Langgas: Jurnal Studi Pembangunan Journal homepage: https://talenta. id/jlpsp Proses Sosialisasi Bencana pada Keluarga Terdampak Gempa di Desa Limbangan Sari Nadia Eka Saputri1* . Atika Wijaya2 Pendidikan Sosiologi dan Antropologi. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Negeri Semarang. Sekaran. Gunungpati. Kota Semarang. Jawa Tengah 50229. Indonesia Corresponding Author: nadkasptr@students. ARTICLE INFO Article history: Received: 28 May 2025 Revised: 9 June 2025 Accepted: 11 June 2025 Available online: 30 September E-ISSN: 2830-6821 How to cite: Saputri. Nadia Eka & Atika Wijaya. AuProses Sosialisasi Bencana Keluarga Terdampak Gempa di Desa Limbangan SariAy. Langgas: Jurnal Studi Pembangunan, 4. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. International. DOI: 10. 32734/ljsp. ABSTRAK Bencana gempa bumi di Cianjur tahun 2022 mengakibatkan kerugian besar dan menimbulkan korban salah satunya di Desa Limbangan Sari. Karena sifat bencana yang tak terduga, upaya penanggulangan sering bersifat kurang efektif, sehingga menimbulkan banyak korban. Selain peran pemerintah, sosialisasi di lingkungan keluarga penting untuk membekali anggota keluarga dengan pengetahuan dasar tentang bencana. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana proses sosialisasi mitigasi bencana dalam keluarga yang terdampak gempa bumi di Desa Limbangan Sari. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan wawancara terhadap enam anggota keluarga terdampak dan dua perangkat desa. Hasil penelitian menunjukan bahwa keluarga berperan sebagai agen utama dalam menanamkan pengetahuan dan sikap dalam kesiapsiagaan bencana. Proses sosialisasi dilakukan melalui komunikasi sehari-hari dan pengalaman langsung saat terjadinya gempa. Namun, minimnya praktik langsung menyebabkan efektivitas sosialisasi belum optimal. Penelitian ini menegaskan pentingnya mitigasi berbasis keluarga yang mendorong keterlibatan aktif dalam membentuk budaya sadar bencana. Kata kunci: gempa bumi, sosialisasi, keluarga, mitigasi bencana ABSTRACT The earthquake disaster in Cianjur in 2022 caused huge losses and casualties, one of them is in Limbangan Sari Village. Due to the unpredictable nature of disasters, response efforts are often reactive and ineffective, resulting in many casualties. In addition to the role of the government, socialization within the family environment is crucial for equipping family members with basic knowledge about This research aims to see how the process of disaster mitigation socialization in families affected by the earthquake in Limbangan Sari Village. Cianjur. This research used a qualitative method with a phenomenological Data were collected through observation and interviews with six affected family members and two village officials. The results of this study indicate that the family plays a primary role in instilling knowledge and attitudes related to disaster preparedness. The socialization process was carried out through daily communication and direct experience during the earthquake. However, the lack of hands-on practice means that the effectiveness of socialization is not optimal. This research emphasizes the importance of a familybased mitigation approach that encourages active involvement in shaping a sustainable disaster awareness culture. Keywords: earthquake, socialization, family, disaster mitigation Langgas: Jurnal Studi Pembangunan. Vol. No. , 62-73 PENDAHULUAN Bencana alam merupakan suatu faktor alam yang terjadi dan memberikan dampak berupa kerugian dan membahayakan kehidupan masyarakat yang terkena dampak dari bencana tersebut. Indonesia merupakan sebuah negara kepulauan yang dikelilingi oleh lautan, letak geografisnya menyebabkan tingginya potensi terjadinya bencana alam. Beberapa wilayah di Indonesia telah mengalami berbagai jenis bencana, termasuk tanah longsor, gempa bumi, letusan gunung berapi, abrasi, banjir, dan cuaca ekstrim. Indonesia, yang dilintasi oleh jalur Cincin Api Pasifik, termasuk dalam wilayah paling rawan terhadap gempa, dengan kejadian gempa bumi setiap tahunnya melebihi magnitudo 6. 0, khususnya di pulau Jawa (Meilano et al. Menurut BNPB pada tahun 2024 jumlah bencana di Indonesia mencapai angka 1924 kasus, dan gempa bumi menjadi salah satu bencana yang sering terjadi di Indonesia (Latifah. Bilqist, and Qotimah 2. Sebagai negara yang terletak di sepanjang jalur pertemuan beberapa lempeng tektonik. Indonesia menghadapi risiko bencana alam yang signifikan, di mana pergerakan lempeng tersebut sering memicu terjadinya gempa bumi (Ramadhan. Sukmana, and Habib 2. Secara konsisten menghadapi risiko tinggi terkait gempa bumi dan bencana alam lainnya, tingkat kerawanan yang tinggi ini turut disertai dengan dampak ekonomi yang signifikan, mengingat total kerugian akibat bencana mencapai angka yang mencemaskan. Jika