Jurnal Farmasi SYIFA Volume 1. Nomor 1. Halaman 20-26. Februari 2023 Homepage: https://wpcpublisher. com/jurnal/index. php/JFS PENINGKATAN PENGETAHUAN PADA PENDERITA HIPERTENSI DENGAN PEMBERIAN EDUKASI BERBASIS BAHASA BANJAR Knowledge Enhancement in People with Hypertension by Providing Education Based on Banjar Language Aulia Rahma Az Zahra1. Rina Saputri2*. Lisda Handayani3 Jurusan Farmasi. Universitas Sari Mulia Jurusan Farmasi. Universitas Sari Mulia Jurusan Kebidanan. Universitas Sari Mulia *Corresponding author: apt. rinasaputri@gmail. Info Artikel Diterima: 28 Februari 2023 Direvisi: 28 Februari 2023 Dipublikasikan: 28 Februari 2023 This is an open access article under the CC BY-NC 0 license. ABSTRAK Pendahuluan. Prevalensi penderita hipertensi terbanyak di Indonesia terdapat pada Provinsi Kalimantan Selatan. Hipertensi cenderung tinggi pada pendidikan rendah yang memiliki pengetahuan kurang. Salah satu faktor yang mempengaruhi kurangnya pengetahuan dan kesadaran penderita hipertensi adalah kurangnya pemberian edukasi pendidikan tentang pengobatan dan gaya hidup yang harus dijalani penderita hipertensi. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan pengetahuan penderita hipertensi dengan pemberian edukasi berbasis bahasa Banjar. Metode. Desain penelitian ini menggunakan metode penelitian pre-experimental dengan pengambilan data melalui one group pre-test post-test design. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 30 responden. Desain ini terdiri dari satu kelompok yang diberikan pretest dan postest yang kemudian diberi perlakuan dengan menggunakan edukasi hipertensi berbasis bahasa Banjar. Hasil. Hasil dari penelitian menggunakan uji wilcoxon dengan nilai signifikan p value 0,000<0,005 yang menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan responden saat pretest yaitu cukup menjadi baik saat postest, setelah diberikan edukasi hipertansi berbasis bahasa Banjar. Simpulan. Terjadi peningkatan pengetahuan penderita hipertensi dengan pemberian edukasi berbasis bahasa Banjar menggunakan video sebagai media penyampaian edukasi. Kata kunci: Bahasa Banjar, edukasi, hipertensi, pengetahuan ABSTRACT Introduction. The province of South Kalimantan has the highest prevalence of hypertension sufferers in Indonesia. Hypertension is more prevalent in low-education countries with limited knowledge. One of the factors that influences the lack of knowledge and awareness of hypertension sufferers is the lack of education about the treatment and lifestyle that hypertension sufferers have to live. Objectives. The purpose of this research is to determine the increase in knowledge of hypertension sufferers by providing education based on Banjar language. Methods. The design of this study used a pre-experimental research method by taking data through a one-group pre-post-test design. The sample in this study amounted to 30 This design consisted of one group being given a pretest and posttest, which were then treated using education based on Banjar. Results. The findings of this study show a significant value of p value 0,000 - 0. indicating that an increase in respondent knowledge during the pretest is quite good at the posttest after receiving Banjar language education. Conclusions. There is an increase in knowledge of hypertension sufferers by providing education based on Banjar language using video as a medium for delivering education. Keywords: Banjar Language, education, hypertension, knowledge PENDAHULUAN Berdasarkan World Health Organization (WHO), di seluruh dunia sekitar 972 juta orang atau 26,4 % orang di seluruh dunia mengidap hipertensi. Dari 972 juta mengidap hipertensi, 639 juta berada di negara berkembang. Prevalensi hipertensi di Asia Tenggara antara