Jurnal AGRIFOR Volume 23 No. 2 (Oktober 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 PARTISIPASI MASYARAKAT DI SEKITAR KAWASAN TAMAN HUTAN RAYA K. MANGKUNAGORO I SEBAGAI WUJUD PENGELOLAAN HUTAN KONSERVASI Rizquna Amalia Mufaroh1. Titis Maharani Bayduri Syahputri2. Dechan Cantona Jhunta Mahastra3. Exelino Christ Dio4. Lutfi Hernanda5. Ana Agustina6* 1,2,3,4,5,6 Program Studi Pengelolaan Hutan. Fakultas Pertanian. Universitas Sebelas Maret. Jl. Ir Sutami No. Kentingan. Jebres. Surakarta 57126 E-Mail: ana. agustina2018@staff. id (*Corresponding autho. Submit: 05-03-2024 Revisi: 02-07-2024 Diterima: 25-07-2024 ABSTRAK Partisipasi Masyarakat di Sekitar Kawasan Taman Hutan Raya K. Mangkunagoro I sebagai Wujud Pengelolaan Hutan Konservasi. Taman Hutan Raya (Tahur. Mangkunagoro I merupakan kawasan hutan konservasi yang terletak di Desa Berjo. Karanganyar. Dalam upaya menjaga kelestarian hutan, tentu saja tidak lepas dari peran serta masyarakat sekitar kawasan hutan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat partisipasi masyarakat dalam upaya pengelolaan kawasan hutan konservasi di Tahura K. Mangkunagoro I. Adapun metode pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan wawancara terhadap 35 orang responden. Hasil dari penelitian ini diketahui bahwa dari pola interaksi masyarakat Tahura K. Mangkunagoro I masyarakat masih mendapatkan akses untuk mengelola lahan yang ada dengan jumlah pengaram A sebanyak 300 orang. Dari kondisi sosial ekonomi masyarakat Tahura K. Mangkunagoro I memiliki potensi berupa pengelolaan lahan rumput untuk menunjang kesejahteraan masyarakat melalui kegiatan pemeliharaan sapi, budidaya tanaman hias dan jamur kuping. Dalam segi partisipasi dan pemberdayaan masyarakat yang telah dilakukan antara lain Bimbingan Teknik Ekowisata. Bimbingan Teknis Ecoprint. Bimbingan Teknis Pengamanan Hutan, dan Kebun Bibit Rakyat. Kata kunci : Hutan konservasi. Kelompok tani hutan. Partisipasi masyarakat. Tahura K. Mangkunagoro I. ABSTRACT Community Participation Around The Area of Grand Forest Park K. Mangkunagoro I as a Form of Conservation Forest Management. Grand Forest Park (Tahur. Mangkunagoro I is a conservation forest area in Berjo Village. Karanganyar. Maintaining forest sustainability, of course, cannot be separated from the participation of the community around the forest area. This research was conducted to determine the level of community participation in efforts to manage conservation forest areas in Tahura Mangkunagoro I. The data collection was carried out using a qualitative approach through interviews with 35 respondents. The results of this study note that from the interaction patterns of the Tahura community K. The Mangkunagoro I community still has access to managing existing land with a total of A 300 people. From the socio-economic conditions of the Tahura community K. Mangkunagoro I has the potential to develop grassland management to support community welfare through cattle, cultivation of ornamental plants and wood ear mushrooms. In terms of community participation and empowerment that has been carried out includes Ecotourism Technical Guidance. Ecoprint Technical Guidance. Forest Security Technical Guidance, and Community Nurseries. Keywords : Conservation Forest. Forest Farmers Group. Community Participation. Tahura K. Mangkunagoro I. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Partisipasi Masyarakat A Mufaroh et al. PENDAHULUAN Hutan konservasi merupakan kawasan hutan yang memiliki fungsi pokok pengawetan keanekaragaman Luas kawasan konservasi di Indonesia pada tahun 2022 seluas 122,42 ha yang terdapat dalam 568 unit kawasan konservasi (Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem. Kawasan konservasi dibagi menjadi dua, yaitu kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam. Kawasan pelestarian alam merupakan hutan dengan ciri khas tertentu yang mempunyai fungsi pokok kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. UndangUndang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem menyatakan bahwa kawasan pelestarian alam terdiri dari taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam. Salah satu kawasan pelestarian yang ada di Kabupaten Karanganyar yaitu Taman Hutan Raya (Tahur. Mangkunagoro I, yang dikelola oleh Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Tengah. Tahura Mangkunagoro I merupakan salah satu Tahura yang terletak di Provinsi Jawa Tengah. Bagi masyarakat sekitar Tahura Mangkunagoro I dengan keberadaan Tahura membawa banyak manfaat yang dapat dirasakan secara langsung maupun tidak langsung. Keberadaan Tahura dipastikan dapat kepada masyarakat, seperti sumber air, penyedia cadangan karbon, pencegah banjir, lingkungan yang asri dan sehat, serta fungsi sosial seperti rekreasi atau meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar dan menjaga kesehatan masyarakat (Pratama, 2018. Haryanti & Hermawan. Tahura merupakan kawasan hutan melestarikan flora dan fauna yang dapat dipergunakan untuk kepentingan umum. Selain itu. Tahura juga digunakan sebagai sistem penyangga kehidupan, pengawetan flora dan fauna serta keunikan gejala alam, kawasan konservasi, tempat wisata, kesejahteraan masyarakat sekitar hutan (Winarno et al. , 2019. Utami et al. , 2. Secara tradisional masyarakat mempunyai hubungan erat dengan kawasan hutan. Hal ini sesuai dengan pernyataan dari Haryani & Rijanta . Damanik et al. , . , bahwa masyarakat bergantung pada sumber daya yang ada di hutan berupa hasil hutan kayu maupun hasil hutan bukan kayu yang memberikan nilai tambah bagi kehidupan masyarakat. Hal ini didukung dengan adanya upaya partisipasi dan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh pemerintah, yaitu memberikan kesempatan yang luas kepada masyarakat yang tinggal di sekitar hutan untuk ikut berpartisipasi dalam pengelolaan hutan melalui pemberian hak untuk memanfaatkan sumberdaya hutan termasuk kawasan hutan yang dilindungi dengan batasan yang diperkenankan (Yulianeta et al. , 2018. Haryanti & Hermawan, 2020. Nikoyan et al. , 2. Bentuk partisipasi masyarakat dalam pengelolaan hutan konservasi berupa penetapan blok, pengamanan dan perlindungan kawasan, pemanfaatan dan pengelolaan kawasan zonasi, serta rehabilitasi kawasan (Qodriyatun, 2. Partisipasi masyarakat merupakan kunci sukses dalam mencegah dan menangani kerusakan hutan yang ada. Dengan adanya pengelolaan hutan secara berkelanjutan dapat terlaksana. Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik melakukan penelitian work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 23 No. 2 (Oktober 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. mengenai upaya pelestarian kawasan hutan konservasi di Tahura K. Mangkunagoro I. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini yaitu AuBagaimana partisipasi masyarakat dalam upaya pelestarian kawasan konservasi Tahura Mangkunagoro Kabupaten Karanganyar?Ay. Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui bentuk partisipasi masyarakat sekitar konservasi di Tahura K. Mangkunagoro I Kabupaten Karanganyar. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambahkan informasi terkait bentuk aktivitas dan keterlibatan masyarakat ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 sekitar dalam upaya menjaga kelestarian kawasan hutan konservasi Tahura Mangkunagoro I. METODA PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian dilakukan pada bulan Oktober-November dilaksanakan di Taman Hutan Raya (Tahur. Mangkunagoro Adapun luas kawasan hutan Tahura Mangkunagoro I seluas 231,3 ha yang terletak di lereng Gunung Lawu (Gambar . Kawasan hutan terletak pada ketinggian 1. 