AL-MUHITH JURNAL ILMU AL-QURAoAN DAN HADITS E-ISSN: 2963-4024 . edia onlin. P-ISSN : 2963-4016 . edia ceta. DOI : 10. 35931/am. MENGUAK RAHASIA TAFSIR FALSAFI: SEJARAH. METODE DAN TOKOH-TOKOH BERPENGARUH Akhmad Dasuki IAIN Palangka Raya. Kalimantan Tengah. Indonesia akhmaddasuki@iain-palangkaraya. Muhamad Rulyawan Sihab IAIN Palangka Raya. Kalimantan Tengah. Indonesia ryuzianur19@gmail. Rifky Maulana IAIN Palangka Raya. Kalimantan Tengah. Indonesia Cengrifky01@gmail. Abstrak Penafsiran Al-QurAoan merupakan usaha intelektual yang dilakukan oleh para mufassir sesuai dengan kapasitas keilmuannya. Salah satu corak penafsiran yang menonjol dan kontroversial dalam khazanah tafsir adalah tafsir falsafi, yakni pendekatan yang memadukan filsafat, logika, dan rasionalitas dalam memahami ayat-ayat suci. Tafsir ini berkembang pesat pada masa Kekhalifahan Abbasiyah, dipelopori oleh tokoh-tokoh seperti Ibnu Sina. Al-Farabi, dan Ikhwan al-Shafa. Meski mendapat penolakan dari sejumlah ulama karena dianggap menyimpang dari makna asli wahyu, tafsir falsafi tetap bertahan dan berkontribusi besar terhadap dinamika pemikiran Islam. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji latar belakang munculnya tafsir falsafi, sumber dan metode penafsirannya, serta tokoh-tokoh penting beserta karya-karya mereka. Pendekatan yang digunakan dalam studi ini adalah penelitian kepustakaan dengan metode kualitatif deskriptif, yang mengandalkan literatur-literatur ilmiah tanpa unsur plagiarisme. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa tafsir falsafi merupakan jembatan antara rasionalitas dan spiritualitas yang memperkaya pemahaman terhadap Al-QurAoan, meskipun tetap menyisakan ruang perdebatan di kalangan umat Islam. Kata Kunci: Tafsir Falsafi. Filsafat Islam. Penafsiran Al-QurAoan. Rasionalitas Abstract The interpretation of the Qur'an is an intellectual endeavor carried out by exegetes . according to their scholarly capacity. One of the prominent and controversial approaches within the field of Qur'anic exegesis is philosophical interpretation . afsir falsaf. , which integrates philosophy, logic, and rationality in understanding the sacred verses. This approach flourished during the Abbasid Caliphate, pioneered by figures such as Ibn Sina. Al-Farabi, and Ikhwan al-Shafa. Although it was rejected by some scholars for allegedly deviating from the original meaning of revelation, tafsir falsafi has endured and made a significant contribution to the dynamics of Islamic thought. This study aims to examine the historical background of tafsir falsafi, its sources and methods of interpretation, as well as key figures and their works. The research adopts a library research method with a descriptive qualitative approach, relying solely on academic literature and free from plagiarism. The findings reveal that tafsir falsafi serves as a bridge between rationality and spirituality, enriching the understanding of the Qur'an, even though it continues to spark debate among Muslim scholars. Keywords: Philosophical Exegesis. Islamic Philosophy. Qur'anic Interpretation. Rationality Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Juli - Desember 2025 Akhmad Dasuki. Muhamad Rulyawan Sihab. Rifky Maulana: Menguak Rahasia Tafsir Falsafi: Sejarah. Metode dan Tokoh-Tokoh Berpengaruh A Author. 2025 This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. PENDAHULUAN Penafsiran Al-Qur'an merupakan upaya manusia dalam menggali makna kalam Allah sesuai dengan kapasitas dan keahlian masing-masing mufassir. Oleh karena itu, hasil penafsiran sering kali dipengaruhi oleh latar belakang keilmuan mufassir tersebut. Tafsir Al-Qur'an dapat diklasifikasikan berdasarkan sumbernya, seperti tafsir bi al-riwayah, tafsir bi al-raAoyi, dan tafsir bi al-isyarah. Selain itu, tafsir juga dapat dibagi berdasarkan corak atau ittijihat-nya, yang bergantung pada bidang keahlian mufassir itu sendiri. Corak penafsiran dalam ilmu tafsir merupakan