146 Muhammad Ahalla Tsauro Media dan Terorisme di Uni Eropa: dari Teror Paris Hingga Bom Manchester Muhammad Ahalla Tsauro Alumnus Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga. tsauro@gmail. ABSTRACT This paper aims to describe the relations between media and terrorism that are mutually influenced and mutually beneficial. The case studies taken are a series of terror in Paris . and the Manchester . bombing as these two cases became global issues involving global news networks. By implementing CNN Effect theory and media analysis, the author found that the global news corporates benefited from the terrorist actions, and vice versa, the media is an important tool for terror groups to expand their influence and threats on the global community. The advancement of information technology makes the media, consciously or unconsciously, becomes the Aobest friendAo for the terrorist group because of its role in spreading the terroristAo Keywords: Manchester bombing, media. Paris attack, terrorism ABSTRAK Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan hubungan media dan terorisme yang samasama saling mempengaruhi dan saling memanfaatkan. Studi kasus yang diambil adalah rangkaian teror di Paris . dan pengeboman di Manchester . karena kedua kasus ini menjadi isu global yang melibatkan jaringan pemberitaan Dengan menggunakan teori Efek CNN dan analisis media, penulis melihat Jurnal ICMES Volume 1. No. Desember 2017 Media dan Terorisme di Uni Eropa: dari Teror Paris Hingga Bom Manchester bahwa terorisme dimanfaatkan untuk tujuan kepentingan korporasi media global dan sebaliknya, media merupakan salah satu sarana penting bagi kelompok teror untuk memperluas pengaruh dan ancamannya terhadap masyarakat global. Kemajuan teknologi informasi membuat media, sadar atau tidak, justru menjadi Aoteman terbaikAo bagi kelompok teroris karena medialah yang menjadi penyampai pesan utama mereka. Kata Kunci: bom Manchester, media, serangan Paris, terorisme Pendahuluan Serangan teror yang terjadi di Uni Eropa dalam kurun waktu tiga tahun terakhir tercatat mengalami peningkatan masif. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh European Counter Terrorism Center, jumlah serangan teror atau yang sejenisnya pada tahun 2014 tercatat sebanyak 441 kasus. Jumlah ini terus meningkat di tahun selanjutnya yakni 514 kasus dan pada tahun 2017 terjadi 580 kasus. antara kasus tersebut, serangan di Paris tahun 2015 menjadi salah satu kasus yang menarik perhatian dunia internasional lantaran jumlah korban yang sangat banyak dan tercatat sebagai peristiwa paling mengerikan di Eropa setelah Bom Kereta di Madrid tahun 2004. Setelah bom di Paris 2015, terdapat rangkaian kasus lainya di tahun 2016, seperti Bom Brussel, serangan di Nice, dan Bom Natal di Berlin. lalu di tahun 2017 terjadi Bom Manchester dan teror Barcelona. Negara-negara di Eropa dihadapkan oleh ancaman teror dari kelompok yang terafiliasi dengan ISIS secara langsung ataupun mereka yang terinspirasi oleh ideologi kelompok tersebut. Serangan teror di Paris tahun 2015 terjadi pada hari Jumat tanggal 13 November di 7 titik itu, yaitu di luar stadion sepak bola di Saint-Denis, pinggiran kota Paris, beberapa penembakan acak dan sebuah bom bunuh diri di beberapa kafe dan restoran, lalu penembakan dan penyanderaan sejumlah orang di teater Bataclan yang sedang menggelar konser musik. Total korban adalah 130 orang tewas dan 413 orang terluka, sementara 7 di antara pelaku teror tewas. Sementara itu, serangan bom Manchester. Inggris, terjadi pada 22 Mei 2017 Seorang pengebom bunuh diri meledakkan bom di pintu luar Manchester Arena, tempat berlangsungnya konser penyanyi Ariana Grande. Para korban kebanyakan adalah anak-anak remaja yang baru keluar dari arena konser dan para orang tua yang sedang menunggu anak-anaknya. Ledakan bom menewaskan 22 orang dan melukai 250 orang lainnya. Ini adalah serangan teror terbesar di Inggris pasca pengeboman London tahun 2005. Jurnal ICMES Volume 1. No. Desember 2017 Muhammad Ahalla Tsauro Berbagai aksi teror tersebut mendapatkan liputan yang cukup masif dari media massa dan media sosial. Karena media mainstream dimiliki negara-negara Barat, pemberitaan atas serangan teror di AS dan Eropa menjadi jauh lebih masif. Dalam publikasi UNESCO berjudul Terrorism and Media: A Handbook for Journalist disebutkan bahwa adanya persepsi yang muncul bahwa negara-negara Barat merupakan kawasan yang paling banyak menjadi korban terorisme. Hal ini terjadi karena media Eropa dan Amerika Utara meliput secara kejadian-kejadian teror itu dengan sangat berlebihan . Faktanya, 84% serangan teror di seluruh dunia terjadi di Timur Tengah. Afrika Utara. Sub-Sahara Afrika, dan Asia Selatan (UNESCO, 2. Menurut penelitian Michael Jetter, yang dikutip The Guardian, dalam rentang waktu 1970-2012 New York Times melaporkan lebih dari 60. 