PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 Strategi bagi Anak Sekolah Minggu Kelas Madya yang Tidak Mau Berdoa Puji Christiani Sekolah Tinggi Teologi Sriwijaya Palembang pujichristiani43@gmail. Abstract: Middle grade Sunday school children are children aged 9-11 years, which means that the children are able to read and understand the contents of the paragraphs and are able to communicate and speak in front of many people. Thus praying is an easy thing to do, but in fact not all Sunday school children want to pray. Middle grade Sunday school children are members of a church who need guidance in reaching maturity of faith. One of the manifestations of the maturity of faith is the quality of prayer. Praying is communicating with God who is the Savior and head of the Church. healthy church is a church where all members have good communication with the head of the church, meaning it is important for a church to have middle class Sunday school children who are willing to Sunday school teachers need a strategy to guide middle class Sunday school children who do not want to pray, so in this writing the researcher provides a strategy for Sunday school teachers to guide middle class Sunday school children who don't want to pray to want to pray. This study aims to describe the strategies applied to help middle-class high school children to want to pray. And to achieve these objectives the method used is qualitative - descriptive. Keywords: Children. middle class Sunday School. to pray. Abstrak: Anak Sekolah Minggu kelas madya adalah anak usia 9-11 tahun, artinya anak sudah mampu membaca dan memahami isi paragraf dan sudah mampu berkomunikasi dan berbicara di hadapan banyak orang. Dengan demikian, berdoa merupakan hal yang mudah dilakukan, tetapi pada faktanya tidak semua anak Sekolah Minggu madya mau berdoa. Anak Sekolah Minggu kelas madya adalah warga gereja yang memerlukan pembimbingan dalam mencapai kedewasaan iman. Salah satu wujud dari kedewasaan iman adalah kualitas doanya. Berdoa adalah berkomunikasi dengan Tuhan yang adalah Juru Selamat dan Kepala Gereja. Gereja yang sehat adalah gereja yang seluruh anggotanya memiliki komunikasi yang baik dengan kepala gerejanya, artinya penting bagi sebuah gereja memiliki anak-anak Sekolah Minggu kelas madya yang mau berdoa. Guru Sekolah Minggu perlu sebuah strategi untuk membimbing anak Sekolah Minggu kelas madya yang tidak mau berdoa, maka pada penulisan ini peneliti memberikan satu strategi bagi guru Sekolah Minggu membimbing anak Sekolah Minggu kelas madya yang tidak mau berdoa menjadi mau berdoa. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan strategi yang diterapkan untuk menolong anak sekolah minggi kelas madya untuk mau berdoa. Dan untuk mencapai tujuan tersebut metode yang digunakan adalah kualitatif Ae Kata kunci: Anak. Sekolah Minggu kelas madya. Pendahuluan Dalam Matius 19:18 Tuhan Yesus menunjukkan bahwa kehadiran anak-anak dirindukan olehNya. Di dalam gereja kehadiran anak-anak dalam persekutuan ditangani dengan sungguhsungguh hal ini nampak dari kegiatan pendidikan agama Kristen yang dikemas dalam Sekolah PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 Minggu. Anak Sekolah Minggu adalah anggota gereja yang berhak menerima pembimbingan bagi anggota gereja. Di dalam kegiatan Sekolah Minggu gereja dapat menjangkau anak, mengajarkan anak tentang Alkitab, membimbing anak pada pengenalan akan keselamatan di dalam Kristus. (Budiyana 2. Sehingga anak-anak dapat berperilaku baik, memiliki kedekatan dengan Tuhan, dan gereja memiliki kepastian akan kelangsungan hidup gereja. Pelaksanaan membimbing anak Sekolah Minggu mengenal Tuhan sampai pada kemampuan berdoa menjadi jati dirinya adalah guru Sekolah Minggu. Berdasarkan pengamatan peneliti anak Sekolah Minggu di GKSBS Tulang Bawang. Lampung sejak 2013 bahwa yang terbiasa berdoa memiliki karakter yang berbeda, seperti anak senang mengikuti kegiatan gereja, tenang dalam menghadapi masalah, dan mudah dibimbing. Doa merupakan komunikasi anak dengan Tuhan, melalui