kecenderungan atau warna tertentu yang mendominasi suatu karya tafsir, sesuai dengan keahlian dan latar belakang mufassir. Meskipun terdapat berbagai istilah seperti ittijyh, nyhiyat, dan madrasat, istilah corak lebih familiar dan netral, terutama dalam konteks budaya Indonesia. Salah satu corak yang cukup menonjol dan kontroversial adalah tafsir falsafi. Tafsir falsafi merupakan pendekatan dalam penafsiran Al-QurAoan yang mengintegrasikan ilmu filsafat, logika, dan rasionalitas dalam memahami ayat-ayat suci. Corak tafsir ini muncul pada masa Kekhalifahan Abbasiyah ketika pemikiran filsafat Yunani mulai masuk ke dunia Islam. Para filsuf Muslim seperti Ibnu Sina. Al-Farabi, dan Al-Kindi memainkan peran penting dalam mengembangkan tafsir dengan pendekatan rasional dan filosofis. Kemunculan tafsir falsafi tidak terlepas dari kontroversi di kalangan ulama. Banyak sarjana Muslim menolak tafsir falsafi karena dianggap terlalu mengedepankan rasionalitas dan filsafat sehingga dinilai menyimpang dari kebenaran Al-QurAoan. Tafsir falsafi mengalami pasang surut dalam sejarah pemikiran Islam karena mendapat banyak kritik dari ulama seperti Imam Al-Ghazali. Namun, pada abad ke-20, tafsir ini kembali muncul melalui karya ThabathabaAoi dan Abu YaAorab alMarzuqi. Meskipun kontroversial, tafsir falsafi tetap berperan dalam menggabungkan rasionalitas dengan pemahaman spiritual dalam khazanah keilmuan Islam. Abdul Gofur. Muhammad Farhal Azkiya. Eni Zulaiha. AuTafsir Falsafi: Pendekatan Rasional dalam Penafsiran Al-QurAoanAy. SENARAI: Journal of Islamic Haritage and Civilization. Vol. 1 No. Hal: 2. Aldomi Putra. AuKajian Tafsir FalsafiAy. al-Burhan Vol. 17 No. 1 Tahun 2017. Hal: 20. Nilna Faiziya. AuTafsir Falsafi: Integrasi Rasionalitas Dan Spiritual Dalam Memahami Ayat-Ayat Al-QurAoanAy. Mufham: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir. Vol. 3 No. 2 Tahun 2024. Hal: 85-86. Kurdi Fadal. AuStagnasi Tafsir Falsafi dan Kuriositas Al-QurAoan (Analisis Pemikiran Muhammad Husain Al-Zahab. Rausyan Fikr: Jurnal Ilmu Studi Ushuluddin dan Filsafat. Vol. 18 No. 2 Desember 2022. Hal: 273-274. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Juli - Desember 2025 Akhmad Dasuki. Muhamad Rulyawan Sihab. Rifky Maulana: Menguak Rahasia Tafsir Falsafi: Sejarah. Metode dan Tokoh-Tokoh Berpengaruh Jadi, dalam penelitian ini, akan dibahas secara mendalam mengenai tafsir filsafat . afsir falsaf. yang merupakan salah satu pendekatan dalam menafsirkan Al-Qur'an dengan menggunakan prinsip-prinsip filsafat sebagai landasan. Penjelasan ini mencakup beberapa aspek penting, yaitu sejarah latar belakang munculnya tafsir filsafat, sumber-sumber penafsirannya, metode yang digunakan dalam penafsiran, tokoh-tokoh utama yang mempelopori pendekatan ini, serta karyakarya penting yang dihasilkan dalam bidang tafsir filsafat. METODE PENELITIAN Kami sebagai penulis dalam penulisan ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (Library Researc. dan pendekatan kualitatif, yang bertujuan untuk menghasilkan data yang bersifat deskriptif dan disajikan dalam bentuk narasi kualitatif. Metode penelitian kepustakaan merupakan jenis penelitian yang difokuskan pada pencarian dan pengumpulan data yang berasal dari sumber-sumber tertulis, baik itu buku, artikel jurnal, disertasi, skripsi, laporan penelitian, ataupun karya ilmiah lainnya yang relevan dengan topik yang dibahas. Dalam penelitian ini, kami mengandalkan referensi yang terpercaya dan sudah teruji kebenarannya untuk mendalami tafsir filsafat serta aspek-aspek terkait yang mendukung analisis. HASIL DAN PEMBAHASAN Sejarah Latar Belakang Kelahiran Tafsir Falsafi Tafsir falsafi adalah upaya penafsiran Al-QurAoan dengan menggunakan teori-teori filsafat sebagai paradigma utama. Dalam pendekatan ini, ajaran-ajaran Al-Qur'an dijelaskan melalui konsep-konsep filsafat, baik filsafat Yunani. Persia, maupun filsafat Islam. Tujuan dari tafsir falsafi adalah untuk menemukan keselarasan antara