lain : Thailand 23,6%. Myanmar 21,5%. Indonesia 21,3%. Vietnam 21,0%. Malaysia 19,6%. Filipina 18,6%. Brunei Darussalam 17,9%, dan Singapura 16,0% (WHO, 2. Jurnal Farmasi SYIFA Berdasarkan data Laporan Riset Kesehatan Dasar pada tahun 2018 jumlah penderita hipertensi di Indonesia pada pasien umur > 18 tahun adalah 34,1 %. Prevalensi hipertensi tertinggi di Indonesia 2018 terdapat pada Provinsi Kalimantan Selatan yang menempati peringkat pertama yaitu sebesar 44,1 % pada umur >18 tahun, sedangkan pada data Laporan Riset Kesehatan Dasar yang lalu pada tahun 2013 Provinsi Kalimantan Selatan berada diperingkat kedua yaitu sebesar 25,8 % pada umur > 18 tahun, berdasarkan data tersebut dapat dilihat terjadi peningkatan angka kejadian hipertensi yang signifikan pada Provinsi Kalimantan Selatan (Kemenkes, 2. Hipertensi merupakan faktor risiko ketiga terbesar yang menyebabkan kematian dini karena dapat memicu terjadinya gagal jantung, kongestif serta penyakit serebrovaskular, apabila tidak diobati dan tidak terkontrol, umumnya karena komplikasi penyakit ini dapat mengakibatkan kematian (Widyanto dan Triwibowo, 2. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengendalikan hipertensi diperlukan pengetahuan dan kesadaran akan resiko hipertensi (Bustan, 2. Tingginya kejadian hipertensi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu umur, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan (Riskesdes, 2. Hasil Riskesdas tahun 2018 menyatakan bahwa penyakit hipertensi cenderung tinggi pada pendidikan rendah. Kurangnya pengetahuan pada seseorang yang berpendidikan rendah terhadap kesehatan dan sulit menerima informasi yang diberikan oleh petugas, merupakan penyebab tingginya risiko hipertensi pada pendidikan yang rendah (Anggara dan Prayitno, 2013 ). Salah satu faktor yang mempengaruhi kurangnya pengetahuan dan kesadaran penderita hipertensi adalah kurangnya pemberian edukasi pendidikan tentang pengobatan dan gaya hidup yang harus dijalani penderita hipertensi. Hal ini sesuai penelitian yang menyatakan bahwa pasien hipertensi dengan tingkat pengetahuan yang rendah harus diberikan pendidikan dan intervensi yang efektif seperti pemberian edukasi. Hal ini akan mampu memperbaiki pengetahuan penderita hipertensi yang buruk (Walidah, 2. Masyarakat Kalimantan Selatan yang masih pendidikan kesehatan kepada penderita hipertensi Volume 1. Nomor 1. Februari 2023 harus memperhatikan aspek budaya yang ada di dalam masyarakat, salah satu aspek budaya dalam masyarakat adalah bahasa yang digunakan agar materi yang disampaikan bisa diterima dan merubah tingkat pengetahuan penderita hipertensi menjadi lebih baik. Hasil penelitian yang dilakukan di Afrika menunjukkan bahwa intervensi pendidikan kesehatan berbasis budaya berpengaruh meningkatkan kepatuhan pasien dengan hipertensi terhadap perubahan gaya hidup yang mendukung perawatan pasien hipertensi (Beune, 2014. Penelitian ini juga didukung oleh penelitian lain yang menyatakan terdapat perbedaan antara tingkat pengetahuan pada kelompok kontrol dan intervensi, tingkat pengetahuan pada kelompok intervensi lebih banyak meningkat dibandingkan dengan kelompok kontrol setelah pemberian edukasi berbahasa daerah yaitu bahasa Makassar (Ningsih, 2. Berdasarkan hal tersebut, perlu dilakukan pengetahuan penderita hipertensi dengan adanya pemberian edukasi hipertensi berbasis bahasa Banjar. METODE Penelitian ini menggunakan metode penelitian pre-experimental dengan pengambilan data melalui one group pre-test post-test design yaitu penelitian ini dilakukan dengan memberikan perlakuan kepada kelompok eksperimen. Desain ini terdiri dari satu kelompok yang diberikan pretest dan postest yang kemudian diberi perlakuan dengan menggunakan edukasi hipertensi