640 mdpl. Gambar 1. Peta Kawasan Tahura K. Mangkunagoro I. Bahan dan Alat Alat dan bahan yang digunakan yaitu kamera, perekam suara, alat tulis, panduan wawancara, arsip data terkait dan laptop. Pengambilan Data Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini yaitu pendekatan kualitatif dengan metode wawancara dan studi literatur. Wawancara merupakan kegiatan penting dalam melakukan penelitian terutama pada Tujuan dilakukannya wawancara yaitu untuk dibutuhkan sebagai data untuk mencapai tujuan dari penelitian ini. Wawancara menggunakan metode snowball Snowball merupakan metode pengambilan data pada populasi yang jarang dan mengelompok di suatu wilayah (Lenaini, 2. Dalam hal ini, populasi yang dipakai yaitu pengelola dan masyarakat yang memiliki Tahura Mangkunagoro Pengamatan melakukan wawancara terhadap masyarakat yang memiliki aktivitas harian di kawasan Tahura K. Mangkunagoro I sebanyak 35 orang. Kegiatan dihentikan apabila informasi serupa sudah disampaikan dari informan sebelumnya, atau dalam kata lain Data yang dikumpulkan pada penelitian ini, meliputi data primer dan Data primer merupakan data yang langsung dikumpulkan oleh peneliti dari sumber pertamanya This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Partisipasi Masyarakat A Mufaroh et al. (Suryabrata, 2. Data primer yang diperoleh berasal dari wawancara Tahura Mangkunagoro I dan masyarakat Masyarakat pengaram adalah masyarakat yang diberikan akses untuk memanfaatkan lahan dibawah tegakan berupa hasil hutan bukan kayu (HHBK). Sedangkan, data sekunder merupakan data pendukung atau pelengkap data utama yang digunakan peneliti berupa jurnal, buku, gambar, dokumentasi, grafik. HASIL PENELITIAN PEMBAHASAN DAN Kondisi Sosial-Ekonomi Masyarakat sekitar Tahura K. Mangkunagoro I Tahura Mangkunagoro I merupakan salah satu kawasan pelestarian alam yang berlokasi di lereng Gunung Lawu dan secara administratif terletak di Kabupaten Karanganyar dengan koordinat 111A8Ao13AoAo - 111A8Ao58AoAo LU dan 7A37Ao20AoAo - 7A38Ao33AoAo LS. Secara administratif Desa Berjo termasuk ke dalam pemerintahan Kecamatan Ngargoyoso dan terletak pada ketinggian 800 mdpl di lereng Gunung Lawu dengan luas wilayah 1. 623,87 ha. Jumlah penduduk di Desa Berjo pada Tahun 2020 yaitu 5. 812 jiwa dan sebagian besar berprofesi sebagai petani (BPS Kabupaten Karanganyar, 2. Selain itu banyak keluarga di Desa Berjo memelihara hewan ternak seperti sapi dan kambing untuk tabungan masa depan Untuk memenuhi kebutuhan pakan rumput, masyarakat Desa Berjo memanfaatkan rumput yang berasal dari Tahura K. Mangkunagoro I sebagai pengaram yaitu pengambil rumput di bawah tegakan lahan Perhutan. Tahura K. Mangkunagoro I manuscript, dan berbagai dokumentasi lainnya (Mukhtar, 2. Data yang sudah terkumpul kemudian dianalisis. Analisis data merupakan kegiatan dari peneliti dalam memaknai data penelitian secara menyeluruh (Creswell, 2. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari Miles dan Huberman. Analisis data dari Miles dan Huberman . terdiri dari tiga alur, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan memiliki potensi berupa pengelolaan kegiatan pemeliharaan sapi dan kambing. Rumput yang menjadi pakan ketersediaannya secara kontinu. Seekor sapi mampu mengkonsumsi sebanyak kurang lebih 40 kg rumput setiap harinya, sedangkan seekor kambing dewasa membutuhkan hijauan pakan segar sebanyak 6 kg setiap harinya. Tingginya jumlah pakan yang dibutuhkan ternak setiap harinya secara tidak langsung menciptakan ketergantungan masyarakat Tahura Mangkunagoro I. Pada lahan hutan dimungkinkan untuk ditanami berbagai jenis rumput adalah blok Jenis rumput yang biasa ditanam para pengaram yaitu rumput gajah yang dimanfaatkan untuk makanan sapi, sedangkan kambing diberi makan rumput liar yang