikan Jika dilihat berdasarkan tingkat upahnya, terlihat perbedaan yang mencolok antara kelompok pekerja migran dan kelompok Struktur migrandidominasi oleh pekerja dengan tingkat upah di atas 2 juta rupiah yaitu sebanyak upah rendah <2 juta 61,5%. Sedangkan pada pekerja lokal, presentase pekerja dengan tingkat upah di atas 2 juta hampir sama dengan presentase pekerja dengan tingkat upah rendah yaitu di bawah 2 juta rupiah, yaitu masing-masing sebesar 52,8% dan 47,2%, seperti tampak pada Gambar 6. upah tinggi >=2 juta Pekerja migran Pekerja Lokal Sumber: Sakernas, 2017 . Gambar 6. Karakteristik Pekerja Migran dan Pekerja Lokal Berdasarkan Tingkat Upah Gambar 7 memberikan gambaran bahwa pada kedua kelompok pekerja memiliki struktur yang hampir sama, dimana masingmasing didominasi oleh pekerja yang belum pernah mengikuti pelatihan sebelumnya. Presentase yang lebih besar yaitu pada 1 Ya Pekerja migran kelompok pekerja migran yaitu sebesar 90,9% sedangkan pada pekerja lokal sebanyak 86% yang tidak belum pernah mengikuti pelatihan 2 Tidak Pekerja Lokal Sumber: Sakernas, 2017 . Gambar 7. Karakteristik Pekerja Migran dan Pekerja Lokal Berdasarkan Pengalaman Mengikuti Pelatihan Berdasarkan variabel ada tidaknya pengalaman pekerjaan, pekerja berstatus migran internal didominasi oleh pekerja yang pernah memiliki pengalaman pekerjaan sebelumnya yaitu sebesar 57,6%, dan sisanya 42,45 belum pernah memiliki pengalaman Sedangkan pada pekerja berasal 1 Ya Pekerja migran dari Provinsi Banten, proporsi pekerja yang sebelumnya dan belum berpengalaman adalah seimbang, yaitu masing-masing besarannya 50,3% dan 40,7%, seperti tampak pada Gambar 8. 2 Tidak Pekerja Lokal Sumber: Sakernas, 2017 . Gambar 8. Karakteristik Pekerja Migran dan Pekerja Lokal Berdasarkan Pengalaman Kerja Analisis Inferensia Output hasil dari estimasi lama mencari kerja dengan menggunakan regresi Cox dapat dilihat pada Tabel 2. Hasil analisis dengan overall test menunjukkan bahwa terdapat variabel independen yang berpengaruh secara signifikan terhadap lama mencari kerja di Provinsi Banten. Setelah dilakukan uji parsial, diketahu bahwa semua variabel signifikan berpengaruh terhadap lama mencari kerja. Tabel 2 Hasil Estimasi Lama Mencari Kerja Karakteristik Koefisien Hazard Ratio Umur laki_laki pendidikan_tinggi upah_tinggi Pengalaman_kerja Pelatihan Formal Migran Sumber: Sakernas, 2017 . Berdasarkan Tabel diinterpretasikan bahwa secara umum pekerja migran lebih cepat mendapat pekerjaan yaitu 1,134 kali lebih cepat dibanding pekerja lokal yang berasal dari Banten. Pekerja migran mampu bersaing dengan pekerja lokal untuk mendapatkan pekerjaan. Faktor lain yang mempengaruhi lama mencari kerja adalah umur dan jenis kelamin. Berdasarkan Tabel 2 dapat diinterpretasikan bahwa setiap umur bertambah 1 tahun maka seseorang akan semakin mudah untuk mendapatkan pekerjaan. Hasil ini memperlihatkan bahwa usia muda cenderung memilih pekerjaan, sehingga waktu untuk keluar dari pengangguran cukup lama dibandingkan mereka dengan usia lebih tua. Berdasarkan jenis kelamin, laki-laki lebih cepat mendapatkan pekerjaan 1,082 kali dibanding Pekerja perempuan cenderung memilih pekerjaan yang sesuai dengan situasi dan kondisinya sehingga ia cenderung akan menunggu hingga mendapatkan pekerjaan yang Hal ini berbeda dengan laki-laki dimana karena tanggungjawabnya rata-rata sebagai kepala keluarga, sehingga ia harus segera mendapat pekerjaan tanpa harus memilih pekerjaan. Dilihat dari status perkawinan, pekerja yang menikah memiliki kecenderungan dibandingkan mereka yang berstatus belum menikah, cerai mati atau cerai hidup. Orang yang menikah memiliki resiko keluar pengangguran lebih pendek yaitu kurang dari 2 bulan, lebih lambat 0,97 kali dibanding yang berstatus belum menikah atau pernah Hal ini diduga orang yang menikah akan memilih-milih pekerjaan dibanding mereka yang belum menikah karena tanggung jawab mereka pada keluarga. Orang dengan pendidikan tinggi yaitu berpendidikan SMA ke atas memiliki pengangguran 2 bulan lebih lambat 0,949 kali dibanding orang dengan pendidikan rendah atau kurang dari SMA. Orang berpendidikan tinggi cenderung untuk siap mengorbakan waktu sebentarnya untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai. Berbeda halnya dengan mereka yang berpendidikan rendah, mereka akan lebih mudah dan senang untuk mendapatkan pekerjaan lebih cepat tanpa harus memperhitungkan kesesuainannya. Selanjutnya untuk tingkat upah, individu dengan upah yang tinggi memiliki lama mencari kerja lebih pendek dibanding pekerjaan dengan upah rendah atau di bawah 2 juta rupiah. Hal ini dapat dilihat bahwa seseorang akan lebih mudah untuk menerima pekerjaan dengan upah tinggi dibanding upah yang rendah. Tabel 2 juga memperlihatkan bahwa orang yang yang memiliki pengalaman kerja dan pelatihan, memiliki kecenderungan untuk keluar dari pengangguran selama 2 bulan lebih lambat dibanding mereka yang mempunyai pengalaman kerja ataupun pelatihan. Orang yang memiliki pengalaman cenderung untuk menunggu atau memilih pekerjaan karena merasa memiliki modal yang mendukung (Ajrin, 2. Kemudian jika dilihat dari jenis mendapatkan pekerjaan formal lebih lama 0,973 mendapatkan pekerjaan di sektor informal. Hal ini memperlihatkan bahwa pekerjaan di sektor informal lebih mudah untuk diperoleh seseorang dibandingkan pekerjaan di sektor PENUTUP Pekerja pendatang atau pekerja migran internal yang masuk ke Provinsi Banten memiliki kecenderungan untuk diterima dalam pekerjaan lebih besar dibanding penduduk asli di Provinsi Banten. Karakteristik pekerja migran internal di Provinsi Banten didominasi oleh laki-laki, usia yang sangat produktif yaitu 20 hingga 29 tahun, berstatus kawin berpendidikan tinggi, mempunyai upah di atas 2 juta rupiah dan bekerja di sektor Pekerja pendatang atau migran mampu bersaing dengan pekerja lokal di wilayah Banten sehingga lama mencari kerja cenderung lebih cepat dibanding penduduk asli. Umur, jenis kelamin, status perkawinan, status pendidikan, tingkat upah, pengalaman kerja, adanya pelatihan, dan status pekerjaan berpengaruh signifikan terhadap lamanya seseorang mencari pekerjaan sehingga ia dapat terlepas dari pengangguran. DAFTAR PUSTAKA