wahyu dan rasio manusia. Adapun pengertian yang lain yakni, tafsir falsafi yaitu tafsir yang menggunakan analisis disiplin ilmu-ilmu filsafat. Tafsir ini muncul pada masa kekhalifahan Abbasiyah, terutama pada masa khalifah AlManshur . M) hingga Al-Ma'mun . M), ketika ilmu pengetahuan dan filsafat berkembang pesat melalui penerjemahan buku-buku asing ke dalam bahasa Arab. Tokoh-tokoh filsafat Islam seperti Al-Farabi. Ibnu Sina, dan Ikhwan Al-Shafa turut berperan dalam mengembangkan tafsir falsafi, meskipun tafsir mereka banyak ditolak oleh sebagian ulama karena dianggap merusak ajaran Islam dengan memasukkan unsur filsafat yang berlebihan. Andi Malaka. AuBerbagai Metode dan Corak Penafsiran Al-QurAoanAy. Bayani: Jurnal Studi Islam. Vol. No. September 2021. Hal: 146 Ishmatul Karimah Syam. Suryana Alfathah. Eni Zulaiha. Khader Ahmad. AuKajian Historis Tafsir FalsafiAy. Hanifiya: Jurnal Studi Agama-Agama. Hal: 87. Syafieh. AuPerkembangan Tafsir Falsafi Dalam Ranah Pemikiran IslamAy. Jurnal At-Tibyan Vol. No. Desember 2017. Hal: 142. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Juli - Desember 2025 Akhmad Dasuki. Muhamad Rulyawan Sihab. Rifky Maulana: Menguak Rahasia Tafsir Falsafi: Sejarah. Metode dan Tokoh-Tokoh Berpengaruh Pada masa itu, filsafat Yunani seperti pemikiran Plato dan Aristoteles sangat mempengaruhi para filosof Muslim. Proses penerjemahan yang intensif memunculkan aliran-aliran pemikiran seperti Mu'tazilah dan Al-Jahmiyah, yang mempengaruhi cara pandang terhadap sifatsifat Tuhan dan ayat-ayat mutasyabihat dalam Al-Qur'an. Walaupun tafsir falsafi banyak menuai kontroversi, pendekatan filsafat dalam penafsiran Al-Qur'an tetap eksis dan banyak ditemukan pada sejumlah kitab tafsir, terutama dalam pembahasan ayat-ayat tertentu yang memerlukan pendekatan rasional dan filosofis. Terdapat dua golongan besar dalam menyikapi tafsir falsafi: Golongan yang Menolak Filsafat: Golongan ini menolak interfensi filsafat dalam tafsir AlQur'an karena menganggapnya bertentangan dengan ajaran Islam. Tokoh utamanya adalah Imam al-Ghazali, yang mengkritik pendekatan metafisika spekulatif para filsuf seperti Ibn Sina dalam karyanya "Tahafut al-Falasifah" (Kerancuan Para Filoso. Fakhr al-Razi juga menolak teori-teori filsafat yang bertentangan dengan agama dalam kitab tafsirnya "Mafatih Al-Ghaib". Golongan yang Menerima dan Mengagumi Filsafat: Golongan ini mencoba mengkompromikan antara filsafat dan agama, meskipun tidak sepenuhnya berhasil mencapai keselarasan. Mereka menggunakan dua cara dalam mengkompromikan Al-Qur'an dengan filsafat. Pertama. Menundukkan nash Al-Qur'an pada pandangan filsafat, sehingga terlihat selaras. Dan yang kedua. Menjadikan filsafat sebagai acuan utama, sedangkan Al-Qur'an ditempatkan secara sekunder, yang dianggap lebih berbahaya. Contoh tafsir falsafi dari golongan ini termasuk karyakarya parsial seperti "Fushush al-Hikam" oleh Al-Farabi dan "Rasail Ibn Sina" oleh Ibn Sina. Secara umum, tafsir falsafi cenderung menafsirkan ayat-ayat tertentu dalam Al-Qur'an yang dianggap memerlukan pendekatan rasional dan filosofis. Namun, sebagian besar ulama tetap mengkritik tafsir ini karena dinilai mengutamakan pemikiran manusia di atas wahyu Ilahi. Adapun sumber-sumber penafsiran yang digunakan dalam menafsirkan tafsir falsafi, yakni penjelasan dari Muhammad Ali ar-RidhaAoi al-Isfahani mengenai tafsir falsafi adalah bahwa metode penafsiran Al-QurAoan melalui tafsir falsafi merujuk pada tiga sumber utama yang memiliki pendekatan filosofis yang berbeda. Pertama, filsafat Peripatik . l-Masya'iya. yang berakar pada pemikiran Aristoteles, mengedepankan pendekatan rasional, logika, dan deduktif untuk memahami teks-teks Al-Qur'an. Tokoh-tokoh seperti Ibnu Sina mengintegrasikan prinsip-prinsip filsafat ini dengan ajaran Islam, meskipun pendekatan ini mendapat kritik karena dikhawatirkan dapat Muhammad Raja Pramudita. Muhammad Ilyas Kalmark. Mohammad Alvi Pratama. AuKondisi Hukum dan Keadilan di Era Transisi Dunia Muslim: Tinjauan Sejarah dan FilosofiAy. Praxis: Jurnal Filsafat Terapan. Nilna Faiziya. AuTafsir Falsafi: Integrasi Rasionalitas dan Spiritual dalam Memahami AyatAyat Al-QurAoanAy. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan. Vol. No. Januari 2025. Hal: 1266-1267. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Juli - Desember 2025 Akhmad Dasuki. Muhamad Rulyawan Sihab. Rifky Maulana: Menguak Rahasia Tafsir Falsafi: Sejarah. Metode dan Tokoh-Tokoh Berpengaruh mengaburkan makna wahyu. Meskipun demikian, aliran ini memberikan kontribusi besar dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pemikiran teologis dalam tradisi intelektual Islam. Kedua. Filsafat Iluminasi . l-Isyraqiya. merupakan aliran pemikiran yang berkembang dari pengaruh Neo-Platonisme, yang mengutamakan konsep penerangan . sebagai cara untuk memahami realitas. Dalam filsafat ini, pengetahuan dan kebenaran dianggap sebagai bentuk penerangan dari cahaya ilahi yang menerangi hati dan pikiran manusia. Konsep ini sejalan dengan ajaran tauhid dalam Islam, yang menekankan keesaan Tuhan sebagai sumber segala kebenaran dan Pemikiran al-Isyraqiyah dipelopori oleh tokoh besar seperti Suhrawardi, yang mengembangkan teori tentang dunia cahaya dan gelap, serta al-Ghazali, yang dalam karyakaryanya juga menghubungkan aspek mistik dengan akal. Filsafat ini berusaha mengharmoniskan rasio dan pengalaman mistik dalam memahami Tuhan dan ciptaan-Nya, dengan menekankan bahwa kebenaran sejati hanya bisa dipahami melalui penerangan batin yang diberikan oleh Tuhan. Ketiga. Filsafat Teosofi . l-Hikmah al-MutaAoaliya. merupakan gabungan dari pendekatan-pendekatan sebelumnya, terutama filsafat Peripatik dan Iluminasi, dengan penekanan pada aspek metafisika, kosmologi, antropologi, dan psikologi. Aliran ini dikembangkan oleh tokohtokoh besar seperti Ibnu AoArabi dan Mulla Sadra, yang berusaha menyatukan wahyu dengan pemahaman rasional dan pengalaman mistik. Fokus utama tafsir falsafi dalam al-Hikmah alMutaAoaliyah adalah untuk menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan hakikat keberadaan Allah, sifat-sifat-Nya, dan wujud-Nya, serta konsep-konsep fundamental seperti tauhid, akal, jiwa, mukjizat, dan sebab-akibat. Pendekatan ini bertujuan untuk mengungkapkan kebenaran yang lebih dalam tentang realitas, dengan menjelaskan hubungan antara Tuhan, alam semesta, dan manusia, serta bagaimana segala sesuatu di dunia ini berhubungan dalam tatanan kosmik yang lebih tinggi. Mulla Sadra, misalnya, mengembangkan konsep AuwujudAy sebagai dasar dari semua realitas, yang berhubungan erat dengan pemahaman tentang Tuhan sebagai sumber utama dari segala eksistensi. Metode Penafsiran Tafsir Falsafi Ada dua metode utama dalam melakukan penafsiran Al-Quran dengan pendekatan falsafi. Pertama, penafsiran ayat-ayat Al-Quran yang dilakukan dengan cara mengkontraskan teksnya Nilna Faiziya, hal: 1267. Fathurrahman. AuFilsafat Iluminasi Suhrawardi Al-MaqtulAy. Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan. Vol. No. 2 Oktober 2018. Imam Ibnumalik. Ali Bowo Tjahjono. Toha Makhsun. AuKonsep Teosofi Transendental Mulla Sadra dan Implikasinya dalam Praktik Pendidikan TauhidAy. Kimu: Konstelasi Ilmiah Mahasiswa Unissula. 19 Januari 2022. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Juli - Desember 2025 Akhmad Dasuki. Muhamad Rulyawan Sihab. Rifky Maulana: Menguak Rahasia Tafsir Falsafi: Sejarah. Metode dan Tokoh-Tokoh Berpengaruh dengan berbagai teori filsafat. Dalam hal ini, para penafsir tidak hanya melakukan takwil terhadap nash Al-Quran, tetapi juga menjelaskan kandungan nash tersebut melalui lensa teori filsafat. Dalam pendekatan ini, pandangan para filosof sering kali dijadikan sebagai acuan utama, menganggapnya lebih penting dibandingkan Al-Quran yang seharusnya memiliki kedudukan lebih Sikap ini memberikan kesan bahwa filsafat seolah-olah melampaui teks Al-Quran, yang bisa mengarah pada penafsiran yang