ditemukan di sekitar Tahura K. Mangkunagoro I (Haryanti, & Hermawan, 2. Kegiatan pemanfaatan rumput oleh masyarakat di Tahura K. Mangkunagoro I merupakan kegiatan yang dilakukan secara turun-temurun dan diperbolehkan sesuai Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 108 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 23 No. 2 (Oktober 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. Nomor 28 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam Pasal 36 Ayat 1 . yang berbunyi Aupemanfaatan tradisional oleh masyarakat setempatAy. Dalam hal ini, bentuk pemanfaatan yang dilakukan masyarakat secara tradisional adalah berupa budidaya rumput gajah sebagai sumber pakan ternak. Pengaram mendapatkan pakan secara gratis kurang lebih selama 6 sampai 8 bulan, tergantung pada jumlah dan luas petak araman serta lama musim Pengaram dipinjami lahan rumput tanpa merusak struktur tanah kurang lebih seluas 0,25 ha berdasarkan kesepakatan yang dilakukan sejak dulu dan masih berlaku sampai saat ini (Setiyawan, 2. Selama mendapatkan rumput dari kawasan Tahura, para pemilik ternak hanya perlu mengeluarkan biaya untuk menyediakan vitamin tambahan seperti polar, yang dapat menjaga kesehatan hewan ternak. Rumput gajah pemeliharaan karena tumbuh pada lahan hutan yang masih subur. Rumput gajah hanya dibiarkan tumbuh secara alami tanpa adanya pemeliharaan khusus dan tidak membutuhkan pupuk. Selain itu rumput gajah juga berfungsi untuk mengurangi limpasan dan erosi tanah di lahan miring (Satriagasa dan Suryatmojo. Bagi pengaram yang memiliki banyak petak araman kelangkaan rumput hanya dialami sesaat ketika puncak musim kemarau terjadi. Saat musim kemarau tiba dan rumput tidak tumbuh karena kekurangan air, untuk memenuhi kebutuhan ternak, pemilik ternak umumnya membeli rumput kering kepada pedagang rumput kering atau jerami. Menurut Haryanti & Hermawan . rumput gajah memiliki nilai jual seharga Rp 10. 000,00 per ikat. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan diperoleh ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 informasi bahwa harga satu ikat rumput jika dijual bernilai Rp 25. 000,00 sampai Rp 30. 000,00. Beberapa pemilik ternak yang lokasi rumahnya agak jauh sering kali membayar dengan harga lebih tinggi Pada umumnya pemilik ternak membutuhkan sebanyak satu ikat setiap harinya, sehingga besarnya pengeluaran pemilik ternak dalam 1 bulan sejumlah minimal Rp 750. 000,00/bulan untuk setiap ekor ternak yang dimiliki. Dengan demikian, pengelolaan lahan di bawah tegakan oleh masyarakat di Tahura Mangkunagoro I menunjukkan kontribusi yang cukup besar terhadap keuntungan ekonomis masyarakat. Partisipasi Masyarakat dalam Pengelolaan Tahura Mangkunagoro I Bagi masyarakat lokal keberadaan Tahura K. Mangkunagoro I membawa banyak manfaat yang dapat dirasakan secara langsung maupun tidak Beberapa manfaat dari Tahura Mangkunagoro I untuk masyarakat seperti penyedia rumput, sumber air, penyediaan cadangan karbon, pencegah banjir, lingkungan yang asri dan sehat, serta fungsi sosial seperti rekreasi atau kegiatan pariwisata yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar dan menjaga kesehatan masyarakat (Haryanti & Hermawan, 2. Menyadari manfaat ekologi dan sosial-ekonomi yang diberikan oleh hutan begitu banyak, masyarakat yang tinggal di sekitar Tahura Mangkunagoro I mulai menyatakan komitmen untuk bersamasama menjaga kawasan hutan agar tetap Saat ini, pemerintah memberikan kesempatan yang luas kepada masyarakat yang tinggal di sekitar hutan untuk berpartisipasi pada pengelolaan hutan This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Partisipasi Masyarakat A Mufaroh et al. termasuk pada kawasan hutan yang Pemerintah mempertimbangkan besarnya harapan bahwa keberadaan hutan akan lebih aman berpartisipasi dalam kegiatan