000 berita mengenai serangan Menurutnya, organisasi teroris mendapatkan perhatian luas dari media, terutama bila terjadi di AS dan melibatkan aksi bunuh diri (The Guardian, 2. Di saat yang sama, kelompok-kelompok teroris juga memanfaatkan media untuk menyebarluaskan pesan mereka, penciptaan ketakutan, dan rekrutmen anggota. Pasca Teror Paris November 2015. ISIS merilis rekaman yang berisi pernyataan bahwa merekalah yang melakukan serangan tersebut. Pasca bom Manchester 2017, pada 23 Mei 2017 muncul pernyataan khusus teror dari simpatisan ISIS lewat chanel Telegram Nashir, mengklaim bahwa serangan tersebut dilakukan oleh Aoseorang tentara KhilafahAo. Pelaku pengeboman Manchester adalah Salman Ramadan Abedi, pemuda keturunan Libya kelahiran Manchester tahun 1994. Meski aksi-aksi terorisme sudah lama muncul, semakin meluasnya akses terhadap media online membuat isu ini memasuki sebuah babak yang baru. Akses terhadap informasi dengan mudah dibagikan hanya dalam satu klik sehingga berita menyebar dengan amat cepat. Tidak sedikit pula tersebar berita bohong . sehingga menebar ketakutan dan perasaan tidak aman . di tengah Dalam artikel ini, penulis akan membahas kaitan antara media dan terorisme dengan menggunakan kasus teror di Paris . dan Manchester . sebagai objek kajian. Teori Efek CNN Pada awal 1980-an pebisnis media AS. Ted Turner, melakukan inovasi teknologi komunikasi dengan membangun kanal berita CNN yang menjadi jaringan berita global pertama di dunia (Whittemore, 1990:. CNN menayangkan berita internasional setiap jam di seluruh dunia melalui kombinasi satelit dan televisi kabel. Puncaknya. Jurnal ICMES Volume 1. No. Desember 2017 Media dan Terorisme di Uni Eropa: dari Teror Paris Hingga Bom Manchester CNN muncul sebagai aktor internasional dalam berbagai konflik global karena berita yang disiarkannya sangat berpengaruh bagi opini publik di level global. Pada Perang Teluk 1990-1991. CNN menjadi acuan bagi lembaga penyiaran lainnya, seperti BBC. NBC, dan Star . ang kemudian juga membangun jaringan televisi globa. Penciptaan CNN International dipandang sangat mempengaruhi berbagai aspek komunikasi global dan Hubungan Internasional, mulai dari teknologi, ekonomi, budaya, hukum, opini publik, politik, dan diplomasi, serta peperangan, terorisme, hak asasi manusia, degradasi lingkungan, pengungsi, hingga kesehatan. Banyak aspek yang diberitakan CNN yang kemudian diterima luas oleh masyarakat global sehingga terbangun opini publik yang sama berdasarkan satu berita. Fenomena ini dikenal sebagai CNN Effect (Whittemore, 1990:. Mantan Sekretaris Jenderal PBB. Boutros Boutros-Ghali, pernah menyatakan bahwa AuCNN adalah anggota keenam belas dari Dewan Keamanan PBBAy (Minear, et al. Liputan televisi memang tidak langsung mengubah kebijakan suatu negara tetapi menciptakan lingkungan dimana kebijakan tersebut dibuat (McNulty, 1993:. Anthony Lake, penasihat keamanan nasional pertama Presiden Bill Clinton, mengatakan bahwa karena tekanan publik muncul akibat penciptaan citra di televisi, media memainkan peran dalam pengambilan keputusan pemerintahan dalam krisis kemanusiaan (Hoge, 1994:. Sebagai efek dari tekanan publik itu, pembuat kebijakan seringkali membuat keputusan tanpa waktu yang cukup untuk berhatihati dalam mempertimbangkan berbagai pilihan (Gilboa, 2. Freedman membedakan tiga efek liputan yang ditimbulkan oleh media dalam kasus intervensi kemanusiaan (Humanitarian Interventio. Pertama AuCNN EffectAy yang memunculkan gambar penderitaan sehingga publik mendorong pemerintah untuk segera turun tangan menghentikan penderitaan tersebut. Kedua. AuBodybag EffectAy dimana keberadaan korban menarik media untuk meliput. Ketiga. AuBullying EffectAy dimana penggunaan media dalam pemberitaan menarik publik untuk turut ikut campur dalam kasus tersebut (Freedman, 2. Pemberitaan Mengenai Teror Paris Menurut rangkuman berita AFP dan Reuters. Teror Paris merupakan serangan teroris bersenjata dan pengeboman yang menewaskan tidak kurang dari 128 korban meninggal dan ratusan lainya menderita luka-luka di tempat penting, seperti restoran Le Petit Cambodge dan Le Carillon di Rue Aliert. Stadion sepak bola Stade de France, bar La Belle Equipe di Rue La Charonne. Les Halles di Rue de la Fontaine. Jurnal ICMES Volume 1. No. Desember 2017 Muhammad Ahalla Tsauro dan pertunjukan konser musik di Bataclan (Reuters, 2. Kejadian ini mendapat simpati yang begitu luar biasa dari masyarakat internasional. Dan kejadian di Paris ini merupakan salah satu aksi teror yang dilakukan oleh ISIS yang paling banyak mendapatkan perhatian di sepanjang tahun 2015. Pemberitaan mengenai serangan teror ini tidak hanya dilakukan oleh media mainstream yang disiarkan ke seluruh dunia (CNN. BBC, dan sejenisny. , melainkan juga diberitakan oleh media-media lokal di negara-negara yang jauh dari lokasi Di Indonesia, harian berita Kompas menerbitkan berita utama . dengan judul Mimpi Buruk Perancis Menjadi Kenyataan. Dunia Bersatu Mengecam Serangan Teror di Paris. Dalam pemberitaannya. Kompas menghadirkan analisis dari sumber pemberitaan mainstream, seperti CNN. New York Times. AFP, dan lainlain sehingga pemberitaannya sangat detil. Antara lain ditulis Kompas bahwa pada 20, dua teroris menembak selama tiga puluh menit menggunakan senapan jenis Kalashnikov (AK) di Restoran Le Petit Cambodge dan Le Carillon di Rue Aliert. Setelah kejadian ini, polisi Paris mulai memperketat penjagaan lantaran orangorang berhamburan dan belasan orang ditemukan tewas. Pada 21. 