KUSUMA: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat E-ISSN 3089-2805 Vol. No. Tahun 2024 | Hal. 1 Ae 17 https://ojs. id/index. php/kjpkm/index KERATON KASEPUHAN DAN STRATEGI PARIWISATA BERKELANJUTAN Rita Rahmawati1. Sri Wijayanti2. Geralda Levina3. Hilmy Aziz4. Muhammad Nur Rizki5, & Asep Mulyana. UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon. Jl. Perjuangan. Sunyaragi. Kec. Kesambi. Kota Kesambi. Jawa Barat 45132 Email : ritarahmawati005@gmail. com, wijyadwi@gmail. com, geraldalevina24@gmail. hilmyaziz032@gmail. com, nurizkinurizki994@gmail. DOI : 1055656/kjpkm. Submitted: . 4-12-. | Revised: . 5-02-. | Approved: . 5-04-. Abstrak Keraton Kasepuhan di Cirebon, sebagai salah satu warisan budaya dan sejarah penting di Indonesia, memiliki potensi besar dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi strategi pariwisata berkelanjutan yang dapat diterapkan di Keraton Kasepuhan dengan mempertimbangkan aspek pelestarian budaya, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat lokal. Metodologi yang digunakan meliputi pendekatan kualitatif melalui wawancara dengan pengelola keraton, analisis dokumen, serta observasi Hasil penelitian menunjukkan bahwa Keraton Kasepuhan menghadapi tantangan dalam hal manajemen sumber daya, keterlibatan masyarakat, dan pemeliharaan infrastruktur Strategi yang diusulkan meliputi pengembangan program edukasi budaya, promosi digital, dan kolaborasi dengan pihak swasta untuk meningkatkan fasilitas pariwisata tanpa merusak nilai historis. Dengan implementasi strategi ini. Keraton Kasepuhan diharapkan dapat menjadi model pengelolaan pariwisata berkelanjutan yang mendukung pelestarian warisan budaya sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Kata kunci: Keraton Kasepuhan, pariwisata berkelanjutan, pelestarian budaya, pemberdayaan masyarakat, strategi pariwisata. Abstract Keraton Kasepuhan in Cirebon, as one of Indonesia's significant cultural and historical heritage sites, holds great potential for sustainable tourism development. This study aims to identify sustainable tourism strategies that can be applied at Keraton Kasepuhan by considering cultural preservation, environmental conservation, and community empowerment. The methodology used includes a qualitative approach through interviews with palace administrators, document analysis, and field The findings reveal that Keraton Kasepuhan faces challenges in resource management, community engagement, and the maintenance of historical infrastructure. Proposed strategies include the development of cultural education programs, digital promotion, and collaboration with private sectors to improve tourism facilities without compromising historical values. With the implementation of these strategies. Keraton Kasepuhan is expected to serve as a model for sustainable tourism management that supports cultural heritage preservation while enhancing the well-being of the local KUSUMA: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat E-ISSN 3089-2805 Vol. No. Tahun 2024 | Hal. 1 Ae 17 https://ojs. id/index. php/kjpkm/index Keywords: Keraton Kasepuhan, sustainable tourism, cultural preservation, community empowerment, tourism strategies. PENDAHULUAN Keraton Kasepuhan Cirebon adalah keraton yang terletak di Cirebon. Jawa Barat. Indonesia. Sebagai Pusat Pemeliharaan dan Pembangunan Budaya, keraton ini memiliki peran penting dalam melestarikan warisan budaya dan mempromosikan kekayaan budaya Cirebon(Ahnaf et al. , 2. Didirikan pada abad ke-15. Keraton Kasepuhan Cirebon memiliki nilai sejarah tinggi dan telah menjadi pusat kebudayaan di wilayah Cirebon. Keraton ini memiliki kekayaan budaya yang meliputi seni, tata ruang, dan tradisi. Seni tari dan musik tradisional Cirebon seperti tari topeng, tari lengger, gamelan Degung, tembang Cirebon, dan keroncong merupakan bagian penting dari budaya Cirebon yang dipertunjukkan dalam berbagai acara kebudayaan. Keraton Kasepuhan Cirebon merupakan sebuah keraton yang terletak di Cirebon. Jawa Barat. Indonesia. Keraton ini memiliki desain dan arsitektur yang unik dengan perpaduan gaya Jawa. Sunda, dan Islam, mencerminkan harmoni budaya Cirebon. dalamnya, terdapat alunalun, pendopo, paviliun, museum, dan ruang penyimpanan bendabenda bersejarah serta kerajinan tangan warisan budaya Cirebon. Sebagai Pusat Pemeliharaan dan Pembangunan Budaya. Keraton Kasepuhan Cirebon memiliki tanggung jawab yang besar dalam menjaga, memelihara, dan mengembangkan kebudayaan Cirebon. Melalui kegiatan pameran, pertunjukan seni, lokakarya, dan program edukasi, keraton ini berperan penting dalam mendukung keberlanjutan dan revitalisasi warisan budaya Cirebon. Selain itu, keraton ini juga berfungsi sebagai tempat pendidikan bagi generasi muda untuk mempelajari dan menghargai kekayaan budaya Cirebon (Lestari, 2. Pariwisata berkelanjutan menjadi sangat penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan karena mengakui perlunya pengembangan sektor pariwisata yang tidak hanya memberikan manfaat ekonomi dan sosial, tetapi juga melibatkan tanggung jawab terhadap lingkungan alam. Dalam gambaran umum, pariwisata berkelanjutan merangkum yang berfokus pada keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, pelestarian alam, dan kesejahteraan masyarakat. Keraton Kasepuhan di Cirebon berperan penting dalam pengembangan pariwisata Sebagai objek wisata unggulan, keraton ini mengalami peningkatan kunjungan berkat revitalisasi dan promosi paket wisata, seperti paket edukasi untuk wisatawan Keraton Kasepuhan juga berkolaborasi dengan pemerintah dalam menciptakan paket wisata yang menarik, yang membantu meningkatkan kesadaran akan sejarah dan budaya Cirebon. Meskipun terdapat kerjasama dengan pemerintah, promosi antar keraton masih terbatas, sehingga masing-masing lebih fokus pada identitasnya sendiri. TINJAUAN PUSTAKA Pariwisata menurut