tidak menghargai kitab suci. Pendekatan ini banyak diadopsi oleh tokoh-tokoh seperti Fakhruddin Ar-Razi dalam karya Mafatih al-Ghaib dan al-ThabathabaAoi dalam al-Mizan fi Tafsir al-Quran. Kedua, penafsiran Al-Quran juga bisa dilakukan dengan menjadikan teori filsafat sebagai kerangka berpikir. Berbeda dengan metode pertama, pendekatan ini lebih menekankan pada penggunaan pemikiran filsafat yang diintegrasikan ke dalam proses memahami dan menafsirkan ayat-ayat Al-Quran. Model penafsiran ini diikuti oleh tokoh-tokoh seperti al-Farabi. Ibnu Sina, dan Ikhwan al-Shafa. Tokoh-tokoh Tafsir Falsafi Serta Karya-karyanya Menurut Husain al-Dzahabi, sebenarnya tidak ada ahli filsafat Muslim yang secara lengkap menulis penafsiran al-Qur'an. Yang ditemukan hanyalah pendapat-pendapat dari para filsuf yang memberikan interpretasi terhadap al-Qur'an secara terpisah, yang kemudian disampaikan dalam karya-karya filsafat mereka. Berikut adalah beberapa tokoh dan kitab yang menafsirkan al-Qur'an dengan pendekatan filsafati: Ibnu Sina dalam Kitab Rasail Ibnu Sina Ibnu Sina adalah salah satu filsuf Muslim yang terkemuka, dengan nama lengkap alRais Abu AoAli al-Husain bin AoAbdullah bin Hasan bin AoAli bin Sina. Ia dilahirkan di Bukhara pada tahun 370 H/980 M. Ibnu Sina wafat pada tahun 428 H/1037 M. Sejak usia sepuluh tahun, ia telah menghafal Al-Qur'an dan mempelajari berbagai ilmu, termasuk sastra, kedokteran, hisab, al-jabar, seni, dan mantiq. Ibnu Sina terkenal akan keahliannya dalam ilmu kedokteran, sehingga dijuluki sebagai Bapak Kedokteran Dunia. dunia Barat, ia lebih dikenal dengan nama Avicenna. Karya-karya Ibnu Sina sangat beragam, terutama dalam bidang kedokteran dan filsafat. Salah satu tulisannya yang dikenal luas adalah AuRasail Ibnu SinaAy, yang berisi metodenya dalam menafsirkan Al-Qur'an melalui lensa filsafat. Dalam karyanya ini. Ibnu Sina memberikan Miatul Qudsia. AuMenelisik Tafsir Falsafi . Karakteristik. Metode dan Sumber PenafsiranAy. September 2020. Situs Internet Online: https://tafsiralquran. id/menelisik-tafsir-falsafi-2-karakteristikmetode-dan-sumberpenafsiran/#::text=Metode Tafsir Falsafi, dan Ikhwan al-Shafa. Menelisik Tafsir Falsafi . Karakteristik. Metode dan Sumber Penafsiran Alwizar. AuPemikiran Pendidikan Ibnu SinaAy. An-NidaAo: Jurnal Pemikiran Islam. Vol. No. Januari-Juni 2015. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Juli - Desember 2025 Akhmad Dasuki. Muhamad Rulyawan Sihab. Rifky Maulana: Menguak Rahasia Tafsir Falsafi: Sejarah. Metode dan Tokoh-Tokoh Berpengaruh penjelasan tentang kebenaran yang terkandung dalam Al-Qur'an dari sudut pandang filosofis. Baginya. Al-Qur'an merupakan simbol yang sulit dipahami oleh orang awam dan hanya dapat dimengerti oleh kalangan tertentu. Salah satu ayat yang ditafsirkan oleh Ibnu Sina terdapat dalam QS. Al-Haqqah ayat 17, yang berbunyi: UAE Aa eOCa aN eI Oa eOaI aiO s aIaOaA AEA AIA AaOA AOA a a a e a a e a AE aEeO ae a aiO aNA a acOEe aIEA Artinya: AuPara malaikat berada di berbagai penjurunya . Pada hari itu, delapan malaikat menjunjung AoArasy . Tuhanmu di atas mereka. Ay (QS. Al-Haqqah . Menurut Ibnu Sina. Aoarsy merupakan planet kesembilan yang menjadi pusat bagi planetplanet lainnya dalam tata surya. Delapan planet lain yang disebutkan berfungsi sebagai penyangga di bawahnya. Ia berpendapat bahwa Aoarasy adalah wujud akhir dari penciptaan Sebagian antromorfis yang cenderung mengikuti makna tekstual syariat berpendapat bahwa Allah berada di atas Aoarasy, namun bukan berarti Allah menetap di situ. Di sisi lain, para filosof beranggapan bahwa akhir ciptaan yang bersifat jasmani adalah planet kesembilan tersebut, di mana Tuhan ada, tetapi tidak dalam arti berdiam. Ibnu Sina juga menjelaskan bahwa planet-planet ini digerakkan oleh jiwa, dengan dua jenis gerakan: esensial dan tidak esensial. Gerakan esensial tersebut bisa bersifat alami . atau dipengaruhi oleh jiwa . Ia berpendapat bahwa planet-planet ini abadi, tidak akan