20 tiga ledakan bom bunuh diri terjadi di luar stadion sepak bola Stade de France saat berlangsung pertandingan persahabatan antara tim Perancis dan Jerman. Presiden Francois Hollande yang turut menonton pun segera dievakuasi oleh petugas keamanan. Pada 30 terjadi penembakan di Rue de la Charonne, di luar bar La Belle Equipe. Dilaporkan pula terjadi tembakan di Rue de la Fontaine dan Les Halles. Pukul 22. empat teroris menyerbu masuk gedung pertunjukan Bataclan saat berlangsung pertunjukan konser musik. Pelaku teror menembaki dan meledakkan bom, serta menyandera sekitar seratus penonton. Presiden Francois Hollande merespon kejadian ini dengan memberlakukan tiga hari berkabung nasional. Ia menyebut bahwa kejadian ini merupakan kejadian horor, karena ia merasakan secara langsung karena berada di lokasi terjadinya aksi teror. Hollande juga menyebut bahwa kejadian ini merupakan serangan yang dipersiapkan dengan baik, terorganisir, dan direncanakan oleh pihak dari luar dan dalam Perancis. Sebelum kejadian ini, tepatnya pada bulan Januari 2015, kota Paris menjadi saksi bagi dua aksi teror, yaitu serangan ke kantor redaksi Charlie Hebdo yang menewaskan dua belas orang dan juga penyanderaan tiga puluh orang oleh tiga orang pelaku yang menewaskan 4 pengunjung swalayan khusus makanan Yahudi. Dalam laman berita berjudul AuParis attack at a glance: ThursdayAos developmentsAy di website CNN . November 2017, sepekan setelah kejadia. , diawali dengan video seorang perempuan berjilbab yang bersiap melakukan ledakan bunuh diri (CNN. Jurnal ICMES Volume 1. No. Desember 2017 Media dan Terorisme di Uni Eropa: dari Teror Paris Hingga Bom Manchester Lalu, ada beberapa story highlights, antara lain bahwa FBI sedang memonitor kemungkinan serangan yang meniru Teror Paris, tentang seorang perempuan pengebom bunuh diri bernama Hasna Boulahcen, dan bahwa terduga otak Teror Paris sebelumnya pernah terlibat dalam 4 serangan yang gagal. Kemudian CNN memberitakan bahwa terduga otak Teror Paris (Abdelhamid Abaaou. tewas dalam serangan polisi, sementara polisi Belgia tengah mengadakan operasi antiteroris di seputar Brussel. Lalu CNN mengutip sumber anonim yang menekankan asal Abaaoud, yaitu Maroko. AuRemember heAos Maroccan, his parents are Maroccan. Ay Lalu disambung dengan berita operasi pencarian terduga teroris lainnya. Salah Abdesalam hingga ke Belanda, serta bagaimana FBI memonitor belasan orang yang dicurigai akan melakukan peniruan aksi teror tersebut di AS. Dan selanjutnya, berita mengenai operasi pencarian para pelaku Teror Paris di berbagai wilayah. Semua pencarian itu dikaitkan dengan terorisme di Suriah (ISIS). Di bagian lain. CNN mengutip saksi mata yang menceritakan betapa mengerikannya kejadian teror di teater Bataclan, yang diumpamakannya sebagai Aoneraka duniaAo, ada Aoberton-ton darah di mana-manaAo, dan Aosemua orang menjeritAo. Parlemen Perancis juga menyetujui rencana presiden untuk mempepanjang masa darurat . tate of emergenc. hingga Februari 2016. Di laman yang sama ada link ke berita berjudul AuJewish Museum Attack. BrusselsAy. Disebutkan pula bahwa pelaku teror di Brussels adalah Mehdi Nemmouche. Secara keseluruhan, dengan membaca berita CNN tersebut, dapat ditangkap kesan darurat, gawat, dan mengerikan di Eropa, khususnya di Paris. Pemberitaan yang dilakukan CNN sejak beberapa menit pertama pasca aksi teror . reaking new. dilanjutkan dengan update selama berhari-hari . an dalam sehari terus diulang-ulan. , sehingga sifat pemberitaannya bukan investigatif . enunggu semua bukti terkumpu. tetapi mengutamakan aspek kecepatan. Dari contoh kasus ini terlihat telah terjadi CNN effect, dimana menyusul pemberitaan masif terhadap kejadian ini, pemerintah Perancis dengan cepat turun tangan mengatasi masalah dengan cara menetapkan status darurat . an didukung oleh parleme. Pemberitaan yang terus diulang mengenai para korban juga menimbulkan bodybag effect yaitu kesedihan yang mendalam yang dirasakan oleh pemirsa dan kondisi ini juga mendorong media untuk terus memberikan update mengenai kondisi korban. Hal ini adalah AolahanAo yang menarik bagi media, karena itu akan meningkatkan minat pembaca dan secara langsung akan meningkatkan rating dari media tersebut. Terakhir, muncul sikap Aoturut campurAo di tengah masyarakat . ullying effec. , misalnya mereka datang membawa bunga dukacita dan menyalakan Jurnal