Undang-Undang No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang KUSUMA: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat E-ISSN 3089-2805 Vol. No. Tahun 2024 | Hal. 1 Ae 17 https://ojs. id/index. php/kjpkm/index disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah, dan pemerintah daerah. Dalam bidang pariwisata pelayanan untuk wisata juga sangat diperlukan, hal ini sesuai dengan pendapat Sugiama . bahwa pariwisata adalah rangkaian aktivitas dan pelayanan yang melayani kebutuhan atraksi wisata, akomodasi dan transportasi untuk memenuhi kebutuhan wisatawan. Perjalanan yang dimaksud hanyalah sementara dari tempat tinggal untuk tujuan istirahat, bisnis, atau tujuan lainnya. Beberapa ahli mengungkapkan bahwa pariwisata adalah melakukan hubungan perjalanan dari tempat satu ke tempat lain melalui gejala-gejala yang timbul dari seseorang atau keseluruhan hubungan perjalanan yang tidak menetap dan tidak memiliki hubungan kegiatan untuk bekerja, sehingga dalam melakukan perjalanannya hanya untuk mencari hal-hal baru sesuai keinginan dan kebutuhannya. Bidang pariwisata tentu saja mempunyai unsur-unsur pokok dalam suatu definisi pariwisata, unsur pokok tersebut diantaranya: . adanya perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok untuk berpindah tempat dari tempat satu ke tempat lain, . terdapat unsur tinggal sementara namun bukan tempat tinggalnya, . tujuan utama dari pergerakan manusia tersebut bukan untuk pekerjaan atau penghidupan ditempat yang akan dikunjungi (Hunziker dan Kraft dalam Muljadi, 2012. Pitana dalam Hanum, 2. Dari berbagai sudut pandang, pendapat mengenai definisi pariwisata sangat beragam dan berdasarkan penjelasan dari berbagai pendapat diatas mengenai pariwisata dapat disimpulkan bahwa pariwisata merupakan kegiatan wisata yang melakukan perjalanan dari tempat satu ke tempat lain hanya untuk sementara waktu dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya, sehingga untuk mewujudkan wisata yang maju harus didukung oleh fasilitas dan pelayanan baik untuk memenuhi kebutuhan wisatawan. Dari beberapa pengertian pariwisata juga terlihat bahwa suatu pariwisata akan memberikan keuntungan jika dikelola secara tepat dengan melibatkan masyarakat lokal, pemerintah, dan pihak swasta. Prinsip-prinsip pariwisata berkelanjutan dapat dikenali melalui partisipasi, keikutsertaan para pelaku . , kepemilikan lokal, penggunaan sumber daya secara berkelanjutan, mewadahi aspirasi masyarakat untuk mencapai tujuan dalam kesuksesan sektor pariwisata, kepedulian terhadap daya dukung, monitor dan evaluasi, akuntabilitas, pelatihan serta promosi. Masyarakat harus berpartisipasi dalam menentukan visi pariwisata, mengidentifikasi sumber daya yang perlu dipertahankan dan ditingkatkan, serta merumuskan tujuan dan strategi pengelolaan dan pengembangan daya tarik Masyarakat juga harus berpartisipasi dalam implementasi strategi yang telah dirumuskan sebelumnya. Selain masyarakat, semua pemangku kepentingan dalam pengembangan pariwisata harus menjaga lingkungan. Keikutsertaan pelaku (Stakeholder. Badan-badan kelembagaan yang terlibat dalam pengembangan pariwisata antara lain Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), kelompok relawan, pemerintah 22 No Prinsip Pariwisata Keterangan KUSUMA: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat E-ISSN 3089-2805 Vol. No. Tahun 2024 | Hal. 1 Ae 17 https://ojs. id/index. php/kjpkm/index daerah, asosiasi pariwisata dan pihak lain yang memiliki pengaruh terhadap kegiatan pariwisata untuk mendorong berbagai bentuk pengembangan pariwisata yang dapat mengurangi penggunaan sumber daya yang langka. Kepemilikan lokal. Fasilitas pendukung seperti homestay, restoran dan sebagainya seharusnya dapat dipelihara dan dikembangkan oleh masyarakat Beberapa pengalaman menunjukkan bahwa mendidik dan melatih penduduk lokal diperlukan untuk memberikan kemudahan bagi pelaku bisnis guna mendukung kepemilikan lokal. Penggunaan sumber daya. Pembangunan pariwisata harus menggunakan sumber daya yang berkelanjutan artinya kegiatan pariwisata harus menghindari penggunaan sumber daya yang tidak dapat terbarukan secara berlebihan. Dalam pelaksanaannya, kegiatan pariwisata harus memastikan penggunaan standar dan standar internasional untuk menjaga dan meningkatkan sumber daya alam dan buatan, serta didukung oleh infrastruktur pariwisata yang harus dirancang dan kegiatan pariwisata harus direncanakan untuk melindungi warisan alam. Mewadahi tujuan masyarakat, tujuan masyarakat dapat diwadahi ke dalam kegiatan pariwisata untuk memberikan kondisi yang harmonis antara pengunjung dan masyarakat. Misalnya, kerjasama wisata budaya dapat dimulai dari perencanaan, pengelolaan, hingga pemasaran dan pengaturan pariwisata, serta mengalokasikan waktu liburan secara merata bagi wisatawan baik dari sisi ruang dan waktu, sehingga dapat mengurangi tekanan terhadap lingkungan Daya dukung, daya dukung atau kapasitas lahan meliputi daya dukung fisik, alami, sosial dan budaya. Pembangunan dan pengembangan harus disesuaikan dengan batas-batas lokal dan lingkungan, serta pengoperasiannya harus dievaluasi secara berkala sehingga dengan mempertimbangkan daya dukung tempat, perlu ditentukan perbaikan untuk mempertahankan warisan alam dan menghormati penduduk setempat. Monitor dan evaluasi yaitu mencakup penyusunan pedoman, evaluasi dampak kegiatan wisata serta pengembangan indikator-indikator dan batasan untuk mengukur dampak wisata. Akuntabilitas. Perencanaan pariwisata harus memperhatikan kesempatan kerja, pendapatan, dan kebijakan pembangunan yang meningkatkan kesehatan masyarakat setempat. Pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam seperti tanah, air, dan udara harus menjamin akuntabilitas dan memastikan bahwa sumber daya yang ada tidak dieksploitasi secara berlebihan. Pelatihan untuk membekali pengetahuan