doa anak dapat merasakan hubungan yang intim dengan Tuhan dan anak dapat mengarahkan dirinya kepada Tuhan. Timothy Keller menyatakan bahwa doa adalah percakapan sekaligus perjumpaan dengan Allah. (Putra 2. Igrea Siswanto menegaskan bahwa doa harus menjadi bagian dari jati diri hidup anak-anak, karena doa merupakan anugerah, berkat dan kunci kehidupan menuju keberhasilan dan keberuntungan anak. (Siswanto 2. Rasul Paulus menuliskan perihal doa dalam surat Efesus 6:18 Audalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu dalam roh dan berjaga-jagalah dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang kudus. Ay Ayat ini menyatakan bahwa orang percaya harus memelihara kecondongan hati untuk berdoa baik untuk dirinya sendiri dan orang lain. Tetapi tidak semua anak Sekolah Minggu mau berdoa. Seperti yang ditulikan oleh Paulus Lie, bagi sebagian anak Sekolah Minggu berdoa dapat dilakukan dengan mudah, tetapi ada anak yang memiliki rasa takut untuk berdoa. (Lie 2. Ketidakmauan untuk berdoa tidak hanya dimiliki oleh anak Sekolah Minggu kelas Indria dan Pratama saja tetapi kelas madya. Hal ini karena kecakapan berpikir logis anak kelas madya hanya dengan benda-benda yang bersifat konkret,(Rosada 2. dan lebih suka pada penjelasan yang masuk akal dan nyata. Meskipun anak kelas madya adalah anak yang berusia 9-11 tahun (PEPAK 2. yang sudah mampu membaca dan memahami isi paragraf dan sudah mampu berkomunikasi dan berbicara di hadapan banyak orang. Oleh karena itu, guru Sekolah Minggu memerlukan satu strategi untuk bimbingan anak Sekolah Minggu kelas madya pada cara berdoa dan kepada siapa anak berdoa. Berdasarkan pengamatan dan wawancara yang peneliti lakukan pada 26 Pebruari 2021 kepada para guru Sekolah Minggu di GKSBS Tulang Bawang. Lampung, menyatakan angka anak Sekolah Minggu kelas madya tidak mau berdoa mencapai 80%. Alasan anak Sekolah Minggu kelas madya tidak mau berdoa adalah . anak tidak pernah diajari berdoa oleh orang tua dan guru Sekolah Minggu, . anak tidak pernah melihat orang tuanya berdoa, . Anak merasa gugup saat bicara di hadapan orang lain. Anak tidak pernah menerima ajaran dan tidak melihat orang tua berdoa. Hal ini terjadi karena orang tua tidak memahami akan makna doa dan orang tua tidak menyempatkan diri PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 untuk mempelajari tentang doa. Para Orang tua yang sibuk dengan keperluan mereka mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga. Orang tua berpandangan bahwa memenuhi kebutuhan jasmani anak adalah tindakan yang sangat penting dari pada kebutuhan kerohanian anak, dengan memenuhi kebutuhan jasmani anak orang tua telah melaksanakan tugas mereka, bertanggungjawab terhadap kehidupan anak dan masa depan anak. Anak tidak menerima ajaran tentang berdoa dari guru Sekolah Minggu. Maksudnya guru Sekolah Minggu mengajarkan doa kepada anak Sekolah Minggu tidak sesuai dengan kemampuan anak dan relasi guru Sekolah Minggu dengan anak Sekolah Minggu tidak dekat, sehingga apa yang guru ajarkan tidak dipahami oleh anak Sekolah Minggu. Oleh karena itu, penting bagi guru Sekolah Minggu mampu menghadirkan suasana kekeluargaan terhadap anak tersebut, seperti yang dituliskan oleh Ruth Kadarmanto, suasana relasi yang dialami anak akan sangat mempengaruhi pemahaman anak mengenai berdoa, dimana anak diperkenalkan berkomunikasi dengan Tuhan secara dekat. (PEPAK 2. Anak merasa gugup saat berbicara di hadapan orang lain. Rasa gugup muncul karena anak tidak yakin pada dirinya sendiri dapat melakukan dengan baik, sehingga akan direndahkan oleh teman-temannya. Mengenai rasa gugup Asti Musman menuliskan bahwa hampir semua orang mengakui bahwa mereka menjadi gugup ketika berbicara dihadapan orang banyak. Rasa gugup adalah sifat yang ganas. Orang tersebut merasa gugup karena khawatir tidak akan melakukan dengan baik, dan mengakibatkan kurang efektif saat (Musman and L. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan strategi pelayanan yang digunakan oleh guru Sekolah Minggu agar anak Sekolah Minggu kelas madya mau berdoa. II. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan studi kepustakaan . ibrary researc. Metode kualitatif adalah suatu metode penelitian yang digunakan untuk mendapatkan data yang mendalam, suatu data yang mengandung makna. Makna adalah data yang sebenarnya, data yang pasti dimana suatu nilai dibalik data yang nampak. (Sugiyono 2. Dan metode kualitatif adalah metode penelitian yang bertujuan untuk memahami fenomena yang dialami oleh peneliti. (Moleong. Artinya peneliti dalam menulis menggunakan data sesuai dengan fenomena yang penulis alami dan melihat nilai dibalik data yang penulis peroleh. Studi keputuskaan merupakan penelitian banyak berbicara dan berdialog dengan buku-buku, arsip-arsip, dokumen tua, jurnal, catatan-catatan, dokumen filmfotografi, monografi, dokumentasi-statistik, diaries, surat-surat, dll. (Simanjuntak and Sosrodiharjo 2. Peneliti menggunakan ide-ide tertulis sebagai sumber untuk menekan bagian terpenting dalam penulisan tentang strategi bagi anak Sekolah Minggu kelas madya yang tidak mau berdoa. PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 Hasil dan Pembahasan Role Model Berdoa bagi Anak Sekolah Minggu Kelas Madya Doa adalah komunikasi manusia dan Allah, tetapi bagi anak Sekolah Minggu kelas madya yang tidak mau berdoa memerlukan model yang menunjukkan bahwa berdoa adalah komunikasi yang ringan, dapat berkata-kata dengan segenap hati kepada Tuhan, dapat mendengar suara Tuhan. Mengenai doa Anne Neufeld Rupp menyatakan bahwa doa adalah komunikasi antara Allah dan manusia. Tetapi komunikasi bergantung pada manusia. Mansuia dapat mengucpapkan kata-kata yang benar, tetapi tidak sepenuh hati. Doa meliputi kata-kata dan keberadaan-sebuah hubungan. Doa adalah pujian, pengagungan, permohonan, syafaat, pengakuan dan mendengarperintah, bimbingan dari Allah kepada manusia. (Rupp 2. Role model terdekat bagi anak adalah orang tua. Orang tua dapat mengajar dan mempratikkan bagaimana berdoa kapanpun orang tua mau. Anne Neufeld Rupp menegaskan bahwa orang tua mesti mengajar dan mempratikkan pentinya berdoa bagi dan kepada anakanaknya. Melihat orang tua berdoa sungguh-sungguh untuk anaknya akan memberikan jaminan kepada anak bahwa jika orang tuanya berdoa, semua kan berjalan dengan baik. Hal tersebut akan menolong anak mencapai kesadaran anak Tuhan. (Rupp 2. Role model menuntut oragtua untuk menjadi panutan bagi anaknya. sikap karakter orang tua akan ditiru sedemikian rupa oleh anaknya sehingga jika orang tua ingin menanamkan hal baik bagi anaknya maka orang tua harus terlebih dahulu melakukannya. (Chaer. Septiawan, and Hadi Namun pada kenyataannya tidak semua orang tua menyadari bahwa mereka adalah role model bagi anak mereka. Orang tua fokus pada kemapanan ekonomi, orang tua beranggapan memenuhi kebutuhan jasmani anak adalah tindakan yang sangat penting daripada kebutuhan yang lainnya. Bagi orang tua masalah rohani adalah tugas guru Sekolah Minggu dan guru Tentu ini menjadi tugas bagi gereja untuk memberikan pembinaan kepada orang tua tentang orang tua sebagai role model bagi kerohanian anak, seperti yang diungkapkan oleh Harianto bahwa gereja yang seimbang adalah gereja yang menekankan pada pelayanan terhadap jemaat yang mencakup tentang dorongan untuk menginjili dengan dinamis, saling membimbing secara rohani dan persekutuan yang mempersatukan serta bertumbuh. (GP 2. Guru Sekolah Minggu merupakan role model mengenai berdoa setelah orang tua. Guru Sekolah Minggu adalah pelayan dalam gereja yang khusus melayani anak-anak. Guru Sekolah Minggu dapat menerima anak sebagai anggota persekutuan yang dapat menerima ajaran, mengenal Tuhan Yesus sebagai sahabat anak Sekolah Minggu, guru Sekolah Minggu membimbing anak Sekolah Minggu bagaimana berdoa baik secara teori dan praktik. Strategi Guru Sekolah Minggu Sekolah Minggu merupakan bentuk dari pendidikan agama Kristen dalam gereja bagi anak-anak. Menurut Ruth Kadarmanto, guru Sekolah Minggu harus mampu memahami kemampuan belajar anak tentang Tuhan. Gereja dan sesamanya sehingga dapat