ICMES Volume 1. No. Desember 2017 Muhammad Ahalla Tsauro lilin di lokasi teror (ABC7, 2. atau sebaiknya, menunjukkan sikap kebencian kepada kaum Muslim (The New York Times, 2. Pemberitaan Mengenai Bom Manchester Serangan Bom Manchester terjadi pada 22 Mei 2017 di sekitar Manchester Arena ketika berlangsung konser penyanyi AS. Ariana Grande (BBC, 2. Ledakan terjadi pukul 22:33 waktu setempat dan menewaskan 23 orang termasuk pelaku serta melukai lebih dari 250 orang. Polisi Manchester menyatakan bahwa insiden tersebut merupakan serangan teror paling berbahaya yang pernah terjadi di Inggris sejak bom London tahun 2005 silam (Financial Review, 2. Tiga jam setelah pengeboman, polisi bersama warga setempat mengevakuasi seluruh korban khususnya wanita dan anak-anak. Hotel terdekat memberikan bantuan pertama untuk evakuasi sementara, taksi memberikan tumpangan gratis untuk para korban, semua tempat yang berada disekitar tempat kejadian langsung diamankan oleh aparat setempat. Sehari setelah aksi teror itu. ISIS melalui kanal telegram Nashir mengklaim bahwa serangan di Manchester dilakukan oleh salah satu Aoprajurit khilafahAo yang ditujukan kepada kaum musyrikin demi untuk membalaskan dendam anak-anak Suriah yang terbunuh dalam serangan udara AS (Time, 2. Pelaku adalah Salman Ramadan Abedi, pemuda keturunan Libya berusia 23 tahun yang menggunakan bom buatan Salah satu berita yang dirilisi website resmi CNN berjudul AuSkin and blood everywhereAo: Witness describes chaos in ManchesterAy dimulai dengan menceritakan kegembiraan para penonton konser Ariana Grande yang saat sang penyanyi menyanyikan lagu terakhirnya, yang kemudian disusul dengan dinyalakan lampu dan para penonton bersiap keluar stadion. Lalu, para penonton yang kebanyakan adalah anak-anak dengan menggunakan penutup telinga berbentuk kelinci tibatiba mendengar bunyi ledakan yang sangat keras dan suasana chaos segera terjadi. AuKulit manusian, darah, dan kotoran ada dimana-mana, termasuk di rambut dan tas saya. ,Ay tutur saksi mata yang dikutip CNN. Para saksi mata lainnya juga berisi kisah-kisah tragis yang mereka alami atau lihat dalam kejadian itu. Tulisan ini sangat menyentuh pembaca, memunculkan perasaan sedih dan marah. Apalagi ditutup dengan kisah kekhawatiran seorang ibu yang anak gadis itu belum ditemukan setelah hadir dalam konser tersebut. Anak itu berusia 15 tahun bernama Olivia. AuSaya ingin dia pulang dan saya ingin dia selamat. Saya hanya ingin dia berjalan masuk melalui pintu ini,Ay tutur sang ibu (CNN, 2. Jurnal ICMES Volume 1. No. Desember 2017 Media dan Terorisme di Uni Eropa: dari Teror Paris Hingga Bom Manchester Kesedihan yang merebak di tengah masyarakat Inggris menyusul aksi teror yang diberitakan luas oleh media massa kemudian memunculkan sejumlah efek. Pertama. CNN effect, dimana pemerintah Inggris melakukan berbagai upaya untuk menyelidiki kasus ini dan melakukan pencegahan. Perdana Menteri Theresa May sehari setelah kejadian memberikan pidato yang antara lain menyebut kejadian ini sebagai Aosalah satu aksi terorisme terburuk yang pernah dialami InggrisAo dan Aoserangan teror terburuk yang pernah dialami kota Manchester dan Inggris utaraAo. juga menjamin Au. kita dapat melanjutkan upaya untuk menggagalkan serangan ini di masa mendatang, untuk mengatasi dan mengalahkan ideologi yang sering memicu kekerasan ini, dan jika ada orang lain yang bertanggung jawab atas serangan ini, untuk mencari mereka dan membawa mereka ke pengadilan (Time, 2. Ay Sama seperti pemberitaan mengenai Teror Paris, pemberitaan yang terus diulang mengenai para korban bom Manchester juga menimbulkan bodybag effect yaitu kesedihan yang mendalam yang dirasakan oleh pemirsa dan kondisi ini juga mendorong media untuk terus memberikan update mengenai kondisi korban. Terakhir, muncul sikap Aoturut campurAo di tengah masyarakat . ullying effec. dimana warga berupaya ikut terlibat dalam kejadian ini, mulai dari penunjukkan rasa simpati, hingga aksi-aksi kebencian terhadap kaum Muslim. Sehari setelah kejadian, sejumlah pihak melakukan penggalangan dana untuk para korban. Ariana Grande pun membuat konser amal untuk para korban bertajuk One Love Manchester dengan menggratiskan tiket bagi mereka yang hadir pada konser 22 Mei. Dalam konser amal itu terkumpul donasi sebesar 13 juta USD (Time, 2. Di sisi lain, pejabat di Manchester Islamic Centre in Didsbury, dimana Salman Abedi . elaku serangan bo. biasa melakukan sholat, melaporkan bahwa banyak terjadi sikap anti-Muslim di kawasan itu, termasuk serangan terhadap masjid (The Guardian, 2. Hubungan Media dan Terorisme Terorisme yang terjadi di era kemajuan teknologi informasi telah membawa model baru terorisme. Menurut Weimann hal ini tidak lain disebabkan oleh peran media yang memberitakan kejadian tersebut secara dramatis. dan efek pemberitaan inilah yang menjadi pembeda dari kejadian-kejadian teror di masa lalu. Menurut