masyarakat dan meningkatkan keterampilan bisnis, vocational, dan profesional. Mempromosikan penggunaan lahan dan kegiatan yang memperkuat karakter lansekap, sense of place, dan identitas masyarakat setempat. Kegiatan ini KUSUMA: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat E-ISSN 3089-2805 Vol. No. Tahun 2024 | Hal. 1 Ae 17 https://ojs. id/index. php/kjpkm/index bertujuan untuk menciptakan pengalaman pariwisata yang berkualitas tinggi dan memberikan pelayanan yang memuaskan kepada wisatawan. Contoh penerapan pariwisata berkelanjutan di tempat lain Kampung Batik Trusmi. Kampung ini terkenal sebagai pusat produksi batik di Cirebon. Dalam upaya pariwisata berkelanjutan, masyarakat setempat mengedukasi pengunjung tentang proses pembuatan batik, serta pentingnya melestarikan seni dan budaya lokal. Selain itu, pengunjung dapat berpartisipasi dalam workshop batik, yang membantu meningkatkan pendapatan masyarakat. Wisata Agro di Kebun Teh Cirebon. Kebun teh yang terletak di daerah Cirebon menawarkan pengalaman wisata agro yang berkelanjutan. Pengunjung dapat belajar tentang proses penanaman dan pengolahan teh, serta menikmati keindahan alam. Pengelolaan kebun teh yang ramah lingkungan dan pelibatan masyarakat lokal dalam kegiatan wisata menjadi bagian dari penerapan pariwisata berkelanjutan. Desa Wisata Kertasmaya. Desa ini mengembangkan pariwisata berbasis komunitas dengan melibatkan penduduk lokal dalam pengelolaan wisata. Kegiatan yang ditawarkan termasuk homestay, pertanian organik, dan pelestarian budaya lokal. Ini membantu meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan dan budaya. Pantai Kejawanan. Pantai ini menjadi salah satu destinasi wisata yang dikelola dengan prinsip berkelanjutan. Upaya menjaga kebersihan pantai, pengelolaan sampah, dan pelibatan masyarakat lokal dalam pengelolaan wisata menjadi fokus utama. Selain itu, kegiatan edukasi tentang pentingnya menjaga ekosistem pantai juga dilakukan. Cirebon Waterland. Sebuah taman rekreasi yang mengedepankan konsep ramah lingkungan. Cirebon Waterland menerapkan pengelolaan limbah yang baik dan memanfaatkan sumber daya alam secara bijaksana. Selain itu, mereka juga mengadakan programprogram edukasi lingkungan untuk pengunjung. Keraton Kasepuhan Cirebon bermula dari runtuhnya Kerajaan Cirebon yang berlangsung sejak 1666. Kerajaan Cirebon runtuh pada masa pemerintahan Panembahan Ratu II atau Pangeran Rasmi. Tahun itu. Sultan Amangkurat I, penguasa Mataram yang juga mertua Panembahan Ratu II, memanggil menantunya ini datang ke Surakarta. Dia meminta pertanggung-jawabannya atas tuduhan telah bersekongkol dengan pihak Kerajaan Banten untuk menjatuhkan kekuasaannya di Mataram. Sultan Amangkurat I akhirnya mengasingkan Panembahan Ratu II bersama kedua puteranya Pangeran Kartawijaya dan Pangeran Martawijaya, hingga menantunya ini wafat di Surakarta pada 1667. Kekosongan kekuasaan ini di Kerajaan Cirebon dimanfaatkan oleh Raja Mataram untuk mengambil-alihnya. Pengambilalihan kekuasaan sepihak tadi memicu amarah dari Sultan Ageng Tirtayasa yang berkuasa di Banten. Sultan Banten ini kemudian turun tangan dengan tujuan membebaskan kedua putera Panembahan Ratu II yang juga diasingkan oleh KUSUMA: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat E-ISSN 3089-2805 Vol. No. Tahun 2024 | Hal. 1 Ae 17 https://ojs. id/index. php/kjpkm/index Mataram, yaitu Pangeran Kartawijaya dan Pangeran Martawijaya. Sepuluh tahun kemudian, pada 1677, terjadi konflik internal di Kesultanan Cirebon karena perbedaan pendapat di kalangan keluarga mengenai penerus kerajaan. Karena itu. Sultan Ageng Tirtayasa turun tangan. Dia memutuskan membagi Kesultanan Cirebon menjadi tiga, yaitu Kesultanan Kanoman. Kesultanan Kasepuhan, dan Panembahan Cirebon. Kekuasaan dibagi ke tiga pangeran. Kesultanan Kanoman dipimpin oleh Pangeran Kartawijaya yang bergelar Sultan Anom I. Kesultanan Kasepuhan diberikan kepada Pangeran Martawijaya yang bergelar Sultan Sepuh I, dan Pangeran Wangsakerta menjadi panembahan di Cirebon. Sejak saat itu. Sultan Sepuh I menempati Keraton Pakungwati yang kemudian berganti nama menjadi Keraton Kasepuhan. Pada mulanya, saat Kerajaan Cirebon belum runtuh, ada dua kompleks bangunan di sana. Pertama. Dalem Agung Pakungwati yang didirikan pada 1430 oleh Pangeran Cakrabuana. Kedua, kompleks Keraton Pakungwati yang didirikan oleh Pangeran Mas Zainul Arifin pada 1529. Cicit Sunan Gunung Jati. Pangeran Mas Zainul Arifin atau Panembahan Pakungwati I, pada 1529 membangun keraton baru di sebelah barat daya keraton lama. Keraton baru ini dinamai Keraton Pakungwati, mengabadikan nama Ratu Dewi Pakungwati. Keraton Pakungwati itulah yang menjadi cikal bakal Keraton Kasepuhan. Nama Pakungwati berasal dari nama Ratu Dewi Pakungwati binti Pangeran Cakrabuana yang menikah dengan Sunan Gunung Jati. Keraton Kasepuhan kini terletak di kelurahan Kesepuhan. Lemahwungkuk. Cirebon. Selain megah, keraton ini memiliki museum bendabenda kuno yang cukup lengkap. Salah satu koleksinya yang terkenal adalah Kereta Singa Barong, kereta kecana Sunan Gunung Jati yang hanya dikeluarkan setiap 1 Syawal untuk dimandikan, dan banyak lagi lainnya. Nilai Kearifan Lokal dalam Bangunan Keraton Kasepuhan Cirebon nilai kearifan lokal yang tercermin dari pengetahuan masyarakat akan leksikon etnoarsitektur. Dari keseluruhan leksikon etnoarsitektur yang ditemukan, terdapat sejumlah leksikon yang mengandung nilai kearifan lingkungan yang menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat. Kearifan lingkungan ini sebagai perilaku positif manusia dalam berhubungan dengan alam serta lingkungan sekitarnya. Kearifan tersebut berasal dari nilai-nilai dan petuah mengenai Keraton Kasepuhan Cirebon yang sudah terbangun secara alamiah. Nilainilai kebaikan tersebut salah satunya tercermin pada wasiat mengenai aturan renovasi bangunan yang ada di