mengalami kebinasaan atau perubahan selamanya. Dalam syariat, malaikat-malaikat hidup dan tidak mati seperti manusia. Oleh karena itu, jika dikatakan bahwa planet-planet adalah makhluk hidup yang dapat berpikir, dan makhluk hidup yang dapat berpikir itu adalah malaikat, maka planet-planet tersebut dapat disebut sebagai malaikat. Rasail Ikhwan as-Shafa Ikhwan as-Shafa (Brethren of Purit. , yang berarti Persaudaraan Suci, adalah sebuah kelompok rahasia yang terdiri dari para filsuf Muslim Arab yang berbasis di Basra. Irak. Pada masa itu. Basra merupakan pusat pemerintahan Kekhalifahan Bani Abbasiyah. Nama AuIkhwan As-ShafaAy diambil dari kisah burung merpati dalam kitab Kalilah wa Dimnah karena ajaran moral yang terkandung di dalamnya sangat relevan untuk membangun kembali semangat persaudaraan yang kokoh di kalangan umat islam. Pada masa itu, umat islam mengalami Pebriani Srifatonah. Siti Aminah. Eni Zulaiha. AuIttijah Tafsir Falsafi: Analisis Tafsir Penciptaan Alam Menurut Imam Al-Ghazali dan Al-FarabiAy. Definisi: Jurnal Agama dan Sosial-Humaniora. Vol. No. 1, 2023. Hal: 43-44. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Juli - Desember 2025 Akhmad Dasuki. Muhamad Rulyawan Sihab. Rifky Maulana: Menguak Rahasia Tafsir Falsafi: Sejarah. Metode dan Tokoh-Tokoh Berpengaruh keretakan persaudaraan, terutama setelah peralihan kekuasaan antara Dinasti Umayyah dan Abbasiyah. Ikhwan As-ShafaAo berusaha menegakkan nilai-nilai persahabatan sejati dan tolongmenolong antar sesame, yang mereka anggap sebagai landasan untuk menciptakan persaudaraan islam yang bersifat universal, melampaui batas suku dan aliran agama, demi mencapai tujuan Di antara anggota-anggota Ikhwan as-Shafa terdapat nama-nama terkenal seperti Abu Sulaiman Muhammad AoAli bin MaAosyar al-Bastani. Abu al-Hasan AoAli bin Harun al-Zanani. Abi Ahmad al-Maharjani, al-AoAufi, serta Zaid bin RafaAoah. Mereka mengadakan pertemuan secara tertutup untuk membahas berbagai tema filsafat dan dari diskusi-diskusi tersebut, mereka mengembangkan aliran pemikiran yang berfokus pada filsafat Islam. Prinsip dasar pengajaran mereka menekankan bahwa syariat Islam sering kali terabaikan akibat kebodohan dan penyimpangan, sehingga perlu diperbaiki dan dimurnikan melalui pendekatan filsafat yang dapat menghubungkan wahyu dengan akal, serta menyelaraskan ajaran agama dengan pemahaman rasional yang lebih mendalam. Salah satu contoh penafsiran yang ditulis oleh Ikhwan as-Shafa dapat ditemukan dalam Rasail Ikhwan as-Shafa, yang mengacu pada QS. Al-AnAoam ayat 112: a AE EeIa Ea aE aE Iaa s a UcO a O aeOA s A aN eI a E a eA a eAeEIA AA Ee aC eOaE aaeOU aOEa eOA a A a eaA a A aO ea aI Oa eO a eO a eA a a a AaOaE EA AE aI Aa aEa eONa Aa a eaN eI aOaI Oa eA aaeO aIA ca a a a a Artinya: AuDemikianlah . ebagaimana Kami menjadikan bagimu musu. Kami telah menjadikan pula bagi setiap nabi musuh yang terdiri atas setan-setan . manusia dan jin. Sebagian dari mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan. Seandainya Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak akan Maka, tinggalkan mereka bersama apa yang mereka ada-adakan . Ay (QS. Al-AnAoam . Dalam penafsiran mereka. Ikhwan as-Shafa memahami kata "syaitan" bukan sebagai makhluk fisik yang dapat dilihat, melainkan sebagai "jiwa buruk" yang telah berpisah dari tubuh dan tidak dapat diindra secara fisik. Menurut pandangan mereka. Al-QurAoan bukan hanya sekadar teks suci yang bersifat literal, tetapi juga simbol dari kebenaran yang lebih dalam dan melampaui batas-batas pemikiran manusia biasa. Nabi Muhammad SAW menyampaikan wahyu Umiarso. Abdul Rahim Karim. AuPemikiran Pendidikan Menurut Ikhwan As-ShafaAy. Jurnal AtTarbiyyah: Jurnal Pendidikan Islam. Vol. No. Tahun 2020. Hal: 123. Mohammad Ivani Rizky Saputra. Alaika M. Bagus Kurnia PS. AuMembedah Pemikiran Ikhwan AlSafa Tentang Sinergi Sains dan AgamaAy. Al-Ibrah. Vol. No. Juni 2020. Hal: 148. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Juli - Desember 2025 Akhmad Dasuki. Muhamad Rulyawan Sihab. Rifky Maulana: Menguak Rahasia Tafsir Falsafi: Sejarah. Metode dan Tokoh-Tokoh Berpengaruh yang diterimanya, baik secara nyata maupun tersembunyi. ia merumuskan hal tersebut dalam lafadz yang dapat diterima dan makna yang dapat dipahami oleh pikiran manusia. Selain itu. Ikhwan as-Shafa juga memberikan penafsiran mengenai surga dan neraka. Mereka menafsirkan surga sebagai alam perbintangan atau tata surya, sedangkan neraka mereka anggap sebagai dunia di bawah bulan. Pandangan ini didasarkan pada hadis Nabi Muhammad SAW yang menyatakan bahwa surga terletak di langit dan neraka berada di bumi. Thaba-ThabaAoI dalam Kitab Tafsir al-Mizan Thaba-ThabaAoi, yang memiliki nama lengkap Sayyid Muhammad Husain bin al-Sayyid Muhammad Husain bin al-Mirza AoAli Ashghar Syaikh al-Islam al-Thaba-ThabaAoi al-Tabrizi alQadhi, adalah seorang filsuf Muslim yang lahir di kota Tabriz pada tahun 1892 Masehi. Nama Thaba-ThabaAoi diambil dari salah satu kakenya. Ibrahim Thaba-ThabaAoi bin Ismail al-Dibaj. Beliau merupakan ulama SyiAoah yang berpengaruh pada masanya. Thaba-thabaAoi berpulang ke rahmatullah pada Minggu, 18/1/1402 H atau 15/11/1981 di kota Qum. Ia wafat setelah lama mengalami sakit. Pemakamannya dihadiri ratusan ribu orang, dan dihadiri para ulama dan pembesar serta tokoh-tokoh pejuang keagamaan. Sayyed AoAbdullah Syirazi yang merupakan salah seorang muridnya, menyatakan bahwa hari wafat Tabatabai merupakan hari berkabung dan libur resmi di Masyhad, hal ini merupakan bentuk penghormatan atas kepergian Salah satu karyanya yang terkenal adalah kitab Tafsir al-Mizan, yang memiliki corak filsafati yang kuat. Tafsir al-Mizan karya Muhammad Husain Thaba-thabaAoi adalah tafsir analitis yang menggabungkan berbagai disiplin ilmu, seperti filsafat, sejarah, sosial, dan hadis. Meskipun berlandaskan pada paham syi'ah, tafsir ini juga mengakomodasi pandangan aliran lain termasuk Ahlussunnah. Pendekatan utamanya adalah tafsir al-Qur'an dengan al-Qur'an, dan karya ini sangat menonjol dalam aspek filosofis, sosiologis, dan perbandingan pendapat ulama. Tafsir ini diakui sebagai karya yang komprehensif dan moderat. Contoh penafsiran yang bersifat filosofis terdapat dalam QS. Al-Baqarah ayat 167, yang berbunyi: a a a ca a aAOCA s AE O aO aNI cEE a eI aaEI A AA a a ea a a a e a a AE EOe aI aca a eO Ea eO a acI EaIa aEacU AaIa aca IeI aN eI aE aI acaeO IIac aEEA a a n AeO aI aI EIac aA a AaEaeO aN eI aOaI aN eI a aA Artinya: AuOrang-orang yang mengikuti berkata. AuAndaikan saja kami mendapat kesempatan kembali . e duni. , tentu kami akan berlepas tangan dari mereka Amrillah Achmad. AuTelaah Tafsir al-Mizan Karya ThabathabaiAy. Tafsere Volume 9 Nomor 2 Tahun 2021. Hal: 249-254. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Juli - Desember 2025 Akhmad Dasuki. Muhamad Rulyawan Sihab. Rifky Maulana: Menguak Rahasia Tafsir Falsafi: Sejarah. Metode dan Tokoh-Tokoh Berpengaruh sebagaimana mereka berlepas tangan dari kami. AuDemikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatan mereka sebagai penyesalan. Mereka sungguh tidak akan keluar dari neraka. Ay (QS. Al-Baqarah . : 167. Menurut Thaba-ThabaAoi, siksaan yang diterima di Neraka tidak akan bersifat kekal, karena Allah adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dengan demikian, mustahil bagi Allah, yang memiliki sifat kasih sayang tersebut, untuk menyiksa umat-Nya selamanya. Selain itu, beliau juga menolak konsep balas dendam, menganggapnya sebagai tindakan yang sia-sia. Thaba-ThabaAoi menekankan bahwa Allah tidak pernah bertindak zalim atau menindas hambaNya, serta tidak memiliki sifat dendam. Oleh karena itu, siksaan di Neraka dianggap sebagai sesuatu yang sementara dan bukan hukuman yang abadi. KESIMPULAN Tafsir falsafi adalah salah satu bentuk penafsiran Al-Qur'an yang mengandalkan pendekatan rasional dan filosofi untuk memahami ayat-ayat suci. Corak ini mengalami perkembangan pesat pada masa