E-ISSN: 2830-7070; Vol.1, No.1 Juni, 2022 AKTIVITAS HEPATOPROTEKTOR EKSTRAK ETANOL KULIT BUAH NAGA MERAH (HYLOCEREUS POLYRHIZUS) TERHADAP HEPATOTOKSISITAS AKUT PARACETAMOL PADA TIKUS (RATTUS NORVEGICUS) HEPATOPROTECTOR ACTIVITIES OF RED DRAGON FRUIT (HYLOCEREUS POLYRHIZUS) SKIN EXTRACTS ON ACUTE HEPATOTOXOXICITY IN RATS Sustrin Abasa1 Universitas Pancasakti Makassar email: abasasustrin@gmail.co m Pertiwi Ishak2* Universitas Pancasakti Makassar email: *ishakpertiwi@gmail. com PAPS JOURNALS E-ISSN: 2830-7070 Vol. 1, No. 1, Juni, 2022 Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk melihat efek hepatoprotektor dari ekstrak etanol kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) terhadap kadar SGPT dan SGOT pada tikus putih (Rattus norvegicus) yang diinduksi Paracetamol. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental laboratorium yang menggunakan metode Pre Post test only control group design. Hasil menunjukkan bahwa adanya perbedaan perubahan hasil pengukuran darah SGOT dan SGPT antar kelompok selama perlakuan. Namun berdasarkan hasil uji one way ANOVA menunjukkan tidak adanya berbedaan yang bermakna antar kelompok (p>0,05). Ekstrak etanol kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) tidak dapat mencegah peningkatan kadar SGOT secara signifikan pada tikus yang diinduksi paracetamol dosis tinggi. Sedangkan pada pengukuran kadar SGPT ekstrak etanol kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) dapat mencegah peningkatan kadar SGPT tikus yang diinduksi paracetamol dosis tinggi, namun tidak signifikan secara statistik. Kata Kunci: kulit buah naga merah; hepatoprotektor; paracetamol. Abstract: This study aims to look at the effect of hepatoprotector from ethanol extract of red dragon fruit peel (Hylocereus polyrhizus) on SGOT and SGPT levels in white rats (Rattus norvegicus) induced by Paracetamol. This research was conducted in an experimental laboratory using the Pre Post test only control group design method. The results showed that there were differences in changes in SGOT and SGPT blood measurements between groups during the treatment. However, based on the results of the one way ANOVA test, there was no significant difference between groups (p> 0.05). Ethanol extract of red dragon fruit peel (Hylocereus polyrhizus) could not prevent significant increase in SGOT levels in rats induced by high doses of paracetamol. Whereas the measurement of SGPT levels in the ethanol extract of red dragon fruit peel (Hylocereus polyrhizus) can prevent elevated levels of SGPT in rats induced by high-dose paracetamol, but not statistically significant. Keywords: red dragon fruit peel, hepatoprotector, paracetamol. Unit Publikasi Ilmiah Intelektual Madani Indonesia 11 E-ISSN: 2830-7070; Vol.1, No.1 Juni, 2022 PENDAHULUAN sel hati dan menyebabkan kerusakan hati Hati merupakan organ yang sangat (Kannan et al, 2013). penting dalam pengaturan homoestatis tubuh Enzim yang paling sering berkaitan meliputi metabolisme, biotransformasi, sintesis, dengan penyimpanan, dan imunologi. Fungsi hati yang aminotransferase kerusakan sel-sel parenkim paling penting ialah melindungi tubuh dari hepar penumpukan zat-zat berbahaya yang masuk dari Glutamic Pyruvat Transaminase (SGPT) dan luar misalnya obat. Penyakit hati merupakan Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase salah satu masalah kesehatan utama diseluruh (SGOT) dalam plasma. SGPT lebih spesifik dunia karena hati adalah organ vital yang dibanding SGOT. SGOT lebih banyak dalam memiliki berbagai fungsi dalam tubuh, termasuk miokardium daripada di sel hepar, juga SGOT biotransformasi dan detoksifikasi (Kannan et al, ada 2013). (Bastiansyah, 2012). Hepatotoksik merupakan suatu reaksi yang timbul akibat penumpukan kerusakan akan dalam sel hepar meningkatkan otot Kerusakan lurik, hati adalah kadar ginjal, sudah Serum dan otak tentu dapat zat-zat mempengaruhi fungsi hati. Namun sampai Saat berbahaya di dalam hepar. Hepatotoksik akibat ini, belum ada obat yang efektif dalam bahan-bahan merangsang fungsi hati, melindungi sel hati kimia dipertimbangkan harus sebagai selalu kemungkinan terhadap Hepar yang meregenerasi sel hati meskipun kemajuan menyebabkan pengobatan secara modern berkembang dengan proses metabolisme tubuh terganggu, dan jika pesat. Di lain sisi, berbagai upaya pengobatan dibiarkan akan berlanjut pada nekrosis hepar gangguan fungsi hati secara klinis memerlukan (Lucena et al, 2008). biaya yang mahal dan seringkali menyebabkan penyebab penyakit hepar. mengalami kerusakan dapat kerusakan, dan membantu Paracetamol tergolong obat yang banyak efek samping yang merugikan. Oleh karena itu, diresepkan sebagai analgesik dan antipiretik. masyarakat mulai beralih ke pengobatan secara Paracetamol pada dasarnya aman dan efektif, tradisional sesuai dengan semboyan “back to namun penggunaan yang berlebihan akan nature” yang sering kali memberikan efek yang menyebabkan kerusakan hati. Kerusakan hati cukup signifikan. Hingga saat ini juga masih pada penggunaan paracetamol yang berlebihan dilakukan diakibatkan oleh hasil metabolisme N-asetil-p- mendapatkan komponen bahan aktif yang benzokuinon mampu (NAPQI) yang tidak dapat dinetralisir semuanya oleh glutathion hepar. berbagai berperan penelitian sebagai untuk hepatoprotektor (Ismeri, 2010). Pada kondisi ini, NAPQI akan mengikat protein 12 E-ISSN: 2830-7070; Vol.1, No.1 Juni, 2022 Kulit buah naga mengandung vitamin C, diadaptasikan selama kurang lebih 7 hari dan vitamin E, vitamin A, alkaloid, terpenoid, dilakukan pengambilan darah awal. Hewan coba fenolik, karoten, fitoalbumin, tiamin, dan niasin. kemudian diberikan suspensi ekstrak selama 5 Dalam bidang farmakologi, kulit buah naga juga hari, kemudian hari ke-6 diberikan paracetamol dapat dijadikan sebagai obat herbal alami yang selama 2 hari. Pada hari ke-8 tikus diterminasi bermanfaat sebagai antioksidan (Jaafar et al, untuk melakukan pengamatan histopatologi. 2009). Analisis data METODE Data yang terkumpul diolah dengan Lokasi dan Rancangan penelitian bantuan program Stastistical Product of Social Penelitian ini dilaksanakan di Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin untuk Science (SPSS) 20.0 dengan melihat distribusi normalnya menggunakan Kolmogorov-Smimov. pengandangan hewan coba pemberian obat Kemudian paracetamol dan pemberian ekstrak kulit buah dilanjutkan dengan metode One Way ANOVA naga dengan uji Post Hoc menggunakan Tukey. Hasil merah laboratorium (Hylocereus Biofarmasi polyrhizus) sedangkan di untuk data yang terdistribusi normal dinyatakan signifikan apabila p<0.05. pengambilan kadar SGOT dan SGPT di HASIL DAN DISKUSI laboratorium Farmasi Klinik dan pemeriksaan Kadar SGOT dan SGPT hewan coba setelah histologi perlakuan dan setelah induksi paracetamol di klinik hewan Universitas Hasanuddin Makassar pada bulan Maret-April Setelah perlakuan selama 5 hari, kadar 2019. Penelitian ini merupakan penelitian SGOT dan SGPT tidak jauh berbeda dengan eksperimen dengan desain pre post test only kadar darah awal. Tabel 1 menunjukkan rata- control group design pada tikus wistar. rata kadar SGOT dan SGPT setelah perlakuan. Populasi dan sampel Hasil statistik untuk kadar SGOT dan SGPT Populasi yang digunakan pada penelitian tidak ada perbedaan yang bermakna antara ini yaitu tikus putih (Rattus norvegicus) galur perlakuan dan kontrol (p>0,05). Setelah induksi wistar. penelitian paracetamol, kadar menggunakan teknik Simple Random Sampling menunjukkan adanya dengan kriteria hewan coba berusia 3 bulan penurunan dengan bobot 150-220 gram, berjenis kelamin menunjukkan rata-rata kenaikan setelah induksi jantan, sehat dan tidak terinfeksi. paracetamol. Metode pengumpulan data Gambaran histopatologi Pemilihan Sebelum hewan coba sampel diberi yang perlakuan, digunakan yang SGOT dan SGPT peningkatan berbeda-beda. Tabel dan 2 seluruh Hasil pemeriksaan histopatologi untuk sebelumnya semua kelompok terjadi kerusakan jaringan. 13 E-ISSN: 2830-7070; Vol.1, No.1 Juni, 2022 Gambar 1 menunjukkan pengamatan secara kontrol atau nilai normal dapat disebabkan mikroskopik untuk kelompok yang mengalami perbedaan bobot tikus, keadaan fisiologis dan kerusakan. Pada gambar tersebut diperlihatkan makro enzim yang berbeda, dan terjadinya bahwa induksi hemolisis. Hemolisis dapat diakibatkan oleh paracetamol yang ditandai dengan adanya mekanisme biokimia, fisika, dan kimia. Selain inflamasi pada jaringan sel hati hewan coba. itu, ada pula stress akibat pencekokan pada PEMBAHASAN hewan coba yang menyebabkan kenaikan nilai terjadi kerusakan pasca Hepatoprotektor adalah suatu senyawa SGOT dan SGPT dapat terjadi. yang dapat memberikan perlindungan pada hati Tabel 1. Hasil uji statistik SGOT dan SGPT dari kerusakan hati. Salah satu cara untuk menggunakan one way ANOVA mengetahui fungsi hati dengan mengukur Kelompok Nilai p aktivitas enzim Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase (SGOT) dan Serum Glutamic Pyruvic Transaminase kerusakan hati, dapat Na.CMC 1% b/v (SGPT). Evaluasi Curcuma 127,82 dilakukan melalui mg/kgBB beberapa cara, salah satunya dengan melakukan uji biokimia serum sebagai indikator kerusakan hati. Pemeriksaan berbagai enzim serum terutama enzim transaminase yang terdiri dari enzim SGPT dan SGOT, terbukti paling praktis Ekstrak 100 mg/kgBB .475 Ekstrak 200 mg/kgBB Ekstrak 300 mg/kgBB sebagai indikator untuk mengukur banyaknya kerusakan hati. Uji enzim sering menjadi satusatunya petunjuk adanya cedera sel pada Kelompok Nilai p penyakit dini hati atau local. Dua enzim Transaminase yang paling sering di ukur pada Na.CMC 1% b/v penyakit hati yaitu serum glutamate oxaloacetic Curcuma 127,82 transaminase (SGOT) dan Serum Glutamic mg/kgBB pyruvic transaminase (SGPT). Berdasarkan tabel dan grafik memperlihatkan hasil pengujian kadar SGOT menunjukkan penurunan dan SGPT adanya yang pasca peningkatan berbeda-beda. induksi Ekstrak 100 mg/kgBB .322 Ekstrak 200 mg/kgBB dan Perbedaan Ekstrak 300 mg/kgBB aktivitas SGOT dan SGPT dibandingkan nilai 14 E-ISSN: 2830-7070; Vol.1, No.1 Juni, 2022 Kelompok IV Ekstrak kulit buah naga merah 300 mg/kgBB Kelompok V Ekstrak kulit buah naga merah 300 mg/kgBB Penelitian ini dimulai dengan mengukur Tabel 2. Hasil rata-rata pengukuran kadar kadar SGOT transaminase (SGOT) dan Serum Glutamic Kelompok Kadar plasma (U/L) Serum glutamate oxaloacetic pyruvic transaminase (SGPT) awal secara random, dengan hasil yaitu kadar SGOT 19,70 - Post perlakuan Post induksi I 45.61±32.97 80.08±41.08 Pada pengukuran kadar SGOT dan SGPT pasca II 82.73±63.65 75.85±10.58 induksi, kelompok I dengan pemberian kontrol III 63.61±60.50 95.54±65.01 negatif Na.CMC menunjukkan peningkatan IV 53.83±34.19 70.98±49.43 129.65±88.10 111.32±51.91 V 117,5 U/L dan kadar SGPT 28,23 – 71,19 U/L. kadar yang signifikan, hal diakibatkan tidak adanya perlindungan terhadap kelompok kontrol negatif. Pada kelompok II yaitu kontrol positif dengan pengukuran kadar SGOT dan SGPT Tabel 3. Hasil rata-rata pengukuran kadar SGPT menunjukkan hasil yang berbeda dimana pada Kelompok pengukuran Kadar plasma (U/L) kadar SGOT menunjukkan peningkatan pasca perlakuan dan penurunan Post perlakuan Post induksi I 32.26±7.85 67.69±21.38 II 23.9±18.86 65.13±17.53 peningkatan pasca induksi. Hal ini dapat III 54.18±17.49 42.2±22.31 disebabkan karena SGOT merupakan enzim IV 38.4±18.44 44.03±23.69 pasca induksi, sementara pengukuran SGPT menunjukan penurunan pasca perlakuan dan yang terdapat pada hepar, ginjal, dan otot rangka. Sedangkan SGPT merupakan enzim V 37.76±17.76 32.78±20.43 yang terdapat pada sitoplasma sel hapatosit sehingga kadar SGOT didapatkan lebih tinggi Keterangan : dibandingkan dengan kadar SGPT (Sherwood, Kelompok I Na.CMC 1% b/v 2012). Pada pengukuran kadar SGOT kelompok Kelompok II Curcuma 127,82 mg/kgBB III terjadi peningkatan pasca induksi, sementara Kelompok III Ekstrak kulit buah naga merah pengukuran kadar SGPT terjadi peningkatan 100 mg/kgBB pasca perlakuan dan penurunan pasca induksi. 15 E-ISSN: 2830-7070; Vol.1, No.1 Juni, 2022 Kenaikan pasca perlakuan pada kadar SGPT tersebut masih termasuk dalam range normal pada tikus. Pada pengukuran kadar SGOT dan SGPT kelompok IV menunjukkan hasil yang sama dimana terjadi penurunan pasca perlakuan dan peningkatan pasca induksi. Hal ini dapat disebabkan pemberian ekstrak etanol kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) dapat memiliki senyawa untuk memberikan perlindungan terhadap kerusakan hati yang telah diinduksi paracetamol dosis tinggi. Pada kelompok V pengukuran kadar SGOT dan SGPT menunjukkan hasil yang sama dimana terjadi peningkatan pasca perlakuan dan penurunan pasca induksi. Namun peningkatan kadar SGOT pasca perlakuan telah melewati range normal tikus, hal ini diduga disebabkan pemberian ekstrak etanol kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) telah melewati batas Ket : A (Normal). B (kongesti dan inflamasi). normal, dimana pada penelitian (Theresia, 2015) C (Hemoragi dan mulai terjadi nekrosis). D ekstrak (Degenerasi hidrofilik dan degenerasi lipid) etanol kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) dengan menggunakan Dari pemeriksaan histopatologi yang dosis 150mg/kgBB telah memberikan efek yang dilakukan oleh ahli patologi anatomi diperoleh signifikan. Sedangkan pada pengukuran SGPT hasil pada kelompok I, II, III dan IV terjadi pasca perlakuan terjadi peningkatan namun kongesti masih termasuk dalam range normal tikus. berlimpahnya darah didalam pembuluh darah. Hasil pemeriksaan histopatologi hati setelah Pada kelompok I terjadi kerusakan sel yang induksi paracetamol. parah diakibatkan tidak adanya perlindungan (pembendungan darah) adalah dari efek toksik paracetamol. Pada kelompok II masih terlihat sel normal walaupun lebih banyak yang mengalami kerusakan. Hal ini dapat disebabkan pemberian kontrol positif ekstrak curcuma yang belum maksimal pada 16 E-ISSN: 2830-7070; Vol.1, No.1 Juni, 2022 pemberiannya. terjadi mikroskopis adalah hemoragi. Hemoragi terjadi kerusakan pada hampir seluruh tikus, tetapi akibat keluarnya darah dari pembuluh darah masih ada tikus yang memiliki sel normal. Pada yang secara patologis ditandai dengan adanya kelompok IV terlihat sel normal dan sel yang sel darah merah di luar pembuluh darah atau rusak memiliki jumlah yang seimbang. Hal ini dalam jaringan (Ojo et al, 2006). Degenerasi dapat disebabkan dari senyawa antioksidan yang merupakan perubahan abnormal dari morfologi dapat memberikan perlindungan dari efek jaringan atau sel. Degenerasi ditandai dengan kerusakan hepar. Dan pada kelompok V terlihat adanya akumulasi lemak dalam sitoplasma. memiliki kerusakan yang parah tetapi masih ada Hasil tikus yang memiliki sel normal. Kerusakan sel parabenzoquinone-imine tersebut umumnya terjadi karena inflamasi atau berperan sebagai radikal bebas yang akan peradangan, hemoragi yaitu pendarahan ditandai mengoksidasi makromolekul seperti lemak. dengan keluarnya darah dari dalam vaskular Nekrosis merupakan proses kematian sel yang akibat kerusakan dinding vaskular, degenerasi abnormal akibat adanya reaksi terhadap zat hidrofilik yaitu kelainan sel yang menyebabkan tertentu seperti bahan kimia toksik. Zat toksik sel dapat menyebabkan nekrosis pada hepatosit. Zat tersebut Pada kelompok tampak III bengkak karena metabolit N-acetyl- (NAPQI) yang meningkatnya akumulasi air dalam sitoplasma toksik dan juga terjadi dilatasi sinusoid yaitu pelebaran menyebabkan pembuluh darah kecil. Konsumsi paracetamol osmotik sel sehingga sel hepar tidak mendapat yang berlebihan dan dalam waktu yang lama natrium dan glukosa. Pada akhirnya sel hepar dapat menyebabkan terbentuknya radikal bebas mati karena tidak mendapat suplai natrium dan dalam sel hepar. Kerusakan hepar terjadi karena glukosa (Aster et al., 2013). pada dosis yang berlebihan, hasil metabolisme KESIMPULAN paracetamol berupa benzoquinone-imine tidak dihasilkan parasetamol terganggunya keseimbangan Berdasarkan hasil penelitian dapat dapat ditarik kesimpulan bahwa ekstrak etanol kulit dinetralisir semuanya oleh glutation hepar. N- buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) tidak acetyl-parabenzoquinone-imine bersifat toksik dapat mencegah peningkatan kadar SGOT dan dapat menyebabkan terbentuknya rantai secara signifikan pada tikus yang diinduksi radikal bebas (Utami, 2017). Metabolit reaktif paracetamol dosis tinggi. Sedangkan pada toksik dan radikal bebas dapat mengganggu pengukuran SGPT ekstrak etanol kulit buah integritas membran sel dan berlanjut menjadi naga merah (Hylocereus polyrhizus) dapat kerusakan hepar. Kerusakan-kerusakan yang mencegah peningkatan kadar SGPT tikus yang ditemukan diinduksi paracetamol dosis tinggi, namun tidak pada (NAPQI) N-acetyl-para- yang reaktif pemeriksaan secara 17 E-ISSN: 2830-7070; Vol.1, No.1 Juni, 2022 signifikan secara statistik. Ekstrak etanol kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) Dourakis SP, 2008. Drug Therapy in Liver Diseases. Annals Of Gastroenterology, 21(4) : 215 - 217. tampak memperlihatkan perbaikan pada hasil pengukuran histopatologi hati pada tikus yang diinduksi paracetamol dosis tinggi. Sebaiknya dilakukan penelitian mengenai efek terapi ekstrak etanol (Hylocereus kulit polyrhizus) buah naga untuk merah mengobati hepatotoksisitas akibat pemberian paracetamol dosis tinggi. REFERENSI Arifin dan Zahiruddin. 2017. Sample Size Calculation in Animal Studies Using Resource Equation Approach. The Malaysian journal of medical sciences. Vol 24(5): 101–105. Anderson, B.J., 2008,Paracetamol (Acetaminophen): mechanisms of action, Pediatric Anesthesia, 18: 915921. Aster, Kumar, Abas. 2013. Robbins Basic Pathology 9th edition student concult. Anis, E. 2013. “Identifikasi Dan Uji Kualitas Pigmen Kulit Buah Naga Merah (Hylocareus costaricensis) Pada Beberapa Umur Simpan Dengan Perbedaan Jenis Pelarut”. Jurnal Gamma. Universitas Muhammadiyah. Malang. Bastiansyah, Eko, Panduan Lengkap Membaca Hasil Tes Kesehatan. Penebar Plus, Jakarta 2012 Departemen Kesehatan, 2006. Monografi Ekstrak Tumbuhan Obat Indonesia, Vol.2, 124, Jakarta, Depkes RI. Duppa, M. T. 2018. “Efektivitas Hepatoprotektif dan Nefroprotektif Ekstrak Etanol Jahe Merah (Zingiber officinale Rosc var rubrum) Terhadap Peningkatan SGPT, SGOT, Kreatinin, dan Ureum Pada Tikus (Rattus norvegicus) Yang Diinduksi Paracetamol”. Universitas Hasanuddin. Makassar. Eric Y, Arooj B, Moaz C, Matthew K, Nikolaos P. 2016. AcetaminophenInduced Hepatotoxicity: a Comprehensive Update. J. Clin. Transl. Hepatol. 