kawasan Keraton Kasepuhan. Dalam keterangan yang dijelaskan oleh seorang narasumber dalam penelitian ini, wasiat tersebut meliputi : harus menyesuaikan bentuk asli dari bangunan tersebut, . menggunakan bahan yang sama dengan bahan yang digunakan sebelumnya, dan . tidak merusak bangunan yang ada. Selain mengandung nilai kearifan lokal, leksikon etnoarsitektur Keraton Kasepuhan juga cerminan konsep green architecture atau arsitektur hijau. Adapun konsep green architecture yang dimaksud adalah sebuah konsep arsitektur yang berusaha meminimalkan berbagai pengaruh membahayakan terhadap lingkungan alam dan kesehatan manusia (Sudarwani, 2012. Febrianto, 2. Konsep tersebut tercermin melalui pemahaman KUSUMA: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat E-ISSN 3089-2805 Vol. No. Tahun 2024 | Hal. 1 Ae 17 https://ojs. id/index. php/kjpkm/index masyarakat akan leksikon etnoarsitektur Keraton Kasepuhan. Pemahaman tersebut tercermin pada leksikon tugu manunggal, candi laras, pintu buk bacem, padasan, sirap, usuk, eryng, pasak, bilik, dan terali kayu. Beberapa leksikon tersebut terbuat dari bahan alam, yaitu batu, kayu, tanah liat, dan bambu. Penggunaan bahan bangunan yang terbuat dari bahan alam adalah salah satu upaya manusia untuk tidak merusak lingkungan sekitar, hal ini sesuai dengan prinsip penting dalam konsep arsitektur hijau poin kelima yaitu limitting new resources . eminimalkan sumber daya bar. , yang artinya dalam perancangan suatu bangunan sebisa mungkin harus mengoptimalkan penggunaan material yang ada dan harus menggunakan material yang aman sehingga tidak membahayakan ekosistem dan sumber daya alam. Tidak hanya itu, leksikon bangsal pagelaran, bangsal pringgadani, bangsal prabayaksa, dan bangsal agung panembahan juga mencerminkan bangunan yang sustainable . , arthfriendly . amah lingkunga. , dan high performance building . angunan dengan performa sangat bai. , hal ini karena bangunan tersebut merupakan bangunan yang memiliki konsep menyatu dengan alam dengan desain terbuka sehingga dapat beradaptasi dengan iklim di lingkungan sekitarnya. Selain itu, dalam konstruksinya bangunan tersebut turut memperhatikan lingkungan dengan pemilihan material yang didominasi oleh kayu jati. Dengan desain yang terbuka, bangunan tersebut tentunya dapat meminimalkan penggunaan energi karena memanfaatkan energi yang berasal dari alam . nergy of natur. Kemudian, leksikon batu, batu bata, batu alam, wadas, lympung, dan kayu jati merupakan hasil alam. Hasil alam tersebut digunakan sebagai bahan yang mendominasi dalam setiap bangunan Keraton Kasepuhan. Pemilihan bahan bangunan yang berasal dari alam ini mencerminkan konsep arsitektur yang berkelanjutan sebagai konsekuensi dari komitmen internasional tentang pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDG. Hal tersebut karena pada penerapannya, arsitektur Keraton Kasepuhan menggunakan bahan bangunan yang tergolong ramah lingkungan dan Teori utama dalam penelitian ini adalah sustainable tourism atau pariwisata Teori ini dikemukakan oleh Bramwell pada tahun 1993. Menurutnya pariwisata berkelanjutan merupakan suatu pengembangan lingkungan yang memiliki dampak positif untuk sekitarnya yang dapat dirasakan untuk saat ini dan masa yang akan datang (Bramwell, 1. Pada mulanya konsep pariwisata berkelanjutan atau sustainable tourism berasal dari konsep pembangunan berkelanjutan atau sustainable development yang dimunculkan oleh WCED (World Commision on Environment and Developmen. di tahun 1987 yang selanjutnya The World Tourism Organization (UNWTO) mengangkat konsep keberlanjutan dan menjelaskan bahwa pariwisata berkelanjutan merupakan gambaran pariwisata yang mengutamakan kelestarian lingkungan, aspek-aspek budaya dan sosial, serta efek kesejahteraan di sekitar (Tamrin et al. Maksud konsep tersebut dasardasar keberlanjutan dibuat guna memakai sumber daya dengan maksimal dan bersama-sama menjaga dan meningkatkan kualitas alam (Pinanatri 2. Menurut Sunaryo, banyak pariwisata yang melahirkan kegundahan dari banyak bidang tentang KUSUMA: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat E-ISSN 3089-2805 Vol. No. Tahun 2024 | Hal. 1 Ae 17 https://ojs. id/index. php/kjpkm/index dampak negatif diantaranya bidang sosial, budaya, dan ekonomi yang diakibatkan oleh kegiatan pariwisata sehingga bisa dikatakan bahwa pariwisata berkelanjutan bisa menjadi jawaban atas persoalan yang ada (Agfianto. Antara, and Suardana 2. Konsep dasar dari pengembangan pariwisata berkelanjutan menjadikan masyarakat sekitar, lingkungan sekitar, dan ekonomi menjadi pegangan atau pilar dalam Tujuan konsep dasar tersebut yaitu keseimbangan dari penghasilan masyarakat, pemberdayaan, kebiasaan, nilainilai lokal dan kelestarian lingkungan sekeliling lokasi wisata (Agfianto. Antara, and Suardana 2. Menurut Mclntyre yang tertrtuang di dalam buku Sustainable Tourism Development Guide for Local Planner menjelaskan bahwa terdapat tiga elemen penting yang saling berhubungan dalam membangun dan pengembangan pariwisata berkelanjutan dan jika elemen ini dikaitkan akan menumbuhkan kualitas hidup masyarakat. Tiga elemen tersebut yaitu: Industri Pariwisata : Industri pariwisata merupakan sesuatu yang bisa meningkatkan ekonomi dapat berupa lapangan pekerjaan, meningkatkan penghasilan, mendukung penanaman modal, dan bertambahnya peluang untuk pengembangan usaha. Lingkungan : Hal yang mendorong kepariwisataan bisa bertahan lama yaitu model dan tingkat kegiatan kepariwisataan harus proporsional antara daya tampung yang tersedia, baik sumber daya alam ataupun buatan. Masyarakat : Kenaikan taraf hidup masyarakat merupakan aspek pokok. Jika masyarakat dilibatkan disemua kegiatan maka masyarakat memiliki motivasi dan merasa mempunyai tanggung jawab atas keputusan yang dipilih. Dalam konteks penelitian mengenai peran Keraton Kasepuhan Cirebon, studi literatur