dilihat saat ini kesiapsiagaan yang dimiliki masyarakat di Indonesia masih rendah hal ini digambarkan dengan banyaknya korban jiwa saat terjadinya bencana, karena itulah pengetahuan yang kurang akan menimbulkan kecemasan dalam menghadapi bencana (Hayudityas 2. Dalam menghadapi situasi ini, sangat penting untuk memberikan dukungan dan bimbingan kepada masyarakat yang terdampak gempa. Selain pemenuhan kebutuhan fisik seperti tempat tinggal sementara dan bantuan medis, penting juga untuk memberikan aspek psikososial, semangat, dan motivasi kepada mereka. Kejadian bencana menyoroti urgensi peningkatan kapasitas semua sektor dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana. Upaya penyuluhan telah dilaksanakan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap potensi bencana gempa bumi, baik melalui inisiatif pemerintah maupun pihak lain di luar Sebagai langkah awal dalam penanggulangan bencana, mengambil inisiatif dan menunjukkan komitmen dalam menghadapi bencana alam. Terdapat pergeseran pendekatan dalam penanganan pasca bencana di Indonesia, dimana sebelumnya bersifat responsif terhadap keadaan darurat, kini fokus beralih ke kegiatan pencegahan dan mitigasi risiko (Marfuah et al. Menghadapi situasi tersebut, respons dari pemerintah dalam upaya mitigasi bencana melalui kebijakan publik antar negara diharapkan dapat mengurangi dampak dan korban bencana. Mitigasi bencana sendiri merupakan tindakan yang dilakukan saat terjadinya bencana dengan tujuan untuk mengantisipasi, mengurangi dan meringankan dampak yang diberikan akibat bencana (Wekke Dari hal contoh positif datang dari negara seperti Jepang, di mana sistem pengendalian dan pencegahan bencana telah terbukti berjalan efektif. Pemerintah Jepang melakukan sosialisasi kesadaran bencana kepada seluruh lapisan masyarakat, bahkan menetapkan tanggal 1 September sebagai hari bencana nasional. Tindakan ini bertujuan agar masyarakat memahami pentingnya memiliki pengetahuan mengenai mitigasi bencana (Muksin et al. Di Indonesia, sayangnya, sebagian masyarakat masih menganggap pengetahuan mengenai mitigasi bencana sebagai tanggung jawab eksklusif pemerintah. Padahal, seharusnya pengetahuan mitigasi bencana dianggap sebagai tanggung jawab bersama, bukan hanya kewajiban pemerintah semata (Hamid et al. Dalam menghadapi situasi tersebut peran dari keluarga sangat penting sebagai lembaga sosial pertama, pada proses beradaptasi peran keluarga penting dalam penyelamatan, pemulihan psikologis pasca bencana alam terjadi dan dalam memberikan pengetahuan tentang mitigasi bencana (Latifah. Bilqist, and Qotimah 2. Salah satu bencana gempa bumi di Indonesia terjadi di Kabupaten Cianjur, pada tanggal 12 November 2022, bencana gempa bumi ini memberikan duka mendalam dan kekhawatiran di kalangan masyarakat, dan kerugian materiil yang signifikan. Menurut Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, pusat gempa terletak di kecamatan Cugenang dengan Langgas: Jurnal Studi Pembangunan. Vol. No. , 62-73 kekuatan mencapai 5,6 skala Richter, diikuti oleh 297 gempa susulan dengan kekuatan yang lebih rendah (Hidayat. Assegaf, and Fauzan 2. Kabupaten Cianjur merupakan suatu wilayah yang secara tektonik terletak dalam jalur seismik, meskipun jarang mengalami gempa dalam periode waktu yang panjang Cianjur menjadi salah satu daerah di Indonesia yang memiliki potensi tinggi untuk mengalami gempa tektonik. Bencana gempa bumi di Cianjur pada tahun sebelumnya mengakibatkan kerugian besar dan menimbulkan korban jiwa, terutama di kalangan anak-anak yang termasuk dalam kelompok masyarakat yang rentan. Menurut kepala pusat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dalam laporan yang dilansir oleh situs Kompas. com, korban gempa bumi di Cianjur didominasi oleh anak-anak di bawah usia 16 tahun. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa saat gempa bumi terjadi, banyak anak sedang berada dalam proses pembelajaran (Ulya and Meiliana 2. Dengan adanya potensi bahaya alam di Cianjur, diperlukan upaya sosialisasi mitigasi bencana untuk mengurangi risiko yang diakibatkan oleh bencana tersebut. Kesuksesan proses sosialisasi tergantung pada konsistensi pesan yang disampaikan oleh berbagai agen sosialisasi, yang seharusnya saling mendukung satu sama lain. Dalam konteks ini, peran keluarga sangat penting untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang bencana, serta membentuk kemampuan dalam memberikan perlindungan, menciptakan kehidupan sosial yang harmonis, dan menghadirkan rasa aman. Hal tersebut dikarenakan keluarga bukan hanya sebagai penerima dampak bencana, tertapi juga merupakan aktor dalam proses mitigasi bencana. Kesiapan dan kesadaran yang ada dalam keluarga juga dapat mempengaruhi keberhasilan dalam masyarakat. Faktor-faktor seperti pendidikan, pelatihan, keterampilan, informasi, serta