pengelolaan hutan, tentunya dengan beberapa batasan yang telah ditetapkan sebelumnya berdasarkan peraturan yang berlaku (Yulianeta et al. , 2. Partisipasi menurut Mujaffar . merupakan keikutsertaan dari suatu individu maupun kelompok untuk mencapai tujuan dan didalamnya terdapat pembagian wewenang serta tanggung Sedangkan dimaksud dengan partisipasi masyarakat yaitu memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menyalurkan suaranya dalam proses pengambilan keputusan (Endah, 2. Bentuk partisipasi masyarakat yang sudah dilakukan oleh masyarakat sekitar Tahura K. Mangkunagoro I untuk mewujudkan pengelolaan hutan secara lestari yaitu sebagai berikut: Memberikan Tahura Mangkunagoro pengrusakan hutan Masyarakat Tahura Mangkunagoro I diizinkan untuk memanfaatkan rumput yang ada di bawah tegakan tegakan pohon, dengan syarat tidak merusak tegakan yang ada di dalam petak aramannya. Keberadaan pengaram di Tahura Mangkunagoro I bisa menjadi mitra polisi kehutanan, dengan cara melaporkan kepada petugas jika menemukan hal-hal yang terindikasi merusak kelestarian hutan seperti pencurian kulit kina dan kulit kayu manis, serta perburuan satwa. Ikut pengamanan hutan Pelaksanaan patroli pengamanan Tahura Mangkunagoro I dilakukan dengan mengajak masyarakat setiap bulannya. Kegiatan patroli yang melibatkan masyarakat sekitar Tahura K. Mangkunagoro I dilakukan sebanyak 6 kali setiap bulannya. Sedangkan patroli dengan Masyarakat Mitra Polhut dari desa Berjo dilakukan sebanyak 7 kali setiap bulannya. Pemberdayaan Masyarakat di Tahura Mangkunagoro I Masyarakat di sekitar Tahura Mangkunagoro I sangat mengandalkan air yang berasal dari hutan untuk memenuhi kebutuhan rumah Menyadari hidupnya pada keberadaan hutan Tahura Mangkunagoro I untuk pemenuhan kebutuhan air hariannya. Tahura Mangkunagoro I mengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam melakukan pelestarian hutan. Hal ini dilakukan karena tanpa partisipasi dan dukungan dari masyarakat kelestarian hutan akan sulit Pemerintah pun mendukung masyarakat di sekitar hutan untuk berpartisipasi dalam pengelolaan hutan dengan cara memberi hak kepada masyarakat untuk memanfaatkan sumber daya hutan secara lestari. Pemerintah dukungan tersebut dengan tujuan untuk memanfaatkan sumber daya hutan secara optimal dan merata untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar Tahura K. Mangkunagoro I (Arafat, 2. Salah satu program pemberdayaan masyarakat yang sedang Tahura Mangkunagoro membentuk kelompok/organisasi tingkat work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 23 No. 2 (Oktober 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. desa dimana dalam kelompok/organisasi ini masyarakat akan dibina agar dapat mempunyai keahlian yang berhubungan dengan pemanfaatan potensi hutan. Terdapat beberapa kelompok masyarakat yang ada di sekitar Tahura K. Mangkunagoro I yaitu Kelompok Tani Hutan Tambak Indah. Kelompok Tani Hutan Sido Mulyo, dan Kelompok Tani Hutan Green Lawu. Tujuan pembentukan kelompok tersebut sebagai tempat belajar masyarakat dan mengembangkan usaha produktif, pengolahan dan pemasaran hasil hutan. Masyarakat Tahura Mangkunagoro I dapat mengembangkan potensi hasil hutan bukan kayu untuk perekonomian seperti budidaya tanaman hias, jamur kuping, hutan rakyat, dan wisata alam. Potensi-potensi ini dapat pemberdayaan masyarakat. Tanaman hias merupakan tanaman dengan fungsi utama sebagai pemberi keindahan, baik yang ditanam di halaman . maupun yang berada di ruangan . Sebagian besar masyarakat mulai menekuni usaha tanaman hias karena selain memiliki ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 ketertarikan dalam budidaya tanaman hias, pemilihan lokasi di sekitar Tahura Mangkunagoro I juga keberhasilan usaha CRESStanaman hias. Adapun jenis tanaman hias yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat sekitar Tahura K. Mangkunagoro I seperti aneka jenis anggrek, bunga panca warna, krisan, bromelia, dan kuping gajah (Anthurium sp. Asal bibit tanaman hias biasanya diperoleh masyarakat dari kolega yang sudah terlebih dahulu memulai usaha tanaman hias maupun dari sesama anggota kelompok tanaman hias. Budidaya tanaman hias yang dilakukan masyarakat Tahura Mangkunagoro I menggunakan green house (Gambar . yang berfungsi untuk mengoptimalkan hasil budidaya karena dapat mengontrol kondisi lingkungan sekitar, seperti intensitas cahaya, suhu, dan kelembaban. Kondisi ini dibutuhkan bagi beberapa jenis tertentu guna mengoptimalkan pertumbuhannya, seperti krisan yang tidak tahan terhadap terpaan air hujan sehingga membutuhkan pengkondisian tertentu . reen hous. Gambar 2. Budidaya tanaman hias di dalam green house. Salah satu bentuk aktivitas budidaya yang dilakukan oleh masyarakat Tahura Mangkunagoro I adalah budidaya jamur kuping (Auricularia aricula-juda. Jamur kuping merupakan spesies jenis jamur kayu heterobasidiomycetes yang tumbuh secara alami pada kayu, yang juga dikenal sebagai jamur kayu . amur pelapuk kay. dan juga disebut kuping kayu. (Onyago et , 2. Jamur kuping berwarna coklat muda hingga kemerahan dan berbentuk seperti daun telinga. Tubuh buahnya berlekuk-lekuk dengan lebar antara 3 sampai 8 cm. Permukaan atasnya memiliki urat halus yang membuatnya agak berkilau. Di bagian bawahnya terdapat bulu halus yang menyerupai Jamur kuping tumbuh dengan baik di kayu lapuk pada dataran rendah This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Partisipasi Masyarakat A Mufaroh et al. dari suhu hangat hingga suhu sejuk di (Parjimo dan Andoko. Kondisi budidaya jamur kuping oleh masyarakat di sekitar Tahura Mangkunagoro I dapat dilihat pada Gambar 3. Prospek yang menjanjikan untuk pengembangan dalam skala besar dan kecil, karena tingginya permintaan dan nilai jual jamur kuping. Jamur kuping juga memiliki banyak keuntungan dalam hal ketersediaan bibit, media tanam, lokasi, dan luas lahan. (Hadiyanti et al. Selain dikonsumsi pribadi, jamur kuping dapat diekspor baik dalam bentuk segar maupun kering. Namun, masih terdapat permasalahan dalam budidaya jamur kuping yaitu produktivitasnya yang masih Produksi jamur kuping berkisar antara 200 sampai 300 gram jamur kuping segar per 1 kg media tanam, padahal seharusnya per 1 kg media tanam dapat menghasilkan hingga 400 hingga 500 gram jamur kuping (Hadiyanti et al. Faktor-faktor yang memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan jamur seperti substrat media tanam, komposisi media tanam, ketersediaan bibit dan faktor lingkungan, serta nutrisi yang tersedia di media tanam (Hariadi et al. , 2. Untuk menanam jamur kuping, biasanya menggunakan serbuk gergaji sebagai media tanam, dikarenakan memiliki banyak hemiselulosa, selulosa, dan lignin, serta mudah didapat dan harganya murah. Serbuk gergaji tersebut diberi media tambahan yang dapat digunakan untuk melengkapi kandungan bahan jamur adalah bekatul, sabut kelapa, kapur, tepung jagung, tepung tapioka, sisa kapas, gips, dan pupuk TSP (Triple Super Phosphat. (Parjimo dan Andoko, 2. Media tanam . jamur kuping dibuat dari serbuk kayu. Baglog ini mengandung lignin, serat organik . elulosa karbohidrat yang diperlukan jamur untuk Beberapa media seperti serbuk gergaji, sabut kelapa, dan sekam dikombinasikan sebagai media tanam dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi jamur kuping (Elmiwati & Sitepu, 2. Bekatul atau dedak padi ditambahkan ke media tanam untuk karbohidrat, karbon, dan nitrogen. Hal tersebut untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan miselium jamur serta mendorong pertumbuhan tubuh buah (Fatmawati. Bagi masyarakat yang mengelola usaha memperhatikan faktor-faktor