Weimann, terorisme di era modern juga dikemas seolah sedang menyiapkan pementasan Kelompok-kelompok teror memperhatikan penyiapan skenario, menyeleksi pemain, properti, lokasi, peran, dan manajemen setiap menit AopertunjukanAo mereka. Media kemudian berperan sebagai pihak yang menyiarkan aksi AoteaterAo tersebut kepada khalayak. Jurnal ICMES Volume 1. No. Desember 2017 Muhammad Ahalla Tsauro Grafik diadaptasi dari statista. Media dan terorisme tidak dapat dipisahkan. Jika terjadi suatu aksi pengeboman di suatu tempat terpencil tanpa ada akses informasi di sana, berita mengenai aksi ini tentu tidak akan tersebar ke seluruh masyarakat. Akibatnya, pengeboman ini hanyalah AosekedarAo pembunuhan lokal tanpa menimbulkan efek penyebaran horor dan ketakutan yang diinginkan oleh kelompok-kelompok teror. Di sisi lain, media berperan penting dalam menempatkan pemberitaan terorisme sebagai headline dan breaking news sehingga mendapatkan perhatian yang luas dari publik. Jurnal ICMES Volume 1. No. Desember 2017 Media dan Terorisme di Uni Eropa: dari Teror Paris Hingga Bom Manchester Peran penting media dalam menyampaikan pesan teroris . eskipun tidak dimaksudkan demikia. membuat munculnya jargon Aothe media are the terroristAos best friends, the terroristAos act by itself is nothing, publicity is allAo (Reuters, 2. Serangan di Paris . dan Manchester . menjadi bukti dari jargon tersebut. Para pelaku teror melakukan aksi, sebagian langsung tewas di tempat, lalu AopekerjaanAo selanjutnya diserahkan kepada media. Media internasional yang akan membawa peran, sesuai penerjemahan mereka masing-masing atas suatu kejadian, sebagai penyampai pesan teror kepada masyarakat. Majalah Le Parisien misalnya, memberikan AokontribusiAo signifikan dalam menunjukkan situasi horor dalam Teror Paris, dengan mengulas berita, menampilkan analisis dan opini, mengolah data selama berharihari mengenai kasus ini, termasuk pembahasan mengenai dugaan pelaku yang merupakan anggota ISIS (Reuters, 2. Media memiliki peran untuk menyebarkan berbagai informasi, terutama yang berkaitan dengan masalah publik seperti bencana alam, terorisme, isu politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Bagi media, penyediaan informasi ini berhubungan langsung dengan tingkat pendapatan korporasi media. Jika informasi yang disiarkan sebuah media menarik minat banyak penonton, rating media tersebut akan meningkat dan profit yang dihasilkan juga bertambah. Oleh karenanya, media melakukan pilihan-pilihan dalam menyajikan Isu-isu tertentu yang dianggap dapat menarik perhatian penontonlah akan ditampilkan dalam berita utama, primetime, dan headline. Salah satu berita yang paling menarik perhatian publik adalah berita terorisme. Terorisme sebagai breaking news yang sempurna terlihat dari dihentikannya semua program acara televisi demi tayangan aksi terorisme yang mungkin saja lokasinya jauh dari penonton (Nacos, 2002:. Media dan pemerintah juga saling membutuhkan. Sementara media menyebarluaskan berita terorisme demi rating dan profit, pemerintah umumnya akan berusaha menyampaikan pernyataan-pernyataan yang meredam kepanikan. Martin memaparkan dua perspektif media dan pemerintah yang saling bertolak belakang namun masih berhubungan dalam melihat isu terorisme (Martin, 2006:. Di satu sisi, media terkesan mengutamakan objektivitas dalam menyajikan berita. Media terkesan memberitakan aksi terorisme secara mentah-mentah tanpa mendalami berbagai hal penting, misalnya, alasan terjadinya peristiwa tersebut atau berbagai hal di balik peristiwa. Penonton hanya diberi tahu bahwa telah terjadi suatu aksi kekerasan yang pada akhirnya menyalahkan pelaku kekerasan tanpa tahu maksud dan tujuan dari terjadinya kekerasan. Jurnal ICMES Volume 1. No. Desember 2017 Muhammad Ahalla Tsauro Di sisi lain, pemerintah berusaha untuk menekan berita terorisme karena khawatir akan timbul chaos akibat ketakutan yang tidak terkontrol. Pejabat negara cenderung menolak untuk menjelaskan banyak dan menyatakan menunggu penyelidikan. Akibatnya pemerintah seolah menjadi pihak yang lemah dalam persepsi penonton karena tidak mampu mengatasi atau bahkan mencegah tindakan terorisme yang terjadi di negaranya. Meskipun demikian, pemerintah tetap membutuhkan media untuk menginformasikan kepada penonton . mengenai kebijakan yang diambil demi memperoleh kembali legitimasi yang sempat koyak pascatindakan Demi menarik perhatian media dan publik, serangan teror biasanya dipersiapkan dengan sedemikian rupa. Terrorist attacks are often carefully choreographed to attract the attention of the electronic media and the international press, demikian ditulis Jenkins (Martin, 2006:. Serangan yang terjadi tidak jauh dari Stade de France misalnya (November 2. , menarik perhatian yang sangat besar karena lokasinya yang sangat terkenal, dan aksi teror terjadi ketika Presiden Perancis sedang berada di dalam stadion. Kamera dan perilis berita