Kekhalifahan Abbasiyah, sejalan dengan masuknya pemikiran filsafat Yunani ke dalam dunia Islam. Meskipun mendapat beragam kritik, terutama dari kalangan ulama yang melihat filsafat sebagai potensi ancaman terhadap kemurnian ajaran Islam, tafsir falsafi tetap eksis dan terus berkembang. Dalam praktiknya, tafsir falsafi mengadopsi berbagai aliran filsafat, seperti peripatik (Aristotelia. , iluminasi (Isyraqiya. , dan teosofi (Hikmah MutaAoaliya. Pendekatan ini menekankan pemahaman terhadap konsep-konsep metafisika, kosmologi, dan spiritualitas, serta menyoroti ayat-ayat mutasyabihat dengan kerangka berpikir filosofis. Metode yang diterapkan dalam tafsir ini dibagi menjadi dua yaitu, menundukkan teks Al-Qur'an pada pandangan filsafat dan menggunakan filsafat sebagai alat bantu untuk memahami teks Al-Qur'an. Tokoh-tokoh utama dalam pengembangan tafsir falsafi mencakup Ibnu Sina. Ikhwan alShafa, dan Thaba-ThabaAoi, yang menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an dalam karya-karya filosofis mereka, meskipun tidak secara langsung menyusun kitab tafsir yang komprehensif. Akhirnya, tafsir falsafi berfungsi sebagai jembatan antara rasionalitas dan spiritualitas dalam studi Al-Qur'an. Meskipun kontroversial, pendekatan ini memberikan kontribusi yang signifikan dalam memperkaya khazanah tafsir dan pemikiran Islam. Nilna Faiziya. Tafsir Falsafi: Integrasi Rasionalitas dan Spiritual dalam Memahami Ayat-Ayat Al-QurAoan. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan. Vol. No. Januari 2025 Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 4 No. Juli - Desember 2025 Akhmad Dasuki. Muhamad Rulyawan Sihab. Rifky Maulana: Menguak Rahasia Tafsir Falsafi: Sejarah. Metode dan Tokoh-Tokoh Berpengaruh SARAN DAN REKOMENDASI Tafsir falsafi adalah pendekatan dalam penafsiran Al-Qur'an yang menggabungkan filsafat, logika, dan rasionalitas untuk memahami ayat-ayat suci. Meskipun pendekatan ini mendapat kritik, terutama dari kalangan ulama yang menganggapnya bertentangan dengan makna asli wahyu, tafsir falsafi tetap memainkan peran penting dalam pengembangan pemikiran Islam. Sebagai jembatan antara rasionalitas dan spiritualitas, tafsir ini telah banyak memberi kontribusi terhadap pemahaman lebih dalam tentang Al-Qur'an, terutama terkait dengan ayat-ayat yang memerlukan penafsiran yang lebih filosofis. Oleh karena itu, penting untuk terus mengembangkan studi tafsir falsafi dengan tetap menjaga keseimbangan antara rasionalitas dan prinsip-prinsip agama yang lebih mendalam, sambil mempertimbangkan pandangan-pandangan kritis yang ada. Untuk penelitian lebih lanjut, disarankan untuk lebih mengeksplorasi pengaruh pemikiran filsafat yang lebih modern terhadap tafsir falsafi, serta menganalisis keterkaitannya dengan konteks sosial dan politik yang berkembang dalam masyarakat Muslim saat ini. Diperlukan juga kajian lebih lanjut mengenai tokoh-tokoh yang kurang dikenal namun turut memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan tafsir falsafi. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih atas penelitian ini layak diberikan kepada beberapa pihak yang telah memberikan dukungan dan kontribusi penting dalam penyelesaian tulisan ini. Pertama-tama, kami mengucapkan terima kasih kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat, ilmu, dan kemudahan dalam menyelesaikan penelitian ini. Kami juga menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dosen pembimbing kami yakni, bapak H. Akhmad Dasuki. Lc. telah memberikan bimbingan dan arahan yang sangat berharga. Tak lupa, kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan informasi, baik itu melalui literatur maupun diskusi, yang sangat membantu dalam pengembangan karya ini. Semoga hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat dan kontribusi positif bagi perkembangan ilmu tafsir, khususnya dalam pendekatan falsafi, serta menjadi bahan kajian yang berguna bagi semua pihak yang tertarik pada bidang ini. DAFTAR PUSTAKA