menolong PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 guru Sekolah Minggu dalam menyampaikan memberikan pendidikan agama Kristen kepada anak Sekolah Minggu. Kemampuan belajar tentang Tuhan, anak usia 9-10 tahun menyadari bahwa relasi Yesus dengan Tuhan ada rasa saling setia, sehingga ia mulai memahami bahwa anak pun dapat membina relasi dengan Tuhan. Kemapuan belajar tentang gereja, anak 9-10 tahun menyadari bahwa orang-orang di gereja memang mengasihi Yesus dan Tuhan, dan mereka mulai menyukai diajak ikut serta dalam beberapa kegiatan, bersemangat untuk membantu jika diperlukan. Dan mereka mulai merasa sayang pada Yesus dan ingin melakukan sesuatu. Kemampuan belajar tentang sesamanya, anak usia 9-10 tahun menyadari bahwa bekerjasama dengan teman sebaya merupakan hal sangat penting dan pengaruh dari orang lain sangat kuat. (Kadarmanto 2. Oleh karena hal tersebut guru Sekolah Minggu memerlukan strategi untuk mencapai tujuan dilaksanakan Sekolah Minggu. Sekolah Minggu memerlukan strategi. Strategi merupakan suatu pola umum pembelajaran siswa yang tersusun secara sistematis berdasarkan prinsip-prinsip pendidikan, psikologi, didaktik, dan komunikasi dengan mengintegrasikan struktur . rutan langkah pembelajara. pembelajaran, metode pembelajaran, media pembelajaran/alat peraga, pengelolaan kelas, evaluasi, dan waktu yang diperlukan agar siswa dapat mencapai tujuan-tujuan pemeblajaran secara efektif dan efisien. Halim Simatupang menyatakan dalam kegiatan belajarn mengajar strategi merupakan komponen yang dibutuhkan, karena bertujuan untuk lebih meningkatkan kualitas pesrta ddidik menuju terbinanya manusia yang handal dan mampu. (Simatupang 2. Dan menurut Wina Sanjaya yang dikutip oleh M. Sobry Sutikno menyatakan strategi merupakan perencanaan yang berisi rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan Dua hal penting dalam strategi yaitu rencana tindakan yang menggunakan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya, dan disusun untuk mencapai tujuan tertentu. (Sutikno 2. Berdasarkan pandangan tersebut dapat dijelaskan bahwa strategi terkait dengan kebijaksanaan guru dalam memilih pendekatan, metode, teknik pembelajaran, dan model Kalimat pendek dan sederhana Sama dengan seorang batita yang sadang belajar mengucapkan kata-kata demikian guru membantu anak Sekolah Minggu kelas sedang belajar mengucapkan kalimat doa tanpa harus merasa kesulitan. Guru perlu membuat kalimat pendek dan sederhana agar anak memahami apa yang dikatakan dan anak tidak menjadi bosan dalam doa. Pernyataan yang senada dengan hal tersebut adalah doa yang terdiri dari 10 kalimat yang dipersiapkan oleh guru dan dibaca secara bergantian oleh anak Sekolah Minggu kelas madya sesuai dengan urutan yang telah (Lie 2. Sebagai permulaan guru memberikan kalimat pendek dan sederhana kepada anak yang tidak mau berdoa. Berikut peneliti memberikan contoh: AuTuhan, kami akan memulai ibadah kami. Amin. Ay AuTuhan, kami akan pulang mohon Tuhan lindungi kami. Amin. PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 AuTuhan, kami siap mendengarkan Firman Tuhan. Amin. Ay Dan lain sebagainya. Lalukanlah hal ini sampai masing-masing anak siap berdoa sendiri dan merasa nyaman saat berdoa. Ketika anak sudah siap berdoa sendiri dan nyaman saat berdoa guru Sekolah Minggu dapat menambahkan kalimat doa. Guru memberi bisikan Menyusun kalimat doa bukanlah hal yang muda bagi anak. Anak merasa kesulitan untuk berkata-kata dalam doa, karena doa orang Kristen bukan dihafal tetapi lahir dari hati tentang apa yang menjadi pokok doa. Seperti yang dituliskan oleh Timothy Keller yang dasari 2 Sam. 7:27 bahwa pada prinsipnya Allah berbicara kepada umat-Nya di dalam Firman-Nya, dan Firman Allah memampukan umat-Nya menemukan hati untuk memanjatkan doa kepada Allah dalam percakapan ilahi dan persekutuan dengan Allah. (Keller 2. Hal ini diungkapkan oleh anak Sekolah Minggu bahwa mereka bingung hendak berkata apa saat diminta berdoa. Kebingungan dalam menentukan kata karena marasa malu tampil di hadapan orang, tidak