berbasis bahasa banjar (Saputri, 2. Instrumen penelitian yang digunakan berupa kuisioner pengetahuan hipertensi terdiri dari 18 item pertanyaan yang sudah valid dan reliabel. Pada uji validitas nilai r tabel > 0,631, dan pada uji reliabilitas diketahui nilai CronbachAos Alpha 0,980. HASIL Karakteristik Responden Karakteriastik responden dalam penelitian ini adalah penderita hipertensi yang memenuhi kreteria inklusi sebagai sampel penelitian. Gambaran karakteristik responden penelitian Jurnal Farmasi SYIFA diuraikan berdasarkan usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan diuraikan sebagai berikut. Tabel 1. Karakteristik Responden . Kelompok intervensi Variabel Usia < 45 tahun > 45 tahun Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan SMP SMA Perguruan Tinggi Pekerjaan Buruh IRT Pensiunan Petani PNS Pegawai Swasta Wiraswasta Total Tabel 1 menunjukkan distribusi karakteristik responden penderita hipertensi. Berdasarkan usia dapat dilihat bahwa penderita hipertensi terbanyak berada pada umur >45 tahun berjumlah 26 orang. Berdasarkan jenis kelamin penderita hipertensi terbanyak yaitu perempuan dengan jumlah 24 Berdasarkan pekerjaan penderita hipertensi terbanyak merupakan IRT (Ibu Rumah Tangg. sebanyak 11 orang. Berdasarkan latar belakang pendidikan penderita hipertensi terbanyak berada pada tingkat SMA berjumlah 12 orang. Tingkat Pengetahuan Pretest Tabel 2. Tingkat Pengetahuan pretest dan postest . Variabel Pretest Postest Baik Cukup Kurang Total Tabel 2. menunjukkan tingkat pengetahuan responden pada percobaan pretest dan postest. Hasil pretest menunjukkan sebagian besar responden berada pada tingkat pengetahuan yang cukup berjumlah 18 orang, sedangkan pada hasil posttest sebagian besar responden berada pada tingkat baik. Volume 1. Nomor 1. Februari 2023 Analisis Data Uji Wilcoxon Tabel 3. Hasil Analisis Uji Wilcoxon . Variabel P value Pretest- postest 0,000 Hasil tabel 3. menunjukkan hasil analisis perbedaan pengetahuan sebelum dan sesudah pemberian edukasi. Dari tabel tersebut dapat kita lihat bahwa angka signifikansi pemberian edukasi adalan p 0,000 < 0,05. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan pada tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah pemberian edukasi berbasis bahasa Banjar. PEMBAHASAN Penelitian dilakukan untuk mengetahui peningkatan tingkat pengetahuan penderita hipertensi dengan pemberian edukasi berbasis Bahasa Banjar. Penelitian ini dilaksanakan pada bulai mei 2020. Populasi dari penelitian adalah semua penderita hipertensi yang tinggal di Wilayah RT 01 Kelurahan Landasan Ulin Tengah dan RT 10 Desa Bincau Martapura, sampel yang digunakan pada penelitian ini sebanyak 30 orang. Proses pengambilan data dengan menggunakan data sekunder dari RT 01 Kelurahan Landasan Ulin Tengah dan RT 10 Desa Bincau Martapura. Intervensi pada penelitian ini menggunakan pendekatan budaya dan metode pemberian edukasi tentang hipertensi. Proses pengumpulan data menggunakan google form melalui media sosial Tahap yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 3, yaitu tahap pengumpulan data dan melakukan pretest, selanjutnya tahap pemberian edukasi melalui media video yang terdiri dari materi pengetahuan dasar tentang hipertensi, dan terakhir tahap postest. Pemberian edukasi menggunakan media video, keuntungan dari media ini adalah memberikan infromasi yang singkat, padat dan jelas. Penelitian ini terlebih dahulu dimulai dengan menyebarkan video penjelasan tentang penelitian yang akan dilakukan di grup whatsapp dengan tujuan untuk mencari orang yang bersedia mengikuti penelitian dan juga yang memenuhi kreteria inklusi. Selanjutnya responden yang telah didapatkan akan di hubungi secara pribadi dan diberikan penjelasan mengenai cara pengisian kuisioner menggunakan google form, kemudian responden mengisi kuisioner pretest. Tahap Jurnal Farmasi SYIFA selanjutnya responden diberikan edukasi hipertensi berbasis Bahasa Banjar melalui media video dan akan di evaluasi kembali menggunakan pertanyaan yang sama setelah 2 minggu pemberian edukasi. Berdasarkan usia dapat dilihat bahwa penderita hipertensi berada pada umur > 45 tahun berjumlah 25 . ,3 %) dan pada umur <45 tahun berjumlah 5 orang . ,7 %). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah responden terbanyak yang menderita hipertensi yaitu pada kelompok usia lebih dari 45 tahun. Hal ini sesuai dengan meningkatnya usia seseorang, pembuluh darah akan kehilangan elastisitas atau kelenturannya sehingga sirkulasi darah yang melewati pembuluh darah akan terhambat dan akibatnya tekanan darah semakin tinggi (Walidah, 2. Semakin bertambahnya umur seseorang akan semakin banyak permasalahan yang dialaminya terutama terkait kondisi kesehatannya hal ini disebabkan terjadinya kemunduran fungsi seluruh tubuh secara Kondisi tubuh yang makin tua dapat memicu serangan hipertensi, semakin tua usia pembuluh darah elastisitasnya sehingga pembuluh darah cenderung menyempit akibatnya tekanan darah akan meningkat (Ariani, 2. Berdasarkan distribusi jenis kelamin diperoleh hasil sebagian besar responden penderita hipertensi merupakan perempuan dengan jumlah 22 orang . ,3 %) sedang kan pada laki-laki berjumlah 8 orang . ,7 %). Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan kelompok perempuan lebih banyak menderita hipertensi dibandingkan laki-laki. Hal ini disebabkan karena perempuan memiliki perubahan konsentrasi hormon yang naik turun sehingga hal tersebut dapat memicu terjadinya hipertensi. Hormon bersifat mengikat cairan sehingga dapat meningkatkan volume darah dan menyebabkan hipertensi (Ariani, 2. Faktor lain yang mempengaruhi juga karena perempuan seringkali mengadopsi prilaku tidak sehat seperti pola makan yang tidak seimbang sehingga menyebabkan kelebihan berat badan dan depresi (Jannah, 2. Berdasarkan status pekerjaan menunjukkan bahwa IRT (Ibu Rumah Tangg. merupakan pekerjaan responden dengan jumlah tertinggi menderita hipertensi yaitu sebanyak 11 orang . ,7 Volume 1. Nomor 1. Februari 2023 %). Hal ini disebabkan IRT merupakan seseorang yang rentan terkena penyakit, hal ini berkaitan dengan kurangnya aktivitas olahraga yang dilakukan IRT atau jenis pekerjaan yang tidak membutuhkan banyak pergerakan. Aktifitas sangat mempengaruhi terjadinya hipertensi, aktivitas fisik yang mampu membakar kalori akan meningkatkan high density lipoprotein (HDL) sebesar 4,4 mmHg (Batubara, 2. Penelitian lain mengatakan faktor lain penyebab IRT banyak menderita hipertensi disebabkan oleh tingkat stress yang tinggi (Andini, 2. , pada saat seseorang mengalami stress hormon adrenalin akan dilepaskan dan kemudian akan meningkatkan tekanan darah melalui kontraksi arteri dan peningkatan denyut jantung, hal ini lah yang menimbulkan penyakit hipertensi (South, 2. Berdasarkan latar belakang pendidikan sebagian besar dari responden penderita hipertensi yaitu pada tingkat SMA (Sekolah Menengah Ata. berjumlah 12 orang . ,0 %). Hal ini tidak sesuai dengan hasil riset yang menyatakan penyakit hipertensi cenderung tinggi pada pendidikan rendah dan menurun sesuai peningkatan pendidikan (Riskesdes, 2. Penelitian lain juga menyatakan tingkat pendidikan akan ikut pengambilan keputusan seseorang, sehingga pendidikan yang tinggi akan mempengaruhi individu dalam pengambilan keputusan yang lebih baik untuk dirinya untuk mengatasi suatu penyakit, dibandingkan dengan responden yang memiliki pendidikan rendah (Mustaqimah, 2. Tingkat menunjukkan bahwa responden yang memiliki tingkat pengetahuan baik berjumlah 8 orang . ,7 %), cukup berjumlah 17 orang . ,7%) dan kurang yaitu 5 orang . ,7 %). Pada data tersebut dapat terlihat bahwa tingkat pengetahuan responden pada saat pretest sebagian besar sudah berada pada di tingkat pengetahuan yang cukup, akan tetapi hasil yang didapatkan masih ada beberapa responden yang tingkat pengetahuan nya rendah. Tingkat pengetahuan yang masih rendah pada beberapa responden dan indikator pertanyaan tersebut dipengaruhi oleh beberpa faktor yang berasal dari Faktor yang dapat berpengaruh adalah usia, jenis kelamin, pekerjaan dan pendidikan. Usia dapat mempengaruhi pengetahuan karena pada Jurnal Farmasi SYIFA responden dengan usia lanjut akan mengalami penurunan daya pendengaran dan visual, sehingga akan mengakibatkan terkendalanya penerimaan (Mustaqimah, 2. Jenis kelamin perempuan lebih mudah dalam measkes pelayanan kesehatan serta hubungan sosial yang lebih tinggi dalam mencari informasi dibandingkan laki-laki (Wawan & M, 2. Pekerjaan pengetahuan seseorang dikarenakan responden yang memiliki pekerjaan diluar rumah akan lebih mudah untuk mendapatkan informasi dari sekitar lingkungan kerjanya, sehingga responden yang tidak memiliki pekerjaan akan mendapatkan informasi yang kurang jika dibandingkan dengan responden yang bekerja (Ningsih, 2. Pendidikan pengetahuan karena responden dengan tingkat pendidikan Perguruan Tinggi dan SMA akan lebih mudah dalam menerima informasi tentang pengetahuan hipertensi, sementara responden dengan tingkat pendidikan SMP dan SD memiliki keterbatasn dalam penerimaan informasi (Ningsih. Pengetahuan hipertensi dapat ditingkatkan dengan memberikan edukasi pendidikan kesehatan. Proses pemberian edukasi di lakukan melaui media video yang berisi materi pengetahuan dasar tentang Materi edukasi disampaikan oleh Apoteker menggunakan bahasa Banjar. Video tersebut diberikan secara chat pribadi melalui media sosial whatsapp kepada responden yang telah mengisi kuisioner pretest. Setelah responden selesai menonton video edukasi, peneliti melakukan review untuk memastikan kembali bahwa responden benar-benar memahami tentang materi yang telah disampaikan. Peneliti menyampaikan kepada responden bahwa akan ada pengambilan data postest setelah 2 minggu pasca pemberian edukasi. Pengisian data postest menggunakan google form yang berisikan tentang kuisioner pengetahuan yang sama seperti kuisioner saat pretest. Pada saat postest terdapat beberapa responden yang masih tidak memahami cara mengisi kuisioner menggunakan google form sehingga dilakukan penjelasan kembali mengenai cara pengisiannya. Volume 1. Nomor 1. Februari 2023 Setelah pemberian edukasi berbasis bahasa Banjar hasil tingkat pengetahuan pada postest penderita hipertensi yang pada tingkat pengetahuan baik berjumlah 19 orang . ,3 %), cukup 10 orang . ,3 %) dan pada tingkat pengetahuan kurang 1 orang . ,3 %). Pada data tersebut juga dapat terlihat bahwa tingkat pengetahuan responden pada saat postest sebagian besar sudah berada pada di tingkat pengetahuan yang baik. Pada hasil uji normalitas didapatkan hasil pada pretest nilai signifikansi nya adalah 0,200 dan pada postest nilai signifikansinya 0,012, karena salah satu data nilai nya dibawah 0,05 maka dapat disimpulkan data tidak terdistribusi Hasil analisis data yang digunakan jika data tidak terdistribusi normal adalah uji wilcoxon untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan antara 2 kelompok sampel yang berpasangan. Hasil analisis uji wilcoxon dengan menggunakan SPSS menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada tingkat pengetahuan penderita hipertensi sebelum dan sesudah pemberian edukasi berbasis bahasa Banjar karena nilai p value sebesar 0,000 yang berarti nilai tersebut lebih kecil dari 0,05. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan penarikan kesimpulan pada uji wilcoxon dilihat dari nilai signifikansi (Asymp. Si. , jika signifikansi < 0,05 maka menandakan Ha . da perbedaa. diterima, sebaliknya jika signifikansi > 0,05 maka Ha ditolak (Priyatno, 2. Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui terjadi peningkatan tingkat pengetahuan pada sebagian besar responden penderita hipertensi dilihat dari saat pretest kategori cukup menjadi baik pada saat postest. Diikuti dengan peningkatan pada semua skor indikator pengetahuan setelah diberikannya edukasi hipertensi berbasis bahasa Banjar. Pengetahuan yang meningkat merupakan hasil dari pemberian edukasi berbasis bahasa Banjar yang dilakukan. Pengetahuan penderita hipertensi dapat ditingkatkan dengan memberikan pendidikan kesehatan. Hal ini didukung oleh penelitian lain tentang pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan hipertensi pada usia lanjut di Desa Wirononggan ukaharjo didapatkan hasil bahwa pemberian pendidikan pengetahuan yang kurang menjadi pengetahuan cukup (Mustaqimah, 2. Penelitian lain tenang Jurnal Farmasi SYIFA penyuluhan kesehatan terhadap pengetahuan penderita hipertansi di Puskesmas Bahu Manado mendapatkan hasil sebelum diberikan penyuluhan responden yang prilakunya baik sebanyak 44 % tetapi setelah diberikan penyuluhan tentang hipertenasi responden yang prilakunya baik meningkat menjadi 100 %, hal ini menandakan bahwa dengan adanya pemberian penyuluhan kesehatan akan meningkatkan pengetahuan sesorang dalam mengintervensi penyakitnya dan mengontrol darah yang melebihi batas normal (Purwati. Bidjuni, & Babakal, 2. Penelitian lain tentang juga menyatakan bahwa pendidikan kesehatan dapat meningkatkan pengetahuan pada penderita hipertensi (Umah, 2. Pendekatan bahasa dapat dipilih untuk digunakan dalam melakukan pendekatan kesehatan dalam sebuah kelompok, selama ini bahasa menjadi hambatan dalam memberikan intervensi kesehatan yang efektif, karena dapat menyebabkan kesalahan penafsiran masyarakat dari informasi yang disampaikan oleh tenaga kesehatan dalam memberikan intervensi akibat bahasa yang kurang dimengerti oleh masyarakat (Kline & Huff, 2. Konsep bahasa yang kurang digunakan dalam dunia kesehatan dianggap sebagai hal yang menjadi penghalang perbaikan kesehataran, bahasa merupakan salah satu faktor yang harus diperhatikan dalam pemberian pendidikan Aspek bahasa mampu memudahkan masyarakat dalam memahami materi yang Selain itu, tingkat antusias menggunakan bahasa daerah sangat tinggi. Hal ini sesuai dengan penelitian lain yang menunjukkan bahwa intervensi pendidikan kesehatan berbasis budaya salah satunya bahasa mampu meningkatkan kepatuhan pasien terhadap perubahan gaya hidup yang mendukung perawatan pasien hipertensi (Beune, et al, 2. Penelitian lain tentang pengaruh pemberian edukasi berbasis bahasa di Makassar didapatkan hasil pada pretest responden yang mendapatkan kategori baik hanya berjumlah 3 orang . ,7 %), sedangkan pada postest responden yang masuk kategori baik berjumlah 12 orang . ,7 %) dari jumlah sampel 18 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pendidikan kesehtan dengan menggunakan bahasa sangat diperlukan. Volume 1. Nomor 1. Februari 2023 Pendekatan bahasa ini akan meningkatkan kepercayaan dan kesadaran masyarakat akan informasi kesehatan yang diberikan (Ningsih. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan uraian pembahasan pada bab sebelumnya terjadi peningkatan pengetahuan responden saat pretest yaitu cukup menjadi baik saat postest, setelah diberikan edukasi hipertansi berbasis bahasa Banjar, sehingga dapat disimpulkan bahwa pemberian edukasi berbasis bahasa Banjar dapat meningkatkan pengetahuan pada penderita REFERENSI