memungkinkan peneliti untuk mendapatkan wawasan mendalam tentang aspek sejarah, budaya, dan aktivitas yang terkait dengan keraton tersebut. Namun, penting untuk mencatat bahwa studi literatur juga memiliki batasan. Terkadang, terdapat keterbatasan informasi yang tersedia, atau mungkin ada perbedaan pendapat dan interpretasi dalam sumber-sumber literatur yang digunakan. Oleh karena itu, penting bagi peneliti untuk melakukan analisis kritis terhadap sumber-sumber yang digunakan dan mencari kesepakatan atau bukti tambahan dari sumber-sumber lain. Dengan menggunakan metode studi literatur, artikel ini akan memberikan pemahaman yang komprehensif tentang peran Keraton Kasepuhan Cirebon sebagai pusat pemeliharaan dan pembangunan budaya, berdasarkan informasi yang terdokumentasi dalam literatur yang ada. Dampaknya adalah berkembangnya sektor pariwisata, pertumbuhan usaha mikro dan kecil di sekitar keraton, serta peningkatan pendapatan masyarakat setempat yang terlibat dalam industri pariwisata. Pendidikan dan Pengetahuan Budaya: Keraton Kasepuhan Cirebon juga berperan sebagai pusat penyebaran informasi dan pengetahuan tentang budaya Cirebon. Dengan memiliki perpustakaan, galeri, dan ruang dokumentasi, keraton memberikan akses kepada masyarakat untuk mempelajari sejarah, seni, dan budaya Cirebon. Dampaknya adalah meningkatnya pemahaman masyarakat tentang warisan budaya. KUSUMA: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat E-ISSN 3089-2805 Vol. No. Tahun 2024 | Hal. 1 Ae 17 https://ojs. id/index. php/kjpkm/index pengembangan penelitian dan studi tentang budaya Cirebon, serta peningkatan kualitas pendidikan budaya di wilayah tersebut (Junaedi, 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk menganalisis strategi pariwisata berkelanjutan di Keraton Kasepuhan Cirebon. Metode ini bertujuan untuk menyajikan data dalam bentuk uraian naratif mendalam dan sistematis, dengan memperhatikan hubungan antara berbagai kategori, konsep, dan tema yang ditemukan selama penelitian. Teknik ini memungkinkan peneliti untuk menggambarkan fenomena secara holistik, menjelaskan praktik pengelolaan warisan budaya, dan memberikan rekomendasi konstruktif bagi pengembangan pariwisata berkelanjutan (Miles & Huberman. Pendekatan ini dilakukan melalui metode studi kasus, yang relevan untuk memahami kompleksitas strategi yang diterapkan di lokasi penelitian (Yin, 2. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi wawancara mendalam, observasi langsung, dan studi dokumentasi. Wawancara semi-terstruktur dilakukan dengan berbagai narasumber, termasuk pengelola Keraton Kasepuhan, pelaku pariwisata, tokoh budaya, serta pengunjung. Pendekatan ini dirancang untuk menggali informasi mengenai strategi pengelolaan, tantangan, dan peluang dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan. Observasi langsung di lapangan memungkinkan peneliti untuk mengamati aktivitas pariwisata, interaksi pengelola dengan pengunjung, serta praktik pelestarian budaya yang Selain itu, studi dokumentasi dilakukan dengan menelaah dokumen resmi, arsip sejarah, laporan kebijakan, dan sumber tertulis lainnya yang relevan untuk memperkaya data penelitian (Creswell, 2. Analisis data dilakukan dengan teknik analisis kualitatif yang bersifat induktif dan interaktif (Miles & Huberman, 1. Proses ini mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Data yang terkumpul melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi diorganisasikan, dipilah, dan dikategorikan berdasarkan tema yang relevan dengan fokus penelitian. Peneliti kemudian mengidentifikasi pola dan mengembangkan konsep analitis yang dapat menjelaskan strategi pariwisata berkelanjutan di Keraton Kasepuhan. Hasil analisis disajikan dalam bentuk deskriptif naratif untuk memberikan interpretasi yang komprehensif. Penyajian ini dirancang untuk mengungkapkan hubungan antara temuan penelitian, serta menyampaikan rekomendasi yang relevan bagi pengembangan pariwisata yang berkelanjutan (Neuman, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Keraton Kasepuhan Cirebon merupakan permata arsitektur Jawa yang menakjubkan, memperlihatkan perpaduan unik antara gaya arsitektur tradisional Jawa, pengaruh Islam, dan sentuhan arsitektur kolonial Belanda. Bangunan utama keraton dibangun dengan detail arsitektur yang sangat kompleks, dengan ornamen dan ukiran kayu yang menggambarkan keagungan budaya Cirebon. Setiap sudut bangunan menceritakan KUSUMA: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat E-ISSN 3089-2805 Vol. No. Tahun 2024 | Hal. 1 Ae 17 https://ojs. id/index. php/kjpkm/index sejarah panjang kerajaan, mulai dari struktur tiang-tiang kayu yang kokoh, ornamen ukirukiran yang rumit, hingga pintu dan jendela yang menampilkan keindahan seni tradisional. Arsitektur keraton ini tidak sekadar bangunan fisik, melainkan sebuah karya seni hidup yang menjadi saksi bisu perjalanan sejarah dan budaya Cirebon (Yin,2. Museum dalam kompleks Keraton Kasepuhan menyimpan koleksi barang bersejarah yang sangat langka dan bernilai tinggi. Mulai dari kereta kerajaan yang megah, senjata tradisional, pakaian adat kebesaran para bangsawan, hingga peralatan upacara tradisional yang memiliki makna simbolik mendalam. Setiap benda memiliki cerita tersendiri, mulai dari keris pusaka yang dipercaya memiliki kekuatan magis, kostum kerajaan yang menggambarkan stratifikasi sosial, hingga dokumen-dokumen kerajaan yang membuka jendela sejarah Cirebon. Koleksi ini tidak hanya menarik dari segi historis, tetapi juga memiliki nilai edukasi yang tinggi bagi pengunjung untuk memahami kompleksitas budaya dan sejarah Keraton Kasepuhan (Creswell,2. Tata ruang Keraton Kasepuhan dirancang dengan filosofi dan makna simbolik yang mendalam, mencerminkan konsep kosmologi Jawa. Halaman keraton, bangunan pendukung, taman, dan area upacara memiliki tata letak yang sarat makna, menggambarkan hubungan antara manusia, alam, dan spiritual. Setiap area memiliki fungsi dan makna tersendiri, mulai dari pendapa yang berfungsi sebagai ruang publik, hingga area privat untuk keluarga kerajaan. Lanskap hijau di sekitar keraton dengan pohon-pohon tua, kolam, dan taman memberikan suasana yang tenang dan mistis, seolah membawa pengunjung kembali ke masa kejayaan kerajaan (Neuman,2. Keraton Kasepuhan merupakan pusat pengembangan dan pelestarian berbagai seni tradisional Cirebon. Berbagai seni pertunjukan seperti wayang kulit, tari topeng Cirebon, musik gamelan, dan seni musik tradisional lainnya masih hidup dan dipelihara dengan baik di dalam kompleks keraton. Setiap pertunjukan tidak sekadar tontonan, tetapi merupakan media untuk menceritakan nilai-nilai filosofis, sejarah, dan kehidupan masyarakat. Keunikan seni pertunjukan Cirebon terletak pada gaya dan karakteristik lokalnya yang kuat, yang tidak dapat ditemukan di daerah lain di Nusantara (Miles & Huberman, 1. Keraton Kasepuhan masih mempertahankan berbagai upacara dan ritual tradisional yang memiliki makna spiritual dan sosial yang mendalam. Upacara-upacara seperti Seba Keraton. Sekaten, dan berbagai ritual adat lainnya masih dijalankan secara rutin, menjaga kontinuitas tradisi leluhur. Setiap upacara memiliki makna filosofis tersendiri, mulai dari membangun keharmonisan sosial, menghormati leluhur, hingga memohon keselamatan dan Ritual-ritual ini tidak hanya menarik dari segi visual, tetapi juga memberikan pengalaman spiritual dan budaya yang mendalam bagi para pengunjung. Keraton Kasepuhan tidak hanya menyimpan warisan fisik, tetapi juga warisan intelektual yang luar biasa. Perpustakaan dan arsip keraton menyimpan manuskrip-manuskrip kuno, naskah sejarah, dan dokumentasi pengetahuan tradisional yang sangat berharga (Yin, 2. Kearifan lokal yang tersimpan dalam berbagai dokumen ini mencakup berbagai bidang, mulai dari pertanian, pengobatan tradisional, astronomi, hingga filsafat dan spiritual. Warisan intelektual ini merupakan sumber pengetahuan yang tak ternilai, yang dapat memberikan KUSUMA: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat E-ISSN 3089-2805 Vol. No. Tahun 2024 | Hal. 1 Ae 17 https://ojs. id/index. php/kjpkm/index perspektif berbeda tentang pemahaman dunia dan kehidupan. Kegiatan budaya yang dapat dikembangkan di Keraton Kasepuhan yaitu akademi seni dan budaya tradisional, karena Keraton Kasepuhan memiliki potensi besar untuk mendirikan akademi seni dan budaya tradisional yang komprehensif. Lembaga pendidikan ini dapat fokus pada pelatihan dan pengembangan berbagai seni tradisional seperti tari topeng, wayang kulit, musik gamelan, seni ukir, dan kerajinan tradisional lainnya. Kurikulum dapat dirancang secara holistik, tidak hanya mengajarkan teknik dan keterampilan, tetapi juga filosofi, sejarah, dan konteks budaya di balik setiap seni. Akademi ini dapat menjadi pusat regenerasi seniman tradisional sekaligus laboratorium hidup untuk pengembangan seni dan budaya Cirebon. Lalu mengembangkan program magang dan pertukaran budaya dapat menjadi strategi efektif untuk melestarikan dan mengembangkan warisan budaya Keraton Kasepuhan. Program ini dapat melibatkan generasi muda baik dari dalam maupun luar daerah untuk belajar langsung di keraton. Peserta magang dapat dilibatkan dalam berbagai kegiatan, mulai dari dokumentasi sejarah, pelestarian benda-benda bersejarah, hingga partisipasi dalam upacara dan ritual tradisional. Program pertukaran budaya juga dapat diselenggarakan dengan keraton atau lembaga budaya lain di Indonesia dan internasional, memungkinkan terjadinya dialog dan apresiasi lintas budaya. Mendirikan pusat penelitian dan dokumentasi budaya di dalam kompleks Keraton Kasepuhan juga dapat menjadi inisiatif strategis untuk melestarikan dan mengembangkan warisan budaya. Pusat ini dapat menjadi rujukan penelitian tentang sejarah, budaya, dan tradisi Cirebon. Kegiatan yang dapat dilakukan meliputi digitalisasi arsip dan manuskrip kuno, penelitian lapangan, publikasi ilmiah, dan pengembangan basis data kebudayaan. Kolaborasi dengan perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan pakar dari berbagai disiplin ilmu dapat memperkaya dan memperluas cakupan penelitian, menyelenggarakan festival budaya tahunan yang dapat menjadi strategi untuk mempromosikan dan menghidupkan kembali berbagai seni dan tradisi Keraton Kasepuhan (Creswell, 2013. Neuman, 2. Festival dapat mencakup berbagai kegiatan seperti pameran seni, pertunjukan tradisional, lomba kesenian, workshop budaya, dan pameran produk kerajinan lokal. Konsep festival dapat dirancang secara tematik, misalnya fokus pada seni pertunjukan, kuliner tradisional, atau tema khusus yang berkaitan dengan sejarah dan budaya Cirebon. Festival ini tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga menjadi media edukasi dan pelestarian budaya dan mengembangkan program workshop kerajinan dan seni tradisional juga dapat menjadi cara efektif untuk melibatkan masyarakat dan wisatawan dalam pelestarian budaya. Workshop dapat mencakup berbagai kegiatan seperti pewarnaan batik, ukir kayu, seni membuat topeng, musik gamelan, dan kerajinan tradisional lainnya. Peserta workshop tidak hanya berasal dari wisatawan, tetapi juga generasi muda lokal yang ingin mempelajari warisan budayanya. Selain melestarikan keterampilan, workshop juga dapat menjadi sumber pendapatan alternatif bagi seniman dan pelaku seni tradisional. Merancang program wisata budaya yang terintegrasi dan komprehensif dapat menjadi strategi untuk mengembangkan pariwisata berbasis budaya di Keraton Kasepuhan. Program ini dapat mencakup paket wisata yang tidak hanya sekadar mengunjungi lokasi. KUSUMA: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat E-ISSN 3089-2805 Vol. No. Tahun 2024 | Hal. 1 Ae 17 https://ojs. id/index. php/kjpkm/index