berlomba-lomba memberikan liputan terbaik dan paling menarik perhatian kepada masyarakat. Selain dipersiapkan untuk menarik perhatian, aksi teror selalu membawa pesan AuTerrorism. may be seen as a violent act that is conceived specifically to attract attention and then, through the publicity it generates, to communicate a message (Martin, 2006:. Ay Pesan utama yang akan segera ditangkap publik . eiring dengan masifnya pemberitaa. adalah adanya ancaman dari kelompok teroris. Aksi teror ini menjadi sebuah pesan kepada publik atas apa yang mereka . elompok tero. Aksi teror yang dilakukan oleh kelompok dengan jaringan internasional . isalnya ISIS) juga memberi pesan bahwa mereka AoadaAo di seluruh dunia, tidak hanya di Irak. Suriah, melainkan juga di Perancis. Inggris. Jerman. Mali. Somalia. Mesir. Indonesia, dan lain-lain. Di tengah publik Eropa, pesan yang ditangkap adalah bahwa kelompok teror (ISIS) sangat kuat sehingga muncul ketakutan di tengah publik. Teror Paris telah menjadikan sebagian besar warga Eropa berdiam diri di rumah selama beberapa hari pertama, muncul rasa takut pada simbol-simbol Islam, dan pemerintahan pun melakukan patroli keamanan yang semakin ketat (Reuters, 2. Publisitas media menjadi AooksigenAo bagi terorisme untuk bernafas, menjadi aliran darah yang mampu menyebar sampai ke nadi-nadi tersempit dan terkecil di lapisan masyarakat, dan menjadi Aosahabat baikAo bagi teroris (CBS, 2. Hal ini secara tak langsung menunjukkan bahwa media telah AoberhasilAo menebar teror. Dengan kata lain, media Jurnal ICMES Volume 1. No. Desember 2017 Media dan Terorisme di Uni Eropa: dari Teror Paris Hingga Bom Manchester massa membuat tugas teroris untuk meneror menjadi lebih mudah dengan cara menyebarluaskan dan menebar ketakutan. Tanpa liputan media, dampak kekerasan hanya terbatas pada korban dan sasaran langsung. Hal ini merupakan kondisi dilematis bagi media massa. Terorisme dan Media Saling Memanfaatkan Ada sejumlah poin yang bisa dirangkum mengenai apa saja AomanfaatAo yang diambil kelompok-kelompok teroris dari media. dan sebaliknya, apa saja AomanfaatAo keberadaan teroris bagi media. Pertama, terorisme memberikan pesan ketakutan kepada khalayak luas denga memanfaatkan media (Nacos, 2. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, media benar-benar menjadi alat yang bekerja menyampaikan ancaman para teroris kepada Kedua, terorisme berhasil mempolarisasi pendapat umum dengan memberikan stereotype permanen pada simbol-simbol yang memiliki kaitan erat dengan pelaku teror, terutama simbol-simbol Muslim. Selanjutnya, ketakutan yang muncul dimanfaatkan oleh media untuk menarik dan menawarkan opini mengenai realitas yang terjadi (Nacos, 2. Sebagai akibatnya. Islamophobia semakin meningkat di Eropa. Menurut survey Pew Research . Opinions of Muslims vary considerably across Europe. Half or more in Hungary. Italy. Poland. Greece and Spain have a very or somewhat unfavorable view of Muslims. And in Italy . %). Hungary . %) and Greece . %), roughly a third hold very unfavorable opinions. Majorities in the other nations surveyed express positive attitudes about Muslims. Nonetheless, at least a quarter in each country have negative views of Muslims. Media massa internasional seakan telah berhasil membentuk opini publik bahwa teror yang menakutkan selalu berasal dari kelompok radikal (Weimann, 2. Dengan demikian para teroris dapat menikmati laporan media yang berlebihan tentang kekuatan teroris hingga menciptakan ketakutan pihak musuh dan mencegah keberanian polisi secara individual. Ketiga, terorisme memanfaatkan media untuk merekrut dan menarik anggota baru bagi kelompok-kelompok mereka (Weimann, 2. Di satu sisi, media mainstream Barat yang sangat gencar memberitakan aksi-aksi ISIS memunculkan citra bahwa ISIS adalah kelompok yang sangat digdaya. Misalnya. The Guardian Jurnal ICMES Volume 1. No. Desember 2017 Muhammad Ahalla Tsauro pada tahun 2014 membuat berita berjudul AuHow has Isis grown so powerful and who will stop it?Ay dan menyatakan bahwa ISIS memiliki dana 2 miliar USD dan pasukan 000 orang. Di saat yang sama. ISIS memanfaatkan media sosial memanfaatkan citra yang didapatnya itu untuk menarik pemuda-pemudi sebanyak-banyaknya, mulai dari Arab. Afrika. Asia hingga Eropa. Kasus teror di Paris mengungkap bahwa pelaku teror merupakan anak muda yang berasal dari Belgia. Mereka datang ke Eropa bersama gelombang pengungsi dari Suriah yang masuk ke Eropa melalui jalur darat via Turki. Dengan mengusung ideologi ekstrimis . ang dibungkus doktrin agam. , serta iming-iming ekonomi dan seksualitas. ISIS berhasil menarik minat ribuan anak muda di berbagai penjuru dunia bergabung bersama mereka, termasuk perempuan. The Independent dengan mengutip penelitian dari Royal United Services Institute for Defence and Security Studies (RUSI), menulis bahwa fenomena bergabungnya perempuan dari Eropa untuk Aojihad nikahAo . enikah