yang sudah dijelaskan di atas. Gambar 3. Budidaya jamur kuping di sekitar Tahura K. Mangkunagoro I. Pada tahun 2019 pihak pengelola Tahura K. Mangkunagoro I telah melakukan upaya untuk melibatkan masyarakat di sekitar kawasan hutan dengan melakukan pembinaan kepada 300 pengaram di dalam kawasan Tahura Mangkunagoro I, pelatihan keterampilan bagi masyarakat seperti budidaya tanaman obat, pengolahan hasil hutan dan pembuatan pupuk organik, pementasan seni tradisional, pembentukan Masyarakat Mitra Polhut (MMP) dan Masyarakat Peduli Api (MPA), serta memberikan pendidikan lingkungan bagi anak di tingkat sekolah dasar sampai sekolah menengah (Balai Tahura Mangkunagoro I, 2. work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 23 No. 2 (Oktober 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. Masyarakat Mitra Polhut (MMP) bertugas untuk membantu Polisi Hutan di Tahura K. Mangkunagoro I mengamankan hutan di dalam kawasan. Sedangkan Masyarakat Peduli Api (MPA) bertugas saat apabila terjadi kebakaran mengecek kondisi kebakaran terlebih dahulu dan memberikan laporan tentang kebakaran kepada pengelola seperti tingkat kebakaran dan bentuk api yang membakar agar dapat ditentukan langkah yang paling tepat untuk memadamkan api tersebut, hal ini karena masyarakat yang lebih mengerti tentang kondisi lokasi di Gunung Lawu khususnya di dalam Tahura Mangkunagoro I (Rhoziq, 2. Beberapa bentuk pemberdayaan masyarakat yang telah dilakukan di Tahura K. Mangkunagoro I yaitu sebagai berikut. Bimbingan Teknik Ekowisata Balai Tahura Mangkunagoro bimbingan teknis kepada Kelompok Tani Hutan dan masyarakat sekitar Tahura tentang Ekowisata. Melalui kegiatan ini pengelola Tahura menjelaskan tentang ekowisata dan potensi apa saja yang ada di Tahura Mangkunagoro I untuk dikembangkan menjadi Ekowisata. Bimbingan Teknis Ecoprint Pematerian Tahura Mangkunagoro I bekerjasama dengan Program Studi Pendidikan Biologi FKIP UNS. Disini masyarakat yang hadir khususnya ibu rumah tangga memperoleh materi dan cara membuat ecoprint dari daun suren (Toona Bimbingan Teknis Pengamanan Hutan Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan masyarakat sekitar dan khususnya Kelompok Tani Hutan mampu membantu menjaga kelestarian ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 hutan, baik dari kerusakan seperti tanah longsor, penebangan kayu, pencurian kulit kayu, kebakaran hutan, dll. Kebun Bibit Rakyat Bekerja sama dengan Pertamina. Tahura K. Mangkunagoro I mengadakan kebun bibit untuk masyarakat sekitar, yang berlokasi di Dusun Tambak. Desa Berjo. Kecamatan Ngargoyoso. Di kebun bibit ini masyarakat berkewajiban untuk merawatnya namun masyarakat juga memiliki hak untuk mengambil bibit yang ada di dalamnya. Pemberdayaan masyarakat sekitar Tahura K. Mangkunagoro I bertujuan untuk memperkuat posisi Kelompok masyarakat yang dianggap lemah diharapkan memiliki kekuasaan yang adil serta kebutuhan hidupnya. Selain itu, adanya pemberdayaan masyarakat juga dapat membuat masyarakat lebih mandiri dalam hal bertindak, berpikir, dan menentukan keputusan dalam suatu permasalahan (Fadhillah, 2. Setiap kegiatan pemberdayaan masyarakat Tahura K. Mangkunagoro I hubungan masyarakat dengan Tahura Mangkunagoro I sehingga tercipta harmoni dan kesadaran penuh dalam menjaga kelestarian alam di Tahura Mangkunagoro I. Hutan yang lestari tercipta dari kepedulian masyarakat yang tinggal disekitarnya. Adanya masyarakat pengaram merupakan wujud kepedulian dari pihak pengelola masyarakat, dan aktivitas masyarakat di dalam kawasan hutan menunjukkan adanya ketergantungan terhadap hasil hutan sehingga ekosistem hutan tetap perlu dijaga kelestariannya. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Partisipasi Masyarakat A Mufaroh et al. KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA