Volume 8 | Nomor 2 | Tahun 2025 | Halaman 521Ai538 E-ISSN 2615-8655 | P-ISSN 2615-725X http://diglosiaunmul. com/index. php/diglosia/article/view/1175 Variasi bentuk dan pembeda makna gatra sifat yang bersinonim dalam bahasa Rejang isolek Talang Boseng Variations in form and distinctive meanings of synonymous adjectives in the Talang Boseng Isolect of the Rejang Language Nadra1,*. Noviatri2, & Tiara Juwita3 1,2,3 Universitas Andalas Kampus Universitas Andalas Limau Manis. Padang. Indonesia *Email: nadra@hum. Orcid: https://orcid. org/0000-0003-2404-6129 Email: noviatriyat@yahoo. Orcid: https://orcid. org/0000-0002-0832-8778 Email: tiarajuwita28@gmail. Orcid: https://orcid. org/0009-0008-0490-3449 Article History Received 7 January 2025 Revised 28 April 2025 Accepted 5 May 2025 Published 16 June 2025 Keywords distinguishing features. Rejang language. Kata Kunci bahasa Rejang. gatra Sifat. komponen makna. Read online Scan this QR code with your smart phone or mobile device to read online. Abstract This research aims to explain the form, semantic components, and distinguishing features of synonymous adjectives in the Rejang language, based on a study in Talang Boseng Village. Pondok Kelapa District. Central Bengkulu Regency. Bengkulu Province. A descriptive research design with a qualitative approach was employed. Data collection involved interview and observation methods. For data analysis, translational equivalence, distributional, and componential analysis methods were utilized. The distributional method was applied using substitution and expansion techniques. The findings reveal two forms of synonymous adjectives: word-to-word and word-to-phrase. The semantic components of these synonymous adjectives can be categorized into four groups: . tending to be similar, . tending to be different, . exactly the same, and . an equal number of similarities and differences. Nine factors differentiating the meanings of these synonymous adjectives were identified: . one is more general, . more intensive, . more emotive, . more professional, . encompasses acceptance and rejection, . more colloquial, . local or regional in nature, . differences in application, and . differences in implication. The distinctiveness of adjectives in the Talang Boseng isolect of the Rejang language is evident in the semantic differences arising from variations in application, which can be further subdivided into temporal and object Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan bentuk, komponen makna, dan faktor pembeda makna gatra sifat yang bersinonim dalam bahasa Rejang. Lokasi penelitian ini di Desa Talang Boseng. Kecamatan Pondok Kelapa. Kabupaten Bengkulu Tengah. Provinsi Bengkulu. Jenis penelitian deskriptif dan pendekatan kualitatif digunakan dalam penelitian ini. Penyediaan data dilakukan dengan metode wawancara dan metode simak. Untuk menganalisis data, digunakan metode padan translasional, metode agih, dan analisis Adapun metode agih diterapkan dengan teknik ganti dan teknik perluas. Hasilnya, gatra sifat yang bersinonim ditemukan dua bentuk, yaitu kata dengan kata dan kata dengan frasa. Komponen makna gatra sifat yang bersinonim dapat dibedakan atas empat kelompok, yaitu: . cenderung sama, . cenderung berbeda, . sama persis, dan . persamaan dan perbedaan sama banyak. Ada sembilan faktor pembeda makna gatra sifat yang ditemukan, yaitu: . salah satu di antaranya lebih bersifat umum, . lebih intensif, . lebih emotif, . lebih profesional, . mencakup penerimaan dan penolakan, . lebih kolokial, . bersifat lokal atau kedaerahan, . perbedaan aplikasi, dan . perbedaan implikasi. Kekhasan gatra sifat dalam bahasa Rejang isolek Talang Boseng terlihat dari adanya perbedaan makna yang timbul karena perbedaan aplikasi yang dapat dibagi secara lebih rinci menjadi aplikasi waktu dan aplikasi objek. A 2025 The Author. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya by Universitas Mulawarman How to cite this article with APA style 7th ed. Nadra. Noviatri. , & Juwita. Variasi bentuk dan pembeda makna gatra sifat yang bersinonim dalam bahasa Rejang Talang Boseng. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra. Pengajarannya, 8. , 521Ae538. https://doi. org/10. 30872/diglosia. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya is an open access article under the terms of the Creative Commons Attribution-Share Alike 0 International License (CC BY-SA 4. Nadra. Noviatri, & Tiara Juwita Pendahuluan Provinsi Bengkulu memiliki beragam suku dengan bahasa daerahnya sendiri, seperti suku Serawai. Rejang. Pasemah. Pekal. Enggano, dan Melayu. Di antara suku-suku tersebut, suku Rejang mendiami daerah yang cukup luas dibandingkan dengan suku lainnya, yakni terdapat di Kabupaten Lebong. Rejang Lebong. Kepahiang. Bengkulu Tengah, dan Bengkulu Utara. Bahasa yang digunakan oleh suku Rejang tersebut adalah bahasa Rejang. Sebagai bahasa yang digunakan di daerah yang cukup luas, bahasa Rejang ini mendapat perhatian khusus oleh Pemerintah Provinsi Bengkulu. Bahkan, bahasa Rejang dijadikan sebagai mata pelajaran muatan lokal di beberapa Langkah pemerintah tersebut tentunya perlu didukung oleh sejumlah hasil penelitian. samping itu, penelitian ini juga sangat penting dilakukan dalam rangka pelestarian bahasa daerah. Salah satu bentuk kekayaan bahasa Rejang yang menarik untuk diteliti adalah sinonim. Dalam hal ini suatu bentuk dapat mengandung makna yang mirip atau sama dengan beberapa bentuk yang lainnya. Chaer . menjelaskan bahwa sinonim dalam suatu bahasa dapat memiliki bentuk yang beragam, seperti sinonim antara satu kata dengan kata lainnya, antara satu kata dengan frasa, antara frasa dengan frasa lainnya, dan sinonim antara kalimat dengan kalimat Ratnaningsih . menjelaskan bahwa sinonim berarti bentuk yang mempunyai makna yang sama atau yang mirip dengan bentuk yang lain. Sinonim termasuk salah satu pembahasan dalam kajian semantik, yaitu ilmu yang mempelajari makna yang disampaikan melalui bahasa Nadra, 2. Sinonim ini relatif banyak digunakan dalam bahasa Rejang. Misalnya, kata bekeno, baes, alep, dan padek memiliki makna yang sama, yakni Aountuk menyatakan sesuatu yang bersifat positif . agus sekal. Ao Contohnya: Bekeno nien foto te nak pantai, bermakna AoBagus sekali foto kita di Ao Bentuk bekeno dapat diganti dengan baes, alep, atau padek dan maknanya tetap sama. Selain dari keberagaman bentuk, hal lain yang menarik dari fenomena sinonim ialah bahwa tidak ada bentuk yang mempunyai makna yang persis sama dalam semua konteks dan situasi. Penggunaan sinonim ada kalanya dimaksudkan untuk mengungkapkan konsep yang sama atau hampir sama, tetapi disampaikan dengan cara yang tidak sama dan dalam situasi yang juga tidak sama, namun hal itu tidak sepenuhnya dapat saling menggantikan (Liu & Espino, 2. Hal itu sejalan dengan pernyataan Zgusta dan Ullman . alam Chaer, 1. yang menegaskan bahwa terdapatnya kesamaan makna antarkata atau antara kata dan frasa atau lebih dari itu, tidaklah bersifat mutlak. Artinya, tidak ada kata atau bentuk lainnya yang mempunyai makna yang sama seratus persen. Pernyataan senada juga dikemukakan oleh Wijana . bahwa suatu kata dapat memiliki kesamaan makna yang sangat dekat dengan kata yang lain, tetapi setiap kata tersebut juga mempunyai komponen makna yang berbeda. Selanjutnya. Abdullah & Daud . menyatakan bahwa sinonim adalah salah satu aspek yang dapat digunakan untuk mengelompokkan suatu leksikal yang digunakan dapat dikatakan mempunyai makna yang mirip atau sama. Hal serupa juga terjadi pada contoh kata bekeno, baes, alep, dan padek yang mempunyai makna yang sama dan dapat saling dipertukarkan. Akan tetapi, dalam konteks yang lain bentuk tersebut tidak dapat dipertukarkan sebab maknanya dalam konteks itu ada perbedaan. Konteks: Bekeno nien lapen yo, bermakna AoEnak sekali sayur ini. Ao Dalam konteks ini, kata bekeno tidak dapat diganti dengan kata baes dan alep, tetapi dengan kata padek masih dapat. Perbedaan makna yang terjadi pada sinonim dapat diakibatkan oleh berbagai sebab. Sebabsebab perbedaan makna antarkata yang bersinonim disebut oleh Ullman . dengan istilah Aupembeda makna. Ay W. Colinson . alam Ullman, 2. mengemukakan sembilan jenis pembeda makna. yaitu: . salah satu di antaranya mempunyai makna yang lebih general atau umum dibandingkan dengan yang lainnya, . salah satu di antaranya lebih intens daripada yang lain, . salah satu anggotanya, lebih emotif daripada yang lain, . salah satu anggotanya dapat mencakup penerimaan atau penolakan, . salah satu anggotanya lebih profesional, . salah satu anggotanya lebih literer, . salah satu anggotanya lebih kolokial, . salah satu anggotanya lebih bersifat lokal atau dialek, dan . salah satu anggotanya termasuk bahasa kanak-kanak. Ahli lain (Parera, 2. menyatakan ada lima perbedaan yang dapat diidentifikasi antarkata yang bersinonim, yaitu . perbedaan makna sinonim akibat adanya perbedaan aplikasi, . perbedaan Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 521Ai538 Variasi bentuk dan pembeda makna gatra sifat yang bersinonim dalam bahasa Rejang isolek Talang Boseng makna sinonim akibat adanya perbedaan implikasi, . perbedaan sinonim berdasarkan kelebihluasan makna, . perbedaan makna sinonim berdasarkan asosiasi yang bersifat konotasi, dan . perbedaan sinonim berdasarkan sudut pandang. Dari kedua teori pembeda makna yang telah dikemukakan, terdapat kesamaan pendapat, yakni perbedaan makna sinonim yang didasarkan oleh kelebihluasan makna sama dengan pembeda makna karena salah satu anggota sinonim bersifat lebih intens. Sebagian teori pembeda makna kurang fleksibel digunakan dalam penelitian ini, seperti pembeda makna karena salah satu anggota sinonim lebih literer daripada yang lain yang mengharuskan penelitian yang melibatkan data secara tertulis. Pembeda makna yang disebabkan oleh adanya perbedaan sudut pandang dan pembeda makna asosiasi yang bersifat konotasi oleh Parera juga hanya dicontohkan dalam kelas kata benda dan tidak diberi contoh dalam kelas kata yang lainnya. Selain itu, pembeda makna yang dikemukakan oleh Colinson yang salah satu anggotanya termasuk bahasa kanak-kanak juga tidak digunakan sebab penelitian ini dilakukan tidak di lingkungan kanak-kanak. Objek penelitian ini difokuskan pada gatra sifat yang bersinonim dalam bahasa Rejang, isolek Talang Boseng yang dituturkan di Talang Boseng. Badudu . memberikan definisi gatra sebagai bagian . ata atau fras. yang mempunyai fungsi di dalam kalimat. Kemudian. Samsuri . menjelaskan bahwa gatra sifat adalah suatu paduan atau gabungan yang berbentuk kata sifat, baik yang diikuti oleh keterangan maupun tidak diikuti oleh keterangan. Istilah gatra digunakan dalam penelitian ini agar cakupan penelitian dapat lebih luas, tidak terbatas hanya pada tataran kata. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan bentuk, komponen makna, dan faktor pembeda makna gatra sifat yang bersinonim dalam bahasa Rejang isolek Talang Boseng. Bengkulu Tengah. Berikut beberapa penelitian yang telah dilakukan tentang sinonim. Penelitian tentang sinonim kata dalam bahasa Arab yang berasal dari terjemahan buku Alfu Lailah Walailah Lilathfal dilakukan oleh Susilawati & Syahid . Penelitian tentang unsur leksikal sinonimi pada Cerkak NewyorkSingapura-Jakarta karya Pirngadi dilakukan oleh Manumanasa & Sumarlam . Selanjutnya. Annisa et al. meneliti perbandingan kohesi leksikal sinonimi dalam antologi cerpen. Salleh et al. menemukan tujuh golongan kata yang bersinonim dalam novel Sangkar yang Penelitian lainnya adalah tentang sinonim nomina dan adjektiva yang terdapat dalam bahasa Lampung dialek O (Irmawati & Ratnaningsih, 2. kajian tentang sinonim bahasa Serawai juga telah dilakukan di Kecamatan Semidang Lagan. Bengkulu Tengah (Wati . kajian tentang sinonim leksikal dalam bahasa Iban dan Salako (Abdullah & Sahok . adjektiva dalam bahasa Minangkabau di Nagari Talang Babungo. Kabupaten Solok dilakukan oleh Fransiscaluadia & Juita . bentuk sinonimi dalam bahasa Jawa oleh Haryati . tentang sinonim bahasa Sikka dialek Tana Ai, di Kabupaten Flores Timur (Rotan, 2. analisis komponen makna kata yang bersinonim dalam bahasa Arab (Susanti, 2. Kajian selanjutnya adalah tentang linguistik korpus kuantitatif dan kajian tentang semantik leksikal sinonim emosi bahasa Indonesia (Rajeg, 2. pemberian maka baru sinonim leksikal AuNepotismeAy berdasarkan data dari korpus (Abdullah & Daud, 2. analisis sinonim nakaha dan zawaja dalam Al-QurAoan (Toyibah et al. , 2. dan kajian berdasarkan korpus tentang perbandingan kolokasi dan prosodi makna sinonim AumenyebabkanAy dan AumengakibatkanAy dalam bahasa Indonesia (Lirong, 2. Berbeda lagi dengan kajian yang telah dikemukakan, sebelumnya, ada juga kajian tentang semantik prosodi dari tiga pasangan sinonim kata sifat di COCA (Hu, 2. Dari tinjauan pustaka diketahui bahwa penelitian dengan objek sinonim dilakukan dengan tujuan yang berbeda, di antaranya untuk menjelaskan bentuk, jenis, kolokasi, dan prosodi. Kajian juga dilakukan terhadap bahasa yang berbeda, seperti bahasa Lampung. Serawai. Iban. Minangkabau, bahasa Sikka, bahasa Jawa, bahasa Indonesia, dan bahasa Arab. Di samping itu, ruang lingkup kajian juga berbeda. Penelitian yang dilakukan ini jelas memiliki keterbaruan sebab belum ditemukan kajian tentang sinonim bahasa Rejang, apalagi penelitian yang lebih khusus lagi tentang gatra sifatnya. Dengan demikian, penelitian mengenai sinonim bahasa Rejang dapat membantu dalam peningkatan kemampuan berbahasa Rejang yang baik. Hal tersebut sejalan Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 521Ai538 Nadra. Noviatri, & Tiara Juwita dengan tujuan pemerintah yang menyelenggarakan pembelajaran muatan lokal bahasa Rejang pada beberapa sekolah di Provinsi Bengkulu. Pembelajaran bahasa daerah yang diselenggarakan oleh pemerintah merupakan suatu bentuk pelestarian bahasa dan budaya suku bangsa. Melalui penelitian sinonim dalam bahasa Rejang akan memudahkan dalam pembelajaran bahasa Rejang serta berkontribusi terhadap pelestarian bahasa daerah. Penelitian sinonim dalam bahasa Rejang juga tentunya dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan linguistik bahasa daerah. Metode Penelitian ini termasuk jenis studi lapangan, yakni peneliti langsung mengumpulkan data gatra sifat yang bersinonim dalam bahasa Rejang ke lapangan, tepatnya di Desa Talang Boseng. Kecamatan Pondok Kelapa. Kabupaten Bengkulu Tengah. Provinsi Bengkulu. Pemilihan lokasi penelitian di daerah ini disebabkan sebagian besar daerahnya dihuni oleh penduduk asli suku Rejang sehingga keaslian bahasa Rejang di tempat tersebut diharapkan masih terjaga. Penelitian ini juga termasuk penelitian deskriptif kualitatif, yakni mendeskripsikan gatra sifat sebagaimana adanya secara kualitatif. Penyediaan data penelitian dilakukan pada bulan Juli 2024. Hal yang sangat membantu kelancaran penyediaan data adalah salah seorang anggota tim peneliti adalah penutur asli bahasa yang bersangkutan. Selama proses analisis data, peneliti juga beberapa kali melakukan pengambilan data ulang untuk memastikan kesahihan data dan untuk melengkapi data yang ada. Adapun pengambilan data ulang dilakukan tiga kali, yaitu pada pertengahan dan akhir Agustus, pertengahan September, dan awal Oktober 2024. Penyediaan data dilaksanakan dengan cara menyimak . etode sima. dan dengan wawancara . etode caka. (Sudaryanto, 2. Proses penyediaan data pertama kali dilakukan dengan metode simak. Teknik dasar yang digunakan dalam metode simak adalah teknik sadap, yakni dengan menyadap penggunaan gatra sifat yang bersinonim yang dilafalkan penutur di daerah yang diteliti. Penyadapan dilakukan dengan cara mencatat setiap gatra sifat yang bersinonim yang Selanjutnya, digunakan metode cakap, yakni dalam bentuk wawancara. Dalam wawancara digunakan teknik pancing. Caranya adalah dengan memancing informan dengan sejumlah pertanyaan terkait dengan objek penelitian, yaitu gatra sifat yang bersinonim. Jawaban informan tersebut langsung disadap dengan cara merekam dan mencatat setiap gatra sifat yang bersinonim yang ditemukan. Informan penelitian ini terdiri atas tiga orang yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan (Nadra & Reniwati, 2. Adapun kriteria informan yang dimaksud di antaranya adalah penutur asli bahasa Rejang di lokasi penelitian, berusia 40-60 tahun, dan memiliki alat ucap yang sempurna dan lengkap. Untuk menganalisis data, metode padan yang digunakan adalah metode padan translasional dan metode agih (Sudaryanto, 2. Metode yang digunakan pertama kali dalam analisis data adalah metode padan translasional. Caranya adalah dengan mengartikan data dalam bahasa Rejang bahasa Indonesia. Selanjutnya, dibandingkan data yang memiliki kesamaan arti yang tekniknya dinamakan teknik hubung banding menyamakan . eknik HBS) dan data yang memiliki perbedaan yang tekniknya dinamakan teknik hubung banding membedakan . eknik HBB) (Sudaryanto, 2. Berdasarkan analisis dengan menggunakan metode padan translasional, peneliti menemukan data yang memiliki makna sama dalam sebuah tuturan atau dengan kata lain saling bersinonim. Setelah menemukan kata-kata yang saling bersinonim, peneliti kemudian menganalisis bentuk sinonim berdasarkan teori bentuk sinonim yang digunakan. Selain menerapkan metode padan, peneliti juga melanjutkan dengan metode agih . etode distribusiona. Adapun teknik yang digunakan adalah teknik ganti dan perluas. Teknik ganti dilakukan dengan cara mengganti bentuk-bentuk yang bersinonim tersebut dengan bentuk yang lainnya. Teknik ganti ini digunakan untuk melihat sejauh mana kesamaan makna antara kata pengganti dengan kata yang digantikan. Berikutnya, digunakan teknik perluas. Caranya adalah dengan memperluas katakata yang bersinonim tersebut untuk mengetahui kadar kesinonimannya. Dengan menggunakan teknik perluas, peneliti menemukan pembeda makna antarkata yang terdapat dalam sebuah kelompok sinonim. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 521Ai538 Variasi bentuk dan pembeda makna gatra sifat yang bersinonim dalam bahasa Rejang isolek Talang Boseng Selain itu, juga digunakan analisis komponensial yang berguna untuk mengetahui komponenkomponen makna dan ciri pembeda makna gatra sifat yang bersinonim tersebut (Wijana & Rohmadi, 2. Sebagaimana halnya bunyi dan tata bahasa, komponen makna juga berada pada tingkatan tertentu, yaitu komponen bunyi pada tingkat pertama, tata bahasa pada tingkat kedua, dan komponen makna pada tingkat terakhir (Nuryadin & Nur, 2. Makna secara umum didefinisikan sebagai pesan yang terdapat dalam suatu satuan bahasa (Ardiansyah, 2020. Kreidler. Analisis komponensial dapat digunakan untuk mengungkap perbedaan makna antarsinonim yang terjadi dalam bahasa Rejang. Selanjutnya, perbedaan komponen makna yang terjadi dalam bahasa Rejang dapat diakibatkan oleh berbagai sebab. Sebab-sebab perbedaan makna yang bersinonim tersebut disebut dengan istilah Aupembeda maknaAy (Ullman, 2. Untuk menyajikan hasil analisis data digunakan metode penyajian formal dan informal (Sudaryanto, 2. Metode penyajian formal maksudnya adalah menyajikan hasil analisis dengan seperangkat lambang, simbol, dan tabel. Adapun penyajian informal dilakukan dalam bentuk deskripsi dengan menggunakan perangkat kata dan perangkat kalimat. Pembahasan Berdasarkan hasil analisis terhadap gatra sifat yang bersinonim dalam bahasa Rejang isolek Talang Boseng ini ditemukan bentuk yang berbeda-beda. Namun demikian, bentuk-bentuk tersebut dapat dikelompokkan atas dua kelompok berdasarkan satuan lingual yang membentuknya, yakni sinonim kata dengan kata dan kata dengan frasa. Selain itu, gatra sifat yang bersinonim dalam bahasa Rejang isolek Talang Boseng tidak terjadi pada semua konteks. Hasil analisis komponen makna yang dilakukan, ditemukan empat kelompok komponen makna. Pengelompokan ini dilakukan berdasarkan jumlah kesamaan komponen makna yang ditemukan. Sementara, faktor pembeda makna gatra sifat ditemukan ada sembilan. Penjabaran lebih lanjut terkait bentuk, komponen makna, dan faktor pembeda makna gatra sifat dalam bahasa Rejang isolek Talang Boseng adalah sebagai berikut. Bentuk-bentuk Gatra Sifat yang Bersinonim dalam Bahasa Rejang Setelah dilakukan analisis terhadap bentuk gatra sifat yang bersinonim dalam bahasa Rejang isolek Talang Boseng, ditemukan dua bentuk sinonim, yaitu sinonim yang berbentuk kata dengan kata dan sinonim yang berbentuk kata dengan frasa. Sinonim Kata dengan Kata Gatra sifat yang bersinonim dalam bentuk kata dengan kata ada sembilan belas kelompok, yaitu: . butu, peset, saro, seret. usuk, kemon. berade, sugeak, betaci. luyek, lemut, benyek. tuei, gaek. kidek, kapea, kameak. ageak, tekea, gerot, melawen. genut, butak, bisei. ngeak, . janam, naka, mekuwe. keing, gaing. payeak, gis. bodong, ilea, bengok, ubo. alep, bekeno, baes, padek. penak, temeak. lacup, cigei. cedik, calak, pitar. as, tujeu. krengeng, renge, dan cerewet. Gatra sifat bentuk ini terdapat pada Tabel 1. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 521Ai538 Nadra. Noviatri, & Tiara Juwita Tabel 1. Gatra Sifat yang Bersinonim dalam Bentuk Kata dengan Kata No. Kelompok Sinonim butu, peset, saro, seret usuk, kemon berade, sugeak, betaci luyek, lemut, benyek tuei, gaek kidek, kapea, kameak ageak, tekea, gerot, melawen genut, butak, bisei ngeak, mareak janam, naka, mekuwe keing, gaing payeak, gis bodong, ilea, bengok, ubo alep, bekeno, baes, padek penak, temeak lacup, cigei cedik, calak, pitar as, tujeu krengeng, renge, cerewet Makna AosusahAo AobusukAo AokayaAo AolembutAo AotuaAo AoburukAo AokuatAo AogendutAo AomarahAo AonakalAo AokeringAo AosulitAo AobodohAo AobagusAo AopendekAo AohabisAo AopandaiAo AosukaAo AocerewetAo Salah satu gatra sifat yang bersinonim dalam bahasa Rejang dalam bentuk kata dengan kata dan contoh datanya adalah sebagai berikut. Go belas kenek pas gidong harga beras naik ketika sedang susah AoHarga beras naik ketika sedang susah. Ao Pada contoh . , gatra butu, peset, saro, dan seret dapat saling menggantikan dalam satu unsur lingual yang sama. Artinya, gatra tersebut bersinonim. Contoh kedua, kata butu, peset, saro, dan seret dalam konteks yang berbeda, ternyata ada yang tidak dapat saling menggantikan. * butu * peset nien lak masuk universitas negeri. susah sekali ingin masuk universitas negeri AoSusah sekali untuk masuk ke universitas negeri. Ao Contoh . menunjukkan bahwa penggunaan kata saro dan seret berterima dalam kalimat yang berarti AoSusah sekali untuk masuk ke universitas negeri,Ao sedangkan, kata butu dan peset, tidak berterima dalam kalimat tersebut. Bentuk butu dan peset dalam konteks tersebut tidak dapat saling Hal itu menunjukkan bahwa kata butu dan peset memiliki komponen makna yang berbeda dengan saro dan seret. Hal itu membuktikan bahwa ada bentuk yang maknanya sangat dekat dengan bentuk lain, tetapi setiap bentuk tersebut juga memiliki komponen-komponen makna yang berbeda. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 521Ai538 Variasi bentuk dan pembeda makna gatra sifat yang bersinonim dalam bahasa Rejang isolek Talang Boseng Sinonim Kata dengan Frasa Gatra sifat yang bersinonim yang berupa kata dengan frasa dalam bahasa Rejang isolek Talang Boseng yang ditemukan adalah: . penyegan, coa tak kelak, coa tak kenam, coa tak pedoa. kisit, coa lak bageak. janying, jengik, kemjei, coa as, coa tujeu. dunguk, diem, coa besaei. saben, coa binei. Ao ibo, sedih, oak kiro. Sinonim tersebut tertuang pada Tabel 2. Tabel 2. Gatra Sifat yang Bersinonim dalam Bentuk Kata dengan Frasa No. Kelompok Sinonim penyegan, coa tak kelak, coa tak kenam, coa tak pedoa kisit, coa lak bageak janying, jengik, kemjei, coa as, coa tujeu dunguk, diem, coa besaei saben, coa binei ibo, sedih, oak kiro Makna AopemalasAo AopelitAo AobenciAo AodiamAo AotakutAo AosedihAo Contoh data untuk sinonim ini adalah sebagai berikut. Anak Ulun ba coa tak kelak coa tak kenam coa tak pedoa , nak desie ne besirak. anak Ulun lah pemalas di rumahnya berantakan AoAnak Ulun pemalas, rumahnya berserakan. Ao Pada contoh . , gatra penyegan, coa tak kelak, coa tak kenam, dan coa tak pedoa dapat saling menggantikan dalam satuan lingual yang sama, artinya kata dan frasa tersebut bersinonim. Komponen Makna Untuk mengetahui komponen makna dilakukan analisis komponensial terhadap bentukbentuk yang bersinonim. Dari hasil analisis komponen makna yang dilakukan, ditemukan empat kelompok komponen makna sebagai berikut. Komponen makna yang cenderung sama, ada 8 kelompok, yaitu: . calak, cedik, pitar, pacak Aopintar,Ao . sedih, ibo, oak kiro Aosedih,Ao . payeak, gis Aosusah,Ao . kapea, kameak, kidek Aojelek,Ao . as, tujeu, senang Aosuka,Ao . keing, gaing Aokering,Ao . penyegan, coa tak kelak, coa tak pedoa, coa tak kenam Aopemalas,Ao dan . kisit dan coa lak bageak Aopelit. Ao Komponen makna yang memiliki kesamaan dan perbedaan sama banyak, yaitu: . sugek, betaci, berade Aokaya,Ao . penak, temeak rendah,Ao . krengeng, cerewet, renge Aocerewet,Ao . ubo, bodong, bengok, ilea Aobodoh,Ao . bekeno, alep, baes, padek bagus, baik,Ao . coa as, coa tujeu, janying, kemjei, jengik Aobenci,Ao . naka, janam, mekuwe Aonakal,Ao dan . genut, butak dan bisei Aogendut. Ao Komponen makna yang cenderung berbeda, ada 6 kelompok, yaitu: . tuei dan gaek Aotua,Ao . diem, dunguk, dan coa besaei Aodiam,Ao . lacup dan cigei Aohabis,Ao . saro, seret, peset, butu Aosusah,Ao . luyek, benyek, lemut Aolembut,Ao dan . ageak, gerot, tekea, dan melawen Aoberani. Ao Komponen makna yang persis sama, terdiri atas dua kelompok, yaitu: saben, coa binei Aotakut,Ao ngeak dan mareak Aomarah. Ao Tabel 3 berisi contoh analisis komponensial untuk makna kata calak, cedik, pitar, dan pacak Aopintar. Ao Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 521Ai538 Nadra. Noviatri, & Tiara Juwita Tabel 3. Analisis Komponen Makna Gatra Calak. Cedik. Pitar, dan Pacak Makna Bentuk No. Mahir Bisa Kemampuan Banyak Akal Cepat Memahami Situasi Tahu Berkonotasi Positif Negatif Berdasarkan analisis komponensial, gatra calak, cedik, pitar, dan pacak memiliki kesamaan pada unsur makna Aobisa, tahu,Ao dan Aocepat memahami situasi. Ao Gatra calak dan cedik dapat digunakan secara umum untuk sesuatu yang berkonotasi positif ataupun negatif, sedangkan gatra pitar dan pacak hanya digunakan untuk sesuatu yang berkonotasi positif. Gatra calak, pitar, dan pacak memiliki makna Aomahir,Ao sedangkan gatra cedik tidak. Gatra calak, cedik, dan pitar memiliki makna Aobanyak akalAo sedangkan gatra pacak tidak. Faktor Pembeda Makna Gatra Sifat yang Bersinonim Berdasarkan hasil analisis ditemukan sembilan faktor pembeda makna yang terdapat pada gatra sifat yang bersinonim dalam bahasa Rejang isolek Talang Boseng, yaitu: . sinonim yang salah satu di antaranya bermakna lebih umum atau generik, . salah satu di antara unsur-unsur yang lebih intensif daripada yang lain, . salah satu di antaranya lebih emotif, . salah satu di antaranya bersifat menerima atau menolak, . salah satu di antara bentuk tersebut lebih profesional daripada yang lain, . salah satu di antaranya lebih kolokial, . salah satu di antaranya lebih bersifat lokal atau kedaerahan, . perbedaan yang disebabkan oleh perbedaan aplikasi, dan . perbedaan yang disebabkan oleh perbedaan implikasi. Sinonim yang Salah Satu di antaranya Bermakna Lebih Umum atau Generik Sinonim kategori ini meliputi gatra: diem, dunguk Aodiam. Ao ageak, gerot, tekea, kelea, melawen Aokuat. Ao gaek, tuei Aotua. Ao genut, butak, bisei Aogendut. Ao padek, bekeno, alep, baes Aobagus. Ao penak, temeak Aopendek. Ao as dan tujeu Aosuka. Ao Gatra diem, sebagai contoh, dapat digunakan untuk menyatakan sifat diam secara umum, sedangkan gatra dunguk hanya dapat digunakan untuk hewan. Agar lebih jelas contohnya dapat dilihat berdasarkan data berikut. Diem Dunguk bi duei bilei yo ba coa lak ngecek. Diam sudah dua hari ini lah tidak mau berbicara AoSudah dua hari ini diam, tidak mau berbicara. Ao Contoh data setelah diperluas: Wak Malik * dunguk bi duei bilei yo ba coa lak ngecek Wak Malik diam sudah dua hari ini lah tidak mau berbicara. AoWak Malik diam, sudah dua hari ini tidak mau berbicara. Ao Pada contoh . bentuk diem dan dunguk dapat saling menggantikan. Setelah diperluas dengan gatra Wak Malik, contoh . , data yang mengandung gatra dunguk tidak berterima karena pada Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 521Ai538 Variasi bentuk dan pembeda makna gatra sifat yang bersinonim dalam bahasa Rejang isolek Talang Boseng konteks tersebut gatra dunguk digunakan untuk manusia, padahal gatra dunguk hanya dapat digunakan untuk hewan. Sinonim yang Salah Satu Bentuknya Mempunyai unsur yang Lebih Intensif Sinonim keompok ini meliputi: alep, baes AocantikAo: genut, butak, bisei Aogendut. Ao naka, janam, mekuwe Aonakal. Ao keing, gaing Aokering. Ao penak, temeak Aopendek. Ao bodong, bengok, ilea, ubo Aobodoh. Ao kapea, kameak, kidek Aojelek. Ao luyek, lemut, lemoak Aolembut. Ao cigei, lacup Aohabis. Ao janying, jengik, kemjei, coa as, coa tujeu Aobenci. Ao oak kiro, sedih, ibo Aosedih. Ao dunguk, diem Aodiam. Ao berade, betaci, sugeak Aokaya. Ao butu, saro, peset, seret Aosusah. Ao payeak dan gis Aosulit. Ao Data . adalah salah satu contoh sinonim ini. Alep Baes bungei nak teras Pak Kades. Cantik bunga di