terbiasa merangkai kata, dan berbicara pada orang yang tidak dilihatnya. Disinilah guru berperan sebagai penuntun untuk mewujudnyatakan bahwa anak perlu menerima bantuan dalam memilih kata-kata doa. Sebelum guru menyebutkan nama anak Sekolah Minggu yang tidak mau berdoa untuk memimpin doa, guru Sekolah Minggu mendekati anak tersebut dan membisikkan kata ajak, setelah anak tersebut bersedia guru Sekolah Minggu membisikan kata perkata yang berlahan. Hal ini menolong anak merasa nyaman dan aman saat berdoa, seperti yang dituliskan oleh Paulus Lie, upaya membisikkan doa menolong anak tidak takut berdoa. Mereka akan merasa AuamanAy saat diminta berdoa, sebab mereka percaya guru Sekolah Minggu akan menolong mereka berdoa. (Lie 2. Guru Sekolah Minggu selalu memberikan pujian kepada anak yang mau berdoa Pujian adalah penghormatan bagi seseorang atas sesuatu yang dilakukannya dan pada dasarnya semua orang senang dipuji. Pujian dapat diberikan dalam bentuk ucapan terimakasih, sebagai pengakuan atas tindakan baik yang dilakukan anak, sebagai motivasi untuk meningkatkan diri. (Affandi 2. Dan menurut penulis guru Sekolah Minggu juga dapat memberikan hadiah bagi anak yang dalam 1-3 bulan bersedia berdoa. Setelah anak Sekolah Minggu kelas madya selesai memimpin doa, guru Sekolah Minggu mengucapakan terimakasi kepad anak Sekolah Minggu madya tersebut dengan hati yang tulus dan suara yang jelas. Sehingga anak Sekolah Minggu kelas madya merasa senang karena merasa dihargai, dan hal ini akan membuat anak dengan percaya diri berdoa ketika diminta lagi untuk berdoa. PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 Guru Sekolah Minggu selalu menyampaikan pesan setelah menutup doa Injil Markus 10:14 Ketika Yesus melihat hal itu. Ia marah dan berkata kepada mereka: "Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orangorang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah. Sampaikanlah kalimat Biarkan anakanak itu datang kepada-Ku setiap kali doa telah ditutup. Sesuatu yang disampaikan berulangulang akan tersimpan dalam memori anak. Dalam Ulangan 6:7 Allah mewajibkan umat-Nya mengajarkan Shema berulang-ulang. Strategi pengulangan kata-kata atau istilah adalah strategi pembelajaran yang efektif bila digunakan pada pembelajaran yang sederhana. (Riyadi 2. Hari Wibowomengatakan, pengulangan dalam proses perhatian pembelajaran sangat penting, karena dengan pengulangan menolong anak menyimpan dalam memori. (Wibowo Setelah guru memberikan pujian kepada anak Sekolah Minggu kalas madya yang mau berdoa guru melanjutkan dengan menyampaikan pesan AuBiarkan anak-anak itu datang kepada-Ku. AuAnak-anak Tuhan selalu menginginkan kalian datang kepada-Nya, ayo datang kepadaNya melalui doa. Ay Strategi di atas tentu membutuhkan waktu tergantung dari seberapa guru Sekolah Minggu meminta anak Sekolah Minggu kelas madya yang tidak mau berdoa diminta berdoa. Hal ini dapat didukung dengan dilakukan melalui komunikasi jarak jauh, artinya guru Sekolah Minggu perlu mengadakan komunikasi secara pribadi di luar saat kegiatan Sekolah Minggu di gereja. IV. Kesimpulan Anak Sekolah Minggu kelas madya adalah anggota gereja yang berhak menerima pembimbingan dalam mencapai kedewasaan iman. Oleh karena Guru Sekolah Minggu memerlukan strategi yaitu menggunakan kalimat yang pendek dan sederhana, guru dapat membantu anak Sekolah Minggu kelas madya dengan membisikkan kalimat doa kepada anak yang ditunjuk. Guru Sekolah Minggu selalu memberikan pujian kepada anak yang mau berdoa agar anak merasa dihargai, dan yang terakhir guru Sekolah Minggu selalu menyampaikan pesan setelah menutup doa agar anak mengingat bahwa Tuhan Yesus berkata AuBiarkan anak-anak itu datang kepada-KuAy. Agar strategi tersebut dapat terlaksana dengan baik maka komisi Sekolah Minggu perlu melakukan sermon untuk menentukan: pokok doa yang akan didoakan saat ibadah Sekolah Minggu dan pesan setelah doa. membuat kalimat siapa yang akan berdoa dan yang membisikkan pada anak tersebut. bentuk pujian yang akan diberikan kepada anak yang mau berdoa. Referensi