tetapi memberikan pengalaman mendalam tentang budaya Cirebon. Misalnya, wisatawan dapat tinggal bersama keluarga lokal, mengikuti upacara tradisional, belajar seni tradisional, dan terlibat dalam kegiatan sehari-hari masyarakat. Pendekatan ini tidak hanya memberikan pengalaman wisata yang unik, tetapi juga mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat Strategi pariwisata berkelanjutan merupakan pendekatan yang mengutamakan keseimbangan antara kebutuhan industri pariwisata dengan pelestarian lingkungan, pemberdayaan masyarakat lokal, serta manfaat ekonomi yang adil. Dalam konteks ini, pariwisata berkelanjutan menjadi penting untuk menjaga kelestarian warisan budaya dan lingkungan sekitar, sambil memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal. Strategi yang diterapkan harus mampu mengelola kunjungan wisatawan secara bijaksana, meminimalkan dampak negatif terhadap ekosistem, dan melibatkan partisipasi aktif masyarakat dalam pengelolaan pariwisata. Pengembangan produk wisata ramah lingkungan di Keraton Kasepuhan harus dibangun di atas fondasi konsep ekowisata budaya yang holistik dan berkelanjutan. Pendekatan ini tidak hanya fokus pada pelestarian lingkungan fisik, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan ekosistem budaya dan sosial. Ekowisata budaya di Keraton Kasepuhan dapat dirancang sebagai pengalaman wisata yang mendalam, di mana pengunjung tidak sekadar menjadi penonton, tetapi menjadi bagian dari proses pelestarian dan pengembangan budaya. Konsep ini melibatkan desain infrastruktur wisata yang minimal memberikan dampak lingkungan, menggunakan material lokal dan berkelanjutan, serta menerapkan prinsip-prinsip konservasi yang ketat (Weaver, 2. Strategi pengembangan produk wisata ramah lingkungan memerlukan manajemen sumber daya yang komprehensif dan berkelanjutan. Hal ini mencakup pengelolaan energi dengan menggunakan sumber energi terbarukan seperti panel surya, sistem pengolahan air daur ulang, dan desain bangunan yang memaksimalkan pencahayaan dan pendinginan Kawasan Keraton Kasepuhan dapat menjadi contoh model konservasi energi dan sumber daya alam dengan menerapkan teknologi hijau yang canggih namun tetap mempertahankan autentisitas arsitektur dan budaya tradisional. Sistem manajemen limbah yang terintegrasi, penggunaan material ramah lingkungan (Gossling & Hall, 2. , dan praktik daur ulang akan menjadi komponen kunci dalam mewujudkan konsep pariwisata Produk wisata ramah lingkungan di Keraton Kasepuhan harus mampu mengintegrasikan edukasi lingkungan sebagai bagian integral dari pengalaman wisata. Hal ini dapat diwujudkan melalui program-program interaktif yang memperkenalkan praktik konservasi lingkungan, pelestarian biodiversitas, dan pentingnya menjaga keseimbangan Misalnya, pengunjung dapat dilibatkan dalam kegiatan penanaman pohon di area sekitar keraton, mengikuti workshop tentang pertanian organik tradisional, atau berpartisipasi dalam program dokumentasi keanekaragaman hayati. Pendekatan edukasi ini tidak hanya meningkatkan kesadaran lingkungan, tetapi juga memberikan pengalaman wisata yang bermakna dan transformative (Honey, 2. KUSUMA: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat E-ISSN 3089-2805 Vol. No. Tahun 2024 | Hal. 1 Ae 17 https://ojs. id/index. php/kjpkm/index Selain itu, pengembangan infrastruktur wisata di Keraton Kasepuhan harus memperhatikan prinsip-prinsip arsitektur dan desain berkelanjutan yang menghormati warisan budaya dan lingkungan. Hal ini berarti merancang fasilitas wisata yang terintegrasi dengan lanskap alami dan arsitektur tradisional, menggunakan material lokal dan ramah lingkungan, serta menerapkan teknologi hijau yang tidak mengganggu karakter historis Bangunan-bangunan baru atau renovasi harus mengadopsi konsep desain pasif yang memanfaatkan sirkulasi udara alami, pencahayaan matahari, dan sistem pengelolaan air yang Pendekatan ini tidak hanya meminimalkan jejak karbon, tetapi juga menciptakan ruang wisata yang autentik, estetis, dan berkelanjutan. Pelibatan masyarakat lokal mensyaratkan investasi berkelanjutan dalam pengembangan kapasitas dan keterampilan. Program pelatihan komprehensif harus dirancang untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengelola usaha pariwisata, mulai dari keterampilan manajerial, pelayanan prima, hingga pemahaman tentang pentingnya pelestarian budaya dan lingkungan. Keraton Kasepuhan dapat mendirikan pusat pelatihan khusus yang memberikan sertifikasi profesional bagi masyarakat lokal, memastikan mereka memiliki kompetensi yang dibutuhkan dalam industri pariwisata modern sambil tetap mempertahankan nilai-nilai budaya tradisional (Timothy & Boyd, 2. Pelibatan masyarakat lokal dalam pengelolaan pariwisata harus dipandang sebagai upaya preservasi dan revitalisasi praktik budaya tradisional. Masyarakat lokal tidak hanya dilihat sebagai penyedia layanan, tetapi sebagai penjaga dan pengembang warisan budaya. Program-program yang mendorong regenerasi seniman tradisional, mendukung praktik seni dan kerajinan tradisional, serta memberikan ruang bagi ekspresi budaya lokal harus menjadi prioritas. Misalnya, membuat skema beasiswa bagi generasi muda untuk mempelajari seni tradisional, memberikan insentif bagi pelaku seni, dan menciptakan pasar yang berkelanjutan untuk produk budaya lokal. Strategi selanjutnya yaitu bisa dengan membangun merek pariwisata berkelanjutan bagi Keraton Kasepuhan yang komprehensif dan autentik. Identitas merek harus mencerminkan nilai-nilai pelestarian budaya, keberlanjutan lingkungan, dan keterlibatan masyarakat lokal. Pengembangan logo, desain visual, dan narasi merek harus dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan seniman lokal, akademisi, dan masyarakat. Sertifikasi dan penghargaan internasional terkait pariwisata berkelanjutan dapat digunakan untuk memvalidasi kredibilitas dan