pengambilan keputusan yang terkait dengan diri sendiri dan komunitas juga menjadi kunci dalam membentuk keluarga yang tangguh menghadapi berbagai ancaman bencana (Haksama et al. Keluarga diakui sebagai lingkungan pertama di mana anak belajar berinteraksi dengan dunia sekitarnya. Melalui interaksi dengan keluarga, anak secara bertahap mengembangkan respons dan penyesuaian terhadap lingkungannya, dan proses ini membantu anak memahami serta mengikuti nilai-nilai dan normanorma yang disosialisasikan oleh orang tua. Seperti yang diketahui, sifat acak dari bencana membuat banyak upaya penanggulangan bencana cenderung hanya bersifat responsif setelah terjadinya bencana. Situasi ini merupakan tantangan sosial yang memerlukan penyelesaian, karena penanggulangan bencana yang kurang efektif dapat mengakibatkan banyak korban dan kerugian. Untuk mengatasi hal ini, selain keterlibatan pemerintah, pentingnya sosialisasi di lingkungan keluarga juga diakui sebagai sarana untuk menyediakan pengetahuan dasar mengenai bencana. Upaya mitigasi bencana akan lebih efektif bila melibatkan keluarga sebagai agen sosialisasi utama, karena keluarga memiliki peran strategis dalam mendidik, melindungi, dan membentuk kesadaran serta kesiapsiagaan bencana sejak Dalam penelitian ini, teori sosialisasi yang dikemukakan oleh George Herbert Mead menjadi kerangka penting dalam memahami bagaimana proses pembelajaran dan komunikasi dalam keluarga dapat membentuk pemahaman serta perilaku individu terkait mitigasi bencana. Hasil-hasil penelitian tentang gempa bumi di Indonesia umumnya lebih menekankan pada aspek teknis dan kebijakan pemerintah, seperti sistem peringatan dini, respons darurat, dan kerusakan infrastruktur. Namun, studi yang menyoroti peran keluarga sebagai agen sosialisasi dalam membentuk kesiapsiagaan dan ketahanan bencana masih terbatas. Oleh karena itu, tulisan ini membahas bagaimana proses sosialisasi mitigasi bencana berlangsung di dalam keluarga terdampak gempa bumi di Desa Limbangan Sari, serta bagaimana peran interaksi dan komunikasi keluarga dalam menanamkan pengetahuan dan sikap tanggap bencana. TEORI SOSIALISASI Dalam penelitian ini, teori sosialisasi yang dikemukakan oleh George Herbert Mead digunakan sebagai kerangka teoritik utama untuk memahami bagaimana proses pembelajaran dan komunikasi dalam keluarga membentuk pemahaman serta perilaku individu, khususnya dalam Langgas: Jurnal Studi Pembangunan. Vol. No. , 62-73 konteks mitigasi bencana. Mead memandang sosialisasi sebagai bagaimana individu mempelajari cara bertindak, memahami nilai-nilai, dan menyesuaikan perilaku mereka melalui interaksi dengan masyarakat dan budaya sekitarnya (Lisnandani 2. Menurut Mead, sosialisasi merupakan proses pembelajaran sosial yang memungkinkan individu menginternalisasi norma, nilai, serta peran-peran sosial yang berlaku dalam masyarakat (Nurdin. Badri, and Sukartik 2. Dalam proses ini, terdapat transfer nilai dan kebiasaan dari satu generasi ke generasi berikutnya, yang membentuk cara berpikir dan bertindak individu. Proses tersebut menjadi sarana di mana masyarakat mentransmisikan berbagai pola perilaku yang dianggap tepat dalam konteks sosial dan budaya tertentu. Sejumlah sosiolog mengklasifikasikan teori ini dalam kerangka teori peran . ole theor. , karena individu tidak hanya belajar secara pasif, melainkan juga diarahkan untuk menjalankan peran-peran tertentu yang sesuai dengan ekspektasi sosial (Subadi 2. Mead memperkenalkan konsep penting dalam teorinya, yaitu AuselfAy yang terbagi menjadi dua elemen: AuIAy . iri yang spontan dan inisiati. dan AuMeAy . iri yang terbentuk dari pandangan sosial dan norm. Kedua elemen ini berkembang melalui proses Autindakan simbolikAy, di mana individu memahami dan merespons dunia sosial melalui bahasa dan simbol. Dalam konteks ini, interaksi dalam keluarga berperan penting sebagai agen sosialisasi primer. Peran orang tua, terutama dalam memberikan pengetahuan dan kesiapsiagaan terhadap bencana kepada anak-anak, merupakan contoh konkret bagaimana sosialisasi berlangsung. Hal ini relevan dengan perspektif interaksionisme simbolik, yang menekankan pentingnya proses komunikasi dalam pembentukan makna dan perilaku. Lebih lanjut, sosialisasi juga berfungsi sebagai landasan dalam pengembangan kemampuan berpikir kritis dan reflektif (Ritzer 2. Sejak masa kanak-kanak, individu belajar memahami lingkungan sosial mereka melalui proses interaksi, yang kemudian membentuk pola pikir, nilai, dan Dalam hal ini, proses sosialisasi tidak bersifat satu arah, melainkan partisipatif individu secara aktif memilih dan menyusun informasi yang mereka terima sesuai dengan kebutuhan dan konteks kehidupan mereka. Dengan demikian, teori Mead tidak hanya relevan untuk menjelaskan proses internalisasi nilai sosial secara umum, tetapi juga mampu memberi kerangka analitis dalam memahami bagaimana anak-anak belajar menghadapi situasi krisis seperti bencana, melalui proses pembelajaran yang dimediasi oleh simbol, komunikasi, dan interaksi sosial dalam keluarga. METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah metode penelitian kualitatif menggunakan pendekatan fenomenologi. Pendekatan fenomenologi sendiri memiliki tujuan untuk mencari sebuah hakikat dari pengalaman yang dialami oleh seseorang secara sadar (Raco 2. Pada penelitian ini pendekatan fenomenologi dipilih untuk melihat bagaimana peran keluarga dalam memberikan sosialisasi mitigasi bencana. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Limbangan Sari, yang terletak di Kecamatan Cianjur. Kabupaten Cianjur. Pemilihan desa ini didasarkan pada pertimbangan bahwa desa tersebut merupakan bagian dari Kecamatan Cianjur, yang merupakan salah satu wilayah yang mengalami dampak serius akibat gempa. Fokus utama dari penelitian ini adalah bagaimana proses sosialisasi mitigasi bencana yang terjadi dalam kehidupan keluarga yang pernah mengalami langsung peristiwa gempa tersebut. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi dan wawancara tidak terstruktur, dimana peneliti melakukan observasi awal pada bulan Mei 2024 dan pengumpulan data pada tanggal 22 Januari hingga 14 Februari 2025. Data yang diperoleh dalam penelitian ini merupakan data primer dan data sekunder. Data primer didapat melalui observasi dan wawancara tidak terstruktur. Observasi dilakukan untuk melihat kondisi lingkungan, aktivitas dan interaksi social masyarakat yang ada di Desa Limbangan Sari pasca gempa bumi. Pada ditahap wawancara. Langgas: Jurnal Studi Pembangunan. Vol. No. , 62-73 informan dalam penelitian ini dibagi menjadi dua kategori, yaitu informan utama dan informan Informan utama terdiri dari enam orang yang secara langsung mengalami dampak gempa bumi. Informan utama dipilih berdasarkan keterlibatan aktif dan pengalaman langsung mereka baik saat kejadian maupun pasca terjadinya bencana. Informan utama memiliki latar belakang ibu rumah tangga dan pedagang, yang masing-masing memiliki pandangan yang berbeda dalam menyikapi dan menanggapi situasi darurat dan proses pemulihan setelah bencana. Sementara itu, dua orang informan pendukung merupakan perangkat desa yang memiliki peran langsung dalam penanganan dan koordinasi penanggulangan bencana di tingkat lokal. Kedua informan pendukung ini memberikan informasi yang bersifat melengkapi dan memperkuat data dari informan utama. Dalam pelaksanaan penelitian ini, terdapat kendala dalam mendapatkan data dokumentasi yang dibutuhkan. Hal ini dikarenakan tidak tersedianya data yang terdokumentasi secara sistematis pada objek penelitian, kondisi ini menghambat proses pengumpulan informasi secara menyeluruh. Sedangkan data sekunder dalam penelitian ini diperoleh melalui berbagai sumber tertulis, seperti artikel ilmiah, laporan penelitian, dan buku-buku yang relevan dengan topik mitigasi bencana serta peran keluarga dalam proses sosialisasi. Sumber-sumber ini digunakan sebagai bahan pendukung dalam proses analisis, guna memperkuat temuan lapangan dan memberikan konteks teoritis yang lebih luas. Dalam tahap analisis data, peneliti melakukan proses triangulasi, yaitu tekni pengumpulan data dari berbagai sumber yang dilakukan berulang untuk memastikan keabsahan dan kredibilas data (Nasution 2. Analisis dilakukan secara mendalam dengan membandingkan hasil dari wawancara dan observasi langsung di lapangan untuk menggali kesesuaian antara pengalaman subjektif para informan dengan kondisi nyata yang diamati. Selain itu, peneliti juga membandingkan informasi yang diperoleh dari informan utama dan informan pendukung, untuk mengidentifikasi konsistensi serta validitas data yang diberikan. GAMBARAN PASCA GEMPA BUMI CIANJUR DI DESA LIMBANGAN SARI Kabupaten Cianjur adalah sebuah kabupaten yang terletak di kaki Gunung Gede, yang merupakan salah satu wilayah yang tergolong rawan terkena bencana gempa bumi karena terletak di jalur sesar aktif. Sebelum gempa bumi pada tahun 2022, pada tahun 2000 gempa besar pernah terjadi di Cianjur dengan kekuatan 5,1 skala richter yang memberikan dampak kerusakan sekitar 900 rumah (Poerwoto 2. Menurut Kepala Badan Meteorologi. Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) peristiwa gempa bumi Cianjur yang terjadi pada tanggal 21 November 2022 dengan kekuatan 5,6 skala Richter yang berpusat di Kabupaten Cianjur merupakan gempa bumi yang terjadi akibat pergeseran sesar atau pahatan baru. Patahan yang memicu gempa tersebut dikenal sebagai Patahan Cugenang, yang membentang sepanjang 9 kilometer dan melintasi sembilan desa di dua kecamatan (Aprianti et al. Gempa bumi yang terjadi pada tahun 2022 silam memberikan banyak luka dan kerugian bagi masyarakat yang ada di Cianjur. Salah satunya terhadap masyarakat di Desa Limbangan Sari terletak di Kecamatan Cianjur. Kabupaten Cianjur yang merupakan salah satu wilayah terdampak gempa Gempa tersebut menyebabkan kerusakan yang cukup parah pada bangunan rumah dan infrastruktur lainnya, serta mengakibatkan sebagian besar warga desa terpaksa dievakuasi untuk menghindari bahaya lebih lanjut. Desa Limbangan Sari memiliki jumlah penduduk sekitar 3. jiwa, mencatatkan sekitar 750 orang yang menjadi korban oleh bencana gempa bumi ini. Dampak yang ditimbulkan oleh gempa tersebut tidak hanya berupa kerugian material, seperti kerusakan rumah dan fasilitas umum, tetapi juga mencakup kerugian non-material, termasuk trauma psikologis yang mendalam di kalangan warga yang selamat. Langgas: Jurnal Studi Pembangunan. Vol. No. , 62-73 Gambar 1. Kerusakan Pos Kamling Sumber: Peneliti . Evakuasi menjadi prioritas utama, dan warga diarahkan untuk keluar dari rumah serta menempati tenda-tenda pengungsian yang disediakan. Meskipun sempat mengalami hambatan dalam distribusi tenda, pemerintah desa bersama BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daera. , relawan dari luar daerah, serta tokoh masyarakat saling membantu dalam melaksanakan evakuasi Proses evakuasi dilakukan segera setelah terjadinya gempa, sebanyak kurang lebih 13 titik pengungsian dibuka untuk menampung warga terdampak. Gambar 2. Posko Bencana Gempa Bumi Sumber: Peneliti . Selama di pengungsian, berbagai bantuan datang baik dari pemerintah maupun relawan. Bantuan berupa logistik, makanan, pakaian, obat-obatan, dan tenda sangat membantu dalam pemulihan kehidupan sehari-hari. Gotong royong menjadi hal utama dalam proses pemulihan pasca gempa bumi di Desa Limbanga Sari. Warga saling bekerjasama dalam membersihkan puingpuing bangunan, membuat dapur umum dan juga membangun MCK. Masyarakat saling mendukung satu sama lain baik secara moral dan spiritual dalam menghadapi bencana gempa bumi Pemerintah desa juga ikut serta dalam proses pemulihan dengan membentuk Tim Pembantu Masyarakat (TPM) yang terdiri dari kepala desa, babinsa, dan tokoh masyarakat guna mempercepat proses penanganan. Pemerintah desa berperan dalam mengkoordinasikan warga melalui kepala dusun dan ketua RT, serta menjadi jembatan antara warga dan lembaga-lembaga bantuan, baik itu dari pemerintah pusat, daerah dan juga relawan. Sementara itu. BPBD bertugas sebagai lembaga utama yang memberikan bantuan darurat baik berupa pelatihan dan pendampingan kepada relawan Langgas: Jurnal Studi Pembangunan. Vol. No. , 62-73 dan perangkat desa. Kolaborasi ini penting dalam mempercepat proses pemulihan dan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat kedepannya. Selain itu, sosialisasi mengenai penanggulangan bencana dan pelatihan mitigasi gempa juga diberikan, baik oleh relawan, mahasiswa, maupun instansi terkait. Kegiatan seperti trauma healing untuk anak-anak dan ibu-ibu dilakukan secara rutin dilakukan di tenda-tenda pengungsian untuk membantu mengurangi stres dan ketakutan akibat gempa. Sosialisasi yang diberikan mencakup langkah-langkah penyelamatan diri, seperti keluar rumah saat gempa, berlindung di bawah meja, dan menjauh dari bangunan. Masyarakat mengakui bahwa mereka menjadi lebih waspada dan tanggap terhadap tanda-tanda gempa setelah mengalami langsung kejadian tersebut. Meski sebagian masih merasa trauma, aktivitas harian perlahan kembali normal, meskipun ada yang masih memilih untuk tidur di ruang tamu atau tidak mengunci pintu pada malam hari agar bisa segera keluar jika terjadi gempa susulan. Seperti yang disampaikan oleh salah satu informan. AuKalau sekarang sudah normal kembali, di tenda kemarin tiga bulan gitu soalnya kan rumahnya tidak ambruk. Jadi sudah balik ke rumah cuma atasnya masih pakai terpal gitu. Tapi kalau tidur malam teh pintunya gak pernah dikunci dibuka aja soalnya takut. Misalkan ada gempa susulan gitu, kalau gak dikunci kan bisa langsung lari. Alhamdulillah gak terlalu parah sih masih bisa ditempati, awal-awal tuh tidur di ruang tamu aja gitu gak berani di kamar. Ay (Wawancara dengan Nia, 10 Februari 2. Fenomena ini menunjukkan bahwa dampak bencana tidak hanya mendampak pada kerusakan fisik bangunan atau infrastruktur, tetapi juga memberikan dampak pada psikologis yang mendalam dan berlangsung dalam jangka panjang. Rasa cemas, ketidakamanan, serta perubahan pola perilaku, seperti kebiasaan membiarkan pintu tidak terkunci saat malam hari atau memilih tidur di ruang terbuka, mencerminkan adanya trauma yang masih membekas. Kondisi ini membuktikan bahwa bencana alam dapat mengubah pola perilaku seseorang dalam melakukan interaksi dengan lingkungan tempat tinggalnya, bahkan setelah kondisi sudah menjadi normal dan melakukan kegiatan sehari-hari kembali. PROSES SOSIALISASI MITIGASI BENCANA DALAM KELUARGA TERDAMPAK GEMPA BUMI Sebagai