dengan petempur ISIS), disebabkan oleh beberapa hal, antara lain penolakan terhadap feminisme Barat, kontak intensif secara online dengan aktivis ISIS yang menawarkan pernikahan dan petualangan, pengaruh teman atau keluarga, ketertarikan pada ideologi ISIS, kebodohan, dan lain-lain (Independent, 2. Keempat, terorisme memanfaatkan media untuk mengecoh aparat dengan menyebar informasi palsu (Weimann, 2. Tidak jarang ISIS memberikan ancaman melalui telepon maupun pesan singkat untuk menebar ancaman teror, walaupun sejatinya tidak. Kelima, terorisme memanfaatkan media untuk mempromosikan diri dan menyebabkan mereka merasa terwakili. Keterwakilan inilah yang membuat para teroris berupaya terus menunjukkan diri mereka ke publik (Nacos, 2. Keenam, terorisme memanfaatkan media untuk membangkitkan keprihatinan publik terhadap korban untuk menekan agar pemerintah melakukan kompromi atau Keprihatinan ini kemudian menjadi isu utama yang dituangkan oleh para netizen di media sosial mereka. Hal ini kemudian menjadi isu sentral yang mampu menarik langkah atau kebijakan pemerintah untuk menanggulangi kasus ini. Secara tidak langsung, pemerintah meninggalkan urusan yang lebih penting lainnya untuk urusan ini dan mendapatkan bantuan dari negara donor gerakan antiterorisme global. Ketujuh, terorisme memanfaatkan media untuk mengalihkan perhatian publik dari isu-isu penting lainnya sehingga aksi mereka menjadi semakin berpengaruh di tengah publik. Jurnal ICMES Volume 1. No. Desember 2017 Media dan Terorisme di Uni Eropa: dari Teror Paris Hingga Bom Manchester Kedelapan, terorisme memanfaatkan media untuk membangkitkan kekecewaan publik terhadap pemerintah (Nacos, 2. Dalam hal ini yang menjadi sorotan utama pemberitaan adalah bagaimana negara tidak mampu mengamankan warganya sehingga teror pun tidak terelakkan dan banyak korban berjatuhan. Hal ini terjadi di kawasan Uni Eropa dimana dengan kekuatan keamanan yang sedemikian ketat, aksi-aksi terorisme tetap terjadi. Kesepuluh, terorisme memanfaatkan media sebagai jaringan komunikasi eksternal di antara teroris. Para pelaku teror juga memiliki kemampuan memanfatkan teknologi yang canggih untuk berkomunikasi dengan jaringan mereka (Nacos. Rangkaian serangan di Paris menjadi salah satu bukti yang menunjukkan bahwa para pelaku teror memanfaatkan media komunikasi dengan sebaik mungkin, sehingga mereka AoberhasilAo melakukan serangan di enam lokasi strategis. Selain itu, melalui pemberitaan media, para pelaku teror juga dapat mempelajari teknikteknik penanganan terbaru yang dilakukan aparat (Weimann, 2. Pemberitaan ini dimanfaatkan oleh para pelaku teror sebagai celah untuk mengantisipasi berbagai hal dan menetapkan target-target selanjutnya. Sebaliknya, korporasi media juga AomemanfaatkanAo teroris meningkatkan Media memanfaatkan aksi teror sebagai sebuah berita kriminal yang penuh kekejaman dan kejahatan. Berita kriminal sangat AomenjualAo, sangat banyak diminati atau diikuti, sehingga sangat terkait dengan rating media. Ada adagium dalam dunia korporasi media, bad news is good news, yang memandang bahwa berita buruk lebih laris dijual sehingga lebih menguntungkan. Media massa mengkapitalisasi kebingungan dan kelumpuhan yang disebabkan oleh serangan terorisme untuk memproduksi berita-berita dramatis yang menarik perhatian pemirsa atau pembaca. Kompetisi ketat di antara korporasi media memicu mereka untuk berlombalomba memberitakan aksi-aksi terorisme dengan cara sensasional agar menarik perhatian publik sebanyak mungkin. Hal ini terutama terjadi pada televisi karena kecenderungan umum pemirsa televisi menyukai drama dan kekerasan (Carnagie Council, 2. Semakin banyak pemirsa sebuah televisi, ratingnya semakin naik, dan iklan pun semakin banyak berdatangan sehingga memberikan pendapatan besar kepada pengelola televisi tersebut. Dampak dari pemberitaan yang sangat masif dan dramatis yang dilakukan media terhadap aksi-aksi terorisme adalah ketakutan yang semakin meluas di tengah masyarakat dan hal ini pun memberikan tekanan kepada pemerintah untuk Jurnal ICMES Volume 1. No. Desember 2017 Muhammad Ahalla Tsauro mengambil tindakan atau perubahan kebijakan . engan demikian, tujuan utama pelaku teror tercapa. Hal ini memunculkan sebuah dilema besar. Dalam mencari solusi bagi dilema ini. UNESCO merilis hasil sebuah studi yang berjudul Terrorism and The Media: A Handbook for Journalist (UNESCO, 2. Beberapa poin yang disampaikan dalam studi tersebut, antara lain: Media perlu menghindari pemberitaan yang dibumbui rumor dan berita palsu, karena akan mengganggu polisi dalam pelaksanaan tugasnya serta memicu kebingungan dan ketakutan di tengah masyarakat. Cara-cara pemberitaan versi live blogging . empublikasikan informasi secara online secara real tim. beresiko menyebarkan berita yang belum terkonfirmasi sehingga sangat mungkin kemudian terbukti berita tersebut salah (UNESCO, 2007:. Meliput aksi teroris