komitmen (Buckley, 2. Keraton Kasepuhan dalam mengembangkan model pariwisata yang bertanggung jawab. Promosi pariwisata berkelanjutan juga tidak dapat dilepaskan dari upaya edukasi dan peningkatan kesadaran global tentang pentingnya pelestarian warisan budaya dan lingkungan. Keraton Kasepuhan dapat menginisiasi kampanye global melalui platform media internasional, kolaborasi dengan lembaga pendidikan dan konservasi, serta mengembangkan program pertukaran Fokus kampanye tidak sekadar mempromosikan destinasi wisata, tetapi mengajak masyarakat global untuk memahami kompleksitas warisan budaya, tantangan pelestarian, dan peran pariwisata dalam mendukung keberlanjutan. Pendekatan ini akan menghasilkan bentuk promosi yang lebih mendalam, bermakna, dan berdampak transformative (Weaver. KUSUMA: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat E-ISSN 3089-2805 Vol. No. Tahun 2024 | Hal. 1 Ae 17 https://ojs. id/index. php/kjpkm/index Dampak ekonomi pariwisata berkelanjutan di Keraton Kasepuhan mencakup peningkatan pendapatan masyarakat lokal dan pengembangan ekonomi kreatif. Melalui partisipasi aktif dalam ekosistem pariwisata, masyarakat dapat mengembangkan usaha-usaha berbasis budaya yang berkelanjutan. Hal ini tidak hanya meningkatkan kesejahteraan ekonomi, tetapi juga mendorong pelestarian warisan budaya sebagai aset ekonomi yang Aspek sosial-budaya dari pariwisata berkelanjutan memberikan ruang bagi revitalisasi dan pelestarian tradisi masyarakat Cirebon. Keterlibatan generasi muda dalam kegiatan pariwisata budaya dapat menciptakan kesadaran dan kebanggan akan warisan Proses ini mendorong regenerasi pengetahuan dan praktik budaya yang sempat termarjinalkan oleh arus modernisasi. Dampak lingkungan dari pendekatan pariwisata berkelanjutan ditunjukkan melalui upaya konservasi dan perlindungan kawasan Keraton Kasepuhan. Implementasi praktik ramah lingkungan, pengelolaan sampah berkelanjutan, serta edukasi lingkungan bagi wisatawan berkontribusi pada pelestarian ekosistem dan pengurangan jejak karbon. Pendekatan ini menciptakan model pariwisata yang bertanggung jawab terhadap lingkungan. Pengembangan kapasitas masyarakat melalui pariwisata berkelanjutan membuka peluang peningkatan keterampilan dan pengetahuan. Program pelatihan, workshop, serta kesempatan transfer pengetahuan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia lokal. Hal ini tidak hanya berdampak pada sektor pariwisata, tetapi juga mendorong pemberdayaan masyarakat secara komprehensif. Dampak psikologis pariwisata berkelanjutan tercermin dalam peningkatan rasa percaya diri dan kebanggan masyarakat terhadap warisan budayanya. Ketika budaya lokal dihargai dan dikembangkan melalui pariwisata, masyarakat mengalami penguatan identitas dan resiliensi kultural. Proses ini menciptakan hubungan yang harmonis antara pelestarian budaya dan pengembangan ekonomi. Konstruksi identitasultural melalui pariwisata berkelanjutan memungkinkan terjadinya dialog antargenerasi dan antarbudaya. Keraton Kasepuhan menjadi ruang negosiasi makna, di mana tradisi tidak hanya dipertahankan, tetapi juga diinterpretasi ulang secara dinamis. Hal ini mencegah terjadinya pengawetan budaya yang statis dan mendorong kreativitas dalam pelestarian warisan. Dampak edukasi dari pariwisata berkelanjutan meluas hingga membentuk kesadaran global tentang pentingnya pelestarian warisan budaya dan lingkungan. Melalui pengalaman wisata di Keraton Kasepuhan, wisatawan tidak sekadar menerima informasi, tetapi juga mengalami transformasi perspektif tentang keberlanjutan. Proses ini berkontribusi pada pembentukan generasi yang lebih peduli terhadap warisan budaya dan Proyeksi jangka panjang menunjukkan bahwa pariwisata berkelanjutan dapat menjadi model pengembangan destinasi warisan budaya di Indonesia. Keraton Kasepuhan berpotensi menjadi benchmark bagi destinasi serupa, menunjukkan bahwa pelestarian KUSUMA: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat E-ISSN 3089-2805 Vol. No. Tahun 2024 | Hal. 1 Ae 17 https://ojs. id/index. php/kjpkm/index budaya dan pengembangan ekonomi dapat berjalan beriringan secara harmonis. Keberhasilan model ini dapat mendorong replikasi praktik serupa di berbagai kawasan warisan budaya lainnya. KESIMPULAN Keraton Kasepuhan Cirebon adalah keraton yang terletak di Cirebon. Jawa Barat. Indonesia. Sebagai Pusat Pemeliharaan dan Pembangunan Budaya, keraton ini memiliki peran penting dalam melestarikan warisan budaya dan mempromosikan kekayaan budaya Cirebon. Sedangkan. Kepariwisataan adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah, dan pemerintah daerah. Prinsip-prinsip pariwisata berkelanjutan dapat dikenali melalui partisipasi, keikutsertaan para pelaku . , kepemilikan lokal, penggunaan sumber daya secara berkelanjutan, mewadahi aspirasi masyarakat untuk mencapai tujuan dalam kesuksesan sektor pariwisata, kepedulian terhadap daya dukung, monitor dan evaluasi, akuntabilitas, pelatihan serta promosi. Potensi yang dimiliki oleh Keraton Kasepuhan yaitu adanya arsitektur Jawa yang menakjubkan, memperlihatkan perpaduan unik antara gaya arsitektur tradisional Jawa, pengaruh Islam, dan sentuhan arsitektur kolonial Belanda, menyimpan koleksi barang bersejarah yang sangat langka dan bernilai tinggi. Tata ruang Keraton Kasepuhan dirancang dengan filosofi dan makna simbolik yang mendalam, mencerminkan konsep kosmologi Jawa dan merupakan pusat pengembangan dan pelestarian berbagai seni tradisional Cirebon. Strategi Pariwisata berkelanjutan merupakan pendekatan yang mengutamakan keseimbangan antara kebutuhan industri pariwisata dengan pelestarian lingkungan, pemberdayaan masyarakat lokal, serta manfaat ekonomi yang adil. Pariwisata berkelanjutan di Keraton Kasepuhan memberikan dampak positif dalam berbagai aspek, baik ekonomi, sosial-budaya, lingkungan, psikologis, maupun edukasi. DAFTAR PUSTAKA