4(2): 131-142. Gregus Z, Klaassen CD, 2001. Mechanisms of toxicity. In : Klaassen CD, editor. Casarett and doull’s toxicology the basic sciences of poisons, 6th ed. New York USA: Mc Graw Hill : 57-64. Junqueira L.C., J.Carneiro, R.O. Kelley. 2007. Histologi Dasar. Edisi ke-5. Tambayang J., penerjemah. Terjemahan dari Basic Histology.EGC. Jakarta. Kannan., R, R., Arumugam, R, Iyapparaj, P., Thangaradjou, T., Anantharaman, P. 2013. In VitroAntibacterial, Cytotoxity and Haemolytic Activities and Phytochemical Analysis Of Seagrasses From The Gulf Of Mannar, South India. Food Chemistry136: 1484-1489. Koksal N, Ozkan H, Cetinkaya M, Akaci O, Ozgur T. 2010, The efficacy of serial serum amyloid A measurements for diagnosis and follow-up of necrotizing enterocolitis in premature infants. Pediatr. Surg. Int. 26(8), 835–841. Kristanto D. 2008. Buah Naga, Pembudidayaan di Pot dan di Kebun. Jakarta: Penebar Swadaya. 18 E-ISSN: 2830-7070; Vol.1, No.1 Juni, 2022 Lucena, M.I., Cortes, M.G., Cueto, R., Duran, J.L.L., dan Andrade, R.J., 2008, Assessment of Drug Induced Injuy in Clinical Practice, Fundamental & Clinical Pharmacology, 10. Mc. Cord J.M, Fridovich I, 2006. Superoxide dismutase. An enzymic function for erythrocuprein (hemocuprein) J. biol Chem. 244(22): 6049-55. Mitasari, A. 2012. “Uji Aktivitas Ekstrak Kloroform Kulit Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus Britton & Rose) Menggunakan Metode DPPH (1,1=Defemil-2-Pikril Hidrazil)”. Skripsi. Universitas Tanjungpura: Program studi farmasi Universitas Tanjungpura. Hal: 37-38. Nurliyana, R., dkk. (2010). “Antioxidant Study of Pulps and Peels of Dragon Fruits: A Comparative Study”. International Food Research Journal17: 367-375. Sacher dan McPerson, Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan Laboratorium. Edisi 11. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta, 2011 Sherwood, LZ., 2014. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Edisi 8. Jakarta: EGC, 595-677. Theresia, V.S. 2015. “Efek Ekstrak Kulit Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus) Terhadap Penurunan Kadar Kolesterol LDL Pada Tikus Jantan Galur Wistar”. Universitas Kristen Maranatha. Bandung. Jawa Barat. Utami AR, Berata IK, Samsuri, Merdana IM. 2017. Efek Pemberian Propolis Terhadap Gambaran Histopatologi Hepar Tikus Putih (Rattus norvegicus) yang diberi Parasetamol. Bul. Vet. Udayana. 9(1): 87-93. Ojo OO, Kabutu FR, Bello M, Babayo U. 2006. Inhibition of paracetamol induced oxidative stress in rats by extract of l emongrass (Cymbropogon cittratus) and green tea (Camelia sinensis) in rats. J. Biotechnol. 5(12): 1227-1232. Owen, S. J. dan Weller, P. J., 2006. Propilen Glycol, In: Rowe, R. C., Shesky, P. J., and Owen, S. C. (eds.), Handbook of Pharmaceutical Excipients, Fifth Edition, 624, Pharmaceutical Press, UK. R. Putz, R. Pabst. 2007. Sobotta Atlas Anatomi Manusia; jilid Kedua, Edisi 22, EGC Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta. Sloane, 2004. Anatomy and physiology: an easy learner. Diterjemahkanoleh: James Veldman, EGC, Jakarta. Snell, R. S., 2006. Anatomi Klinik. Edisi 6. EGC: Jakarta. 19