makhluk sosial keluarga merupakan tempat pertama bagi seorang individu dalam melakukan interaksi sosial. Keluarga berperan sebagai agen sosialisasi utama yang menanamkan nilai, norma, dan kebiasaan hidup sesuai dengan tatanan sosial masyarakat. Selain itu keluarga juga memainkan peran kunci dalam memberikan pendidikan bencana kepada anak-anak. Orang tua, sebagai subjek utama, berfungsi sebagai penyedia pengalaman dalam menghadapi bencana kepada anak-anaknya, terutama bagi keluarga yang tinggal di daerah rawan bencana alam. Pengalaman ini sangat berharga untuk anak-anak yang belum pernah mengalami bencana atau belum memahami tindakan yang perlu diambil sebelum, saat, dan setelah kejadian bencana (Hamid et al. , 2. Keluarga memiliki fungsi pokok yang tidak akan pernah dapat digantikan oleh pihak lain dalam menjalankan perannya. Salah satunya yaitu berperan dalam memberikan pengetahuan mengenai mitigasi bencana untuk setiap anggota keluarga. Keluarga berperan aktif meningkatkan pengetahuan dan pemahaman bencana, baik dalam mengembangkan kemampuan dalam kehidupan sosial yang harmonis, rasa aman, pendidikan, pelatihan, keterampilan, informasi, dan pengambilan keputusan. Tujuannya adalah menjadikan keluarga mampu menghadapi berbagai ancaman bencana (Haksama et al. Peran keluarga dalam mitigasi bencana sangat penting dalam meningkatkan kesiapsiagaan dan respons terhadap bencana, khususnya gempa bumi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan dasar tentang gempa bumi sudah cukup dimiliki oleh keluarga, di mana mereka mengetahui bahwa gempa adalah bencana alam yang terjadi tiba-tiba dan tanpa peringatan. Proses sosialisasi dalam keluarga terkait penanggulangan bencana gempa bumi dilakukan melalui berbagai pendekatan yang saling melengkapi. Keluarga tidak hanya berperan sebagai tempat Langgas: Jurnal Studi Pembangunan. Vol. No. , 62-73 pertama dalam mempelajari nilai dan norma sosial, tetapi juga berperan dalam membentuk kesadaran tentang kesiapsiagaan menghadapi bencana. Dalam hal tersebut keluarga sebagai lembaga sosial pertama sangat efektif dalam menanamkan nilai sosial pada anak (Arsyillah and Arsal Proses sosialisasi diberikan melalui interaksi yang dilakukan sehari-hari oleh orang tua yang memiliki peran utama dalam menyampaikan informasi secara langsung kepada anak-anak mengenai langkah-langkah yang harus diambil saat gempa terjadi. Dalam keluarga terdampak di desa Limbangan Sari orang tua memberikan pengetahuan awal tentang apa saya yang harus dilakukan saat mengalami gempa bumi. Dengan sikap yang harus dilakukan saat menghadapi gempa bumi, yaitu segera keluar rumah jika memungkinkan, berlindung di bawah meja apabila tidak sempat keluar, serta menghindari area yang berisiko seperti bangunan tinggi dan pohon besar. Sosialisasi ini tidak hanya diberikan secara formal, tetapi dapat diberikan melalui obrolan santai sehari-hari yang muncul secara alami. Orang tua seringkali mengingatkan anak-anak secara rutin dan berkelanjutan, terutama setelah mereka mengalami gempa besar yang meninggalkan kesan Penyampaian sosialisasi yang hanya melalui percakapan sehari-hari, pada kenyataannya belum terimplementasi secara efektif dalam situasi nyata. Hal tersebut dikarenakan kurangnya pelatihan yang diajarkan di dalam keluarga, sehingga anggota keluarga memberikan respon yang lambat dan kurang tepat. Hal ini dapat dilihat dari salah satu pengalaman informan akibat kurang pelatihan praktik dalam proses sosialisasi mitigasi bencana. AuAda anak saya, lagi di kelas karena dia panik terus dia lari saat lari lemari jatuh terus kena Soalnya kan lagi sekolah, jadi pada lompat, pada berebutan keluar terus kan kencang sekali itu gempanya jadi kena kepala lemari yang jatuh di sekolah tuhAy (Wawancara dengan Resmiati, 22 Januari 2. Pernyataan ini menunjukan bahwa tanpa pemahaman dan pelatihan yang memadai, kepanikan yang terjadi memberikan dampak cedera yang lebih besar. Hal ini dikarenakan sosialisasi yang diberikan secara lisan tidak mampu memberikan pemahaman yang mendalam dan Meskipun sosialisasi yang disampaikan memberikan gambaran umum tentang langkahlangkah dalam menghadapi gempa, namun tidak semua dapat diterapkan secara tepat dalam menghadapi situasi nyata. Informasi yang bersifat pasif dan tidak kondisional membuat individu terjebak dalam kebingungan dan kepanikan sehingga dalam memperburuk situasi dan meningkatkan risiko bahaya. Proses sosialisasi mitigasi bencana dalam keluarga terdampak tidak hanya mencakup penyampaian informasi mengenai langkah-langkah keselamatan, tetapi juga pembentukan sikap, nilai, dan peran sosial dalam keluarga. Dalam perspektif George Herbert Mead, sosialisasi merupakan proses aktif di mana individu tidak hanya menerima informasi, tetapi juga membentuk pemahaman dan makna melalui interaksi sosial. Hal ini sejalan dengan