teras Pak Kades AoCantik bunga di teras Pak Kades. Ao Contoh data setelah diperluas: Coa * alep bungei nak teras Pak Kades. tidak cantik bunga di teras Pak Kades AoTidak cantik bunga di teras Pak Kades. Ao Gatra alep dan baes merupakan contoh sinonim yang dibedakan karena anggotanya memiliki makna yang lebih intensif atau salah satunya lebih menuansakan pengertian. Gatra alep menyatakan sesuatu yang sangat cantik atau bagus, yang kadarnya lebih tinggi daripada yang dinyatakan oleh gatra baes. Setelah diperluas dengan gatra coa yang artinya AotidakAo data yang mengandung gatra alep tidak berterima karena gatra alep pada konteks tersebut mengandung makna Aosangat cantikAo . Jika diperluas dengan gatra coa, maka maknanya akan menjadi Aotidak sangat cantik. Ao Sinonim yang Salah Satu di antaranya Lebih Bermakna Emotif Dalam bahasa Rejang, isolek Talang Boseng. Bengkulu Tengah ditemukan empat kelompok sinonim yang termasuk kategori ini, yaitu: kidek, kapea, kameak Aojelek. Ao lacup, cigei Aohabis. Ao padek, bekeno Aobaik,Ao serta luyek dan lemut Aolembut. Ao Agar lebih jelas dapat dilihat contoh data berikut. Gatra kapea dan kameak memiliki makna yang lebih emotif dibandingkan dengan gatra kidek. Gatra kameak dan kapea digunakan untuk menyatakan sifat buruk atau jelek untuk sesuatu yang disertai dengan rasa marah, benci, atau kesal. Agar lebih jelas dapat dilihat pada contoh data . Selawei o perempuan itu jelek hatinya AoPerempuan itu sangat jahat. Ao Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 521Ai538 Nadra. Noviatri, & Tiara Juwita Contoh data setelah diperluas. Selawei o * kapea * kameak lut ateine. perempuan itu jelek sangat hatinya AoPerempuan itu sangat jahat. Ao Setelah diperluas dengan gatra lut Aosangat,Ao data . yang mengandung gatra kapea dan kameak tidak berterima. Hal tersebut karena gatra kapea dan kameak telah mengandung makna Aosangat. Ao Sinonim yang Salah Satu di antaranya Mencakup Penerimaan atau Penolakan Sinonim kelompok ini meliputi gatra: kisit, coa lak bageak Aopelit. Ao jengik, janying, kemjei, coa as, coa tujeu Aobenci. Ao saben, coa binei Aotakut. Ao cerewet, renge, krengeng, coa kungang-kungang Aocerewet. Ao penyegan, coa tak kenam, coa tak kelak, coa tak pedoa Aopemalas. Ao dunguk, diem, coa besaei Aodiam. Ao Contoh sinonim tersebut dapat dilihat pada data . Si ba coa lak bageak dia lah pelit. AoDia pelit. Ao Contoh data setelah diperluas: Si ba coa * coa lak bageak dia lah tidak pelit. AoDia tidak pelit. Ao Setelah diperluas, dengan gatra coa Aotidak,Ao seperti terlihat pada data . yang mengandung gatra coa lak bageak tidak berterima karena gatra coa lak bageak bermakna Aopelit, tidak mau berbagi. Ao Gatra tersebut telah mengandung makna AopenolakanAo atau Aopengingkaran. Ao Oleh karena itu, gatra tersebut tidak dapat diingkari dengan gatra yang bermakna Aotidak. Ao Sinonim yang Salah Satu di antaranya Lebih Profesional Gatra ini dalam bahasa Rejang dibedakan karena salah satu di antaranya dijadikan sebagai istilah dalam bidang tertentu, seperti: pitar, cedik, calak Aopintar. Ao dan dunguk, diem Aodiam. Ao Gatra pitar digunakan khusus untuk menyatakan kepintaran dalam bidang pendidikan, sedangkan gatra cedik dan calak digunakan untuk menyatakan kepintaran tidak dalam bidang pendidikan atau secara Contohnya dapat dilihat pada data . Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 521Ai538 Variasi bentuk dan pembeda makna gatra sifat yang bersinonim dalam bahasa Rejang isolek Talang Boseng Pitar Cedik Calak lut anak Dewi ba. pandai sekali anak Dewi lah. AoPandai sekali anak Dewi. Ao Contoh data setelah diperluas. Anak Dewi ba * cedik * calak lut juaro satu terus nak sekulah. anak Dewi lah pandai sekali juara satu terus di sekolahnya AoAnak Dewi pandai sekali, juara satu terus di sekolahnya. Ao Setelah diperluas dengan gatra juaro satu terus nak sekulah Aojuara satu terus di sekolah,Ao sebagaimana terlihat pada data . , untuk gatra cerdik dan calak tidak berterima karena gatra cedik dan calak bukan khusus digunakan untuk mengungkapkan sesuatu yang bersifat kecerdasan di dunia pendidikan. Contoh lainnya yang menyatakan perbedaan yang terjadi antara gatra calak, cedik, dan pitar juga dijelaskan melalui contoh . * Pitar Cedik Calak lut anak Dewi ba ngike tun. pandai sekali anak Dewi lah menipu orang. AoPandai sekali anak Dewi menipu orang. Ao Setelah diperluas dengan gatra ngike tun Aomenipu orang,Ao data . , yang mengandung gatra pitar, tidak berterima oleh penutur isolek yang bersangkutan sebab sifat pintar yang dinyatakan pada konteks data tersebut bukan kepintaran dalam bidang pendidikan. Sinonim yang Salah Satu Bentuknya Lebih Kolokial Gatra sifat yang bersinonim dalam bahasa Rejang yang termasuk kelompok ini contohnya adalah: betaci, berade Aokaya. Ao dan ngeak, mareak Aomarah. Ao Gatra betaci lebih lazim digunakan dibanding gatra berade. Agar lebih jelas dapat dilihat contohnya pada data . Si ba tun dia lah orang kaya. Ao AoDia orang kaya. Ao Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 521Ai538 Nadra. Noviatri, & Tiara Juwita Contoh data setelah diperluas: Si ba tun coa * berade dia lah orang tidak kaya. AoDia orang miskin. Ao Setelah diperluas dengan gatra coa yang bermakna Aotidak,Ao seperti yang terdapat pada data . , tampak bahwa gatra berade tidak berterima karena makna Aotidak kayaAo diungkapkan dengan istilah lain dalam bahasa Rejang, misalnya coa betaci atau istilah lainnya lagi sehingga dalam bahasa Rejang penggunaan gatra coa berade tidak lazim. Sinonim yang Salah Satu Bentuknya Bersifat Lokal atau Kedaerahan Gatra sifat yang dapat dikelompokkan pada bagian ini contohnya adalah: bodong, ilea, bengok, ubo Aobodoh. Ao dan krengeng, cerewet Aocerewet. Ao Gatra bodong memiliki makna yang sama dengan gatra ilea, bengok, dan ubo. Namun, gatra bodong juga merupakan gatra yang digunakan oleh masyarakat Bengkulu secara umum, bukan hanya oleh suku Rejang saja. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa timbulnya sinonim tersebut karena salah satu sinonim lebih bersifat lokal atau kedaerahan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat contoh . Anakne ba anaknya lah bodoh sekali AoAnaknya bodoh sekali. Ao Pada contoh . , gatra bodong, ilea, bengok, ubo dapat saling menggantikan dalam satuan lingual yang sama, maka gatra tersebut adalah bersinonim. Namun, gatra bodong bukan hanya terdapat pada bahasa Rejang. Gatra bodong merupakan kosakata yang digunakan masyarakat Bengkulu secara umum. Timbulnya sinonim tersebut karena salah satu sinonim lebih bersifat lokal atau kedaerahan. Perbedaan Makna Sinonim Akibat Perbedaan Aplikasi Sinonim yang berbeda akibat perbedaan aplikasi, seperti terdapat pada gatra: tuei, gaek Aotua. Ao diem, dunguk, coa besaei Aodiam. Ao coa tujeu, coa as, janying, kemjei Aotidak suka. Ao saro, peset, butu susah. Ao ibo, sedih, dan oak kiro Aosedih. Ao Gatra sifat yang bersinonim dalam bahasa Rejang akibat perbedaan aplikasi ini dibagi atas dua bagian, yaitu aplikasi objek dan aplikasi waktu. Gatra sifat yang berbeda karena aplikasi objek contohnya gatra gaek dan tuei. Gatra tuei menyatakan sifat tua yang diaplikasikan untuk objek yang umum, sedangkan gatra gaek hanya dapat digunakan untuk objek manusia dan hewan. Contohnya dapat dilihat pada data . Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 521Ai538 Variasi bentuk dan pembeda makna gatra sifat yang bersinonim dalam bahasa Rejang isolek Talang Boseng . Bi sudah tua lah. AoSudah tua. Ao Contoh data setelah diperluas: Bi * gaek ba nioa yo. sudah tua lah kelapa ini. AoSudah tua kelapa ini. Ao Data . sudah diperluas dengan gatra nioa yo Aokelapa ini. Ao Untuk gatra gaek tidak berterima karena sifat tua pada konteks kalimat tersebut merujuk pada kelapa yang merupakan jenis tumbuhan, sedangkan gatra gaek hanya dapat digunakan untuk objek manusia dan hewan. Selanjutnya, gatra sifat yang dibedakan karena aplikasi waktu contohnya gatra butu, peset, saro, dan seret. Gatra butu dan seret memiliki makna Aosusah karena ekonomi yang terjadi sewaktu-waktu,Ao gatra peset dan saro memiliki makna Aosusah secara ekonomi yang terjadi pada waktu yang lama. Ao Agar lebih jelas, contohnya dapat dilihat pada data . Butu Peset Saro Seret nien te ba. Susah sekali kita lah. Susah sekali kita. Ao Contoh data setelah diperluas. Bi betaun-taaun go sawit tuun * butu * seret nien te ba. Sudah bertahun-tahun harga sawit turun susah sekali kita lah. AoSudah bertahun-tahun harga sawit turun susah sekali kita. Ao Gatra butu dan seret pada data . yang diperluas dengan gatra bi betaun-taun go sawit tuun yang bermakna Aosudah bertahun-tahun harga sawit turun,Ao tidak berterima oleh penuturnya karena konteks tersebut digunakan untuk menyatakan sifat susah secara ekonomi yang terjadi sewaktuwaktu, bukan dalam jangka waktu yang lama. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 521Ai538 Nadra. Noviatri, & Tiara Juwita Perbedaan Makna Sinonim Akibat Perbedaan Implikasi Dalam bahasa Rejang isolek Talang Boseng ditemukan tiga kelompok sinonim akibat perbedaan implikasi, seperti pada gatra: naka, janam, mekuwe Aonaka. Ao ilea, ubo, bodong, bengok Ao Penggunaan gatra naka menyatakan sifat nakal yang biasa saja, sedangkan penggunaan gatra janam dan mekuwe mengimplikasikan sifat nakal yang tidak biasa. Contohnya dapat dilihat pada data . Anakne ba anaknya lah nakal. AoAnaknya nakal. Ao Contoh data setelah diperluas. Anakne ba coa * janam * mekuwe anaknya lah tidak nakal. AoAnaknya tidak nakal. Ao Setelah diperluas dengan gatra coa yang bermakna Aotidak,Ao seperti pada data . , data yang mengandung gatra janam dan mekuwe tidak berterima. Hal tersebut disebabkan gatra janam dan mekuwe memiliki makna Aosangat nakalAo sehingga tidak dapat disebut sebagai Aotidak sangat nakalAo atau Aotidak nakal sekali. Ao Temuan penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan gatra sifat yang bersinonim dalam bahasa Rejang isolek Talang Boseng dengan teori dan kajian terdahulu sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya. Temuan sinonim dalam bentuk kata dengan frasa hampir tidak ditemukan dalam penelitian-penelitian sinonim sebelumnya, terutama dalam penelitian bahasa Kebanyakan penelitian sinonim dalam bahasa daerah hanya berfokus pada bentuk kata dengan kata. Selanjutnya, dari segi maknanya. Chaer . mencontohkan beberapa gatra sifat dalam bahasa Indonesia yang memiliki makna AosangatAo ketika bergabung dengan morfem unik, seperti yang terjadi pada kata tua renta, dan kering kerontang. Morfem renta hanya dapat bergabung dengan kata sifat tua dan morfem kerontang hanya dapat bergabung dengan kata sifat kering, yang disebut sebagai morfem unik. Morfem renta dan kerontang memiliki fungsi memberikan makna AosangatAo pada kata yang berikatan. Dalam bahasa Rejang isolek Talang Boseng, ada beberapa gatra sifat yang tidak berikatan dengan morfem unik, namun mengandung makna Aosangat. Ao Contohnya gatra gaek, gaing, mekuwe, dan janam yang masing-masing memiliki makna Aosangat tua,Ao Aosangat kering,Ao dan Aosangat nakal. Ao Penggunaannya dibatasi bergantung pada objek yang dikenainya. Gatra gaek hanya dapat digunakan untuk menyatakan sifat sangat tua pada hewan dan manusia sehingga untuk mengungkapkan sifat sangat tua pada objek jenis lain harus menggunakan gatra lainnya, seperti gatra tuei yang bermakna AotuaAo ditambah gatra lut yang bermakna AosangatAo sehingga menjadi tuei lut atau Aosangat tua. Ao Gatra gaing juga hanya digunakan untuk menyatakan sifat sangat kering pada makanan sehingga untuk mengungkapkan sifat sangat kering pada objek lain harus menggunakan gatra lainnya, seperti keing yang bermakna AokeringAo ditambah dengan gatra lut yang bermakna AosangatAo sehingga menjadi keing lut yang bermakna Aosangat kering. Ao Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 521Ai538 Variasi bentuk dan pembeda makna gatra sifat yang bersinonim dalam bahasa Rejang isolek Talang Boseng Hal lainnya yang diperoleh dan terdapat perbedaan dengan kajian yang sebelumnya, seperti yang dilakukan oleh Wati . yang mengungkapkan bahwa gatra sifat yang bersinonim dalam bahasa Serawai dibedakan oleh satu pembeda makna. Sementara, beberapa gatra sifat yang bersinonim dalam penelitian ini dapat dibedakan oleh lebih dari satu pembeda makna, seperti yang ditemukan pada gatra bekeno, alep, baes, dan padek yang dibedakan karena salah satu di antaranya bersifat generik dan salah satu bersifat lebih emotif. Kemudian, gatra alep dan baes juga dibedakan karena salah satu di antaranya memiliki unsur yang lebih intensif. Kekhasan gatra sifat bahasa Rejang isolek Talang Boseng juga terlihat dari adanya perbedaan makna yang timbul karena perbedaan aplikasi yang dapat dibagi secara lebih rinci menjadi aplikasi waktu dan aplikasi objek. Gatra sifat yang dibedakan karena aplikasi waktu contohnya gatra butu, peset, saro, dan seret. Gatra butu dan seret memiliki makna Aosusah karena ekonomi yang terjadi sewaktu-waktu,Ao gatra peset dan saro memiliki makna Aosusah secara ekonomi yang terjadi pada waktu yang lama. Ao Contoh lainnya adalah ibo Aobelas kasih, tidak senang ( sudah berlalu. A sekaran. ,Ao sedih Aobelas kasih, tidak senang (A sudah berlalu, sekaran. ,Ao oak kiro AoA belas kasih, tidak senang, tidak tenang ( sudah berlalu. A sekaran. Ao peset Aotidak memiliki uang . erlangsung lam. ,Ao butu Aotidak memiliki uang . ewaktu-wakt. ,Ao saro Aotidak memiliki uang, tidak mudah . erlangsung lam. ,Ao seret Aotidak memiliki uang, tidak mudah, tidak lancar . erlangsung lam. ,Ao coa tujeu, coa as, janying Aotidak suka . aktu yang lam. Ao dan kemjei Aotidak suka . idak lama, sewaktu-wakt. Ao Selanjutnya, gatra sifat yang berbeda karena aplikasi objek contohnya gatra gaek dan tuei. Gatra tuei menyatakan sifat tua yang diaplikasikan untuk objek yang umum, sedangkan gatra gaek hanya dapat digunakan untuk objek manusia dan hewan. Contoh lainnya adalah diem Aotidak bersuara . ntuk oran. ,Ao dunguk Aotidak bersuara . arena saki. , dan coa besaei Aotidak bersuara . ntuk hewa. Ao Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan, jelas kajian ini menghasilkan temuan baru yang belum ditemukan pada penelitian-penelitian sebelumnya dan diharapkan dapat memberi kontribusi terhadap perkembangan kajian linguistik, khususnya terkait dengan bidang ilmu semantik, dan lebih khusus lagi adalah dalam hal kajian sinonim. Selain itu, temuan ini juga memperkuat pernyataan yang telah dinyatakan oleh peneliti-peneliti sebelumnya bahwa tidak ada bentuk yang mengandung arti atau makna yang betul-betul sama dalam semua konteks (Liu & Espino, 2. Penutup Peneliti menemukan ada dua puluh empat gatra sifat yang bersinonim dalam bahasa Rejang isolek Talang Boseng. Kedua puluh empat gatra sifat tersebut dapat dikelompokkan atas dua kelompok berdasarkan satuan lingual yang membentuknya, yaitu sinonim yang berbentuk kata dengan kata dan sinonim yang berbentuk kata dengan frasa. Dari segi komponen maknanya, gatra sifat yang bersinonim dalam bahasa Rejang isolek Talang Boseng dapat dibedakan atas empat kelompok, yaitu komponen makna yang cenderung sama, komponen makna yang cenderung berbeda, komponen makna yang sama persis, dan komponen makna yang persamaan dan perbedaannya sama banyak. Selanjutnya, dari segi faktor pembeda maknanya, gatra sifat yang bersinonim dalam isolek Talang Boseng dapat dibedakan atas sembilan faktor, yaitu: sinonim yang salah satu bentuk di antaranya bermakna lebih umum, mempunyai bentuk yang lebih intensif daripada yang lain, mempunyai bentuk yang lebih emotif, lebih profesional, salah satu bentuk di antaranya mencakup penerimaan dan penolakan, lebih kolokial, lebih bersifat lokal atau kedaerahan, perbedaan yang disebabkan oleh perbedaan aplikasi, dan yang disebabkan oleh perbedaan implikasi. Gatra sifat yang bersinonim dalam penelitian ini juga ada yang dibedakan oleh lebih dari satu pembeda makna. Hal tersebut menunjukkan bahwa penggunaan gatra sifat dalam bahasa Rejang sangatlah terperinci karena diatur oleh banyak pembeda. Kekhasan gatra sifat dalam bahasa Rejang isolek Talang Boseng juga terlihat dari adanya perbedaan makna yang timbul karena perbedaan aplikasi yang dapat dibagi menjadi lebih rinci menjadi aplikasi waktu dan aplikasi objek. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 521Ai538 Nadra. Noviatri, & Tiara Juwita Saat meneliti suatu bahasa, aspek kemaknaan menjadi salah satu hal pokok yang perlu dipelajari. Penelitian ini telah memberikan gambaran kemaknaan gatra sifat yang bersinonim dalam bahasa Rejang isolek Talang Boseng. Temuan hasil penelitian ini memberikan petunjuk bahwa bahasa Rejang memiliki kekhasan tersendiri. Untuk menggali lebih jauh kekhasan tersebut, penelitian ini perlu diperluas, terutama untuk gatra lainnya, seperti gatra nomina dan gatra verba yang bersinonim dalam bahasa Rejang. Ucapan Terima Kasih Artikel ini merupakan hasil penelitian dari skema Penelitian Skripsi Sarjana (PSS) Batch I Universitas Andalas yang berjudul AuKajian Sinonim Adjektiva dalam Bahasa Rejang Isolek Talang Boseng. Bengkulu Tengah, 202/UN16. 19/PT. 03/PSS/2024, tanggal 17 Juli 2024. Atas dana yang diberikan, penulis mengucapkan terima kasih. Terima kasih juga kepada para informan penutur bahasa Rejang isolek Talang Boseng, yang telah bersedia diwawancarai guna pemerolehan data penelitian ini. Terima kasih juga kepada semua pihak yang terlibat dalam riset ini hingga riset ini dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Semoga Allah SWT membalas semua bantuan yang telah diberikan. Daftar Pustaka