harus dilakukan secara proporsional. Logika dan akal sehat harus selalu menjadi standar. Terlalu banyak informasi dapat menyebabkan kecemasan, begitu pula terlalu sedikit informasi. Media audio visual akan menyajikan berita tidak hanya dengan kata-kata dan foto, melainkan juga dengan film sehingga dampaknya menjadi lebih luas. Adagium Aoketika berdarah-darah, berita akan lebih larisAo yang umumnya diikuti media perlu dikritisi, agar media tidak berkontribusi pada amplifikasi dampak teroris, atau melebih-lebihkan. Media harus belajar mengukur AonadaAo pemberitaan mereka, agar tidak menjadi Aomesin kebisinganAo, tidak berkontribusi bagi meluasnya kecemasan atau kemarahan, serta tidak membuat si pelaku teroris seolah hebat dan digdaya, lebih besar daripada kondisi asli mereka (UNESCO, 2007:. Media perlu mempertimbangkan baik-baik istilah yang digunakan untuk meminimalisasi dampak buruknya. Menyebut teroris sebagai AojihadisAo atau mengaitkan sebuah kasus terorisme yang baru saja terjadi . an belum jelas siapa pelakuny. dengan agama tertentu, akan membangkitkan kebencian di tengah masyarakat. Saat teroris ditampilkan sebagai musuh monolitik dan dilakukan oleh orang-orang fanatik yang tidak rasional, dengan mengabaikan faktor politik, akar terorisme akan kabur dan solusinya pun sulit ditemukan. Itulah sebabnya beberapa pihak, seperti Menlu Perancis Laurent Fabius atau ulama Al Azhar, menyerukan agar media tidak menggunakan istilah AoIslamic StateAo karena akan memunculkan kebingungan publik terhadap Islam Jurnal ICMES Volume 1. No. Desember 2017 Media dan Terorisme di Uni Eropa: dari Teror Paris Hingga Bom Manchester dan Muslim. lebih baik menggunakan istilah AoDaeshAo . kronim dari Daulah Islamiyah fi Islam wa Sya. (UNESCO, 2007:54-. Secara umum, jurnalis harus jeli dalam memberitakan isu terorisme dan mampu menahan ataupun menolak keinginan untuk memberitakan persoalan ini secara sensasional demi kepentingan finansial. Dengan kata lain, jurnalis harus mampu menjaga perspektif global dan memperhatikan kata-kata yang mereka gunakan, contoh-contoh kasus yang mereka ungkap, ataupun gambar-gambar yang mereka tampilkan. Jurnalis harus mampu menjauhi spekulasi yang menyebabkan kesalahpahaman dan kebingungan di tengah masyarakat. Sebelum memberitakan, seorang jurnalis perlu mencari informasi dari banyak pihak agar berita yang disebarkan benar-benar bisa dipertanggungjawabkan. Dan yang paling penting adalah media harus mampu menghindari pemberitaan yang justru mempersubur radikalisme ataupun bibit-bibit kebencian yang akan berdampak buruk bagi Misalnya, pemberitaan yang terlalu detil mengenai strategi yang diterapkan pasukan keamanan dalam menghadapi teror justru menjadi sumber informasi bagi para teroris. Atau, pemberitaan yang terlalu menyudutkan kalangan tertentu justru akan memicu kebencian di tengah masyarakat terhadap kalangan tersebut dan menimbulkan ketegangan di tengah publik. Kesimpulan Hubungan antara terorisme dan media di kemajuan teknologi komunikasi dan informasi adalah sebuah hubungan simbiosis yang saling memanfaatkan. Di satu sisi, para pelaku teror membutuhkan media sebagai alat untuk menebar pesan dan pengaruhnya di tengah masyarakat. Agar mendapatkan liputan media secara masif, kelompok-kelompok teror pun merancang aksinya agar bisa menarik prehatian semaksimal mungkin. Dalam kasus serangan di Paris . mereka merancang aksi di 7 titik, di antaranya di luar stadion sepak bola di Saint-Denis yang saat itu sedang menggelar pertandingan sepakbola dan dihadiri oleh Presiden Perancis. Sedangkan serangan bom Manchester . teroris meledakkan bom di pintu luar Manchester Arena, tempat berlangsungnya konser penyanyi terkenal dunia. Ariana Grande. Kedua kejadian teror ini diliput secara masif oleh media Barat dan disiarkan ulang oleh media-media lokal di berbagai negara. Dampaknya, sebagaimana muncul ketakutan di tengah masyarakat dan semakin AobesarAo atau AokuatAo-nya citra yang dimiliki oleh kelompok teror. Sebaliknya, media membutuhkan aksi terorisme untuk memproduksi siaran yang dramatik dan berdarah-darah, yang memang AodisukaiAo atau Jurnal ICMES Volume 1. No. Desember 2017 Muhammad Ahalla Tsauro menarik minat pemirsa sehingga meningkatkan rating dan pendapatan korporasi Menghadapi fenomena ini. UNESCO telah merilis buku panduan untuk para jurnalis dalam memberitakan aksi terorisme (Terrorism and Media: A Handbook for Journalis. Pada intinya, masyarakat perlu mendapatkan informasi. Namun, informasi yang diberikan media perlu mengikuti sejumlah panduan etika, antara lain pemberitaan tidak disertai bumbu rumor, berita yang dirilis perlu mendapatkan konfirmasi terlebih dahulu dari berbagai pihak . idak langsung ditayangkan dalam bentuk live bloggin. untuk menghindari tersebarnya informasi yang salah, dan penggunaan bahasa yang tepat agar tidak tersebar stigmatisasi atau kebencian dalam masyarakat. Daftar Pustaka