temuan bahwa orang tua di Desa Limbangan Sari berperan sebagai agen utama dalam memberikan pengetahuan mengenai nilai-nilai kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana gempa kepada anak-anak mereka melalui komunikasi sehari-hari, pengalaman langsung saat gempa, serta diskusi tentang langkah-langkah keselamatan yang harus dilakukan. Mead menjelaskan bahwa perkembangan self terdiri dari dua komponen, yaitu AuIAy . iri yang akti. dan AuMeAy . iri yang melihat dirinya dari sudut pandang orang lai. Melalui proses sosialisasi mitigasi bencana yang diberikan oleh keluarga, anak-anak dapat belajar membentuk self mereka dengan mengamati dan meniru perilaku orang tua serta memahami peran mereka sebagai bagian dari unit keluarga yang harus siap menghadapi risiko. Mereka tidak hanya menyesuaikan perilaku berdasarkan instruksi, tetapi juga mengembangkan respons dan refleksi sendiri terhadap kondisi darurat, yang mencerminkan peran aktif mereka dalam proses sosialisasi. Sehingga, sosialisasi tidak hanya menjadi pembentuk awal kemampuan berpikir, tetapi juga memberikan landasan yang memungkinkan manusia menggali dan merumuskan perspektif serta pandangan hidup bagi mereka (Ritzer 2. Langgas: Jurnal Studi Pembangunan. Vol. No. , 62-73 Proses sosialisasi ini juga menunjukkan aspek tindakan simbolik, di mana penggunaan bahasa, cerita, dan simbol menjadi alat komunikasi yang memperkuat pemahaman tentang bahaya gempa dan cara menghadapinya. Ini menegaskan bahwa dalam proses sosialisasi, bahasa bukan hanya sarana penyampaian informasi, tetapi juga sarana pembentukan makna dan kesadaran sosial. Proses sosialisasi yang diberikan dalam keluarga bukan hanya sebagai sarana dalam memberikan informasi saja tetapi juga sebagai pembentukan identitas sosial dan pengembangan dalam berpikir dan bertindak dalam mengatasi kesiapsiagaan dalam kondisi darurat. Dengan demikian, keluarga menjadi lembaga paling penting dalam menumbuhkan kesiapsiagaan bencana, tidak hanya melalui instruksi tetapi dengan melalui proses pembelajaran sosial yang terus terjadi. Melalui pemahaman yang baik tentang mitigasi dan peran aktif mereka dalam kegiatan komunitas, keluarga dapat berkontribusi secara signifikan dalam mengurangi dampak bencana. Namun demikian, tidak semua keluarga memiliki kapasitas yang sama dalam penyampaian sosialisasi mitigasi bencana. Dalam kenyataannya terdapat beberapa keluarga yang masih mengandalkan lembaga lain untuk menyampaikan sosialisasi terkait mitigasi bencana, seperti sekolah dan pemerintah. Proses pembelajaran di sekolah memberikan pengetahuan dasar mengenai pentingnya langkah-langkah keselamatan yang harus dilakukan saat terjadinya bencana. Namun dalam hal ini, sekolah hanya berfungsi sebagai pelengkap saja, bukan sebagai pengganti peran utama keluarga dalam mendidik dan mempersiapkan anak menghadapi bencana. Lembaga kemasyarakatan juga memberikan sosialisasi yang hanya bersifat reaktif, tidak seperti keluarga yang memberikan sosialisasi mitigasi bencana berbasis pengalaman. Meskipun masyarakat di Desa Limbangan Sari sudah memiliki pemahaman dasar mengenai langkah-langkah yang harus dilakukan saat gempa bumi, masih terdapat kebingungan dan keterlambatan dalam merespons karena informasi yang diterima tidak sepenuhnya disosialisasikan dengan cara yang dapat diterapkan dalam situasi nyata. Dari hal tersebut orang tua dapat menguatkan atau menambahkan pemahaman yang sudah didapat oleh anak di sekolah dan masyarakat dengan berdiskusi di rumah. Keluarga tetap memiliki peran yang lebih besar dalam memberikan pemahaman yang mendalam dalam proses sosialisasi mitigasi bencana. KENDALA DALAM PROSES SOSIALISASI MITIGASI BENCANA Proses sosialisasi mengenai mitigasi bencana di Desa Limbangan Sari bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana alam terutama gempa bumi di Cianjur sebagai tempat yang rawan mengalami gempa. Akan tetapi dalam prosesnya tentu terdapat kendal. Kendala yang ditemukan adalah kurangnya pemahaman yang mendalam mengenai langkah-langkah mitigasi bencana secara teknis dan untuk kedepannya. Meskipun keluarga terdampak sudah memiliki pemahaman dasar mengenai tindakan darurat seperti keluar rumah dan berlindung di bawah meja. Akan tetapi mereka belum memahami langkah-langkah mitigasi yang lebih rinci, seperti perencanaan evakuasi keluarga atau pembangunan infrastruktur yang tahan bencana. Selain itu keluarga terdampak gempa bumi di Desa Limbangan Sari cenderung menganggap bahwa sekolah merupakan tempat-satu-satunya dalam mendapatkan informasi mengenai mitigasi bencana. Banyak orang tua mengandalkan lembaga pendidikan sebagai sumber utama edukasi mitigasi bencana, sementara mereka tidak memberikan perhatian yang cukup terhadap pentingnya sosialisasi tersebut di dalam lingkungan keluarga sendiri. Keterbatasan dalam akses pelatihan menjadi salah satu kendala yang terjadi dalam proses sosialisasi di masyarakat. Sosialisasi yang diberikan masih berbentuk teori tanpa disertai dengan praktik langsung. Pelatihan bencana dilakukan hanya terbatas untuk relawan saja, sedangkan untuk masyarakat tidak mendapatkan pelatihan khusus. Hal ini diperkuat oleh pernyataan salah satu informan yang menyebutkan. AuPelatihan ada, pelatihannya cuma dikoordinir oleh BPBD untuk relawan gitu relawan bencana dilatih, kalau di masyarakat tidak ada. Ay (Wawancara dengan Akhmad Sudrajat, 31 Mei 2. Langgas: Jurnal Studi Pembangunan. Vol. No. , 62-73 Pelatihan yang diberikan cenderung eksklusif hanya untuk kelompok relawan saja, sedangkan untuk masyarakat umum tidak diberikan pelatihan yang berbasis praktik. Akibatnya masyarakat masih kurang pengalaman nyata dalam menghadapi bencana dan berdampak pada tingkat kesiapsiagaan yang rendah. Selain itu, sosialisasi yang diberikan dari perangkat desa masih terbilang kurang dan lebih bergantung pada relawan. Meskipun seperti yang diketahui bahwa relawan memberikan kontribusi yang besar dalam proses sosialisasi mitigasi bencana, akan tetapi peran perangkat desa juga diperlukan. Sehingga upaya mitigasi bencana di Desa Limbangan Sari membutuhkan perbaikan dalam hal pemahaman yang lebih mendalam, aksesibilitas informasi yang lebih luas, serta penguatan peran aktif dari pemerintah dan perangkat desa dalam menyelenggarakan Agar sosialisasi mitigasi bencana dapat lebih efektif, perlu adanya pendekatan yang lebih terstruktur, melibatkan berbagai pihak, dan memberikan kesempatan untuk masyarakat berlatih serta menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh dalam kehidupan sehari-hari. Kendala lain terlihat dari masih terbatasnya rambu-rambu peringatan gempa bumi di Desa Limbangan Sari. Jumlah rambu yang tersedia belum mencukupi seluruh area desa terutama di wilayah-wilayah yang rawan terkena dampak bencana gempa bumi. Kondisi ini menjadi kendala dalam penyampaian proses sosialisasi di karena rambu-rambu menjadi sarana visual dalam memberikan arahan saat terjadinya gempa bumi. Selain itu kondisi rambu juga dalam kondisi yang perlu diperhatikan, karena terdapat rambut yang ditempeli stiker dan juga dicoret-coret oleh tangantangan tidak bertanggung jawab. Sehingga menyebabkan pesan yang disampaikan menjadi kurang Kurangnya perawatan dan pengawasan terhadap rambu-rambu ini menunjukkan bahwa aspek pemeliharaan sarana pendukung mitigasi bencana di Desa Limbangan Sari masih belum Padahal, keberadaan rambu yang jelas, bersih, dan strategis sangat penting untuk mendukung upaya membangun budaya sadar bencana di tengah masyarakat. Tanpa dukungan visual yang memadai, efektivitas sosialisasi dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi gempa bumi menjadi berkurang secara signifikan. SIMPULAN Proses sosialisasi mitigasi bencana gempa bumi di Desa Limbangan Sari menunjukkan peran penting keluarga sebagai agen utama dalam membentuk pengetahuan, sikap, dan kesadaran kesiapsiagaan terhadap bencana. Sosialisasi tidak hanya dilakukan melalui jalur formal oleh instansi pemerintah dan relawan, tetapi juga berlangsung secara informal dan berkesinambungan dalam lingkup keluarga. Keluarga berperan sangat penting dalam menyampaikan informasi mengenai langkah-langkah keselamatan, membentuk nilai kewaspadaan, serta membangun ketangguhan psikologis anggota keluarga, khususnya anak-anak. Sosialisasi yang terjadi berupa komunikasi seharihari, pengalaman langsung saat gempa, serta penggunaan bahasa dan cerita menjadi media penting dalam menyampaikan makna kesiapsiagaan dalam keluarga. Proses ini memungkinkan individu, terutama anak-anak, tidak hanya memahami secara kognitif, tetapi juga menginternalisasi nilai dan norma kesiapan menghadapi bencana sebagai bagian dari identitas sosial mereka. Akan tetapi sosialisasi yang diberikan di keluarga belum semuanya efektif karena kurangnya praktek langsung dalam menghadapi situasi nyata. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa efektivitas mitigasi bencana sangat dipengaruhi oleh kualitas proses sosialisasi yang berlangsung dalam keluarga. Tetapi, terdapat beberapa warga yang masih mengandalkan informasi dari lembaga pendidikan dan masyarakat. Oleh karena itu, strategi mitigasi bencana perlu mempertimbangkan pendekatan berbasis keluarga yang mendorong keterlibatan aktif dalam edukasi dan pembentukan budaya sadar bencana. Keluarga bukan hanya penerima informasi, melainkan subjek penting dalam memperluas dan menanamkan pengetahuan mitigasi secara berkelanjutan. Pelatihan kesiapsiagan bencana juga dapat diterapkan di sekolahsekolah Indonesia, bukan hanya teori tetapi praktik langsung seperti yang sudah ada dibeberapa negara lain seperti Amerika dan Jepang. Langgas: Jurnal Studi Pembangunan. Vol. No. , 62-73 DAFTAR PUSTAKA